Featured Slider

Berenang di Umbul Brintik Exotic Klaten

Klaten ternyata banyak umbul yang bisa menjadi potensi wisata lokal lho. Sebut saja Umbul Ponggok yang sekarang sudah sangat hits didatangi para pengunjung untuk berenang atau berswafoto.

Saat kehamilan Ray, saya lebih suka olahraga ciblon alias berenang untuk latihan pernafasan menjelang persalinan. Namanya Umbul Brintik Exotic. Dari rumah hanya memerlukan waktu tempuh 7 menit saja. Fasilitasnya masih jauh dari Umbul Ponggok sih, namun Umbul ini juga berpotensi untuk "hits".

Kalau pagi, tempat ini ramai sekali. Bapak mertua yang rajin sekali berenang setelah shubuh pernah bilang kalau tiap pagi, umbul ini seperti "cendol", ahaha. Mungkin saking karena ramainya jadi beliau agak hiperbola. Pengalaman saya kesini sekitar jam 10 an pagi dan jam 2 siang. Testimoni Bapak memang tidak salah. Umbulnya full (nggak setengah-setengah) dengan pengunjung.

Kebanyakan yang datang adalah para lansia yang katanya memanfaatkan umbul ini untuk terapi. Umbul ini ada 4 area yang saat ini berfungsi. Satu di bagian depan dekat pintu masuk, yang airnya mengalir jernih dengan pasir dan bebatuan  kecil di bawahnya. Saya hanya pernah di pinggir umbul karena agak dalam airnya. Suami yang sering berenang di area ini.

Ada juga area anak-anak yang kedalamannya dikhususkan untuk anak-anak bermain. Namanya buat anak-anak, jadi airnya cuma cetek saja. Pas banget buat kecipak kecipuk. Di sebelah atas are anak-anak, ada area yang lumayan dalam dan dasarnya agak licin karena bebatuannya berlumut. Saya belum pernah berenang di area ini, hehe.

Tiket masuk ke umbul murah meriah, per orang 3 ribu. Parkir 2 ribu. Di sekitar umbul banyak penduduk yang menjajakan makanannya. Pop mie dan gorengan menjadi menu andalan. Kan enak tuh kalau habis berenang trus makan gorengan anget. Asal jangan kalap aja karena memang harganya murah meriah.

Bagi pengunjung yang pengen berenang di kolam yang dalam, bisa menyewa ban biar nggak tenggelam. Kalau was-was sama tas dan barang bawaan, bisa dititipkan di loker. Biaya sewanya murah kok.

Kalau mau main seharian di umbul, disana ada mushola buat salat. Jadi pas adzan, bisa langsung salat. Eh tapi harus mandi dulu dan ganti baju kok ya? Lol. Ada renovasi yang bisa bikin umbul jadi lebih hits.

Yang di sekitar Klaten dan butuh me time berenang, bisa nyobain kesini. Sst, saya 2 jam di air, tangan dan kaki mati semua, badan kedinginan. Kalau sudah begitu, saya ganti baju di toilet. Toiletnya lumayan bersih. Airnya di toilet kayak es, hehe.

Read More »

Mudik Bersama Ray

Bagi saya, mudik adalah momen buat berkumpul dengan Bapak Ibu dan anak-anak. Biasanya rutin setiap weekend, tapi bisa jadi kapan pun saya mau, hehe. Alhamdulillah setelah menikah, suami tidak membatasi saya untuk pulang. Bahkan setelah memiliki Ray, beliau tidak harus menunggu 40 hari untuk mengantarkan saya bertemu Bapak Ibu.

Kalau kata orang-orang, Ray itu foto copy Papinya. Matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan ibu saya mengklaim jemari Ray plek ketiplek Papinya. Seakan-akan saya tidak menurunkan kemiripan fisik karena sudah disapu bersih Papinya. Tapi, untuk satu hal ini, semua mengaminkan kalau Ray mewarisinya dari saya, yaitu: mbok-mboken. Cepet kangen ibunya (meskipun galaknya puol), ahaha.

Mungkin saya lebih beruntung karena mudiknya masih dalam 1 kota. Jadi, meskipun lebaran pun nggak terlalu repot. Membayangkan pengalaman Mbak Dilla yang mudik menggunakan mobil dengan balita menggunakan mobil, mengingatkan saya pas pulang lebaran naik mobil bareng Dio dan Dea. Mbak Era yang ngelist apa saja yang perlu dibawa agar kedua balitanya nyaman di perjalanan.

Nah, saya juga mau cerita hal apa saja yang wajib dibawa kalau mudik bersama Ray. Soalnya pernah salah satu item barang ketinggalan, saya agak kerepotan.

1. Keranjang dan isinya

Awalnya saya memasukkan baju Ray ke tas. Tapi kok ya harus kerja 2 atau 3x. Masukkin baju, nanti sampai di rumah ibu harus menatanya lagi agar mudah diambil. Atas pertimbangan itu, saya membeli keranjang baju. Popok, celana, baju Ray saya lipat di keranjan. Sesampai di rumah Ibu, Papinya tinggal memindahkan di kamar. Oh iya, praktisnya membawa keranjang baju, di atas baju bisa ditimpa beberapa barang agar hemat tempat. Misalnya: alat mandi, laptop, buku bahkan baju saya dan papinya Ray karena saya nggak mau repot nenteng tas.

Mungkin karena mudik dalam kota, jadi keranjang masih menjadi pilihan. Beda halnya kalau pergi ke luar kota, hehe.

2. Diapers

Barang ini tiap bepergian membawa Ray pasti selalu saya bawa. Kalau Ray pup pas perjalanan, biasanya kami lebih memilih menepi untuk menggantinya terlebih dulu untuk menghindari ruam. Saya pernah lupa membawa diaper, karena agak jauh dari supermarket, saya tidak memakaikan Ray diaper dengan kompensasi rajin mencuci celananya, ahaha.

Seharian Ray bolak balik ngompol dan saya menyerah akhirnya minta tolong papinya buat beli diapers yang jatuhnya lebih mahal, ahaha.

3. Bak mandi dan gayung

Item ini juga wajib dibawa karena Ray bisa libur mandi, ahaha. Di rumah ibu, baknya bulet semua buat cuci baju. Kalau gayung masih bisa memakai yang di rumah. Biasanya dipakai untuk membersihkan pantat Ray saat pup.

4. Peralatan mandi

Alat mandi bayi nggak bisa pakai biore kan? Ahaha. Saya juga pernah ketinggalan sabun mandi Ray dan harus beli yang baru. Yakali si Ray pake biore, ehehe. Jadi, alat mandi ini saya satukan dengan minyak telon, parfume bayi dan bedaknya biar nggak ketinggalan.

Sampai usia 3 bulan, deterjen Ray memakai sleek baby dan biasanya saya bawa juga pas mudik. Sekarang kulit Ray sudah lolos uji coba alergi, jadi kalaupun ketinggalan detergennya, tidak apa-apa.

5. Bouncer

Ray itu sempat gendongan banget. Makanya, eyangnya berinisiatif membelikan bouncer. Muter-muter baby shop akhirnya pilihan jatuh pada pliko warna biru yang kalau mudik selalu saya bawa. Lumayanlah kalau pas mau salat, Ray bisa diletakkan di bouncer sebentar.

6. Bantal

Bantal anti peyang dan bantal tipis buat alas Ray kalau di mobil juga wajib saya bawa.

Eeeng, apalagi ya yang biasanya dibawa pas mudik bersama Ray? Kok kayaknya banyak banget, hehe. Karena masih bayi, Ray belum saya belikan mainan. Saya lebih suka ngajak cerita. Jadi kalau mudik dan dia nggak tidur, saya mengajaknya ngobrol apa saja.

Teman-teman punya pengalaman mudik sama balita juga? Bawa apa aja sih biar anaknya tetap nyaman? Sharing yuk.
Read More »

Pengalaman Melahirkan Normal di RSI Klaten

Kalau saat ini saya bisa memeluk Ray, itu karena Allah sangaaaat mengasihi kami. Dan tentunya, hal ini karena doa orang-orang yang mencintai kami.

Kayaknya masih inget banget deh rasa "nano-nano" sebelum bertemu Ray. Yang awalnya cengengesan dan haha-hihi sama suami di ruang bersalin. Hingga blingsatan miring kanan kiri sambil berdzikir minta kekuatan untuk saya dan Ray agar diberi kelancaran bertemu.



Ranjang bersalin yang nggak enak

Ranjang bersalin itu modelnya emang kayak gitu ya? Tengahnya bolong sampe-sampe hp saya jatuh beberapa kali. Trus ada patahan (agar ranjang bisa naik turun) yang bikin punggung kebas. Testimoni saya saat dokter visit ke ruangan adalah "Ini ranjangnya kok ga enak ya, Dok?", ahaha. Dan dokter Zam cuma senyum sambil bilang kalo desain ranjangnya memang demikian. Biar praktis untuk proses persalinan.

Ternyata memang benar jawaban dokter Zam. Saat bukaan lengkap, para bidan tinggal geser-geser dan saya disuruh agak turun posisinya. Saya juga baru tahu fungsi lubang di tengah-tengah ranjang, ahaha.

Normal atau SC

Sudah lama menunggu, ternyata bukaan nggak nambah-nambah. Dokter Zam visit lagi dan memberikan pilihan mau dipacu lewat infus apa SC. Maha baik beliau yang super sabar dan sangaaaat informatif. Beliau memberikan plus minus pilihan tersebut. Saya minta pertimbangan suami, dia sepenuhnya memberikan kebebasan saya untuk memilih. Dan sesaat wajah ibu saya berkelebat memberikan semangat agar saya melahirkan normal. Akhirnya saya memilih opsi pertama, dipacu.

3 orang yang memilih dipacu akhirnya di cesar. Hati saya kebat kebit karena takut di cesar juga. Lha gimana? Udah sakiiit kontraksi karena dipacu, ternyata endingnya dibelek juga, huhu. Tapi saya tetap yakin bisa cesar. Ibu sama Mbak Endang datang menjenguk. Wajah ibu mimblik-mimblik, tangannya memegang erat tangan saya menguatkan bahwa saya BISA LAHIRAN NORMAL.

Sudah ada peningkatan bukaan menjadi 4. Saya menyuruh ibu untuk pulang meski beliau pengen nungguin. Mbak Endang senyum-senyum memandang saya. Duh Mbak, ternyata melahirkan memang sakit, ya. Kami terkekeh bersama. Akhirnya mereka berdua pulang. Tidak lupa saya meminta doa agar persalinan saya lancar.

Di kamar bersalin Ibu mertua mengusap punggung sambil menyangati saya. Yang nunggu hanya diperbolehkan 1 orang, tapi sesekali suami masuk diam-diam, hehe. Suster masuk mengecek denyut jantung bayi dan per 4 jam melakukan VT. Bakda magrib sudah bukaan 6 dan kontraksi sudah mulai teratur.

Melihat jam kok rasanya lamaaa sekali. Jam setengah 10 malam, saya merasa pengen poop. Bilang ke suster, katanya poop aja jangan ditahan. Awalnya agak sungkan, tapi karena nggak tahan akhirnya poop juga. Suster membersihkan poop saya dan bilang dikeluarkan aja nggak perlu sungkan. Beberapa waktu kemudian saya mengalami kontraksi.

Suara dokter Zam sangat familiar meskipun dari kejauhan. Suster melakukan VT dan ternyata sudah bukaan lengkap. Suster yang lain menyiapkan perlengkapan untuk persalinan. Dan PERJUANGAN DIMULAI.

Saya tahu Ray juga merasa kesakitan setiap kali kontraksi. Dia mencari jalan untuk bertemu saya dan papinya. Saya mengikuti aba-aba dokter untuk bernapas panjang dan mengejan saat kontraksi datang. 30 menit Ray belum juga keluar, kontraksi juga hilang timbul, huhu. Suster mengganti infus pacuan karena sudah habis.

Hati saya menciut karena dokter Zam bilang akan melakukan vakum kalau Ray nggak keluar juga. Saya mengafirmasi diri dan membujuk Ray untuk dipacu saja, tidak perlu vakum atau cesar. Suami yang mengusap kepala dan memegang tangan saya memberikan semangat yang luar biasa. Saya yakin dia juga ingin bertemu Ray. Maka, saat kontraksi datang lagi, saya mengucap bismillah, bernapas panjang dan mengejan sekuat tenaga.

Tangis Ray pecah. Suami mengecup kepala saya. Kami bahagia. Dokter Zam mengobras jalan lahir yang entah berapa jahitan. Kalau saya tidak nyaman, beliau menambah biusnya. Saya ngilu mendengar sepupu pas lahiran, ketika dijahit dia tidak dibius. Makanya saya nanya dulu sebelum lahiran, jahitnya dibius apa gak.

Upgrade kamar dengan BPJS.

Suami mengurus administrasi. Kebetulan saya terdaftar bpjs kelas 2 dan saya mau upgrade kamar vip. Prosesnya mudah kok, nggak berbelit-belit asalkan dokumen kita lengkap. Sebelumnya, saya berasumsi kalau pasien bpjs bakal dibedain penanganannya. Tapi pengalaman saya kemarin pas lahiran pake BPJS, enak dan nyaman kok.

Yang mau memakai fasilitas bpjs saat melahirkan di RSI, jangan lupa disiapkan dokumennya dari rumah: FC KTP, FC BPJS, FC buku nikah, FC KK, FC halaman depan buku KIA.

Oh iya, untuk pasien cesar juga ditanggung bpjs asalkan sesuai anjuran dokter. Maksudnya, kehamilan tersebut memang harus dilakukan cesar (misal: bayi sungsang atau melintang, ibu bayi punya resiko tinggi jika melahirkan normal). Ini informasi dari suster saat memeriksa tekanan darah saya.

Setelah selesai melengkapi administrasi dan mendapat kamar, saya dipindah ke kamar tersebut. Saya diantar suster menggunakan kursi roda dan Ray saya pangku. Ya Allah, nikmat mana yang hamba dustakan?

Kamar Nyaman dan Pelayanan Prima

Kamar VIP luas dan nyaman. Bapak dan ibu mertua menginap malam itu, kebetulan sudah malam sekali, jam 01.00. Fasilitas kamar ada TV, kamar mandi, AC, Kulkas, sofa kecil dan bed untuk 1 pasien. Pokoknya nyaman *yaiyalah VIP*.

Ray poop pertama warnanya hitam. Suster membantu menggantikan popok. Saya dianjurkan untuk tidak menghidupkan AC dulu sebelum suhu badan Ray stabil. Saya pun manggut-manggut meskipun badan gerahnya minta ampun. Sebelum tidur, saya mandi dulu. Rasanya merdeka bisa mainan air, ahaha.

Suami pamit ke mushola dan tidur di mobil biar Bapak Ibu saja yang tidur di sofa. Saya tidak bisa tidur karena jahitan mulai terasa perih. Saya mengecek handphone sudah buanyak pesan yang masuk di grup happy family. Bapak ibu saya di rumah juga belum tidur menunggu kabar tentang Ray. Mereka menjaga saya dan Ray lewat doa.

Saya membaca pesan terbaru, dari suami saya yang seharian menemani dan menyemangati. Hari ini aku bener2 bahagia, terimakasih istriku sayang. Pakai emote titik dua bintang. Saya membalasnya dengan tanda hati 2 biji. Milik saya dan Ray.

Dokter dan susternya ramah. Makanan dan snacknya enak. Baru kali ini menginap di RS menghabiskan snack dan makanan pasiennya. Soalnya biasanya makanan dari RS terkenal hambar dan tidak enak.

Biaya

Dengan BPJS, waktu itu saya membayar 2.5 juta untuk kamar 3 hari 2 malam dan obat. Oh iya, waktu itu Ray di imunisasi juga dan saya membayar sendiri di apotek (tidak masuk tagihan). Oh iya, kalau nggak pakai BPJS  atau bayar mandiri, kurang lebih 6 jutaan.

Semoga bermanfaat ya. Bagi yang di sekitar Klaten, RSI Rekommended untuk tempat melahirkan :)

PS; sedih banget baca berita kalau melahirkan tidak dicover BPJS kesehatan lagi, huhu. Semoga ke depan ada pencerahan tentang peraturan tersebut.
Read More »

Anak Bau Tangan Ibunya, Trus Kenapa?

2 hari ini Ray sedikit merajuk, pokoknya sama ibu, yang lain disuruh minggir. Kok ya pas banget ada deadline, jadi sambil menggendong Ray, sesekali saya mencet-mencet keypad membuat draft outline. Kalau biasanya Ray mau diajak duduk sambil ngetik, kali ini merajuknya naik level, dia maunya diajak berdiri meski sudah tertidur sekalipun.

Akhirnya hari Sabtu, yang artinya saya pulang ke rumah Bapak Ibu. Saya curhat kalau Ray merajuk nggak mau turun dari gendongan, ditambah habis imunisasi combo (polio, dpt dan hib) yang membuat badannya agak anget.

Di rumah ibu, biasanya saya manfaatkan untuk menyelesaikan deadline tulisan karena Ray banyak yang megang. Khansa yang notabene masih berusia 7 tahun bisa ngemong Ray sampai cekikikan berdua seakan-akan Ray tahu kalau lagi diajak bermain.

Kata tetangga, Ray bau tangan ibunya, udah jadi kebiasaan karena sering digendong. Dan endingnya udah bisa ditebak kalau saya mendapat wejangan yang, ah sudahlah. Intinya bilang kalau bayi jangan dibiasakan digendong, kalau udah tidur cepet-cepet diletakkan di kasur, bla bla bla *Katanya sudahlah, kok dibahas sih?

Tarik nafas dulu biar stok sabarnya berlipat ganda...

Sebenarnya saya juga pengen langsung meletakkan Ray di kasur ketika dia sudah tertidur, tapi kalau dia nangis karena belum pulas gimana? Masa iya saya biarin dia nangis kejer. Otomatis saya gendong sampai benar-benar pulas baru ditaruh. Itu kalau saya beruntung, Ray langsung mau ditidurkan. Kalau pas lagi merajuk kayak kemarin malam, saya semalaman memeluknya dan tidur di pangkuan sambil menggendongnya. Dan saya merasa kapok saat bercerita sama tetangga (nggak deket-deket banget) tentang ini, dan muncullah klaim bau tangan tadi serta solusi yang ditawarkannya yang kalau andai ia tahu saya sudah melakukannya (sampai salto-salto).

Kalau bayi bau tangan ibunya, terus kenapa?



Saya yang lagi sensi atau memang beneran lagi capek, tapi saya perlu menuliskannya biar nggak jadi bisul karena kesel. Sekalian biar menjadi alarm saya biar nggak semena-mena jadi tetangga yang jilid na'udzubillah, ahaha.

Kalau memang bayi lagi pengen banget sama ibunya, ya biarin. Toh itu menjadi bonding antara mereka berdua. Saat harus balik dari rumah Bapak Ibu, saya agak meriang, ibu menyarankan untuk tinggal dulu sampai sembuh, tapi karena ada kerjaan, saya akhirnya balik. Seperti biasa, sebelum pulang, saya dan suami salim sama Bapak Ibu. Mereka berdua menciumi Ray sambil mengusap kepalanya. Jangan rewel ya, Ray. Yang pinter, yang sholeh. Kata Ibu yang sedang menciumi anak lelaki saya yang sedang tidur di gendongan. Saya mengaminkan dalam hati.

Sepanjang perjalanan, Ray tidur nyenyak sekali, saya pikir sampai rumah bakalan tidur sampai pagi, huks. Sesampainya di rumah, Ray bangun dan bermain sama papi serta kakung-utinya. Saya beberes barang-barang, gosok gigi, wudhu dan shalat. Badan rasanya sudah ga karuan karena payudara kiri ada yang mengkal. Saya sudah mengompresnya pakai es, tapi hanya bertahan beberapa jam saja, selebihnya mengkal dan nyeri lagi.

Tiap Ray nangis, papinya membawa masuk ke kamar untuk minum, setelah selesai, mainan lagi di depan TV sama kakung-uti. Mungkin 3x begitu sampai tengah malam kakung-utinya istirahat tapi Ray masih segar dan pengen main. Masuk kamar berharap setelah minum asi bakal tidur, ternyata bayinya malah senyum-senyum seakan memberi kode ibunya untuk menemaninya bermain.

Saya menggendongnya tetapi belum mau bobok juga. Payudara saya mengkal lagi dan nyeri sekali. Kata Ibu, kalau mengkal, disusukan ke bayi nantinya akan sembuh sendiri, setidaknya berkurang. Tapi, sudah saya susukan tetap saja mengkal, huhu.

Dan malam tadi, Ray tidur jam 2 di dekapan saya. Beberapa kali saya pelan-pelan meletakkannya di kasur biar tidur sendiri dengan posisi yang lebih enak, tapi dia kerasa dan nangis. Akhirnya setelah 3x tetap begitu, saya meletakkannya dalam pelukan saya. Saya tidur dalam posisi duduk bersandar tembok yang sudah diganjal bantal. Sesekali saya membuat gerakan kaki saat Ray seperti mau bangun agar dia merasa digendong dalam posisi berdiri. Jam 4 pagi, saat Ray sudah lelap, saya pelan-pelan meletakkannya. Tangannya menggenggam erat baju belakang saya. Dan momen ini membuat hati saya mengembung. Saya melepaskannya pelan-pelan.

Anak kecil bau tangan ibunya nggak masalah, daripada bau kaki? AHAHA, Entah saya baca dimana tapi saya terpingkal-pingkal. 

Ray, jika ibu mengeluh karena capek, jangan marah ya, tapi ibu tidak akan pernah mengeluh untuk menggendongmu, memelukmu saat kamu ingin bersama ibu. Pun ketika kamu tidak mau dipegang orang lain dan ingin tetap bersama ibu, tidak apa-apa. Sama sekali tidak mengapa.

Karena ibu akan merindukan momem-momen seperti ini...

Jika Ibu masih salah-salah dalam mengurusmu, maafkankah Ibu, Naak. Ibu berjanji akan memperbaiki. Mungkin orang mengira kalau Ibu yang mengajarimu ini-itu, tapi sejatinya kamulah yang mengajari ibu banyak hal. Terima kasih untuk ini.
Read More »

Untuk Ibu Negaraku

Ketika ada pepatah kalau ibu nggak boleh sakit dan wajib waras, maka saya akan mengiyakan tanda sepakat, karena urusan bisa runyam.

Hari ini saya sampai lupa tanggalan bahkan hari pun terasa sama saja sejak memiliki Ray. Eh enggak ding, saya tetap pemuja Sabtu Minggu karena artinya bisa pulang.

Hari ini ulang tahun Mbak Endang, kakak ipar saya yang kedua, yang entah tenaganya terbuat dari apa karena kayak nggak punya capek. Antar jemput anak sekolah, latihan badminton, beberes rumah, masak (yang selalu enak di lidah saya), tugas negara sebagai istri kepala desa yang tiap weekend ada aja acara hajatannya, PKK-PKB dan kumpulan ibu-ibu yang sampai saat ini saya nggak bisa membedakannya karena anggotanya sama cuma namanya saja yang beda. Dan tugas yang paling mulia adalah, menjaga bapak ibu saya yang sudah sepuh.

Notabene menantu, dia mencintai bapak Ibu seperti ibunya sendiri. Dan bahkan saya merasakan punya kakak perempuan yang bisa diajak ngobrol apa saja di rumah. Dia juga yang membantu mengurus pernikahan saat saya juga berjibaku mengurus tesis. Dia juga partner mengurus  bapak ibu dari mulai mencari rujukan hingga cek up bulanan. Dia yang selalu riang saat saya bertanya "masak apa, Mbak?" Dan tidak keberatan atau merasa kerepotan saat saya request masakan tertentu. Pokoknya dia, dia, dia, Mbak Endang yang selama ini ridho suami menjadi hal yang diutamakannya.

15 tahun tinggal sama bapak ibu padahal dia bisa saja tinggal dengan keluarganya sendiri "Atas nama mandiri", dan saya pernah merasakan tinggal satu rumah dengannya pun merasa kalau kehadirannya "sangat berarti". Sudah dandan rapi mau pergi reuni, tapi saat suaminya bilang nggak usah pergi, dia urung diri tanpa ada cek cok berarti. What? Ya ampun, dia punya pengendalian diri seperti apa sampai saya pengen punya juga. Menemani Mas Jundi yang kadang kakunya minta ampun. Dan kakak lelaki saya harus bersyukur karena bisa menyandingnya.

Pagi ini.

Hari ini jadwal cek up Bapak. Senin merupakan hari yang hectic. Saya dan suami kebetulan masih di rumah buat mengantar cek up bapak nanti. Dari shubuh rumah sudah riuh suara Mbak Endang, ahaha. Dia menyetrika seragam anak-anak sambil mengomando Iqbal untuk lekas mandi. Meminta Iqbal membangunkan Khansa karena dia masuk jam setengah tujuh (gabisa lebih pagi?). Selesai nyetrika lalu mandi, drama air mati di tengah mandi pun dia bisa tertawa menanggapinya lho, ahaha. Mengecek anak-anaknya satu per satu dan memastikan perlengkapan anaknya tidak ada yang terlupa. Lintang yang menggeliat di kasur saya peluk-peluk biar ikut bangun. Dia menarik selimutnya dan saya nggak kalah akal biar dia bisa bangun, saya mendekatkan Ray sambil memeluknya lagi. It's work.

Mbak Endang mengantar Iqbal dan Khansa. Nanti langsung ke rumah sakit mengambil antrian cek up bapak biar nggak kesiangan. Biasanya dia menunggu sampai bapak ibu datang, baru dia pulang. Nah, tugas saya dan suami mengantar bapak sampai rumah sakit. Kalau sebelum ada Ray, saya dulu ikut menunggu sampai selesai, tapi sekarang ada Ray, suami yang mengantar dan nanti saya nanti ikut menjemput dengan Ray. Awalnya Bapak rikuh menganggap hal ini merepotkan dan memilih naik motor untuk cek up sendiri. Tapi, beliau pernah hampir pingsan di jalan, kepalanya muter-muter. Saya agak marah dan bilang akan selalu mengantarnya, menemaninya dan menekankan hal itu tidak merepotkan sama sekali. Bahkan momen cek up bapak adalah quality time kami. Ibu juga bahagia banget kalau pas cek up bisa lebih lama sama Ray. Dan biasanya setelah cek up, kami bisa memilih mau makan apa dan dimana.

Oh iya, biasanya mood bapak sebelum cek up bisa menyebalkan sekali. 2 hari sebelum cek up bisa uring-uringan nggak jelas. Hal yang kelihatan sepele saja bisa membuatnya marah. Itu bisa memancing ibu atau saya ikut marah. Dan biasanya yang mengingatkan adalah Mbak Endang, huhu. Besok kan cek up, Bapak takut sama jarum jadi uring-uringan, katanya sambil senyum-senyum. Saya dan ibu langsung bernapas panjang, seakan lupa kalau kebiasaan Bapak begitu.

Mbak Endang aja bisa woles masa saya sebagai anaknya bisa ngegas ngadepin Bapak *Sigh*. Saya belum pernah melihat dia cek cok sama Mas Jundi di depan anak-anak, dan semoga saja tidak pernah. Jangankan di depan anak-anak, di depan bapak ibu atau saya yang satu rumah saja tidak pernah. Paling kalau sudah selesai masalahnya baru cerita dengan haha hihi kayak nggak ada apa-apa sebelumnya. Hal itu yang saya tiru. Kalau punya masalah sama suami cukup kami berdua yang tahu dan menyelesaikan.

Tentang parenting, Mbak Endang tidak keberatan dan sangaaaaat open minded. Saat saya menasehati dan mengarahkan anak-anaknya tentang pendidikan, beliau tidak protes. Kalau anak-anak saya ajak pergi, beliau juga mempersilakan dengan senang hati. Ada lho yang bersitegang dengan ipar karena tidak boleh ikut campur urusan keponakannya. Meskipun hal itu sangat sepele. Fyi, nama IQBAL, IHSAN sama KHANSA itu pemberian saya atas ACC Mbak  Endang, hihi. Makanya saya sayaaaaaang banget sama mereka bertiga.

Sebelum tanggal 30 habis, saya mau mendoakan Mbak Endang meskipun baginya tidak ada acara ulang tahun yang spesial. Semoga sehat, bahagia selalu. Menjadi istri dan ibu yang dicintai kami semua. Berkah selalu ya Mbak. Allah bersamamu selalu. Cium jauh ;*

Ah iya, besok kita masak takoyaki bareng ya. Nggak bikin gendut kok :D

Ai love you ibu negaraku. Kami mencintaimu karena Allah.

Dik Nur.
Read More »