Untuk seseorang yang tak bernama

Kamis, Februari 26, 2015 0 Comments A+ a-


Kemarin aku bermimpi tentangmu. Kedua tanganmu memegang pipiku dan mengatakan sesuatu. Aku meminta untuk memperjelas suaramu agar aku mengerti maksudmu. Kamu berbicara lagi, sesungging senyum itu membuatku ikut menyeringai karena aku tetap tidak mengerti pesan yang ingin kau sampaikan.

Badanku berat sekali. Mataku tertutup rapat-rapat. Senyummu masih terngiang hanya saja aku ingin menolak sesuatu. Ada kesalahan. Aku paham, kamu memaksaku untuk menikmati senyummu dalam impian hanya untuk menyakitiku saat terbangun. Mimpi buruk!

Aku berusaha untuk sadar sempurna tapi belum bisa. Kamu mengoceh dan aku mendengarkan dengan seksama. Tapi hatiku memberikan sugesti untuk menolak membalas senyumannya.

Aku mengalah, tidak memberontak lagi. Mataku perlahan terbuka. Nafasku memburu. Wajahku nampak letih seperti habis kalah dalam medan peperangan. Aku terduduk dan mencoba mengingat. Ada senyummu yang semu. Aku membalasnya. Kamu mimpi buruk. Pasti!

Kamu hadir manis dalam mimpi, hanya untuk merajamku saat bangun. Silakan pergi.

*no mention. Seringkali kita menulis surat tanpa harus mengirimnya bukan? Ini salah satu surat yang hanya aku titipkan kepada pak pos tanpa membubuhkan nama dan alamat penerima. Karena aku berharap surat ini akan kembali padaku.

**Salam sipirilly

***Ditulis sebelum mabuk ngerjain korespondensi dari kolega yang menyebalkan :p

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)