Rasa, Doa dan Cinta

Rabu, Agustus 02, 2017 2 Comments A+ a-

Kamu tahu kemana doamu harus bermuara tapi seringkali beralasan untuk menepikannya ke arah yang tidak semestinya.

Dan kamu pun tahu kalau Allah paling membenci orang yang berputus asa. Maka, saat pikiranmu berkabut rasa takut, gunakan doamu. Iya, doamu.

***


Pernah gak sih merasa cemas tapi bingung mau ngapain? Sudah merapal doa berkali-kali tapi rasa gulana tersebut tidak mau pergi? Aku merasakannya. Hampir linglung di tengah menunggu. Merasa sendirian dan ketakutan. Padahal suasana ramai sekali.

Rasa takut ini bukan tentangku. Tetapi tentang bayangan kehilangan yang aku izinkan untuk berandai-andai di kepalaku secara liar. Aku tahu itu salah, namun aku sedikit terlambat mengantisipasinya. Sehingga, aku hanya bisa duduk dan berkomat-kamit berharap agar doaku bisa sedikit menenangkan.

Akhir-akhir ini aku bermain dengan angka. Tepatnya tanggal segini harus ngapain, tanggal segitu ngurus apa. Nah, hasil pagi itu bisa mengubah agenda di tanggal lain di Bulan Agustus ini. Kalau Juli kemarin banyak impian dan harapanku, sedangkan Agustus ini adalah bulan untuk Bapak dan Ibu. Di sudut kursi yang ramai lalu lalang aku mendoakan mereka berdua. Tiba-tiba aku cengeng sekali. Aku menyeka air hangat di pipiku.

***
Tempo hari aku nonton video seorang bapak dan ibu yang menangis karena gagal berangkat ke baitullah. Bukan tanpa alasan, beliau tidak dapat berangkat haji karena mengidap penyakit ginjal. Sebenarnya aku pernah mendengar cerita bapak juga tentang hal ini kalau teman satu kloternya tidak dapat berangkat haji karena sakit yang sama dengan bapak-bapak yang ada di video tersebut. Tapi berkali-kali nonton kok rasanya tetap perih.

Video itu memenuhi pikiranku saat aku menunggu hasil laboratorium bapakku. 2 jam yang biasanya cepat berlalu menjadi sangaaaaat lama. Rasanya berkecamuk menjadi satu. Berkali-kali berdoa entah kenapa rasa takut itu kuat menjelma. Aku biasanya bisa mengatasi 2 jam dengan melakukan apapun, tapi kali ini energinya menguap entah kemana.

Tiba-tiba nama Bapak dipanggil. Aku bergegas. Berhadapan dengan dokter yang menangani bapak ternyata beliau masih ingat aku. Bukan ke-geer-an tetapi rasanya beliau mengenal dengan baik pasien yang ditanganinya. Meskipun buanyak banget tapi faktanya beliau care satu per satu dengan pasiennya.

"Alhamdulillah hasilnya lumayan bagus. Hanya saja di paru-paru ada sedikit infeksi. Nanti saya resepkan obat semoga 5 hari ke depan sudah ga panas lagi dadanya". Penjelasan dokter sepertinya membuat dadaku sejuk. Rasa cemas dan takut yang tadi silih berganti menyesaki akhirnya berangsur pergi. Aku menyalami dokter dan keluar ruangan. Mataku panas kembali. Duh, cengeng sekali. Aku duduk sebentar di ruang tunggu untuk mengusap air mata haru.

Masih ingat di kepalaku pertanyaan bapak kemarin "Aku kuat ra ya wuk?" Dan aku menggenggam tangannya menjawab sama seperti jawaban atas peryanyaan beliau sebelumnya "Insya Allah kuat, Pak"

Allah sesuai prasangka hambaNya. Dan aku ingin selalu berprasangka baik. Bismillah. Berikan penjagaan pada Bapak Ibuku ya Allah. Izinkan mereka berdua darang ke baitullah. Aamiin.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

2 komentar

Write komentar
10 Agustus 2017 11.22 delete

Alhamdulilah y mba aku juga pernah deg2an pas mau bikin pasport takut ditolak karena KKnya beda sama E-KTP uda pengen nangis tapi akhirnya bisa juga :)

Reply
avatar
Ria AS
AUTHOR
12 Agustus 2017 23.22 delete

Ortuku baru dijadwal berangkat haji pada tahun 2020 nanti mbak. Tapi baca ini aku jadi ikutan sedih dan deg-degan membayangkan ortuku yang sudah bertahun-tahun menabung dan menunggu saat itu tiba.

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)