Budaya Mendongeng

Rabu, Mei 27, 2015 0 Comments A+ a-

Google
Apakah mendongeng masih menjadi budaya untuk menyampaikan pesan melalui cerita? Ataukah juga masih menjadi pilihan para orangtua untuk akrab dengan anaknya sehingga ritual mendongeng masih diadopsi untuk menidurkan mereka?


Pertanyaan itu mengendap di benak saya akhir-akhir ini. Tidak dapat dipungkiri, sebagian besar anak-anak gemar sekali mendengarkan dongeng, apalagi dibarengi dengan mimik atau musikal yang mendukung. Dulu, saya hanya sebatas didongengi cerita kancil oleh Bapak saya. Meskipun seperti kaset rusak karena ceritanya berulang-ulang, saya tetap mendengarkannya dengan takzim. Bapak juga sering mendongengkan cerita fabel lain dengan alur dan setting yang membuat saya tertarik untuk bertanya.

Google
Beranjak SD, saya  mulai menyukai pelajaran bahasa. Dan saya baru menyadari bahwa hingga SMA, Bahasa Indonesia merupakan pelajaran favorit yang mendompleng nilai rata-rata karena menyumbang nilai paling banyak  dibanding mata pelajaran lainnya. Selain itu, mulai SMP saya mengikuti lomba-lomba yang berbau bahasa, mendongeng adalah salah satunya. Saya pernah mendapatkan juara 3 se-Kabupaten Klaten waktu kelas 2 SMP. Selain itu, saya (tergabung dalam kelompok yang berjumlah 3 orang) juga mendapat juara 2 untuk Lomba Karya Tulis.



Lalu apa hubungannya dengan mendongeng? Ini hanya pendapat pribadi saya, bahwa sebagian besar, minat terhadap bahasa tersebut muncul dari ketertarikan saya terhadap dongeng-dongeng yang pernah diceritakan Bapak selepas Magrib. Seperti candu dan Bapak tau saat saya mendekat dan siap dengan posisi mendengarkan, tanpa diberi aba-aba beliau dengan senang hati memberikan dongeng segarnya.
Seperti mengulang masa lalu. Saya menerapkan hal yang sama terhadap keponakan-keponakan saya. Mendongengkannya sebelum tidur. Dulu waktu di Klaten, Iqbal-Ihsan dan Khansa juga pernah saya dongengkan. Tidak hanya fabel yang berkutat pada Kancil sebagai cerita utamanya. Tetapi saya membebaskan mereka untuk memilih atau memberikan clue, hewan apa yang akan menjadi peran dalam dongeng tersebut.


Efeknya luar biasa. Iqbal yang waktu itu masih duduk di kelas 2 SD tidak segan menjadi pencerita. Ia sama sekali tidak canggung untuk menceritakan hal-hal yang terjadi di sekolahnya. Entah tentang gurunya, temannya ataupun mata pelajarannya. Apa itu juga pengaruh dari dongeng? Saya tidak menyimpulkan 100% benar. Tetapi saya mengamati bahwa dengan mendongeng akan tercipta ikatan emosional antara pendongeng dan pendengarnya. Pendongeng akan berkreasi mencari bahan untuk didongengkan, sementara itu pendengar akan terangsang untuk ingin tau mengenai isi dari cerita.


Contoh lagi, di Depok saya tinggal dengan 2 balita yang sedang aktif-aktifnya. Mereka seperti Iqbal dan Ihsan, hobby sekali mendengar dongeng. Fasilitas gadget kami (Saya, Bapak dan Mamanya Dio) fungsikan untuk mendownload cerita-cerita nabi, fabel yang menyampaikan nilai moral. Biasanya kami menontonnya bersama. Jadi, setelah menonton video tersebut, saya menceritakan kembali isi dan pesan dari cerita itu. Feed back mereka beragam. Ada rasa simpati dan empati yang terpancar, rasa haus ingin tau terhadap sesuatu. Dea dan Dio pun terangsang untuk menanyakan hal-hal kecil, misalnya : “Kenapa kita tidak boleh makan babi? Kenapa hanya boleh memelihara kucing sedangkan anjing dilarang”

Dengan pertanyaan-pertanyaan itu pun, saya dituntut untuk dapat menjelaskan dengan bahasa mereka. Seperti ada take and give dalam proses mendongeng tersebut. Sampai sekarang pun, Dio dan Dea masih gemar mendengarkan dongeng. Mereka yang memilih objek yang akan diceritakan. Dalam dunia fabel, Dio lebih suka kuda yang direpresentasikan baik sedangkan Dea memilih singa sang pemberani. Tidak jarang mereka terlibat menjadi tokohnya, menjadi putri dan pangerang sedangkan saya seperti dalang yang menjadi sutradaranya. Mereka memilih alur ceritanya sendiri meskipun hanya sederhana. Sehingga tanpa mereka sadari, mereka dapat memilah hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang.

Menurut saya, budaya mendongeng harus dikembangkan, mengingat manfaatnya bagi anak-anak dan perkembangannya. Sependapat dengan situs ayahbunda bahwa mendongeng memiliki banyak manfaatnya, antara lain :

1.      Meningkatkan keterampilan bicara anak, karena bayi atau balita akan kenal banyak kosa kata.
2.      Mengembangkan kemampuan berbahasa anak, dengan mendengarkan struktur kalimat.
3.      Meningkatkan minat baca.
4.      Mengembangkan keterampilan berpikir.
5.      Meningkatkan keterampilan problem solving.
6.      Merangsang imajinasi dan kreativitas.
7.      Mengembangkan emosi.
8.      Memperkenalkan nilai-nilai moral.
9.      Memperkenalkan ide-ide baru.
10.  Mengalami budaya lain.
11.  Relaksasi.
12.  Mempererat ikatan emosi dengan orang tua.

Jangankan anak-anak, saya yang tergolong remaja saja masih suka mendengarkan dongeng, dan saat ini Dio (4y,7m) dan Deandra (3y, 5m) suka menceritakan hal-hal kecil yang dialaminya.

Mari mendongeng :)

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)