Boleh Waspada Benjolan, tetapi Please Jangan Paranoid

Jumat, Maret 04, 2016 8 Comments A+ a-

Apa yang kalian rasakan saat memiliki benjolan di salah satu bagian tubuh? Ada yang berkelakar, yaiyalah setiap orang pasti punya. Saya pernah menjadi sangat introvert dan sangat paranoid karena memiliki benjolan di lipatan paha, di dekat bibir organ vital bagian kiri. Saya menyadari keberadaannya pada tahun 2009, dan sejak saat itu saya mulai rajin cek ke berbagai dokter yang berkaitan dengan itu. Dokter bedah, dokter kelamin dan dokter kandungan.
Perawan di Sarang Dokter Kandungan :D
3 tahun saya cek sendiri dan keep tentang adanya benjolan tersebut dari keluarga karena tidak mau mereka kepikiran. Dan untuk menceritakannya-pun saya tidak berani terbuka, dengan alasan takut dan letak benjolan itu gak strategis banget untuk diceritain, heuheu. Nah, sejak tahun 2012, saya mulai sedikit terbuka dengan Bapak Ibu dan keluarga lain. Saya pernah diantar Bapak ke dokter untuk memeriksakan hal tersebut. Setiap dokter bilang tidak apa-apa. Tetapi saya tetap paranoid kalau benjolan identik dengan tumor atau kanker, huks.

Minum ramuan herbal dan menjaga pola makan saya lakoni hanya untuk benjolan tidak membesar. Puasa indomie soto yang bikin ngiler juga sempat saya lakukan tetapi sekarang sudah gak seketat dulu. Saya pernah disuruh operasi tetapi masih mikir-mikir dulu, apalagi letak benjolannya bikin baper. Akhirnya saya memutuskan untuk datang ke dokter lain agar mendapatkan secon opinion, third opinion bahkan entah Dokter Novi adalah dokter ke berapa sampai saya lupa.

Kebanyakan dari dokter yang saya datangi bilang gak apa-apa, tetapi saya pernah lho datang ke salah satu dokter yang prakteknya di rumah sakit swasta di Depok. Waktu itu saya membaca blog beliau dan sudah membayangkan akan cocok. Tetapi ekspektasi saya salah. Pelayanan yang beliau membuat saya tidak akan datang lagi, cukup sekali. Dalam memeriksa, beliau tidak care, hanya terpaku pada komputer saja. Mananyakan sudah berapa lama ada benjolan? Obat apa saja yang dikonsumsi?

"Lalu untuk mengetahui itu benjolan apa, ada hal yang harus saya lakukan gak Dok. USG mungkin?" pertanyaan yang seringkali saya tanyakan kepada dokter-dokter yang menangani saya sebelumnya.

"Ya harus dibedah" Beliau menjawab sambil mengetik di komputer penjelasan saya. Sejak saat itu saya sudah ilfeel. "Jadi gimana? Mau dibedah atau rawat jalan?" tanya beliau. Saya menjawab mau konsultasi dulu dengan keluarga. Jawaban itu adalah jawaban paling sopan saya padahal saya sangat kecewa dengan pelayanannya. Daaan, beliau adalah dokter terburuk yang pernah menangani benjolan saya. Tidak ramah, tidak memegang apa benjolan itu, bahkan rekam medis saya sebelumnya tidak dibaca. Dan satu lagi, beliau tidak memandang pasien saat memberikan jawaban. Menurut saya, itu fatal sekali.

Akhirnya saya search lagi dokter bedah perempuan yang di Jakarta. Alhamdulillah bertemu dengan Dr. Asri Dwi Rachmawati yang berpraktek di Hermina. Dari hasil konsultasi, saya dianjurkan untuk melakukan USG untuk mengetahui apakah benjolan tersebut miom atau kista. Tetapi dari cara penyampaian beliau bahwa tidak semua benjolan berbahaya, hal itu membuat saya merasa nyaman dan aman. Akhirnya saya melakukan USG di Klaten. Untuk jaga-jaga kalau memang harus dioperasi, saya bisa dekat dengan Bapak Ibuk. Hasil USG-nya bagus, benjolan tersebut bukan kista atau miom. Tetapi saya tetap paranoid. Sampai-sampai dokternya bilang "Lha Mbaknya itu hasilnya bagus kok malah resah. Kalau memang was-was, lakukan chek saja tiap 6 bulan" kata Dokter yang menangani saya waktu itu. Fyi, saya agak kesulitan mencari dokter bedah perempuan di Klaten waktu itu, heuheu. Jadi, saya konsultasi ke dokter lelaki yang hanya membacakan hasil USG tanpa meraba-raba :p.

Saat Mamanya Dio periksa spiral nya, saya iseng ikut periksa lagi ke Dokter Obgyn yang antrinya masya Allah bikin depresi. Beliau meraba benjolan saya dan bilang kalau benjolan itu tidak apa-apa dan tidak perlu diberikan obat. Rasa nyeri yang saya rasakan adalah akibat hormon karena beberapa faktor : capek (nunggu jodoh) dan makanan. Beberapa bulan setelah itu, saya ke Dokter Asri lagi untuk chek biasa.

"Halo Mbak, apa kabar? Gimana hasil test-ny dulu. Kirain udah beres" Beliau membaca rekam medis dan hasil USG terakhir saya. Oh iya, periksa ini serombongan keluarga. Pagi Dio, siang Mama dan sorenya saya. Ini pertama kalinya saya cek ditemenin, ahaha. Sebelumnya saya datang sendiri dengan perasaan yang campur aduk saat mau masuk ke kamar praktek. Dr Asri merujuk saya ke Dr Novi Resistantie, salah satu dokter obgyn di Hermina. Saya search di google, beliau termasuk dokter favorit dengan testimoni yang memuaskan pasiennya. Untuk mendaftar, saya harus menunggu 3 minggu setelah rujukan dari Dr Asri. Alasannya, pasien Dr Novie sudah memenuhi kuota 20, sehingga beliau tidak mau melebihi jumlah tersebut.

Pelayanan yang Ramah

Sumpah, beliau ramah sekali. Entah kenapa penjelasan dari beliau meyakinkan bahwa "boleh waspada sama benjolan, tapi jangan paranoid". Dengan istilah-istilah kedokteran (saya lupa karena pake bahasa latin) beliau menjelaskan jenis-jenisnya dan faktor yang menyebabkannya. Waktu itu saya ditanya datang sendiri atau ditemani. Saya menjawab sendiri. Ternyata pertanyaan beliau berkaitan dengan tindakan medis yang akan dilakukan.

"Untuk melihat lebih jauh, apakah bersedia di USG trasvaginal (bener gak ya istilahnya?)?" dan saya setuju.
 
Saya pikir USG-nya itu yang kayak biasanya, disentuh di bagian benjolannya doang, eeeeh tapi ternyata ada alat yang dimasukkan ke anus (karena saya masih Nona). Saking baik dan ramahnya Dokter Novi, beliau minta maaf lho sebelum melakukan tindakan medis.
Ini dia Dokter Novi yang baik hati (Duh gak kelihatan, etapi beliau baik banget sumpaaah)
 
"Maaf ya, ini nanti agak tidak nyaman" Beliau tersenyum dan saya sih manggut-manggut. Wajah saya mulai pias saat melihat suster mengoleskan cairan ke alat USG. Membayangkan obrolan LGBT yang di TV-One, pikiran saya jadi kemana-mana. Awalnya saya mencoba rileks "serileks-rileksnya". Dokter Novi berulangkali minta maaf saat melakukan penindakan medis tersebut. Ini mah udah bukan "gak nyaman" namanya, tetapi gak nyaman syekaliiiiiiiiii. Saya menggigit bibir dan mengaduh. Dan baiknya Dokter Novi, beliau menggenggam tangan kiri saya sambil menenangkan. Hampir saya mau menangis karena sakit sekali, heuheu.
 
Setelah selesai, saya masih menggenggam tangan Dokter Novi. Suster membantu saya duduk dan berdiri karena melihat saya gemetaran dan pucat. Berkali-kali Dokter Novi menanyakan apakah saya baik-baik saja, dan saya mengangguk padahal sumpah mati merasakan sakit yang sampai 2 hari masih berasa, huks. Tetapi mendengar penjelasan Dokter Novi tentang hasil USG tadi membuat saya terhibur. Tidak perlu dilakukan operasi. Rasa nyeri yang saya rasakan adalah diakibatkan karena hormon yang tidak stabil. Untuk memastikan, saya disarankan untuk cek kesehatan 6 bulan atau 1 tahun sekali. Saya sih pengennya sama Dokter Novi dan gak akan pindah-pindah lagi, ehehe.
 
Oh iya, sebelumnya saya sangat paranoid kalau ada yang terjangkit kanker karena benjolan di bagian tertentu, atau bahkan sampai meninggal karena sebelumnya memiliki benjolan. Waktu Alm. Olga, saya paranoid sekali hingga melakukan tes beberapa kali untuk memastikan bahwa saya baik-baik saja. Paranoid gimana? Ya sampai menghubung-hubungkan semacamnya. Jangan-jangan saya juga begitu, Astaghfirullah.
 
Atau saat teman kantor yang memiliki benjolan dan ternyata benjolan itu lipoma dan sukses dioperasi dengan biaya cuma 25 ribu saja, saya mewawancarai sampai habis waktu itu. Kalau benjolan itu di tangan, mungkin saya nggak akan ragu untuk periksa-periksa. Tetapi ini di lipatan paha yang membuat saya was-was. Kalaupun saya mau melakukan bedah, saya maunya sih di dokter bedah perempuan. Padahal (sepengalaman saya), kebanyakan dokter bedahnya cowok.
 
Boleh saja waspada tentang benjolan yang ada di bagian tubuh kita, tetapi jangan sampai paranoid (ngaca sama cermin :D). Kalau memang ada benjolan, hal-hal berikut yang mungkin dapat dilakukan :
  • Cek ke dokter untuk memastikan benjolan tersebut itu apa. Biasanya akan dirujuk untuk melakukan tindakan medis. Nah, kalo disuruh operasi, minta second atau third opinion ke dokter lain. Kalo ngikutin saran dari dokter pertama, mungkin udah dibedah dari dulu, ehehe.
  • Jangan paranoid. Saya sempat mengalami soalnya. Menghubung-hubungkan sesuatu yang ending nya mengarah ke bahaya benjolan, haahaha.
  • Be a smart patient. Kalau ada yang menyarankan obat-obatan dari mulai herbal sampai disuruh minum ramuan nyong-nyong, kita harus cerdas. Saya juga sempat minum ramuan herbal, tetapi hanya sebatas gamat, madu dan habatussauda. Dan saran-saran lainnya cuma dianggap angin lalu, meskipun dulu saya sempat tergiur juga. hehe.
 
Terima kasih Dokter Novi untuk pencerahanya. Meskipun saya satu-satunya yang periksa sendiri karena yang lain pada hamil lengkap dengan suami, tetapi Beliau membuat saya merasa nyaman dan aman :).
 
Saya sudah lebih terbuka menuliskan tentang ini, setelah sebelumnya menuliskannya dengan inisial di postingan sebelumnya. Semoga bermanfaat ya! :)
 

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

8 komentar

Write komentar
4 Maret 2016 16.03 delete

Duuhhhh... aku juga suka parno sama benjolan2.
Kalo nyari infonya di internet, stres sendiri. >.<

Reply
avatar
Rinda Gusvita
AUTHOR
4 Maret 2016 16.50 delete

Aku jg pernah ketemu dokter judes, dokter cuek, dokter jahat krn nggak bisa sopan pas ngomong dan milih diksi. Tapi aku juga pernah ketemu dokter baik kayak dokter novi. Semoga makin banyak dokter2 kayak beliau. Cepet sembuh yaa cyiinn :*

Reply
avatar
Ratna Dewi
AUTHOR
4 Maret 2016 18.30 delete

Wah ini nih, aku termasuk orang yang paranoid-an sama benjolan. Dulu pas belum tau udah hamil pertama, di payudara ada benjol. Udah deg-degan aja eehhh ternyata itu salah satu tanda kehamilan. Padahal udh mau diperiksa, untung udah testpack duluan.

Reply
avatar
Inda Chakim
AUTHOR
4 Maret 2016 19.01 delete

aku pernah benjol jg mbk, sempet parno, tp kata dokter pengaruh hormon hamil, alhmdulillh begitu melahirkn benjolanq hilang mbk, btw alhmdulillh y mbk, hasilnya membahagiakan, :)

Reply
avatar
4 Maret 2016 19.49 delete

aku suka parno meski gak ada benjolan. soalnya banyak riwayat kanker dikeluarga bapak. semoga sehat terus ya mba, salam buat dr novi

Reply
avatar
4 Maret 2016 20.24 delete

Kayaknya kenal ruang tunggunya. Hermina Depok bukan? #soktau
Btw USG transvaginal emang nggak nyaman, ntr kalau hamil biasanya ada yang diUSG pakai itu juga :D

Semoga lekas sehat ya mbak :)

Reply
avatar
5 Maret 2016 05.07 delete

RD Hermina memang antriannya ampun deh.. Tapi enak kan dokternya baik. Coba minum jus pare dan terong belanda deh. Adik sepupuku ada benjolan di payudara, malah sudah tumor jinak. Hilanh minum itu. Ditahan-tahanin aja minumnya :)

Reply
avatar
Mugniar
AUTHOR
7 Maret 2016 14.50 delete

Geli baca di bagian "capek nunggu jodoh" hihihi. Baru ngeh ternyata mbak ini masih single toh *kemarin2 saya ke mana saja yah*

Tindakan menghadapi benjolannya oke sekali. TUlisannya lengkap sekali. Membuat saya agak nyut2 membaca di bagian USG Transvaginal itu. Jadi ingat pengalaman ke dokter kandungan waktu masih gadis dulu. waktu itu mengobati haid yang jarang datangnya. Ada periksa dalamnya, si dokter kandungan (perempuan) sampe harus memasukkan jarinya ke dalam anus. Wiiih.

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)