Cat Kuku Rana

Minggu, Februari 22, 2015 0 Comments A+ a-

Source
Ada yang lain dari diri Rana. Bukan di alis, bibir atau matanya. Melainkan di jemari tangannya. Kuku-kukunya di cat berwarna hijau tua. Cantik sebenarnya. Tapi untuknya yang memakai hijab, memakai cat kuku yang model seperti itu akan menimbulkan banyak pertanyaan bagi beberapa orang. Ada yang disampaikan dan kebanyakan hanya memendamnya dan berprasangka sendiri.

Kukunya memang mengkilat. Nampaknya setelah diberi kutex, ia juga melapisi dengan cairan berwarna putih agar nampak lebih bagus hasilnya. Tarraaa, memang hasilnya indah sekali. Yang menjadi titik tulisan bukan keanggunan warna cat kuku itu. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

“Kamu tumben pake kutex, Ran?”, Tobi teman sekantornya memulai dengan pertanyaan pertama.

“Karena pengen. Suka aja ngeliatnya. Ini juga Cuma minta, gak beli”, Rana menjawabnya taktis.

Point pertama, kadang kita melakukan sesuatu hanya karena ingin dilihat orang, bagaimana ekspektasi mereka. Bagi Rana tidak, dia lebih melakukan sesuatu karena keinginannya, karena dia suka. Itu yang menjadi dasar utamanya. Kalau orang lain tidak suka? Yaa, itu urusan mereka. Jawab Rana simple.

Pernah saat dia membeli tas gendong, banyak komentar-komentar yang menyarankan kalau Rana tidak cocok memakainya. Dan mereka menyuruh Rana tampil lebih modis menggunakan tas selempang. Rana berdalih tas selempang sakit di bahunya karena barang bawaannya banyak sekali. Buku, mukena, mushaf cs. Rana tidak menghiraukannya, karena ia memakai tas itu karena rasa nyamannya, bukan karena ingin dilihat orang lain.

“Kamu jangan pake jilbab bergo gitu ah Ran, kata suamiku kalo cewek make jilbab bergo kayak pembantu”, kelakar senior Rana yang selalu memerhatikan kesesuaian baju, tas dan sepatunya.

“Karena simple aja, gak ribet. Kalo mau ke kantor langsung make. Dan semoga saja suamiku kelak suka dengan apa yang aku pakai”, jawab Rana lugas dan disambut tawa seniornya itu.

Kita memakai sesuatu karena kebutuhan, rasa nyaman dan seberapa besar kita percaya diri saat memakainya. Selera setiap orang berbeda-beda, jadi tidak semua orang akan menyukai apa yang kamu pakai.

Back to the topic ya, tentang cat kuku. Ada pertanyaan lagi yang muncul.

“Lho Ran, kamu make cat kuku kayak gitu sih. Kan gak syah kalo buat wudhu”, ini pertanyaan kedua dari Sinar. Ada beberapa hal yang terselip dalam pertanyaan ini. Prasangkanya wudhu dan shalatnya tidak syah karena memakai cat kuku hijau itu.

“Emang iya Nar, aku lagi cuti. Nanti kalo udah sholat, aku bakal hapus kok”, Jawaban Rana ini membuat Sinar hanya ber “ohh” kecil.

Point kedua, apa yang kita lakukan, selain menimbulkan pertanyaan, selipan prasangka juga setidaknya akan ikut. Kadang-kadang Rana sebal dengan prasangka orang lain, yang mendadak menghakimi tanpa konfirmasi. Tetapi orang lain juga tidak sepenuhnya salah, karena mereka berkomentar terhadap apa yang dilihat, entah prasangkanya bennar/salah.

Cat kuku itu berkaitan erat dengan jilbab yang dipakainya. Akan aman jika cat kuku yang Rana pakai tembus dengan air. Tetapi begitulah, Rana tidak bisa menyalahkan prasangka orang lain. Ia hanya bisa meluruskannya. Ia juga tidak perlu menjawab atau memberikan penjelasan terhadap prasangka yang ada dalam batin orang-orang yang tidak tersampaikan. Karena Rana tau betul bahwa yang dilakukannya tidak salah. Tetapi, membuat orang lain berprasangka buruk, apakah itu hal yang dapat dibenarkan? Entahlah.


Berprasangka baik. Allah akan ada di dalamnya. Cheers!

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)