DEMI MASA

Selasa, Februari 28, 2012 0 Comments A+ a-

Tanaka mempersiapkan pagi itu, sebaik-baiknya. Setumpuk kertas berisi risetnya yang pagi itu harus dikonsultasikan dengan pembimbingnya. Tanaka memang sudah melewatkan 1 periode wisuda di kampusnya. Oh iya, sistem wisuda di kampusnya diadakan per cawu, jadi setiap 4 bulan sekali ada momentum sakral yang diimpikan tiap mahasiswa s-1.

Memakai kemeja hijau dengan stelan rok panjang coklat, Tanaka mematut-matut dirinya di depan cermin sambil berkomat-kamit, semoga kali ini dosennya tidak banyak mau lagi tentang risetnya. 15 menit menunggu, 30 menit masih setia akhirnya 47 menit dosen paruh baya itu datang ke kantor. Tanaka berlari sambil membawa setumpuk kertas hasil risetnya. “Gemana Tan? Sudah fix semua hasilnya?”, Dosen itu menoleh sambil berjalan menuju ruangannya. Tanaka hanya senyum-senyum deg-degan sebenarnya.

Dia menyerahkan semua hasil Tugas Akhir beserta data risetnya. Pak Paul membuka-buka riset sambil membenah-benahkan kacamatanya. “Hasil revisi terakhirmu mana, Tan?”, Pak Paul mulai serius. Tanaka mengeluarkan segepok kertas lagi dari tas gendongnya. “Ini kemarin teori yang sudah saya rubah berdasarkan arahan Pak Paul. Nah, data-data risetnya juga sudah saya lampirkan di belakang, Pak”, Tanaka mencoba menjelaskan. “Pak, saya bisa ikut wisuda periode ini nggak ya?”, Tanaka bertanya hati-hati. “Lha kamu ngapain lulus cepet-cepet, bukannya tahun ini ada remunerasi?”, Jawaban Pak Paul membikin betul dahi Tanaka mengeryit. “Bukan begitu Pak, tapi saya pengin sekali ikut wisuda periode ini, kan saya sudah ketinggalan periode kemarin”, Tanaka menambahkan. “Tenanglah Tan, kan masih ada wisuda cawu I dan II tahun depan”, Jawaban Pak Paul sontak mengagetkan Tanaka.

Suasana ruangan menjadi pengap, padahal AC-nya semilir. Seakan berubah menjadi sesak. “Mmmm, kalo saya pindah riset lapangan gemana, Pak”, Tanaka menggigit bibirnya. “Oh, silakan. Kalo kamu mampu menyelesaikannya untuk mengejar wisuda cawu III tahun ini”, Pak Paul dengan cepat menjawab. Hanya sepersekian detik saja, semuanya bisa berubah. Riset yang berjubel yang hampir setahun ini dikerjakan Tanaka berputar haluan. Baru kemarin Tanaka menyelesaikannya sampai titik, tetapi Pak Paul masih memerintahkan koma untuk risetnya. Tanaka membenahi kertas-kertas di meja Pak Paul sambil pamit dan minta restu. Mencium tangannya dan bilang terima kasih.

Di luar ruangan, Gading, Donce, Septa menunggu sambil senyum-senyum melambai-lambaikan tangannya. Mereka kaum seperjuanganku yang juga saling menyemangati menyelesaikan tugas akhir. 3 lelaki hebat yang juga tidak kenal lelah menyelesaikan tugas akhirnya. Bedanya, Gading sudah ujian minggu kemarin, otomatis ikut wisuda cawu III tahun ini. Donce dan Septa berjuang ikut wisuda cawu I tahun depan. Dan aku, yang 1 tahun terakhir setia dengan risetku, melewatkan 2 periode wisuda tak ingin kehilangan momen wisuda cawu III tahun ini. Waktunya masih 2 bulan, tetapi untuk banting setir melakukan riset dari awal lagi, seakan-akan idenya masih abu-abu.

Tanaka masih mencoba tersenyum membalas keriuhan sahabat-sahabatnya. “Hei Tan, gemana rayuan maut? Berhasil membujuk Pak Paul ACC tugas akhirmu?”, Donce bersemangat. “Ayo Tan, kapan ujiannya? Minggu ini? Minggu depan?”, Septa tak kalah semangatnya. Tanaka masih berjalan memeluk kertas-kertas hasil risetnya. “Tan, Pak Paul udah ACC?”, Gading mempersilakan duduk. Tanaka masih tersenyum simpul. Duduk dengan seksama dan meletakkan semua kertas-kertas itu di pangkuannya.

“Aku ganti”, Tanaka menghela nafasnya. “Apaaaaa?!!!”, Donce, Septa dan Gading melotot seperti koor yang diberi aba-aba. “Maksud kamu apa Tan?” “Ah, kamu jangan becanda Tan?” “Bukannya riset kamu udah fix ya?”, mereka seperti wartawan menyerbu dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Tanaka tiba-tiba meluapkan cairan bening itu. Oh tidak, baru kemarin dia 7 hari 7 malam seperti orang kesetanan mengerjakan riset-riset itu. Siang jadi malam, malam jadi siang. Baru tadi pagi, dia sms mau menemui dosen ganteng itu, yakin akan mendapat anggukan untuk ACC ujian akhirnya. Tapi kali ini, Tanaka benar-benar menangis memeluk setumpuk kertas yang seminggu terakhir ini mengubah ritme tidurnya.

“Doakan aku, kawan”, Tanaka menatap teman-temannya satu persatu meskipun dia sendiri belum tau riset apa yang harus dia kerjakan untuk mengejar wisuda cawu III tahun ini. Hanya sepersekian detik saja, semuanya bisa berubah. Riset yang berjubel yang hampir setahun ini dikerjakan Tanaka berputar haluan. Baru kemarin Tanaka menyelesaikannya sampai titik, tetapi Pak Paul masih memerintahkan koma untuk risetnya. Dan akhirnya, Tanaka memutuskan memulai dari awal.

2 bulan

Hari-hari Tanaka setelah memutuskan pindah total sangatlah penut perjuangan. Disamping harus mengurus tugas administrasinya, dia harus mengurus administrasi perpindahan riset di kampusnya yang terkenal ribet. Pindah riset bukanlah hal yang gampang, mengingat Tanaka pindah total. Tanaka harus mengurus surat-menyurat yang di dalamnya harus ada tanda tangan 5 dosen sekaligus sebagai persetujuan. Belum lagi, tiap dosen mengintrogasinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan penjelasan panjang.

Minggu pertama, Tanaka masih membenahi perasaannya yang nanar, mengumpulkan kekuatan dan sampai saat ini dia masih belum menemukan judul dan rumusan masalah untuk riset terbarunya. Sampai di penghujung Minggu kedua, haris senin, Tanaka bertemu Pak Jauhari. “Eh, kamu Nak, apa kabar? Udah kerja dimana sekarang?” pertanyaan Pak Jauhari membuatku meringis. “hehe, belum Pak. Ini masih nyari ide buat riset”, “Saya kira, kamu sudah lulus dari dulu, Nak”, Pak Jauhari dengan senyum khasnya menenangkan. “Oiya Pak, Bapak berkenan membimbing saya?”, Tanaka memberanikan diri. Keberanian yang akhir-akhir ini muncul tiba-tiba, tanpa dipikirkan, tanpa diskenario. Dia menceritakan kronologi riset sebelumnya. “Okelah Nak, saya bantu. Kamu kerjakan sambil ngurusi administrasimu biar cepet selesai. 2 bulan cukup untuk menyelesaikannya. Besok pagi jam 9, kamu ketemu saya untuk mendiskusikan lebih lanjut. Jangan lupa kamu harus bawa outline”, Penjelasan Pak Jauhari menyejukkan. “Ah iya Pak, ketemu di ruangan Bapak ya?”, binary wajah Tanaka yang seminggu terkhir tenggelam, muncul kembali. Anggukan Pak Jauhari menutup pertemuan penuh makna itu. 10 menit yang membuat semuanya berubah. Minggu kemarin, 10 menit pertemuannya dengan Pak Paul juga merubah segalanya. Detik ini pertemuan yang tidak disengaja antara Tanaka dan Pak Jauhari menjadi air bening untuk mengejar wisuda cawu III tahun ini.

2 bulan ini Tanaka khusuk meneliti tentang galeri batik solo carnival. Ide simple tetapi Tanaka mengkaji lebih mendalam. 2 bulan ini selain mengerjakan itu, dia juga harus menyelesaikan urusan administrasi perpindahan obyek penelitiannya. Peluh, tangis, rasa deg-degan bercampur saat dia harus mengetik tuts-tuts keybord menyusun hasil risetnya. Tanaka seakan ingin membiarkan kelelahan, ketakutan dan kepenatannya menyerah sendiri dengan tekatnya yang sudah bulat, lulus wisuda cawu III tahun ini. Entahlah, apa yang menyebabkan Tanaka kekeh seperti itu. Mungkin saja karena dia kecewa melewatkan 2 periode kelulusan sebelumnya, atau karena karena karena? Aah, hanya dia dan Tuhan yang tau.

1 bulan berlalu layaknya jet, dan Tanaka hampir menyelesaikannya. 85 % tugas akhir itu sudah fix dikerjakan. Mondar-mandir riset ke galeri Solo Batik Carnival, ngurus administrasi yang hampir sebulan belum selesai. Tapi, pagi itu dia bergegas ke kampus pagi-pagi. Gladys salah satu teman kampusnya ujian akhir. Ada 8 orang yang ujian, berarti menurut perhitungan berarti bisa sampai sore ujiannya. Peserta ujian harus menunggu seperti undian lotre, jadi sebelumnya mereka belum tau akan maju di urutan ke berapa. Gladys yang memakai stelan blazer rapi membaca sekali lagi tulisannya.

Detik-detik jarum jam berputar, tetapi dosen-dosen penguji belum semuanya datang. Petugas ujian mondar-mandir membagikan kertas absensi ujian. Jam 09.00 belum juga dimulai, “Dosen penguji belum lengkap, Dik”, petugas itu menjawab pertanyaan yang sebelumnya ingin Tanaka tanyakan. Tanaka menghela nafas dalam.

Akhirnya ujian dimulai jam 09.45. memangnya sistem pengujian seperti apa? Bukankah dosen penguji juga tau kalau hari ini, jam 7 teng ada ujian? Ada dosen yang sudah datang, tapi hilir mudik entah sibuk ngapain. Waktu cepat sekali, tiba-tiba jam 12.00, tetapi tidak demikian buat Gladys. Dia mulai cemas, setiap 10 menit sekali beranjak ke toilet. Tanaka pamit sebentar untuk dhuhur sebentar di mushola kecil dekat dengan ruang ujiannya.

Jam 2 berlalu, tiba-tiba salah satu dosen penguji mendadak ijin. Padahal masih 3 peserta ujian lagi hari itu, Gladys dan ada 2 lelaki lagi. “Maaf, ujian terpaksa dipending, saya ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan”, salah satu dosen penguji menjelaskan. Wajah Gladys berubah layu. “Saya tidak mau kalo hanya menguji sendirian, karena di peraturan Rektor, menguji skripsi minimal harus 2. Karena pembimbingnya daritadi pagi ijin, dan Pak Yatno juga ijin, berarti dengan terpaksa ujian ditunda”, Bu Ami menambahkan.

Dari semalam belajar, menyiapkan snack, materi, belum lagi menghadapi rasa nervous yang berkepanjangan selama semalam. Dari pagi stand by di kampus, 7 jam menunggu harap-harap cemas, dan sekarang hasilnya ditunda. Harusnya siding ujian dimulai jam 07.30 tapi realitanya jam 10.45 baru dimulai. Sebenarnya apa prioritas pendidik sekaliber dosen saat ini? Apakah waktu begitu mudahnya untuk diingkari? Dengan mudah memutuskan “pending”, “nanti ya”, “masih ada kesempatan lain”. Tanaka tiba-tiba sesak, menenangkan Gladys. Ingatannya memutar ke masa 1 bulan yang lalu, “Lha kamu ngapain lulus cepet-cepet, bukannya tahun ini ada remunerasi?”, . “Tenanglah Tan, kan masih ada wisuda cawu I dan II tahun depan”.

“Kamu tau Ding, Bapakku 64 tahun, ibuku 60 tahun dan aku 22 tahun. Aku hanya ingin melewatkan waktu dengan bapakku lebih lama. Ketiga kakakku melewati wisudanya, pernikahannya bahkan mengurus anak-anaknya, bapak ibuku masih bisa menemani mereka. Bapak ibuku menyaksikan prosesi yang menurutku sakral untuk dilewatkan. Demi waktu, demi masa depanku, aku sedikitpun takkan pernah sudi menyia-nyiakan ataupun menggampangkan waktu, karena aku tak mau merugi kalau-kalau aku tak bisa melewatkan masa-masa itu bersama bapak ibuku”, ucap Tanaka lirih. Akhirnya Gading yang duduk disampingnya paham kenapa Tanaka semangat 45 untuk lulus tahun ini. Dan kalian tau nasib Gladys? Dia masih menunggu jadwal ujian entah minggu ini, minggu depan atau bahkan minggu lusa. Ah, Demi waktu, demi masa depanmu, jangan pernah sekali-kali sudi menunda apa yang harus kamu kerjakan sekarang, karena besok kamu punya pekerjaan lain yang mungkin lebih pelik dari ini..

By : Cahaya theprinces

Solo, 2 Februari 2012

***END***

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)