Menikmati Resep Original Ingkung Jawa di Waroeng Ndesso mBantoel

Minggu, November 12, 2017 4 Comments A+ a-


Habis dhuhur tiba-tiba suami ganti baju dan memakai celana panjang. Tanpa bertanya pun saya sudah bisa menebak kalau beliau akan bepergian. Sekilas pandangan kami beradu dan saya sudah tahu pertanyaannya. Eh, lebih ke izin ke saya yang sebagian banyak ia dapatkan.

"Mas mau lihat-lihat sepeda sama Bapak. Adik mau ikut?", biasanya beliau kalau mau pergi-pergi selalu menawarkan mau ikut atau gak. Kalau misal gak ikut, pernyataan kedua yang terlontar adalah "Kalau gitu, Mas keluar sebentar boleh ya?". Saya cuma mengiyakan dengan syarat "Please jangan lama-lama". Meskipun entah realitanya gimana. Ahaha.

Akhirnya saya ikut. Bapak dan ibu mertua yang mau lihat-lihat sepeda sudah ready di dalam mobil. Keluarga kami memang sedang semangat untuk olahraga "bersepeda". Semoga pas punya sepedanya bisa istiqomah digunakan sebagaimana mestinya. Karena oh karena dulu di Depok saya hanya bertahan beberapa bulan saja. Awalnya memang semangat 45 tiap weekend bersepeda sama anak-anak di komplek atau di UI. Tapi setelah itu kok malas sekali, huhu.

Ini kapan cerita Ingkungnya sih?

Setelah survey sepeda dan harganya yang masha Allah, saya merayu suami untuk membelikan mie ayam yang ada di depan toko. Beliau menggeleng tegas. Saya tidak akan merajuk lagi karena akan tahu jawaban penolakan.

"Beli ingkung Le? Nyobain di Warung Ndeso?" Suara Bapak mertua. Suami hanya mengiyakan karena tidak mempunyai ide mau makan dimana.

Saya pikir lokasinya dekat, tapi ternyataaaaaaaa.... Tempat jualan sepeda di dekat jembatan layang Jogja, dan warung ndeso ada di dekat goa selarong, ahaha. Untung saja rasanya worth it. Jadi, nggak sia-sia kesana.

Benar-benar Ndeso

Kirain mertua sudah pernah datang kesana, ternyata belum. Ahaha. Beliau pengen kesana karena diceritain teman sekantor kalau Warung Ndeso itu menu ingkungnya lezat sekali. Suami menggunakan google map, sesekali berhenti untuk memastikan arah ke lokasinya tidak keliru.

Ini mah niat banget namanya. Mau makan saja harus muterin Bantul dulu, ahaha. Padahal kami dari Klaten.

Suasananya memang merepresentasikan Ndeso. Dari lokasinya saja terletak di pedesaan, karena kanan kirinya ada rumah warga (bukan perumahan ya). Benar-benar rumah yang ada di desa. Bentuk rumah makannya dari depan tampak seperti gubug. Saat masuk ada lesehan dan juga disediakan kursi dan meja bagi pengunjung yang malas lepas sepatu, ekekeke.

Jadi bentuknya kotak gitu, di bagian tengahnya bolong untuk kolam ikan dengan pancuran kecil. Yang ngajak balita pasti seneng banget nih. Karena bisa nyuapin sambil melihat ikan segar.


Sepanjang kami bersantap makan, alunan lagu Jawa mengalun merdu. Saya nggak ngerti lagunya tapi menikmatinya. Nah, awalnya pas kami datang itu masih sepi, jadi bisa memfoto leluasa. Tapi bakda magrib mulai penuh dengan pengunjung yang datang, parkir penuh dengan mobil-mobil. Bahkan sebelum Jam 7 malam, pramusajinya menolak beberapa pelanggan karena menunya habis.

Oh iya, bagi yang muslim, di samping parkir ada mushola kecil dengan tempat wudhu yang bersih. Makanya, kami senang saat datang di lokasi pas adzan magrib bisa melipir magrib setelah memesan menu.

Ingkung dengan Resep Khas

Suami menulis pesanan. Bapak langsung berseru "ingkung jumbo". Ternyata ada pilihan ingkung jawa jumbo dan ingkung jawa plus. Kami memilih ingkung jawa plus. Kayaknya bedanya di jeroannya. Kalau yang plus, yang ada ati ampela, eh ternyata benar. Ingkung ini harganya 140 ribu. Rasanya gimana? Endeus pisan. Worth it lah jauh-jauh dari Klaten buat makan sampai Bantul, ahaha.

Biasanya kalau ayam kampung agak alot dagingnya. Tetapi ini enggak. Rasanya gurih dan empuk. Kirain nggak habis dan harus dibungkus, ternyata kami berempat bisa menghabiskannya tanpa sisa termasuk dengan nasinya, hihi.

Kami juga memesan gudeg manggar yang dikombinasikan dengan bumbu krecek. Ini pertama kalinya saya menikmati kalau manggar bisa diolah jadi gudeg dengan rasa seenak ini. Oh iya, 1 porsi gudeg ini seharga 20 ribu. Ada juga olahan gudeg dari bunga pisang (tapi kata ibu saya lagi nggak boleh makan, heuheu).

Yang demen sayur mayur, bisa memesan tumis kangkung, tumis daun pepaya dan trancam yang harganya sangat terjangkau, 4 ribu. Kami nggak mau kalap mata, makanya memesan yang sekiranya bisa kami habiskan. Ingkung sama gudeg saja sudah membuat perut kami sangat kenyang, meskipun semula tergiur mau memesan ini-itu juga. Namanya saja yang Ndeso, tapi rasanya beneran khas lidah jawa!

Kami memesan nasi biasa 4 porsi yang dihidangkan dalam ceruk (bahasa jawanya cething, ahaha). Ada juga menu nasi uduk. Untuk minumnya kami memesan jeruk dan teh hangat yang disajikan dengan gula batu. Rasanya pas hangatnya dan manisnya. Karena biasanya pesan teh hangat tapi realitanya puanas banget sampai harus nunggu sampai agak dingin.
Hmm, yang pengen nyobain ayam kampung dengan bumbu khas, kalau luang bisa mampir disini. Cocok buat bersantai dengan keluarga

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

4 komentar

Write komentar
Anisa Ae
AUTHOR
12 November 2017 10.16 delete

Wah, enak banget tuh. Di sini ingkung udah jarang yang buat. Padahal rasanya enak banget

Reply
avatar
12 November 2017 10.18 delete

Jadi pengen ingkung ma nasi gurih. :'D

Reply
avatar
Angela Vembri
AUTHOR
12 November 2017 10.22 delete

Enak banget tuh. :D Pengen nyobain.

Reply
avatar
13 November 2017 12.15 delete

Wih, Bantul..
Boleh ni kapan-kapan coba.. Kayaknya maknyuss..

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)