Ini tentang Pernikahan

Jumat, April 19, 2013 0 Comments A+ a-



Aku, 23 tahun 8 bulan. Sebagian sebaya di desaku bahkan adik-adik tingkatku sudah menikah, ada juga yang sudah punya anak. Yah, pertanyaan familiar untuk usiaku “kapan menikah?”, padahal aku lebih suka mendengar pertanyaan “kapan sekolah lagi, Mbak?”. Aku hanya menyeringai dan ibuku menjadi orang paling depan yang menjawabnya.
Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman mengabarkan menikah, aku senang, memberi selamat dan doa. Tetapi setelahnya ada temannya lagi yang bilang kalau itu Cuma hoax hanya sekedar kidding, seru-seruan. Butuh waktu yang lama untuk memahami, tercengang sendiri, bergumam sendiri tentang tindakan mereka. Berjalannya waktu, aku berdiskusi dengan beberapa sahabat dan aku menyimpulkan aku dan mereka memiliki pandangan atau persepsi yang berbeda tentang sebuah pernikahan. Itu saja.
Lalu pernikahan itu seperti apa di mata kalian? Menggabungkan dua dimensi jiwa menjadi satu harmoni dalam kurun waktu yang sangaaaat lama sampai usia seamkin senja. Kabar yang miris adalah ketika divorce disebut sebagai trend, ah aku tidak suka menyebutnya. Ada yang menikah bertahun-tahun bahkan sudahmencapai golden time, tiba-tiba divorce. Tidak ada petir, hujan atau pun angin tentang pernikahan, tiba-tiba divorce.
Ah iya, note ini ditulis sebagai alarmku, tidak kurang tidak lebih. Saat aku menanyakan pada ibuku yang sudah hampir 40 tahun menikah dengan Bapakku, apakah beliau mencintai Bapakku, “Dulu itu, ibu gak kepikiran menikah dengan Bapakmu, Nduk. Gak ada proses pacar-pacaran kayak anak jaman sekarang. Bagi ibu, setelah menikah dengan Bapakmu, cinta adalah mengabdi”, aku mencoba mencerna jawaban ibuku. Memang, ibuku adalah house wife tulen. Mengasuh kami ber-4 sendiri, mengerjakan pekerjaan rumah, sawah dan meladeni suaminya sendiri. Cinta itu mengabdi, Nduk.

 
SEBAGIAN dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dulu, atau mendadak miskin.

 Will you still love them, then?
That’s why you need commitment
Don’t love someone because of what/how/who they are
From now on, start loving sameone
Because you want to--Ninit Yunita.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)