Feel Guilty

Selasa, Maret 24, 2015 0 Comments A+ a-


Tumpukan rindumu itu harus bermuara pada yang berhak. Pada siapa? Ah kembalikan saja pada pemberinya. Bulan ini semua surat-suratmu beronggok di folder tanpa kau berniat untuk mengirimkannya.
Apa maksudnya pergi dengan gundukan tanya yang seakan sengaja kau tinggalkan untuknya. Bagaimana bisa kau setega itu. Membiarkan luka menganga dan menaburkan garam dan cuka di atasnya. Kamu telalu hiperbola tentang ini.
Tidak juga. Aku biasa saja menanggapinya.
Apa begini treatment-nya? Saat kamu gundah. Kamu resah hanya kau biarkan membusuk di hatimu. Kenapa tidak menuliskan surat saja. Bercerita kepadaku. Kemarilah akan kupeluk. Dan kamu akan merasakan bahwa pelukan adalah penawar yang menghangatkan.
Yah, rasanya seperti “agak” lega. Perasaan bersalah itu berangsur memudar meskipun tidak bisa sepenuhnya hilang. Sekarang giliran kamu menunggu ya. Iya disitu, di kedai mocca yang sering kita datangi sebelumnya.
Tunggu aku. Please.
Continue....

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)