Featured Slider

Bersiap Menghadapi New Normal


Covid-19 membuat saya membuat rencana baru. Bulan Maret lalu, ketika pemerintah mengumumkan ada yang positif covid dan akhirnya diberlakukan work from home, saya sudah berjaga dan bersiap untuk beradaptasi dengan keadaan baru. Istilah bekennya adalah new normal. 

Selama 2 bulan work from home, saya patuh buat di rumah saja karena takut tertular dan menularkan virus yang belum ada vaksinnya tersebut. Hello, yang dihadapi itu makhluk yang nggak nampak dan kalau kena belum ada obatnya, lho. Apalagi saya punya orangtua dan batita yang rentan tertular. Makanya, sebosan apapun di rumah, saya membuat zona nyaman sendiri.

Ketika lebaran, saya juga masih tetap di rumah. Tidak ada ritual kunjungan ke saudara-saudara seperti tahun sebelumnya. Saya juga menahan diri untuk tidak menengok kerabat yang sakit dan sahabat karib saya yang sedang melahirkan pun hanya mengabarkan lawat video saja, huhu. Saya benar-benar berdamai. Seriuh apapun kondisi di jalanan, saya tidak latah untuk ikut-ikutan.

New Normal begins....

Menyimak berita kalau mall-mall sudah mulai dibuka, sempat membuat saya tertegun. Kondisi new normal saya sudah dimulai dari bulan Maret lalu, jadi saat ini saya sudah terbiasa dengan protokol kesehatan yang didengungkan pemerintah. Sedih banget deh kalau new normal dipahami sebagai back to normal, huhu. Jalanan sudah ramai, pasar juga desak-desakan (katanya), trus bepergian pada enteng banget tanpa masker. Punya nyawa serep, heh? *emosi*.

Semalam saya habis nonton mini seri Ika Natassa yang disutradarai Reza Rahardian. Saya bisa nangis sesenggukan, lho. Bagaimana para tenaga kesehatan perang badar setiap hari. Rela nggak ketemu sanak family dan menahan makan minum demi menghemat APD *nangis beneran, huhu. Dan kita juga harus berjuang juga sesuai porsi kita; stay at home. Kalaupun harus keluar rumah, jangan merasa kayak power ranger atau superhero lainnya yang kebal dengan virus. Covid ini belum ada antivirusnyaaaaaa.

Trus, apa aja sih yang harus dilakukan untuk bersiap new normal. Yang mulai masuk kerja, bisa lebih aware terhadap diri mereka sendiri agar tidak tertular maupun menjadi carrier tanpa mereka sadari. Again, kondisi ini bukan berarti kembali ke rutinitas biasa seperti sebelumnya, lho ya. Nah, beberapa tips berikut sepertinya klise banget karena sering diimbau oleh televisi, tapi saya tuliskan kembali sekaligus pengingat diri.

1. Social & physical distancing

Bahasa sederhananya adalah tidak berkumpul di keramaian. Tidak mendebat kenapa nggak boleh ke masjid tapi mall-mall malah dibuka. Kenapa ga boleh ngaji, tapi mereka malah keluyuran. Kalau saya pribadi sih fokus pada apa yang bisa saya lakukan. Kalau memang dengan berdiam di rumah merupakan solusi untuk mengurangi dan mencegah penyebaran covid, kenapa tidak? Apalagi yang masih punya pilihan untuk itu. Karena masih banyak orang lain yang tidak bisa memilih, lho.

Saya juga menjaga Bapak, Ibu serta keluarga saya untuk tidak melakukan aktifitas di keramaian. Jamaah salat di rumah, melakukan video call kalau memang benar-benar kangen sama kakak saya, dan hal-hal sederhana lainnya. 

2. Jaga Imunitas

Bapak saya penderita diabetes, sedangkan ibu saya pemulihan stroke yang dideritanya sejak 6 tahun lalu. Setiap bulan harus cek up ke rumah sakit. Akhir tahun lalu, Bapak keluar masuk rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang drop. Pas pandemi ini saya nggak bosan untuk mengingatkan mereka berdua menjaga asupan makan.

Banyak sayur dan buah serta air minum yang cukup. Setiap pagi kami berjemur sambil mengobrol agar kegiatan tersebut tidak membosankan. Intinya, rutinitas apapun yang dilakukan di rumah, kami lakukan senyaman mungkin. Jadi nggak hanya raganya, tapi jiwanya pun juga terjaga.

3. Hobby cuci tangan

Sebenarnya tanpa ada pandemi ini, kami sekeluarga tertib mencuci tangan. Tapi hal tersebut kami lakukan hanya ketika akan melakukan sesuatu: misalnya berwudhu atau mau makan. Kali ini saya bilang sama anak-anak dan bapak ibu untuk sering rajin mencuci tangan dengan sabun. Apalagi yang tangannya suka refleks memegang area wajah dan mata, huhu. 

3. Wajib pakai masker

Hal inipun saya sudah melakukannya sejak dulu. Kalau bepergian memakai masker saat bepergian. Tapi masalahnya, anak-anak dan anggota keluarga lain masih belum terbiasa. Dengan memakai masker, kita bisa meminimalisir penularan virus covid. 

4. Olahraga

Stay at home membuat kita mager males ngapa-ngapin, ahaha. Agar fisik kita lebih fit, sebaiknya kita melakukan olahraga ringan di rumah. Saya biasanya badminton di depan rumah, atau jogging sama Ray di depan TV. 

5. Tes secara berkala

Waktu mengantar Bapak dan Ibu cek up ke Rumah Sakit, saya ketemu beberapa orang yang sedang mengantri untuk melakukan rapid tes. Buat teman-teman juga bisa melakukan rapid test terdekat dari rumah. Apalagi untuk mereka yang aktif bekerja di lapangan atau out door. Kemarin kakak saya sudah mulai masuk kantor, dan setiap beberapa hari sekali dilakukan rapid tes.

Untuk konsultasi kesehatan, kalau memang tidak mendesak seperti harus cek up Bapak Ibu, saya lebih memilih melakukannya secara online. Kayak kemarin Ray bruntusan di bagian pantat dan tidak sembuh-sembuh, saya worry sekali buat ke dokter, makanya saya konsul dokter via Halodoc. Layanan kesehatan terpercaya andalan keluarga saya. Waktu gigi saya bengkak pas pertengahan ramadan lalu, saya juga konsultasinya via online di Halodoc. Dokternya meresepkan obat yang saya butuhkan dan voillaaa gigi saya tidak nyeri lagi. Meskipun secara online, tapi kerahasiaan kita tetap terjaga lho.

Nah, itu tips saya untuk bersiap di masa new normal ini. Beberapa kali masuk kantor, saya mawas diri untuk strick menerapkannya agar tetap sehat dan terhindar dari virus covid-19. Buat teman-teman, jaga kesehatan dan kebersihan ya :)



Read More »

Puisi untuk diri sendiri


Rasanya, tidak ada yang bisa menengok masa depan. Meramal apa dan dengan siapa akan melepas tawa.  Tapi setidaknya, saat ini kamu bisa menilik kembali, bahwa yang lalu menjadikanmu lebih tabah berdiri kini.

Untukmu yang tetap tangguh, terimakasih. Kamu mampu belajar dalam sunyi. Merengkuh damai dalam ramai. Sebenci apapun kamu menerimanya, kamu tetap melaluinya dengan sepenuh hati. Iya, kamu yang berdiri tegak di cermin, terimakasih sekali lagi.

***

Sudah berterima kasih pada diri sendiri hari ini? Hebat ya yang mampu beradaptasi di tengah pandemi. Kalo mau ngeluh boleh , banget. Nangis juga ga apa-apa biar lega. Saya sudah tak terhingga melakukannya, ahaha. 

Abaikan orang-orang yang menyuruhmu berhenti mengeluh. Menghambat air matamu untuk menetes. Karena yang tahu pasti tentang hatimu adalah dirimu. 

Peluk! :) 
Read More »

Morning Booster


Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru....

Uwuw sekali puisinya sampai membekas di benakku kalau kunci memenangkan hari adalah menemukan morning booster dulu :D. Buat ibu-ibu pasti merasakan banget deh kalau "semangat pagi"adalah sebuah kemewahan. Shubuh sudah masak, mandiin anak, nyiapin makan, atau nyiapin mereka sekolah. Setelah semua beres baru bisa napas, ahahah.

Kenapa harus buru-buru? Pertanyaanku. 

Dulu, saat di Jakarta, waktu terasa cepat sekali. Berangkat pagi sekali, pulang pun menjelang magrib. Dan itu tidak apa-apa. Tapi menghadapi situasi begitu, akhirnya aku ada di satu titik yang "masa iya hidup habis di jalan?". So, next i decided to move. 

Pindah ke Klaten hidupku rasanya woles banget. Menikmati pagi tidak rusuh dengan kejar-kejaran kereta, memikirkan deadline jawaban email buat klien, atau khawatir banjir saat musim hujan. Dulu pernah dengan situasi itu. Jatuh cinta banget pokoknya sama Jakarta padahal tiap pagi selalu rungsing. Meskipun begitu, suami selalu menyimak tiap saya punya keinginan buat kembali kesana. Tidak pernah menghakimi sedikitpun. Itu dulu. Saat ini aku baik-baik saja. Meletakkan Jakarta di memori sebagai tempat berkunjung, bukan berdiam dengan keluarga.

Baca juga: Kangen Jakarta

Seperti pagi ini, saya menemukan morning booster untuk mengawali pagi. Setelah semalam menemani Ray begadang lagi dan lagi. Ritme tidurnya yang berubah dengan energi yang menerutku seperti nggak habis-habis, menuntutku untuk mengubah jadwal dari biasanya. 

Booster pagiku hari ini ngapain? Ngobrol sama suami, membuatkannya teh, menyusui Ray dan kali ini berhasil menyinkronkan semua data akun dengan pasword yang sama *prestasi!, ahaha. Asli, aku senang sekali. 


Read More »

Sinergi Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkualitas


Water is life, and clean water means health” — Audrey Hepburn

Beberapa waktu lalu, sebelum corona, saya amazing memerhatikan kakak ipar saya yang kehabisan air di rumahnya, sehingga harus mengisi air ke dalam galon saat di rumah Ibu mertua. Fyi, meskipun rumah kami sama-sama di Klaten, tapi ternyata kondisi cuaca dan ketersediannya berbeda, lho. Kakak Ipar tinggal di Surowono, Ibu mertua di Kemalang dan saya tinggal bersama orangtua di daerah Wedi. 

Rumah orangtua saya yang berada di Wedi, cuacanya ekstrim banget menurut suami. Kalau pagi masih dingin, beranjak siang panas menyengat. Meskipun sudah pakai kipas angin, tetap saja panas. Efeknya, beliau sering meriang karena menurutnya, cuacanya nggak enak. Kalau bagi saya yang sehari-hari mengalaminya, keadaan tersebut sudah menjadi hal yang biasa dan tidak memiliki efek di tubuh.

Cuaca di Kemalang memang lembab dan cenderung dingin. Nah, kalau sedang main ke rumahnya kakak ipar, bakalan lebih dingin lagi. Terbukti kedua anaknya yang lebih sering mengenakan jaket dan kaos panjang agar lebih hangat. Sampai sekarang pun tiap mandi selalu memakai air hangat.

Saya dulu berasumsi kalau kondisi ini dipengaruhi oleh letak geografisnya. Semakin dekat dengan Gunung Merapi, maka kondisinya memang lebih dingin meskipun sama-sama di area Klaten. Tapi setahun terakhir, saya menyimpulkan kalau perubahan iklim juga mempengaruhi cuaca, bahkan ketersediaan air di beberapa daerah.


Perubahan Iklim dan Ketersediaan Air Bersih

Source: pixabay

Saya sepakat sekali dengan pepatah Hepburn yang menganalogikan air sebagai kehidupan dan kualitas air bersih merupakan pemenuhan kesehatan. Saya bersyukur bahwa kuantitas dan kualitas air di daerah saya masih melimpah dan mencukupi. Namun, saya turut prihatin ternyata di dekat daerah saya ada yang mengalami kelangkaan air bersih. Tahun lalu tercatat jika 880 hektar sawah di Klaten gagal panen akibat kekeringan, huhu (Source: metrotvnews.com). Ditambah lagi, kakak ipar yang kebingungan karena di daerahnya juga mengalami kelangkaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Akhirnya, beliau dan keluarga harus mengungsi ke rumah mertua.

Teman-teman merasakan nggak sih kalau sebenarnya ada perubahan iklim yang saaaaangat mencolok. Saat musim penghujan terjadi banjir dimana-mana, eh ketika musim kemarau, di beberapa daerah dilanda kekeringan. Karena menyadari air merupakan hal yang vital dalam kehidupan sehari-hari, sudah seharusnya kita menghematnya. Setidaknya ada 3 benefit, saat kita ikut andil dalam menghemat air:

💓 Menghindari kekeringan

Adanya perubahan iklim berakibat pada musim kemarau yang lebih panjang. Nah, ketika kita menggunakan air secara bijaksana, hal tersebut dapat menekan dampak kekeringan karena kita memiliki stok cadangan air yang digunakan sehari-hari. Bahasa sederhananya, saat kita berhemat, maka air yang kita miliki dapat digunakan untuk beberapa kegiatan lainnya. Sehingga saat musim kemarau pun, stok air masih mecukupi.

💓 Ikut menjaga ketersediaan pangan

Yang butuh air bukan hanya kita, tapi hewan dan tumbuhan pun juga. Adanya kualitas air yang bersih yang cukup, ekosistem hewan dan tumbuhan yang notabene sebagai sumber pangan manusia akan tetap terjaga. Nah, untuk menyediakan bahan pangan pun juga butuh air dalam proses pengolahannya, sehingga kalau airnya berkurang, maka akan mempengaruhi jumlah ketersediaan pangan juga, kan?

💓 Menjaga lingkungan

Yang terakhir adalah ikut andil dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Terdengar klise, tapi ketika energi yang digunakan untuk memroses atau mengalirkan air ke rumah-rumah, atau pusat-pusat industri, hal tersebut dapat mengurangi polusi, lho!

Antisipasi Ancaman Bencana Kekeringan

Jumat lalu (22 Mei 2020), saya mendengarkan streaming Kantor Berita Radio Indonesia yang bertajuk “Antisipasi Ancaman Bencana Kekeringan”. Topik yang sangat menarik karena selama satu jam saya menyimak 2 narasumber mengupas beberapa pilihan yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi kelangkaan air yang menjadi PR beberapa daerah di Indonesia.

Muhammad Reza narasumber dari Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KruHA) mengemukakan tentang pentingnya peran pemerintah dalam melakukan pencegahan kelangkaan air. Beliau juga menuturkan bahwa pemenuhan air merupakan hak asasi manusia sehingga pengelolaannya pun harus dilakukan oleh negara. Dalam hal ini saya sepakat dengan pendapat beliau kalau pengelolaan air harusnya dikuasai oleh negara, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (2) UUD 1945.

Yang nggak kalah seru adalah cerita Cak Purwanto, pendiri Yayasan Air Kita Jombang, Jawa Timur. Beliau terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan sosialisasi tentang pentingnya menghemat air. Selain itu, beliau juga aktif dalam kegiatan pendidikan non formal yang di dalamnya juga menyerukan tentang pemanfaatan air. Dalam hal ini beliau memberikan penyuluhan bagaimana memanfaatkan air hujan untuk dapat diolah lagi sehingga dapat difungsikan sebagai air minum.

Teman-teman juga bisa menyimak video lengkapnya di bawah ini ya:



Sinergi Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkualitas

Tahun 2018, saya masih ingat sekali dosen pembimbing saya senyum-senyum mengatakan kalau tesis saya sangat kontradiktif, ahaha. Di satu sisi saya mengkaji regulasi tentang perizinan yang ramah investasi, di sisi lain juga pengen menyeimbangkan dengan pelestarian lingkungannya. Dalam tulisan saya tersebut ada regulasi tentang perizinan pengelolaan sumber daya air juga yang pelaksanaannya mengganggu lingkungan atau tidak.

Menurut saya ada 3 hal yang seyogyanya dilakukan secara sinergi dalam pengelolaan air yang berkualitas, sehingga masyarakat tidak lagi menghadapi kelangkaan air. Menyambung pernyataan Cak Purwono, kalau permasalahan masalah air tidak hanya kuantitasnya saja yang langka melainkan kualitasnya juga. Makanya diperlukan solusi yang dilaksanakan secara sinergi untuk mengatasinya.

💘 Regulasi yang jelas

Diperlukan regulasi yang jelas terkait dengan pengelolaan air. Dalam hal ini, karena air merupakan kebutuhan vital masyarakat, maka seharusnya pengelolaannya dilakukan oleh negara, bukan swasta. Terkait dengan regulasi ini, masyarakat pernah menggugat UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air ke Mahkamah Konstitusi. 

Di tahun 2015 akhirnya Mahkamah Konstitusi membatalkan secara menyeluruh Undang-Undang tersebut dan membatasi partisipasi swasta di sektor pengelolaan air. Nah, dengan regulasi hukum yang jelas diharapkan dapat menjadi payung hukum untuk mewujudkan pegelolaan sumber daya air yang berkualitas untuk masyarakat.

💘 Ketegasan Aparatur Hukum dan Pemerintah

Saya tidak kaget ketika Mas Reza dalam wawancaranya di KBR menceritakan kalau di Pegunungan Kendeng ketika musim kemarau ada penampungan air alami yang digunakan untuk pengairan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Namun ironisnya digunakan sebagai objek tambang. Hal tersebut dilegitimasi oleh perizinan yang dimiliki oleh pemillik tambang, huhu.

Selain ada regulasi yang jelas, sikap aparat hukum dan pemerintah harus tegas menindak hal tersebut. Karena hal tersebut dapat mengakibatkan kelangkaan air dan merusak kualitas air sehingga dapat merugikan masyarakat.

💘 Kultur Masyarakat

Di poin tiga ini, kita ikut berperan besar dalam penggunaan air secara bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini harus dilakukan secara continue agar menjadi kebiasaan. Apa saja sih aktifitas sederhana yang bisa kita lakukan? Yuk simak sama-sama!

Menutup dan mematikan keran saat melakukan aktifitas lain
Hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah menutup keran dengan rapat dan tida menetes. Kalau habis wudhu seringkali saya memastikannya karena biasanya Ray kurang rapat memutar kerannya. Lalu, jika masih beraktifitas lain seperti: cuci piring, menggosok tangan dengan sabun, kerannya dimatikan saja. Apalagi saat ini musim pandemi kita dianjurkan untuk giat mencuci tangan. Agar tidak boros air, saat posisi menggosok sela-sela tangan dengan sabun, kerannya dimatikan.

Memilih deterjen yang ramah lingkungan
Apa ada? Tentu! Silakan teman-teman searching sendiri jenisnya. Jadi, deterjen yang saya pakai tidak banyak busa tapi tetap bersih saat dikucek atau digiling dalam mesin cuci. Saat tidak banyak busa yang dihasilkan, saya tidak effort untuk membilasnya juga, hehe.

Periksa pipa air secara berkala
Tugas suami saya tiap bulan buat memeriksa pipa air. Jadi, ketika ada kebocoran pipa air, kita bisa segera menggantinya. Selain tidak boros air karena kebocoran tersebut kita juga bisa menghemat listrik juga.

Manfaatkan air hujan
Seperti yang disampaikan Cak Purwanto dalam sesi sharing-nya di KBR kalau tampungan air hujan dapat dimanfaatkan untuk air minum. Nah, hal inilah yang seharusnya disosialisasikan di daerah-daerah. Di keluarga saya, air hujan kami tampung dan digunakan untuk konsumsi ternak. Setelah beberapa hari digunakan untuk menyiram tanaman juga.

Menyisipkan nilai-nilai untuk menghemat air pada anak-anak
Menghemat air diajarkan sedini mungkin pada anak-anak sehingga menjadi kebiasaan. Selain itu, nilai-nilainya juga disisipkan dalam pendidikan formal maupun non formal sehingga nilai tersebut mendarah daging. Selama ini saya memberikan contoh bagaimana menggunakan air dengan bijak ketika berwudhu, mandi dan mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka paham kalau keran harus diputar rapat agar tidak menetes. 

Dengan adanya regulasi hukum yang jelas dan ketegasan pemerintah dalam menindak para oknum yang melakukan penyelewangan terhadap pengelolaan air serta peran aktif kita sebagai masyarakat dalam menggunakan air secara bijak, diharapkan dapat mencegah adanya kelangkaan air. Ketiga hal tersebut harus dilakukan secara sinergi! 

Krisis air bukan hanya tentang kuantitas air tetapi juga kualitasnya. Perlu sinergi antar semua elemen, baik pemerintah, komunitas, instansi dan masyarakat. Yuk kita ikut ambil bagian dalam sinergi tersebut dengan bijak menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari. 

Saya sudah berbagi pengalaman soal climate change. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Climate Change" yang diselenggaraakan KBR (Kantor Berita Radio) 
dan Ibu-Ibu Doyan Nulis". Syaratnya, bisa Anda lihat disini.



Sumber referensi:

UUD 1945

Streaming KBR di https://www.youtube.com/watch?v=OWzV1_O0AXE

Streaming berita di https://www.metrotvnews.com/play/kWDC9Xpr-880-hektare-sawah-di-klaten-gagal-panen-akibat-kekeringan

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5d8342480f9ac/perizinan-pengelolaan-air-harus-perhatikan-6-prinsip-ini/

Read More »

Tip Mengatasi Kulit Kering dan Kusam Saat Masa Kehamilan


Hamil pertama Ray merupakan surprise bagi perkawinan saya dan suami yang saat itu sudah satu atap dan tidak Long Distance Mariage (LDM) lagi. Sebelumnya kami memang terpisah jarak, Jakarta-Klaten. Setiap 1 atau 2 Minggu sekali, salah satu diantara kami yang memiliki waktu senggang, langsung beli tiket kereta untuk bertemu.

7 bulan menikah, saya hamil. Kami termasuk yang santai banget soal momongan. Kalau dikasih cepat, alhamdulillah, misal harus menunggu pun tidak apa-apa. Jadi pertanyaan “sudah isi belum?” tidak membuat kami baper.

Rentang 7 bulan itu, saya ikut beberapa event yang membahas tentang pregnancy dengan harapan bisa memiliki bekal ilmu saat kehamilan nanti. Realitanya, masih banyak hal yang ternyata belum saya tahu. Menjadi ibu membuat saya belajar banyak hal-hal baru. Beberapa masalah yang saya temui, memaksa saya harus mencari tahu. Salah satunya tentang masalah kulit saat hamil Ray.

Selama hamil, kulit saya sangat kering dan kusam. Setelah membaca beberapa referensi, ternayata ada beberapa penyebab kulit kusam saat hamil

1. Chloasma

Sejak merasa kulit saya kering dan kusam, saya langsung browsing penyebab dan cara mengatasinya. Waktu itu pengetahuan saya memang terbatas mengenai skincare yang aman untuk ibu hamil. Rasanya paranoid saja, takut kenapa-kenapa.

Nah, saat hamil, selain bentuk fisik yang berubah, kadar hormon estrogen dan progesteron juga mengalami perubahan. Sehingga hal tersebut memengaruhi kulit selama masa kehamilan. Jadi, memang wajar kalau kulit terlihat kusam dan di beberapa titik timbul flek hitam.

Flek hitam tersebut biasanya muncul tidak teratur di bagian wajah. Kalau saya di pipi bagian kanan, dahi dan hidung. Kalau istilah kedokteran, kondisi ini dinamakan chloasma atau melasma. 

Hmm, saya baru paham kalau saat hamil, pigmen melanin yang merupakan pigmen berwarna gelap, akan lebih banyak dihasilkan ketika kulit terpapar siar matahari. Benar saja, saat itu saya masih bolak balik Klaten Solo untuk menyelesaikan tesis.

2. Mual dan muntah

Siapa yang mengalami mual dan muntah saat hamil? Saya sempat merasakannya. Bahkan sampai trimester kedua, saya masih mengalami rasa mual dan muntah. Kok bisa pengaruh sama kulit sih? Ternyata kalau intensitas muntahnya lebih sering dan tidak diimbangi dengan asupan nutrisi yang masuk, tidak hanya si ibu yang rentan untuk dehidrasi, kulit pun juga! Huhu.

Saya juga lumayan kepayahan waktu itu, karena tiap apa yang saya makan, rasanya perut mual dan akhirnya muntah. Saya concern menjaga asupan makan dan minum, tapi ternyata intensitas muntahnya sering. Dan saya baru paham kalau hal tersebut menjadi faktor kulit menjadi lebih kering dan kusam.

Buat yang lagi ngidam, merasa mual dan muntah, jaga asupan nutrisinya ya! Untuk janin, kekuatan ibu dan tentunya demi kulit lebih glowing.

3. Skincare

Honestly, saya takut memakai skincare saat hamil. Ada beberapa skincare yang memang aman dipakai untuk ibu hamil dan menyusui, tetapi lagi-lagi saya tidak percaya diri untuk memakainya. Jadi, sebenarnya memakai skincare saat hamil sangat membantu mencegah dan mengatasi kulit kusam dan kering. Dalam kasus saya, karena saya sempat skip memakai skincare, mungkin menyebabkan kulit saya lebih kering dan kusam.  

Jadi, misal teman-teman sedang hamil, silakan tetap untuk memakai skincare agar kulit tetap lembap. Tetapi pastikan dulu produk-produk yang dipakai aman atau tidak ya untuk janin. 

Dari beberapa permasalahan tersebut, ada beberapa tip yang saya terapkan untuk mengatasi kulit kusam saat hamil Ray. Nah, teman-teman juga bisa nyobain juga tipsnya agar hamil nyaman glowing luar dalam

1. Tidur berkualitas

Siapa yang merasa tidurnya kurang berkualitas saat hamil? Saya! Trimester pertama saya mengalami insomnia. Tidurnya kebalik. Malam nggak bisa tidur sampai shubuh, siangnya ngantuk berat dan pusing, huhu. Setelah konsultasi ke dokter, saya dianjurkan untuk beraktifitas yang mengundang kantuk saat malam hari, seperti membaca dan mengurangi  penggunaan gadget

Kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan kantung mata dan merusak kolagen—zat protein yang membuat kulit kenyal dan halus. Dalam keseharian sebaiknya memang kita dianjurkan untuk memiliki waktu tidur yang berkualitas, apalagi ketika masa kehamilan.

2. Minum air putih yang cukup

Poin 2 ini juga effort sekali buat saya. Kalau untuk orang biasa, anjuran minum adalah sebanyak 8 gelas atau setara 2 liter setiap hari. Untuk Ibu hamil tambah 2 gelas, menjadi 10 gelas atau setara dengan 2.5 liter per harinya.  

Untuk memenuhi asupan air yang cukup ini, konsekuensinya saya harus sering BAK ke kamar mandi. Dalam kondisi mual dan muntah, kondisi seperti ini membuat capek banget, huhu. Kayak baru aja ke kamar mandi kok ke kamar mandi lagi, sih, ahaha. Meskipun begitu, teman-teman yang sedang hamil jangan sampai kekurangan asupan air putihnya ya. Agar tidak dehidrasi dan kulitnya tidak kusam :*.

3. Perbanyak sayur dan buah

Wuhuuuuu, yang tidak kalah penting selain asupan air adalah sayur dan buah. Kalau tidak mengalami mual dan muntah, mungkin hal ini tidak masalah. Tapi berbeda halnya buat yang ngidam, mual dan muntah. Butuh trik biar nafsu makan tetap terjaga. Apalagi kalau pengen makan yang serba pedas atau asin biar mulut ga terasa pahit setelah muntah.

Kalau saya memilih buah yang banyak airnya dan segar di mulut. Jeruk, pepaya dan strawberry. Untuk sayu alhamdulillah saya tidak terlalu pemilih. Apa yang dimasak Ibu, saya selalu lahap makan. Menurut penelitian, sayur dan buah dapat membantu memelihara kulit agar lebih segar dan sehat.

4. Memakai pakaian yang tertutup ketika keluar

Karena di saat kehamilan pigmen melanin meningkta, jadi sebaiknya kalau keluar rumah memakai pakaian yang menutup kulit. Bagian muka bisa memakai masker. Hal itu bisa mengurangi dan mencegah kulit kita terpapar sinar matahari.

5. Memakai pelembab dan tabir surya

Poin terakhir adalah tentang skincare yang aman buat ibu hamil. Sehingga pas hamil bisa tetap glowing luar dalam. Apalagi pemakaian sunscreen, ya. Ternyata setiap hari dianjurkan untuk memakainya. Tidak harus keluar rumah, pas di dalam rumah pun juga disarankan untuk memakainya. 

Salah satu skincare andalan saya yang aman untuk ibu hamil dan menyusui adalah mama’s choice daily protection face moisturizer.


Review Mama’s Choice Daily Protection Face Moisturizer.

Produk ini merupakan salah satu produk Mama’s Choice yang aman dan bebas toksin, sehingga aman digunakan untuk ibu hamil dan menyusui. Nah, yang sedang mencari sunscreen yang melembabkan di kulit, daily protection face moisturizer ini bisa menjadi #PilihanAmanMama.

Formula daily protection face moisturizer spesial di-launching untuk Ibu hamil dan menyusui, di bawah ini keunggulannya:

Dermatologically tested 
Bebas paraben dan retinol
Tidak mengandung chemical sunscreen—yang berbahaya untuk kulit sensitif
Non comedogenic, non fragrance, non alcohol
No Hydroquinone
Paraben free & retinol free

Meskipun klaimnya difokuskan untuk ibu hamil dan menyusui. Tapi produk ini bisa menjadi rekomendasi untuk segala jenis kulit, baik kering, kombinasi maupun kulit kombinasi, lho. Saat ini saya masih menyusui Ray, makanya pas nyobain produk ini dan cocok di kulit wajah, rasanya senang sekali. 

Setelah saya baca dengan seksama dalam daily protection face moisturizer adalah natural rice extract yang fungsinya melembabkan dan menghidrasi kulit agar tampak lebih kenyal dan glowing. Selain itu ada mineral sunscreen dengan SPF 25 PA++ untuk memproteksi kulit dari paparan sinar matahari. Terdapat hyaluronic acid-nya juga yang berfungsi untuk mencegah penuaan dini.

Meskipun saat ini kita sedang physical distancing dan membatasi libur kerja maupun jalan-jalannya. Tapi saya tetap menjaga kesehatan kulit agar tetap cerah di rumah aja. Salah satunya dengan tetap menggunakan pelembap dan juga sunscreen dengan daily protection face moisturizer.

Buat teman-teman yang mau nyobain produk ini ataupun produk  Mama’s Choice yang lain, bisa langsung order di Shopee ya (https://mamaschoice.id/shop/). Untuk mendapatkan potongan saat belanja disana, teman-teman bisa memakai kode “MAMANURSL” saat pemesannya. Lumayan banget lho, dapat potongan 25 ribu dengan pembelanjaan minimal 150 ribu.

Bye-bye kulit kering dan kusam! Biar #MamaGlowingLuarDalam bisa nyobain #SkincareRamahBumilBusui dan pastikan #PilihanAmanMama ya :)

Read More »