Manfaat BPJS untuk Bapak Ibu

Kamis, Mei 18, 2017 14 Comments A+ a-

Manfaat BPJS

"Ah ribet banget pake BPJS. Aku kemarin caesar pake biaya mandiri. Soalnya kata temenku ngurus administrasinya ribet sih. Dan satu lagi say, antrinya luamaaa" kata sahabat saya tempo hari.

"Kata ini kata itu" ini saya garis bawahi. Dulu waktu sanya bertanya cara memperpanjang SIM juga jawabannya hampir hopeless. Lama dan ribet. Padahal kalau sudah dilakukan, sepertinya mudah-mudah saja.

Baca juga: Mudahnya Memperpanjang SIM

Kalau memang punya uang lebih sih nggak masalah, tapi BPJS bisa sangaaaaat membantu meskipun harus ngurus ini-itu. Yaiyalah harus ngurus administrasinya dulu kalau mau gratis. Bukankah setiap hal yang berbau gratis memiliki prosedur? Kalau masalah ribet itu tergantung masing-masing individu.

Terkait dengan antrinya pengurusan pengobatan dengan jalur BPJS memang saya akui demikian. Dari mulai pendaftaran, di poliklinik dan penebusan obat antrinya masya Allah. Tapi kan itu dampak dari pemakai BPJS yang menggunakan haknya. Kalau memang nggak mau antri, yaaaa pakai jalaur mandiri.

Dulu saya berpikir mending bayar daripada harus antri lama. Tapi setelah mengurusi pengobatan Bapak Ibu yang menggunakan BPJS (dulu Askes), saya memahami mengapa BPJS antri dan prosedurnya "terkesan" rumit. Iya, kalau kesan pertama sudah rumit bawaannya akan rumit, ekekeke. Padahal sebenarnya tidak! Prosedurnya mudah kok.

Syarat berobat dengan BPJS:

1. Ada surat rujukan dari dokter keluarga atau puskesmas. Bisa juga surat kontrol dari dokter rumah sakit. Misalnya: Bapak dan Ibu saya kontrol rutin ke dokter di rumah sakit. Biasanya setiap bulan dikasih surat kontrol dari dokter yang bersangkutan yang berlaku 1 bulan ke depan. Kalau kontrolnya lewat sebulan, berarti harus minta surat rujukan baru ke dokter keluarga/puskesmas.

2. Foto KK

3. Foto copy KTP

4. Foto copy BPJS (kalau Bapak Ibu masih askes dan sampai sekarang kadang masih bingung, BPJS itu sama dengan Askes atau tidak? Tapi kata dokternya, sama sih. Cuma BPJS itu ada macamnya, apa dan apa gitu). Jangan ikut bingung, please.

Untuk nomer 2-3, banyaknya tergantung kebijakan masing-masing rumah sakitnya. Mengurus beginian memang nggak boleh tergesa-gesa, siapkan saja dengan teliti administrasinya dan ikuti prosedurnya. Apalagi jika menguruskan untuk orang tua. Wajib antri dengan sabar,

Baca juga: Tips Merawat Orang Tua yang SakitMengurus Orang tua wajib sabar

BPJS untuk Bapak

Bapak mulai sering menggunakan BPJS-nya sejak tahun lalu sejak dokter mendiagnosis TBC Paru. Srbelum itu juga sudah menggunakan sih, tetapi tidak rutin setiap bulan.

Per Februari-Desember 2016, Bapak cek rutin ke BKPM untuk menuntaskan pengobatan TBC-nya. Dengan BPJS, mulai dari konsultasi sampai penanganan lain (cek dahak, injeksi, rongsen) dan obatnya GRATIS.

Dan tahun ini juga sama, meskipun bukan TBC. Tetapi ada beberapa aspek kesehatan Bapak yang dinilai tidak memenuhi syarat untuk pemberangkatan haji. Sehingga dokter merujuk untuk opname dan rawat jalan sampai sekarang. Lagi-lagi saya paham, kalau BPJS sangat membantu dalam hal ini. Memang ada beberapa obat yang tidak tercover dengan BPJS, tetapi tetap saja sangat membantu karena sudah mengcover hal lainnya.

BPJS untuk Ibu

Lain lagi cerita Ibu yang menggunakan BPJS secara rutin sejak mengalami stroke ringan per April 2013 (4 tahun lalu). Tangan kanan ibu hampir lumpuh dan tidak dapat digerakkan. Awalnya hanya kesemutan biasa tapi lama kelamaan tidak bisa digerakkan sama sekali. Butuh waktu pemulihannya dengan obat dan terai rutin setiap bulannya.

Ah, jadi nggak ngerasain kalau tiap bulan selama 4 tahun ini Ibu rutin kontrol dan minum obat. Fyi, dengan BPJS semuanya GRATIS. Dengan catatan, ada beberapa yang memang harus membayar sendiri. Tetapi tetap saja BPJS sangat membantu.

Prosedur

Kalau jadwalnya kontrol, Bapak dan Ibu sudah mengingatkan 2-3 hari sebelumnya supaya diantar. Saya atau Mbak Endang menguruskan administrasinya, dan selebihnya Bapak atau Ibu tinggal menunggu giliran. Hampir mirip sih prosedurnya:

1. Mengambil antrian pendaftaran. Kalau mengantar Bapak masih agak santai, jam 08.00 pagi saja nanti dapat antrian yang manusiawi. Tapi kalau pas mengantar Ibu, yang habis shubuh saja sudah effort buat antri, kadang dapat antriannya bisa sampai 80-an.

2. Ke loket pendaftaran menyerahkan berkas-berkas yang saya sebutkan di atas

3. Dari pendaftaran, baru diarahkan ke poliklinik

4. Antri manis dan sabar

Kebanyakan yang mengantri sudah sepuh-sepuh. Tidak jarang yang harus kembali karena kurang syarat-syaratnya, misal surat rujukan. Biasanya yang datang periksa ya cuma itu-itu saja. Karena sering ketemu, terbentuklah persahabatan di rumah sakit antara Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sepenanggungan. Bahkan pernah Ibu kesiangan datang (padahal udah berangkat jam 06.00 pagi lho), ada temannya yang dengan sumringah ngasih nomor antrian kepadanya.

Jadi prosedur ribet dan antri lama saat pengobatan BPJS itu mungkin berasa banget kalau mereka hanya menggubakan sekali atau dua kali saja. Akan tetapi hal tersebut tidak akan berlaku untuk mereka yang memang harus berobat RUTIN seperti Bapak Ibu saya. Selama ini saat jadwal kontrol, Bapak berangkat jam 08.00 dan selesai jam 13.00 (paling pol jam 14.00). Kalau ibu berangkat habis subuh-14.00 (paling pol jam 15.00).

Poliklinik penyakit dalam dan poliklinik syaraf jadi antrian favorit. Apakah ribet? Sudah tidak lagi. Apakah antri banget? Yaudah dinikmati. Ahaha. Artinya, prosedur yang ribet dan antrian lama sudah tidak jadi masalah lagi. Kalau pengen jalur tol yaaaaaa bayar sendiri aja shaaay.

Ps : Minggu ini jadwal Bapak dan Ibu vuat kontrol berdekatan. Bapak hari Selasa dan Ibu hari Rabu. Dan entah kenapa pengen nulis tentang ini sebagai ucapan terima kasih sama BPJS yang selama ini memberikan manfaat untuk Bapak Ibu.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

14 komentar

Write komentar
18 Mei 2017 22.59 delete

Yang penting sabar dan sesuai prosedur insyaAlloh mudah digunakannya y mba :) aku juga asuransi lain uda dicabut tersisa BPJS, semoga selalu sehat bapak&ibu mb Aya

Reply
avatar
Ahmad
AUTHOR
19 Mei 2017 00.56 delete

semua butuh proses .. apalagi yg gratisan hehehe

Reply
avatar
Leyla Hana
AUTHOR
19 Mei 2017 05.12 delete

Alhamdulillah BPJS cukup membantu ya. Belum pernah pakai BPJS walaupun bayar tiap bulan, karena dari kantor suami jg udah ada asuransinya.

Reply
avatar
Kuma Seo
AUTHOR
19 Mei 2017 07.59 delete

pake layanan pemerintah ini kadang banyak gak enaknya pas di gunakan. apalagi kalo pelayanan rumah sakitnya jelek.

Reply
avatar
nova violita
AUTHOR
20 Mei 2017 13.47 delete

Aku juga pakai bpjs nih... memang harus sabar soalnya atriannya banyak...
semoga bapak ibu sehat...

Reply
avatar
indiRa
AUTHOR
20 Mei 2017 14.13 delete

Saya termasuk yg bersyukur menggunakan bpjs.. Caesar dan NICU Saat Anak sakit, luar bisa tertolong dg bpjs..
Ga terbayang seandainya harus bayar tunai...
selalu bersyukur meskipun antri, daripada keluar biaya yg lebih besar.

Salam kenal yaa Moms

Reply
avatar
Anjar Setyoko
AUTHOR
20 Mei 2017 15.26 delete

Sebenarnya pengen banget mbak ikut BPJS tapi melihat pengalaman harus satu KK ngurus saya pun mundur., Apakah bener ya mbak kalau ngurus BPJS harus satu kakak nggak boleh per individu ??

Reply
avatar
Ratna Dewi
AUTHOR
20 Mei 2017 20.05 delete

Di rumah bapak ibuku juga kusarankan pakai BPJS meski awalnya enggan karena nggak ada background pegawai yang biasanya familiar pakai askes. Akhirnya sekarang malah memudahkan mereka. Kalau di daerah, BPJS banyak membantu.

Reply
avatar
20 Mei 2017 21.29 delete

Saya, suami dan anak pertama punya BPJS. Tujuan buat BPJS biar bisa kosultasi, periksa kehamilan dan melahirkan secara GRATIS (meskipun tidak semua dicover). Kebetulan saya periksa kehamilan di bidan yg bisa terima BPJS, sempat nanya sama asisten bidannya bisa pakai BPJS tp tidak tercover semua (misal biaya 1,3 juta yg harus dibayar hanya 500 ribu). Ehh ternyata pas saya lahiran di bidan tersebut sudah ngurus dokumennya juga, lengkap pula ternyata BPJS saya tdk bisa dipakai karena lain kecamatan (capee dehhh). Yaa akhirnya saya bayar non BPJS dengan biaya 1,6 juta karena lahiran secara normal.Untungnya masih terjangkau. Itu si pengalaman saya

Reply
avatar
20 Mei 2017 21.52 delete

Banyak banget ya manfaat BPJS. Ibuku juga sudah daftar BPJS

Reply
avatar
Zulaeha
AUTHOR
21 Mei 2017 07.08 delete

BPJS emang bermanfaat bgt mba, anakku dari dalam perut udah didaftarin BPJS

Reply
avatar
fanny f nila
AUTHOR
21 Mei 2017 14.08 delete

beneeeer... kalo memang mau cepet, ya bayar sendiri aja ya mba... toh BPJS ini walo antri lama tp ttp berasa banget kok manfaatnya.... mertua saya juga rutin berobat kakinya yg mulai sakit2an, pake bpjs... ya memang hrs dari pagi daftarnya, tp krn udh biasa, udh enak2 aja... aku sendiri, bpjs ada juga, krn dibikinin kantor.. tp dari kantor juga nyediain asuransi sendiri utk karyawan dan keluarganya... jd aku blm prnh pake pake samasekali

tapi suami udah, pas periksa gigi... iseng aja pgn tau gmn sih kalo pake bpjs... trnyata ga susah2 banget... suami malah jd lbh suka pake bpjs drpd asuransi kantor ;p... kecuali kalo utk sakit2 agak parah baru deh pake asuransi kantor biar cepet...

Reply
avatar
28 Mei 2017 19.26 delete

Perlahan tapi pasti, negara melakukan pembenahan pelayanan buat rakyatnya, bersyukur ya

Reply
avatar
mogamugi
AUTHOR
29 Juni 2017 08.09 delete

Semoga aja kedepannya yg pakai bpjs pas daftar ga perlu terlalu lama antri :)
salah satu yg bikin lama itu seingat saya harus ambil antrian dulu baru dipanggil lagi buat nyerahkan fc bpjs & ktp

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)