Penawaran terbaik

Minggu, Februari 16, 2014 0 Comments A+ a-


Setiap malam merasa ada yang memeluk, membenahi selimut, sayup-sayup terdengar suara tilawah bergantian. Adem rasanya. Seminggu lebih, Bapak-Ibu disini, ada sepupu yang menikah, itu artinya saya juga harus berlapang dada mendengar pertanyaan “kapan nyusul atau calonnya mana”, tapi bukan itu poinnya.

Tanggal 10 pagi, saya yang sudah berada di kantor, mendadak kaget ada beberapa sms dan miscall di handphone, “Bulik, tolong fotoin KTP Bapak sama Ibu ya, penting”, perasaan sesak memburu pagi itu, alih-alih fokus pekerjaan, pagi itu saya mencoba mencari signal yang bagus hanya untuk menelepon. Saat terangkat, semua skuad berada di perjalanan menuju perjalanan ke bandara. PULANG. 
“Bulik, Ibu ‘Aisyah meninggal”, air mataku luruh tertahan. Aku sudah bisa menerka saat semua misscall dan sms terpampang di layar hp. “Innalillahi wa inna lillahi roji’un”, aku menahan isak. “Kamu jaga rumah ya Lik, ini semua udah otw ke bandara ***************”, klik. 
Aku mencoba menata hati, kembali fokus pada beberapa file. Tidak bisa. Aku ke kamar mandi, berwudhu dan dhuha. Setelahnya lumayan tenang. Ini hampir mulai poin ceritanya.
Setelah finger print dan hendak beranjak pulang, ada teman yang menawarkan “Mau bareng sampai stasiun, Ay?”, ini penawaran terbaik hari ini.
Sesampai di stasiun tidak lupa mengucapkan terima kasih dan berujar hati-hati kepada salah satu teman kantor yang memberikan penawaran terbaik pertama.
Di stasiun, memilih gerbong campuran bergelayut sambil membuka mushaf untuk menenangkan sisa-sisa hati yang sesak. “Mbak, duduk Mbak”, ada lelaki paruh baya yang menawarkan tempat duduknya sambil berdiri. Aku langsung duduk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Ini penawaran terbaik kedua hari ini.
Motorku belum sampai di depan garasi, tetapi beberapa tetangga telah menunggu di depan rumah. “Bulik mau ditemani malam ini?”, Pengasuh Dio menawarkan penawaran terbaik ketiga hari ini. “Makasih Nek, gak usah. Insya Allah berani sendirian”, jawabku. 
Sebenarnya ada tawaran-tawaran lain yang membuatku duduk termenung memikirkannya. Duduk di balkon atas, di sapu angin semilir malam. Ada Om Bob (menantu pangasuhnya Dio-Red) berteriak “Bulik, jangan takut, nanti saya ronda kok”, aku tersenyum dari atas. Banyak sekali orang yang care menawarkan bantuan terbaik mereka. 
Aku ingin menjadi bagian dari mereka, sungguh. Menawarkan bantuan dengan bilang “may i help you?” atau “bisa saya bantu, Neng?”.
Hatiku tiba-tiba berdesir, sesenggukan. Aku benar-benar ingin menjadi bagian dari mereka yang menawarkan bantuan terbaiknya, sungguh. 
Dan 3-4 malam ini, aku tidur dengan malaikat-malaikat, banyak yang menyangsikan bahwa aku berani tidur sendiri di rumah, banyak juga tawaran yang mengalir untuk menemani. Dan sebenarnya, tawaran itu sudah membuatku bahagia, karena aku merasa diperhatikan, tidak sendirian.

Ya Allah, boleh hujan malam ini tapi tolong jangan mati lampu ya :)

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)