Featured Slider

Belajar Pijat Bayi, Hangat Cinta Ibu untuk Buah Hati

Dear teman-teman, apa kabar puasanyaaaaaaa? Semoga masih semangat dan kuat sampai akhir ya. Jangan kasih kendor! πŸ˜‰. 4 hari ini saya hampir kepayahan  menjalaninya karena Ray lagi aktif-aktifnya belajar jalan. Jadi mulai jam 9 pagi sampai siang, dia minta main kesana kemari. Selain stok tenaga yang full charge untuk mengimbanginya bermain, emosi saya juga harus tertata dengan baik *senyum kalem.


Kalau sejam, dua jam aja gak masalah, sist. Lha kemarin mainnya mulai dari jam 9 pagi sampai adzan ashar masih ON 😌. Ditambah lagi, dia agak rewel karena mungkin produksi asi saya tidak sederas biasanya. Padahal mulut ini tak berhenti mengunyah lho, Le. Masa iya kurang juga asinya.

Tiap malam sebelum tidur, saya selalu minta izin untuk ikut puasa keesokan harinya. Berkali-kali saya bilang sambil memijat tengkuk dan punggungnya. Mungkin Ray merasa badannya capek karena seharian main, makanya pas saya memijat bagian-bagian tubuhnya, dia pasrah saja.

Sejak bayi, saya memijat Ray sendiri. Bagian tangan, kaki, wajah dan punggungnya. Saya belajar memijat dari hasil browsing di youtube dan baca-baca panduan pas beli toiletries Ray. Saya baru memijatkan Ray ke Spa, setelah usianya 35 hari. Itupun sekalian saya pijat nifas. Untung di Klaten ada spa yang bisa datang ke rumah. Saya searching di instagram, ada nggak ya, pijat bayi dan nifas yang bisa datang ke rumah. Finally, i met @shabira_spa at the first time.


Pas sesi pijat, saya diajak ngobrol tentang perpijatan dan cara menggendong dengan benar. Semula saya hanya mengenal jarik, hingga akhirnya saya belajar tentang gendongan M-Shape. Posisi bayi yang benar seperti apa saat digendong.

Baca juga: menggendong dengan hugpapa

Dan ilmu lain yang kami obrolkan adalah tentang memijat bayi.

Belajar Pijat Bayi


Ssst, setiap ibu bisa memijat bayinya sendiri lho. Tidak harus ke dukun pijat yang biasanya membuat anak trauma karena seringkali nangis, huhu. Makanya, pas @shabira_spa membuka kelas untuk belajar pijat bayi, saya langsung mengamankan seat. Padahal 4 kali pertemuan dan waktunya pas sore hari, lho. Awalnya jiper pengen ikutan karena takut bentrok waktunya, tapi alhamdulillah bisa ikut semua sesi-nya *proud to my self!



Manfaat pijat bayi itu baaaanyak banget. Makanya kemarin bersyukur bisa ikutan kelasnya. Dan setelah itu, saya bisa memijat Ray sendiri dengan percaya diri (karena sudah tahu ilmunya). Sebelumnya cuma nonton youtube, tapi kemarin beneran praktik langsung. Beberapa hal di bawah ini yang saya rasakan sejak intens memijat Ray.

1. Bobok lebih nyenyak

Meskipun sering main, kalau pas tidur, dia nyenyak banget. Bangun kalau mau nyusu aja. Kalau diajak bepergian jauh juga nggak rewel. Biasanya kalau di mobil, saya juga memijat-mijat bagian tangan atau kakinya. Jadi sebenarnya memijat bayi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.


2. Pencernaan lancar

Pas usia 5 bulan, Ray kena diare. Bahkan sampai dirawat di RS. Saya kapok banget. Selain memberi interlac, ternyata pijat sun and moon dan ILU (silakan googling yak :p) juga bermanfaat untuk menstabilkan pencernaannya. Pijat sun and moon dan ILU (I love you) juga saya pelajari pas ikutan kelas pijat bayi :D.

Baca juga: Menjaga saluran cerna bayi

3. Meningkatkan rasa percaya diri saat merawat bayi

Menjadi ibu baru itu banyak sekali PR-nya ya Allah. Seringkali pengin ini itu buat bayinya tapi takut salah karena belum tahu ilmunya. Meski sebelumnya sudah memijat Ray sendiri, tapi tahu ilmunya, saya lebih PD lho ngurus Ray. Kalau diare nggak panik kayak sebelumnya. Pas Ray demam juga gak grasa grusu lagi, karena bisa mengusapnya. Satu lagi, saya jadi lebih aware merawat kulitnya Ray.

Ray badannya montok. Setiap lekukan sering berkeringat dan menimbulkan ruam atau biang keringat. Dengan rajin memijatnya, saya bisa sekalian menjaga dan merawat kulitnya agar tidak kena ruam.

Baca juga: Pentingnya merawat kulit sejak bayi

4. Memperkuat bonding antara ibu dan bayi

Saya percaya kalau bayi mengerti dan merasakan intuisi ibunya. Jadi kalau diajak ngobrol pun mereka sudah bisa merasakannya. Apalagi kita menyentuhnya dengan pijatan. Honestly, pijat bayi ini membuat saya dan Ray semakin lengket. Saya pun nggak peduli dengan anggapan kalau Ray bau tangan ibunya. Karena entah bagaimana, saya merasa sangat berharga dan dibutuhkan kalau dekat dengannya.


5. Release emosi si ibu

Dengan memijat bayi, saya bisa menyalurkan emosi saya. Semula capek, uring-uringan dan hal negatif lainnya bisa luruh ketika memijat sambil mengobrol sama Ray. Kok bisa? I dunno. Rasanya nyaman aja ketika menuangkan minyak ke punggung sambil ngajak ngobrol bayi.

Hmm, manfaatnya terasa banget buat saya dan sepertinya Ray juga menikmatinya.

Belajar pijat bareng @shabira_spa



Nah, buat ibu-ibu yang di area Klaten dan pengen belajar memijat bayi sendiri di rumah, bisa ikut belajar sama @shabira_spa yang sudah bersertifikat sebagai instruktur pijat bayi (CIMI/certified infant massage instructur). Bisa privat atau grup juga. Harganya terjangkau kok dan worth it sama yang didapat. Kemarin ada 4 sesi. Per sesi sekitar 1.5-2 jam. Di sesi terakhir ada  tanya jawab tentang tumbuh kembang sama ahlinya juga.

Kalau saya prefer ikutan kelas grup karena bisa sharing dengan ibu-ibu yang lain. Saya ikutnya ketika Ray usia 8 bulan. Selain Ray suka ada temannya, bayarnya juga lebih terjangkau :p. Fasilitasnya juga full servis: snack, praktik langsung, modul, dikasih buku cerita anak sebagai bonus, kutus-kutus kecil (sudah dikemas dan dioplos biar baunya kalem) sama tanya jawab sepuas kita :D.

Sampai Ray usia setahun, saya masih suka memijatnya. Random saja di bagian tubuhnya yang kira-kira terasa tidak nyaman. Dan voilaaaaa, Ray suka. Makanya, sudah tahu kenapa Ray lengket kayak perangko sama ibunya? Salah satunya karena momen pijat ini.

Hal baru yang didapat setelah ikut kelas pijat


Ask permission before giving a massage

Memijat juga butuh permisi ke bayi lho. Rasanya sepele kan? Tapi nyatanya itu perlu. Setidaknya karena kita memberi isyarat pada bayi kalo kita akan membuat nyaman dan tenang. Bukan menyakitinya.


Pernah melihat bayi nangis kejer karena dipijat? Salah satunya karena bayi dipaksa untuk mau dipijat padahal mereka merasa tidak nyaman dan sakit :(. Padahal menurut saya hal tersebut akan membuat rasa trauma pada bayi, huhu. Itu kenapa sebelumnya saya jarang membawa Ray ke dukun pijat. Karena nggak mau maksa dia untuk dipijat dan melihatnya sampai nangis.

Kapan waktu yang pas untuk pijat bayi?

Kalau teori yang saya dapat pas kelas memijat sih waktu yang baik untuk memijat bayi adalah ketika mereka terjaga. Jadi, saat bayi bisa merasakan keberadaan kita.


Dulu saya sering memijat Ray pas posisi dia sedang tidur. Saya pikir hal itu bisa membuat nyaman dan tidurnya lebih pulas. Tetapi, ternyata ketika tidur, hormon pertumbuhan bayi sedang bekerja. Memijat bayi saat dia tidur bisa menghambat kerja hormon pertumbuhan bayi. Sejak mengetahuinya, saya tidak lagi memijat melainkan mengusap saja. Misal mengusap bagian punggung atau memberikan puk-puk pada pantatnya.

Memijat merupakan sarana untuk meningkatkan bonding dan komunikasi. Jika bayi tertidur selagi pijat. Maka pijat sebaiknya berhenti, karena kita ga bisa berkomunikasi dua arah dengan bayi yang tertidur, pesan Mbak Dika, owner @shabira_spa saat memberikan kelas pijatbayi.

Lalu kapan memijat Ray? Saat sebelum atau setelah mandi, saat sebelum tidur (sebelum benar-benar lelap), ketika di mobil saat bepergian. Saya lakukan sambil ngobrol.

Kalau memijat pakai minyak apa?

Pas di kelas pijat, saya dikasih minyak kutus-kutus yang sudah di-mix sehingga baunya tidak menyengat. Sebenarnya dalam memijat bisa pakai minyak apa saja lho, termasuk minyak goreng :p. Asalkan kita memastikan bau minyaknya tidak menyengat dan kandungan mineralnya sedikit. Kulit bayi masih sensitif, jadi perlu memilihkan jenis minyak yang tepat agar tidak iritasi.

Sebelumnya saya memakai baby oil cussons. Pakai minyak kutus-kutus juga kalau Ray pas perjalanan jauh. Alhamdulillah Ray tidak terganggu dengan baunya yang menyengat. Kalau batuk pilek suka dipijat pakai minyak but-but dari HPAI, tapi saya nggak terlalu suka sama aromanya. Pokoknya tentang minyak pijat bisa disesuaikan saja asal bayi tidak mengalami keluhan di kulitnya.

Kalau demam jangan dipijat

Ibu saya selalu menawarkan pijat pada Ray ketika tahu Ray sedang demam. Beliau merasa dengan dipijat, badan Ray lebih rileks. Dulu saya juga berpikir sama. Ternyata ilmunya tidak begitu.

Saat demam, anak tidak boleh dipijat karena akan meningkatkan toksisitas. Pernah membaca bukunya Dokter Apin yang berteman dengan demam dan menemukan statement kalau demam itu sebenarnya baik untuk anak, karena tubuh sedang melawan virus atau bakteri. Jadi, demam merupakan gejalanya dan memang diperlukan untuk mengusir kuman dan infeksi dalam tubuh.

Nah, kalau dipijat, metabolisme tubuh akan meningkat sehingga menyebabkan aliran darah akan lancar. Jika darah lancar padahal banyak kuman, virus dan bakteri justru akan cepat menyebar dan menghambat tubuh melawannya.

Jadi plis, yang masih memijat saat anak demam,jangan dilakukan lagi. Sebaiknya dilakukan saat masa recovery saja. Itu malah membantunya lebih nyaman dan fresh.


Semoga Ray sehat selalu, ya Karena Ibu sayang Ray pake banget.

Buat teman-teman, ada cerita tentang memijat bayinya? Yuk sharing bareng :)
Read More »

Lost in Jogja

Ramadan tinggal sehari lagi, tapi entah kenapa saya belum merasa "in" untuk memulainya seperti ramadan-ramadan sebelumnya. Jangankan persiapan target, dalam hati saja masih terasa biasa-biasa saja. Ketika melihat teman-teman yang sejuk dan semangat menyambutnya, jujur dalam hati saya merasa iri. Pengen punya perasaan yang sama :(.


Ada yang kurang. Maka, saya harus menemukannya. Saya diajak ke Jogja. Suami ingin mengklaim garansi jam tangannya yang tiba-tiba mati (lagi). Lokasi semula di Ambarukmo Plaza. Saya sudah membayangkan, saat suami mengklaim garansi jam, saya dan Ray bisa menunggu di burger king.

Tapi rencana awal ternyata jauh dari realisasi. Sebelum ke Amplas, saya memutuskan makan siang di Sate Klathak Pak Jade. Karena lokasinya pun searah dengan Amplas, suami pun mengiyakan. Beliau hobby sekali sama sate Klathak. Makanya pas ke Jogja, sayang sekali kalau melewatkan mencicipi sate klathak. Selain di tempat Pak Jade, langganan sate klathak kami di sate pak Pong.

Baca juga: sate klathak pak pong

Makan siang yang tidak direncanakan ini membuat kami mengubah rencana-rencana lainnya. Di Pak Jade, suami searching lagi lokasi pengklaiman garansi jam. Ternyata bukan di amplas, tapi di mall Malioboro. Jauh bener! Burger king tinggal kenangan berubah menjadi bayang-bayang susahnya nyari parkir di sekitar malioboro.

Lost in Jogja, i found my soul of Ramadan

Kami bertiga lama di tempat Pak Jade. Masih mikir-mikir mau ke Malioboro apa nggak. Di tengah menyuapi Ray, saya nyeletuk minta diantar mencari kurma buat puasa ramadan nanti. Saya juga mau beli minyak goreng dan susu buat orang rumah. Suami lalu searching lokasi di maps dan memilih review penjual kurma dengan rating yang bagus. Pasarkurma.com (beneran kesini karena reviewnya bagus di gmaps).

Lokasinya sekitar 5 kilo dari warung Pak Jade, tapi macetnya subhanallah. Pas sampai di alamat yang sesuai arah gmaps ternyata kami masuk perumahan. Saya kira gmaps salah mengarahkan, tapi penjualnya memang di perumahan. Melihat mobil kami berhenti agak lama di depan runah, ad bapak yang keluar dan mempersilakan suami masuk. Beliau insting kalau kami mau nyari kurma.

Saya masuk di rumah yang ada berdus-dua kurma. Seorang ibu keluar dan menyapa kami dengan ramah. Saya dikenalkan jenis-jenis kurma dan disuruh mencicipi satu per satu. Saya memilih kurma khalas 10 kilo dan 1 kilo kurma yang empuk dan legit buat bapak. 10 kilo ini nantinya akan saya bagikan ke keluarga mertua dan bapak ibu saya untuk hidangan ramadan nanti. Fyi, kurma khalas 29ribu/kilo kalau beli 10 kilo. Kalo hanya 1 kilo biasanya dijual 40 ribuan. Nah yang 1 kilo kurma yang legit (lupa namanya), saya beli buat Bapak seharga 85 ribu. Ini cerita harga-harganya karena kemarin ada yang nanya, siapa tahu teman-teman juga mau nyari kurma juga disana, bisa jadi bahan pertimbangan harga.

Beli kurma selesai, kami memutuskan untuk ke mall malioboro. Benar saja ekspektasi kami-gak dapat parkir! Suami harus putar balik dulu mobilnya dan parkir lumayan jauh.

Jalan jauh gak apa-apa? Tanyanya. Gak apa-apa, tapi gendong Ray ya (ini bukan permintaan, tapi harga deal yang harus dibayar suami :D). Jalan 2 kilo menyusuri jalan Malioboro ternyata gak terasa. Kami bisa cuci mata dengan batik-batik, tas, sepatu dan Ray suka sekali sama kuda lalu lalang di jalan. Pas nanya sewa pedati kuda, ternyata harganya 100 ribu sekali putaran.

Ray nggak rewel sama sekali. Selesai mengklaim garansi jamnya, kami langsung pulang. Di sekitar sana ada burger king juga tapi saya nggak mimpi makan BK lagi :p.

Masuk jam ashar, saya berhenti di masjid Siti Dzirjanah yang letaknya di sekitar Malioboro. Saya kira masjidnya kecil karena letaknya di tengah-tengah toko di sepanjang jalan Malioboro. Ternyata saya keliru. Masjidnya mewah, bersih dan mukenanya wangi. Infa

Selesai ashar, ada perasaan hangat dalam hati saya untuk menyongsong ramadan keesokan harinya. Rasa ini yang saya tunggu dan ingin saya temukan berhari-hari lalu. I cry on. Bismillah, saya siap ikut puasa ramadan esok hari ya, Rabb. Semoga Engkau ridho.

Dari jam 10 pagi berangkat ke Jogja dengan rencana apa tapi realisasinya kemana. Sampai rumah jam 9 malam. Perjalanan yang membuat saya menemukan makna ramadan. Entah bagaimana mendeskripsikannya. Selepas mengelap seluruh badan Ray dan menggantinya dengan baju tidur. Saya searching "kiat puasa ibu menyusui".

Semangat berpuasa, semoga kita menjadi insan yang menang :)

NB: puasa sudah dapat seminggu lebih, banyak sekali tantangan ibu menyusui. Apa aja? Saya mau sambat di postingan selanjutnya.
Read More »

Jeda

Blog ini kembali ke kodratnya. Sebagai jeda. Ketika banyak kata yang membuncah, namun ada sekat yang membisu. Maka tulisan ini bisa menari dengan bebasnya. Seperti detik ini. Ringan.

Saat aku ingin menyerah, tawamu mengingatkan untuk berjuang. Meski di awal sadar kekurangan, kamu menunjukkan kelebihanku. Sebagai ibumu.

Oranglain boleh tidak menghiraukanku, tapi kamu selalu tahu dan membutuhkanku. Semarah apapun aku, rautmu selalu riang menyambutku. Hal yang membuatku menangis. Bersalah padamu.

Aku butuh jeda. Tapi kamu tak mengerti. Sama sekali. Ingin tetap bermain bola kesana kemari. Merangkak kencang tidak terhenti. Aku masih ingat 2 bulan lalu, mengajarimu bagaimana kedua kaki harus menekuk presisi. Jatuh. Bangun lagi. Jatuh. Bangun lagi, berkali-kali. 

Ketika akhirnya bisa merangkak sempurna, energiku sering tak bisa mengimbangi. Namun kamu belum mengerti. Karena lelahmu adalah ceriamu.

Ini ramadan kelima. Aku ikut puasa. Karenamu. Tiap malam aku meminta ijin. Karena siangnya kamu mengeluhkan rasa susumu. Mungkin tidak senikmat biasanya. Bola matamu berpadu denganku. Bibirmu tertawa jenaka. Tanda tak mengapa. Tangan mungilmu memukul pelan agar susunya seenak dulu. 

Hari ini, aku ingin jeda sebentar saja. Agar aku lebih waras memelukmu. Seketika, saat menyandang predikat ibu, PR ku banyak sekali. Sering menangis sendiri. Melenguh napas panjang. Seakan tidak ada yang mengerti. Bahwa aku juga butuh sendiri.

Jeda. Sebentar saja. Tidak akan lama.

Selamat tidur Ray. Anakku. Jeda tidak akan pernah menjadi jarak antara kita. Karena tidak perlu menunggu sahur untuk kamu bisa memelukku lebih erat. 

Aku sayang kamu, Nak.

Dari Ib
Read More »

Review Hugpapa Dial Fit 3 in 1 Hip Seat Baby Carrier

Ketika melahirkan Ray, saya banyak mendapat kado. Baju, selimut, alat makan, beberapa jarik dengan warna dan motif seperti pelangi (sekitar 10-an mungkin ada). Ada juga gendongan model ssc dan wrap. Saya memilih jarik sebagai alat untuk menggendong sampai usianya 3 bulan.


Waktu itu, saya masih belum paham ilmu pergendongan. Bagaimana cara menggendong yang baik? Bagaimana memilih gendongan yang aman dan nyaman untuk bayi? Bagaimana posisi yang benar saat menggendong? Saya blas  belum mengerti, huhu. Satu yang saya pahami adalah kalau menggendong bisa membangun bonding dengan anak. Itu saja. Dan benar, Ray sempat dibilang "bau tangan" karena sering saya gendong.


Semula saya lebih memilih jarik untuk menggendong Ray. Selain alasan kepraktisan, jarik merupakan warisan turun temurun. Skill menggendong dengan jarik sudah ada sejak dulu. Bahkan ketiga ipar saya juga menggunakannya untuk menggendong. Belum ada yang kenal ssc atau wrap.  Saya melek tentang dunia pergendongan ketika saya mengeluhkan punggung terasa sakit karena menggendong Ray kemana-mana. Lalu, saya bergabung dengan Komunitas Baby Wearing (KBW) Klaten.

Waktu ikut workshop Klaten Baby Wearing. Saya masih pakai jarik

Ikut workshop KBW, saya merasa ketinggalan tentang ilmu menggendong. Saya belajar pelan-pelan dan sesekali bertanya pada ahlinya. Kebetulan beberapa teman saya adalah konsultan menggendong. Lho ada konsultannya juga? Iya! Konsultan yang sudah bersertifikat. Itu membuktikan betapa pentingnya menggendong anak. Tidak hanya sekadar “nemplok” aja. Sayangnya banyak yang masih awam tentang itu (termasuk saya sebelumnya).

Pentingnya Menggendong

Ray ikut Ibu kemana mana

Setelah ikut workshop KBW, saya berdiskusi dengan suami. Saya browsing tentang seluk beluk pergendongan. Alhamdulillah banyak hal baru yang saya dapatkan. Bagaimana cara menggendong dengan baik. Bagaimana memilih gendongan yang aman dan nyaman untuk bayi. Mulai sejak itu saya membeli gendongan yang mendukung posisi M shape

Saya juga belajar teknik menggendong yang benar. Dalam babywearing dikenal dengan istilah TICKS. Singkatannya dalam bahasa inggris yang membuat saya lupa-lupa melulu :p. Tapi intinya seperti yang saya kutip dari tirto.id adalah sebagai berikut
  1. gendongannya harus erat sehingga mudah dipeluk
  2. bayi selalu terlihat dan kita bisa menciumnya setiap saat
  3. jarak bayi sejauh kecupan ketika menggendong
  4. dagu bayi tidak menempel dengan dada. Jadi agak longgar agar pernapasan tidak terganggu
  5. gendongan menyangga punggung sampai leher. Sehingga bayi dalam posisi C-Shape
Posisi bayi ketika kita menggendongnya juga harus benar. Punggungnya harus C shape dan kakinya harus M Shape agar bayi merasa aman dan nyaman ketika digendong. Saya benar-benar mempraktikkan teori itu dan memfotonya. Setelah itu mengirimkan kepada teman saya yang notabene sebagai konsultan baby wearing. Saya meminta kritik dan saran apakah posisi gendongan saya sudah betul atau tidak.
Ilustrasi C shape dan M shape

Nah, bagi orangtua jaman dulu, M shape ini sering dianggap sebagai “pekeh” (duh apa ya bahasa Indonesianya?). Saya sempat menjelaskan berkali-kali pada ibu saya ketika memutuskan menggendong Ray menggunakan SSC dengan posisi M shapee. Kata Ibu, usia bayi 4 bulan belum boleh digendong dengan posisi begitu. Saya menjelaskan pelan-pelan kalau posisi tersebut justru yang dianjurkan karena membuat bayi merasa aman dan nyaman. Lama-lama ibu mengerti. Ada lho yang tidak berani menggendong M shape karena orangtuanya kekeuh posisi itu baru boleh dipakai ketika usia bayi 8 bulan. Padahal sejak newborn pun sangat dianjurkan. 

Sejak belajar ilmu pergendongan saya sudah paham posisi menggendong yang benar itu seperti, sehingga tidak mengeluhkan lagi punggung encok karena harus berlama-lama menggendong Ray, ahaha. Saya juga tahu kalau kado gendongan saat lahiran tidak mendukung posisi M shape. Jadi sampai sekarang tidak saya pakai, hehe.
Leluasa meluk, nyium dan breastfeeding

Posisi menggendong yang saya dan Ray suka adalah “face in”. Ray bisa nyenyak tidur di pelukan sambil digendong dengan posisi ini. Dalam posisi ini, saya juga leluasa kalau Ray minta nenen. Saya bisa menyusuinya sambil mencium kepalanya. Saat momen menggendong seperti ini, kami berdua merasa saaaaangat dekat. Dan saya percaya kalau menggendong dapat membangun bonding dengan anak, ya karena momen-momen seperti ini.

Karena rasa ingin tahunya semakin banyak, saat digendong Papinya, Ray ingin menghadap depan. Mungkin agar lebih leluasa melihat sekitarnya. Saya akhirnya searching gendongan hip seat yang nyaman dan aman untuk anak merknya apa. Akhirnya saya kenalan dengan hugpapa dial fit 3-in-1  hip seat baby carrier. Bagaimana rasanya menggendong dengan hugpapa yang merupakan alat gendong bayi yang aman dan nyaman? Yuk simak review saya.

Review Hugpapa Dial Fit 3 in 1

Unboxing Hugpapa Dial Fit 3 in 1

Setelah saya menerima paket gendongan hugpapa, saya langsung unboxing sama suami karena sama-sama excited. Gendongannya dibungkus kardus hitam eksklusif. Isinya apa saja?  
Kotaknya eksklusif

  1. Hugpapa dial fit 3 in 1 warna abu-abu tua: droll pad, sabuk pinggang, ssc bagian atas dan hoodi kepala yang ada di saku
  2. Buku petunjuk



Mengapa Hugpapa Dial Fit 3 in 1?


Mengapa saya jatuh cinta sama gendongan ini? Sebelumnya, saya searching dulu tentang hugpapa. Berdasarkan searching tersebut, saya menemukan klaim kalau hugpapa ini adalah baby carrier yang mudah, terpercaya dan sehat. Dan beberapa hal di bawah ini yang membuat saya suka dan mungkin bisa menjadi rekomendasi gendongan bayi yang ingin teman-teman beli.

Mudah, terpercaya dan sehat :)

πŸ’“Baby carrier ringan (light carrier). Karena saya sering membawa pergi Ray kemana-mana, hal pertama yang saya suka dari hugpapa dial fit adalah baby carrier yang ringan. Desain gendongan yang beratnya 620 gram ini minimalis sehingga memperkecil beban yang diterima di pinggul dan kaki. Kemarin pas jalan-jalan ke Solo belanja di Klewer gendong Ray pakai gendongan ini nyaman banget. Saya nggak pegel di punggung, Ray juga anteng di gendongan.

πŸ’“Alat yang digunakan terpercaya. Kalau beli sesuatu pasti pengennya dari bahan-bahan berkualitas kan ya? Apalagi untuk keamanan dan kenyamanan ibu dan anak. Gendongan hugpapa menggunakan bahan premium. Tombol BOA, resleting YKK yang eksklusif, gesper dari plastik Woojin dan kapas duduk berlapis. Inovasi dial fit yang diperkuat dengan teknologi BOA ini memudahkan saya untuk menggendong Ray kemana-mana.

πŸ’“Alat yang dipakai mendukung kesehatan. Ketika menggendong pakai jarik dulu, saya merasakan punggung sakit dan cepet capek karena posisinya menyamping. Sebenarnya bisa dibuat model M-Shape, tapi menurut saya agak ribet, huhu. Makanya saat memilih gendongan, hal yang menjadi bahan pertimbangan saya adalah mudah dipakai dan nyaman di punggung. Nah, pengaturan tali bahu hugpapa membagi beban sama rata baik untuk penggendong maupun bayi. Gendongan ini mendukung posisi C shape, mencegah kedua sisi pinggang untuk bungkuk ke depan secara berlebihan. Selain itu memberikan bentuk M pada area paha dalam bayi.

Fyi, penggendong bayi hugpapa dial-fit 3-in-1 telah diresmikan sebagai produk yang menjaga kesehatan pinggang oleh IHDI (International Hip Dysplasia Institute). Nggak salah kalau hugpapa merupakan gendongan bayi berteknologi tinggi.

Fitur dan Bahan Hugpapa Dial Fit 3 in 1

Selain membaca buku panduan, saya juga searching fitur-fitur gendongan hugpapa. Hal ini memudahkan saya ketika memakai gendongan. Fitur dan bahannya apa saja? Here we go

πŸ’“ Hoodi
Hoodi dan penyangga kepala

Terbuat dari bahan katun 100% yang halus sehingga nyaman untuk bayi. Ini berfungsi menutup kepala Ray ketika naik motor atau sebagai pengganti apron saat Ray sedang nenen di gendongan.

πŸ’“ Penyangga kepala
Melindungi kepala bayi saat ada digendongan. Terbuat dari bahan yang halus dan menyerap keringat.

πŸ’“Tombol penyetel BOA
cara menyetel BOA yang ada di depan body panel
cara memutar BOA
Nah, ini salah satu keunggulan hugpapa dari gendongan yang lain. Inovasi tombol BOA sangat praktis untuk mengatur tali gendongan tanpa harus repot menarik tali belakang. Sehingga memutar 3 detik sudah bisa mendapatkan posisinya nyaman untuk menggendong dan menyesuaikan posisi bayi. Pengaturannya bisa sampai 22 cm.

πŸ’“Kantong samping


Pengganti saku
Nah, karena saya sebagai blogger yang biasanya bawa HP kemana-mana buat "alat tempur", saku ini sangat berfungsi sekali. Ketika menggendong Ray bisa dijadikan saku untuk HP, jadi nggak perlu merogoh saku celana yang cenderung agak susah kalau pas posisi menggendong.

πŸ’“ Tombol assistive
Desain tombolnya mewah. Difungsikan untuk mempererat alat panggul dan sabuk pinggang.

πŸ’“ Foam pinggang duduk

Foamnya berlapis EPP dan PU dengan bahan yang lembut sehingga ringan dan nyaman ketika Ray duduk di gendongan. Kebetulan Ray sudah bisa duduk sendiri. Jadi pakai gendongan ini rasanya nyaman banget buat dia. Bentuk dan ukurannya memang dioptimalkan sesuai dengan bentuk badan bayi. Lapisannya anti licin yang berfungsi mencegah bayi jatuh ke belakang dan membantu menjaga tulang punggung bayi pada posisi yang tepat.

πŸ’“ Tali bahu
Tali, lapisan dalam yang berongga dan lapisan luar yang tahan air

Panjangnya 20 mm. Terbuat dari bahan busa yang elastis sehingga udara bisa keluar masuk.

πŸ’“ Lapisan dalam 
Bentuknya seperti jala yang berfungsi untuk memudahkan sirkulasi udara pada bagian punggung. Sehingga bayi tidak cepat gerah ketika digendong dalam durasi yang lama.

πŸ’“ Lapisan luar
Didesain berongga untuk memudahkan sirkulasi udara dan bayi bisa melepaskan panas tubuh dengan mudah sehingga tidak kegerahan. Selain itu, lapisan luarnya dapat dibuka dengan tangan. Bahannya terbuat dari polyester sehingga tahan air dan debu.

πŸ’“ Penyangga paha
Gendongan ini mendukung posisi M shape dengan tempat duduk yang lebih luas dan dapat dilipat jika penggendongnya memiliki pinggang kecil.

πŸ’“Velcro dan zipper
Berbahan woojin plastik dan zipper YKK yang berkualitas dan minim gesekan sehingga kain tidak mudah rusak.

πŸ’“ Tali pinggang


Bye-bye encok :p

Talinya panjang yang berfungsi menopang punggung. Sehingga meminimalisir encok karena kelamaan gendong :p

Posisi Menggendong dengan Hugpapa Dial Fit 3 in 1

Tidak perlu banyak gendongan lho untuk menggendong bayi yang tumbuh setiap hari. Jadi kalau mau membeli gendongan ini sangat worth it, karena bisa 3 in 1 sesuai namanya, yaitu: mode Hip Seat, Baby Carrier, dan Baby Carrier Hip Seat. Selain itu, gendongan ini bisa difungsikan dari newborn hingga usia 36 bulan. Bisa dilungsur ke adiknya juga, lho :p. Ini bisa jadi investasi karena mengingat pentingnya menggendong untuk anak.

Tidak perlu tarik ulur tali. Sekali klik, langsung nyaman
Hugpapa dial fit 3 in 1 bisa digunakan untuk menggendong dengan 6 posisi dalam hitungan detik tanpa memerlukan bagian tambahan. Selain itu karena sudah ada inovasi BOA, jadi lebih praktis mengatur tali gendongannya tanpa harus menarik ulur talinya.

Teman-teman bisa memilih posisi sesuai dengan kebutuhan, antara lain:
  • Hip feat carry
Bantalannya empuk, nyaman buat bayi
  • Front face-in carry
Posisi andalan
  • Front face-out carry
Hadap depan tanpa hip seat cukup nyaman buat Ray. Tapi saya merasa posisi kakinya nggak M shape. Jadi kalau hadap depan biasanya saya lebih memilih pakai hip seat

  • Front face-in carry with hip seat
Tanpa hip seat juga nyaman
  • Front face-out without hip seat 
Wajah sumringah Ray bisa digendong hadap depan
Kata teman saya yang menjadi konsultan baby wearing, posisi hadap depan tidak boleh lama-lama. 30 menit bolehlah, ucapnya. Saya lupa alasannya apa *toyor! :(

Makanya kalau Ray masih pengen hadap depan, saya prefer posisi back carry. Ray justru bisa meluk-meluk dsri belakang :)).
  • Back carry
Kalau jogging dan jalan jauh dan Ray ingin lihat depan, biasanya memilih posisi ini

Kalau saya lebih suka mode face-in karena bisa leluasa memeluk, mencium bahkan memberi nenen langsung ke Ray πŸ’“πŸ’“πŸ’“.

Oh iya, bagi teman-teman yang masih memiliki newborn dan mau memakai gendongan ini. Pastikan untuk membeli insert infant ya. Karena gendongan ini direkomendasikan untuk usia bayi 3 bulan keatas. 

How to order?

Kemarin saya beli di website hugpapa (https://shop.hugpapa.co/). Harganya $189. Pengirimannya langsung dari Korea, jadi pas barangnya sampai ke Indonesia, saya mengambilnya ke Bea Cukai Kantor Pos. Saya memilih warna abu-abu tua karena elegan. Pilihan warna lain juga bagus lho. Natural dan kalem. Jadi tidak mencolok kalau dipakai untuk acara formal maupun non formal.

Selain di official webnya, hugpapa juga sudah dijual di Lazada lho. Kalau teman-teman pengen beli, bisa order langsung di https://www.lazada.co.id/shop/hugpapa. Harganya 3.1 juta.
Pilihan warna hugpapa

Untuk mengetahui lebih jauh informasi mengenai hugpapa, teman-teman bisa memfollow media sosialnya.

FB: Hugpapa Official
TW: @hugpapa_seoul
IG: hugpapa_official
Youtube: HUGPAPA

Sejak memiliki gendongan ini, Ray jadi lebih lengket sama papinya. Apalagi papinya juga excited tentang ilmu pergendongan dan kemarin kami unboxing serta mempelajari fitur gedongan hugpapa sama-sama.

Sekarang papinya sering ngajak Ray muter-muter pakai gendongan hugpapa. Jalan-jalan, naik sepeda atau menidurkan Ray jadi lebih nyaman katanya. Kalau papinya sudah memasang hip seat-nya, kedua tangan Ray langsung menjulur meminta gendong. Saat bepergian kemana-mana, sudah nggak worry pegel gendong lagi. Kami bisa tetap stay close, carry more dengan Ray. Inilah salah satu cara membangun bonding dengan Ray. Bisa selalu dekat dengan menggendongnya. Setidaknya kami belajar bagaimana cara menggendong dan memilihkan gendongan yang aman dan nyaman buat dia.

Saya meleleh melihat kedekatan antara orang tua, terutama seorang ayah yang sedang menggendong anaknya dengan hugpapa sambil menggandeng istrinya. Simak juga, deh!



Ray, ibu selalu bilang kalau Ibu sangat sayang sama Ray. Tapi perlu kamu tahu bahwa papi juga sangat mencintaimu dan menginginkan yang terbaik buatmu.

Peluk dan cium dari Ibu dan Papi buat Ray.

Hugpapa, stay close carry more :)


Read More »

Milestone 1 Tahun Ray

Kalau ditanya, pencapaian terbesar apa tahun ini, maka jawaban saya dalah merawat dan membesarkan Ray.


Baca juga: melahirkan Ray

Sungkem dulu sama ibu-ibu yang tetap waras mengasuh dan mengasihi anaknya di tengah gempuran saran dan kritik tetangga :p. Hidup bermasyarakat tidak luput dari sosialisasi dan pertanyaan seputar pengasuhan anak. Makanya, saya agak malas kalau main-main keluar. Karena ujung-ujungnya dalih menanyakan anak oranglain, tapi malah memamerkan anak mereka sendiri. Pengen ditampol kan orang kayak gitu?

Wait, saya nggak mau curhat tentang itu, tapi pengen mendokumentasikan milestone tumbuh kembang Ray selama 1 tahun terakhir. Yay! Ray ulang tahun :*.

Baca juga: 6 bulan Ray

Setahun ini bisa ngapain aja?



Merangkak (kenceng)


Saya hampir membiarkan Ray melewatkan fase ini. Di usia 8 bulan, Ray sudah bisa merangkak, tapi mundur. Dan saya merasa tidak apa-apa. Beberapa orang terdekat juga bilang nggak apa-apa, nanti malah cepet jalan. Dan intinya, Ray tidak merangkak tidak apa-apa.

Untunglah saya aware. Saya baca-baca artikel kalau fase merangkak sangat penting untuk tumbuh kembang bayi. Ini akan berpengaruh untuk keseimbangannya. Karena menyadari pentingnya fase ini, saya menstimulus Ray untuk bisa merangkak dengan baik.

Saya merangkak di hadapan dia, lalu mengejar bola atau benda yang menarik perhatiannya. Alhamdulillah Ray meniru dengan baik. Pelan tapi pasti Ray bisa merangkak maju. Semula, kaki kanannya hanya diseret. Penopang keseimbangannya hanya di tangan dan kaki kiri saja. Lama-lama, kaki kanan kirinya bergantian untuk menyangga dan merangkak maju. Di usia 10 bulan dia sudah fasih merangkak kenceng.

Oh iya, tidak ada kata terlambat untuk belajar merangkak. Kalau bayi teman-teman belum merangkak di usia 9 bulan misalnya, stimulus terus! Dan jangan membandingkan dengan bayi lainnya. Karena perkembangan setiap anak berbeda-beda :)


Berdiri


Setelah lulus merangkak, Ray bisa berdiri dengan bantuan pegangan. Bahasa Jawanya rambatan. Kamar tidur yang ada buku-bukunya sudah tidak aman, karena dia bisa tiba-tiba berdiri dan meraihnya.

Hal-hal yang menarik baginya seperti pulpen di atas meja, gelas, sendok dan benda lainnya tidak luput darinya. Jadi, kalau dia sudah tertarik, dia akan merangkak menghampiri dan mencari pegangan di sekitarnya untuk berdiri. Kalau merasa tangannya tidak sampai meraih benda yang menarik perhatiannya, tangannya melambai meminta tolong.

*ah, rasanya baru kemarin melahirkanmu, Le.

Memainkan tangan


Kalau di bawah 6 bulan, Ray suka banget memasukkan tangannya ke mulut. Kalau dalam teori parenting ada fase oral, katanya. Fase dimana bayi ingin memasukkan sesuatu ke mulutnya, termasuk tangannya. Biasanya mengemut jempol. Alhamdulillah Ray bisa lepas dari habbit mengemut jempolnya.

Ray sudah bisa memainkan kedua tangannya dengan fasih ketika saya bilang tepuk tangan. Dia suka sekali melakukannya dengan riang. Say good bye dengan ber-da-da dengan lawan mainnya. Menjentikkan tangannya ketika melihat burung. Kedua tangannya juga spontan terulur ketika meminta gendong saya, ahaha.

Ah iya, tangannya kalau pas nenen suka megangin hidung ibunya, nyubitin pipi atau mainin kancing :D. Lagi seneng mainan rambut juga. Jadi kalau ada rambut, tangannya refleks buat jambak :(

Ngobrol


Ray sudah mengerti diajak mengobrol. Dulu mungkin juga tahu kalau ibunya sering ngajak ngobrol. Tapi pas tahu respon Ray tentang hal yang saya obrolkan, ada rasa haru dan takjub *lebay! Tapi beneran deh, sejak Ray dipanggil noleh, trus saat saya bilang sesuatu, dia menggeleng atau tertawa, rasanya lebih semangat buat ngajak ngobrolnya. Tapi juga sering senewen juga kalau waktunya bobok, Ray nggak mau dan lebih demen main :p.

Ray juga sudah bisa mengkode ibunya kalau pengen video call sama papinya. Kalau udah denger suara papinya, raut wajahnya langsung cerah, ahaha. Habis itu suruh nutup telponnya :p.

GTM


Pas usia 6 bulan, Ray MPASI dan lahap sekali. Sampai usia 7 bulan juga sama dan BB nya naik, membuat saya dan ibu-ibu posyandu bahagia (if you know what i mean). Tapi, ketika usianya masuk 8 bulan, naga api menyerang :(. Ray GTM parah. Saya mulai baca buku-buku tentang MPASI, kayaknya cincailah teorinya. Tapi praktiknya kok susyah, ahaha.

Mulutnya Ray beneran rapet. Asupan terbesarnya hanya ASI. Makanya saya observasi ke dokter Ani. Beberapa kali konsul, beliau menyarankan untuk khitan, (((siapa tahu))) fimosis Ray yang menjadi trigger GTM.

Setelah khitan apa langsung lahap? Tentu tidak, beberapa hari masih nggak nafsu makan, lalu berangsur pulih mau makan apa saja. Tapi yaaa nggak kayak di teori yang habis 125 ml atau semangkuk :p. Saya sudah nyobain mix dan kombinasi homemade sama menu instan. Tapi suka-suka Ray, mau ya dimakan, enggak ya mingkem lagi *sigh.

Sampai sekarang GTM ini masih menjadi PR saya. Bagi yang sedang senewen sama anak yang memiliki masalah sama, sini berpelukan Buk! Nggak perlu takut sama ibu-ibu posyandu yang kadang suka nyinyir kebangetan sama BB anak sampai bikin kapok datang lagi :(. Tapi tetap fokus sama anak kita dengan terus mengobservasi penyebab GTM itu apa.

Btw, semula saya agak ketat memberikan gula garam buat MPSI Ray. Tapi sejak usia 8 bulan, Ray sudah kenal gula garam (terbatas). Makan bakso, mie ayam dan makanan berbumbu lainnya ketika usia 10 bulan. Makin baca seputar parenting yang berkaitan dengan MPSI bikin saya tambah mules karena kok kayaknya remidi terus. huhu.

Sudah khitan


Gara-gara sharing soal khitannya Ray, saya banjir DM sama email yang menanyakan khitan rekomended di Klaten. Lengkapnya bisa dibaca di postingan saya sebelumnya ya.

Baca juga: Ray khitan

Emosi


Ray sudah mengekspresikan emosinya. Ketika dia sedih saat saya mau pergi. Atau tidak suka kalau digodain Mas dan Mbaknya. Muka sebel pas nggak bisa-bisa melakukan sesuatu dan saya hanya mendiamkan tanpa membantu. Lalu menolak jika memang dia tidak mau dicium, da-da atau diminta tepuk tangan.

Saya mencoba mengapresiasi emosinya dengan memeluk, mencium dan mengusap kepalanya. Saya juga tidak memaksanya kalau misal dia tidak mau dicium atau SALAMAN sama orang lain.

Peniru


Ray juga sudah mulai meniru aktifitas kami. Saya pakai besak dia tiba-tiba meminta spons dan mengusapnya di pipi. Tangannya lihai memainkan sisir di rambutnya :D. Ray cepat belajar merangkak karena menirukan saya yang sering merangkak ketika bermain dengannya.
Di usia mulai 7 bulan, Ray sering memerhatikan suara-suara, gambar-gambar serta warna-warna mencolok. Kalau beberapa kali dia sudah paham, biasanya langsung menirukan sendiri. PR saya harus mengkondisikan sekitar Ray. Salah satunya berpesan pada anak-anak agar bicara yang baik-baik dan jelas (tidak dibuat-buat) agar Ray tidak bingung ketika menirukannya.
Bicara
Kata pertama Ray di usianya 6 bulan adalah BAPAK. Sering menggumam sendiri. Kosakatanya mulai variatif karena meniru sekitarnya.
Ibuk
Mbah
Mas
Nenen
Minum
Maem
Nyuwun (bahasa Jawanya minta)
Etc

Di usia 11 bulan, Ray sudah menggumam panjang. Kayak mau ngomong sesuatu versi dia. Sesekali saya menanggapi "Apa Mas? Mas Ray mau sesuatu?" Nah, yang paling pusing itu kalau Ray menggumam panjang tanda pengen sesuatu, tapi saya nggak bisa nangkep maunya. Ray bisa nangis kenceng :(.

Untuk melatih kosakatanya, saya mulai rajin membacakan buku dengan intonasi keras dan jelas. Lintang sama Khansa juga sering melakukannya. Dieja per kata dengan jelas. Khansa bahkan kayak deklamasi puisi :D.

Naik Turun Bed

Kalau bangun tidur nggak ada orang di sampingnya, Ray nangis ngodein biar ada yang datang. Dia pernah nyungsep dari bed jadi mungkin merasakan sakit dan ogah jatuh lagi. Tapi pas ada saya, dia berani buat turun sendiri. Kakinya diturunkan dulu, lalu badan dan tangannya menyusul.

That's why saya cinta mati sama tempat tidur yang nggak ada dipannya :D. Kalo pas di rumah mertua sering was-was ninggal ke kamar mandi karena bed-nya ada dipannya :(.

Saya "gembol" kemana-mana


Setahun ini, Ray selalu ikut saya kemana-mana. Rekor paling lama saya tinggal 6 jam ke Solo, datang ke ujian disertasi dosen saya. Awalnya sempat galau mau datang apa gak. Karena diundang langsung dan memang deket banget sama beliau, akhirnya saya datang ke kampus. Itu beneran perdana kami berdua berjauhan. Dan kata eyang putrinya, Ray seharian kelihatan lesu. Pas saya pulang, kedua tangannya langsung mengarah pada saya minta gendong.

Baca juga: Anak bau tangan ibu

Yang paling mengena adalah saat ujian CPNS bawa dia. Pas TKD masih mending hanya 2 jam. Yang paling epik adalah pas TKB yang membutuhkan waktu seharian. Jadi sejak subuh sampai magrib saya naik turun tangga buat nyusuin Ray.

Baca juga: tes CPNS

Hadiah dari papi dan ibu


Ray lagi belajar berjalan (sendiri). Makanya saya ngasih stimulus biar dia berdiri, pegangan kuat trus bisa jalan geser pelan-pelan. Sesekali saya membantunya dengan memegangi kedua tangannya, trus dia jalan setapak demi setapak. Kalau akhirnya dia memilih duduk dan nggak mau jalan, saya nggak maksain. Saya lebih memilih memberinya jeda dan mencoba menstimulasinya lagi agar dia bisa "berani" jalan.

Oh iya, Ray demam dari sore, huhu. Batuk pilek membuat dia uring-uringan dan nempel terus sama saya. Ibu sudah beberapa kali menyuruh membawanya ke dokter, tapi saya masih kalem mengikuti saran dokter Apin untuk sabar dan menggendongnya. Toh saya tahu demamnya Ray itu karena batuk pilek. Saya memastikan kalau minumnya banyak agar tidak dehidrasi.

Oalah Le, ulang tahun kok pake acara panas. Khansa (8 tahun) yang sedari pagi menyanyikan lagu ulangtahun untuk adiknya. Lintang sama Iqbal juga sama, mengucapkan dan memberikan doa buat Ray sambil memeluknya.

Sorenya, papinya datang, Ray sedang tidur. Beliau mengecup kening Ray sambil mengucapkan selamat ulangtahun. Mengeluarkan kado dari tas berupa alat bantu jalan buat bayi. Saya nggak tahu kalau papinya beli alat itu. Mungkin karena excited bujangnya belajar jalan. Meskipun Ray merasa risih pake alat itu, hehe.

Saya sengaja nggak beli kue dan tiup lilin. Karena memang nggak mau kalau Ray makan yang manis-manis :D. Dan saya nggak mau tiup lilin hanya sekadar buat foto doang. Hadiah dari saya selain doa adalah gendongan hugpapa (yang harganya 3 jutaaa, ahaha). Ray seneng banget digendong. Makanya pas dapat gendongan hadap depan, saya nggak sabar pengen nyobain.

Selamat ulang tahun anak lelakiku. Semoga Allah selalu menjaga dan mencintaimu.

Ibu sayang kamu pake banget.
Read More »