Atas Nama kehilangan

Selasa, Februari 17, 2015 0 Comments A+ a-


Assalamu’alaykum,

Maafkan aku saat kemarin harus meminta jeda untuk menulis surat. Bohong jika aku tidak memiliki waktu—karena aku punya luang yang melimpah. Dusta juga bila aku menjawab bingung mau memilih siapa yang akan kukirimi surat—karena aku banyak teman untuk membaca suratku, termasuk kamu? (emote kedip).

Atas nama kehilangan, yang sejujurnya suatu saat aku juga akan hilang. Raga yang sebenarnya aku tak berpunya. Jiwa yang sejujurnya bukan hakku sepenuhnya. Lalu mengapa bersedih saat hilang seonggok barang yang sebetulnya menjadi rongsokan pada akhirnya? Mengapa hatimu begitu sendu seperti itu seharian ini?

Dalam bulan ini, ada beberapa kesayanganmu yang hilang. Atas nama kehilangan, hatimu dibuat bingung bukan kepalang. Mood-mu seakan dibuat berkecamuk tidak menentu. Apa sih yang hilang? Hal yang sebenarnya bisa kau tebus kemudian. Hasratku untuk marah karena keteledoranku yang begitu akut. Kalau saja tadi tidak... Coba saja tadi aku harus... Andaikan aku tidak... Aish, pernyataan-pernyataan yang hanya membuat keruh rasamu.

Kamu kehilangan barang seakan-akan kehilangan duniamu. Ibarat lampu yang saklarnya putus, tetapi kamu marah-marah kebingungan karena gelap di sekitarmu. Padahal kamu bisa memilih menyalakan lilin atau menciptakan penerangan sendiri untuk ketenangan hatimu. Lalu apakah kehilangan membuatmu se-nelangsa itu?

Oke. Sekarang pertanyaannya diubah sedikit konsepnya, bagaimana level kehilangannya dinaikkan kadarnya beberapa tingkat. Bukan barang, tetapi seseorang. Kamu kehilangan barang kesayanganmu saja begitu semrawut. Bagaimana kalau kamu kehilangan seseorang yang kamu sayang? Aduh cukup, aku tidak mau dengar lagi.

Trus kalau kamu kehilangan barang, kamu bisa membeli lagi, mencari lagi. Tapi, kalau kamu kehilangan seseorang yang kamu sayangi mau menebus pake apa? Mencari dimana? Iya, udah cukup penjelasannya. Aku minta maaf untuk ini. Allah Maha Baik.

Kepada sopir taksi yang baik hati. Terima kasih pemahaman pagi ini. Atas nama kehilangan, aku tidak akan nelangsa sedemikian rupa. Tidak sama sekali. Kalau kamu mau barang itu, ambillah. Semoga berguna. Atau aku salah prasangka? Bukan kamu orangnya. Melainkan musafir yang menumpang setelahku?

Atas nama kehilangan, aku tidak benar-benar merasa kehilangan, karena sebenarnya nafasku bukan milikku.

Regards,

Ayaa yang selalu bahagia J

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)