Surat Buat Desy

Senin, Februari 23, 2015 0 Comments A+ a-


5 hari berturut-turut aku tidak menulis surat, lebih memilih menulis hal lain yang membuatku nyaman. Beberapa hari yang lalu, banyak yang ingin kukirimi surat, termasuk kamu, entah mengapa menguap begitu saja niatku. Mataku menyipit ke arah layar, buku yang ada di tanganku tidak khatam sejak kemarin dan hanya terbaca 3 lembar hari ini.

Kali ini aku ingin mengirim surat untuk Desy Aditiana, sahabat SD dan SMP ku. Banyak hal yang mengingatkanku dengannya. Nasi goreng, Solo, Mie Ayam, Bakso dan cinta. Akhirnya surat ini kutulis, untuknya. Teman sebangku SMP-ku.


Assalamu’alaykum, Des.

Sehat selalu sayangku? Hebat sekali ya, sekarang sudah jadi Ibu untuk 2 putrimu, Hafsah dan Hanifah. Ah, tiba-tiba memoriku kembali pada 6 tahun yang lalu, waktu kita masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Aku sempat hadir dalam wisudamu, dan kamu mengenalkan dengan lelaki yang sekarang menjadi suamimu. Tolong jangan mengolokku tentang ini, ya. Kamu lari beberapa kilo sementara aku masih berjalan beberapa langkah. Namun, sesekali kamu menoleh untuk sekadar bertukar cerita tentang hidupmu sekarang.

Semoga pahala senantiasa mengucur untukmu yang senantiasa mengabdi sebagai ibu sekaligus istri. Mendoakan ini saja rongga dadaku lega sekian senti, lapang sekali. Aku rindu, saat tanganmu mengusap kepalaku. Kamu tau sekali bagaimana cara menenangkanku. Dan kamu tau siapa saja yang mampu melakukan treatment ini. Aku nyengir kuda menuliskannya.

Aku masih phobia tentang “itu”, bukan berarti aku takut menikah. Bukan sama sekali. Karena aku sudah menyusun untuk itu. Nanti aku ceritakan bab ini, kamu akan percaya aku tidak phobia lagi :p.

Hallo Hafsah dan Hanifah, salam kenal dari Bulik ya. Shalihah selalu. Ada kesempatan waktu untuk bertemu, entah kapan. Aku akan mendongengkan kalian juga cerita lucu, salah satunya tentang ibumu.

Des, dapat salam dari Ibuku. Minggu kemarin beliau telepon dan mengabarkan Ana mau menikah. Kabar baik, aku menyusun perjalanan pulang. Itu juga berarti bahwa aku harus menyiapkan ruangan yang luas untuk menerima masukan-masukan mereka. Hey, ibuku sudah menginginkan cucu. Kamu sudah memiliki 2, Widy punya 1, Ana segera memulai. Dan aku, insya Allah juga demikian. Aku mempertimbangkan syarat terakhirmu. Tidak akan lagi terpaku untuk menunggu. Terima kasih untuk ini. Allah knows our needs.

Masih begini tabiatku, menginginkan bulan, padahal bintang mengendus-endus meminta perhatianku. Ah kamu paling tau, dan kamu akan mengirimkan massage setelah membaca surat ini, menyuruhku untuk memilih, padahal aku bukan pemilih. Memberikan ketentraman pada ibuku, hanya jawaban “iya” akan membentuk rekahan di bibirnya. Iya, aku akan mencobanya, Des. Seharusnya aku mencobanya daridulu.

With love,

 

Dariku, sahabat yang masih phobia tentang “itu”—kamu tau.

*aku membaca beberapa surat-suratku dan kusimpulkan bahwa isi kebanyakan mengarah kepada “pernikahan”. Mendadak aku menghela nafas panjang.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)