Featured Slider

Ibu yang tenang

Beberapa hari ini, Ray terasa gloomy. Nangis tanpa sebab, teriak kencang-kencang untuk meluapkan kekesalan yang entah kesal kenapa. Dan memancing hal-hal yang membuat saya marah. Saat itu, saya ingin memeluk-meluk Ibu saya yang sedang menunggu Bapak di rumah sakit. 2 hari ditinggal Ibu, rasanya waktu berjalan aaaaamat lambat. 


Ray dan Ben menangis bergantian, dan Ray memaksa untuk minta gendong gantian. Dari awal memiliki Ben, saya berjanji untuk tidak akan memaksakan Ray tumbuh dewasa sebelum waktunya. Dia masih ingin dan butuh saya di sisinya. Jadi ketika dia ingin ditemani bermain, padahal saya sedang memegang adiknya, saya harus memasang rem pakem agar tidak marah dan tidak memaksa Ray untuk mengerti keadaan saya. Biasanya saya hanya bilang "Sebentar ya Mas, beri Ibu 5 menit biar adik Ben kenyang menyusu. Setelah itu, Ibu akan menemani bermain sepuasnya".

Saat hatinya sedang lega, Ray akan riang menerima dan dengan senang hati menunggu. Tapi kalau pas saya lagi apes, Ray tidak akan memberikan waktu saya. Endingnya bisa ditebak. Nangis!

Menjadi Ibu yang tenang

Saya remidi berkali-kali tentang ini. Tapi, saya tidak akan jera untuk mencoba lagi. Karena menjadi Ibu yang tenang saaaaangat berpengaruh di semua lini. Mengasuh jadi kalem, ngadepin tuntutan banyak orang tidak akan gentar. Tuntutan? Iya. Sadar atau tidak, beban seorang Ibu bisa 3x lipat dibanding bapaknya dalam pengasuhan anak. Kan kampret! *duh misuh kan*.

Kalau lahiran scesar, salah ibu. Anak minum sufor, salah ibu. Anak pilek, salah ibu *minum es terooooos*. Pokoknya seakan-akan tanggungjawab anak itu mengarah pada ibunya. Kan kampret ya! *tuh kan misuh lagi*.

Balik lagi saya mau curhat (perasaan daritadi kan curhat yhaa). Saya sempat kehilangan kendali karena semua bertumpu pada urusan anak-anak. 24 jam hanya gantian pegang Ray dan Ben.

Cari bantuan

Masih ingat kuis who wants to be a millionaire? Duh ketahuan angkatan lama ya, wkwk. Ada 3 pilihan bantuan yang bisa diambil. Fifty-fifty, ask the audiens dan phone a friend. Dalam posisi ini, saya memilih opsi phone a friend. Mencet nomer sahabat saya yang punya anak tiga. Pengen cari geng sambat biar nggak merasa sendirian.

Btw, kalau kalian mengalami hal yang sama, jangan sungkan cari bantuan. Capek itu manusiawi, apalagi momong bocah yang lagi aktif-aktifnya. Cari bantuanpun harus yang sefrekuensi. Jangan sampai kalian sambat tapi malah patah hati karena mendapat feedback yang bikin ambyar berkali-kali.

Don't judge, please!

Punya anak membuat saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah saya lebih open minded dan tidak langsung menjustifikasi orang lain, terutama ibu baru. Saya nggak masalah sesar vs normal, sufor vs asi atau hal-hal lain yang pada dasarnya sudah beda dan endingnya hanya akan saling menyakiti perempuan.

Mengurus anak-anak itu capek. Jadi, ketika ada yang mengeluhkan hal itu, cukup dengarkan dan tidak perlu menjustifikasinya ini itu. Begadang, rahimnya yang masih basah bekas jahitan, payudaranya pecah-pecah tapi tetap harus menyusui. Rasanya tidak fair harus dibebani dengan menolak rasa capeknya.

Ketika kalian sedang merasakan fase hal ini, peluk jauh ya. Pelan-pelan, nggak perlu buru-buru melakukan sesuatu. Beri ruang jeda sejenak agar lebih legaan. 

Ambil napas lebih panjang dan rasakan sensasi tenang dalam dirimu. 

Read More »

Apa Itu Trading Bitcoin Future? Bagaimana Strateginya?



Zaman now ada banyak peningkatan jumlah bursa yang menawarkan perdagangan kontrak berjangka. Hal ini dikenal dengan sebutan contract trading. Nah, ada juga istilah trading bitcoin future yang dilakukan oleh para ahli di bidangnya, misalnya seperti jasa tokenomy. Waaa, saya juga belajar lagi tentang ini biar nggak ketinggalan.

Banyak sekali lho manfaat dari perdagangan berjangka atau futures trading. Pertama, hal ini bisa menjadi suatu sarana untuk pengelolaan risiko melalui kegiatan Lindung Nilai (hedging) sehingga lebih rileks di masa volatilitas tinggi.. Kedua, sebagai sarana pembentukan harga (price discovery). Dan ketiga bisa sebagai alternatif investasi.

Apa Itu Bitcoin dan Crypto Futures?

Crypto futures merupakan suatu cara untuk menjual aksi harga di masa yang akan datang, untuk aset crypto. Sedangkan bitcoin futures adalah crypto futures yang belakangan sedang marak di perbincangkan. Saya pun juga masih mengulik tentang hal ini lebih mendalam sebagai referensi finansial.

Singkatnya, kontrak berjangka atau trading bitcoin future adalah kesepakatan untuk memperdagangkan aset di kemudian hari dengan harga yang sudah ditentukan. Ini lebih dikenal dengan instrumen derivatif karena nilainya tergantung pada aset yang mendasari. Selain itu, setiap kontrak berjangka mengandung barang dagangan dengan jumlah tertentu. Kontrak berjangka ini (bitcoin) dapat diperdagangkan sesuka hati kapan saja dan dalam jangka tertentu. Yang perlu diingat, permintaan dan penawaran pasar akan menentukan harga kontrak begitu pun dengan Bitcoin. 

Itu artinya fungsi dari trader atau spekulator harga pasar, futures memantau dan mengambil posisi bersamaan dengan peluang dan resiko yang ada. Namun tanpa harus mengambil pengiriman aset yang mendasarinya. Sama seperti yang dijelaskan oleh Trade Station.

Cara Kerja Perdagangan Berjangka atau Trading Bitcoin Future

  • Membeli Bitcoin Futures. Biasanya perdagangan berjangka akan melibatkan perdagangan kontrak baik itu kontrak terbuka hingga berakhirnya kontrak itu sendiri. Tak sembarang, perdagangan kontrak harus beradaptasi secara terus menerus untuk mengubah sentimen pasar, juga menjual dan membeli spot bitcoin dengan harga yang sesuai.
  • Menjual Bitcoin Futures. Ada pula opsi menjual bitcoin berjangka pendek. Langkah ini sama halnya dengan bertaruh bahwa dikemudian hari harga bitcoin akan menurun. Ketika kita menjual pendek kontrak bitcoin berjangka pendek, itu artinya kita meminjam satu kontrak berjangka bitcoin lalu menjualnya. Menjual bitcoin bertujuan untuk membeli kembali kontrak tersebut namun dengan harga bitcoin yang lebih rendah. Ini dilakukan oleh bursa, sehingga pedagang tak harus mencari sendiri kontraknya. 

Trading Bitcoin Future Strategy

  • Pelajari soal Bitcoin. Dalam dunia investasi termasuk bitcoin, pastikan kita mengetahui seluk beluknya terlebih dahulu sebelum benar benar mulai berinvestasi. Apalagi pasar bitcoin terus berkembang, sehingga memaksa investor untuk selalu up to date.
  • Menentukan tujuan dengan jelas. Sama dengan investasi dimanapun, kita harus menentukan tujuan dengan jelas dan terarah. Dengan begitu kita tidak akan kebingungan dalam memposisikan diri hingga menentukan langkah yang tepat. 
  • Menentukan Target. Dalam perdagangan bitcoin, kita tidak boleh berlebihan apalagi sampai serakah. Boleh puas dengan pencapaian, namun mengendalikan diri akan sesuatu yang berlebihan adalah kunci. Caranya mudah, cukup tentukan target penjualan di awal hingga tercapainya target tersebut. 
  • Cerdas Mengenali Kondisi Pasar. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi teknik bermain bitcoin. Nah, ketika kita dapat menganalisa faktor-faktor tersebut, khususnya kondisi pasar, otomatis kita akan tahu tindakan apa yang tepat dilakukan. Saat menganalisa kondisi pasar, hapus semua yang berkaitan dengan emosi dan tukar dengan data yang akurat. Dengan begitu kita akan memperoleh keuntungan sesuai yang diharapkan.

Demikian sekelumit informasi seputar trading bitcoin future dan strategi yang tepat. Semoga bermanfaat, ya!


Read More »

Melahirkan Nyaman dan Minim Trauma di Bidan Kita Klaten

Ben...

Terima kasih telah berjuang dengan Ibu

Malam itu, semesta memberikan tanda

Kamu ingin bertemu sesuai afirmasiku



***

Waaa, menuliskan ini buat refleksi, dan saya selalu tersenyum mengenangnya. Bahwa persalinanku—BERKESAN. Saya mengalami sakitnya kontraksi, tapi saya menguasai diri. Saya tetap merasakan sakitnya pembukaan, tapi saya menyadari hal itu menandakan kalau saya akan cepat bertemu Ben. Di dalam sana, Ben juga sedang berjuang menemukan jalan, dan saya sebagai Ibu harus memudahkannya dengan berdaya.

Dan, inilah cerita pertemuan pertama kami.....

Hal yang tidak pernah saya sesali adalah mendalami kelas yoga dan latihan napas di Bidan Kita. Manfaatnya tidak hanya pas persalinan, tapi sampai sekarang! Napas lebih panjang, emosi lebih tertata dan recovery tubuh saya lebih cepat. Saya merasa gerakan saya enak, tidak terganggu dengan jahitan bekas lahiran yang perih, ataupun terngiang kala kontraksi yang menyakitkan. Karena, saya melalui dengan sadar, tenang dan diarahkan oleh provider yang tepat. 

Baca selengkapnya di: Latihan napas dan yoga di Bidan Kita

Berat Badan Ben Besar

Sejak janin Ben berusia 32 weeks, saya belum menyadari kalau BB-nya over karena dokter waktu itu bilang tidak apa-apa. Setelah dokter saya kembali praktik, saya baru sadar kalau BB-nya sudah over. Bahkan di usia kandungan 34 weeks, beratnya sudah 3.1 kilo *senyum kecut*. Hal yang membuat saya meminta second opinion dan mengganti birth plan adalah ketika beliau nge-joke kalau saya harus operasi SC. Sebagai dokter sebenarnya hal tersebut hal yang wajar disampaikan sesuai dengan kompetensinya terhadap kondisi saya. Saya pun juga tidak mengelak kalau nantinya harus SC, tapi entah kenapa saya nggak suka sama becandaannya, huhu.

Btw, birth plan saya adalah melahirkan di bidan. Ada 2 tempat yang saya jadikan wish list. Saat terjadi risiko pun, saya sudah menentukan pilihan ke dokter siapa. Nah, saat usia kandungan saya sudah 36 weeks, saya ke klinik yang ada praktik SPOG-nya. Saya menjadikan list karena dulu waktu Ray, saya pernah yoga disini dan ada praktik dokter spesialisnya, sehingga saya berasumsi kalau nanti persalinannya akan dihandle dokter, tidak hanya bidan.

Seperti biasa, suami menunggu di mobil dengan Ray. Wajahnya kusem karena parkir mobilnya susah. Hal ini yang membuat kami berdua nggak sreg, selain lokasinya jauh. Dan hal lain yang membuat kami mencoret dari birth plan adalah ketika dokternya merujuk saya untuk opname di minggu depannya. Beliau bilang kalau BB Ben 3.8 kilo *amazing*. Saya minta diulang lagi USG-nya, apakah memang sebesar itu, tapi beliau bilang kalau BB-nya besar sekali dan lebih baik dikeluarkan minggu depan di usia 37 weeks.

Saya seperti dipaksa flashback di persalinan pertama, ketika saya harus diinduksi dengan 2 ampul cairan karena pembukaan Ray macet dan ketuban rembes. Waktu itu, saya masih minim pengetahuan, belum kenal latihan napas, yoga pun cuma bisa dihitung jari kanan.

Baca selengkapnya: Pengalaman Melahirkan Anak Pertama

Saat membayar di kasir, saya bertanya lebih jauh tentang anjuran dokter tersebut pada bidan. Seperti dugaan saya, nantinya akan diinduksi lewat infus. Dan persalinannya, meskipun disitu ada praktik dokter, tapi ketika persalinan yang menangani adalah bidan dengan bantuan dokter BY PHONE, bukan secara langsung. Anggap saja saya yang gagal paham, tapi karena saya sudah nggak sreg, saya tidak meneruskannya.

Bidan Kita, jawabannya

Setelah berdiskusi dengan suami, saya menghubungi hotline Bidan Kita untuk dijadwalkan konsultasi dengan Bidan Yessie. Ah iya, saya tetap melakukan treatment dan mengontrol pola makan, agar BB Ben tidak menyentuh angka empat, wkwkwk. Bye-bye es teh, nasi, kue dan gengnya. Saya lebih mengasup buah dan sayur serta wajib minum air putih 3 liter. 

Setelah selesai meeting dari Jogja, saya langsung ke Bidan Kita siang itu. Sebelumnya saya sudah sering nonton Bidan Yessie di instagram dan youtube, dan pertemuan pertama kami membuat saya mantap untuk bersalin disini. Saya cerita tentang BB Ben yang over, dan beliau melakukan USG dengan seksama sambil menjelaskan secara medis dengan bahasa yang saya pahami dan membuat saya lebih tenang.

Tenang bukan karena diiming-imingi kemudahan melahirkan, tapi saya dimotivasi untuk memberdayakan diri. Makanya PR saya banyak sekali. Setelah beberapa kali di-USG, BB Ben 3.45. Saya direkomendasikan untuk periksa ke Dokter Adi yang praktiknya di JIH untuk memastikan BB ini. Karena bagaimanapun, BB janin besar di perut memiliki beberapa risiko saat persalinan. Tapi bukan hal mustahil juga untuk melakukan persalinan secara pervaginam secara aman dan nyaman.


Bidan Yessie juga meminta saya untuk cek Gula Darah Sewaktu untuk memastikan saya tidak mengalami diabetes gestasional. Saya dan suami pun mengagendakan untuk kontrol ke Dokter Adi. Saya mendaftar via whatsapp yang lebih fleksibel. Alhamdulillah, hasilnya baik. BB Ben bukan 3.8 kilo seperti yang saya khawatirkan, tapi hasilnya sama seperti saat periksa di Bidan Kita, yaitu 3.4 kilo. Hasil GDS pun juga bagus. Kurang lebih saran Dokter Adi sama dengan Bidan Yessie; olahraga, rileks dan menjaga pola makan.

Saya masih tetap pergi ke kantor. Kerjaan bisa beres, saya pun bisa sekalian olahraga. Kalau di rumah hawanya mager, huhu. Kalau ke kantor, saya bisa power walking di peron stasiun, terus lanjut naik turun tangga ketika naik BST. Sampai halte masih jalan kaki lagi sampai kantor. Nah, pas di kereta saya bisa meditasi dan latihan napas selama 30 menit. Fyi, kereta bandara 1 gerbong cuma saya sendiri, jadi suasana hening gerbong membantu saya untuk meditasi. Makan dan minum juga tertib. 

Selain itu, emosi saya stabil banget. Meskipun capek badan, kalau sudah sampai rumah, saya bisa meluk-meluk Ray dan nemenin dia mainan. That's why, saya lebih memilih work from office daripada work from home sampai usia kehamilan 38 minggu. Karena saya bisa menang banyak :D. Saya memutuskan di rumah per tanggal 25 Februari 2021. 

Mengumpulkan Hormon Oksitosin

Siang itu, dua sahabat saya datang ke rumah. Mereka menawarkan mau diajak kemana, mau makan apa. Kami bertiga tiga hari nggak ketemu saja rasanya sudah satu abad. Sebenarnya, saya sudah mengalami flek, tapi darahnya hanya sedikit dan warnanya tidak tegas. Tapi saya tidak cerita ke siapapun tentang hal itu.

"Halah say, paling adiknya Ray ki setelah kami berdua pulang trus kontraksi”, seloroh Esti dengan gaya khasnya.

“Ayaa mau diantar kemana atau ingin makan enak apa sebelum lahiran?” Yuni menimpali.

Kami bertiga haha hihi dengan cerita random yang membuat kadar oksitosin saya meningkat. Sorenya saya masih keluar makan nasi goreng bareng Ray dan papinya. Perut saya sesekali mengencang. Sesampai di rumah, saya menemani Ray sampai tertidur. Papinya lembur kerjaan sampai shubuh seperti biasanya.

Jam 12 malam, saya terbangun karena merasakan sensasi perut yang kurang nyaman. Saya melepas pelukan Ray lalu beranjak ke kamar mandi. Ternyata celana dalam saya basah karena banyak lendir darah. Kontraksi perut sudah mulai intens, dan saya menghitungnya dengan aplikasi kontraksi nyaman Bidan Kita. Makin lama makin intens. Akhirnya saya telepon ke hotline Bidan Kita dan diminta ke Klinik kalau kontraksinya sudah interval 5-1-1.

Saya masih jalan kaki di dalam rumah, melakukan gymball dan mengatur napas. Saya meminta suami untuk memasukkan tas yang sudah saya siapkan jauh hari ke dalam mobil. Suami paham kalau saya sedang mengalami kontraksi dan segera memasukkan beberapa perlengkapan ke dalam mobil.

Saya pamitan sama Bapak Ibu di kamarnya. Ada air mata bening di mata Bapak yang saat itu sedang mengaji. Saya minta didoakan agar persalinan kali ini lancar. Ibu dan Budhe Endang melambaikan tangan di depan pintu. Lagi-lagi saya fokuskan napas sambil membenahi posisi duduk agar lebih tegak. Suami menggenggam tangan saya menguatkan.

Persalinanku Minim Trauma

Ben hadir sesuai afirmasi saya....

Suami lelah karena belum tidur, tapi saya yakin beliau semangat bertemu anak keduanya. Sesampainya di Bidan Kita, Mbak Ety dan Mbak Zulfa membukakan pintu. Sebelum diperiksa, saya ke kamar mandi dan tiba-tiba ada air berwarna hijau keluar banyak sekali. Itu adalah air ketuban dan sudah hijau, huhuhu. Saya mencoba rileks dan tidak panik.

Mbak Ety melakukan VT, dan saat itu saya sudah pembukaan 7. Secara bergantian, Mbak Ety dan Mbak Zulfa memeriksa denyut jantung Ben di dalam perut. Sekitar jam 5, saya pindah ke ruang bersalin dan suami mencari mushola untuk salat shubuh. 

Suara Bidan Yessie khas sekali dari luar ruangan. “Hallooooo..... bagaimana?”, ini pertemuan kedua kami dan beliau haaaaaangat sekali. Entah bagaimana harus mendeskripsikannya, tapi yang jelas, beliau bisa membuat saya lebih berani dan percaya diri untuk persalinan ini. Bau aromatherapy yang membuat saya lebih rileks, pendampingan bidan yang luuuuuuuar biasa cekatan. Alunan musik yang membuat saya lebih fokus pada napas daripada sakitnya kontraksi.

Bidan Yessie menawarkan beberapa pilihan posisi yang paling optimal untuk keluarnya janin. Saya juga diajari mengenali tubuh saya sendiri melalui napas. Selama 3 jam itu, saya trial error tentang napas yang paling nyaman untuk bertemu dengan Ben. Kalau kemarin ujiannya hanya melalui cubitan dan sebongkah es batu, saat itu adalah ujian yang sebenarnya—kontraksi.

Sekali dua kali aba-aba, Bidan Yessie dengan sabar memberikan pendampingan yang warbiasak. Mengusap kepala saya dengan olesan aromatherapy dan menyuruh suami saya untuk melakukan hal yang sama. 

“Yuk napasnya dipanjangin lagi, iyaaaaak gitu, pinteeer!”, beliau sekalipun tidak menjustifikasi kalau napas saya ternyata pendek. Ada yang ngusap-usap punggung saya yang panas. Ada yang menggenggam jemari dan menyemangati saya. Ada juga yang menyuapi saya. Suami mengusap kepala saya dengan wajah pias memaksakan tenang. 

Saat kontraksi datang, saya mencoba mengenali tubuh saya. Menghirup napas sepaaaaanjang mungkin. Dan mengejan dengan mengatur napas kembali. Sempat terlintas menghitung waktu, tapi pikiran itu saya buang jauh-jauh. Ada rasa ingin menyerah, tapi sekali lagi hasrat saya berpasrah untuk bertemu Ben kembali. Semakin hebat sensasi kontraksi, semakin dekat saya akan bertemu Ben.

Rambut Ben sudah kelihatan, air mata saya mengambang, tenaga dan energi saya kumpulkan lagi. Napasku patah-patah, tapi doaku terarah. Bidan Yessi mengarahkan panggul saya, memilihkan posisi yang paling nyaman dan menunggu pelan-pelan. Jam 8, kontraksi semakin  hebat, napas kupanjangkan lagi, doa kurapal dalam hati. Senter kepala Bidan Yessie menyala. Saya merasakan jari Bidan Yessie seperti menyangga kepala Ben agar pelan-pelan keluar. Tiga kali mengejan, akhirnya tangis Ben pecah.

Saya diinfus karena  banyak darah yang keluar. Dua kali diinjeksi bagian paha. Dan dijahit dua. Saya takjub saat tahu BB Ben 4.36 kilo. Dengan ridho Allah, kami bertemu dengan indah. Pemulihannya pun cepat. Saya memahami tentang makna gentle birth tidak lagi dalam tataran teori, tapi mempraktikkannya sendiri. 

Untuk cerita post partum di Bidan Kita, saya ceritakan di post kedua ya. Tentang treatment-nya, biayanya dan hal menyenangkan lainnya.



Read More »

Latihan Napas dan Prenatal Gentle Yoga di Bidan Kita


Btw, sejak usia Ben 20 weeks, saya mulai treatment di Bidan Kita. Buat memaksa tekat dan niat, saya memilih paketan—3 kali napas, 3 kali prenatal gentel yoga, ANC dan massage seharga 650 ribu. Sebelumnya hanya mengandalkan power walking, itupun seperti puasa daud, hari ini iya, besok enggak. Karena tahu diri, saya mulai memberdayakan diri biar lahirannya gampil, sekali bersin saja langsung keluar, wkwk.

Sebenarnya, channel youtube Bidan Kita banyak membagikan konten-konten gentle birth. PALUGADA, APA YANG LU MAU BIDAN KITA ADA. Balik lagi, saya butuh dipaksa dan butuh fasilitator/provider langsung untuk tahu apakah gerakan ini benar atau keliru. Parameter saya, kalau setelah treatment, tubuh saya lebih rileks, berarti gerakanku sudah benar. Jadi, kalo cuma nonton youtube rasanya kurang nampol. Tapiiii, kali ini saya latihan privat dulu, setelah tahu gerakannya, bisa praktik di rumah sendiri.

Latihan napas

Karena napas adalah koentji!

Latihan napas sama Mbak Arum

Klise sekali rasanya, tapi kalau yang bisa mempraktikkannya, pasti bisa jadi juara *senyum kalem*. Pernah merasa marah, emosi, sebal dan rasa nggak enak lainnya, terus kita tarik napas panjang banget lalu mengembuskan pelan? Saat berulang kali melakukannya efeknya bisa lebih nyaman dan tenang, kan? Saya kalo lagi cuapek banget terus hawanya pengen nge-gas, hal pertama yang saya lakukan adalah memanjangkan napas. Nah, setelah ikut latihan napas di bidan kita, napas saya mulai terlatih. Tidak hanya mengenal napas dada, tapi juga napas perut.

Menurutku, latihan napas dan prenatal gentle yoga ini adalah hal dasar yang dibutuhkan untuk mempersiapkan persalinan yang minim trauma. Mbak Arum mengajari saya napas perut yang benar itu seperti apa, karena saya masih suka terbalik-balik. Saat mengembuskan napas, perut mengempis dan saat menghirup napas, posisi perut mengembang. Makin lama (usahakan) makin panjang. Posisi punggung saya yang sering membungkuk sering dikoreksi, karena untuk memperoleh napas yang panjang, posisi bahu tegak dibuang ke belakang. Hal-hal beginian yang tidak saya dapat kalau hanya mengandalkan youtube :D.

Dan saya baru tahu kalau dalam latihan napas itu ada ujiannya, lho. Di sesi pertama, ujiannya dengan cubitan. Mbak Arum mencubit beberapa titik, awalnya berasa tapi ketika saya fokus pada napas, cubitan yang lama-lama kencang jadi tidak terasa sakit. Di sesi napas lainnya, Mbak Ety menguji pakai es batu. Tangan saya dicelup ke es batu, dan saya fokus ke napas perut. Pas pertama dicelup rasanya pengen langsung ngangkat tangan karena kayak ditusuk jarum. Saat saya mencoba fokus ke napas lagi, dinginnya es yang membuat tangan nggak nyaman menjadi biasa karena mungkin kebas. Makin lama tangan dicelup dan dioles dengan es batu lagi. Saya mencoba fokus ke napas lagi. Sampai sesi selesai, saya lulus ujian dengan es batu 😊)). Di rumah disuruh latihan pakai es batu sendiri biar lebih panjang napasnya.

Meskipun fasilitatornya berbeda-beda, karena di Bidan Kita sesuai shift yang jaga, tetapi ada record-nya kok. Saya awalnya was-was karena tipikal kurang nyaman kalau treatment berganti-ganti orang, tapi disana enak semua. Sekarang Mbak Arum, besok Mbak Ety, lusa Mbak Firda atau Mbak Zulfa. Saya yang awam dan mengajukan segudang pertanyaan, dijawab dengan (((membumi))).

Latihan napas ini tidak hanya membantu saya dalam persalinan Ben yang beratnya 4,36 kilo, tapi juga membantu saya mengelola emosi ketika capek dan lebih gentle dalam pengasuhan Ray yang lagi aktif-aktifnya. Kalau lagi capek, napas panjang-sadari-berhenti sejenak dan legaan. Setelah persalinan pun, saya masih latihan napas secara mandiri setelah bangun tidur, sebelum tidur dan sisanya bisa kapan saja sesuai kebutuhan.

Prenatal Gentle Yoga

Karena pandemi, saya searching ke 4 fasilitator yoga yang menyediakan yoga privat. Akhirnya pilihan jatuh ke Bidan Kita. Rasanya mau meluk-meluk Mbak Ety, Mbak Zulfa sama Mbak Firda deh yang menjadi fasilitator yoga saya. Fasilitatornya ganti-ganti tapi mereka enak banget kalau pas latihan. Again, untuk satu treatment, saya biasanya gak nyaman kalau ganti-ganti fasilitator. Biasanya ada pembandingan, kok ini begini sih, enak yang itu. Entah kenapa kali ini saya bisa nge-blend sama semuanya.

Tengah Mbak Zulfa, paling kiri Mbak Firda, trus yang pake kiteks Mbak Ayaa :p

Napas sama yoga ini paket combo yang bikin saya bebas dari sakit punggung selama kehamilan. Saya juga punya habbit punggung agak membungkuk, tapi sampai sekarang saya selalu membetulkan posisi tersebut dengan sadar. Seringkali kita gak sadar kalau kita jalan atau duduk dengan posisi sedikit membungkuk, padahal itu bikin capek banget lho. Coba sekarang berlatih dengan sadar buat menegakkan bahu biar napasnya lebih legaan.

Nah, setelah percaya diri ikutan kelas privat, saya mulai beli gymball, bahkan sampe dua biji biar nggak rebutan sama Ray. Dan seisi rumah juga demen pakai gymball, ahaha. Beli balok dua biji juga, tapi fungsinya ga optimal kalau yoga mandiri di rumah. Ikutan prenatal gentle yoga bikin bobo lebih pules, badan lebih seger, dan emosi lebih tertata, ahahah. Padahal kerjaan lagi padet banget, suami pun ada project yang nggak bisa diganggu. Otomatis wajib menjaga ritme biar nggak capek, karena kalo capek rentan berantem. Senggol dikit saja bacok. So, buat yang lagi hamil, latihan napas sama prenatal yoga ini bisa jadi treatment dasar untuk mengupayakan persalinan yang nyaman dan minim trauma.

Yok berdaya yok!




Read More »

Nostalgia Beternak Sapi

Di suatu siang, Yuni, sahabat karib saya nyeletuk kalau suaminya ingin beternak sapi di Boyolali. Entah kenapa, kami punya banyak kesamaan taste, sehingga obrolan kami selalu nyambung. Meskipun belum paham topiknya, salah satu diantara kami pasti menjelaskan sehingga kami sefrekuensi untuk membahas. Obrolannya pun random, dari mulai kerjaan kantor yang serius sampai hal random merk kiteks, ahaha.

Nah, kemarin sore kok ya Mas Jundi bilang kalau ada niatan mau ternak sapi lagi. Di tengah pandemi begini, apapun usaha memang perlu dicoba. Meski sekali, dua kali bahkan berkali-kali gagal karena terkendala beberapa hal. Seperti halnya keinginan beternak sapi lagi. Mau ditaruh dimana kandangnya? Pertanyaan yang paling mendasar dan membuat kami tertawa geli.

Kalau ternak kambing gimana, Mas? Mas Jundi memberikan jeda sejenak untuk menjawab. Tapi sepertinya dari gesturnya, beliau kurang minat. Sebenarnya di rumah kami, Mas Jundi sudah membudidayakan burung. Hampir sepuluh tahun beliau menekuni ternak jalak, lovebird dan muray.


Nostalgia beternak sapi

Bapak sangat memperhatikan pendidikan kami, sehingga kami berempat tuntas menyelesaikan S-1. Beliau tidak peduli dan tidak iri dengan teman-temannya yang memiliki rumah bagus, motor dan mobil yang pada masa itu masih termasuk barang mewah. Yang menjadi prioritas Bapak adalah menyekolahkan kami sampai perguruan tinggi. Ibu yang notabene Ibu Rumah Tangga juga mendukung penuh hal tersebut. Kalau dipikir-pikir, mana cukup gaji seorang guru untuk membiayai kuliah 3 anak. Waktu itu Mas Agus, Mas Jundi dan Mas Joko seperti berbarengan buat biaya pendidikan. Jadi, Bapak Ibu tidak hanya mengandalkan gaji, tapi mengolah sawah dan beternak sapi adalah jalan ninjanya, ahaha.

Keluarga kami pernah punya 4 sapi. Kandangnya pas di depan rumah lama, sebelum kami berpindah di rumah baru karena gempa di tahun 2006 lalu. Mencari rumput dan jerami dan menumpukan untuk cadangan makanan, rutin memberi minum pagi dan sore. Rasanya rutinitas itu sangat membekas buat saya. Karena setiap jadwal membayar SPP, sapi yang paling gemuk dijual. Lalu Bapak membeli sapi kecil untuk diternak lagi. Beternak sapi seperti investasi kala itu.

Hal yang paling tidak mengenakkan adalah saat kami sekeluarga merelakan salah satu sapi kesayangan mati karena sakit. Padahal sapi itu gemuk dan sudah ditawar dengan harga tinggi. Huhu.

Butuh Dokter Hewan Andal

Rumah kami belum familiar dengan dokter hewan yang andal. Hanya ada mantri yang kebetulan waktu itu sedang keluar kota. Jadi apesnya tidak bisa memberikan pertolongan pertama pas sapi hanya duduk diam saja *cry*. Trus sorenya udah mati, huhu. 

Coba kalau sekarang ya, dokter hewan setidaknya sudah tidak langka lagi. Bahkan memelihara kucing atau anjing sebagai hobby sudah marak dilakukan oleh orang di sekitar sini. Kalau kucingnya sakit, langsung bergegas ke dokter hewan terdekat. 

Musim pandemi begini, kalau mau konsultasi dokter hewan bisa secara online lewat aplikasi halodoc. Ada banyak dokter hewan andal yang praktik disana. Langsung berandai-andai kalau duluuuuuuu sudah kenal aplikasi ini, pasti  bisa langsung konsul langsung ke dokter sebagai pertolongan pertama pada sapi kesayangan kami.

Ah iya, buat daftar aplikasi halodoc juga mudah banget lho. Pakai no handphone, verifikasi, selesai deh. Bisa pilih dokter sesuai dengan kebutuhan. Buat yang suka memelihara hewan kesayangan atau ada yang beternak hewan, bisa mengandalkan aplikasi ini kalau ada keluhan sama hewan kesayangannya.

Read More »