Ujian yang disambut sukacita oleh manusia adalah pernikahan

Kamis, April 03, 2014 0 Comments A+ a-


Koleksi pribadi, sorry to say : "I'm forget the resource"
Ujian yang disambut sukacita oleh manusia adalah pernikahan

Awalnya aku tidak mengerti artinya. Aku menghela nafas sejenak, membenahi posisi dudukku. Mami masih melanjutkan pembicaraannya.

Topik obrolan makan siang hari ini memang sedikit berbeda dari biasanya, pertanyaan-pertanyaan yang menurutku penting buatku membuat beberapa kali tanganku berhenti memegang sendok makan karena antusias mendengarkan.

“Pernah merasa menyesal menikah dengan pasangan gak, Mi?”, Mas Bayu membuka percakapan.

#aku menyimak

“Pernah lah, Cuma dalam hati. Mami nanya soda-sodara yang lain juga pernah merasakan demikian”

#menyimak sambil menyendok soto ceker nan lezat

“Istri saya malah parah banget Mi, dia bilang kalo boleh tukar tambah, udah dari dulu gw tukar tambahain”, Mas Bayu menggebu.

#menyimak masih sambil menyendok soto itu tadi tuh

“Wajarlah Mas Bay, kalo cek-cok begituan, diem-dieman, pisah ranjang tapi masih serumah. Cuma bagi Mami, selalu ada mu’jizat Allah untuk memaafkan”, jawab Mami.

#keningku mengeryit

“Karena cinta, maksudnya Mi?”, aku mulai tertarik dengan bahasan ini. PERNIKAHAN.

“Apaan itu cinta-cintaan Ya’, kalo udah nikah, kata cinta bisa melebur bahkan menguap. Gw malah gak kenal apa itu cinta”, Mas Bayu menanggapi.

“Berarti dulu menikah tanpa sense CINTA?”, aku melanjutkan pertanyaan.

Ada banyak faktor untuk melangkah kesana (pernikahan-red), cinta salah satunya dan bukan satu-satunya Ya’”, jawaban Mami memberikan oase.

#aku bergumam sendiri

“Dan kamu tau Ya’, kalo ujian yang disambut bahagia dan sukacita oleh manusia itu adalah pernikahan”, statement Mami agak menggantung. Kata-kata itu diperolehnya dari seorang Ustadz di kajian sekitar rumahnya.

“Kenapa disambut sukacita, Mi? korelasinya dengan ujian apaan?”, banyak pertanyaan tentang statement itu.

“Kamu lihat di pernikahan-pernikahan? Dude-Alyssa yang paling hits minggu ini sebagai contohnya. Mereka dan keluarganya bersukacita atas pernikahan itu. Padahal pernikahan itu sendiri adalah bentuk ujian dari Allah. Kalo kamu tau Ya’, bahtera rumah tangga itu macem-macem ujiannya. Dan kamu sendiri paham, Allah akan menguji hambaNya samapi benar-benar lulus”, Mami menjelaskan sambil sesekali melihat jam di tangannya.

“Lu besok juga bakal ngrasain, Ya’. Makanya jangan di rumah melulu Lu”, Mas Bayu nyengir.

Semua bergegas ke ruangan, aku masih belum tertarik beranjak dari tempat dudukku.

Bukankah jodoh itu seperti cermin?

Bukankah jodoh itu adalah sekufu?

Pasangan kita adalah cerminan dari diri kita

Belahan jiwa kita adalah pantulan dari pribadi kita

Bukankah itu telah tertulis rapi sejak dulu?

Bahwa laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik


*Waktu makan siang selesai



Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)