Featured Slider

Pengalaman Operasi Adenoid pada Ray

Menjadi Ibu mengajarkan saya banyak hal, salah satunya mengasah intuisi. Intuisi tentang anak-anak yang ketika orang lain bilang "itu ga apa-apa" "itu biasa aja", tapi ternyata tidak menerima begitu saja. Hatinya menekan dan memberi clue kalau ada yang tidak beres, tetapi di sisi lain juga mengharapkan bahwa anak-anaknya tidak kenapa-napa

Tentang Adenoid

Ray selalu memberikan saya ruang untuk belajar hal yang baru. Sekaligus memberikan kesempatan untuk "memutuskan" hal besar. Tidak hanya kali ini, bahkan saat masih bayi, saya memutuskan Ray untuk disunat karena ada fimosis. Saya pernah menuliskannya disini dan disini. Disaat sunat bayi masih dianggap hal yang masih tabu. Keberanian pertama yang diajarkan Ray saat itu, membuat saya lebih berani dan tidak ragu untuk memutuskan khitan pada Ben dan Sea saat bayi.

Kembali tentang adenoid. 3 tahun lalu, Ray sering batuk pilek berulang, tidur ngorok, dan sering bernapas memakai mulutnya daripada menggunakan hidunya. Ditambah lagi dia sering mengeluhkan sakit di telinganya. Saya sempat membawa ke 3 dokter THT yang berbeda hingga cocok dengan treatment dan penjelasan dr. Pramavita Nur Junieva yang berpraktik di Chakra Husada. 

Adenoid Ray stadium 3 dari 4, sehingga napasnya berat banget

Pemeriksaan THT tidak nyaman sekali, tapi Dokter Eva bisa membuat Ray mau pelan-pelan untuk dilakukan endoskopi di hidungnya. Meskipun berlinang air mata, Dokter Eva tidak pernah sama sekali menjudge apapun. Rekomendasi untuk operasi sebenarnya sudah sejak dari tahun lalu, tapi Ray menolak. Saya juga masih bimbang dan mencoba pengobatan dulu. Beberapa kali kembali periksa, Dokter Eva juga lebih menenangkan untuk menunggu kapan kami siap. Adenoid Ray sudah derajat 3 dari 4 sehingga oksigen tidak bisa masuk sempurna.

Keputusan tentang Operasi

Ray mengeluhkan sesak napas, hidungnya mampet tapi bukan karena pilek, sehingga napasnya dominan memakai mulutnya. Jadwalnya kayak kejar-kejaran. Sebelum berangkat riset ke Jakarta, saya menjadwalkan operasinya. Saya mendoakan semoga bisa dapat jadwal setelah pulang riset dan sebelum puasa dimulai. Akhirnya diputuskan hari Jumat, 13 Februari.

Selama saya di Jakarta, Ray meminta video call, menanyakan kapan operasi dan cerita betapa takutnya dia sama jarum suntik. Seperti biasa saya memberikan puk-puk dan pemahaman, kalau sakit nangis tidak apa-apa, ibu akan memeluk dan menemani. Yang membuat dia berani, sebelumnya dia sudah melihat kedua adiknya diinfus karena sakit DB dan tipes. Saya menawarkan boleh main game ketika di Rumah Sakit sambil menunggu operasi dimulai. 

Kamis, 12 Februari saya baru sampai di rumah, Ray masih sekolah seperti biasanya. Saya packing lagi untuk ke Rumah Sakit esok harinya. Saya sounding sama Ben dan Sea kalau besok Masnya akan disuntik di tangan seperti mereka kemarin. Mereka berdua pun patuh dan tidak ada yang protes untuk ikut. Yang tidak kalah tricky adalah sounding sama Ray. Memvalidasi rasa takutnya, meneguhkan kalau operasi ini insya allah akan berjalan lancar untuk kesehatannya.

*ngadepin anak-anak keluar masuk rumah sakit membuat saya lebih bisa menghargai tentang waktu kebersamaan. Saya menganggap, ini adalah intimate dengan masing-masing anak saya dan satu per satu, hal yang sebelumnya saya lakukan secara bersamaan kemana-mana.

The Day!

Saya membangunkan Ray untuk mandi dan shubuh karena kami harus sampai di Rumah Sakit jam 06.00. Saya pikir prosesnya akan cepat, ternyata yang antri operasi hari itu juga banyak. Sampai jam 08.00 kami belum dipanggil untuk pemeriksaan, akhirnya saya menyuapi Ray soto kering sebelum dia puasa. Jam 10.00 baru diperiksa oleh dokter sebelum masuk ke ruangan. Jam 11.00 ke ruangan bangsal untuk infus. 

Suami menandatangani persetujuan operasi
Pemeriksaan dokter umum sebelum masuk ke bangsal
Ray masih santai prosesnya, asyik main game dan apprecite karena diinfus dia bisa tenang
Pertama kali mengajari Ray salat duduk dan berbaring

Jam 12 Ray saya keloni buat tidur siang. Meski menolak berkali-kali dan bilang ga bisa tidur siang, saya terus membujuknya dan akhirnya dia pulas. Setelah bangun dan dhuhur, tidak lama perawat meminta Ray berganti baju dan diantarkan ke ruang operasi. Dokternya jempolan ramah semua. Saya diminta memakai baju, diberi masker dan pelindung kepala. Saya pikir saya hanya mengantar sampai depan ruangan saja, ternyata saya diperkenankan untuk masuk sampai Ray selesai dibius. 

Ray sudah ganti baju dan siap ke ruang operasi di Lantai 6

"Agar anaknya lebih tenang kalau ditungguin Ibunya", kata dokter.

Saya memeluk Ray, wajahnya berubah pias. Dokter dan saya menenangkan. Seluruh obat dan bius dimasukkan melalui infus. Ada salah satu suntikan yang mirip seperti susu disuntikkan terakhir dan tidak lama Ray pelan-pelan terlelap. Sebelum dipersilakan keluar oleh dokter. Saya memeluk Ray dan membisikkan al fatihah di telinganya.

1 jam rasanya lama sekali. Hati saya mulai gerimis, mata saya berair. i cry on. Mulut saya berkomat kamit. Mantra dan azimat paling tinggi adalah doa Ibu. Dan saya menggunakannya selalu untuk anak-anak. Menyebutkan satu per satu. Kali ini, Ray yang membuat hati dan mata saya hangat. Khawatir, berani dan pasrah beradu menjadi satu.

Dokter Eva menyerahkan amandel dan adenoid Ray, hal yang membuat kami takut setahun terakhir

Setelah Operasi

Ray berlinang air mata. Merasakan kesakitan. Biusnya perlahan hilang. Dokter Eva menyerahkan hasil operasinya, 2 amandel dan adenoid berhasil diangkat. Saya memeluk Ray, mengusap airmatanya dan mengepuk-puk badannya. Suara Ray sengau, mungkin ada 1 jam dia menangis. Sampai dipindah ke kamar bangsal pun dia masih kesakitan dan menangis. Saya dan papinya bergantian memeluk dan menenangkan.

Nangis gapapa, ibu peluk. erat.

Dokter berpesan untuk membelikan es krim rasa vanila, tidak boleh selain itu agar bisa membedakan mana darah atau bukan jika terjadi resiko muntah. Minum diperbolehkan kalau Ray benar-benar sadar dari bius agar terhindar dari tersedak. Setelah menangis, Ray tertidur lagi. Agak lama. Sampai Isya Ray masih terlelap. 

Setelah bangun, dia masih merasa kesakitan tapi sudah tidak menangis lagi. Saya memberinya air minum dingin dan es krim. Dari Rumah Sakit diberi air sirup rasa melon dengan es batu. Kalau tidak dalam kondisi sakit, mungkin Ray akan menghabiskannya. Tapi ternyata masih utuh sampai diambil perawat lagi.

Malamnya tidur pulas sekali, sampai infusnya lepas ga terasa

Ray menghabiskan es krim saja. Dan tidur lagi sampai pagi. Setelah subuh, dia minum es krim lagi dan mencoba menghabiskan menu bubur sumsum dari rumah sakit. Ah iya, semalam infusnya terlepas sendiri, akhirnya perawat melepas sekalian. Saya khawatir esoknya akan dipasang infus lagi tapi ternyata setelah visite Dokter Eva bilang boleh pulang. Antibiotik yang sebelumnya diberikan lewat infus, bisa diberikan lewat oral. Alhamdulillah.


Visit Dokter Eva, acc pulang
Breakfast bubur sumsum sama es sirup
Menunggu administrasi selesai, prosesnya sat set. Thank you Chakra Husada :)
Pulaaaaang :)

Allah menakar waktunya pas. Ben bisa les paginya. Sea diantar pakdhe ke Rumah Sakit sama Ibu yang saya yakin semalaman ga bisa tidur memikirkan cucunya. Saya sengaja tidak cerita sebelumnya tentang operasi Ray pada Ibu karena takut kepikiran. Saya langsung meminta doa sebelum berangkat operasinya. Administrasinya selesai, saya membayar di kasir, Ben juga selesai les dijemput papinya. Semuanya pas. Kami bisa pulang sama-sama.

Alhamdulillah

Setelah di Rumah

Ray diresepi sirup anti nyeri dan antibiotik. Saya concern untuk pemulihannya, apalagi minggu tersebut sudah masuk puasa ramadan. Tenggorokannya masih sakit, suaranya masih parau, tidurnya juga masih ngorok. Dan saat kontrol, hal tersebut tidak apa-apa dan wajar. Kabar baiknya, Ray masih mau makan dan minum. Bubur Bingah to the rescue. Bubur dengan paket telur ayam kampung setengah matang. Saya sengaja tidak meliburkan les Benterang, jadi pas Ben les, saya bisa menungguinya sambil we time sama Ray dan Sea.

Sea jadi kesetrum Masnya makan bubur
Makan siang di Serba Sambal, tapi take away bubur bingah dulu

Januari bukan trial,tapi kita sudah memulai berjuang. Ibu tidak tahu seberapa tangguh kekuatan Ibu, tapi untuk kalian, akan Ibu berikan segalanya yang Ibu punya. Ibu belajar banyak sekali. Ibu minta maaf berkali-kali dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Ray Ben Sea, kalian sumber keberanian Ibu untuk mencoba hal baru. Bahkan mencoba meneguk tentang rasa lelah, sedih bahkan kecewa. Sekaligus memberikan kekuatan untuk selalu berjuang meski berkali-kali merasa gagal.

Doa Ibu buat Ray, ya. Tentunya juga buat Ben dan Sea. 

I love you to the moon and back :*
Read More »

Tentang Ibu dan doanya

Saya baru benar-benar menyadari kalau hubungan saya dengan ibu banyak lukanya adalah ketika Bapak pergi. Saya jatuh bangun belajar, trial eror hanya agar bisa ngobrol enak sama Ibu. Terkesan sepele, tapi dampaknya mendalam sekali bagi saya.

Padahal diksi obrolan Ibu sekarang ini juga sering diobrolkan dengan saya dulu, tetapi hal itu yang justru menjadi trigger dan membuat obrolan kami jauh dari rasa nyaman. Ujungnya, saya memilih lebih banyak diam, karena takut reaksi saya menyakiti Ibu. Sikap ini keliru lagi, karena Ibu merasa didiamkan, "salahnya apa?". Hanya ada salah dan salah banget. Ngobrol salah, diam juga salah banget.

Luka dan Doktrin Masa Kecil

Saya menyadari ada luka itu, sebelumnya saya melawan sekuat tenaga, menghindari dengan emosi agar lekas pergi. Tetapi, sikap-sikap itu yang membuat saya semakin marah tidak terkendali. Akhirnya, saya menerima satu per satu. Mengizinkannya hadir pelan-pelan meskipun sesak sesekali, tapi saya memberika ruang untuk "rasa sakit, marah, kecewa sekaligus kasihan terhadap Ibu" yang pada waktu itu mungkin juga menanggung luka, capek dan segala perasaan nanar namun tidak bisa menjabarkannya.

Yang membuat saya menerima juga adalah, saat ini saya bisa minta tolong, dan harus berbuat apa selanjutnya untuk mengatasinya--meski tidak atau belum sepenuhnya berhasil. Tapi saya membayangkan betapa kesulitannya Ibu waktu itu? Di usia 40 nya memiliki saya, yang menurutnya, masa kecil saya sangat strugling pengasuhannya. Label nakal, susah diatur, sulit dibilangi dan label-label lainnya dilekatkan kepada saya dan sampai sekarang pun obrolan itu yang menjadi pemantik rasa tidak nyaman itu. 

"Kowe ndhisik ngeyele sak pole, flek paru-paru kudu ngobati raoleh telat, yen telat dibaleni meneh". Padahal dulu Bapak juga sering mengobrolkan tentang ini, plek ketiplek sama. Bapak juga mengeluhkan hal yang sama seperti Ibu. Tapi saya tidak tersinggung sama sekali, obrolan itu menjadi bumbu kenangan, oooh ternyata memang susah banget ya dulu ngatur saya pas kecil. Tapi, ketika Bapak tidak ada, Ibu mengeluhkan itu seperti kaset rusak, diulang-ulang, dan saya merasa marah sekali. KENAPA? SAYA FRUSTASI DENGAN PERASAAN SAYA SENDIRI. TERNYATA KAMI BERDUA SAMA-SAMA TERLUKA. Sehingga, obrolan kami isinya hanya amarah.

Obrolan kaku itu makin diperparah karena doktrin yang Ibu tanamkan dari kecil kalau membalas kata-kata atau perintah orang tua itu adalah durhaka dan dosa. Padahal obrolan yang enak itu dua arah, bagaimana bisa ngobrol enak tapi intonasinya menyebalkan? Misalnya, Ibu menyuruh saya menambah anak lagi, biar dapat perempuan, sekalian yang repot, katanya. Hal ini diulang-ulang yang pada akhirnya saya bilang, saya cukup punya tiga anak lelaki dan mau fokus membesarkannya. Saya menjawab lugas dan selalu sama jawabannya. Hingga pada suatu momen saya bilang kalau tidak nyaman dianjurkan hal demikian, apalagi Ibu pernah mendoakan secara khusus untuk ini. Ibu sempat marah karena mungkin jawaban saya melukainya, tapi anjuran Ibu pun melukai saya dan merusak obrolan-obrolan selanjutnya. Memproses ini butuh waktu yang panjang sekali. Dan Ibu paham, obrolan tentang menambah anak, tidak sering lagi menjadi pembahasan kami. TAPI TERNYATA MASIH BANYAK DIKSI-DIKSI OBROLAN LAIN YANG MENYULUT LUKA-LUKA MASA KECIL SAYA *Cry.

Honestly, saya tidak menyerah menghadapi Ibu. Sesekali gagal, tapi saya mencoba lagi dan lagi. 

Berproses

Suami yang menjadi saksi proses saya sampai sekarang ini. Tidak jarang saya menangis sesenggukan di mobil karena diksi-diksi obrolan Ibu seperti silet yang di waktu tertentu membuat saya setengah mati memplester mulut saya agar tidak menjawab dengan reaktif, sehingga kami berdua sama-sama terluka. 

Ibu menjadi prioritas saya dan membuat saya open minded mencoba hal-hal baru agar hubungan kami berdua nyaman satu sama lain. Ibu tidak perlu lagi sungkan atau rikuh dan menganggap beliau adalah beban. Padahal saya dan ketiga kakak lelaki saya sama-sama menjaga bagaimana beliau bisa menikmati hari senjanya dengan suka cita.

Saya sedang adaptasi dengan jadwal kuliah dan tugas-tugas. Sabtu yang biasanya libur, sekarang zooming seharian. Kelihatannya leha-leha karena bisa disambi ina inu, tapi ternyata harus fokus on camera 100 menit bahkan lebih per mata kuliahnya.

Sampai pada, Jumat saya mengosongkan jadwal untuk mengantar Ibu chek up karena Budhe Endang jadwalnya bentrok nganter Ibunya. Mood Ibu mungkin sedang lagi nggak bagus, jadi pas ditanyain mau hari apa kontrolnya, bukan jawab fokus malah kepleset "Yen raiso ngeterke kabeh tak akon liyane" *NANGIS BANGET. Saya sama sekali ga merasa terbebani, bahkan budhe pun selalu rutin melakukannya. Tapi untuk menyusun hari yang match, obrolannya bisa jadi keliru. Jumat saya kosongkan untuk nganterin Ibu dan biasanya kami me time lunch sebelum jemput anak-anak pulang sekolah.

Sampai pada undangan mendadak di Kamis Sore...... :(


Malamnya, saya menyusun ulang jadwal Jumat. Ray berangkat lebih pagi bareng Budhe Endang (saya sounding beeeerkali-kali), karena seminggu terakhir Ray lebih memilih berangkat bareng Benterang yang konsekuensinya pasti telat, huhu. Saya mengantar Ben sekalian ngedrop Ibu ke RS. Sounding ke Ibu gak kalah tricky, karena kalau kepleset diksinya, bubaaaar semua-muanya.

Budhe Endang adalah partner di segala cuaca :)))))

"Bu, aku izin langsung ke kampus ya, kemarin ada undangan mendadak, rencananya mau berangkat siang, tapi mending aku berangkat pagi aja daripada nanti pulangnya kemalaman", wajah Ibu agak berubah. Tapi aku meneruskan "Aku udah bilang Iqbal, nanti jam 10 an aku telpon, ya. Maaf ya, Bu", Bahasaku pake Jawa alus, memastikan mood Ibu tetap baik dan tidak merasa tersinggung serta beranggapan kalau "saya tidak mau menemaninya padahal kemarin bilang bisa"

Kloter kedua berangkat pagi, paket combo kalo berangkat gak telat no drama

Inti Cerita Tulisan Ini

Saya menemui Prof sesuai jadwal Beliau. Hal pertama yang ditanyakan setelah saya duduk adalah "Eh Mbak, Lha trus Ibu gimana? Sakit apa?", saya cerita sedikit tentang Ibu dan Beliau juga menceritakan kalau mertua beliau memilih tinggal dengan Beliau dan Istrinya.

"Oh jaga baik-baik berliannya di rumah ya, Mbak. Orangtua, apalagi seorang Ibu itu doanya luar biasa hebatnya. Saya ga mungkin bisa seperti ini tanpa doa Ibu saya", hati saya hangat, saya menahan air mata saya.

"Merawat orangtua itu tidak selalu mulus....", lanjut Beliau.

"Berat ya, Prof?", saya menimpali agak berat. Karena teorinya aja yang gampang, tapi praktiknya seperti pasang surut mengusahakannya.

"Iya, justru disitu letak ibadahnya. Mereka seperti bayi yang punya nafsu. Kalau ngurus bayi kan enak ya, tapi kalau orangtua, pikirannya seperti bayi yang punya nafsu. Itulah ibadah terindahnya", Ambyar pertahanan saya ingat Ibu yang harusnya hari ini bisa mengantarkan seharian, ternyata lusut.

Air mata saya berurai.

Beliau menyerahkan SK jaminan pembiayaan kuliah saya. 

"Saya mengucapkan selamat karena sudah mulai kuliah, insya Allah tepat waktu lulusnya ya, Mbak. Selanjutnya, karena sekolahnya masih disini, nanti kalau tidak mengganggu kuliah, saya minta tolong dibantu kalau kampus butuh bantuan Mbak Aya.....", 2 hal ini saya tanggapi dengan anggukan.

"Dan yang terakhir pesan saya, JAGA IBU", Beliau mengulangnya lagi. Anggukan saya makin dalam.

Saya kemarin merasa berpeluh sekali, merasa terbebani dengan perasaan sedih Ibu yang lebih sedih karena saya gagal mendaftar beasiswa. Beliau tidak bisa tidur berhari-hari hanya mau bilang "Besok kalau uangnya kurang, pake tabunganku, Nduk" *cryyyy. "Insya Allah cukup, Buk. Rasah menggalih ya, doakan cukup. Tabungane dingge seneng-seneng Ibu", Beliau baru bisa tenang. Saya yang gagal, beliau yang lebih pilu. 

Mungkin saya sedang memproses luka-luka kecil yang saya lalui dulu. Tapi satu hal yang pasti, saya tidak pernah menyalahkan Ibu karena saya yakin Beliau dulu juga telah mengusahakan yang terbaik yang beliau bisa. Saat ini Beliau mungkin juga sedang berproses, karena sebelumnya Beliau selalu makmum penuh sama Bapak. Apa yang diputuskan Bapak, Beliau selalu taat dan patuh. Dan sekarang ini Beliau mungkin sedang pelan-pelan juga menata hatinya.

"Kalau butuh apa-apa, ada aku ya, Bu. Ibu gak merepotkan sama sekali. Aku tinggal satu atap nemenin Ibu nggak kemana-mana. Maafkan aku banyak kurangnya"

Me time kami berdua :)




Read More »

Penerimaan yang Baik

Menceritakan ini, seperti menilik lini masa yang saling bertautan. Tentang proses pemaknaan tentang penerimaan yang baik. Mengeja arti usaha yang sesungguhnya, dengan menerima hasil yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan (saya).

You are brave, Dear! :)

Waktu kecil, saya tidak diajari bagaimana ketika menghadapi kegagalan. Sistem perangkingan membuat saya ambisius untuk mengisi 3 besar di raport. Ketika saya gagal mendapatkannya, rasa bersalah itu menjelma menjadi badai yang sulit saya deskripsikan rasanya. 

Saya disuruh belajar, tapi tidak ditemani bagaimana cara belajar dan bagaimana harus mencintai pelajaran itu sendiri. Saya tidak boleh bermain keluar rumah lama-lama, tetapi saya tidak diajari saya harus melakukan apa di rumah. Dulu perasaan ini saya abaikan, tetapi ternyata saya mengingatnya jelas sekarang ini. Sehingga ketika memiliki anak, ternyata memang se-effort itu. Memikirkan A to Z.

Tentang Ujian

2 bulan terakhir saya ikut beberapa ujian. Ujian studi lanjut dan beberapa ujian ikut beasiswa. Perasaan saya weird ketika tidak lulus beasiswa tapi sekaligus lega, karena saya tahu sudah mempersiapkan semuanya dengan all out. Saya melupakan dan mencari beasiswa lainnya. Perasaannya campur aduk, tapi saya menerimanya.

Tadi pagi, setelah mengantar anak-anak sekolah, ujian sekaligus hadiah itu datang sebagai surprise pembuka usia baru saya. Tangan saya gemetar, kaki saya tremor, air mata saya bercucuran. Saya menunaikan dhuha agar hati saya lebih lega. Meletakkan dunia dan seisinya yang pada hakikatnya bukan milik saya. Wajah Bapak berkelebat berulang kali seperti hari-hari terakhir memeluk hangat saya. Memori dengan beliau, menjadi penyemangat saya menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang berkali-kali membuat saya ingin menyerah tapi tetap saya lakukan semampu dan sebaik yang saya bisa.

Pada akhirnya, saya memaafkan dan Belajar pelan-pelan mengeja tentang penerimaan yang baik dari hal yang begitu menghancurkan rasa percaya diri saya sedemikian rupa. Saya patuh, saya taat ya Allah. Semoga Engkau ridho.

Kamu berani, kamu hebat sekali, kamu sudah mencoba yang terbaik yang kamu bisa dari segala peran yang kamu punya. Menjadi Ibu, istri, anak, adik dan peran lainnya. Pelan-pelan ya, sayangku, kamu tidak sedang berlomba dengan siapapun, peluk diri sendiri, dan berjalan lagi. Ujian kali ini bisa kamu menangkan...Allah knows who you are, khusnudzon ya!*mantra yang saya ucapkan untuk menutup malam ini.

Malam ini, kami tidur berpelukan. Erat. Satu sama lain. 


Read More »

Prioritas

Aku tidak tahu, akhir-akhir ini kangen sekali dengan Bapak. Rasanya seperti sesak. Dalam sekali. Menyiapkan sekolah lagi ternyata memang tidak akan pernah siap, padahal sejak 2 tahun lalu, aku telah menyiapkan pondasinya, biar sekolah dan keluarga bisa seimbang. Tapi ternyata, aku masih terbata-bata juga menyesuaikan ritmenya.

Baca juga: Kangen Bapak

Tapi...

Ada perasaan berbeda. Aku tau tujuanku kemana. Sekolah lagi untuk apa. Dan antar jemput anak-anak ke sekolah, yang sebelumnya menguras tenaga dan emosiku, ternyata saat ini menjadi waktu intimate kami. Semacam pleasure untuk mood booster-ku sehari-hari. Aku dejavu beberapa tahun lalu, sebelum berangkat ke kantor, aku selalu muterin Dio dan Dea. Ternyata momen itu berulang kembali pas punya anak-anak. 

My Universe

Aku tahu prioritasku, meski seringkali aku lupa "ini buat apa?", mereka menjadi kompas pengingat bahwa mereka selalu menunggu dengan suka cita di rumah. Berebut pelukan dan ciuman. Nak, mungkin Ibu adalah duniamu. Dan bagi Ibu, kalian adalah adalah segala semesta yang Ibu punya. Semoga Allah seeelalu sayang pada kalian ya, Nak, ya.


Notes:
Hari ini pikiran rasanya penuh sekali, kerjaan tergesa-gesa. DAN PALING BENCI BANGET SAMA PERASAAN NANO-NANO BEGINI. BENGONG DIKIT MEWEK. PADAHAL GA ADA APA-APA. Menyesuaikan ritme LDM rasanya gengges banget. Padahal kalau dekat juga biasa aja, tapi kalau jauh ternyata dicariin. PAPI KAPAN PULANG, BU?* ping sewu. Ibunya njawab dengan nada lembut, padahal sering ambyar juga karena capeknya.

Again, mungkin kita punya banyak hal yang ingin digapai. Tapi aku memaknai tentang prioritas. Paham banget kalau keluarga adalah prioritas paling atas dan rumah ternyaman untuk selalu pulang.
Read More »

Merayakan Menjadi Ibu



Momen menjadi Ibu seringkali membuatku termenung. Lama. Ada perasaan-perasaan yang aku sendiri bingunh mendefinisikan. Apakah marah? Apakah capek? Apakah merasa cukup? Atau bahkan perasaan lainnya yang lagi-lagi membuatku bingung mendefinisikannya sebagai apa. Tapi rasa itu utuh ada.

Aku ingin egois makan dan minum dengan nyaman, tapi di saat bersamaan merasa bersalah ketika salah satu dari mereka minta ditemani main. Aku yang jangankan menyisir rambut, bahkan mandi saja sering jamak qasar. Mata terpejam tapi kepala lari kemana-mana.

Ketika nadaku sudah melengking, tubuhku terasa linu, aku duduk dan menata napas. Anak-anak hanya menuntut haknya, tempat ternyaman adalah aku sebagai Ibunya. Aku menangis entah yang ke berapa kali, merasa bersalah yang brengsek sekali hadir tanpa permisi. 

2 bulan terakhir, anak-anak gantian sakit. Rata. Satu, dua dan tiga. Padahal aku sudah berusaha menjaga asupan makan, minum dan vitamin yang katanya tidak murah. Tapi imunnya ambyar juga. Memeluk Ben ketika disuntik, memberi pengertian Ray yang nego tidak mau minum obat, memerah asi buat Sea di ujung capek kerja. Roda hidupku 24 jam rasanya tidak cukup. Pagi ke pagi lagi. 

Di ujung Desember, aku bertanya: Setahun ini aku ngapain aja? Aku memungut satu per satu rasa percaya diri. Menikmati rasa lelah dan syukur dalam waktu bersamaan. Meminta mudah alih-alih kuat untuk membuka dan menutup hari membersamai mereka sebagai Ibu.

Aku masih memakai daster, setelah memberi UAS 2 kelas sambil menyuapi ketiganya. Badanku, pikiranku, rasaku valid semua. 


Semoga Allah memeluk dan memberikan puk-puk. Selamat hari Ibu! :)

Read More »