Untuk lelaki yang lembut hatinya,

Sabtu, Februari 14, 2015 0 Comments A+ a-

Asslamu’alaykum Pak,

Aku menunggu hari ini. Semoga surat ini sampai padamu sebagai telepati rinduku. Tepat Sabtu ya, dan sampai saat surat ini kutulis, aku belum men-dial angka 1 selama 3 detik. Yang berarti akan bercengrkrama lama untuk menceritakan 5 hari terakhir seperti biasanya. 

Dari shubuh, aku dinas Pak—nyuci, nyetrika, ngepel dan pekerjaan lainnya. Bu Ani masih pemulihan, jadi bagi tugas rumah dibagi rata. Tapi nanti malam selepas Isya, aku akan men-dial angka 1—meneleponmu. Aku inginmengucapkan langsung, tapi seperti yang lalu, aku yakin kamu sendiri lupa hari ini hari apa.

Sepanjang sujudku, aku tidak luput menyelipkanmu Pak. Sungguh. Dan tidak lupa menambahkan bidadarimu di belakang namamu. Semoga kalian berdua sehat dan bahagia selalu (menulis ini aku meleleh—cengeng). Itu karena aku merindukanmu. Lebih pasnya, masih merasa menjadi tanggunganmu. Kamu bilang begitu kan, Pak? Mendengarnya aku sedih.

Pak, kita berdua saling memiliki intuisi yang sama. Yang membuat Ibu iri padaku karena aku yang selalu kau tanyakan setiap Sabtu. Sampai handphone selalu kau taruh di sakumu menungguku. Kata Ibu begitu. Mendengar ini, aku terharu Pak (tuh kan aku meleleh lagi). Kenapa saat membuat tulisan surat untukmu, aku selalu cengeng begini? Itu karena aku sangat menyayangimu, Pak.

Bidadarimu selalu bercerita tentangmu yang mengeluhkan diriku beberapa akhir ini. Kesehatanmu menurun. Dan Ibu mencurahkan keras kepalamu untuk tidak mau datang ke dokter. Kata Ibu, kau menanyakan apakah aku menyinggung pernikahan? Aduh, kenapa tidak menanyakan langsung padaku? Bapak lebih tau tentangku kan? Atau takut menyinggungku? (dalam kallimat ini aku butuh kekuatan untuk melanjutkan suratku ini).

Kamu selalu begitu, Pak. Menceritakan teman-teman sebayaku yang beranjak menikah. Bahkan sudah punya anak 2. Sedangkan aku belum sama sekali mengutarakannya. Malah memintamu untuk mendoakanku bisa sekolah di tahun ini. Jawabanmu klise sekali. Berulangkali aku bercerita padamu kan? Aku tidak akan pernah mengecewakanmu (lagi), tentang ini. Tetap selipkan aku pada doamu ya. Pasti kamu akan bilang, tanpa ku minta, dengan senang hati akan kau lakukan dengan bidadarimu (genangan ini membuncah).

Bapak 67 tahun, Ibu 60 tahun dan sekarang aku 25 tahun. Sabar ya Pak. Meski aku juga sedang belajar remidi tentang makna sabar (mati-matian), karena seberapapun aku gagal melakukannya dengan baik. Aku akan melakukannya berulang kali, semampuku.

Pagi ini ada beberapa yang menanyakanku valentine, seperti yang sudah-sudah—AKU TIDAK MERAYAKAN. Kecuali memelukmu dan mengucapkan doa-doa saat aku di dekatmu. Dan segera meneleponmu, bercerita panjang lebar untuk mengobati haus rindumu (riduku juga), jika aku jauh darimu.

Pak, cukup ya. Mataku sudah sembap. Dio pasti menanyaiku nanti. Deandra juga sudah menunggu. Aku akan meneleponmu nanti. Semoga surat ini sampai padamu. Ah iya, aku mencintaimu dan sangat menyayangimu Pak, begitu juga dengan bidadarimu yang satu itu. Semoga kalian sehat selalu. Amin.

With love : Dik Nur


For : Bapak yang hari genap 67 tahun *peluk                                                                                                    

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)