Saat Batita Mulai Belajar Bicara

Kamis, April 25, 2013 0 Comments A+ a-

Aku masih punya 4 orang keponakan batita. Khansa, Dio, Saka dan Deandra. Khansa dan Dio 2,5 th dan mereka hanya terpaut seminggu. Saka hampir 2 th dan Deandra 1,5th. Dio, Khansa dan Saka udah lari-larian kemana mana, Deandra masih takut-takut untuk berjalan sendiri. Entah mengapa, tetapi saat Deandra hendak jalan meraih sesuatu, dia selalu mencari tangan seseorang di sampingnya untuk pegangan. Selanjutnya, dia bisa lari kemanapun dengan pegangan itu. Yah, dia butuh keberanian untuk menapakkan kaki sendiri.

Uniknya, keempat batita itu sedang menyempurnakan bicaranya. Ibarat kita yang sedang belajar bahasa inggris sebagai pemula, pronouncation nya masih kadang-kadang salah meskipun lawan bicara kita (sesame Indonesia) tau maksud ucapan kita apa. Batita pun begitu, mereka hendak mengucapkan sesuatu, meskipun belum sempurnya bahasanya, tetapi orang-orang di sampingnya tau apa maksud mereka.

 
Nah, Khansa sudah banyak kosakatanya, meskipun ada beberapa kata yang kurang sempurna pengucapannya tetapi kami mengerti. Sudah bisa berbicara lebih dari 5 sylabels, “Bulik, jaketmu ketinggalan, yagi (lagi-Red) dipake Uti (eyangnya)”, jadi dia sudah bisa diajak ngobrol tentang topic tertentu.

Nah Dio, Saka juga special. Mereka selalu memperhatikan lawan bicaranya, dan mereka meskipun belum sefasih Khansa yang mengucapkan lebih dari 5 sylabel.

“Bulik nanah (Kemana-Red)”, jadi mereka masih berbicara sepengahuan mereka. Meskipun kita mengerti, jawablah yang sebenarnya, jangan mengikuti logat mereka. 

Misalnya “Dio mau tutu (Susu-Red) ?. karena hal itu akan semakin menyusahkan mereka untuk melafalkan kata dengan sempurna. Tanya saja, “Dio mau susu?”, begitu.
Satu hal lagi, pengalaman kami, karena Dio dan Deandara diserahkan ke pengasuh, ada pola asuh yang ternyata menyulitkan mereka untuk belajar mengetahui benda, hewan atau apapun di sekelilingnya, sehingga itu berpengaruh terhadap proses mereka dalam berbicara. Misal :

Saat melihat ayam, pengasuhnya memberitahu Dio, “Itu kookk Dio”, sampai sekarang kami kesulitan untuk mengubah pengetahuan itu, karena setiap melihat ayam, Dio selalu menunjuk-nunjuk sambil bilang Ook. Ada lagi beberapa kata lain yang sampai sekarang masih sulit untuk mengubahnya, karena sejak kecil dia ditanamkan pengertian yang salah meskipun pada awalnya niatnya baik, agar dia lebih mengerti nama benda itu apa. Kucing menjadi meong, kambing menjadi embek, sapi menjadi hemoooooo.

Padahal seharusnya, “Itu Ayam, Dio, bunyinya kokok. Nah kalo yang itu kambing, bunyinya embek. Etc”
Sebagai penutup, saat ini banyak metode-metode untuk memudahkan batita dalam belajar memperbanyak kosakata bicaranya. Karena aku pake android (ini bukan iklan :p), ada aplikasi-aplikasi untuk anak kecil, “Buah”, “Hewan”, “Berhitung” dll yang disertai pengucapan fasih. Hal tersebut bisa membantu mereka karena packagingny lebih menarik perhatian mereka, belajar sambil bermain. Eh salah, bermain sambil belajar.

Ini pengalaman pribadi saya, bisa jadi kasuistis pada setiap batita.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)