Menjadi Ibu mengajarkan saya banyak hal, salah satunya mengasah intuisi. Intuisi tentang anak-anak yang ketika orang lain bilang "itu ga apa-apa" "itu biasa aja", tapi ternyata tidak menerima begitu saja. Hatinya menekan dan memberi clue kalau ada yang tidak beres, tetapi di sisi lain juga mengharapkan bahwa anak-anaknya tidak kenapa-napa
Tentang Adenoid
Ray selalu memberikan saya ruang untuk belajar hal yang baru. Sekaligus memberikan kesempatan untuk "memutuskan" hal besar. Tidak hanya kali ini, bahkan saat masih bayi, saya memutuskan Ray untuk disunat karena ada fimosis. Saya pernah menuliskannya disini dan disini. Disaat sunat bayi masih dianggap hal yang masih tabu. Keberanian pertama yang diajarkan Ray saat itu, membuat saya lebih berani dan tidak ragu untuk memutuskan khitan pada Ben dan Sea saat bayi.
Kembali tentang adenoid. 3 tahun lalu, Ray sering batuk pilek berulang, tidur ngorok, dan sering bernapas memakai mulutnya daripada menggunakan hidunya. Ditambah lagi dia sering mengeluhkan sakit di telinganya. Saya sempat membawa ke 3 dokter THT yang berbeda hingga cocok dengan treatment dan penjelasan dr. Pramavita Nur Junieva yang berpraktik di Chakra Husada.
![]() |
| Adenoid Ray stadium 3 dari 4, sehingga napasnya berat banget |
Pemeriksaan THT tidak nyaman sekali, tapi Dokter Eva bisa membuat Ray mau pelan-pelan untuk dilakukan endoskopi di hidungnya. Meskipun berlinang air mata, Dokter Eva tidak pernah sama sekali menjudge apapun. Rekomendasi untuk operasi sebenarnya sudah sejak dari tahun lalu, tapi Ray menolak. Saya juga masih bimbang dan mencoba pengobatan dulu. Beberapa kali kembali periksa, Dokter Eva juga lebih menenangkan untuk menunggu kapan kami siap. Adenoid Ray sudah derajat 3 dari 4 sehingga oksigen tidak bisa masuk sempurna.
Keputusan tentang Operasi
Ray mengeluhkan sesak napas, hidungnya mampet tapi bukan karena pilek, sehingga napasnya dominan memakai mulutnya. Jadwalnya kayak kejar-kejaran. Sebelum berangkat riset ke Jakarta, saya menjadwalkan operasinya. Saya mendoakan semoga bisa dapat jadwal setelah pulang riset dan sebelum puasa dimulai. Akhirnya diputuskan hari Jumat, 13 Februari.
Selama saya di Jakarta, Ray meminta video call, menanyakan kapan operasi dan cerita betapa takutnya dia sama jarum suntik. Seperti biasa saya memberikan puk-puk dan pemahaman, kalau sakit nangis tidak apa-apa, ibu akan memeluk dan menemani. Yang membuat dia berani, sebelumnya dia sudah melihat kedua adiknya diinfus karena sakit DB dan tipes. Saya menawarkan boleh main game ketika di Rumah Sakit sambil menunggu operasi dimulai.
Kamis, 12 Februari saya baru sampai di rumah, Ray masih sekolah seperti biasanya. Saya packing lagi untuk ke Rumah Sakit esok harinya. Saya sounding sama Ben dan Sea kalau besok Masnya akan disuntik di tangan seperti mereka kemarin. Mereka berdua pun patuh dan tidak ada yang protes untuk ikut. Yang tidak kalah tricky adalah sounding sama Ray. Memvalidasi rasa takutnya, meneguhkan kalau operasi ini insya allah akan berjalan lancar untuk kesehatannya.
*ngadepin anak-anak keluar masuk rumah sakit membuat saya lebih bisa menghargai tentang waktu kebersamaan. Saya menganggap, ini adalah intimate dengan masing-masing anak saya dan satu per satu, hal yang sebelumnya saya lakukan secara bersamaan kemana-mana.
The Day!
Saya membangunkan Ray untuk mandi dan shubuh karena kami harus sampai di Rumah Sakit jam 06.00. Saya pikir prosesnya akan cepat, ternyata yang antri operasi hari itu juga banyak. Sampai jam 08.00 kami belum dipanggil untuk pemeriksaan, akhirnya saya menyuapi Ray soto kering sebelum dia puasa. Jam 10.00 baru diperiksa oleh dokter sebelum masuk ke ruangan. Jam 11.00 ke ruangan bangsal untuk infus.
![]() |
| Suami menandatangani persetujuan operasi |
![]() |
| Pemeriksaan dokter umum sebelum masuk ke bangsal |
![]() |
| Ray masih santai prosesnya, asyik main game dan apprecite karena diinfus dia bisa tenang |
![]() |
| Pertama kali mengajari Ray salat duduk dan berbaring |
Jam 12 Ray saya keloni buat tidur siang. Meski menolak berkali-kali dan bilang ga bisa tidur siang, saya terus membujuknya dan akhirnya dia pulas. Setelah bangun dan dhuhur, tidak lama perawat meminta Ray berganti baju dan diantarkan ke ruang operasi. Dokternya jempolan ramah semua. Saya diminta memakai baju, diberi masker dan pelindung kepala. Saya pikir saya hanya mengantar sampai depan ruangan saja, ternyata saya diperkenankan untuk masuk sampai Ray selesai dibius.
![]() |
| Ray sudah ganti baju dan siap ke ruang operasi di Lantai 6 |
"Agar anaknya lebih tenang kalau ditungguin Ibunya", kata dokter.
Saya memeluk Ray, wajahnya berubah pias. Dokter dan saya menenangkan. Seluruh obat dan bius dimasukkan melalui infus. Ada salah satu suntikan yang mirip seperti susu disuntikkan terakhir dan tidak lama Ray pelan-pelan terlelap. Sebelum dipersilakan keluar oleh dokter. Saya memeluk Ray dan membisikkan al fatihah di telinganya.
1 jam rasanya lama sekali. Hati saya mulai gerimis, mata saya berair. i cry on. Mulut saya berkomat kamit. Mantra dan azimat paling tinggi adalah doa Ibu. Dan saya menggunakannya selalu untuk anak-anak. Menyebutkan satu per satu. Kali ini, Ray yang membuat hati dan mata saya hangat. Khawatir, berani dan pasrah beradu menjadi satu.
![]() |
| Dokter Eva menyerahkan amandel dan adenoid Ray, hal yang membuat kami takut setahun terakhir |
Setelah Operasi
Ray berlinang air mata. Merasakan kesakitan. Biusnya perlahan hilang. Dokter Eva menyerahkan hasil operasinya, 2 amandel dan adenoid berhasil diangkat. Saya memeluk Ray, mengusap airmatanya dan mengepuk-puk badannya. Suara Ray sengau, mungkin ada 1 jam dia menangis. Sampai dipindah ke kamar bangsal pun dia masih kesakitan dan menangis. Saya dan papinya bergantian memeluk dan menenangkan.
![]() |
| Nangis gapapa, ibu peluk. erat. |
Dokter berpesan untuk membelikan es krim rasa vanila, tidak boleh selain itu agar bisa membedakan mana darah atau bukan jika terjadi resiko muntah. Minum diperbolehkan kalau Ray benar-benar sadar dari bius agar terhindar dari tersedak. Setelah menangis, Ray tertidur lagi. Agak lama. Sampai Isya Ray masih terlelap.
Setelah bangun, dia masih merasa kesakitan tapi sudah tidak menangis lagi. Saya memberinya air minum dingin dan es krim. Dari Rumah Sakit diberi air sirup rasa melon dengan es batu. Kalau tidak dalam kondisi sakit, mungkin Ray akan menghabiskannya. Tapi ternyata masih utuh sampai diambil perawat lagi.
![]() |
| Malamnya tidur pulas sekali, sampai infusnya lepas ga terasa |
Ray menghabiskan es krim saja. Dan tidur lagi sampai pagi. Setelah subuh, dia minum es krim lagi dan mencoba menghabiskan menu bubur sumsum dari rumah sakit. Ah iya, semalam infusnya terlepas sendiri, akhirnya perawat melepas sekalian. Saya khawatir esoknya akan dipasang infus lagi tapi ternyata setelah visite Dokter Eva bilang boleh pulang. Antibiotik yang sebelumnya diberikan lewat infus, bisa diberikan lewat oral. Alhamdulillah.
![]() |
| Visit Dokter Eva, acc pulang |
![]() |
| Breakfast bubur sumsum sama es sirup |
![]() |
| Menunggu administrasi selesai, prosesnya sat set. Thank you Chakra Husada :) |
![]() |
| Pulaaaaang :) |
Allah menakar waktunya pas. Ben bisa les paginya. Sea diantar pakdhe ke Rumah Sakit sama Ibu yang saya yakin semalaman ga bisa tidur memikirkan cucunya. Saya sengaja tidak cerita sebelumnya tentang operasi Ray pada Ibu karena takut kepikiran. Saya langsung meminta doa sebelum berangkat operasinya. Administrasinya selesai, saya membayar di kasir, Ben juga selesai les dijemput papinya. Semuanya pas. Kami bisa pulang sama-sama.
![]() |
| Alhamdulillah |
Setelah di Rumah
Ray diresepi sirup anti nyeri dan antibiotik. Saya concern untuk pemulihannya, apalagi minggu tersebut sudah masuk puasa ramadan. Tenggorokannya masih sakit, suaranya masih parau, tidurnya juga masih ngorok. Dan saat kontrol, hal tersebut tidak apa-apa dan wajar. Kabar baiknya, Ray masih mau makan dan minum. Bubur Bingah to the rescue. Bubur dengan paket telur ayam kampung setengah matang. Saya sengaja tidak meliburkan les Benterang, jadi pas Ben les, saya bisa menungguinya sambil we time sama Ray dan Sea.
![]() |
| Sea jadi kesetrum Masnya makan bubur |
![]() |
| Makan siang di Serba Sambal, tapi take away bubur bingah dulu |
Januari bukan trial,tapi kita sudah memulai berjuang. Ibu tidak tahu seberapa tangguh kekuatan Ibu, tapi untuk kalian, akan Ibu berikan segalanya yang Ibu punya. Ibu belajar banyak sekali. Ibu minta maaf berkali-kali dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Ray Ben Sea, kalian sumber keberanian Ibu untuk mencoba hal baru. Bahkan mencoba meneguk tentang rasa lelah, sedih bahkan kecewa. Sekaligus memberikan kekuatan untuk selalu berjuang meski berkali-kali merasa gagal.
Doa Ibu buat Ray, ya. Tentunya juga buat Ben dan Sea.
![]() |
| I love you to the moon and back :* |
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)









