Featured Slider

Liburan Singkat di Masa Pandemi

Kondisi pandemi ini membuat saya sering merasa burnout. Honestly, semula pilihan work from home saya kira adalah pilihan terbaik karena saya bisa kerja dan momong anak di rumah. Realitanya saya justru sering merasakan kelelahan dan berujung emosi, huhu.


Dalam seminggu, saya memilih satu atau dua hari untuk work from office. Pilihan itu ternyata lebih membuat saya waras karena bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan domestik. Pun ketika di rumah, saya bisa momong dengan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang bersifat administratif.

Nah, mungkin beberapa waktu lalu sudah mencapai puncaknya. Entah kenapa saya kehilangan ritme karena kerjaan overload dan saat di rumah kedua jagoan saya rewel bergantian. Suami pun merasakan demikian. On site di beberapa daerah dan ketika di rumah masih harus remote pekerjaan. Kerja kok kayaknya 24 jam nggak ada jeda, ya. Batin saya.

Liburan Nyaman dengan TRAC To Go

Saya dan suami menyadari kalau kami perlu jeda sejenak. Karena kalau dibiarkan berlarut-larut bisa berdampak kemana-mana, yang paling seram adalah kedua anak kami, huhu. Makanya saya menginisiasi buat liburan singkat. 

Kami berdua sepakat mengosongkan waktu 3 hari untuk refresh berempat bersama Ray dan Ben. Saya yakin, anak-anak juga membutuhkan itu, karena selama pandemi ini mereka berdua bermain di rumah saja. Karena ingin quality time, kami memutuskan sewa mobil via aplikasi TRACToGo. Suami nggak perlu capek nyetir, tapi bisa menemani saya memegang Ray atau Ben.


Saya menyadari kondisi pandemi memaksa kita untuk bijaksana memilih. Jadi, meskipun bepergian, saya tetap selalu memerhatikan protokol kesehatan. Saya memilih hotel yang menjalankan protokol kesehatan dengan baik dan tentunya tidak berkerumun. Selain itu, kami juga memilih transportasi yang telah menerapkan smart protokol: TRACToGo.

Unit mobilnya TRACToGo disemprot rutin dengan disinfektan setiap sebelum dan sesudah digunakan. Pengemudi yang bertugas juga dipastikan telah melalui pemeriksaan kesehatan, dan mewajibkan penggunaan masker serta sarung tangan. Dalam mobil disediakan hand sanitizer hingga menerapkan physical distancing dengan membatasi jumlah penumpang.

TRACToGo Experience

Nah, saya mau mengulas tentang fitur terbaru TRACToGo, nih. Ada fitur “Experience” yang dimiliki aplikasi TRACToGo. Melalui fitur ini, kita dapat memilih paket wisata yang disediakan oleh masing-masing cabang TRAC yang ada di berbagai kota di Indonesia, lho. 

Saat mengulik fiturnya, dalam produk Experience ini juga tersedia berbagai pilihan akomodasi mulai dari mobil penumpang berkapasitas 4 orang sampai bus dengan kapasitas hingga 45 orang. Enaknya lagi, mereka bekerja sama dengan vendor-vendor terpercaya seperti hotel bintang 4 dan 5, tempat-tempat wisata, serta beberapa restoran yang otentik. Sehingga menjadikan layanan TRAC semakin lengkap untuk mengisi liburan keluarga.

Kami sangat terbantu dengan layanan ini. Benar-benar kemudahan dan kenyamanan dalam genggaman. Kita bisa klik-klik via aplikasi dan memilih paket yang dibutuhkan. Btw, seringkali ada promo yang membuat budget liburan lebih hemat.

Sekadar sharing, selain sewa mobil dengan pengemudi seperti yang kami  lakukan. Di TRAC juga bisa sewa mobil lepas kunci/self drive. Jadi teman-teman bisa pergi kemanapun dan bebas mengatur waktu perjaalanan dengan menyewa mobil lepas kunci. Don't worry, keamanan tetap terjaga kok. Karena ada jaminan kondisi mobil yang prima dan ada asuransi perjalanannya juga. Bisa menyesuaikan mau pilih sewa 12 jam atau 24 jam dengan opsi tambahan waktu atau perjalanan keluar kota sesuai keperluan kita. 

Kalau mau santai menikmati perjalanan, bisa memilih kayak saya tadi, sewa mobil dengan pengemudinya. Layanan ini sudah termasuk dengan sewa mobil, pengemudi, asuransi perjalanan, biaya bensin, tol dan parkir. Pengemudinya andal dan ramah banget. Makanya, yang punya dua batita seperti kami sangat menikmati adanya pelayanan seperti ini. Untuk mendapatkan promonya, teman-teman bisa cek berkala di fitur TRACGoTo Experience-nya.

Nah, buat teman-teman yang penasaran, kalian bisa download aplikasinya juga melalui Google Play Store maupun Apple Appstore, di bawah ini:
Ssst, kita tidak pernah tau pandemi ini kapan berakhir. Makanya kita juga perlu adaptasi sana sini. Terapkan smart protokol dan mematuhinya. 
Read More »

Mau Terhindar dari Beser? Beberapa Tips ini Patut Dicoba!


Selama masa kehamilan dan pasca melahirkan kemarin, ada hal yang membuat saya tidak nyaman sekali, huhu. BESER! Terdengarnya sepele, tapi ternyata berdampak serius kalau tidak segera diatasi. Sebenarnya saya juga pernah mengalami hal tersebut, dan parahnya saya mengabaikannya karena belum memiliki pemahaman kalau beser itu memiliki efek yang seserius itu. Dan ternyata saya tidak sendirian, karena berdasarkan penelitian, 40% pasien yang beser tidak berkonsultasi mengenai gejala yang mereka alami kepada dokter *sad*.

So, saya perlu banget sharing tentang ini biar teman-teman lebih aware. Beser atau overactive bladder (OAB) merupakan kondisi dimana sistem berkemih kita tidak bekerja secara semestinya. Buang air kecil lebih sering saat ada kontraksi kandung kemih. Kalau kata lagu sih, LOS DOLL! Wkwkw. 

Kenali Gejala Beser Yuk!

Saya sempat memiliki asumsi kalau saat hamil dan pasca melahirkan memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami beser. Ternyata asumsi saya keliru! Ternyata resiko beser bisa dialami oleh siapa saja. Usia muda maupun tua juga bisa banget mengalaminya, huhu. 

Fakta lainnya, beser ini tidak disebabkan karena terlalu banyak minum. Jadi, yang selama ini merasa ketakutan minum air putih karena takut beser, please stop pemikiran tersebut, karena ternyata tidak ada hubungannya. Justru kalau kekurangan air putih bisa membuat infeksi kandung kemih *cry*.

Untuk kesehatan tubuh, kita dianjurkan untuk mengonsumsi air sebanyak 6-8 gelas tiap hari. Sebaiknya dalam sekali minum, tidak sekaligus dalam jumlah banyak, seperti saat sedang makan. Demi menghindari nocturia (BAK di malam hari), sebaiknya minumnya lebih banyak di siang hari dibanding malam hari. Sssst, jumlahnya tetap 6-8 gelas, hanya manajemen waktu minumnya saja yang diatur. Please, jangan malah  mengurangi asupan air karena takut beser.

Saya mau sharing tentang gejalanya nih, biar teman-teman lebih aware dan tidak mengabaikannya kalau mengalami gejalanya. Apa saja? Yuk simak beberapa gejala beser yang pernah saya alami:

  1. Urgensi. Gejala ini terjadi saat ada hasrat berkemih yang sangat urgen dan suuuuulit diabaikan. Pengalaman saya dulu, saya biasanya menyilangkan kaki dan menangkupkan kedua tangan di kemih karena saking nggak bisa nahan pipis.
  2. Inkontinensia Urgensi. Kondisi ini lebih dari urgen, yaitu ketika kita sampai nggak bisa nahan pipis dan ngompol. Saya pernah memakai pembalut karena takut banget ngompol, huhu. Karena kalau ngompol, otomatis saya harus ganti celana dalam tiap mau salat. Jadi saya prefer ganti pembalut saja waktu kena beser.
  3. Frekuensi berkemih meningkat. Kalau sering buang kecil lebih dari 8 kali dalam sehari, berarti harus waspada. Karena salah satu gejala beser saya dulu juga karena sering bolak balik kamar mandi lebih dari 10 kali ☹.
  4. Nokturia. Kalau teman-teman terbangun untuk berkemih lebih dari sekali di malam hari, please be aware, ya. Karena itu juga salah satu gejala beser.

Dampak Beser yang Perlu Kita Ketahui

Biar teman-teman nggak mengabaikan dampak beser, sekalian saya ulas deh dampaknya yang wajib kita ketahui bersama:

  1. Nggak nyaman dan merasa tidak bebas. Ketika rapat, saya merasa tidak nyaman ketika mengalami beser. Ada perasaan tidak bebas dan was-was “jangan-jangan di tengah acara nanti saya beser”, batin saya.
  2. Rasa percaya diri berkurang. Setelah melahirkan, saya mengalami beser selama 2 hari, huhu. Percaya diri saya terjun bebas karena sering mengompol. Saya berkemih sebelum sampai ke kamar mandi, huhu. Untung bidannya baik banget. 
  3. Cenderung mampu terserang infeksi saluran kemih, infeksi kulit dan masalah tidur. Sehingga menyebabkan kualitas hidupnya rendah.
  4. Berdasarkan penelitian, penderita beser juga memiliki resiko terjatuh sebesar 26% dan 1/3-nya mengalami patah tulang, huhu.

Masih yakin mau abai terhadap beser?

Tips Terhindar dari Beser

Nah, setelah mengalami betapa tidak enaknya beser dan efeknya, saya sekalian mau sharing tipsnya biar kita bisa terhindar dari beser 

  1. Kegel. Setelah melahirkan kemarin, bidan menyarankan untuk senam kegel agar beser saya tidak semakin parah. It’s work! Senam ini melatih otot dasar panggul agar lebih kencang. Otot ini menopang organ di dalam panggul termasuk kandung kemih, sehingga bisa membantu mengendalikan pola berkemih kita pada 3-4 jam sekali.
  2. Menjaga pola makan. Yang demen makan pedas, minum kopi atau soft drink yang beralkohol, yuk dikurangi. Bagi yang mengalami obesitas bisa menurunkan berat badannya pelan-pelan, karena meningkatnya berat badan bisa menyebabkan tekanan kandung kemih, bahkan bisa mengompol. Pokoknya kuncinya di menjaga pola makan. 
  3. Hindari tertawa dan batuk berlebihan. Saya pernah mengalami kondisi keduanya. Tertawa sampai ngompol, wkwkw. Batuk juga pernah terpingkal-pingkal sampai ngompol. Hayo ngaku, kalian juga pernah kan? Ahaha. Jalan ninjanya cuma menghindari trigger biar nggak ketawa atau batuk berlebihan sih.
  4. Don’t smoking!
  5. Usahakan BAB lancar ya. Untuk poin ini, teman-teman bisa melakukan poin 2 dengan konsisten. Yok bisa yok!
  6. Konsumsi obat sesuai anjuran dokter. Kalau sudah tidak bisa menghindar, wajib ke dokter biar besernya nggak berlanjut. Kalau permasalahan ini, datangnya ke dokter spesialis urologi. Biasanya dokter akan meresepkan obat antikolinergik/antimuskarinik yang dapat merelaksasikan kandung kemih.

Buat teman-teman yang mau tahu tentang informasi mengenai pencegahan dan penyembuhan beser, bisa follow akun Instagram @beser_indonesia atau like fanspagenya Facebooknya Beser Indonesia. Selain itu bisa mengunjungi website www.beser.id juga, lho. Beberapa tipsnya bisa kita aplikasikan biar terhindar dari beser dan tentunya tahu lebih mendalam tentang mitos dan fakta mengenai beser 😊.

Referensi:

Pengalaman pribadi

https://www.beser.id/index.php/dampak 

https://www.beser.id/index.php/penanganan 

https://www.beser.id/index.php/kenali


Read More »

Review Scarlett Brightly Ever After Serum

Selama hamil Ben, saya jarang sekali memakai skincare. Entah kenapa, saya merasa maaaaaaalas banget buat moles maupun bersolek. Efeknya, wajah saya menjadi kering dan kusam, huhuhu. Setelah melahirkan, saya mulai berbenah diri. Memakai bengkung agar perut mulai pulih. Dan memakai skincare lagi agar wajah lebih cerah dan tentunya hal ini bisa menambah percaya diri :).

Di sela mengasuh Ray dan Ben, saya menjadikan waktu skincer-an sebagai ajang untuk "escape" dan switch dari peran Ibu menjadi diri sendiri. Nah, kali ini saya mau review serum dari Scarlett nih. Kemarin dapat rekomendasi dari teman, kalau serumnya bisa lebih mencerahkan kulitnya. Pas banget dengan kebutuhan kulit saya. Nah, setelah beberapa Minggu mengaplikasikan di kulit, saya ingin sharing tentang serum Scarlett ini. Here we go!

Review Scarlett Brightly Ever After Serum

Jadi, Scarlett baru saja mengeluarkan 2 produk serum wajah: acne serum dan brightening serum. Sesuai dengan namanya, acne serum yang kemasannya berwarna ungu diperuntukkan untuk kulit wajah yang berjerawat dan yang brightening serum dengan kemasan pink untuk kulit normal yang fungsinya untuk mencerahkan. Saya pakai yang brightening serum karena pas banget dengan kondisi kulit wajah saya yang kering dan kusam.

Product Knowledge:

Tekstur dan Packaging 

Menurutku, teksturnya cukup kental, namun setelah diaplikasikan di kulit saya, reaksinya cepat meresap & mudah diratakan dikulit. Serumnya berisi 15 ml. Setelah pemakaian 2 minggu, isinya masih lumayan banyak. Karena memang pengaplikasiannya hanya 2-3 tetes saja. So, untuk serum yang dibandrol seharga 75K, menurutku sangat terjangkau dari sisi harga dan pemakaiannya.

Untuk kemasan serumnya berbentuk botol kaca doff pipet mini berwarna pink. Menurutku, kemasan serum ini travel friendly karena praktis dan ringan saat dibawa ke kantor. Kalau pagi saya nggak sempat touch up di rumah karena takut ketinggalan kereta, saya pakai skincare-nya di kantor. Saat masuk ke tas pun, tutup botolnya kokoh tidak riskan tumpah. Karena saya punya pengalaman bawa serum dan ketika masuk tas, ternyata tutupnya rawan lepas dan isinya tumpah, huhuhu.


Yang paling bikin jatuh cinta lagi, serum ini sudah terdaftar di BPOM. Untuk menandai produknya original atau tidak, bisa langsung scan stiker hologramnya.  Ssst, kemasannya juga recycleable, lho!


Kandungan dan Manfaatnya

Ingredient List - Aqua, Nicotinamide, 1,3 Butylene Glycol, Lavandula Angustifolia (Lavender) Water, Ascorbyl Glucoside, Arisaema Amurense Extract, 2-Phemoxyethanol, Hydroxyethylcelullose, Glutathione, Amimomethyl Propanol, Ethyl Macadamiate, Decyl Glucoside, Pentane-1,2-diol, Di Na EDTA, Ethylhexylglycerin, Tamarindus Indica Seed Gum, Biosaccharide Gum-1, 1,2-Hexanediol, 2-Amini-1-Butanol, Tocopherol, Malic Acid, C.I 16255


Terus manfaatnya apa saja sih? Sebelum memutuskan memakai serum ini, saya searching dulu tentang fungsi kandungannya. Nah, beberapa kandungan serumnya memiliki manfaat berikut:

  • Lavender Water, melawan bakteri penyebab jerawat, mengatasi peradangan pada kulit, detosifikasi kulit, meningkatkan sirkulasi darah & menghaluskan kulit. Phyto Whitening, mencerahkan wajah dalam waktu dan sangat aman bagi kulit, tanpa menyebabkan iritasi.
  • Niacinamide, melembabkan kulit, mengatasi jerawat, menyamarkan noda hitam, dan mencegah kanker kulit melanoma.
  • Glutathione, meningkatkan kelembapan dan elastisitas kulit, memberikan perlindungan dari radikal bebas, membuat kulit lebih sehat dan terlihat glowing.
  • Vitamin C, membantu menghilangkan flek & bekas jerawat, mencegah dan melidungi kerusakan sel dan jaringan kulit akibat paparan radikal bebas yang menyebabkan penuaan dini pada kulit. 

How to use:

Cara pemakaiannya dengan meneteskan 2-3 tetes serum ke wajah. Bisa langsung meneteskan pipetnya ke wajah atau di teteskan dulu di telepak tangan baru di tap-tap ke wajah, bebas! Lalu, tap-tap dan pijat secara perlahan sampai merata di kulit. Tunggu beberapa waktu sebelum menggunakan skincare lainnya agar serum dapat meresap dengan baik. Biasanya saya menunggu 10 menit untuk memastikan serumnya meresap sempurna.

Oh iya, kunci skincarean itu pada konsistensi ya. Jadi, penggunaannya bisa optimal di kulit, kalau kita rajin. Saya memakai serum ini 2x sehari. Meski pagi-pagi rusuh, saya menyempatkan untuk skincarean. Dan malam hari sebelum tidur. Untuk pagi hari kadang sering bolong, huhu. Tapi malam hari bisa konsisten, karena anak-anak bisa dikondisikan.

Testimoni

Setelah pemakaian kurang lebih 3 minggu (dan akan memakai terus sampai habis dan repurchased!), serum ini melembabkan kulitku yang sebelumnya kering. Ketika diaplikasikan di kulit pun tidak terasa lengket meskipun teksturnya cukup kental. Dan yang paling penting, kulitku tidak breakout setelah pemakaian ini.

Kandungan yang diklaim dapat mencerahkan dan melembabkan kulit ternyata berfungsi dengan baik di kulitku. Karena kondisi kulitku membaik setelah pemakaian serum ini. Yay! Kulitku tidak kusam dan tidak mudah kering. Buat teman-teman yang memiliki kulit kering dan kusam, apalagi setelah persalinan, bisa coba juga serum ini. Affordable banget!

Review singkat Scarlett Facial Wash

Selain memakai serumnya, saya mau mereview singkat facial washnya juga. Saya memakai 2x sehari juga. Pagi hari untuk mengawali tahap skincare, dan sore hari untuk double clenasing. Kandungan aloevera-nya menyejukan dan melembabkan kulit wajah. Setelah pemakaian, kulit wajahku terasa lebih lembut. 


Oh iya, produk ini ada variannya untuk jenis kulit berminyak dan jenis kulit normal lho, jadi teman-teman bisa menyesuaikan dengan jenis kulit. Kemasannya menarik karena isinya ada seperti sakura, hehe. Tutup botolnya kuat dan tidak mudah tumpah. Botolnya pun kokoh, sehingga tidak mudah pecah saat jatuh. Aroma rose petalnya unik dan membuat rileks. Saat diaplikasikan di wajah, tidak banyak busa dan membuat wajah saya lebih lembab dan gak kering. Luv banget pokoknya sama serum dan facial washnya Scarlett ini.

How to buy?

Teman-teman ingin nyobain face care dari scarlett juga? Nah, mumpung banyak promo di shopee, bisa langsung order nih. Kalian bisa menyesuaikan jenis kulit biar lebih mantap jawa hasilnya. Cuss ke shopee (https://shopee.co.id/scarlettofficialshop) yak! Harganya cukup terjangkau di kantong kok. Semua varian serum scarlett baik brightly maupun acne, masing-masing dibandrol 75k saja.

Setelah ini saya mau nyobain bodycare nya yang kata sohib saya wanginya enak. Saya beneran lagi butuh me time pasca melahirkan dan hectic ngurus Ray sama Ben. Ternyata Scarlett mengerti kebutuhanku :)


Read More »

Ben Khitan

Kalau saya bisa gentle birth, tentunya Ben juga bisa gentle khitan, dong ya (?) Batin saya, wkwkw. Sejak usia 7 hari, saya sudah searching tempat khitan yang sesuai mau saya; cepat pulih, nyaman buat anak dan ga bikin begadang ibunya kalo rewel *teteup.


Baca: Persalinan Gentle Birth Ben

Berkiblat dari khitan Ray yang masih lekat diingatan saya; harus melalui serangkaian medis, cek darah, infus, anestesi total dan rawat inap. Waktu itu saya belum punya referensi yang utuh tentang khitan, huhu. Yang saya pahami, waktu itu saya harus mengkhitan Ray sebagai solusi fimosisnya. Titik.

Baca juga: Ray Khitan!

Ngobrol sama suami udah sefrekuensi. Tinggal merayu keempat orangtua kami. Sebenarnya kami bisa saja langsung mengkhitan, baru memberitahu mereka. Tapi rasanya kok nggak sreg. Seperti yang sudah saya duga, orangtua kami kurang setuju karena kasihan. Masa iya masih bayi harus dikhitan. Tapi saya meyakinkan kalau pilihan kami sudah melalui riset :p. Ada beberapa pertanyaan kenapa masih bayi sudah dikhitan dan bikin jiper bapak ibunya buat melaksanakannya. Padahal menurut saya hanya soal budaya dan habbit saja, toh nanti juga bakal dikhitan juga kan (?)

Ini sih jawaban saya kalo misal ditanyain kenapanya

  • Kalau khitan sejak bayi, pemulihannya lebih cepat. Kulit bayi kan masih mudah, jadi kalau luka gampang pulihnya. Ini sih cocoklogi saya.
  • Menghindari fimosis. Cukup Ray aja ya yang dipaksa khitan karena fimosis
  • KENAPA ENGGAK? Ahahaa. Jawaban paling lugas kalo ditanyain.

Solo Khitan Center

Saya lalu mengirimkan massage ke Dokter Ahmad, owner Solo Khitan Center. Kami lalu berdiskusi intens via whatsapp. Beliau menjawab setiap pertanyaan saya dengan detail dan memberikan edukasi via youtube yang mengupas tuntas tentang khitan. Yang awalnya saya udah mantep, jadi makin mantep lagi buat mengkhitan Ben :).

Saya tinggal menunggu waktu longgar suami dan mempersiapkan jiwa raga saya sehat, ahaha. Karena saya sadar, tupoksi saya nanti hampir 90 persen untuk menemani Ben buat recovery-nya *napas panjang*.

Suami jerih sekali kalau harus menunggui anaknya imunisasi atau hal-hal beginian. Jadi beliau menawarkan diri untuk ngepuk-puk dan mijitin saya saja karena ga kuat melihat anaknya nangis kesakitan. 

Bersiap untuk Khitan

Saat tau kalau suami longgar sebelum lebaran, saya menjadwalkan ke dokter Ahmad untuk khitannya Ben. Sebelum lebaran kurang dua hari. Saya juga sudah menyugesti diri sendiri untuk lebih sabar dan lapang kalau-kalau nanti Ben rewel, wkwkw. 

"Semangat ya, Yang! Ini beneran mau sekarang khitannya?" Padahal kami tinggal gas aja ke Solo, tapi pertanyaan suami kayak ragu.

"Yuk! Bismillah", jawaban saya mantap.

"Tapi nanti adik yang megangin kan (?)", pertanyaannya melemah lagi.

"Iya sayangku. Ayo, nanti keburu sampe sana magrib" saya meyakinkan suami yang mulai jerih membayangkan anaknya mau dikhitan.

Seperti pesan dokter Ahmad, saya menyiapkan diapers yang sizenya lebih besar. Size normal Ben adalah s, tapi saya memakaikan diapers bekas Ray yang berukuran XL. Saran dokter sih yang tipe perekat, tapi saya pakai yang tipe celana dan alhamdulillah Ben nyaman memakainya.

Sampai lokasi, saya dikasih parasetamol untuk diminumkan kepada Ben. Setelah itu dipersilakan masuk ke ruangan. Rencananya hanya saya yang menemani Ben, tapi ternyata papinya juga ikut dipanggil buat megangin. Papinya memilih memegang kedua tangannya, saya bagian kaki.

Dokter Ahmad tidak menjelaskan panjang lebar karena saya sudah melihat ulasan video youtube tentang seluk beluk khitan. Toh sebelumnya kami juga sudah diskusi dengan beliau.

Saya memilih metode klamp untuk khitan Ben. Dokter memasang alat seperti kulup penutup di penis yang dikhitan. Lebih enak banget karena kalau dikasih diapers, penisnya nggak kesenggol-senggol. Ben nangis sebentar waktu disuntik bius di bagian atas dan bawah penisnya. Sementara Dokter Ahmad menandai bagian penis yang akan dikhitan dengan spidol. 

Saya denger ngguntingnya krak krek, tapi ga berani melihat langsung. Tangan saya hanya memegangi kedua kaki Ben. Papinya mengajak ngobrol Ben untuk mengalihkan perhatian. Prosesnya cepet, sekitar 10 menit. Nah, klamp ini nanti akan dicopot sekitar 5-7 hari setelah khitan.

Masuk buka puasa, wajah papinya udah pucet karena sebenernya beliau beneran takut nungguin Ben khitan. Dan ga punya opsi bilang enggak dong buat nemenin :D

Setelah buka puasa sebentar, kami pamit pulang. Belum 5 menit jalan, Ben mulai nangis. Mungkin sudah mulai nyeri. Saya memeluk sambil mengepuk-puk bilang nggak apa-apa nangis, Ibu sama Papi akan menemani sampai pulih. Sakit ya sayang? Ini kalo Ben udah bisa ngomong pasti jawab "Ya sakitlah, titit dipotong kok ga sakit", ahahah.

Pasti nyeri dong, dan itu wajar banget. Tangis bayi justru bisa memberikan signal kapan harus memberikan parasetamol. Kami memutuskan berhenti di tepi jalan. Saya memegang tangan papinya biar agak tenang, karena saya tau banget beliau daritadi menyembunyikan rasa gelisah dan piasnya melihat anaknya nangis nyeri. Saya meyakinkan kalo keputusan kami benar dan tidak ada rasa guilty.

Setelah minum parasetamol dan nenen, Ben tertidur. Sampai di rumah masih saya gendong dan peluk karena Ray gemes banget godain Ben. Sekitar jam 10 malam, Ben merasa kurang nyaman dan saya memberi parasetamol lagi. Setelah itu Ben baru mau ditaruh di kasur sambil becanda bertiga sama Ray. Ekspektasi saya kalau malamnya harus begadang patah, karena Ben lelap banget boboknya sampai sahur.

Eyang kakung sama eyang putrinya heran kok ga rewel, wkwkw. Yha kalo rewel, saya bisa digiles sama mereka berdua karena sudah mengkhitan cucu kesayangan mereka dan akan menguatkan dalil mereka kalau mengkhitan bayi itu kasihan kesakitan. Saya ga mau sambat sama mereka, ahahha.

Proses recovery

Paginya adalah ujian memandikan. Hamdallah ada klamp karena penisnya nggak kesenggol sana sini :p. Ternyata memandikan Ben juga nggak rewel. Sampai pada suatu ketika harus memberikan betadin di luka khitannya, huhu. Auto nangis dong. Saya kasih parasetamol lagi untuk meredakan nyerinya. Trus, dia tidur dengan nyaman.

Saya konsul ke dokter untuk skip obat-obatan dan salah satunya betadine. Karena tiap dikasih betadine, Ben nangis, huhu. Penggunaan parasetamol dianjurkan setiap 3-5 jam sekali, tergantung rasa nyerinya. Kalau saya, misal Ben merasa tidak nyaman dan nangis sambil menghentak-hentakkan kaki, itu signal kalau dia sedang nyeri.

Suami sempat kekeuh buat ngasih betadine biar recovery cepet, tapi saya bilang ga mau. Karena saya yang megang lho kalo rewel :(. Saya baru searching obat apa yang bikin kering luka tapi ga sakit.

Kadang pada suka gitu ya, teorinya cakep banget suruh ngasih ini itu. Tapi suruh praktik sendiri jerih. Papinya denger nangis anaknya bisa mendelegasikan ke ibunya. Lha ibunya jadi garda terdepan, wkwkw.

Biaya

Kami mengambil paket gold seharga, 1.1 juta. Itu harusnya tambah bonus satu lagi yang belum ditulis dokternya disitu: FREE PENDAMPINGAN DAN KONSUL SAAT PEMULIHAN. Saya sangat terbantu bisa bertanya interaktif saat pemulihan. Dokternya juga memantau menanyakan apakah rewel, bagaimana progresnya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang ujungnya jadi kalem karena merasa teredukasi. No panik-panik club, ahahah. 

Kalo dalam persalinan ada istilah gentle birth. Di Dokter Ahmad bisa dibilang gentle khitan, karena dari proses mulai mengkhitan sampai hari kedua pemulihan ini, saya apalagi suami yang merasa panik kalau anaknya nangis karena sakit, jadi lebih tenang. Suami yang awalnya takut menunggu proses khitannya, bisa cukup tenang mendampingi karena dokternya mengajak ngobrol sepanjang mengkhitan sampai selesai. 

Lho, ini udah, Dok? Pertanyaan saya karena memang prosesnya cepat. Wkwkw. Murah atau mahal itu relatif. Tapi buat saya, mendampingi Ben dengan sadar dan waras saat khitan adalah kuncinya. Ada pos uang senang-senang sebenarnya, tapi tidak terpakai kali ini karena memang saya melaluinya dengan nyaman sekali. Ben nangis iya, tapi tidak serewel yang saya bayangkan. Membuat saya gagal beli boba dan makanan enak buat mentreatment diri sendiri karena sebelumnya saya membayangkan bakalan cuapek banget. 

Mau khitan? Bisa tanya ke dokter Ahmad deh di 6282136707568 atau yang di area Solo bisa langsung ke kliniknya Solo Khitan Center dil Jl. Pamugaran Hijau Jamrud 5B, Kadipiro, Banjarsari, Surakartah Yang mahir membaca google maps bisa klik https://maps.app.goo.gl/NjtXZFs2UYP5Z3qZA ya. Kalo kemarin saya seperti thowaf dikerjain google maps. Muter nguplek beberapa kali dulu baru ketemu lokasinya, wkwkw. 

Hallo aunty, uncle, Ben udah khitan lho. Selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin ya :)


Update lepas klamp

Ah iya, saya mau update tentang lepas klamp ya. Kami melepas klamp di hari kelima. Paginya Ibu bikin mong-mong, eheheh. Nasi gudang yang di atasnya dikasih pupukan irisan telur dan dibagikan ke tetangga. Tidak ada perayaan, tidak ngundang jathilan, wkwk. 

Janjian sama dokter Ahmad lagi, jam 6 berangkat dari rumah. Sampai Solo setengah 8 pas. Ternyata ada kebakaran di rumah beliau yang menyebabkan mati lampu. Saya berasumsi tinggal melepas klamp aja, ternyata butuh effort yang membuat bayi agak tidak nyaman.

2-3 menit Ben nangis. Selepas itu ceria lagi. Lagi-lagi wajah papinya pias melihat bujangnya nangis kesakitan. Sesampai di rumah Ben mandi dan sampai tulisan ini saya update kembali, anaknya sudah haha hihi.


Read More »

Ibu yang tenang

Beberapa hari ini, Ray terasa gloomy. Nangis tanpa sebab, teriak kencang-kencang untuk meluapkan kekesalan yang entah kesal kenapa. Dan memancing hal-hal yang membuat saya marah. Saat itu, saya ingin memeluk-meluk Ibu saya yang sedang menunggu Bapak di rumah sakit. 2 hari ditinggal Ibu, rasanya waktu berjalan aaaaamat lambat. 


Ray dan Ben menangis bergantian, dan Ray memaksa untuk minta gendong gantian. Dari awal memiliki Ben, saya berjanji untuk tidak akan memaksakan Ray tumbuh dewasa sebelum waktunya. Dia masih ingin dan butuh saya di sisinya. Jadi ketika dia ingin ditemani bermain, padahal saya sedang memegang adiknya, saya harus memasang rem pakem agar tidak marah dan tidak memaksa Ray untuk mengerti keadaan saya. Biasanya saya hanya bilang "Sebentar ya Mas, beri Ibu 5 menit biar adik Ben kenyang menyusu. Setelah itu, Ibu akan menemani bermain sepuasnya".

Saat hatinya sedang lega, Ray akan riang menerima dan dengan senang hati menunggu. Tapi kalau pas saya lagi apes, Ray tidak akan memberikan waktu saya. Endingnya bisa ditebak. Nangis!

Menjadi Ibu yang tenang

Saya remidi berkali-kali tentang ini. Tapi, saya tidak akan jera untuk mencoba lagi. Karena menjadi Ibu yang tenang saaaaangat berpengaruh di semua lini. Mengasuh jadi kalem, ngadepin tuntutan banyak orang tidak akan gentar. Tuntutan? Iya. Sadar atau tidak, beban seorang Ibu bisa 3x lipat dibanding bapaknya dalam pengasuhan anak. Kan kampret! *duh misuh kan*.

Kalau lahiran scesar, salah ibu. Anak minum sufor, salah ibu. Anak pilek, salah ibu *minum es terooooos*. Pokoknya seakan-akan tanggungjawab anak itu mengarah pada ibunya. Kan kampret ya! *tuh kan misuh lagi*.

Balik lagi saya mau curhat (perasaan daritadi kan curhat yhaa). Saya sempat kehilangan kendali karena semua bertumpu pada urusan anak-anak. 24 jam hanya gantian pegang Ray dan Ben.

Cari bantuan

Masih ingat kuis who wants to be a millionaire? Duh ketahuan angkatan lama ya, wkwk. Ada 3 pilihan bantuan yang bisa diambil. Fifty-fifty, ask the audiens dan phone a friend. Dalam posisi ini, saya memilih opsi phone a friend. Mencet nomer sahabat saya yang punya anak tiga. Pengen cari geng sambat biar nggak merasa sendirian.

Btw, kalau kalian mengalami hal yang sama, jangan sungkan cari bantuan. Capek itu manusiawi, apalagi momong bocah yang lagi aktif-aktifnya. Cari bantuanpun harus yang sefrekuensi. Jangan sampai kalian sambat tapi malah patah hati karena mendapat feedback yang bikin ambyar berkali-kali.

Don't judge, please!

Punya anak membuat saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah saya lebih open minded dan tidak langsung menjustifikasi orang lain, terutama ibu baru. Saya nggak masalah sesar vs normal, sufor vs asi atau hal-hal lain yang pada dasarnya sudah beda dan endingnya hanya akan saling menyakiti perempuan.

Mengurus anak-anak itu capek. Jadi, ketika ada yang mengeluhkan hal itu, cukup dengarkan dan tidak perlu menjustifikasinya ini itu. Begadang, rahimnya yang masih basah bekas jahitan, payudaranya pecah-pecah tapi tetap harus menyusui. Rasanya tidak fair harus dibebani dengan menolak rasa capeknya.

Ketika kalian sedang merasakan fase hal ini, peluk jauh ya. Pelan-pelan, nggak perlu buru-buru melakukan sesuatu. Beri ruang jeda sejenak agar lebih legaan. 

Ambil napas lebih panjang dan rasakan sensasi tenang dalam dirimu. 

Read More »