Menunggu

Minggu, Januari 04, 2015 0 Comments A+ a-

Aku menunggumu di ujung senja yang nampak semburat oranye. Setia beberapa waktu saat beberapa orang berlalu lalang melaluiku. Ah, sudah terlewat tahun baru. Saat tidur nyenyakku agak terganggu dengan dentuman petasan yang seakan merepresentasikan kebahagiaan euforia mereka. Duh, apa mereka sebahagia itu? Gumamku. Aku iri. Hush.

Aku memainkan kakiku untuk menghalau rasa bosan karena menunggumu. Bagaimana mungkin kamu setega ini menyuruhku menunggu selama ini. Atau aku yang salah jalur? Atau salah memilih karena mengiyakan menunggu? Ini rumit sekali. 20 menit mungkin adzan magrib akan menggema, langit oranye itu sudah berubah menjadi sedikit gelap.

Aku baru merasakan bahasa gaul “galau” sore ini. Rasa yang sebelumnya juga pernah aku reguk, namun dengan kadar biasa saja, tidak seperti sore ini. Kamu sekarang sedang dimana? Kenapa lama sekali? Atau mungkin kamu lupa bahwa kamu pernah menyuruhku untuk menunggu, disini? Menunggu untuk apa? Jangan-jangan, menunggu hanya untuk mengetahui bahwa pilihanku salah.

Begitu nelangsanya menunggu saat aku sendiri tidak menikmatinya. Biasanya aku tidak segelisah ini dalam menunggu. Ditemani kopi atau buku. Iya, tidak se-nelangsa ini.

Tiba-tiba ada seorang yang kukenal sebelumnya, menyapaku dengan senyum khasnya.

“Hallo gadis, sedang apa disini? Sudah hampir maghrib?”

“Menunggu”, jawabku pendek.

“Siapa? Ini sudah hampir maghrib. Mau ikut ke surau untuk mengambil wudhu?”, ajakannya membuat niatku goyah.

Benar, 20 menit berlalu dan adzan mulai bersahut-sahutan.

***

Selepas maghrib, aku masih gamang. Apakah akan kembali kesana untuk menunggumu atau beringsut pulang. Mengapa aku mendadak membencimu? Membenci karena kamu membiarkan aku menunggu. Membenci karena kamu tidak datang seperti yang kamu janjikan. Aku sendiri bingung, jika kamu benar-benar datang apa yang aku ucapkan.

“Eh, kamu mau pulang juga?”, tiba-tiba lelaki itu menyapa lagi.

Aku diam sejenak tidak menjawab.

“Mau bareng?”, dia menawarkan.

“Baiklah”, aku menyudahi masa tungguku. Cukup.

Jangan pernah menyesal, saat aku tidak lagi di tempat yang sama untuk sekedar menunggu, kamu. Dan kamu akan tau bagaimana rasanya menunggu, tetapi apa yang kamu tunggu telah berlalu melampauimu. Maaf, aku tidak bisa memaafkanmu untuk ini.


*tidak semua yang saya tulis adalah apa yang saya rasa, mungkin ini hanya sekedar menghabiskan waktu di sela saya pulang berhimpit di kereta

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)