Saat marah memuncak, bersabarlah!

Rabu, Januari 21, 2015 0 Comments A+ a-


Tolong jangan mendendam saat orang lain mengkritik—entah dengan santun atau kasar. Biarkan saja hatimu bening seperti itu. Dengarkan dengan penuh penghargaan, sepahit apapun itu. Bukankah brutowali juga pahit, tetapi menyehatkan di badan kan? Kamu hanya cukup melapangkan sedikit saja dadamu yang berkobar karena amarah. Atau justru kobaran amarah itu menunjukkan bahwa kritikan itu benar adanya?

Duh, jangan-jangan kita juga menjadi pengkritik yang demikian? Tidak membawakannya dengan santun sehingga menghilangkan esensi dari kritikan itu? Ya Rabbi, bagaimana hati kami berbolak-balik, Engkaulah yang menetapkannya.

Saat amarah itu seperti kobaran api yang siap menelan siapapun, jadikanlah kami sebagai air yang menyegarkan bukan seperti bensin yang menambah sulutan. Duhai Dzat yang tiada duanya, pada hakikatnya kami tidak memiliki, maka jangan biarkan kekecawaan itu bertahta saat kami gagal dalam meraih impian yang kami inginkan.

Kami lupa, bahwa surga juga dianjikan untuk insan yang menahan amarahnya. Duh duh duh, menangkupan hati, iya lagi-lagi hati. Tentu saja, menahan amarah sampai menangis pun bisa dihadiahkan surga kan? *curhat.

Peluklah sabar. Karena eh karena itu sahabat yang paling menenangkan. Dan Allah pun menyebutnya berkali-kali dalam FirmanNya. Yuk, tahan amarah, jangan mendendam!

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)