Featured Slider

Menyapih Ray

Sebenarnya saya sudah diminta Ibu untuk menyapih Ray, tapi entah kenapa kok gagal melulu. Tepatnya, saya belum seniat itu buat menyapihnya. Bahkan pengennya, Ray ga mau sendiri buat nen.

Saya mengenal weaning with love dan berusaha melakukannya juga. Tapi apapun cara Ibu menyapih anaknya, pastilah dengan cinta. Meskipun dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin bedanya pada dramanya. Ada yang no drama, ada juga yang sampai berurai air mata. Yang nangis bukan cuma anaknya, tapi si Ibu juga, huhuhu.

Proses Menyapih Ray

Sounding...

Ga melulu sounding buat menyapih bisa bikin smooth proses penyapihan itu sendiri. Justru buat saya malah bikin Ray makin kenceng nen-nya. Sejak usia 18 bulan, saya sudah menyisipkan cerita soal menyapih ini sama Ray di sela-sela obrolan kami.

"Waaah, Ray sudah besar. Sebentar lagi gak nen Ibu ya. Bisa minum pakai gelas sendiri", nggak sekali, dua kali kalimat-kalimat yang nyrempet soal menyapih saya selipkan. Awalnya Ray belum merespon, tapi lama-lama pas dia mengetahui arti menyapih itu adalah stop nen Ibu, dia makin kenceng nen-nya. Bahkan sempat terlontar "Nggak mau, aku nen Ibu aja" atau "Nen Ibu aja ya, ya, ya?" ahahaha. Respon-respon seperti itulah yang membuat proses menyapih baru berhasil di usia Ray 27 bulan.

Sounding and acting...

Hayo, siapa yang sudah menaikkan levelnya di tingkat akting? Mengoles puting dengan warna, menempelnya dengan hansaplas atau hal-hal lainnya yang membuat anak nggak mau menyusui lagi. Selama hal itu tidak menyakiti Ray dan membohonginya, saya akan melakukannya.

Jadi, Ibu pernah menyarankan untuk mengoleskan brutowali yang pahitnya ampun ke puting. Biar pas Ray menyusui, dia menyadari kalau susunya gak enak. Opsi ini saya dengarkan saja, tidak saya lakukan tapi saya juga tidak mendebat Ibu. Prinsipnya, saya fokus pada apa yang saya lakukan pada Ray, dan tidak mau mengomentari cara orangtua lain. Ibu saya tertarik karena mendengar cerita tetangga yang berhasil menyapih anaknya dengan cara itu.

Yang saya lakukan masih sekadar menempel hansaplas di puting. Posisinya Ray bermain peran dokter dan saya pasiennya. Nah, pas pertengahan dia asyik mainan dan pengen menyusu, saya mulai akting dong.

"Duh Dok, ini nen-nya sakit, ga minum nen aja ya. Ganti air putih, es teh atau jus gitu, Dok", Ray agak lama mencernanya karena kaget kenapa nen Ibunya ditempel. Dia langsung mendekat dan memandang saya beberapa waktu. Saya pun menunggu reaksinya.

Dia mengusap-usap. Membuka plester pelan-pelan lalu meniup-niup puting seperti yang saya lakukan ketika dia jatuh dan luka. Dan dengan jenaka dia bilang "Daaaah sembuh!", trus nen dong tanpa meminta menunggu aba-aba.

Saya agak amazing aja kalau dia akan melakukan itu. Saya masih meneruskan aktingnya. Aduh Dok, kan nen-nya sakit, kok di-nen, huhu. Sambil nangis bombay.

"Udah diusap sama aku tiup, Bu. Sembuh!", Dia melepas nen dan membalas saya, ahahaha.

Tiap dia jatuh, terluka dan menangis. Dia merasa frustasi dan menyalahkan lantai atau benda apapun yang ada di dekatnya. Beberapa kali saya bilang kalau Ray kurang hati-hati, lantai dan sepedanya nggak ngapa-ngapain. Untuk memvalidasi emosinya saya mengusap-usap punggungnya, meniup-niup lukanya dan hal itu cukup menenangkannya. Ternyata dia copy paste buat menjawab akting saya, ahahaha.

Di waktu lain, saya menggantinya dengan memberi warna puting menjadi merah. Saya bilang kalau putingnya kok merah-merah "kayak" darah ya, huhuhu. Entah kenapa Ray hanya mengusapnya trus langsung nen.

Rutinitas sounding masih sering saya lakukan. Tapi yaaaa gitu, makin kenceng sounding, Ray makin kenceng nen-nya.

Kerelaan Ibu...

Sebenarnya yang tidak bisa disapih itu anaknya atau mungkin Ibunya yang belum rela? Saya hanya terdiam mendapat pertanyaan itu. Apa iya saya yang memang belum legowo menyapihnya, sehingga Ray pun juga berat untuk melepas.

2 tahun bonding time kami adalah ketika Ray menyusu. Tangannya bisa mengusap wajah saya. Memainkan hidung saya. Mengacak rambut saya. Dan yang paling mengena adalah saat kami ngobrol sambil bertatapan mata, lalu tiba-tiba dia tertawa saat menganggap obrolan saya lucu. Yakin rela melepas momen-momen emas itu? *ngetik ini saya terharu.

Yang paling tidak bisa dipungkiri adalah ketika dia demam, diare atau sakit yang membuat nafsu makannya drop, asi adalah andalan utama kami. Demam tidak lebih dari 2 hari, gempur asi, esoknya sudah mereda. Pas diare, merasa lemas, Ray punya andalan asi agar tidak dehidrasi. Bahkan pernah jumawa bilang "Ibu, aku ga suka makan. Nen aja ya, ya, ya?" *auto cium*.

Jadi, memang benar sih, untuk bisa sukses menyapih, kerelaan Ibu adalah kunci. Menyusui bukan hanya zona nyaman anak, tapi juga hal ternyaman Ibu untuk lebih dekat dengan anaknya.

Ray dan Ibu pasti bisa...

Siang setelah pulang dari dokter dan mendapatkan insight dari beberapa teman untuk menyapih Ray, saya memutuskan untuk menyapihnya di hari itu. Saya punya alasan kuat buat menyapih dan nggak bisa ditunda lagi. Belum mulai tahapnya, di mobil Ray merengek minta nen ya Allaaaaah, ahahah. Papinya mengalihkan perhatiannya dengan palang kereta, traktor, truk dan beberapa hal lain yang kami temui di jalan.

Saya juga sounding kalau Ray tidak nen lagi. Nanti Ibu buatkan susu, jus atau belikan susu kotak buat rekreasionalnya. Sampai rumah masih aman. Drama dimulai saat mau bobo, huhu. Nangis-nangis minta nen, tapi Ray tahu kalau kali ini saya nggak bakalan ngasih. Untuk mempermudah, saya tegas menolak dari awal. Kedua tangannya ditelungkupkan ke wajah dan menangis. Repeat aja begitu terus. Kalau ingat nen dan saya nggak ngasih, Ray nangis.

Saya membiarkannya beberapa waktu agar Ray lebih tenang, lalu menawarkan pelukan, gendongan atau minuman lainnya. Temen saya udah bilang sih kalau 2-3 malam bakalan nggak nyaman buat adaptasi, jadi saya dan suami udah siap kuda-kuda biar nggak konslet kesetrum Ray tantrum. Saya selalu ingat kalau kali ini Ray juga sedang beradaptasi dengan kondisi baru. Zona nyamannya sudah tidak bisa dilakukan lagi, tapi saya selalu menyampaikan kalau saya masih memeluk-meluk pas tidur, nemenin mainan sampai ngantuk dan tidak akan marah saat Ray nangis minta nen.

Hari pertama, Ray sampai jam 1 malam. Mainan seru sudah, cerita sudah, kayaknya sudah melakukan apapun tapi kok ga bisa tidur padahal dari jam 10, Ray sudah menguap terus. Saya menggendongnya keluar masuk rumah menemaninya yang mulai gelisah. Beberapa kali dia memegang nen dan merajuk minta nen, tapi saya menggeleng sambil memeluk. Gantian sama papinya buat nemenin main sama gendong. Pas bisa bobo, saya mengusap kepala dan mencium keningnya sambil bilang "Ibu very proud of you, Ray!"

Siapa bilang dramanya cuma pas mau bobo ih, ahaha. Pas bangun tidur pun juga mellow galaw. Ibuuuk, nen sebentar aja sambil bobo, katanya. Karena sudah niat, saya tetap konsisten dengan apa yang kami lakukan kemarin. Saya menggeleng dan mengulurkan tangan untuk menggendongnya. Nangis lagi dong, huhuhu. Sampai dia mau dipeluk trus pelan-pelan menemukan ritme buat main.

"Aku minum air putih aja. Gak nen ya, Bu", Aduh bahagianya. Ray bilang gitu saat dia main blocks. Wajahnya ceria seakan udah rela gak nen lagi. Tapi, kalimat itu hilang entah kemana saat mau bobo siang. Ray galau lagi, ingat zona nyamannya yang mengantarkannya pulas bobo siang. Kali ini hanya dengan gendongan, puk-puk sama pelukan Ibu.

Malam kedua, jadwal tidurnya maju setengah jam menjadi setengah satu, ahahaha. Kami makan malam bersama, nemenin main, nonton video dan tebak-tebakan. Pas mau bobo, nangis lagi minta nen. Saya lega akhirnya Ray bisa bobo juga, tapi kok ya malam harus bangun nangis kejer, huhu. Lagi-lagi saya nunggu emosinya mereda dulu baru menawarkan pertolongan buat digendong dan dipeluk. "Iyaaa, nangis gak apa-apa. Ibu temenin ya", lama-lama bobo lagi.

Kami menyapih dengan sehangat dan senyaman mungkin, tapi nyatanya juga tidak benar-benar nyaman. Dan nggak perlu merasa guilty, karena ini normal banget. Nah, 5 hal ini saya rangkum ya saat melakukan proses menyapih Ray. Gaya bener, baru 2 hari lho, wkwkw. Percayalah, saya menulis ini biar merasa lega aja.

1. Sounding. Apapun kegiatannya, bagi saya sounding berkali-kali adalah kunci. Meskipun masih kecil, anak bisa memahami bahasa kita ketika kita mengulang-ulangnya. Jadi jangan remehkan the power of sounding.

2. Konsisten. Kalau memang di hari pertama sudah sukses menyapih, dan di hari kedua dramanya lebih hebat. Please, konsisten! Jangan sampai kalah. Karena apa? Misal di hari kedua menyerah buat ngasih nen lagi, besok-besok level menyapihnya bakalan lebih tricky lagi.

3. Validasi emosi. Anak sedang adaptasi dan transisi dari zona nyamannya. Menangis, ngambek dan gulung-gulung di lantai adalah caranya meluapkan. Selama tidak menyakiti dirinya sendiri dan orang lain (memukul, mencakar, dll), biarkan saja dulu. Kalau sudah mereda, baru tawarkan pertolongan. Pelukan, gendongan, minuman atau makan. Dan ingat jangan kepancing tantrum, ahahah. Ngadepin anak ngambek, marah apalagi sambil gulung-gulung itu menyerap energi dan emosi lebih banyak. Jadi orangtua wajib sadar penuh kalau "proses menyapih" memang tidak nyaman buat anak.

4. Kenyangkan perutnya. Hari pertama Ray disapih, dia suka banget makan bebek goreng. Makan lahap dan banyak. Trus dibelikan martabak manis sama papinya. Apa kalo perut kenyang membuat anak nggak rewel? Siapa bilang? wkwkw. Setidaknya, si anak rewel bukan karena dia lapar, tapi memang karena kondisinya tidak nyaman. Hari kedua Ray mogok makan. Mungkin, ini cuma mungkin lho ya, dia gak makan karena gak nafsu makan beneran, atau karena biasanya kalau nggak makan, dia bisa nen sepuasnya. Seharian pola makannya beneran berantakan. Dan ketika dia tahan nggak makan, rewelnya makin tambah-tambah, huhu. Merasa nggak nyaman tapi nggak mau makan padahal lapar, yhaaaa gimana.

5. Serap energinya dengan permainan kesukaan. Nah ini PR banget! Apalagi Ray lagi hobby begadang. Rasanya malam kok berasa panjang banget, ahaha. Saya dan papinya bergantian nemenin dia main. Terutama yang banyak menyerap energi dan dia suka. Kalau capek dan suka harapannya bisa cepet bobo pules. Tapi nyatanya tetep malam juga, wkwkw. Andalan kami adalah main blocks kayu, corat-coret buku, cerita dan sesekali nonton video kalau energi kami low. Saya mengakalinya, jam 6-7 sama papi, 7-8 ibu, 8-9 papi, dst. Sesekali main bertiga, tapi durasinya pun nggak lama. Itu saya lakukan biar kami punya stok energi sampai malam tanpa emosi.




Sejauh ini saya nggak mellow, nggak ikutan emosi karena Ray sering nangis karena disapih. Tapi yhaaa tetep capek, wkwkw. Hari ini hari ketiga ya Raaaaabbbb. Semoga less drama. Buat Ibu-Ibu yang sedang atau mau menyapih buah hati, semangat! Kasih dopping 2 gelas mocca float atau freemilt green tea 😆.
Kalau udah mulai capek dan mau terpancing, serahkan Papi. Jeda dulu! Gantian. 

Read More »

Bersiap Menghadapi New Normal


Covid-19 membuat saya membuat rencana baru. Bulan Maret lalu, ketika pemerintah mengumumkan ada yang positif covid dan akhirnya diberlakukan work from home, saya sudah berjaga dan bersiap untuk beradaptasi dengan keadaan baru. Istilah bekennya adalah new normal. 

Selama 2 bulan work from home, saya patuh buat di rumah saja karena takut tertular dan menularkan virus yang belum ada vaksinnya tersebut. Hello, yang dihadapi itu makhluk yang nggak nampak dan kalau kena belum ada obatnya, lho. Apalagi saya punya orangtua dan batita yang rentan tertular. Makanya, sebosan apapun di rumah, saya membuat zona nyaman sendiri.

Ketika lebaran, saya juga masih tetap di rumah. Tidak ada ritual kunjungan ke saudara-saudara seperti tahun sebelumnya. Saya juga menahan diri untuk tidak menengok kerabat yang sakit dan sahabat karib saya yang sedang melahirkan pun hanya mengabarkan lawat video saja, huhu. Saya benar-benar berdamai. Seriuh apapun kondisi di jalanan, saya tidak latah untuk ikut-ikutan.

New Normal begins....

Menyimak berita kalau mall-mall sudah mulai dibuka, sempat membuat saya tertegun. Kondisi new normal saya sudah dimulai dari bulan Maret lalu, jadi saat ini saya sudah terbiasa dengan protokol kesehatan yang didengungkan pemerintah. Sedih banget deh kalau new normal dipahami sebagai back to normal, huhu. Jalanan sudah ramai, pasar juga desak-desakan (katanya), trus bepergian pada enteng banget tanpa masker. Punya nyawa serep, heh? *emosi*.

Semalam saya habis nonton mini seri Ika Natassa yang disutradarai Reza Rahardian. Saya bisa nangis sesenggukan, lho. Bagaimana para tenaga kesehatan perang badar setiap hari. Rela nggak ketemu sanak family dan menahan makan minum demi menghemat APD *nangis beneran, huhu. Dan kita juga harus berjuang juga sesuai porsi kita; stay at home. Kalaupun harus keluar rumah, jangan merasa kayak power ranger atau superhero lainnya yang kebal dengan virus. Covid ini belum ada antivirusnyaaaaaa.

Trus, apa aja sih yang harus dilakukan untuk bersiap new normal. Yang mulai masuk kerja, bisa lebih aware terhadap diri mereka sendiri agar tidak tertular maupun menjadi carrier tanpa mereka sadari. Again, kondisi ini bukan berarti kembali ke rutinitas biasa seperti sebelumnya, lho ya. Nah, beberapa tips berikut sepertinya klise banget karena sering diimbau oleh televisi, tapi saya tuliskan kembali sekaligus pengingat diri.

1. Social & physical distancing

Bahasa sederhananya adalah tidak berkumpul di keramaian. Tidak mendebat kenapa nggak boleh ke masjid tapi mall-mall malah dibuka. Kenapa ga boleh ngaji, tapi mereka malah keluyuran. Kalau saya pribadi sih fokus pada apa yang bisa saya lakukan. Kalau memang dengan berdiam di rumah merupakan solusi untuk mengurangi dan mencegah penyebaran covid, kenapa tidak? Apalagi yang masih punya pilihan untuk itu. Karena masih banyak orang lain yang tidak bisa memilih, lho.

Saya juga menjaga Bapak, Ibu serta keluarga saya untuk tidak melakukan aktifitas di keramaian. Jamaah salat di rumah, melakukan video call kalau memang benar-benar kangen sama kakak saya, dan hal-hal sederhana lainnya. 

2. Jaga Imunitas

Bapak saya penderita diabetes, sedangkan ibu saya pemulihan stroke yang dideritanya sejak 6 tahun lalu. Setiap bulan harus cek up ke rumah sakit. Akhir tahun lalu, Bapak keluar masuk rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang drop. Pas pandemi ini saya nggak bosan untuk mengingatkan mereka berdua menjaga asupan makan.

Banyak sayur dan buah serta air minum yang cukup. Setiap pagi kami berjemur sambil mengobrol agar kegiatan tersebut tidak membosankan. Intinya, rutinitas apapun yang dilakukan di rumah, kami lakukan senyaman mungkin. Jadi nggak hanya raganya, tapi jiwanya pun juga terjaga.

3. Hobby cuci tangan

Sebenarnya tanpa ada pandemi ini, kami sekeluarga tertib mencuci tangan. Tapi hal tersebut kami lakukan hanya ketika akan melakukan sesuatu: misalnya berwudhu atau mau makan. Kali ini saya bilang sama anak-anak dan bapak ibu untuk sering rajin mencuci tangan dengan sabun. Apalagi yang tangannya suka refleks memegang area wajah dan mata, huhu. 

3. Wajib pakai masker

Hal inipun saya sudah melakukannya sejak dulu. Kalau bepergian memakai masker saat bepergian. Tapi masalahnya, anak-anak dan anggota keluarga lain masih belum terbiasa. Dengan memakai masker, kita bisa meminimalisir penularan virus covid. 

4. Olahraga

Stay at home membuat kita mager males ngapa-ngapin, ahaha. Agar fisik kita lebih fit, sebaiknya kita melakukan olahraga ringan di rumah. Saya biasanya badminton di depan rumah, atau jogging sama Ray di depan TV. 

5. Tes secara berkala

Waktu mengantar Bapak dan Ibu cek up ke Rumah Sakit, saya ketemu beberapa orang yang sedang mengantri untuk melakukan rapid tes. Buat teman-teman juga bisa melakukan rapid test terdekat dari rumah. Apalagi untuk mereka yang aktif bekerja di lapangan atau out door. Kemarin kakak saya sudah mulai masuk kantor, dan setiap beberapa hari sekali dilakukan rapid tes.

Untuk konsultasi kesehatan, kalau memang tidak mendesak seperti harus cek up Bapak Ibu, saya lebih memilih melakukannya secara online. Kayak kemarin Ray bruntusan di bagian pantat dan tidak sembuh-sembuh, saya worry sekali buat ke dokter, makanya saya konsul dokter via Halodoc. Layanan kesehatan terpercaya andalan keluarga saya. Waktu gigi saya bengkak pas pertengahan ramadan lalu, saya juga konsultasinya via online di Halodoc. Dokternya meresepkan obat yang saya butuhkan dan voillaaa gigi saya tidak nyeri lagi. Meskipun secara online, tapi kerahasiaan kita tetap terjaga lho.

Nah, itu tips saya untuk bersiap di masa new normal ini. Beberapa kali masuk kantor, saya mawas diri untuk strick menerapkannya agar tetap sehat dan terhindar dari virus covid-19. Buat teman-teman, jaga kesehatan dan kebersihan ya :)



Read More »

Puisi untuk diri sendiri


Rasanya, tidak ada yang bisa menengok masa depan. Meramal apa dan dengan siapa akan melepas tawa.  Tapi setidaknya, saat ini kamu bisa menilik kembali, bahwa yang lalu menjadikanmu lebih tabah berdiri kini.

Untukmu yang tetap tangguh, terimakasih. Kamu mampu belajar dalam sunyi. Merengkuh damai dalam ramai. Sebenci apapun kamu menerimanya, kamu tetap melaluinya dengan sepenuh hati. Iya, kamu yang berdiri tegak di cermin, terimakasih sekali lagi.

***

Sudah berterima kasih pada diri sendiri hari ini? Hebat ya yang mampu beradaptasi di tengah pandemi. Kalo mau ngeluh boleh , banget. Nangis juga ga apa-apa biar lega. Saya sudah tak terhingga melakukannya, ahaha. 

Abaikan orang-orang yang menyuruhmu berhenti mengeluh. Menghambat air matamu untuk menetes. Karena yang tahu pasti tentang hatimu adalah dirimu. 

Peluk! :) 
Read More »

Morning Booster


Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru....

Uwuw sekali puisinya sampai membekas di benakku kalau kunci memenangkan hari adalah menemukan morning booster dulu :D. Buat ibu-ibu pasti merasakan banget deh kalau "semangat pagi"adalah sebuah kemewahan. Shubuh sudah masak, mandiin anak, nyiapin makan, atau nyiapin mereka sekolah. Setelah semua beres baru bisa napas, ahahah.

Kenapa harus buru-buru? Pertanyaanku. 

Dulu, saat di Jakarta, waktu terasa cepat sekali. Berangkat pagi sekali, pulang pun menjelang magrib. Dan itu tidak apa-apa. Tapi menghadapi situasi begitu, akhirnya aku ada di satu titik yang "masa iya hidup habis di jalan?". So, next i decided to move. 

Pindah ke Klaten hidupku rasanya woles banget. Menikmati pagi tidak rusuh dengan kejar-kejaran kereta, memikirkan deadline jawaban email buat klien, atau khawatir banjir saat musim hujan. Dulu pernah dengan situasi itu. Jatuh cinta banget pokoknya sama Jakarta padahal tiap pagi selalu rungsing. Meskipun begitu, suami selalu menyimak tiap saya punya keinginan buat kembali kesana. Tidak pernah menghakimi sedikitpun. Itu dulu. Saat ini aku baik-baik saja. Meletakkan Jakarta di memori sebagai tempat berkunjung, bukan berdiam dengan keluarga.

Baca juga: Kangen Jakarta

Seperti pagi ini, saya menemukan morning booster untuk mengawali pagi. Setelah semalam menemani Ray begadang lagi dan lagi. Ritme tidurnya yang berubah dengan energi yang menerutku seperti nggak habis-habis, menuntutku untuk mengubah jadwal dari biasanya. 

Booster pagiku hari ini ngapain? Ngobrol sama suami, membuatkannya teh, menyusui Ray dan kali ini berhasil menyinkronkan semua data akun dengan pasword yang sama *prestasi!, ahaha. Asli, aku senang sekali. 


Read More »

Sinergi Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkualitas


Water is life, and clean water means health” — Audrey Hepburn

Beberapa waktu lalu, sebelum corona, saya amazing memerhatikan kakak ipar saya yang kehabisan air di rumahnya, sehingga harus mengisi air ke dalam galon saat di rumah Ibu mertua. Fyi, meskipun rumah kami sama-sama di Klaten, tapi ternyata kondisi cuaca dan ketersediannya berbeda, lho. Kakak Ipar tinggal di Surowono, Ibu mertua di Kemalang dan saya tinggal bersama orangtua di daerah Wedi. 

Rumah orangtua saya yang berada di Wedi, cuacanya ekstrim banget menurut suami. Kalau pagi masih dingin, beranjak siang panas menyengat. Meskipun sudah pakai kipas angin, tetap saja panas. Efeknya, beliau sering meriang karena menurutnya, cuacanya nggak enak. Kalau bagi saya yang sehari-hari mengalaminya, keadaan tersebut sudah menjadi hal yang biasa dan tidak memiliki efek di tubuh.

Cuaca di Kemalang memang lembab dan cenderung dingin. Nah, kalau sedang main ke rumahnya kakak ipar, bakalan lebih dingin lagi. Terbukti kedua anaknya yang lebih sering mengenakan jaket dan kaos panjang agar lebih hangat. Sampai sekarang pun tiap mandi selalu memakai air hangat.

Saya dulu berasumsi kalau kondisi ini dipengaruhi oleh letak geografisnya. Semakin dekat dengan Gunung Merapi, maka kondisinya memang lebih dingin meskipun sama-sama di area Klaten. Tapi setahun terakhir, saya menyimpulkan kalau perubahan iklim juga mempengaruhi cuaca, bahkan ketersediaan air di beberapa daerah.


Perubahan Iklim dan Ketersediaan Air Bersih

Source: pixabay

Saya sepakat sekali dengan pepatah Hepburn yang menganalogikan air sebagai kehidupan dan kualitas air bersih merupakan pemenuhan kesehatan. Saya bersyukur bahwa kuantitas dan kualitas air di daerah saya masih melimpah dan mencukupi. Namun, saya turut prihatin ternyata di dekat daerah saya ada yang mengalami kelangkaan air bersih. Tahun lalu tercatat jika 880 hektar sawah di Klaten gagal panen akibat kekeringan, huhu (Source: metrotvnews.com). Ditambah lagi, kakak ipar yang kebingungan karena di daerahnya juga mengalami kelangkaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Akhirnya, beliau dan keluarga harus mengungsi ke rumah mertua.

Teman-teman merasakan nggak sih kalau sebenarnya ada perubahan iklim yang saaaaangat mencolok. Saat musim penghujan terjadi banjir dimana-mana, eh ketika musim kemarau, di beberapa daerah dilanda kekeringan. Karena menyadari air merupakan hal yang vital dalam kehidupan sehari-hari, sudah seharusnya kita menghematnya. Setidaknya ada 3 benefit, saat kita ikut andil dalam menghemat air:

💓 Menghindari kekeringan

Adanya perubahan iklim berakibat pada musim kemarau yang lebih panjang. Nah, ketika kita menggunakan air secara bijaksana, hal tersebut dapat menekan dampak kekeringan karena kita memiliki stok cadangan air yang digunakan sehari-hari. Bahasa sederhananya, saat kita berhemat, maka air yang kita miliki dapat digunakan untuk beberapa kegiatan lainnya. Sehingga saat musim kemarau pun, stok air masih mecukupi.

💓 Ikut menjaga ketersediaan pangan

Yang butuh air bukan hanya kita, tapi hewan dan tumbuhan pun juga. Adanya kualitas air yang bersih yang cukup, ekosistem hewan dan tumbuhan yang notabene sebagai sumber pangan manusia akan tetap terjaga. Nah, untuk menyediakan bahan pangan pun juga butuh air dalam proses pengolahannya, sehingga kalau airnya berkurang, maka akan mempengaruhi jumlah ketersediaan pangan juga, kan?

💓 Menjaga lingkungan

Yang terakhir adalah ikut andil dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Terdengar klise, tapi ketika energi yang digunakan untuk memroses atau mengalirkan air ke rumah-rumah, atau pusat-pusat industri, hal tersebut dapat mengurangi polusi, lho!

Antisipasi Ancaman Bencana Kekeringan

Jumat lalu (22 Mei 2020), saya mendengarkan streaming Kantor Berita Radio Indonesia yang bertajuk “Antisipasi Ancaman Bencana Kekeringan”. Topik yang sangat menarik karena selama satu jam saya menyimak 2 narasumber mengupas beberapa pilihan yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi kelangkaan air yang menjadi PR beberapa daerah di Indonesia.

Muhammad Reza narasumber dari Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KruHA) mengemukakan tentang pentingnya peran pemerintah dalam melakukan pencegahan kelangkaan air. Beliau juga menuturkan bahwa pemenuhan air merupakan hak asasi manusia sehingga pengelolaannya pun harus dilakukan oleh negara. Dalam hal ini saya sepakat dengan pendapat beliau kalau pengelolaan air harusnya dikuasai oleh negara, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (2) UUD 1945.

Yang nggak kalah seru adalah cerita Cak Purwanto, pendiri Yayasan Air Kita Jombang, Jawa Timur. Beliau terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan sosialisasi tentang pentingnya menghemat air. Selain itu, beliau juga aktif dalam kegiatan pendidikan non formal yang di dalamnya juga menyerukan tentang pemanfaatan air. Dalam hal ini beliau memberikan penyuluhan bagaimana memanfaatkan air hujan untuk dapat diolah lagi sehingga dapat difungsikan sebagai air minum.

Teman-teman juga bisa menyimak video lengkapnya di bawah ini ya:



Sinergi Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkualitas

Tahun 2018, saya masih ingat sekali dosen pembimbing saya senyum-senyum mengatakan kalau tesis saya sangat kontradiktif, ahaha. Di satu sisi saya mengkaji regulasi tentang perizinan yang ramah investasi, di sisi lain juga pengen menyeimbangkan dengan pelestarian lingkungannya. Dalam tulisan saya tersebut ada regulasi tentang perizinan pengelolaan sumber daya air juga yang pelaksanaannya mengganggu lingkungan atau tidak.

Menurut saya ada 3 hal yang seyogyanya dilakukan secara sinergi dalam pengelolaan air yang berkualitas, sehingga masyarakat tidak lagi menghadapi kelangkaan air. Menyambung pernyataan Cak Purwono, kalau permasalahan masalah air tidak hanya kuantitasnya saja yang langka melainkan kualitasnya juga. Makanya diperlukan solusi yang dilaksanakan secara sinergi untuk mengatasinya.

💘 Regulasi yang jelas

Diperlukan regulasi yang jelas terkait dengan pengelolaan air. Dalam hal ini, karena air merupakan kebutuhan vital masyarakat, maka seharusnya pengelolaannya dilakukan oleh negara, bukan swasta. Terkait dengan regulasi ini, masyarakat pernah menggugat UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air ke Mahkamah Konstitusi. 

Di tahun 2015 akhirnya Mahkamah Konstitusi membatalkan secara menyeluruh Undang-Undang tersebut dan membatasi partisipasi swasta di sektor pengelolaan air. Nah, dengan regulasi hukum yang jelas diharapkan dapat menjadi payung hukum untuk mewujudkan pegelolaan sumber daya air yang berkualitas untuk masyarakat.

💘 Ketegasan Aparatur Hukum dan Pemerintah

Saya tidak kaget ketika Mas Reza dalam wawancaranya di KBR menceritakan kalau di Pegunungan Kendeng ketika musim kemarau ada penampungan air alami yang digunakan untuk pengairan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Namun ironisnya digunakan sebagai objek tambang. Hal tersebut dilegitimasi oleh perizinan yang dimiliki oleh pemillik tambang, huhu.

Selain ada regulasi yang jelas, sikap aparat hukum dan pemerintah harus tegas menindak hal tersebut. Karena hal tersebut dapat mengakibatkan kelangkaan air dan merusak kualitas air sehingga dapat merugikan masyarakat.

💘 Kultur Masyarakat

Di poin tiga ini, kita ikut berperan besar dalam penggunaan air secara bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini harus dilakukan secara continue agar menjadi kebiasaan. Apa saja sih aktifitas sederhana yang bisa kita lakukan? Yuk simak sama-sama!

Menutup dan mematikan keran saat melakukan aktifitas lain
Hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah menutup keran dengan rapat dan tida menetes. Kalau habis wudhu seringkali saya memastikannya karena biasanya Ray kurang rapat memutar kerannya. Lalu, jika masih beraktifitas lain seperti: cuci piring, menggosok tangan dengan sabun, kerannya dimatikan saja. Apalagi saat ini musim pandemi kita dianjurkan untuk giat mencuci tangan. Agar tidak boros air, saat posisi menggosok sela-sela tangan dengan sabun, kerannya dimatikan.

Memilih deterjen yang ramah lingkungan
Apa ada? Tentu! Silakan teman-teman searching sendiri jenisnya. Jadi, deterjen yang saya pakai tidak banyak busa tapi tetap bersih saat dikucek atau digiling dalam mesin cuci. Saat tidak banyak busa yang dihasilkan, saya tidak effort untuk membilasnya juga, hehe.

Periksa pipa air secara berkala
Tugas suami saya tiap bulan buat memeriksa pipa air. Jadi, ketika ada kebocoran pipa air, kita bisa segera menggantinya. Selain tidak boros air karena kebocoran tersebut kita juga bisa menghemat listrik juga.

Manfaatkan air hujan
Seperti yang disampaikan Cak Purwanto dalam sesi sharing-nya di KBR kalau tampungan air hujan dapat dimanfaatkan untuk air minum. Nah, hal inilah yang seharusnya disosialisasikan di daerah-daerah. Di keluarga saya, air hujan kami tampung dan digunakan untuk konsumsi ternak. Setelah beberapa hari digunakan untuk menyiram tanaman juga.

Menyisipkan nilai-nilai untuk menghemat air pada anak-anak
Menghemat air diajarkan sedini mungkin pada anak-anak sehingga menjadi kebiasaan. Selain itu, nilai-nilainya juga disisipkan dalam pendidikan formal maupun non formal sehingga nilai tersebut mendarah daging. Selama ini saya memberikan contoh bagaimana menggunakan air dengan bijak ketika berwudhu, mandi dan mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka paham kalau keran harus diputar rapat agar tidak menetes. 

Dengan adanya regulasi hukum yang jelas dan ketegasan pemerintah dalam menindak para oknum yang melakukan penyelewangan terhadap pengelolaan air serta peran aktif kita sebagai masyarakat dalam menggunakan air secara bijak, diharapkan dapat mencegah adanya kelangkaan air. Ketiga hal tersebut harus dilakukan secara sinergi! 

Krisis air bukan hanya tentang kuantitas air tetapi juga kualitasnya. Perlu sinergi antar semua elemen, baik pemerintah, komunitas, instansi dan masyarakat. Yuk kita ikut ambil bagian dalam sinergi tersebut dengan bijak menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari. 

Saya sudah berbagi pengalaman soal climate change. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Climate Change" yang diselenggaraakan KBR (Kantor Berita Radio) 
dan Ibu-Ibu Doyan Nulis". Syaratnya, bisa Anda lihat disini.



Sumber referensi:

UUD 1945

Streaming KBR di https://www.youtube.com/watch?v=OWzV1_O0AXE

Streaming berita di https://www.metrotvnews.com/play/kWDC9Xpr-880-hektare-sawah-di-klaten-gagal-panen-akibat-kekeringan

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5d8342480f9ac/perizinan-pengelolaan-air-harus-perhatikan-6-prinsip-ini/

Read More »