Tribute untuk Ibu & Calon Ibu [Refleksi tentang Kehamilan & Keguguran]

Minggu, November 01, 2015 2 Comments A+ a-

Allah menguji hamba-Nya di titik yang paling lemah. Kuat ya, Diii :)
Anak merupakan salah satu rejeki yang merupakan hak penuh Allah untuk memberikannya kepada siapapun dan kapanpun. Bisa jadi hal itu mudah untuk beberapa pasangan, tetapi bisa jadi juga butuh perjuangan bagi pasangan lainnya untuk mendapatkannya. Karena bisa jadi Allah memberikan 1 bulan setelah nikah bahkan 10 tahun menikah baru mendapatkan kepercayaan itu. Siapapun dan kapanpun.

Dian mengabarkan bahwa rahimnya bersemayam janin. Yes, she is in pregnancy. Aku pun ikut berbahagia saat mengetahui kabar tersebut. Tidak berlangsung lama, saat aku iseng mengetik keyword “apa kabar?” di group Whatsapp SMA. Ada yang bilang sedang mengajar, ada juga yang bilang sedang menidurkan anaknya. Sementara aku sedang berdesak-desakan di kereta. Dan perhatianku tertuju pada Dian yang meminta doa untuk kesembuhannya. Awalnya aku berpikir kalo dia sedang ngidam akut, maklumlah hamil muda biasanya teler luar biasa di trimester pertama. Tetapi tidak, Dian diopname sudah 5 hari.

Sore harinya, aku memutuskan untuk menjenguknya di Rumah Sakit swasta yang ia sebutkan di chat pribadinya. Saat tiba di Rumah Sakit, wajahnya pucat, senyuman tipis itu tidak dapat menyembunyikan kesedihannya karena telah kehilangan berlian-nya. Dia menceritakan lengkap badai yang mampu ia lewati bersama suaminya. Bibirnya komat-kamit merapalkan dizkir untuk menguatkan ruhnya. Berkali-kali wanita itu mendapatkan kekuatan, tetapi berkali-kali hati dan keyakinannya diuji. Tidak sekalipun ragu bahwa Rabb-nya selalu ada di sisinya, meskipun janin yang dinantinya telah luruh dan mengancam rahimnya.


Apalah arti vonis dokter itu. Karena memang kekuasaan adalah mutlak milik Allah. Wanita itu tidak sendirian. Ada lelaki yang belum genap 2 bulan ini menjadi teman halalnya. Saat mereka berdua dapat melalui ini, wanita itu meyakinkan bahwa ia sangat beruntung mendapatkannya. Seperti saat ceritanya menyerahkan undangan pernikahan, ia yakin akan menghabiskan waktu bersamanya. Aku salut.

Dian merasa bahagia saat tespack menunjukkan garis 2. Ia juga mencoba test ke laboratorium, hasilnya juga positive bahwa dia sedang hamil 4 minggu. Ada keanehan dalam kehamilannya. Ia merasa pinggulnya sakit luar biasa. Setiap shubuh bahkan ia menangis meringis merasakan sakitnya. Dian merasa bahwa ia dan bayinya kuat dengan ini, dan merasa bahwa hal itu juga dialami oleh wanita hamil lainnya.

Beberapa hari kemudian, ia mengalami flek. Makin lama makin sering dibarengi dengan rasa sakit di bagian panggulnya. Akhirnya ia datang ke Rumah Sakit itu (pengen nulis gedhe sebenernya, tapi sudahlah, gak mau berujung kayak kasus Prita). Menurut penuturan Dian, pelayanannya sangat kurang. Dari dokter hingga suster yang tidak care dengan pasiennya. Ujian pertama Dian adalah saat pihak Rumah Sakit menyatakan bahwa Dian sedang menstruasi, tidak hamil. Setelah beberapa kali cek diketahui bahwa janinnya di luar kandungan (di tubafalopi) dan harus dioperasi.

Itu artinya adalah Dian dan suaminya harus merelakan janinnya luruh karena tidak dapat dipertahankan. Ujian kedua adalah saat dokter memvonis bahwa ovariumnya harus diangkat karena sudah terinfeksi. Di sisi lain, Dian merasakan sakit hebat di panggulnya. Ujian ketiga adalah saat dokter bedah yang siap melakukan operasi tidak mau melakukan tindakan karena tidak ada dokter anestesi yang sedang berjaga. Dian dan Suami sudah merasa harapannya sudah di ON : OFF kan oleh pihak Rumah Sakit.

Saat itulah, kepasrahan itu muncul. Hanya kepada Allah Dian dan Suami meminta pertolongan, saat semua pintu hampir tertutup. Akhirnya, jadwal operasi yang seharusnya dilakukan pada malam hari, baru dapat terlaksanan di keesokan harinya. Aku bisa merasakan Dian dan suaminya melewati malam yang sangat panjang karena ketidakpastian jadwal operasi.

Suaminya rela melakukan apapun agar istrinya dapat diselamatkan, pun rela saat harus mengetahui ovariumnya diangkat satu. Allah membayar lunas doa dan kesabaran mereka berdua. Selain operasi dilakukan di pagi hari, Dian tidak jadi diangkat ovariumnya.

Saat aku menjenguknya, terlihat ketegasan di matanya bahwa ia percaya bahwa ini adalah ujian yang harus dilaluinya dan ia harus benar-benar lulus tanpa remidi. Allah sangat mencintainya. Dan semoga “berlian hatinya” menjadi pemberat di surga bersama suami. Amin


Untuk yang mendamba “berlian hati” atau sedang kehilangannya, percayalah bahwa Allah memiliki skenario yang lebih hebat. Ujiannya adalah pada titik terlemah kita. Kemanakah pengharapan itu tertuju? Kemanakah doa itu bermuara? Iya, hak penuh Allah untuk memberikan berlian hati kepada siapapun dan kapanpun.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

2 komentar

Write komentar
Enny Law
AUTHOR
4 November 2015 18.45 delete

Semoga teman mba itu sabar yah:')

Reply
avatar
ratna dewi
AUTHOR
6 November 2015 10.57 delete

Turut berduka cita ya mba buat temennya. Anak memang sepenuhnya hak Allah, saya pun sudah dua kali kehilangannya, yang pertama usia 24minggu, yang kedua 7 minggu jd memang harus sabar dan pasrah...

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)