Tuh kan tentang pernikahan (lagi)

Rabu, Agustus 20, 2014 0 Comments A+ a-

Sebenarnya 2 hari ini ingin melatih diri untuk mematikan whatsapp setelah di atas jam 20.00. Tapi hal itu urung karena ada seorang teman yang beberapa Minggu yang lalu mengirimkan sms seperti kode untuk bertanya sesuatu namun tidak jadi—sms 2 kali namun tidak ada respon lagi.

Malam ini dia menanyakan hal yang sebelumnya sudah berkeliaran dalam benakku. Iya, tentang PERNIKAHAN. Agustus-September ini memang banyak sekali wedding invitation, dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini setiap ada undangan seperti itu—apalagi sahabat sebaya. Ada ruang di hati yang mendesir perlahan, dua detik tertahan. Tetapi bukan tidak senang akan kabar itu, bukan sama sekali, bahkan aku sendiri tidak dapat menjabarkannya. Dan memang tahun ini sangat spesial, saat hatiku menangkap adanya perasaan (sedikit) marah, eh lebih tepatnya kesal terhadap orang-orang yang bertubi-tubi menanyakan “kapan menikah?” dan sampai saat ini aku masih sadar bahwa apapun pertanyaan orang lain, hak jawab yang santun tetap ada pada kita.

Back to the topic. Ada teman kuliah yang menanyakan tentang konsep ta’aruf. Mendadak roaming. Ehehe

Dia kenal wanita itu seminggu yang lalu dan tidak mau pacaran—langsung nikah (aku mendukung, go go go man! Jangan jadi lelaki cemen). Aku membaca sharingnya dengan takzim, sesekali mengeryitkan kening—karena aku sama sekali belum melewati tahap ini. You know, jangankan mematikan whatsapp, aku malah membuat kopi agar mataku awet malam ini.

“Aku bingung harus ngasih jawaban apa ke keluarganya”, kurang lebih tulisnya demikian—ehm, mungkin nanti yang jadi obyek cerita juga baca ini, jadi gak terlalu vulgar lah :p

“Lha kenapa bingung?”, aku masih santai menjawab.

“Aku masih ragu. Kalau menurutmu menikahi wanita itu karena apa?”, lanjutnya.

“Eh, aku belum melewati fase ini lho, kenapa kamu nanya sama aku coba :DD”, aku terkekeh—menyeringai, pertanyaannya masih standart dan jawabannya pun masih enteng.

“Karena kamu wanita, mungkin tau jawabannya”, tulisnya.

Gleeek.... udah mulai masuk ke pertanyaan-pertanyaan yang membuatku mengeryitkan dahi.
“Mmm, boleh gak sih kalo aku juga memasukkan penilaian fisik ke daftar untuk pertimbangan menikah”, #tanya 1

“Gak masalah sih, manusiawi, tapi jangan jadikan itu patokan utama”, #jawabku1

“Trus menurutmu apa yang utama”, #tanya 2

“Kalo aku sih agama—tapi beda-beda pertimbangan tiap orang (ini gak ikut ditulis lho :p), trus bukannya menikah juga ada pertimbangan-pertimbangan lainnya, ex : keturunan, kecantikan, kekayaan cs. Tapi memang agama landasan dan pondasi utama”, #jawabku 2

“Oh iya Bu Ayaaa (ini nih, panggilan khas kalo tulisannya digabung, bisa-bisa menjadi garang seperti buaya :p), dia masih ada Mbakyu yang belum menikah dan aku pekewuh kalo melangkahinya. Aku bingung”, #tanya 3

“......(pertanyaan ini rada mikir, agak teoritis sih, karena aku paling enggan ngasih komentar terhadap hal-hal yang belum aku alami sebelumnya).... Kamu coba tanyakan hatimu niat kamu mau nikah itu apa? Kalo udah nemu jawabnya, tinggal kamu luruskan niatmu—apalagi kalo niatnya untuk ibadah. Trus terkait Mbakyunya yang belum menikah, kamu komunikasikan sama calonmu terkait hal itu. Kalo Mbakyunya gak masalah dan calonmu oke, apa masih berkutat dengan pekewuh?”,#jawabku 4 yang asli teoritis, kalo aku yang menjadi artis/pelakunya mungkin juga kayak kamu kali T-T

“Oh gitu yaa, mau aku kasih alamat fb-nya? Wajahnya kayak kamu lho”, #bukan tanya

“ahahaha, nanti aku lihat ya”, #bukan jawab

“Ini alamat FB-nya”, #bukan tanya

“Oooh, cantik, iya sama kayak aku pake kacamata :p”, #bukan jawab

“Btw, kamu udah istikharah tentang ini Mas?”, #tanyaku 1

“Belum iii”, #jawabnya 1—aku langsung mbatin, pantes kowe bingung :DD

“Kamu masih punya waktu berapa hari lagi untuk mengkonfirmasi ke keluarga mereka?”, #tanyaku2

“Yaaah sekitar 4-5 hari lagi Bu Aya”, #jawabmu 2

“Oh yaudah, gunain 5 hari itu, istikharah jangan bolong ya, minta petunjuk jawaban atas kebingunganmu”—ini aku yang nulis

“Kalo istikharah sama kayak tahajud?”—dia yang nulis

“Beda, istikharah lebih ke meminya petunjuk tentang suatu pilihan. Googling aja yaaa”—timpalku

“Siaaaaaap!”, jawabmu mantap.

Dan semoga 5 hari ke depan ada jawaban terbaik.

Aduh duh duh, paling demen mbahas tentang pernikahan. Pertanyaan-pertanyaan temanku membuatku berfikir. Bagaimana kalau aku yang menjadi artisnya?

Apa niatmu menikah, Ay?

Tik..tok..tik..tok

Karena ingin melengkapkan separuh dien. Iya karena ingin beribadah dan mengabdi pada-Nya. Tetapi kadang-kadang aku sendiri menjadi hipokrit, jawaban itu kadang menguap dan kadang juga menguat tergantung ruhiyah. Kalo ruhiyah lagi awut-awutan ditanyain tentang kapan mau nikah aja kayak bensin dikasih api..ahaha

Daaan, kemenangan bagi para lajang adalah dapat menjawab pertanyaan “kapan menikah” secara bertubi-tubi” dengan ramah tanpa amarah. Cheers!


Note : kalo yang menjadi obyek cerita ini baca potongan tulisan ini, aku mendoakan kamu membacanya sambil tersenyum, atau bahkan sambil menggenggam bidadari cantik yang bermata jelly. Semoga dilancarkan ibadahnya ya...:)

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)