Featured Slider

Mempersiapkan ASI untuk Nutrisi Terbaik Bagi Perkembangan Anak dengan Philips Avent


Menjadi calon ibu banyak hal-hal baru yang harus saya pelajari. Semula hanya sekadar teori, tetapi kali ini saya harus mengaplikasikannya. Meskipun sebelumnya pernah ikut mengasuh dan membesarkan keponakan karena tinggal satu rumah, tetapi nyatanya saat harus melewati momen itu, banyak hal yang wajib saya pahami. 

Nah, di pertengahan tahun 2017, saat saya dinyatakan positif hamil, saya mencari tahu tentang dunia pregnancy, persalinan dan tumbuh kembang anak. Beberapa seminar, artikel dan obrolan membahas hal tersebut saya simak sebagai bekal dan pengetahuan. Seringkali, teori tidak sejalan dengan praktiknya. Buktinya, saya sempat merasa kaget saat harus melalui trimester pertama. Perubahan hormon kehamilan mempengaruhi mood dan emosi saya. Alhamdulillah masuk trimester kedua, saya sudah lebih enjoy menikmati kehamilan saya.

Komitmen dan Semangat Meng-ASI-hi untuk Buah Hati


Di 28 minggu usia kehamilan saya ini, selain menyiapkan perlengkapan melahirkan (popok, baju dan celana bayi, perlak, bantal guling bayi dan pernak-pernik lainnya), yang tidak kalah penting adalah menyiapkan semangat dan komitmen untuk memberikan nutrisi terbaik buat bayi, yaitu: ASI. Nah, untuk itu saya benar-benar rajin melakukan 3 hal ini selama masa kehamilan terutama di trimester kedua ini:

1. Ikut seminar dan forum diskusi

Di kampung-kampung, bidan desa sering mengadakan posyandu dan penyuluhan bagi ibu hamil dan balita. Kakak ipar saya menjadi salah satu pengurusnya, sehingga jika ada informasi mengenai penyelenggaraan seminar laktasi atau diskusi yang membahas ibu dan balita, beliau selalu menginformasikan kepada saya. Acaranya pun free lho! Makanya, saya senang sekali karena mendapatkan insight baru untuk mempersiapkan persalinan dan pemberian ASI untuk buah hati kami.

2. Ngobrol dengan yang lebih berpengalaman

Selain ikut seminar dan diskusi, saya juga tidak sungkan bertanya kepada yang lebih berpengalaman. Misalnya, ketiga kakak ipar saya yang sudah berpengalaman dalam memberikan ASI.

“Setiap ibu memiliki challenge masing-masing dalam menyusui buah hatinya”

Saya setuju sekali dengan ungkapan ini. Setiap ibu pastinya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, salah satunya dengan memberikan ASI eksklusif. Namun, sepengalaman kakak ipar saya, ada yang memang bisa lulus memberikan ASI selama 2 tahun. Tetapi ada juga yang hanya bisa 4 bulan saja bisa memberikan ASI-nya. Beliau sudah konsultasi ke dokter dan melakukan berbagai cara, namun ASI-nya tetap saja mampet. Nah, dari obrolan-obrolan itu, saya bisa mengambil pelajaran bagaimana agar produksi ASI bisa melimpah.

Saya juga ngobrol dengan sahabat yang kebetulan sedang sama-sama menyelesaikan tesis. Dia menjelaskan produk apa saja yang bisa menunjang dalam proses mengasihi dan tips apa saja yang harus dilakukan agar bisa memberikan ASI di sela menyelesaikan tesisnya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana dia selalu memompa ASI-nya setiap 3 jam sekali dan tetap melanjutkan mengerjakan tesisnya tanpa mengeluh.

3. Membaca artikel seputar kehamilan, melahirkan dan tumbuh kembang anak khususnya tentang tips-tips sukses memberikan ASI

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan digital memudahkan saya untuk mengakses  berbagai informasi. Hal ini saya manfaatkan untuk browsing artikel-artikel seputar kehamilan, melahirkan dan tumbuh kembang anak, khususnya tips-tips sukses memberikan ASI. Sebagai The urban mama, salah satu website yang saya jadikan rujukan dan referensi adalah theurbanmama.com. Nah, saat saya memasukkan keyword tips-tips sukses memberikan ASI, saya membaca satu per satu artikel dari web ini yang sangat mencerahkan. Tidak hanya itu, saya juga merasa mendapat jawaban produk apa saja yang mendukung proses MengASIhi nanti, yaitu Philips Avent.

Dari hasil forum diskusi, browsing internet dan ngobrol dengan beberapa sahabat yang sudah pengalaman menyusui, saya menyimpulkan bahwa upaya ibu hamil agar bisa mengoptimalkan pemberian ASI pada bayinya adalah sebagai berikut:

1. Memilih dokter dan tempat bersalin yang mendukung pemberian ASI eksklusif

Memilih dokter kandungan dan bidan yang mendukung Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sangat penting, apalagi saya yang notabene calon ibu baru butuh pengetahuan tentang hal tersebut. Soalnya, ada pengalaman dari teman saya yang setelah melahirkan, tanpa seizinnya, salah satu perawat di rumah sakit tersebut memberikan susu formula pad bayinya. Makanya, saat mengetahui saya hamil, ia berpesan untuk memilih dokter kandungan dan rumah bersalin yang mendukung IMD.

Alhamdulillah, dokter kandungan saya justru memberikan pencerahan mengenai IMD, kolostrum, perawatan bayi setelah melahirkan dan memberikan arahan jika ada masalah dengan pemberian ASI agar segera konsultasi dengan konselor laktasi. Oh iya, di kunjungan terakhir kemarin, beliau juga mulai memberikan tips-tips seputar pemberian ASI lho. Beliau juga menjelaskan bahwa cairan kolostrum yang sangat penting dan bagus untuk bayi. Cairan kolostrum ini hanya keluar di awal-awal menyusui, jadi beliau berpesan agar saya mengusahakan sebisa mungkin bayi mendapatkan kolostrum.

2. Komitmen meng-ASI-hi

Berdasarkan penelitian, proses menyusui yang dilakukan ibu pasca melahirkan, paling sedikit secara eksklusif selama 6 bulan, tidaklah mudah (Inge Wattimena & Yesiana Dwi W. Werdani, 2015: 231). Penelitian ini menunjukkan bahwa ibu perlu mempunyai manajemen diri yang kuat dalam sadar diri dan determinasi diri. Dengan kata lain, komitmen kuat si ibu sangat dibutuhkan dalam proses pemberian ASI.

Mbak Fine, teman kuliah S-2 saya yang berkomitmen untuk memberikan ASI eksklusif untuk anaknya di tengah perjuangannya menyelesaikan tesisnya. Setiap 3 jam sekali, meskipun sedang di kampus atau saat mengerjakan tugas kuliah, ia tidak risih untuk memompa ASI-nya. Rasa malas dan capeknya kalah dengan komitmennya untuk memberikan nutrisi terbaik bagi anaknya. Ia beranggapan bahwa dengan rajin memompa ASI, maka ia juga menjaga produksi ASI-nya tetap melimpah. Benar saja, istilah supply and demand berlaku dalam hal ini. ASI Mbak Fine mencukupi bahkan dia bisa menyetok beberapa kantong ASI di kulkas untuk anaknya.
Nah, hal itu yang membuat saya semangat dan berkomitmen kuat untuk memberi ASI setelah melahirkan nanti. Insya Allah. Mengingat menyusui adalah sebuah “proses” yang butuh usaha dan perjuangan. Maka mulai dari kehamilan, saya mulai menyugesti diri sendiri untuk yakin bisa memberikan ASI sebagai nutrisi bagi perkembangan buah hati kami.

3. Manajemen stress dan selalu bahagia

Menurut penuturan kakak ipar saya, manajemen stress sangat penting bagi ibu menyusui. Karena hal tersebut bisa memperngaruhi produksi ASI. Saat itu, sedang crowded kerjaan di kantor, sehingga tanpa disadari hal tersebut membuatnya sedikit stress. Akibatnya, di usia anaknya 4 bulan, ASI-nya tidak keluar. Sudah konsultasi ke dokter dan mencoba untuk rileks, tetapi produksi ASI-nya tidak sederas sebelumnya, huhu. Makanya, kemarin waktu mudik, dia berpesan kepada saya untuk tidak stress dan selalu bahagia.

Bagi saya, bahagia itu abstrak bentuknya. Namun, kalau diusahakan, apalagi jika dikembalikan pada komitmen mengasihi, insya Allah akan berhasil. Kalau ada selentingan dari orang terdekat kita mengenai cara kita menyusui, atau justru mendikte kita harus melakukan ini-itu yang membuat hati tidak nyaman, maka yang harus dilakukan adalah serileks mungkin dan tidak memasukkannya dalam hati. 

“Anaknya nangis terus, kurang ASI ya? Coba ditambah susu formula?” “Nangis terus mungkin belum kenyang, coba dicoba dikasih pisang sedikit-sedikit”. Statement itu pernah saya dengar sendiri di kampung saat menjenguk salah seorang teman yang bersalin. Makanya, saya sudah menyiapkan mental untuk menghadapi hal-hal serupa agar selalu bahagia.

4. Mengatur pola makan dan tidur

Nasihat ini sebenarnya sudah disampaikan saat pertama kali periksa ke dokter kandungan saya di waktu awal kehamilan. Namun, pesan tersebut diulang kembali di pertemuan terakhir. Beliau berpesan untuk mengatur pola makan dan tidur saya sebagai salah satu tips untuk mengupayakan produksi ASI untuk bayi. Memperbanyak sayuran dan buah serta minum air putih yang cukup. Dokter menjelaskan kalau untuk menjamin kualitas ASI, si ibu harus menjaga asupan nutrisi yang dikonsumsinya. Karena apa yang dikonsumsi ibu, juga dikonsumsi bayinya. Dalam seminar yang pernah saya ikuti, yang bertambah itu bukan porsinya melainkan kandungan nutrisi dalam makanan tersebut. Jadi, kalau dulu porsi makannya 1 piring, saat menyusui bukan 2 piring, hihihi. Tapi, ibu harus benar-benar aware dengan kandungan nutrisi (karbohidrat, protein, mineral dan vitamin) dari makanan yang dikonsumsinya.

Nah, lagi-lagi berkiblat pada pengalaman ipar saya yang ritme tidurnya tidak menentu pasca melahirkan, sehingga hal tersebut membuatnya masuk angina dan moody. Maka, menjaga pola tidur juga harus diperhatikan agar produksi ASI tidak terganggu. Hal ini bisa dikoordinasikan dengan suami untuk bergiliran menjaga bayi. Selain itu, ibu juga harus pandai-pandai mengatur waktu agar tidurnya cukup dan berkualitas.

5. Menyisihkan Budget untuk Invest-ASI demi nutrisi buah hati

Hah, invest-ASI? Yup. Dari beberapa literatur yang saya baca dan hasil obrolan dengan beberapa sahabat, invest-ASI sangat penting. Mengingat, ASI adalah nutrisi terbaik bagi bayi dan merupakan investasi penting bagi tumbuh kembang dan kesehatan anak. Bagi sebagian orang, menyusui memang tampak mudah dan murah. Tetapi hakikatnya, menyusui tidak semudah menyodorkan payudara ibu ke mulut bayi. Seringkali ada banyak halangan dalam proses menyusui, seperti: baby blues, bingung puting, nursing strike, inverted nipple, dan masih banyak lagi. 

Menyusui memang murah dibandingkan memberi susu formula pada anak. Tapi menyusui juga tidak gratis. Karena itu, menyusui membutuhkan persiapan matang sejak dini. Tak hanya segi ilmu tapi juga finansial. Makanya, saya sependapat dengan pentingnya invest-ASI untuk membeli beberapa perlengkapan dalam proses menyusui. Nah, dalam hal ini, setelah membaca beberapa referensi dan testimoni, saya mantap memilih Philips Avent dalam mempersiapkan ASI sebagai nutrisi calon bayi saya.

Philips Avent, wishlist produk yang saya butuhkan dalam mempersiapkan ASI untuk nutrisi terbaik bagi perkembangan anak


Mengenai invest-ASI, saya dan suami sudah berdiskusi dan sepakat menyisihkan budget untuk mengalokasikan anggaran tersebut. Apalagi, sebagian barang-barang yang kami beli bisa “diwariskan” untuk adik-adiknya calon bayi kami (duh jangkanya panjang bener, euy!). Tetapi faktanya memang demikian. Oh iya, suami mendukung penuh upaya saya untuk mempersiapkan ASI eksklusif. Beliau juga mencari pengetahuan mengenai laktasi, ikut menyusun list serta anggaran perlengkapan persalinan dan keperluan laktasi. Jadi setiap sebelum tidur, topik itu menjadi pillow talk kami yang sangat mengasyikkan. 

Kami berdua sepakat mengenai wishlist produk untuk proses menyusui pasca melahirkan, yang akan kami beli bulan depan, yaitu: PHILIPS AVENT. Bulan ini kami sudah mencicil membeli perlengkapan persalinan, seperti: popok, baju bayi, diapers, bantal bayi dan lain-lain. Perlengkapan menyusui sengaja kami beli bulan depan, saat usia kehamilan saya 8 bulan. Selain biar duitnya ngumpul dulu, kami juga masih menunggu promo dan diskon, karena produk-produk baby itu lumayan bikin kantong bolong cyiiiiin, hihi.

Nah, berikut hasil list perlengkapan menyusui hasil diskusi dengan suami:

Philips Avent Natural Comfort Single Electric Breastpump 

Untuk memilih ini, saya dan suami berdiskusi agak panjang. Bukan karena berdebat tentang produknya, melainkan jenis pompa ASI-nya (manual atau elektrik). Philips Avent memiliki 3 jenis pompa: manual, single elektrik dan double elektrik. Setelah menimbang beberapa hal, pilihan kami jatuh pada Philips avent natural comfort single electric breastpump. 

Menurut saya, pompa ASI merupakan alat perang yang bisa membantu ibu untuk mengumpulkan stok ASI. Selain, harganya masih masuk budget invest-ASI kami, ada beberapa keunggulan pompa ASI ini yang membuat saya kepincut untuk memiliki.

Philips Avent Single Electric Natural Breastpump membuat proses memompa ASI untuk si kecil jadi lebih maksimal. Pompa payudara didesain ergonomis sehingga ibu dapat memompa ASI dengan nyaman dan ASI dapat mengalir langsung dari payudara ke botol (tanpa perlu badan membungkuk). Pompa ini menggunakan 2 phase expression. Two phase expression adalah 2 fasa/ritme ketukan memompa, ketukan awal cepat dan pendek untuk menstimulasi dan ketukan kedua pelan dan dalam untuk memerah. Two phase expression ini adalah meniru ritme bayi ketika menyusu langsung kepada Ibu. Selain itu, pompa ini memiliki sistem tertutup (closed system) dimana hisapan dari motor unit tidak langsung ke corong sehingga meminimalkan resiko ASI masuk kedalam motor unit, sehingga motor unit relatif lebih awet. 

Philips Avent 2 In 1 Electric Steam Sterilizer

Berdasarkan pengalaman, dulu waktu mensterilkan botol-botol Dio dan Dea, pengasuhnya merebusnya dengan air hangat dengan alasan agar bersih dan terhindar dari bakteri. Waktu itu, kami belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai hal tersebut. Setelah membaca beberapa artikel dan konsultasi dengan konselor laktasi, ternyata tindakan tersebut kurang tepat. Makanya, pas banget dengan kebutuhan saya saat proses menyusui nanti, Philips avent 2 in 1 electric steam sterilizer sangat efektif dan efisiean membantu menyeterilkan botol dan aksesori menyusui lainnya. Pensteril memiliki desain ramping yang hemat ruang. Mensterilkannya pun cukup dalam waktu 10 menit. Sehingga, hal tersebut benar-benar membantu saya nantinya dalam perawatan perlengkapan menyusui. Seperti namanya, fungsi alat ini bisa membunuh 99,9% kuman yang berbahaya.

Nah, 7 keunggulannya bisa teman-teman simak di gambar di bawah ini. Siapa tahu bisa menjadi referensi teman-teman juga dan menjadikannya wishlist dalam proses mengASIhi buah hati.

Avent Newborn Natural Starter Set

Pada dasarnya, idealnya seorang ibu bisa menyusui secara langsung bayinya. Namun, dalam hal ini, saya tidak memungkiri pemberian dot bayi, karena setelah melahirkan, insya Allah saya akan aktif berkarir lagi. Sehingga, saya ingin menyiapkan kualitas dot terbaik untuk anak saya nanti agar dapat menyusu dengan baik. Tentunya, hal ini diberikan jika saya sedang di luar, kalau di rumah tentunya akan saya berikan secara langsung. Nah, Avent Newborn Natural starter set menjadi wishlist saya, selain harga paketannya lebih terjangkau dibandingkan membeli satuan, selain itu fungsinya juga sesuai yang saya dan calon anak saya butuhkan.

Dalam satu paket ada 4 botol natural (2 pcs botol 125 ml dan 2 pcs botol 260 ml), sikat botol dan dot, dan empeng putih bening untuk usia 0-6 bulan. Material dot silikonnya sangat lembut dan mneyerupai tektur payudara sehingga meminimalisir bayi bingung puting. Fitur kelopak pada dot berfungsi lebih lentur namun tetap kokoh dan terdapat ulir/garis spiralnya yang memudahkan gerkan lidah bayi, khususnya usia 0-3 bulan. Ssst, ada system anti koliknya yang mencegah udara mengalir ke perut bayi. Lagi-lagi, bentuk botolnya didesain ergonomis sehingga memudahkan tangan bayi untuk memegangnya.

Avent Breastmilk Storage Bag 

Kantong ASI digunakan untuk menyimpan ASI perah di dalam kulkas baik freezer atau chiller. Kantong ASI dipilih biasanya karena dua faktor; Pertama penyimpanannua bisa bertahan relatif lebih lama dibanding menggunakan botol. Kedua kantong ASI lebih praktis digunakan, ketika dalam kondisi kosong mudah disimpan dan ringan dibawa. Nah, produk ini menjadi wishlist saya karena memiliki beberapa kelebihan.

Nah, itulah wishlist saya. Semoga kesampaian memiliki beberapa produk Philips Avent untuk mempersiapkan proses mengasihi nanti. Karena, memang Avent Sahabat Bunda, beberapa waktu yang lalu ada promo dan kontes Apresiasi Cinta Bunda lho dari Philips Avent. Infonya bisa dilihat di flyer bawah ini. Semoga next time ada lagi, promo dan kontes semacam ini dari Philips ya.



*Artikel ini diikutsertakan dalam #TUMBloggersCompetition #AventSahabatBunda

Referensi:

Inge Wattimena & Yesiana Dwi, 2015. Manajemen Laktasi dan Kesejahteraan Ibu Menyusui. Jurnal Psikologi Volume 42. No.3

Philips.co.id
Theurbanmama.com

3 Tips Utama Saat Backpacking ke Padang


Setelah bertahun-tahun harus puas hanya menginjakkan kaki di ‘cabang Tanah Minang’ yang ada banyak di Pulau Jawa alias Rumah Makan Padang, akhirnya cita-cita teman saya berkunjung ke ibu kota Provinsi Sumatera Barat itu tercapai juga. Kota yang sudah sejak lama ada di dalam bucket list-nya itu pun akhirnya resmi menjadi kenangan setelah setia menjadi sebuah impian. Makanya saya pun semangat menuliskan pengalamannya untuk dokumentasi saya sendiri, siapa tahu nanti giliran saya bisa menjejakkan kaki di Padang *kedipin suami* 💓

Sebenarnya tujuan awal dia bukan di Kota Padang, melainkan Bukittinggi. Obsesi melihat Jam Gadang sejak guru IPS di SD menceritakan di depan kelas itu pun akhirnya semakin menguat setelah mencari lebih banyak informasi daya tarik di kawasan ini. Saya masih ingat betul saat Uni Via, sahabat saya yang asli Minang menceritakan bagaimana indahnya Bukittinggi dan Mikha menyimaknya dengan takzim. 

Maka setelah membuat daftar apa saja yang harus dilakukan dan dikunjungi, Mikha whatsapp saya "Ayaaaaa, aku mau ke Padang! Finally  kesampean juga....". Saya yang membaca pesan watsapp-nya pun ikut senang dan merasakan euforianya. Akhirnya Mikha siap menginjakkan kaki ke tanah kelahiran rendang yang begitu mahsyur. 

Tentu saja, konsep perjalanan yang saya lakukan kali ini adalah backpacking. Dia memang hobby sekali mengangkat ranselnya sendiri atau share cost dengan teman lainnya.  Tak harus fasilitas serba luks, yang terpenting adalah memaksimalkan pengalaman dengan dana seminimal mungkin. 

Nah, setelah pulang dari Padang, Mikha nyerocos menceritakan pengalamannya saat backpacking ke Padang. Jika ditotal, perjalanan tiga hari yang dilakukan Mikha menghabiskan dana kurang dari Rp. 3.000.000,00. Meski dia merasa masih sedikit mahal, tetapi Mikha cukup puas dengan perjalanan ke Padang kali ini dengan cara-cara berikut.

Memilih Tiket Pesawat dan Penginapan yang Ekonomis

Boleh dibilang, pengeluaran paling besar yang dilakukan Mikha ada pada tiket pesawat. Pasalnya, ia mengambil rute penerbangan Surabaya-Padang yang memang berharga lebih tinggi daripada rute Jakarta-Padang. Namun jika yang berdomisili di Surabaya harus pergi dulu ke Jakarta untuk harga yang lebih murah, tentu lebih tidak efisien, bukan? Oh iya, sebelum ke Padang, Mikha ke Bromo dulu. Jadi, dia lebih memilih bandara Surabaya yang terdekat. Memang gadis satu itu nggak ada capeknya! Libur panjang akhir tahunnya dipakai pelesiran yang membuat saya envy.

Mikha cerita kalau dia memilih tiket promo Lion Air untuk harga yang paling ekonomis. Sementara itu untuk penginapan, seperti perjalanan sebelumnya, Mikha menggunakan Airy Rooms. Ada banyak pilihan akomodasi di lokasi strategis dengan harga bersahabat dan fasilitas lengkap yang tersedia di situs ini. Saya sudah familiar sih dengan Airy Rooms, karena beberapa teman blogger pernah mengulasnya juga

Menentukan Agenda Pasti Setiap Hari

Di samping urusan tiket dan akomodasi, itinerary juga sangat penting. Menentukan lokasi mana saja yang harus dituju dalam satu hari sangatlah krusial karena:
  1. menghemat tenaga;
  2. menghemat waktu yang terbatas; dan 
  3. menghemat ongkos perjalanan; 
Karena itulah, saya bisa menyimpulkan dadi cerita Mikha kalau ia selalu menghindari bersikap impulsif tentang apa yang akan dikunjungi dan dilakukan selagi berada di tempat tujuan. Dengan mengetahui tempat apa saja yang akan dituju, akan lebih mudah untuk membuat rute perjalanan. Mengurutkannya pun dapat dimulai dari tempat terjauh atau terdekat—yang terpenting berurutan.

Seperti contoh, karena kedatangan Mikha saat itu adalah sore hari (sesuai jadwal keberangkatan maskapai), maka ia tahu tidak akan banyak waktu untuk menjelajahi wisata alam di hari pertama. Untuk itu, hari pertama lebih banyak Mikha habiskan untuk wisata kuliner dan berkeliling kawasan kota, menikmati suasana dan budaya lokal. Baru di hari selanjutnya, Mikha pergi ke Bukittinggi dan mengunjungi beragam objek wisata lainnya. 

Mencari Informasi Kendaraan Lokal dan Biaya Lainnya

Karena tidak ada sanak saudara maupun teman yang merupakan penduduk asli (dan bisa dijadikan sebagai tebengan), maka waktu itu Mikha harus menyiapkan dengan baik transportasi yang akan digunakan untuk mengeksplorasi. Mulai ongkos bandara ke hotel (ia memilih taksi daripada Damri sebab berdua dengan seorang kawannya dan lebih hemat) hingga sewa mobil untuk eksplorasi beberapa kota sekaligus, semua sudah disiapkan dengan matang.

Berbekal itinerary, Mikha juga sudah menyiapkan dana yang harus dikeluarkan untuk mengunjungi setiap objek wisata. Meski secara umum harga tiket masuk tiap destinasi tidaklah mahal, jika tidak disiapkan sejak awal tentu berisiko pada pembengkakan pengeluaran, bukan? Oleh karena itu, ia selalu mencari informasi paling update terkait harga tiket masuk tempat wisata tujuan.

Nah, itulah tiga hal utama yang saya simpulkan dari obrolan saya dengan Mikha karena saking mupeng-nya. Dia menyiapkan perjalanan backpacking ke Padang kali ini (dan pada perjalanan-perjalanan ala bacpacker lainnya). 

"Coba aja kepoin tiket pesawat domestik murah dari Airy, Ay! Bisa menghemat budget liburan. Aku aja ketagihan pengin ngetrip lagi", katanya sambil menyeruput mango float-nya. "Ah iya, sekalian baby moon kan? Ahaha" belum sempat menjawab, Mikha sudah menyeringai menggoda buat mengagendakan jalan-jalan.

Teman-teman ada rencana backpacking kemana? 😉

Ngopi Bareng KAI, Asyiknya Menikmati Kopi Sambil Berbagi di Stasiun Balapan

Kereta selalu memiliki cerita tersendiri buat saya. Dari kecil, setiap melewati palang kereta, alih-alih berdoa agar jalanannya lancar, tetapi saya selalu berdoa agar palang keretanya ditutup. Karena itu berarti saya bisa menikmati kereta sedang melaju. Lalu saya akan tertawa kegirangan di depan jok motor Bapak. Sesederhana itu.


Kecintaan pada kereta tidak sampai disitu. Saat bepergian, tranpostasi pertama yang cari adalah kereta. Saya masih ingat betul saat hal yang bagi orang lain “weird”, tetapi saat menyenangkan untuk saya, yaitu bolak-balik naik KRL dari ujung ke ujung (Jakarta-Bogor, Jakarta-Bekasi dan rute lainnya). Tidak memiliki tujuan jelas, karena memang hanya sekadar ingin naik kereta.

Ada Cinta di Sepotong Brownies Cinta


Kalau sedang menyelesaikan deadline, hal yang sering terlupakan untuk saya dan suami adalah soal makan. Kalau zaman dulu mungkin masih bisa diabaikan (*pembelaan*), tetapi kalau sekarang saya nggak boleh egois, karena ada baby yang juga butuh asupan nutrisi di perut saya. Jadi, meskipun mantengin laptop seharian atau bahkan semalaman, saya tidak akan membiarkan perut kosong, salah satunya dengan menyediakan cemilan sebagai “teman”.

Pengalaman Cek Kandungan ke dr. Zamzuri Hudaya, SpOG Klaten


Akhirnya pindah ke dokter ini juga setelah beberapa testimoni dari beberapa keluarga. Sebenarnya, dulu saya sempat mau ke dokter Azzam (panggilan dr. Zamzuri), tetapi masih memilih-milih dokter perempuan agar lebih nyaman. Seiring berjalannya waktu kok komentar positif dari saudara dan sahabat membuat saya pengin pindah juga.