Sisi Positif dan Negatif Pemberian Dot pada Bayi


Sejak dinyatakan positif hamil, aku “haus” informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pregnancy dan tumbuh kembang bayi. Mengingat pengetahuanku yang masih terbatas tentang hal itu, sementara sebentar lagi dituntut harus melahirkan, menyusui dan sekaligus merawat bayi. Merawat bayi memang bukanlah hal yang mudah, tetapi di sisi lain sangat menyenangkan. 

Kemarin di salah satu sosial media, aku sempat membaca mengenai pro dan kontra pemberian dot pada bayi. Karena pengin tahu, aku pun browsing tentang hal tersebut sehingga bisa menjadi bekal setelah melahirkan nanti.

Sebagian orang tua seringkali kebingungan ketika si kecil mulai menangis dan rewel. Untuk bisa mendiamkan si kecil, selain dengan digendong maka hal yang dilakukan untuk mendiamkan bayi adalah dengan memberikan dot untuk bayinya. Ya, penggunaan dot bayi ini sudah sangat umum dilakukan oleh para orang tua karena memang dengan bayi menggigit atau menghisap dot untuk bayi ini, maka umumnya bayi akan merasa nyaman. 

Banyak pro kontra hingga saat ini dengan penggunaan dot pada bayi ini. Meski begitu ada sisi positif juga dengan memberikan dot pada bayi yang sempat aku rangkum di bawah ini, yaitu:

  1. Penggunaan dot akan mengurangi resiko bayi untuk meninggal mendadak karena SIDS.
  2. Dot juga bisa membantu bayi sehingga bisa lebih mudah tidur dan tidak rewel. Hal ini lantaran sebagian dari bayi mengalami kesulitan dalam tidur sehingga memiliki dot kemungkinan akan membantu sehingga bayi mudah tidur dan tidak menangis.
  3. Dot pun bisa dijadikan cara pengalih perhatian misalnya ketika bayi sedang imunisasi atau menjalani prosedur lain yang biasanya menyebabkan bayi takut.
  4. Dengan menggigit atau menghisap dot, bayi juga akan bisa lebih tenang ketika diajak bepergian misalnya naik pesawat. Terkadang ketika naik pesawat adanya perubahan tekanan udara kerap menjadikan telinga nyeri dan bayi bisa memanfaatkan dot sebagai penghilang rasa nyeri ini. Melepas kebiasaan penggunaan dot ternyata lebih mudah jika dibanding melepas kebiasaan bayi dalam menghisap tangannya.

Selain sisi positif, ada juga yang beranggapan bahwa dot bayi juga menimbulkan dampak negatif untuk bayinya. Berikut aku hasil sharing yang kudapatkan mengenai dampak negative dot:

  1. Dot kemungkinan akan menghalangi dalam proses menyusui dimana hal ini sudah dibuktikan dengan penelitian yang mengungkapkan jika sebagian bayi yang dikenalkan dot terlalu awal menjadikan kurangnya frekuensi untuk menyusu pada Ibunya sehingga pemberian ASI eksklusif akan bisa terhalangi.
  2. Penggunaan dot ini pun diduga mampu memicu gangguan pada telinga bayi karena pernah ada penelitian yang mengungkapkan jika bayi yang memakai dot kemungkinan besar akan bisa mengalami infeksi pada telinga. Alangkah baiknya jika bisa membatasi penggunaan dot ini sampai usia bayi menginjak 6 bulan.
  3. Dot pun juga dicurigai mampu menyebabkan masalah pada gigi si kecil. Masalah ini muncul jika anak terus menggunakan dotnya sampai usianya lebih dari 2 tahun. Namun jika pemberian dot ini pada usianya 6 bulan sampai 2 tahun, maka masalah akan bisa teratasi dengan sendirinya. Jadi pertimbangkan lagi tentang kapan waktu yang tepat memberikan dot dan kapan waktu yang tepat melepaskannya.
  4. Kebiasaan menggunakan dot mungkin juga bisa menjadi kebiasaan yang susah untuk dilepaskan dari keseharian si kecil sehingga hal ini jadi tantangan untuk orang tua juga.
  5. Kalau orang tua tidak menjaga sanitasi dot, hal tersebut akan menimbulkan masalah kesehatan pada bayi. Seperti hal nya yang sempat kubaca pada milist facebook, ada seorang ibu yang bayinya diare dan muntah-muntah, setelah ditelusuri ternyata ada bakteri di dotnya.


Memberikan dot bayi pada si kecil boleh-boleh saja, namun memperkenalkannya sebaiknya untuk tidak terlalu awal. Misalnya, kita bisa menunggu memberikan dot ketika bayi sudah mulai bisa menyusu dengan baik. Selain itu, sebagai orang tua juga harus bisa memilih dot sesuai dengan usia si kecil dengan lubang di pindir sehingga menjaga sirkulasi udaranya. Hindarkan juga bayi dari dot yang mengandung bishpenol-A (BPA) dimana bisa memberikan efek kesehatan ke si kecil. Sekarang sudah banyak sekali dot untuk bayi dengan bentuk yang lucu dan bisa ditemukan di situs belanja online dengan harga yang murah. Jadi sebaiknya membeli dot bayi disesuaikan dengan kebutuhan si kecil.

Nah, ada yang pernah punya pengalaman tentang pemberian dot pada bayi? Anaknya, keponakannya atau saudaranya mungkin. Yuk, sharing di komen untuk menambah pengetahuan tentang hal tersebut.

Karena Ibu: Kisah Kasihnya Menginspirasiku

I remember my mother's prayers and they have always followed me. They have clung to me all my life [Abraham Lincoln]

Doa-doa ibu selalu menjagaku sepanjang waktu. Sejak kecil, beliau menjadi madrasah pertama bagiku sekaligus sahabat bermainku. Aku punya tiga kakak lelaki yang usianya cukup jauh, sehingga ibu menjadi teman perempuan satu-satunya di rumah. 

Nah, kali ini aku mau flashback tentang kebersamaanku dengan ibu, dan 4 hal kebiasaan ibu berikut yang setidaknya membekas dan menginspirasiku menjalani hidup sebagai seorang istri, menantu dan calon ibu:

1. Berbakti dan mencintai suami sepenuh hati

45 tahun ibu menemani bapak dalam berumah tangga. Mengabdikan dirinya menjadi seorang istri dan sekaligus ibu untuk keempat anaknya. Menurut cerita ibu, beliau belum pernah berjauhan dengan Bapak. Paling lama seminggu mereka berjauhan dan itupun bisa dihitung dengan jari. Makanya, saat mengalami long distance marriage dengan suami di awal pernikahanku, ibu sering menasihati untuk lebih intens komunikasi dan mendoakan agar kami berdua bisa segera seatap.
Aku dan Ibu saat sungkeman

"Ridho suami adalah keberkahan untuk istri",
nasihat Ibu yang ini juga sangat melekat. Makanya apapun kegiatanku tidak luput dari izin suami, termasuk izin sekolah lagi di tahun ini.

2. Bisa Memasak tidak harus mahir!

Sebelum menikah pun ibu sudah memberikan wejangan kalau perempuan itu harus bisa memasak. Bisa lho ya, bukan berarti mahir. Dulu aku sempat jengah dengan nasihat yang berulang kali diucapkan beliau, tapi saat berumah tangga, hal itu sangat berguna.

Bisa karena biasa. Sejak menikah, sesekali aku turun ke dapur untuk memasak buat suami. Tidak hanya itu, saat di rumah mertua, aku juga terbiasa meracik bumbu di dapur menemani mertua menyiapkan sarapan. Dan itu menambah akrab hubunganku dengan ibu mertua karena di sela memasak adalah quality time untuk kami berdua. Karena pengalaman ibu, saat ini rasanya aku semacam de javu, karena nasihatnya dulu benar kalau dapur bisa menjadi ajang keakraban untuk mertua dan menantu seperti yang beliau alami dulu.

3. Memperbaiki dahulu sebelum akhirnya membeli yang baru

Nah, hal ini juga yang sangat menginspirasiku. Daridulu ibu berusaha memperbaiki terlebih dahulu barang-barangnya yang rusak. Seperti halnya, saat seragam sekolah anaknya sobek, beliau menjahit sendiri. Dan beliau sangat telaten melakukannya. Sepatu pun juga sama. Beliau mencoba memperbaiki dulu ke tukang sol sepatu, jika memang sudah terlalu parah, beliau baru berinisiatif membelikan yang baru.

Beranjak dewasa, aku menyadari bahwa itu salah satu kiat ibu untuk berhemat. Benar saja, dulu bapak ibu menyekolahkan ketiga kakak lelakiku secara bersamaan (Kuliah, SMA dan SMP sementara aku SD), sehingga beliau harus pandai mengatur anggaran rumah tangganya. Dan kini, kebiasaan tersebut menular padaku. Aku berusaha memperbaiki sesuatu hal yang rusak terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli yang baru.

4. Menjaga Salat

Ibu tidak pernah alpa untuk salat tepat waktu. Beliau juga menjaga tahajud dan dhuhanya. Meskipun bepergian, mukena selalu ada di dalam tasnya sehingga sewaktu-waktu bisa salat dimana saja. Makanya beliau tidak bosan-bosan mengingatkan kami untuk menjaga salat. Kalau pas weeend dan telepon atau video call dengan beliau, di akhir penutupnya selalu berpesan "Jangan lupa salatnya ya, Dik", ucapnya dengan wajah teduh.
Wajah dan senyum ibu yang meneduhkan

Ibu selalu bilang kalau tidak mengapa ia dulu tidak lulus SD, tetapi dalam setiap doa-doanya selalu meminta kepada Allah agar anak-anaknya bisa sekolah yang tinggi. Dan alhamdulillah terkabul, kami berempat tuntas sarjana. Sampai sekarang, aku berusaha menjaga salat tepat waktu, dan kebiasaan itu lagi-lagi dipupuk oleh ibu.

Bercerita tentang ibu tidak akan pernah ada habisnya. Kisah kasih dan cintanya sangat menginspirasiku, dan keempat hal di atas menjadi salah satu contohnya.

Untuk ibuku yang cintanya tak pernah purna oleh waktu, semoga Allah mencurahkan cintaNya padamu.


Minat Baca Menurun? Kenali Faktornya & Temukan Solusinya!


Kalau ditanya "Apa hobby-mu?", aku menuliskan membaca sebagai salah satunya. Tapi entah mengapa tahun 2017 minat membacaku benar-benar turun drastis. Dalam hal ini membaca buku ya. Pernah aku akali dengan menggantinya dengan membeli ebook yang lebih praktis bisa dibaca dimana saja, tapi ternyata kurang nyaman. Huhu.

Makanya pas membaca postingan Mbak Zia tentang pentingnya membaca, seakan-akan diingatkan lagi kalau tahun 2018 minat bacanya harus ditumbuhkan lagi. Bisa pasti bisaaaa! Oh iya, setelah menelaah drastisnya minat bacaku di tahun ini, ternyata ada beberapa faktor penyebabnya:

1. Jauh dari toko buku

Pas di Jakarta, aku dimanjakan dengan mudahnya akses ke toko buku. Ada gramedia, gunung agung atau toga mas. Jadi, pas pulang kantor bisa melipir sebentar buat ngintip buku baru apa saja yang terbit. Aku juga pernah lho seharian ngadem di gramedia hanya sekadar nebeng baca buku. Malah jadi akrab sama salah satu penjaga disana.

Setelah pindah ke Klaten, berasa ada yang kurang karena akses ke toko buku lumayan jauh. Aku harus ke Solo atau Jogja dulu kalo mau membeli atau melihat-lihat novel baru. Jadi yaaaa, doaku paling kenceng semoga Gramed bisa masuk ke Klaten, hihi.

2. Biaya Ongkos Kirim Mahal

Selain jauh dari toko buku, biaya ongkir kalau beli buku online juga mahal, huhu. Alasan memang bisa aja ya, tapi memang ini yang aku rasakan. Aku pernah beli buku buat materi perkuliahan, ongkirnya hampir setengah harga bukunya, heuheu.

Lagi-lagi aku harus membandingkan zaman pas di Jakarta yang ada COD-an, sehingga aku bisa beli buku berapa saja hanya dengan ongkos kirim 9ribu. Abang-abangnya pun sampai hafal banget kalau pas nganter buku ke kantor. Karena biasanya aku memanfaatkan promo atau diskon dari toko buku online yang memudahkanku membeli buku. Makanya, pas harbolnas kemarin aku kalap banget beli buku sampe 13 ekslempar. Selain diskon 50%, juga gratis ongkos kirimnya. 

3. Perpustakaan fakultas pindah ke pusat

Salah satu semangat membara kembali kuliah S2 adalah fasilitas buku dan crew perpusnya yang sangat memanjakan para mahasiswa. Tiap jam kosong pasti larinya ke perpustakaan buat baca-baca buku dan sekaligus meminjamnya untuk dibawa pulang. Rasanya sedih pas tahu perpus fakultas dipindah ke pusat, huhu. Intensitas ke perpus jadi makin jarang karena jaraknya tidak sedekat dulu.

Jam kosong atau saat menunggu jam perkuliahan nggak lagi nyambangin perpus, tapi prefer ke kantin atau di lobby, heuheu. Selain itu, kalau meminjam buku kalau telat sehari pengembalian, dendanya gak tanggung-tanggung, 5 ribu per ekslempar euy. Rugi bandar kan! Entah kenapa dendanya bisa semahal itu, huhu. 

4. Tidak ada target

Karena poin 1-3 udah bikin loyo, yang sebelumnya aku ada target membaca tahunan jadi seenaknya sendiri. Mau baca oke, nggak baca pun nggak masalah. Teman-teman pernah menargetkan membaca buku tiap tahunnya nggak? Di goodreads ada challange-nya, dulu aku pernah ikut dan memang bener-bener ter-challange. 

5. Godaan gadget

Nah, ini godaan yang masha Allah beratnya sampai sekarang. Nyekrol sosial media 2 sampai 3 jam nggak berasa, tapi pas baca buku apalagi jurnal buat kuliah kok 1 jam saja udah ngantuk. Makanya aku pernah ketat sekali dalam penggunaan gadget, karena kalau tidak bijak penggunaannya, nggak cuma membaca yang terbengkalai, tapi kerjaan lagi bisa nggak selesai-selesai.

Tahun 2018 ini, aku mulai menargetkan dan menumbuhkan minat baca lagi. Jnsya Allah setahun minimal 25 buku *bismillah*. 5 faktor tadi buat pembelajaran diri untuk mencari solusi biar membaca buku bisa seasyik dulu. 

Misalnya pas main ke Jogja atau Solo, mengagendakan ke toko buku sebentar. Yaaah sebulan sekali lah, toh di mall juga sudah ada toko bukunya. Setidaknya sambil main ngintip buku, ahahaha. Selain itu, memanfaatkan promo atau diskon di berbagai toko buku online. Biasanya ada bebas ongkir, contohnya yang jualan di shopee. Pinter-pinter memanfaatkan kesempatan ya. Okesip.

Memanfaatkan perpustakaan daerah juga bisa jadi pilihan lho. Setidaknya untuk menyembuhkan pindahnya perpus fakultas. Memang sih, buku di perpusda tidak dikhususkan untuk peminjaman buku perkuliahan, tetapi setidaknya bisa meminjam buku lain untuk menambah wawasan kita kan? 

Yang terakhir tentang fungsi gadget. Ini hanya kita yang bisa memberikan rem pakem. Oh iya, yang nyaman membaca melalui gadget, bisa membeli ebook atau buku di playstore. Aku sesekali sih, karena lebih nyaman membaca buku fisik. 

Semoga tahun 2018 minat bacanya membaik dan meningkat ya.



Pernikahan Tahun Pertama

"Menikah adalah menggenapkan separuh dien. Karena satu sama lain saling belajar seumur hidup"...

Ps; ini full curhat dan panjang, feel free to skip~~~

Kenapa menggenapkan, memangnya sebelumnya ganjil? Hish, sebelumnya aku acuh tak acuh dengan frase itu. Tetapi setelah merasakannya sendiri, ternyata menikah menuntut kami berdua untuk saling belajar tanpa batasan. Bisa jadi paginya tertawa sama-sama, untuk kemudian salah satu atau bahkan kami berdua dihadapkan dengan hal yang membuat "badmood" terhadap satu sama lain.

Seringkali yang menyulut api bukan karena hal-hal yang besar, melainkan ceceremesh yang bikin gemash! Kayak handuk basah ditaruh di atas sprai, atau gak sengaja fokus main game trus kalah, eh moodnya tiba-tiba ikut runtuh, ahaha. Dan yang sering, pas aku watsapp tapi balasnya lamanya minta ampun, heuheu. Pokoknya yang begituan bisa membuat kami (kebanyakan aku sih) jadi cerewet. Kalo udah cerewetnya keluar, suami cuma diem sambil klecam-klecem, kalo udah mereda biasanya beliau minta maaf.

Nasihat Pra Nikah

Throwback sebelum nikah, aku dipanggil petugas desa untuk verifikasi dokumen ke KUA. Yaudah, aku sama Bapak kesana ditemenin Mas Nur nama petugas desanya. Aku sih santai aja sebelum ngadep pak naib (penghulu). Sebelum masuk, karena ada calon manten yang tanggal nikahnya sama dan sedang ditanya-tanya juga perihal dokumen pernikahannya, Mas Nur mengajari kunci jawaban kalo misal ditanyain Pak naib, ahaha. Aku cuma manggut-manggut doang.

  • Niat nikahmu apa?
  • Tujuan nikah apa?
  • Udah mantep kan? Nikahnya tanpa paksaan?
Trus Mas Nur ngasih tahu jawabannya, semacam kayak lagi ikut bimbel masuk UMPTN. Nggak lama kemudian namaku dipanggil. Bapak menyalami pak naib yang ternyata sohib ikrib pengajian. Dunia emang sempit ya. Setelah basa-basi nanyain kabar, pak naib menanyakan beberapa hal tentang identitasku dan (calon) suami.

Beres. Dokumen lengkap.

Yang belum beres itu, ya tentang pertanyaan pak naib. Plek ketiplek kayak yang dikasih tahu Mas Nur sebelum menghadap pak naib. Memang sih redaksinya berbeda, cuma intinya sama. Sudah dikasih tahu kisi-kisinya kok ya bibirku kelu dan membeku.huhuhu

Aku cuma klecam-klecem memandangi pak naib sama Mas Nur yang senyum-senyum seperti mengkode biar aku menjawab sesuai yang diarahkannya tadi. Tapi kok ya aku tetep saja berat menjawab.

"Mbak Nur, kalo boleh tahu, niat menikah dengan Masnya itu karena apa?" Of course karena cintaaaaaaaa. Becanda! Aku nggak menjawab itu. Aku menjawab nawaitu menikah sama suami adalah karena ibadah. Entah itu kalimat darimana, cuma memang meluncur begitu saja. 

Sebelum memutuskan menikah, aku dan Mas sudah bicara 4 mata ditambah beberapa mata (keluarga). 6 bulan aku menyiapkan lahir batin, menanyakan siapa tahu Mas berubah pikiran. Tapi ya tak clurit sik-lah kalau sampai benar-benar berani mbatalin, ahaha *kidding*. Intinya, setelah lamaran, aku memberikan waktu 6 bulan buat kami berdua sama-sama memantapkan diri. Mas jauh di Jakarta bekerja buat memenuhi mas kawin seperangkat alat salat plus-plus, sedangkan aku di Solo menyelesaikan kuliah sambil membuat list mau seserahan apa.

Pertanyaan kedua pak naib. "Tujuan menikah Mbak Nur apa sih? Apa dipaksa bapak ibu? Atau kemauan sendiri?" Nah, pertanyaannya dirapel kan. Setelah lancar menjawab pertanyaan pertama, aku tidak perlu diberi aba-aba untuk menjawab pertanyaan kedua ataupun seterusnya. 

Aku menikah karena mau, bukan karena orang lain. Apalagi cuma dipaksa sama bapak ibu, ah bukan. Rasanya mereka ga berani maksa-maksa, tapi kalau nanya-nanya IYAAAA. Nanya temenku si fulan atau fulanah udah nikah apa belum, padahal beliau tahu teman-teman sebayaku udah nikah semua dan malah udah punya anak sampe 2 atau 3. Cuma mereka kayak ngasih kode aja kapan mau dikenalin sama calon mantu, ekeke.

Awalnya aku risih ditanya-tanya, tapi lama-lama aku menyadari karena mereka pasti juga pengin aku segera menikah, pengin momong cucu seperti ketiga kakak lelakiku. Aku belum pernah menjadi orangtua, jadi aku mencoba memahami keinginan mereka. Makany, 5 tahun tanpa adanya hilal mau nikah kapan, di usia ke-27 aku bawa Mas ke rumah serombongan sama keluarganya.

Tujuan membangun pernikahan dengan Mas karena ingin membangun keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Pak naib trus menjelaskan dong arti dari tujuan tersebut. Setelah itu praktik akad nikah. Kebetulan Mas nggak bisa datang karena nggak mengagendakan ada verifikasi ini sehingga tidak bisa cuti mendadak. Pak naib menjabat tangan bapak dan melatih bapak untuk melafazkan akad nikah.

1 jam di KUA berasa ujian mau dapet SIM, ahaha. Entah kenapa yang nikahan pas natal itu banyak juga. Aku yang request jam 9 pagi dimajukan jadi jam 7. Oh my god, trus aku dandan jam berapa cobak, ahaha *pikirku waktu itu*. Tapi ternyata bisa juga cantik pada waktunya.

Alhamdulillah Sah!

Pak naib datang tepat waktu. Akupun sudah siap. Mas siap. Bapak siap. Saksi siap. Dan para penonton juga siap. Bapak mengikrarkan ijab dengan pelan-pelan. Akhirnya beliau mempraktikkan langsung setelah latihan beberapa kali. Aku deg-degan takut bapak salah ucap, maklum beliau baru saja sembuh dari TBC. Alhamdulillah beliau lancar.

Giliran Mas yang berikrar qobul-nya. Ah, aku nggak akan panik dan takut kalau dia salah sebut. Dan benar dugaanku, dia melafazkan qobul sekali napas. Cium (tangan) seketika, trus cium pipi kanan kirinya pas malamnya, ahahaha.

Aku menyalami seluruh keluarga dan entah kenapa aku meleleh. Tiba-tiba ada yang sontak mengingatkan "Gausah nangis, bedakmu luntur lho". Aku menahaaaaaaaan biar bedakku tetap awet tanpa basah air mata. Tapi mustahil, akh mewek, huhuhu. Alhamdulillah bedaknya nggak luntur. Bapak ibu memeluk erat. Kayaknya seneng sudah sah punya mantu per hari itu. 

Dan prosesi resepsi yang membuat kaki, pinggang encok pun membuat kami berjanji "UDAH CUKUP SEKALI AJA NIKAHNYA. IYA, SAMA KAMU DOANG". Sepanjang acara senyum manis, kamera sama video ada dimana-mana, kan nggak enak kalo pas difoto hasilnya kusam atau bahkan merem. Oh No!

Setelah resepsi, tamu masih hilir mudik. Fix, encoknya paripurna. Habis magrib-isya kami masih menemui, mulai jam 9 aku sudah nggak sanggup, akhirnya pamit bapak ibu ganti daster. Ibu senyum-senyum meledek, padahal tumitku udah nggak karuan. Hari itu adalah hari terlama aku memakai high heels, huhu.

Aku sama Mas salat isya jamaah. Aku salim dibalas cium kening *blushing*. "Capek ya?" Pertanyaan macam apa sih Mas, huhu. Tentu capeeeeek. Trus aku masuk kamar mengoleskan minyak ke tumit, pinggang sama tengkuk. Mas minum teh hangat sama tolak angin. Setelah itu bobo pules sampe shubuh buat dirias lagi. Acara ngunduh mantu!

Tahun Pertama Pernikahan

Awal menikah, kami mengalami LDM. Aku ke Jakarta atau Mas yang pulang pas weekend. Kami berdua menikmatinya. Menunggu di peron stasiun sambil ngobrol kapan mau ketemu lagi adalah hal yang lumrah. Dan kami jarang berantem karena intensitas ketemu membuat kami sama-sama bisa mengontrol diri. Beneran, dulunya aku yang dikit-dikit ngambek jadi merasa sayang banget kalau waktu ketemuan yang cuma seminggu sekali harua dipake buat berantem.

Paling pol kami berdebat saat mau lebaran. Aku maunya lebaran pertama di rumah bapak ibu, sedangkan Mas maunya di rumahnya. Logis sih, beliau anak lelaki satu-satunya dan aku juga kasihan kalau bapak ibu mertua lebaran sendirian. Jadi, lebaran tahun 2017 adalah awal aku lebaran tanpa keluarga besar. Tapi itu semua sudah clear dengan damai di atas ranjang.

Menikah adalah kompromi-kompromi. Aku sangat setuju! Kita bisa up and down dibuatnya. Tidak lagi bicara aku dan kamu melainkan kita sama-sama. Mas bukan tipikal romantis, tapi perbuatannya sering membuat aku meleleh. Hal-hal kecil yang semakin membuatku bersyukur menjadi bagian dari hidupnya. Saling menggenggam tangan, memeluk dan memberikan puk-puk. 

Terima kasih menjadi teman mengarungi tahun 2017. Semoga bisa berjalan bersisian di tahun selanjutnya dengan kompromi yang saling kita sepakati. Meskipun honeymoon dan babymoon hanya sekadar wacana, cuma aku selalu terharu saat aku merasa bosan, kamu menawarkan "Mau ditemenin kemana? Mau dibelikan makan apa?" 

I love you to the moon and back.

Love,

Adik.


PRUmedical Network, Inovasi & Komitmen Prudential untuk Perlindungan Rawat Inap Nasabahnya

Kesehatan itu sangat mahal, tetapi bagi saya, sakit jauh lebih mahal! Saya pribadi pernah merasakan sendiri betapa tidak enaknya harus dirawat di rumah sakit karena tipes. Selain beberapa urusan terbengkelai, saya juga harus merogoh kocek untuk membayar biaya rumah sakit yang tidak sedikit, heuheu. Saat itu, saya belum ikut asuransi apapun, karena sebelumnya terlalu nyaman ikut asuransi orang tua yang notabene sebagai PNS.

Nah, sejak saat itu saya menyadari bahwa asuransi untuk kesehatan sangatlah penting. Membahas mengenai asuransi kesehatan yang memberikan kemudahan dan kenyamanan nasabahnya, pada 16 November 2017 lalu, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) meresmikan PRUmedical network.

Apa sih itu? PRUmedical network adalah jaringan rumah sakit rekanan perusahaan yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi nasabah Prudential Indonesia dalam mendapatkan perlindungan rawat inap, yang saat ini tersedia di 42 rumah sakit di 23 kota yang dikelola oleh Siloam, Mayapada, Mitra Keluarga dan Royal Taruma di seluruh Indonesia. 

Jens Reisch, selaku Presiden Direktur Prudential Indonesia menyampaikan bahwa perusahaan sangat bersyukur dapat meluncurkan PRUmedical network yang memberikan layanan eksklusif bagi nasabah sejak masuk, selama perawatan, hingga keluar dari rumah sakit. Selain itu, perusahaan merasa senang dapat bermitra dengan empat rekanan yang tidak saja merupakan penyedia jasa kesehatan terkemuka dengan jaringan yang luas di Indonesia, namun juga memiliki kesamaan misi untuk memberikan pelayanan dan kenyamanan terbaik kepada nasabah yang menjalani rawat inap, sehingga pasien dan keluarganya dapat dengan tenang berfokus pada memulihkan diri. Sepakat sama pendapat beliau! Dengan adanya kenyamanan selama perawatan hingga pemulihan, setidaknya keluarga pasien, terutama pasien bisa lebih memerhatikan proses recovery-nya.

Keunggulan PRUmedical Network

Oh iya, sebelum meluncurkan layanan PRUmedical network, Prudential Indonesia juga memiliki layanan unggulan lain yang hadir terlebih dahulu, yakni PRUhospital friend dan PRUhospital line. Sehingga, adanya layanan PRUmedical network merupakan inovasi atau terobosan baru dari Prudential Indonesia untuk memudahkan kenyamanan rawat inap nasabahnya. Tidak akan ada lagi kamus “kehabisan kamar”! Karena kalau pernah mengalami kehabisan kamar pas kondisi sakit atau mengurus orang sakit itu, nggak enak banget, heuheu.

Untuk layanan PRUhospital friend yang sudah hadir di sejumlah rumah sakit di Indonesia, ini merupakan layanan dari Prudential, dimana petugas khusus Prudential ditempatkan untuk membantu proses administrasi nasabah saat menjalani rawat inap. Sebagaimana dengan namanya, diharapkan pasien nggak akan ribet lagi ngurus administrasi saat rawat inap di rumah sakit karena memiliki “teman” yang mengarahkan. Tidak aka nada cerita ping pong sana-sini lagi buat ngurusin administrasi. Yay!

Sedangkan PRUhospital line merupakan layanan alternatif, berupa saluran telepon khusus yang tersedia bagi petugas rumah sakit terkait untuk langsung mengontak Prudential dalam memastikan agar kebutuhan rawat inap pasien terpenuhi. Nah, layanan ini khusus di rumah sakit yang belum memiliki PRUhospital friend. 
Selain layanan khusus PRUhospital friends dan/atau PRUcustomer line, nasabah yang menjalani rawat inap dapat menikmati sejumlah manfaat utama PRUmedical network, antara lain: 

Jaminan ketersediaan kamar rawat inap, di mana pasien berhak untuk mendapat fasilitas peningkatan kelas kamar rawat inap apabila kelas kamar yang sudah ditentukan tidak tersedia, dan pasien cukup membayar sesuai dengan harga kamar awal.

Fasilitas tambahan bagi keluarga pasien sebagai dukungan perlengkapan selama masa rawat inap pasien, seperti kupon makanan dan/atau minuman dan pemberian fasilitas lain untuk mendukung kenyamanan saat menemani pasien. 

Proses administrasi yang lebih mudah, dengan adanya jaminan ketersediaan kamar serta berbagai fasilitas tambahan tersebut, nasabah mengurusnya dengan mudah! Administrasinya tidak berbelit-belit karena memang inilah salah satu keunggulan dari PRUmedical network.

Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan nasabah akan layanan rumah sakit yang efisien, nyaman dan berkualitas, Prudential berkomitmen untuk menghadirkan inovasi melalui berbagai layanan dan produk yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.  PRUmedical network merupakan wujud nyata komitmen dalam melayani 2,4 juta nasabah yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Sebagai bahan referensi, berikut daftar rumah sakit yang telah menjadi rekanan PRUmedical network:


Teman-teman tertarik dan ingin tahu lebih mendalam mengenai produk dari Prudential? Langsung kepoin deh website-nya di www.prudential.co.id

Selamat liburan dan semoga sehat selalu ya teman-teman 💓