PELAJARAN TENTANG KESABARAN DAN KEPERCAYAAN

Rabu, September 21, 2011 2 Comments A+ a-

Session I (Tukang Rak Buku)

Tanggal 10082011, kurang lebih aku memesan dua buah rak buku untuk kubawa pulang ke rumah, karena memang kebiasaan ibuku suka marah-marah ngliat buku-buku seabreg di kamarku yang gak ada tempat untuk menampungnya. 4 hari, masnya menanyanggupi jadi. “deal yam as 4hari, ini uangnya (210 ribu)”, aku memesan kualitas terbaik karena memang sample di tempat tukang kayu itu memanglah bagus. 4 hari aku datang, ternyata rak-nya belum dikerjakan dengan alasan kayunya belum datang (padahal dulu pas awal perjanjian masnya itu dengan meyakinkanku bahwa 4 hari rak itu bisa jadi dengan kualitas kayu yang terbaik). Nah, seminggu dudah aku menghabiskan rutinitasku sampai aku berharap rak buku itu juga sudah jadi. Aku menghampiri kesana, dan ternyata oh ternyata, mas-nya beralasan lagi kalau rak-nya belum jadi dengan alasan masih diplitur, aku masih menyunggingkan senyum, “yaudah mas, nanti habis lebaran tak ambil ya”, masnya pun kembali meyakinkanku.


Lebaran berlalu, aku masih punya kewajiban ke Jakarta untuk mengantar keponakanku pulang karena iparku sedang hamil. Sepulang dari Jakarta aku kembali lagi tukang buku. Dan kalian tau? Ternyata oh ternyata, raknya belum jadi. Mas nya beralasan kalo rak buku pesenanku dibeli orang (gila bener nih penjual).. Waktu itu aku masih bisa menyunggingkan senyum termanisku. “kapan pesenanku bisa jadi mas?”, masnya menjanjikan keesokan siang sambil menuding rakku yang nantinya menjadi calon milikku. Aku menangangguk sambil pamit. Ada perasaan ganjil, karena memang aku merasa itu bukan rak pesananku. Kayunya tipis, kualitasnya tidak seperti sample.. Tapi aku masih positive thinking.
16 September 2011, tepat 1 bulan pemesanan rak buku, yang dulu janjinya Cuma 4 hari, mulailah hariku bergejolak. MAsnya mulai bertingkah dengan janji gombal (menunda-nunda pembuatan), pas aku kesana Cuma bertemu kakak iparnya (mungkin)..nih obrolannya :
-aya : “Mas Bima ada mas?”
-iparnya : “masih tidur,mbak semalem habis lembur ngerjain pesanan”
-aya : “saya gak peduli dia lembur atau gak, saya Cuma mau nanya pesanan rak saya jadi kapan”
-iparnya : “nanti sore jam5 mbak dating kesini lagi aja ya mbak”
-aya : “pada niat jualan apa gak si Mas, jadi orang kok mencla-mencle. Dulu alesan kayunya habis, trus belum diplitur, terakhir malah dijual kr orang lain…Kalo memang gak bisa jualan, ini kuitansi bulan lalu, sekarang balikin uang saya”
-iparnya : “nanti jam5 biar diselesein mbak”
-aya : “tak pegang omonganmu,mas”

Pas Jam 5 aku dating kesana, si Bima malah lagi mbuatin raknya (oh My God). Aku berusaha menahan sabar..”Piye mas rak-ku?”, “nanti sore tak anter ke kost ya mbak habis isya”, dia menjawab santun”, tapi aku tak menghiraukannya.”ada di kost to mbak?”, Tanya dia lagi. “PAsti ada kalo memang bener-bener mau dianterin! Makanya kalau buat janji jangan seenaknya, katanya kemarin mau dianterin, lha kok malah sekarang baru dibuat”, aku menatap tajam dia dan dia tidak berani membalas tatapan amarahku.

Sesuai kesepakatan, ternyata dia tidak datang membawa pesanan rak bukuku (mangkel bin anyel). Dan paginya aku kesana lagi, ketemu adik dan kakak iparnya. Mereka tau kedatanganku tanpa aku berucap sepatah katapun, mereka menjelaskan. “aku udah percaya sama kalian, tapi kalo caranya kayak gini mendingan saya minta uang kembali”, aku berusaha megendalikan diri. “nanti habis magrib saya antar mbak”, masnya menyela. “Habis magrib kapan mas? Soale waktumu sama waktuku beda-e. Mbok ya kalo janji itu yang beneran. Saya dari awal udah percaya kok, masnya malah mbulet mencla-mencle ra genah”, sehabis bilang itu saya langsung pamit.

Menyebalkaaaaaaaaaaaaaaan, ternyata gak dianter-anter…sabar,sabar,sabar,sabar…Memang sabar itu unlimited..keesokan harinya, jam12 aku datengin tuh tempat kayunya sambil merah padam. Dari bapak, ibunya, adik, kakak ipar semuanya keluar. Tapi bodo amat, aku bener-bener marah, kecewa. Dan ajaibnya aku masih mengendalikan diri meskipun hasil rak buku itu tidak sesuai pesananku, aku sempat perang sama Bima, nama penjual rak kayu itu. Pesanan yang gagal dan saya Cuma berpesan “cukup sekali ini saya beli disini”..aku lalu pamit dengan sunggingan senyum (sumpah ga marah) sama Bapak, ibu, adik dan iparnya kecuali bima..haha

Sesampai di kost, sontak semua memegang rak-rak itu sambil mencibir kalo aku dibohongi..”biarinlah, yang penting aku tau salahku dimana, kalo si Bima itu suka sama uang kayak gitu, moga aja berkah”, sambil sok wise :D


NB : Kesabaran itu tidak ada batasnya, sebagaimana kau akan memetik hasil dari sabarmu...dan kepercayaan itu ibarat vas bunga, saat pecah mungkin bisa ditambal tetapi tetap saja ada bekasnya..:))

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

2 komentar

Write komentar
Sholawati
AUTHOR
22 September 2011 20.53 delete

o..
jadi namanya Bima..
wkwkwk..

padahal aku kenal orang namanya bima dia rajin dan g pernah ingkar janji lho Ay.

Reply
avatar
27 September 2011 03.00 delete

aaaaah, menik..lebih keren "titis srimuda pitana"..

*fans berat

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)