Featured Slider

Pengalaman Ikut AA Pekerti di LPPM UNS

Saya kira, acaranya bakal ngaret, tapi ternyata ontime *alhamdulillah. Jam 8 pagi sampai jam 5 sore, duduk mendengarkan fasilitator memberikan materi, sesekali praktik langsung.


Hari pertama ada penjelasan mengenai overview program yang diisi oleh Prof Nunuk. Semua peserta duduk dalam 1 ruangan. Namanya juga overview, kami dijelaskan seminggu ke depan mau ngapain aja *elap peluh*. Banyak banget yang ikut pekerti, dan saya bersyukur bisa ikut di kloter pertama. 

Awalnya saya belum paham betul manfaat Pekerti AA ini buat dosen. Tapi setelah mengikuti serentetan acaranya yang membut kepala saya berasap, akhirnya saya mengerti, ahaha. Materi yang diberikan sangat aplikatif. Jadi setelah materi langsung praktik. Kalau misal ga ada Pekerti AA ini mungkin saya akan zonk kalau diajak bicara tentang RPS, RPP, Silabus dan semacamnya.

Hari kedua sampai keenam, saya rasa sama saja. Materi-praktik, materi-praktik, gitu aja terus. Sampai saya berpikir jam 8 pagi sampai 5 sore itu cepet banget. Trus sampai rumah ngerjain tugas, tidur sebentar, trus kok pagi lagi, ikut Pekerti lagi, ahaha.

Ssst, meskipun lembur tugas, paginya para peserta teteup datang pagi buat ikut pekerti. Toleransi keterlambatan 30 menit dan tidak boleh ada yang ijin. Makanya sebelum diadakan pekerti ini, para peserta sudah dimintai kesanggupan untuk ikut acara full (nggak setengah-setengah), ahaha.

Nah, di hari ketiga, materinya fun banget! Sehari berlalu cepet banget. Pembelajaran mind mapping dari Bu Tri membuat para peserta AA Pekerti mengeluarkan kemampuan mereka untuk membuat mading ala-ala film Ada Apa Dengan Cinta. Ahaha


Jadi, kami dikelompokkan, dikasih materi yang didiskusikan bersama untuk dipresentasikan. Saya kebagian tugas menjadi presenter tentang Problem based learning yang intinya bahwa pembelajaran berpusat pada mahasiswa. Dosen hanya sebagai fasilitator saja. Dan voilaaa, saya dapet hadiah permen mind sebungkus karena menjadi the best presenter *benerin jilbab :D



Hari Keempat

Selama Pekerti AA, saya selalu berangkat dan pulang naik kereta. Tapi tidak hari ini. Ray merajuk sejak subuh. Dia nempel pengen nenen terus. Dipegang sama Eyangnya marah. Diusap papinya, dia marah. Takut saya tinggal. Makanya saya tidak memaksa pergi sebelum Ray hatinya enakan. Konsekuensinya, saya ketinggalan kereta dan diantar suami.

Jam 8 pas sampai lantai 3 LPPM. Nafasnya ngos-ngosan, ahaha.

Materi pertama tentang analisis kompetensi. Kurang lebih menjelaskan tentang kemampuan apa saja yang harus dimiliki mahasiswa. Bu Tri menyuruh membuat mind mapping lagi. Mata kuliahnya apa, Capaian Pembelajaran Lulusan apa, Kompetensi Akhirnya apa, lalu dicari indikatornya. Terus saya pusing, ahaha.

Tambah pusing lagi materi kedua tentang penyusunan silabus 😆. Untungnya Bu Anjar sabar ditanya singkatan-singkatan yang kurang familiar. Kenalan sama RPS, RPP trus pijet kening. Masih sepaneng karena materi selanjutnya tentang Tim Teaching. Honestly, saya lapar sekali, huhu. Udah gak konsen karena melewatkan sarapan. Apalagi membuat RPS dan RPP sebelumnya butuh mikir. Makanya pas bel tanda selesai, saya bahagia.

*ishoma*

Materi selanjutnya, ragam sumber belajar. Kami dijelaskan beberapa sumber belajar. Sehingga nantinya bisa dijadikan dosen untuk menggali bahan ajar.

Suasana kelas hidup karena humor-humor Pak Budi. Entah kenapa beliau bisa enak banget menyampaikan materinya. Saya ngerti lho kenapa alasan mahasiswa ngambilnya cuma 24 sks, sepandai apapun dia. Memberi hadiah itu adalah serendah-rendahnya motivasi *jleb. Beliau juga tidak menyarankan untuk memberi hukuman. Cara mengajaranya memang out of the box.

Pengembangan bahan ajar itu penting! Jangan  melulu menggunakan powerpoint. Tapi lebih kreatif mengembangkan pembelajaran dengan memanfaatkan media yang ada. Kadang-kadang pendidik lupa kalau di sekitarnya dapat dijadikan untuk media pembelajaran.

Hari Kelima

Hallo Pak Bowoooo. Ampun, kelasnya pecah sama tawa. Pembawaan beliau memang of out the box. Saya banyak insight baru dari beliau. Pagi-pagi, kami menyimak penjelasan beliau yang dikemas dalam humor-humor.

Instrumen ukur harus pas! Kata beliau. Dosen satu dengan yang lain beda. Jangan hanya karena kedekatan, sebagai pendidik bingung untuk menilai :D. Wajib obyektif, sist!

See ya, cara beliau out of the box. 

Di hari terakhir, kami ada materi mikroteaching. Ada 1 fasilitator yang mengevaluasi. Dari sesi itu, saya jadi tahu poin-poin apa yang harus diperhatikan saat mengajar di perkuliahan nanti.





Fasilitas yang didapat saat Pekerti AA

Trus fasilitasnya apa saja sih? Nah, beberapa hal berikut saya dapatkan ketika mengikuti rangakain kegiatan Pekerti AA di LPPM UNS Solo

1. Ruangan nyaman

Ruangannya indoor pakai meja kursi. Jadi kita seharian duduk manis. Alhamdulillah ruangannya enak buat belajar.


2. Coffee break dan makanannya enak


3. Fasilitator komunikatif dengan perkap lengkap
Dengan Ibu Tri, salah satu fasilitator Pekerti AA

Perkap komplit

4. Mushola bersih

Buat yang muslim, di tiap lantai ada mushola nya lho. Jadi bisa meminimalisir antri. Apalagi waktu ishoma terbatas. Saya memanfaatkan mushola sebagai tempat salat dan pumping. Mukenanya wangi dan tempatnya adem.

5. On time

Materinya dimulai on time! Ga ada kamus karet. Jadi kalau mau ikut pekerti AA di LPPM UNS, jangan harap bisa telat.

Kemarin ada yang nanyain biaya buat ikut pekerti AA berapa. Honestly, saya nggak tahu *sumpah, ini jawaban yang nggak membantu. Karena saya kemarin ga bayar. Mungkin karena pekerti AA ini adalah hal yang wajib buat dosen baru, ya. Jadi dari pihak fakultas sudah dianggarkan tersendiri.

Btw, 2 minggu setelah pekerti AA sebenarnya adalah jadwal pengumpulan laporan. Tapi saya belum selesai mengerjakan, huhu. Mungkin karena nggak dipepet jadi terkesan santai kayak di pantai. Sudah 80 % mengerjakan, insya Allah Minggu depan selesai. Aamiin.





Read More »

Tidak Ada Pelukan Malam Ini



Kalau saja lebih bisa mengalah, mungkin saat ini tanganku sudah mengait di lingkar perutmu. Kepalaku akan menyeruak ke dadamu dan kita akan berpelukan sepanjang malam. Tepat pukul 12 aku akan mengecup pipi dan berbisik i love you. Nyatanya tidak. Aku lebih memilih memilin egoku yang 2 hari ini terluka, semakin menganga.

Entah, aku merasa pernikahan mana yang mereka anggap bahagia. Karena bagiku, saat ini biasa saja. Dulu, aku memberimu dasi, sebagai hadiah untuk hari ini. Untuk kemudian kita memutuskan sama-sama ingin mengenal lebih dekat lagi dan lagi.

Kupikir aku sudah mengenalmu. Tapi nyatanya semakin aku mengenalmu, kadang aku kehilangan pengertian pada diriku sendiri. 

Akhir-akhir ini, cinta tidak bekerja dengan semestinya. Justru menggerus hal-hal sederhana yang membuatku lebih berharga dari segalanya. Awalnya aku merasa kehilangan. Tapi waktu menyembuhkan. Toh baik-baik saja. Atau hanya merasa kuat saja? 

Kali ini, aku melihat punggungmu tidur di sampingku. Aku menertawakan diriku sendiri. Tiba-tiba mataku panas. Air mata menyesak menggenang berjatuhan. Aku merasa baik-baik saja tidak memberikan pelukan itu malam ini. Melewatkan doa tepat di tengah malam. Yaaaa, aku lelah tapi tetap terjaga. Aku ingin lupa tapi tidak bisa. Yang aku pahami, ego kita sama-sama tinggi. Saat ini.
***

Semoga.......... 

Mataku terpejam sambil merapal doa. Untuk kamu, yang dua tahun lalu mematri janji sama-sama. Untuk saling belajar, mau berbagi dan memeluk.

I love you. Bisikku lirih.

4 September 2019


*Fiksi



Read More »

Memilih Popok yang Nyaman dan Aman Buat Bayi

Hal yang menjadi diskusi panjang dengan Ibu, baik mertua maupun kandung adalah tentang pemakain pospak (popok sekali pakai). Beliau menyarankan agar saya tidak memakaikan popok buat Ray karena kulitnya masih sensitif. Tapi saya tetap memakaikan pospak karena setelah melahirkan, fisik dan psikis saya kepayahan. Bahkan saya baby blues berkali-kali. Dan kedua ibu saya tidak terlalu paham tentang baby blues. Komplit! :(

Waktu bayi, Ray hobby sekali begadang. Nggak nangis, tapi ngajak mainan sepanjang malam. Minumnya kuat, pipisnya banyak. 3 bulan pertama, tidak hanya pipisnya, intensitas pup-nya pun tergolong sering. Sehingga, jika saya memaksakan untuk tidak memakai pospak, konsekuensinya saya harus rajin mencuci popoknya. Dan itu berarti jatah istirahat saya juga berkurang.

Baca juga: Melahirkan anak pertama

Bukannya saya manja dan nggak mau nyuci, tapi pasca melahirkan itu capek sekali, sist! Untungnya, Ibu tidak memaksakan lagi. Mereka lambat laun memahami pilihan saya. Toh, saya sudah mencari tahu dulu tentang popok yang nyaman dan aman buat bayi itu kriterianya apa saja. Jadi, sekarang kalau popok buat si kecil mau habis, eyangnya bilang ke saya. Yang sebelumnya ibu nggak paham tentang dunia diapers, sekarang lebih mengetahui seluk beluknya. Mulai dari tipe, size, harga bahkan cara membuang popok setelah dipakai. Peluk ibu satu-satu.

Nah, buat teman-teman yang sedang mencari popok yang nyaman dan aman buat si kecil, mungkin hal-hal berikut bisa dijadikan pertimbangan, ya. Ray termasuk bayi kuat. Saya yang harus cermat meneliti kondisi tubuhnya. Pernah saya memakaikan salah satu produk diapers, ternyata kulit Ray kurang cocok. Sehingga dia kena ruam di sekitar lipatan pahanya. Akhirnya saya beralih ke popok Merries. Kali ini saya mau mereview popok yang sampai sekarang dipakai sama Ray. Here we go.

1. Perhatikan size sesuai berat badan bayi

Buat yang newborn, ada popok yang khusus kok. Jadi, sebelum melahirkan, saya sudah persiapan 2 bal pospak buat Ray. Seiring bertambahnya usia, size-nya pun berganti. S-M-L dan seterusnya. Saat ini Ray memakai ukuran M sesuai berat badannya. Tiap balita itu beda-beda berat badannya. Untuk size  diapers ini, acuannya dari berat badannya ya, bukan usianya.

2. Perhatikan jenis kulit pada bayi

Kulit bayi itu saaaaaangat sensitif. Makanya harus jeli sekali memeriksa tiap lipatan di bagian tubuhnya. Kalau anak rewel mungkin bisa dijadikan alarm kalau ada yang salah. Misal menggunakan diapers dan nggak cocok buat bayi, sebaiknya diganti dengan yang lain. Apalagi buat bayi yang memiliki kulit sensitif dengan bahan-bahan tertentu. Sebagai orangtua, wajib tahu.

Baca juga: pentingnya merawat kulit sejak bayi

3. Pilih yang daya serapnya baik

Semula saya berganti-ganti diapers, sehingga saya tahu diapers mana yang memiliki daya serap paling baik. Saya mencoba memeriksa diapers Ray tiap pagi untuk memastikan apakah diapersnya memiliki daya serap yang baik atau tidak. Jika sudah menemukan diapers yang cocok dan memiliki daya serap baik buat bayi, jangan lupa rajin mengganti maksimal 4 jam, ya.

4. Bahan popok yang lembut

Seperti yang saya ceritakan tadi kalau kulit bayi sangat sensitif. Makanya, salah satu pertimbangan yang penting dalam memilih popok adalah memperhatikan bahannya. Usahakan memilih popok yang didesain dari bahan yang lembut dan lapisannya menyerap air lebih banyak (balik lagi ke poin tigaaaa :D).

5. Telah teruji secara klinis

Teman-teman suka memperhatikan nggak sih kalau membeli makan atau barang tertentu, makanan atau barang tersebut sudah lolos uji atau belum? Dan dalam hal pemilihan popok ini, saya mencermati popok tersebut sudah teruji klinis atau belum. Jadi, selain mengecek masa expired-nya, saya membaca detail informasi pada bungkusnya.

Oh iya, kali ini saya mau sharing dan review tentang popok Merries good skin yang dipakai Ray. Saya memilih produk ini karena memang memenuhi beberapa pertimbangan yang telah saya sebutkan di atas.


Review Popok Merries Good Skin

Bagi ibu-ibu pecinta popok Merries, tahu nggak sih kalau kata Merries berasal dari bahasa Inggris "merry" yang berarti ceria dan senyuman. Saya juga membaca kalau kata itu juga terinspirasi dari melodi mainan bayi yang biasa digantung di atas boks bayi untuk membuat mereka tersenyum. Filosofinya membuat hati saya nyes, karena sebagai mantan pegawai yang bergelut dalam bidang trademark, penamaan ini sangat penting sekali. Dan benar saja, saya tersentuh dibuatnya.

Kalau mencermati logo pada popok Merries yang berbentuk seperti bentuk hati. Saya mengartikannya, hati seorang ibu yang mencintai anaknya. Jadi, first impression saya, popok ini berbentuk seperti sebuah hati yang melambangkan kasih sayang orangtua pada anak-anaknya. Yaaaa, kayak saya yang sayang banget sama Ray sejak pandangan pertama.

Itu baru dari segi penamaan lho. Hal yang membuat saya jatuh cinta pada produk ini, karena memang terbukti nyaman dan aman buat Ray. Makanya hingga Ray berusia 1,5 tahun, saya tetap menggunakan popok ini. Memangnya apa saja sih kelebihannya? Okay, saya share  untuk referensi teman-teman dalam memilih popok bayi yang tepat ya. Simak, yuk!

💝 Menyerap banyak dan cepat

Mengunci cairan dengan cepat dan dapat menampung hingga 5x pipis sehingga kulit bayi tetap kering. Dan selama ini, Ray nyaman memakai popok Merries ini. Tidak pernah bocor dan saat ganti popok, kondisi popoknya tidak basah. Karena memang daya serapnya banyak dan cepat. Love!

3 garis pada bagian dalam popok merupakan teknologi yang hanya ada di popok Merries yang berfungsi untuk menyebarkan cairan sehingga cairan tidak berkumpul di satu titik dan tidak menggembung di tengah.

💝 Karet pada popok elastis dan lembut

Bahan karet pada popok Merries pas di pinggang dan tidak meninggalkan bekas pada kulit Ray. Ssst, sekarang bahan permukaannya 40% lebih lembut, lho. Kelembutan serat kainnya ini yang lebih melindungi kulit bayi.

💝 Teruji klinis

Popok Merries good skin teruji secara klinis mencegah iritasi oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Riset & analisis kulit bayi dilakukan bersama dermatologis.

💝 Desain popok yang menarik dan aman

Popok Merries terbuat dari serat yang halus dan didesain agar sirkulasi udaranya bebas keluar masuk. Sehingga saat dipakai, kulit bayi bebas dan nyaman sepanjang hari. Lapisan tambahan di kedua sisi popok dapat mencegah bocor samping dan membuat tampilan Merries Good Skin lebih baik.

Merries juga didesain agar kulit bayi tetap kering dan nyaman melalui 3 lapisan sirkulasi udara yang dimilikinya. Tiga lapisan tersebut terdiri dari permukaan yang lembut bergelombang, lapisan penyerap yang dapat dilalui udara serta lapisan terluar yang mampu melepaskan kelembaban.


Btw, popok Merries memiliki 2 jenis yang bisa dipilih, lho: ada Merries premium (yang packaging-nya berwarna putih) dan Merries good skin yang sedang saya review dan dipakai Ray di kesehariannya. Kalau teman-teman sedang mencari popok buat si kecil yang aman dan nyaman, popok Merries bisa menjadi referensi dan rekomendasi. 

Read More »

Musafir Guest House Solo, Nyaman Menginap Seperti Rumah Sendiri

Berita yang paling hits akhir-akhir ini adalah pindah ibukota. Gak tanggung-tanggung pindahnya, ke Kalimantan! Saya yang menyiapkan pindah ke Solo aja rasanya nano-nano. Padahal hanya dari Klaten, lho. Mungkin karena saya dan suami sebelumnya sudah memiliki kota idaman buat tinggal, jadi saat dipilihkan Solo, kami berdua harus sama-sama legowo untuk say good bye dengan Jakarta yang selalu membuat saya jatuh cinta dan Jogja yang memikat suami untuk selalu kembali.


Jadi, jangan pernah julid kalau ada yang galau dengan berita kepindahan ibukota, ya.

Siang itu kami ke Solo untuk bertemu developer rumah. Kami mengambil kuitansi pembayaran. Rumah sudah 95% jadi dan insya Allah September bisa ditempati. Rasanya seperti mimpi akan memiliki rumah secepat ini. Pengen nulis saking senengnya, tapi kalau belum bener-bener lunas, dan menjadi milik kami, saya belum berani.

Karena memiliki rumah itu kayak jodoh, kalau belum beneran akad dan nerima sertifikat tanda jadi, bisa saja batal di tengah jalan. Mbak Eni, yang mengenalkan developer rumahku, hampir 2 tahun mencari rumah yang sreg buat keluarganya. Sempat deal dan sudah mau dibayar, ternyata pemiliknya mangkir minta ini itu. Akhirnya batal.

Makanya saya alhamdulillah banget ga perlu muter-muter nyari rumah atau kontrakan. Awal Juli saya masuk kerja. Pertengahan Juli dapat tawaran rumah. Seminggu kemudian melihat rumahnya dan sorenya memutuskan untuk membeli. Yeng lebih membuat hati mengembun, saya membelinya tanpa KPR *sujud syukur*.

Karena ingin berkenalan lebih dekat sebelum pindahan, saya mengajak suami dan Ray untuk staycation di Solo. Sore itu, setelah selesai dengan developer, kami menuju musafir guest house yang lokasinya di dekat Alun-alun Kidul untuk bermalam.

Review Musafir Guest House Solo

Awalnya saya mengira bangunannya kecil, tapi setelah check in, eh ternyata ruangannya luas. Masuk ke dalam lagi, ada beberapa kamar dan ruangan lain: ruang makan dan dapur yang membuat saya seperti menginap di rumah sendiri.

Malam Minggu, Musafir Guest House full booked! Ketika mengejar Ray yang lagi demen banget jalan (setengah lari) ke arah ruang makan, saya bertemu ibu paruh baya yang mau keluar dengan keluarganya. Ada suami dan 3 anaknya, kalau tidak salah.

"Hallooooo adek...", sapanya ramah ke arah Ray. Anak perempuannya pun juga melambaikan tangan ke arah Ray. Kami ngobrol sebentar sekadar bertanya asal kami masing-masing. Beliau asli Cilacap. Ke Solo karena ingin kondangan ke tempat besannya. Asli deh, saya berasa kayak lagi tinggal di rumah dan ngobrol sama tetangga. Nggak berasa lagi nginep di guest house karena nuansanya memang seperti rumah sendiri dan begitu akrab dengan pengunjung lain. 

Makanya saya bilang sama suami kalau penginapannya mewah tapi kesan "rumah sendiri" dapet banget. Ray pun nyaman main kesana kemari.

Fasilitas yang saya dapatkan saat menginap di musafir dan mungkin bisa menjadi rekomendasi teman-teman saat memilih tempat menginap di Solo, ya.

1. Wifi

Wifi menjadi pertanyaan saat check ini di resepsionis. Setelah resepsionis memberikan paswordnya, saya langsung mengaktifkan wifinya. Malamnya, saat Ray tidur, saya menyalakan laptop dan menggunakan wifi untuk browsing dan menyelesaikan beberapa kerjaan. Dan, wifi di musafir lumayan kenceng aksesnya. Suami pun ga terganggu main game sebagai salah satu me time-nya.

Baca juga: mobile legend


2. Kamar luas

Ada 3 kamar yang disediakan di Musafir: 3 kamar standar, 10 kamar superior dan 4 kamar deluxe. Nah, kami menempati kamar deluxe yang ruangannya legaan buat main Ray. Yang mau menginap disini bareng keluarga, harganya bersahabat kok. Untuk kamar ukuran standard/rose ratenya 215 ribu pas weekdays dan 225 rb pas weekend.

Untuk kamar superior/lilac, ratenya 235 ribu di hari biasa dan 265 ribu saat weekend. Lalu, untuk kamar yang kami tempati kemarin, kalau weekdays 345 ribu, pas weekend 349 ribu. Rate ini bisa menjadi referensi teman-teman, kalau butuh staycation untuk family time dengan keluarga. Jadi bisa menginap nyaman, tapi nuansa "rumahnya" tetep dapet.



3. Kamar mandi luas dan air hangat always on



Ketika membawa liburan Ray, air hangat yang menjadi PR. Karena meskipun Ray sudah berani mandi pakai air dingin, ketika kondisi capek jalan-jalan, saya lebih memilih memandikannya dengan air hangat. Kadang air hangat di hotel nggak berfungsi dengan baik. Tapi di Musafir, ir hangatnya always ON.

Ray bahagia banget mainan di bath up dengan air hangat. Kamar mandinya cukup luas, tapi yang masih punya toddler harus hati-hati, karena kondisi lantai yang basah membuat mereka kadang hilang keseimbangan. Kemarin Ray hampir jatuh terpleset. Dia setengah berlari meraih shower dan lupa kalau lantainya agak licin.

Sorenya, dia minta dimandikan di wastafel. Air hangatnya juga berfungsi dengan baik. Dia nggak mau diangkat saking senang mainan air dan keran. Saya membiarkannya berendam lebih lama dari biasanya.

Oh iya, di kamar mandi ada sebotol sabun dan shampo. Menurut saya lebih praktis kemasan botol begini daripada yang batangan. Btw, bawa sikat dan pasta gigi sendiri ya, karena guest house hanya menyediakan sabun dan shampo saja. Kalau saya biasanya membawa toiletries lengkap meskipun di hotel disediakan.

4. Crew ramah

Selain fasilitas, saya selalu terkesan dengan pelayanannya. Crew-nya ramah dan sopan. Meskipun lama di Solo buat kuliah, tapi referensi kuliner dan wisata saya masih sedikit. Makanya pas ngobrol dengan crew Musafir, ternyata ada beberapa kuliner dan wisata yang bisa kami kunjungi dengan jalan kaki.

Kami tidak melewatkan kesempatan ini. Kami bertiga jalan kaki saat nyobain nasi liwet, soto gading dan alun-alun kidul yang ramai dengan pasar malamnya. Keesokan paginya, kami jalan kaki sepanjang slamet riyadi *niat banget!

5. Bisa masak sendiri

Suasana dapur yang seperti rumah sendiri

Ruang meeting yang bisa jadi tempat makan


Nuansa rumah juga tercermin dari dapur. Di dapur, pengunjung bisa masak sendiri. Peralatannya cukup lengkap. Kemarin saya hanya melihat pengunjung lain yang asyik memasak. Kalau saya hanya meminjam piring, gelas sama sendok saja. Selebihnya go food *LOL.

Ada ruang meeting yang bisa dijadikan tempat makan atau ngobrol bareng keluarga juga. Ah iya, kemarin kami tidak mendapat breakfast, tapi disuguhi snack yang enak. Ray suka menunya. Jajanan pasar yang familiar di lidah Ray. Makanya, pagi itu langsung tandas snacknya.

Delicious snack

6. Parkir memadai

Nampak depan mungkin guest house-nya kelihatan kecil. Saya sempat khawatir nggak dapat parkir karena waktu check in parkiran full. Tapi saya tetap bisa parkir di samping jalan raya yang masih masih merupakan area guest house.

Jadi, meskipun area parkir terlihat agak sempit, tapi tetap memadai kok buat parkir pengunjung. Sama halnya ketika melihat guest house yang nampak kecil dari depan, ternyata pas masuk, voilaaaa, ada 17 kamar pemirsa :D.

7. Akses mudah

Mudah gimana maksudnya? Akses ke guest house-nya mudah DAN ke beberapa tempat kuliner wisatanya pun juga mudah. Wisata saya yang di dalam Solo lho, ya. Karena niat awalnya kan memang mau PDKT sama Solo bareng keluarga. Jangan ada yang nanya kalau sama Ndoro Dongker berapa kilo, hahaha. Kalau mau ke Kraton, Pasar Klewer, PGS, aksesnya mudah kok.

Honestly, kami puas. Staycation ini seperti jeda tersendiri buat kami. Saya bisa mencharger energi untuk menghadapi September.
Bahagiaaaaaaa~

Yaaa, Kota Solo di Bulan September menawarkan banyak impian. Semoga tetap nyaman menjadi rumah kami "nanti".

Ada yang nervouse ga pas mau pindahan? Kasih tipsnya dong. Yang butuh tempat me time atau family time di Solo, bisa booking Musafir Guest House deh.

Read More »

Review Keep Cool Soothe Bamboo Serum dan Soothe Toner

Beberapa waktu lau, saya sudah pernah sharing tentang bagaimana cara mendapatkan kulit yang sehat, cerah dan "cling". Yang jelas bukan hanya sekadar wudhu (((doang))) ya, sist. Karena sekali lagi saya tekankan kalau saya paling sebel dan iri sama perempuan yang cantik hanya dengan air wudhu *kalem.

Baca dulu disini: tips agar wajah sehat dan ga kusam

Enggg, kali ini saya mau cerita tentang kulit saya yang cenderung kering, huhu. Karena pulang pergi Solo-Klaten di jam matahari terbit dan tenggelam, saya sadar banget kalau kulit saya "ngambek". Bayangin dong, jam 7 pagi waktunya sunrise dan pas naik motor, meskipun wajah saya memakai masker, tapi ada bagian yang terpampang kena papatan matahari. Trus jam 4 pun juga sama, ketika matahari sunset dan terik-teriknya mau tenggelam, eh wajah saya pun kayak nantangin, ahaha.

Makanya, saya ga heran kalau wajah saya kering byiiianget. Padahal saya udah rajin pakai pelembab dan sunscreen biar ga gosong. Tapi yaaaa, masalah kulit wajah kering, tetap saja harus wajib semangat skincare-an.

Nah, demi kemaslahatan kulit wajah, saya seneng banget pas disuruh nyobain keep cool soothe bamboo serum dan soothe bamboo toner.


Review Keep Cool Soothe Bamboo Serum

Waktu googling produk keep cool, banyak komentar positif. Meskipun begitu, menurut saya, skincare itu cocok-cocokkan. Bisa jadi skincare A bagus banget buat kamu, belum tentu cocok di saya. Dan sebaliknya.

Okay, yuk mari direview satu per satu. Kemasan serumnya saya suka, karena tidak mudah tumpah kalau dibawa travelling.


Isinya 50ml dan masa daluarsanya 1 tahun setelah kemasan dibuka. Bentuk botolnya mirip hand sanitizer jadi gampang banget ngambil serumnya. Tinggal pencet saja. Bentuk serumnya cair berwarna coklat bening. Semula saya kira lengket lho, karena kalau lihat first impression-nya pas di botol, bentuknya kayak cairan minyak. Tapi pas diaplikasikan ke wajah ternyata cair dan cepat meresap ke wajah.


Cara pemakaiannya langsung saya tuang ke telapak tangan secukupnya, trus usap ke wajah deh. Nah, klaimnya sih, soothe bamboo serum ini merupakan serum terbaik untuk kulit kering. Saya belum melihat hasil "terbaiknya" dimana sih, karena mungkin pakainya baru beberapa hari, ya. Tapi di wajah memang adem dan lembab setelah pakai serum ini.

Teman-teman pernah pakai serum ini juga? Sharing yuk tentang review soothe bamboo toner, siapa tahu bisa jadi referensi teman yang lain :). Oh iya, serum ini juga merupakan serum untuk melembabkan kulit sensitif dan kering. Yang punya kulit sensitif bisa nyobain~


Review Keep Cool Soothe Bamboo Toner




Selain serum, keluaran terbaru dari keep cool adalah toner. Saya mau sharing review soothe bamboo toner ala saya nih. Seneng banget bisa nyobain toner kulit dengan bahan alami yang diproduksi oleh Korea.

Toner dari keep cool ini komposisinya 85% air. Makanya bentuknya kayak air. Cara pemakaiannya dituang ke kapas trus usapkan ke wajah perlahan. Entah kenapa saya nggak nampol pakai toner ini, karena merasa kapas saya nggak berasa kotor setelah diusap. Tapi efek dari toner ini di kulit saya adalah lebih menenangkan.

Jadi, meskipun tidak maksimal mengangkat kotoran bekas bedak di wajah, tapi kulit saya lebih lembab dan enak. Isinya 160 ml ya, sist! Jadi insya Allah bisa buat beberapa bulan :D



How to buy?

Yuk Ke Korea! :*

Produk ini asli Korea. Sepaketnya sekitar 600 ribuan. Kalau yang mau nyobain, nggak harus dateng ke Korea, sih. Produknya bisa dibeli di shopee https://shopee.co.id/SOOTHE-BAMBOO-TONER-160ml-BAMBOO-SERUM-50ml-i.141918777.2282918688


Read More »