Featured Slider

Kangen Jakarta


Dulu, saya memimpikan Jakarta sebagai tempat tinggal. Pagi dengan semangat membara bekerja, malamnya bercengkrama dengan keluarga. Bagi saya, Jakarta itu seperti pemompa obsesi. Banyak rencana-rencana yang saya tuliskan dalam diary yanh ingin saya realisasikan di kota itu.

Hingga pada akhirnya...takdir berkata lain. Saya kembali pulang. Ke Solo.

Saya kangen Jakarta. Kangen sekali. September lalu, saya bilang ke suami. 

"Yuk ke Jakarta, Yang"

"Ngapain?" Dia menoleh.

"Beli BurgerKing".

Dia hanya tersenyum sambil mengacak rambut saya. Dia tahu saya sedang kangen. Kangen Jakarta. Ditambah lagi, saat itu saya sedang ngidam jabang bayinya.

Januari lalu, saya kembali kangen dengan Jakarta. Kota yang menurut saya tidak pernah tidur. Ketika pulang jam 12 malam, saya tidak merasa apa-apa. Padahal keesokan harinya saya harus berangkat pagi buta.

Teman-teman saya heran. Mengapa saya secinta itu dengan Jakarta. Padahal, orang-orang menginginkan bisa pindah ke Jawa. Di posisi saya. Dekat dengan orangtua. Ah, hidup memang begitu ya? Sawang sinawang, katanya.

Untungnya, saya bisa mencurahkan apa saja kepada suami. Saat saya kangen, saat saya ingin ke Jakarta. Dia memeluk dan merengkuh saya. Dia orang pertama yang memberikan "pandangan lain", bahwa dimana pun, kita tetap bisa berkreasi dan bermimpi. Awalnya saya mengelak. Karena belum ada kota yang se-magic Jakarta. 

Disana, tiap malam seperti hidup. Banyak energi untuk mengerjakan apa saja. Disini, setiap jam 7 malam sudah sepi. Ritmenya lebih lambat dibanding Jakarta. Bahkan saaangat lambat, menurutku. Tiap pagi di Jakarta seperti "in a rush", waktu serba cepat. Sedangkan disini, sangat SLOW. Membandingkan Jakarta dengan Klaten atau Solo memang tidak apple to apple. Saya terlalu timpang saking cintanya dengan Jakarta. Itu dulu.

Saat ini saya menikmati. Saat shubuh yang damai, saf depan penuh dan rapat. Nikmatnya membuat teh untuk suami. Bercengkrama dengan Ray. Memandikan, menyuapi hingga dia tidur lagi.

Saya masih kangen Jakarta. Tapi tidak ingin lagi tinggal. Mungkin sesekali ingin singgah, untuk kembali pulang setelah melepas memori di KRL atau busway. Duduk di peron stasiun Gambir sambil menyesap kopi.

"Masih kangen Jakarta?", saya menoleh kepada suami ketika dia menanyakan tentang kerinduan saya.

Saya hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.

"Kata temenku, Jakarta-Solo cuma 6 jam lewat tol Yang", saya memecah keheningan.

Tidak ada jawaban disana. Saya yakin dia takut. Takut saya meminta izin ditemani kesana. Takut kalau saya merasa di-PHP untuk berkunjung ke Jakarta. Kota yang sampai saat ini memiliki posisi yang sangat istimewa di hati saya. Obrolan itu menguap. Iya, tidak ada lagi obrolan tentang Jakarta.

Beberapa hari kemudian.

Suami cerita tentang biaya tol dan pertalite pulang pergi Klaten-Jakarta. Saya hanya memandangnya. Dia tahu entah berapa kali saya kangen sekangen-kangennya dengan Jakarta. Tapi setiap saya merengek di pelukannya, dia hanya memberikan puk-puk dan merapatkan pelukannya.

Masih mau ke Jakarta? Tanyanya seusai cerita biaya-biayanya dan membandingkan dengan naik kereta. Kapan? Lanjutnya. Nanti adik yang cari waktu aja, ya. Mas manut. Tiba-tiba saya menghambur ke pelukannya. Ada titik bening yang panas. Saya pikir, kemarin dia menganggap angin lalu, tapi nyatanya dia mendengarkan dalam diamnya.

Kalau ditanya mengapa secinta itu dengan Jakarta, saya sendiri nggak tahu. Sepertinya susah untuk berkunjung kesana. Saat hati saya sedang sentimentil, kangen Jakarta bisa sukses membuat saya bernapas lebih panjang dari biasanya. Bahkan bisa sampai menangis. Dan sekali lagi, saya tidak mengerti perasaan seperti itu. Mengapa harus rindu begitu. Banyak pertanyaan di kepala saya yang membutuhkan jawaban.

Setelah bulan politik selesai. Saya ingin bersiap ke Jakarta. Rabu besok, 13 Maret 2019, semoga baik-baik saja.

Ibunya Ray yang sedang merindu di hari Sabtu

09.45
Read More »

Ray Khitan, Yay!

Seminggu ini rasanya habis ikut ujian matematika yang menurut saya pelajaran yang paling rumit sejak SD sampai sekarang. Tapi alhamdulillah lulus karena saya belajar dan paham rumus-rumusnya (*nggaya, ahaha). Jadi, Selasa, 19 Februari kemarin, Ray khitan. Sempat galau sebelumnya karena khawatir beberapa hal, tapi akhirnya terlaksana juga. Very prouf of you, Ray! Akhirnya fimosisnya hilang juga :).

Baca juga: Ray kena Fimosis

Senin pagi saya menelpon RSI, semua kamar untuk pasien anak penuh dan pihan RSI akan menghubungi jika ada kamar kosong. Benar saja, Selasa paginya ada kamar kosong untuk kelas 2 (kami memakai BPJS). Saya meminta upgrade kamar dan ternyata hanya bisa upgrade 1 kelas. Yasudah, saya upgrade ke kelas 1 dan akan ditelpon kembali kalau ada kamar kosong untuk BPJS kelas 1.

Yang membedakan kamar kelas 1 dan 2 adalah adanya TV dan AC. Sama-sama 1 kamar berdua, tapi untuk kelas 2 tidak ada AC dan TV. Sedangkan kamar kelas 1 ada fasilitas tersebut. Kalau saya yang penting ada kipas atau AC-nya. TV gak terlalu penting, dan memang ga pernah dinyalakan ketika di RS. Jika mau pindah ke kelas VIP atau VVIP, maka BPJS ga berfungsi, karena kita menjadi pasien umum. Kebijakan baru memang mengharuskan demikian, naik kelas hanya boleh 1 tingkat saja.

Ibu akan menemanimu, Nak!

Siangnya, pihak RSI telpon lagi menginformasikan ada kamar kosong untuk kelas 1. Saya bilang akan kesana jam 3 setelah selesai packing. Berikut yang masuk ke dalam koper:

1. Pampers. Bawa 5 pcs. Berguna hanya sampai mau operasi. Setelah itu enggak pakai :D.

2. Baju kancing depan. Sebelum khitan saya belanja baju yang ada kancing depannya buat Ray. Untuk memudahkan saat dia ganti aja karena tangannya kan diinfus. Saya bawakan 6 stel. Ini juga berlaku buat ibunya ya. Bawa baju yang kancing depan biar fleksibel menyusui. Jangan malah kebalik, kancing atau resletingnya di belakang, ahaha.

3. Celana longgar buat bayi. Saya pilih size di atas ukuran Ray biar gak ketat di pinggulnya. Saya belum beli celana khitan (yang depan ada tangkupnya), karena memang belum ngerti fungsinya apa. Nah, setelah khitan, saya belikan 4 stel celana khitan size s. Hanya dipakai 3 kali saja, selebihnya malah rempong jaya karena gerakan Ray aktif banget dan timbulan bagian depan celana sangat mengganggu ketika merangkak. Makanya saya memakaikan celana longgar saja. Btw, kalau memakai celana ketat, penisnya akan nempel di celana. Dan saat dibuka, anak akan merasa kesakitan :(. Jangan ditiru ya, huhu. Saya sempat memakaikan celana yang press di badannya karena kehabisan (Ray pipisnya sering).

4. Mainan. Biar dia nggak bosen. Saya membawa balon ikan terbang. Voillaa, dia happy sekali.

5. Toiletries. Sikat gigi, sabun mandi, pasta gigi, handuk. Percayalah, nunggu di rumah sakit itu adalah perjuangan. Dan mandi bisa menjadi refreshing tersendiri :D.

6. Dokumen. BPJS, KK, KIA atau KTP orangtua.

7. Baju ganti buat bapak ibunya. Saya bawa 4 stel. Kemarin saya bawa 4 stel dan kena ompol Ray :(. Untung masih ada daster 1 stel. Ruangan kamar jadi banjir ompol karena Ray nggak pake celana. Dia masih risih dipakein celana, jadi pipisnya awur-awuran. Suami yang hanya bawa celana satu-satunya juga kena ompol, ahaha. Awalnya mau emosi, tapi ngliat wajah saya yang memelas, akhirnya ga jadi. Dia ambil sarung di mobil buat salat.

Yang terlupa dibawa tapi saaaaangat penting manfaatnya: perlak, sarung buat alas ompol. Tapi tenang, kalo lupa bawa perlak seperti yang saya lakukan kemarin, saya beli underpad (bener ga namanya?). Alas ompol yang bisa meresap. Alih-alih meresap, Ray kemarin pasca operasi pipisnya kayak air mancur,ahaha. Jadi kemana-mana basahnya.

Oh iya back to the topic, seminggu sebelumnya saya sudah menyugesti Ray kalau dia akan dikhitan. Memintanya cepat sembuh dari demam dan bapil. Hal itu saya lakukan ketika bermain sama-sama dan saat tidur. Saya juga bilang akan menemaninya. Apakah dia mengerti? Saya yakin sense anak-anak bisa menangkap kalau ibunya care sama dia. Hal itu juga membuat saya lebih lega.

Sebelum berangkat ke RSI, saya pamit ke seluruh keluarga. Eyang, budhe, pakdhe, Lintang, Khansa dan Iqbal menciumi Ray. Meminta saya untuk mengabari kalau masuk ruang operasi. Sesampainya di RSI, saya langsung ke loket 10 mengisi beberapa form persetujuan naik kelas BPJS dan persetujuan operasi.

Selanjutnya, saya diarahkan ke perawat yang mengurusi kamar pasien. Saya ditanya kapan terakhir Ray makan dan minum. Sebelum dipasang infus, Ray harus di cek darah dulu di lab. Saya menemaninya dan memeluknya saat diambil darahnya. Ray senyum-senyum ke arah perawat dan sangat kooperatif. DAN DIA NGGAK NANGIS PAS DIAMBIL DARAHNYA *terharu. Setelah selesai, saya menggendongnya dan menciumnya. You are brave, Nak! :).


Waktunya Operasi Sirkumsisi/Khitan

Jam 2 siang mulai diinfus dan disuruh puasa. Karena nadinya Ray halus sekali, tangan kanan kirinya kena tusuk jarum, huhu. Perawat mempersilakan saya menunggu di luar kalau nggak kuat melihat Ray dicubles-cubles. Tapi saya menolak. Saya menemani Ray dan memeluknya. Saya bilang kalau memang sakit, nangis yang kenceng gak apa-apa. Tanpa diaba-aba, dia nangis kejer. Yakali ditusuk jarum sakit euy :(.

Saya masih tegar gak ikut nangis, ahaha. Setelah diinfus, Ray berhenti nangisnya. Perawat membawa kami ke kamar Multazam 2. Pasien multazam 1 belum datang, jadi saya dan Ray masih leluasa bermain.

Jadwal operasi Ray jam 8. Jam 2 ke jam 5 rasanya cepat sekali karena Ray bobo, ahaha. Jam 5 sampai jam 8, Ray ngajak mainan melulu. Energinya gak habis-habis. Senyumnya luber-luber, sampai papinya bilang "Kamu kalo tahu mau disunat, pasti senyumnya ga selepas ini, Le", ahaha.

Jam 6 pasien di ruang multazam 1 sudah datang. Bayi usia 2 bulan. Dia kena hidrosefalus (bener ga?). Penyakit yang kepalanya membesar karena ada cairannya, huhu. Ruangan jadi ramai karena Ranumi (nama pasien tersebut) yang jaga full. Ada kedua nenek kakeknya dan bapak ibunya. Awalnya merasa risih karena terlalu berisik, tapi lama-lama terbiasa. Apalagi mereka sangat baik dan pengertian.

Jam 8 perawat datang mengganti baju Ray dengan jubah operasi. Setengah 9 saya disuruh ke ruang operasi. Keluarga Ranumi mendoakan biar operasi Ray lancar. Saya menggendong Ray yang masih sumringah ngajak main dan becanda.

Karena menunggu dokter, saya dan suami bingung dan mati gaya di kamar tunggu operasi. Mau haha hihi kok ga sopan karena ada pasien yang juga lagi nunggu operasi. Ray juga mati gaya kayaknya. Dia mulai agak rewel dan merajuk minta nenen. Setengah jam dipuk-puk dan peluk akhirnya dia tidur.

Jam 9 perawat memanggil nama Ray. Dia meminta Ray yang lelap di gendongan saya. Saya yang semula tegar akhirnya meleleh juga. Hati saya nggak karuan. Titip anak saya ya, Mas. Ucap saya. Mas perawatnya cuma senyum tanda mengiyakan.

Saya dipersilakan menunggu di luar. Niat awal mau makan saat Ray dioperasi tiba-tiba perut mendadak ga laper sama sekali. Saya gontai. Air mata saya mengucur deras. Mulut saya komat kamit mendoakan putra semata wayang saya.

"Semoga Ray nggak apa-apa ya,yang", suami saya memeluk saya. Operasi berjalan sekitar 40 menitan. Dan bagi saya itu saaaangat lama. Entah kenapa dada saya sakit sekali. Doa saya nggak putus-putus buat Ray.

"KELUARGA RAYYAAAAN", Perawat memanggil. Artinya operasi selesai. Dan drama dimulai. Rasa sakit, pilu menjadi satu (beneran).

Ray nangis kejer di ranjang. Guling-guling sambil matanya tertutup. Saya nggak boleh ngasih nenen! Hal yang biasanya menbuat Ray bisa tenang saat menangis nggak boleh saya lakukan. Saya merutuk perawat. Dokter Dedy Prasetya, spesialis bedah anak yang menggantikan dokter Berliani yang sedang umroh, menjelaskan kalau operasinya lancar. Saya menanyakan apakah sudah diberikan obat anti nyeri kok nangis daritadi ga berhenti. Dan beliau menjawab sudah dengan sopan.

2 jam nangis kejer di gendongan tanpa jarik! Encok banget punggungnya. Saya nangis karena ga bisa berbuat apa-apa. Perawat mondar mandir mengurus pasien lain. Menganggap tangisnya Ray hal biasa. Padahal itu sangat meremukkan hati saya :(. Setelah 2 jam di ruang pemulihan, Ray dibawa ke kamar. Masih menangis di gendongan saya. Meronta (mungkin) merasa sakit sekali.

Wajah suami saya pias dan mencoba memijit tengkuk saya. Saya melampiaskan kekesalan sama beliau. Bilang kalau mau membayar mahal asal Ray ga merasa kesakitan. Bilang menyesal dan udah cukup sekali saja (lha emang mau sunat berapa kali, Buk?).

Sesampai di kamar, Ray masih nangis. Keluarga Ranumi menemui kami dan memberikan support. Saya meminta maaf kalo tangis Ray mengganggu. Ga enaknya sharing room ya begini. Tapi untungnya Ranumi tidak terganggu.

Jam 12 malam, Ray sudah agak tenang. Pelan-pwlan dia terpejam sendiri. Entah karena saking capeknya nangis atau memang ngantuk. Tapi dia tidur. Suster bilang belum boleh nyusuin dulu, mending biarkan tidur dulu.

Beneran, pas Ray sedikit gerak, saya susuin sambil memberikan puk-puk di punggungnya. Dan rewelnya Ray itu pas setelah  operasi tadi aja. 2-3 jam nonstop gendongan sambil nangis kejer. Itu efek pasca biusnya. Kata dokter Joko, dokter anestesinya, bius yang digunakan adalah bius total. Mungkin setelah operasi, Ray merasa tidak enak akibat biusnya tadi. Fyi, sepupu bilang kalo habis dibius rasanya mual, pusing, pengen muntah. POKOKNYA GA ENAK. Jadi wajar kalau reaksi bayi rewel dan nangis.

Setelah operasi, bayi puasa 2 jam lagi. Dalam kondisi nangis kejer, kalo dikasih nenen, beresiko tersedak yang membahayakan untuk bayi. Jadi, lebih baik menunggu bayi lebih tenang untuk menyusuinya.

Setelah drama nangis itu, Ray tidur pulas sampai pagi. Dan paginya kayak nggak terjadi apa-apa. Dia nangis kalau misal penisnya tergesek tapi selebihnya dia aktif kayak biasanya. Bahkan sampai guling-guling di kasur. Awalnya Ray agak risih (mungkin), tapi siang sampai sore meskipun tergesek selimut atau bantal, dia sudah nggak nangis lagi, amazing! Ahaha.

Eyangnya yang dari semalam ga bisa tidur mikirin dia juga merasa takjub, ahaha. Karena habis sunat, Ray energinya buat main kayak biasanya. Sore jam 5 sudah boleh pulang. Dan sampai rumah, dia main lagi sampai jam 10 malam.

Awalnya nggak dipakein celana, tapi penisnya jadi kotor buat guling-guling, jadi saya pakein celana yang size-nya besar. Saya ga pakein celana khusus khitan lagi karena dia jadi ga bebas main.

Memakai BPJS

Untuk tindakan khitan Ray ini, saya menggunakan BPJS. Pelayanannya mudah dan pihak RSI sangat kooperatif dalam pengurusannya, bahkan menjelaskan ketika kami merasa tidak paham.

Biaya untuk khitan Ray kemarin adalah 293.500 (aslinya 2 juta sekian kalau pasien umum). Buaya tersebut merupakan fasilitas upgrade kamar kelas 1 dari bpjs kelas 2. Fyi, untuk pasien BPJS, wajib menginap 27 jam untuk pengklaimannya. Kalau mau langsung pulang boleh? Boleh dong, tapi bayar sendiri alias jadi pasien umum, haha. Dan itupun tetap dibius total. Setelah khitan ada observasi untuk pasca pembiusan tadi.

Merawat Bayi Pasca Khitan

Hari kedua, penisnya Ray merah merona karena luka. Lintang sama Iqbal ngilu pas melihat Ray nggak dipakein celana. Mereka bisa refleks menutup muka. Mungkin mereka masih terngiang pengalaman bagaimana sakitnya disunat.

Btw, saya pernah bertanya sama Lintang yang pernah sunat di usia 9 tahun. Dia dibius lokal, tapi katanya masih bisa ngrasain sakit (tapi ga sakit banget). Setelah biusnya hilang, nyeri itu datang. Jadi wajar banget kalau setelah disunat, Ray nangis kejer.

Untuk merawat luka sunat (ini gak konsisten amat sih nyebut sunat atau khitan? Ahaha), beberapa hal ini saya lakukan:

1. Pakaikan celana longgar.

Seperti yang udah saya ceritakan sebelumnya, kalo bayi 9 bulan saya itu aktifnya pol! Jadi biar penisnya ga kotor, saya pakein celana yang longgar. Pernah sekali dipakein celana yang press body, karena celananya habis dicuci semua kena ompol. Eh pas nglepas ternyata lengket banget sama luka di penisnya :(.

Hari ketiga pasca khitan

2. Minumkan obat secara teratur

Di hari ketiga, lukanya berlendir dan kata dokter itu wajar. Fyi, sejak pasca operasi, lukanya tidak dibalut kapas atau perban. Dokter meresepkan salep (mata) yang merupakan antibiotik luar biar luka cepat kering. Antibiotik sirup yang wajib dihabiskan dan prasetamol yang bentuknya sirup kering buat anti nyeri.

Sirup keringnya pait banget :(. Jadi pas nanya dokter gak wajib dihabiskan, saya bernapas lega. Toh Ray juga ga merasa kesakitan atau rewel. Oh iya, selain itu saya juga membersihkan lukanya menggunakan minyak butbut dari HPAI (bukan iklan ya). Selainga perih, minyak ini bisa menjadi sarana untuk membersihkan lukanya Ray. Kalo pake air, Ray ngamuk-ngamuk :D. Mungkin karena perih ya, may be.

3. Kalau malam tidak usah pakai celana

Untuk salep dan minyak, saya mengoleskannya kalo Ray tidur pulas. Kalau pas melek, Ray bisa menolak dan endingnya salepnya nempel kemana-mana.  Ketika lukanya masih basah, saya tidak memakaikan celana pas dia tidur. Saya angin-anginkan 30 menit biar obatnya meresap, baru saya kasih selimut.

4. Tidak usah mandi, tapi....

Hal yang tidak luput saya tanyakan adalah, boleh mandinya kapan? Soalnya Ray itu badannya tipe tropis :D. Kalo nggak mandi bisa lengket semua. Jadi, 3 hari boleh absen mandi, tapi bisa dilap saja bagian tubuhnya si anak biar enak kalo tidur.

Saya nyobain 3 hari pas mandiin Ray. Dia happy sekali. Bahkan tidak merasa risih saat masuk ke bak air. Saya menyabuni badannya dan sangat hati-hati biar nggak kena bagian penis, takut perih. Di selangkangan dibasuh air hangat dan membersihkan dakinya saja.

5. Menjaga asupan nutrisi

Kalau dulu, pernah mendengar pesan buat Lintang untuk menghindari telur dan daging dulu biar luka sunatnya lekas kering. Ini tidak berlaku buat bayi. Bebas mau makan apa saja. Justru disarankan kandungan protein dan lemaknya yang tinggi untuk pemulihan. Nutrisinya dijaga!

Setelah Ray khitan, saya banjir whatsapp dan pertanyaan. Ada yang berempati kasihan kenapa masih bayi udah dikhitan. Ada juga yang anaknya terkena fimosis dan ragu buat khitan. Alasan terbesar mereka ragu, yang pertama karena kasihan pada anak. Yang kedua adalah ditentang sama keluarga, terutama eyang-eyangnya anak-anak, ahaha.

Ada lho, sahabat saya yang punya cita-cita mengkhitankan anaknya pas bayi sekali (usia 2 bulanan), dan itu ambyar karena ditentang sama eyangnya, ahaha. Ya Allah, kalian nggak sendirian!

Di usia 7 bulan pas saya niat mau mengkhitankan Ray, ibu saya juga menentang karena kasihan. Tapi pas usia 9 bulan kemarin, sebelum beliau bilang "enggak", saya menjelaskan sejelas-jelasnya apa itu fimosis dan akibatnya apa kalau tidak disunat. Orangtua dari pihak suami pun demikian. Tetap kasihan, dan endingnya mendoakan.

Percayalah, mereka khawatir karena cinta mati juga sama anak kita. Dan tugas kita untuk menjelaskan dan menenangkan. Tapi jangan mundur hanya karena mereka bilang enggak boleh :p. Mungkin di lingkungan kita, khitan bayi belum umum dan familiar, sehingga terkesan menyeramkan. Makanya pas dokter bilang kondisi Ray, saya mantap untuk mengkhitankannya.

Baca juga: Ray fimosis dan mengapa harus dikhitan

Dan satu lagi, jangan dibayangkan nanti bagaimana-bagaimana pas khitan, kalau misal mantap mau mengkhitankan, bismillah dan jalani :).

Question and Answer

Nah, saya mau merangkum pertanyaan-pertanyaan yang membuat galau beberapa teman yang mau mengkhitankan anaknya, lebih tepatnya bayinya. Semoga bisa menjawab ya, karena beberapa pertanyaan itu sempat menghantui saya juga dan sempat membuat ragu saat mengkhitannya.

Pampers bikin fimosis nggak?

TIDAK. Pake atau ga pake pampers, kalau memang bayinya fimosis, ya fimosis aja. Ga ada hubungannya. Ada 3 teman saya yang nanya demikian soalnya. Pemakaian pampers itu korelasinya sama ruam dan ISK. Itupun tergantung kebersihan sang ibu. Kalau rajin mengganti popok dan pemilihan jenis popoknya tepat, insya Allah tidak akan terkena infeksi.

Pelayanan BPJS-nya enak nggak? Sama dengan pasien umum?

Mungkin ada yang worry ya, berpikir kalau pake BPJS nanti penanganannya bakalan dibedakan sama pasien umum. Sepengalaman saya memakai BPJS di RSI, servisnya oke kok! Bedanya, kalo pasien bpjs disubsidi, pasien umum bayar full :D.

Oh iya, pasien bpjs menginapnya 27 jam, kalo pasien umum bisa mengajukan pulang jika memang hasil observasinya baik, ga harus nunggu 27 jam.

Baca juga: pengalaman melahirkan di RSI

Pake pampers lagi setelah khitan dimulai kapan?

Sungkem dulu sama ibuk-ibuk yang nggak pake pampers atau clodi buat anak-anaknya. Saya pernah nyobain seminggu nggak makein pampers, kok rasanya hidupku cuma nyuciin celana ompol Ray, ahaha. So, saya give up, saya memakaikan pampers lagi deh. Fyi, Ray pake pampers dari bayi. Pernah ruam popok juga gara-gara pup ga ketahuan dan dia ga rewel sama sekali. Padahal pantatnya merona.

Ke Dokter Priadi, Ray diperiksa pantatnya yang merah banget. Dan dia cengengesan, ga ngrasain sakit atau perih.
Back to the topic, kata dokter Dedi, pemakaian pampers bisa dilakukan lagi h+7 setelah khitan. Itupun harus ekstra dicek. Idealnya jangan dipakein pampers dulu sampai lukanya benar-benar kering (kurang lebih 2 minggu). Kalau Ray kemarin, hari kelima sudah saya pakein pampers karena mau kontrol ke RSI. Dari rumah ke RSI, kalau kering saya lanjutkan, kalau basah saya lepas dan ganti pampers baru. Sesampai di rumah, ga pake lagi.

Selama semingguan, saya hanya 2x memakaikan pampers karena perjalanan. Saya bukan takut kalau Ray pipis, tapi takut dia pup, huhu. Bagi yang sabar tingkat dewa, bisa pake perlak :D. Oh iya, untuk menghindarinya, saya meminimalisir perjalanan. Kemarin jalan 2x karena kontrol ke dokter. Kok 2x? Iya, perawat salah nulis tanggal, jadi membuat kami harus 2x datang ke RSI. Saya mau ngamuk tapi pihak RSI-nya udah minta maaf, jadi yaaaa, nggak jadi marah.

Anak rewel nggak kalo habis sunat?

TENTU. Ahaha. Lha namanya aja kulit normal dipotong trus dijahit, yaaa sakit. Rewel adalah reaksi bayi terhadap rasa sakit itu. Dan itu wajar. Kayak imunisasi DPT yang kadang bikin bayi panas, pertanyaan "rewel nggak?" merupakan pertanyaan template yang udah tahu jawabannya. Mungkin yang paling pas adalah "rewelnya berapa lama?" :).

Ray rewel parah setelah khitan. Nangis kejer nggak bisa diapa-apain. Saya juga mati gaya karena belum boleh nenenin. Kurang lebih 2.5 jam nangis. 2 jam meronta-ronta, setengah jamnya udah kayak capek pengen tidur dan pengen teriak "Buuuuuk, tititku sakit!", ahaha. Setelah itu tidur pulas sampai pagi. Pagi dan seterusnya main kayak biasanya :D.

Mungkin tiap anak beda-beda ya. Tapi kata dokter Deddy kemarin, rewelnya anak-anak itu 24 jam pertama, setelahnya bakal biasa-biasa saja. Jadi, anggaplah paling pahit deh, 24 jam orangtua harus punya stok energi buat ngadepin anaknya.

Kalau saya kemarin karena gak boleh nenenin, maka yang saya lakukan adalah menggendong dan memeluk. Entah gimana rasanya punggung yang gendong tanpa jarik/gendongan selama 2 jam nonstop, ahaha. Tapi setelah itu lega! Alhamdulillah.

Cara gendongnya gimana?

Kayak gendong biasa aja. Nggak usah dibayangkan, langsung praktik! Nanti bayi dan posisi kita akan menyesuaikan bagaimana posisi yang paling pas biar si anak nyaman. Ibu saya pun juga menanyakan hal serupa, saya langsung menyerahkan Ray ke pelukannya untuk digendong. Awalnya kaku, tapi lama-lama beliau bisa menyesuaikan.

Kenapa dibius total?

Penjelasan dokter Joko yang merupakan dokter anestesi Ray dan dokter Deddy membuat saya mantap dan tidak was-was lagi. Jadi, kalau bius lokal itu hanya membius permukaan penis saja, tidak mencakup batang penisnya. Sehingga diperlukan bius total agar bisa membius luar dan dalamnya.

Selain itu, operasi khitan bayi memerlukan konsentrasi penuh, kata dokternya :D. Jadi membutuhkan kooperasi dari bayi. Kan gak lucu, di tengah menjahit daging, bayinya nendang, ahaha. Apalagi Ray yang lagi aktif-aktifnya. Makanya saya sepakat untuk menggunakan bius total demi kelancaran operasi dan kenyamanan Ray.

Btw, menurut testimoni Icha, sahabat saya, bayinya yang berusia 2 bulan pas dikhitan dibius lokal. Ada beberapa teman saya yang lain juga keheranan, kok khitan aja pake dibius total. Kalo kalian merasa galau, ikuti saja salah satu yang paling diyakini. Kebetulan saya merasa yakin dengan dokter yang menangani Ray. Beliau yang tahu kondisi Ray dari awal. Di sisi lain, saya nggak nemuin tempat yang rekomended buat khitannya Ray.

Kenapa pilih rumah sakit buat khitan

Karena dari awal, khitannya Ray adalah karena rekomendasi dokter. Mulai dari dokter keluarga, dokter anak sampai dokter bedah anaknya. Mereka yang tahu kondisi Ray, jadi saya percaya untuk khitan di RS. Sebelumnya ada sepupu dan teman saya yang anaknya juga dikhitan di RS. Proses dan prosedurnya juga sama dengan saya. Jadi sebelum operasi, saya sudah mempunyai bayangan nantinya bakal gimana.

Saya juga searching tempat khitan di area Jogja Solo Klaten, tapi tidak menemukan yang "sreg" atau "klik". Semua keponakan saya khitan di Jogja dengan bius lokal, tapi di usia mereka 9 atau 10 tahun. Sedangkan saya tidak memiliki bayangan atau testimoni dari teman/saudara yang mengkhitankan bayinya di area Jogja Solo Klaten. Ada yang sharing sih, tapi di area Jabodetabek sama Bandung. Masa khitan harus jauh kesana? :(

Kenapa harus rawat inap?

Untuk observasi pasca biusnya. Apakah merasa mual. Apakah ada pendarahan setelah operasi. Dan hal-hal lainnya. Selain itu, Ray memakai fasilitas BPJS, jadi memang harus rawat inap. Bisa langsung pulang kalau tiba di RSI nya pagi dan siangnya langsung tindakan. Itupun diperuntukkan bagi pasien umum, bukan BPJS.

Mandi ga pasca khitan?

Mandi berendamnya pas hari ketiga. Sebelumnya hanya di lap saja.

Apakah setiap fimosis harus dikhitan?

Tidak. Kalau fimosisnya tidak mengganggu kesehatan anak, tidak dikhitan tidak apa-apa. Kalau mengganggu, kayak demam terus-menerus, ISK, khitan adalah jalan terbaiq. Silakan konsultasikan lebih lanjut ke Dokter anak kesayangan ya!

Tantangan yang dihadapi

1. Ga pake pampers

Pipis dimana-mana dan tiap mau salat harus ganti baju karena saya ragu kena najis pipis apa gak :(. Makanya saya mulai mengajari toilet training per 2-3 jam ngajak Ray ke kamar mandi buat pipis. Sehari gagal, karena Ray nggak ngerti. Tapi saya akali dengan menghidupkan keran sambil mengelus perutnya agar pipis. It's work.

Bonusnya, tiap malam, Ray nggak ngompol sekarang *terharu. Kalau siang saya tidak memakaikan pampers lagi kecuali kalau bepergian.

2. Ketika pup

Drama pipis selesai, ternyata ada yang lebih krusial. PUP! Sumpah, saya sempat senewen karena tiap Ray pup pasti belepotan sampai bagian depan, huhu. Tiap mengguyur dan membersihkan, dia pasti nangis :(.

Jadi, setiap Ray tidur, saya bersihkan lukanya yang kena pup tadi memakai minyak but-but.

3. Duh kasihan banget, masih bayi kok dikhitan

Akan selalu ada yang komen begini. Gausah baper. Karena bagi mereka, khitan bayi belum familiar. Dan satu lagi, mereka tidak tahu kondisi bayi kita. Jadi yaaa, kalau dapat komen-komen begitu, biasa aja.

Jangan merasa bersalah. Karena ibu paling tahu apa yang terbaik untuk buah hatinya.

Semoga sehat selalu ya semuanya :)


Ibu sayang Ray pake banget.
Read More »

Pengalaman Fimosis dan Mengapa Harus Dikhitan

Pagi itu, jam 9, setelah dhuha dan pamit sama eyang kakung dan putri Ray (bapak ibunya suami), kami bertiga menuju ke RSI untuk menjadwalkan khitan. Dalam perjalanan, saya sempat menelpon bapak ibu saya untuk mengabarkan tentang hal ini. Tapi masih maju mundur dan akhirnya urung saya lakukan. Mengingat kedekatan Bapak dengan Ray, dan beliau sedang tidak sehat. Saya takut beliau khawatir.

Sampai RSI, saya dipersilakan untuk ke loket 13 karena kami menggunakan BPJS. Setelah mendapatkan nomor antrian, kami lanjut ke loket 2 (ada loket 1, 2 dan 3 untuk pengurusan BPJS) untuk didata. Saya mendapatkan beberapa kertas berisi identitas Ray yang akan menggunakan BPJS-nya untuk khitan. Setelah itu saya ke Klinik 6 untuk menemui dokter bedah yang nantinya menangani Ray, dr. Berliani Hijriawati, Sp.BA. Beliau sedang melakukan operasi, jadi kami menunggu agak lama :(

Sekitar jam 12, akhirnya dokter Berliani memanggil nama Ray. Diskusi sebentar dan saya makin mantap untuk menjadwalkan sirkumsisi/khitan pada Ray. Tanggal 6 Februari jam 9 pagi. Tapi sorenya, Ray harus sudah dibawa ke RS untuk rawat inap. Sebelum dikhitan, dia harus puasa dulu 6 jam karena nanti akan dibius total.

Kami lalu mengurus kamar di loket 10. Petugasnya meminta nomor yang bisa dihubungi untuk memastikan kamar kosong untuk Ray. Dan yang terakhir adalah mengumpulkan berkas ke Kassa. Urusan selesai dan kami pulang.

Tanggal 5 Februari

Pas diskusi dengan dokter Berliani, saya ditanya kondisi Ray apakah demam, batuk pilek atau tidak. Dan saya menjawab Ray dalam kondisi sehat. Tapi ternyata setelah pulang dari RSI, badannya demam tinggi sampai 39 derajat, huhu.

Anaknya masih haha hihi dan aktif, jadi saya tidak terlalu worry. Lha kok paginya dia meler :(. Fix, Ray kena flu. Demamnya mulai turun di hari kedua, tinggal pilek sama batuknya. 

Sampai tanggal 5 Februari, pihak RSI telpon dan bilang kalau Ray bisa ke RSI untuk persiapan khitan. Di telepon saya bilang kalau Ray sedang batuk pilek tapi tidak demam, apakah tidak apa-apa kalau tetap khitan. Dan pihak RSI menyarankan untuk mereschedule saja sampai Ray sehat. Saya lega mendengarnya. 

Sorenya, saya kembali ke dokter Ani untuk memeriksakan batuk pileknya Ray. Sampai sana ternyata pasien anaknya penuh. Kebanyakan dari mereka juga sakit demam, batuk dan pilek. Saat diperiksa, dokter Ani meresepkan obat untuk Ray. Tidak lupa, saya menanyakan obat apa saja. Ada intrizin sama racikan untuk batuk pilek. Sebenarnya diresepkan antibiotik juga tapi saya tidak menebusnya karena ini batuk pilek karena virus, bukan bakteri. 

Mengapa harus dikhitan?

Ketika pemulihan Ray, saya mulai ragu untuk melakukan khitan :(. Saya nangis sama suami membayangkan nanti dia diinfus semalaman, puasa 6 jam dan dikhitan pagi harinya, huhuhu.

Banyak pertanyaan di kepala saya.

Apa harus rawat inap? Apa harus dibius total? Bisa langsung pulang nggak sih? Trus searching lagi tentang tempat khitan yang bisa khitan tanpa bius total dan bisa langsung pulang tanpa harus rawat inap di area Klaten. Saya mulai khawatir dan cemas :(.

Saya post di instagram dan banyak sekali yang komentar bahkan japri tentang kegelisahan saya. Ada beberapa yang belum tahu tentang fimosis dan mereka juga nanya-nanya. Dari obrolan dan diskusi, saya merasa memiliki energi untuk mempersiapkan khitan Ray dengan baik. Masih cemas tapi tidak secemas sebelumnya.

Ada salah satu sahabat saya kuliah, Ririn Gagarin :*, yang bekerja di rumah sakit di Tarakan. Dia nanyain dokter anak disana tentang keadaan Ray. Intinya, memang untuk khitan bayi sebaiknya dibius total untuk kenyamanan bayi. Saya juga berpikir demikian, apalagi Ray sedang aktif-aktifnya. Jadi beresiki kalo pas dikhitan, dia gerak-gerak.

Baca juga: Fimosis pada Ray

Nah, berbeda dengan kedua dokter saya disini yang merekomendasikan khitan, dokternya Ririn bilang kalau fimosis itu memang banyak dialami oleh anak kecil. Jadi ga perlu dikhitan. Coba bandingkan penis anak usia 8 bulan, pasti sama, katanya. Ya memang ga bisa ditarik kulupnya karena saking kecilnya.

Teman sesama bloger juga anaknya terkena fimosis. Jadi, sejak awal MPASI sampai sekarang, anaknya tidak pernah menghabiskan porso makanannya (secara teori 125 ml, coba cek lagi :D). Bahkan dari usia 7-10 bulan, BB nya up and down terus. Pernah ke dokter bedah, memang fimosis, tapi karena pipis masih lancar dan cek urin gak ada ISK makan khitan ditunda sampe usia 1 tahunan aja, meminimalisir resiko kalo di bius total kurang baik buat bayi, katanya. Akhirnya cuma dilakukan tindakan kecil untuk membuka kulup penis yg nempel jadi lubang penis bisa terbuka trus dikasih salep tiap habis mandi biar gak nempel lagi kulupnya. Ini seminggu lagi, anaknya mau 1 tahun dan dia masih bingung jadi khitan gak ya.

Membaca pernyataan dia tentang resiko penggunaan bius total pada bayi sudah dijawab sama dokternya Ririn dengan alasan kenyamanan untuk bayi dan pastinya dokter sudah memberikan sesuai takaran.

Ririn nanyain, "Jadi khitan, say?". Insya Allah jadi. Saya nggak mau berspekulasi, toh nantinya Ray bakalan disunat juga. Banyak yang kasihan mengapa sekecil itu dikhitan, kenapa nggak nanti pas SD saja. Ya karena saya lebih kasihan kalau Ray terkena infeksi. Fyi, fimosis bisa menyebabkan ISK dan ada lho yang nggak memiliki gejala. Jadi, si anak mengidap ISK tapi dia aktif, pipis lancar dan lahap makannya, TAPI berat badannya stagnan.

Beberapa teman juga sharing kalau anaknya fimosis, tapi tidak sampai dikhitan. Ya tidak apa-apa, toh ibunya sudah berkonsultasi sama DSA nya dan menyatakan tidak mempengaruhi tumbuh kembangnya. Untuk kasus Ray ini, dia masih aktif, nggak rewel, nggak merasa sakit kalo pipis, tapi nggak mau makan :(.

Makin pias ketika dokter Ani bilang kalau fimosis bisa menyebabkan gagal tumbuh (stunting). Dan dikuatkan lagi sama dokter Berlian, kalau tumpukan sisa sekresi di ujung penis bisa menyebabkan infeksi karena memang kotor. Dan infeksi itu bisa mempengaruhi sistem pencernaan anak, akhirnya GTM. Kalau dibiarkan GTM terus menerus bisa gagal tumbuh, huhu.

Infeksi dan GTM ini sangat berkaitan erat. Berdasarkan penjelasan dokter Meta Hanindita, kalau si anak terkena infeksi, bisa menyerang sistem pencernaan sehingga anak gak mau makan. Kalau udah gak mau makan, tubuh kekurangan nutrisi untuk melawan infeksi tadi, jadi yaa siklusnya muter terus kayak gitu sampai anak bisa stunting, naudzubillah.

Bismillah saja. Ihtiar. Seminggu terakhir saya menyugesti diri sendiri dan Ray. Biar dia nggak pilek, batuk dan demam. Biar dia berani buat khitan. Saya memeluk-meluk sambil mengepuk punggungnya, mengusap rambutnya. Kemarin pagi saya menelpon Rumah Sakit Islam Klaten menanyakan kamar dan menjadwalkan operasi, dan ternyata penuh semua.

Untuk beberapa hari ke depan, mungkin pihak RS akan menelpon. Semoga lancar.
Read More »

5 Rekomendasi Tempat Wisata saat Kamu Liburan di Solo


Halloooo, weekend ini pada mau plesir kemana nih? Jawa tengah merupakan propinsi yang memiliki daya tarik wisata. Salah satu kota yang banyak mempunyai spot wisata dan budaya menarik buat kamu datangi saat weekend atau liburan adalah Kota Solo.

Sebelum memutuskan waktu untuk berlibur bersama keluarga, kerabat, hal yang harus dilakukan adalah booking tiket pesawat jauh-jauh hari agar mendapatkan harga lebih murah. Liburan bisa menjadi momen untuk menjernihkan pikiran dan memanjakan badan.  Dan Solo memiliki spot wisata alam yang menarik dan kekayaan budaya yang patut teman-teman coba.

Keistimewaan kota Solo ini bukan hanya di pusat kotanya saja namun kawasan di sekitarnya seperti Wonogiri, Boyolali, Karanganyar dan Klaten. Kota-kota tersebut seakan menggoda kita untuk didatangi dan dinikmati keindahannya. Beberapa spot wisata yang sangat instagramable yang layak untuk dijelajahi saat teman-teman ke Solo adalah sebagai berikut 

Grojogan Sewu

Jika kamu mencari destinasi alam di Kota Solo. Datanglah ke Grojogan Sewu. Letaknya di Jalan Raya Tawangmangu, Karanganyar. Grojogan Sewu merupakan tempat wisata Populer di Kota Solo. letaknya di Lereng Gunung Lawu.  Udara disini saaaangat sejuk. Berlama-lama disini cocok untuk kamu yang ingin refresehing dari penatnya pekerjaan. Disarankan untuk datang pagi hari ya. Supaya kesejukan air dan udaranya tambah terasa. Persiapkan jaket yang tebal agar tidak kedinginan :)

Taman Hutan Raya KGPPA Mangkunagoro

Taman Hutan Raya atau disingkat menjadi Tahura menjadi salah satu kebangaan wisata di Kota Solo. Untuk kamu yang ingin berwisata alam tapi tidak lepas dari pengetahuan dan edukasi, datanglah ke Taman Hutan Raya. mengingat banyak sekali hal yang bisa dipelajari pengunjung di taman ini. Seperti taman bunga, sumber mata air, berbagai spesies fauna, hingga keberadaan candi. Hawa di Tahura KGPPA Mangkunagoro juga sangat sejuk karena ada di bawah kaki Gunung Lawu. Untuk datang kesini hanya menempuh satu jam dari pusat Kota Solo, tepatnya di Dusun Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar.

Geopark Batu Seribu

Wisata ini Terletak di Jalan Raya Krisakelir KM7 Tiyaran, Sukoharjo. Salah satu objek menarik yang tidak boleh kamu lewatkan saat berkunjung ke Solo adalah Geopark Batu Seribu. Objek wisata ini mempunyai daya tarik karena adanya sumber air yang konon tidak pernah kering walau saat musim kemarau. Penamaan batu seribu diambil karena dahulu kawasan ini merupakan perbukitan batu cadas.  Selain menjadi sumber air, Geopark Batu Seribu juga mempunyai fasilitas wisata lainnya seperti Kolam renang, pemandian mata air, hingga panggung kesenian. Udara sejuk di Kawasan ini bisa membuat kamu betah.

Candi Sukuh

Jika kamu datang ke Solo, mengunjungi Candi Sukuh bisa menjadi pilihan. Lokasinya di daerah Ngargoyoso. Buat yang mabuk darat, kalian harus hati-hati. Persipkan obat anti mabuk. Karena jalan menuju ke candi sukuh menanjak dan berkelok. Bonusnya, kita bisa melihat kebun teh yang indah.

Taman Balekembang

Tepatnya di Jalan Balekembang no 1. Manahan, Banjarsari. Taman ini juga sangat cocok untuk dipakai liburan keluarga, dengan fasilitasnya yang lengkap. Disini kamu bisa bermain perahu, ataupun melihat hamparan bunga-bunga indah yang menghiasi taman. jika kamu lapar, kamu juga bisa kulineran di sekitar taman, lho. Oh iya, saya pernah mengajak Ray kemari. Dia senang sekali karena bisa naik perahu dan memberi makan rusa secara langsung.

Tertarik untuk mengunjungi Kota Solo dan ingin berwisata di sekitar kota Solo? Yuk segera Booking tiket pesawat murah  dari misteraladin.com. supaya tidak mengantri panjang dan menghabiskan waktu. Selain itu, jika kamu memesan tiket di misteraladin, harganya sangat kompetitif karena pembayaran yang aman disertai harga all-in tanpa biaya tambahan.
Read More »

Mencatat Keuangan Keluarga

Tahun 2017 dan 2018, saya memasukkan "financial freedom" ke dalam resolusi tahunan. Apakah tercapai? Bisa iya, bisa juga tidak. Lho, kok bisa? Di tahun tersebut, status saya sudah berubah menjadi istri. Untuk keuangan, saya merasa tidak mengalami gangguan. Bahkan sering ke Jakarta karena saya dan suami masih LDM.


Saya dan suami masih sering jajan dan jalan-jalan yang notabene menguras keuangan kami. Tapi karena kami senang, jadi merasa tidak apa-apa. Kebutuhan jalan-jalan dibutuhkan karena pressure kerjaan suami yang cukup tinggi. Jadi, dia pun merasa kalau jalan dan jajan menjadi refreshingnya.

Yang menjadi kekeliruan kami adalah TIDAK MENCATAT KEUANGAN KELUARGA. Jadi, uang masuk dan keluar tidak kami perhatikan dengan cermat. Saya hanya menyiapkan pos-pos yang kelihatan saja kayak keperluan bulanan, SPP kuliah saya, uang tiket PP Jakarta-Klaten. Dan tidak merencanakan "ke depan". Fyi, tahun 2017 saya juga sedang mengumpulkan mood untuk menyelesaikan tesis, biar tidak membayar SPP lagi di semester 4.


Hingga saya hamil dan melahirkan, saya belum tobat juga buat mencatat keuangan keluarga, huhu. Karena saya merasa cukup dan tidak apa-apa. Padahal, kalau saya mau lebih teliti lagi, saya bisa mencatat beberapa pengeluaran yang tidak perlu. Sehingga, bisa saya hindari dan dimasukkan ke pos menabung.

Tahun 2017 akhir, saat saya dinyatakan positif hamil, suami memilih keputusan berani: RESIGN. Beberapa teman dekat saya bilang "Kamu hamil kok malah suami resign, say?". Saya belum ngeh pertanyaan itu sampai akhirnya melahirkan dan butuh uang untuk ini itu :D. Tapi saya masih cukup untuk mengurusi itu, hingga saya mulai mencatat kebutuhan Ray yang ternyata harga barangnya mahal-mahal, ahaha.  Pokoknya, pernikahan tahun kedua kami kayak roll coaster, dan alhamdulillahnya kami menikmati sama-sama.


Pos yang membuat boros

Tahun baru kemarin seperti biasanya. TIDUR. Kami tidak terlalu suka hingar bingar kembang api, lebih suka kamar yang sepi dan memilih kruntelan bertiga dengan Ray. Tahun ini resolusinya apa? Tanya saya. Suami merenung agak lama. Tunggu pengumuman CPNS dulu, Dik, karena itu bisa mengubah rencana ke depan kita, jawabnya. 

Tahun 2019 ini, kami ingin kembali bekerja office hour. Dan alhamdulillah, saya ketrima CPNS dosen di Solo. Suami bahagianya luar biasa, karena bisa dekat dengan keluarga.


Oh iya, selain itu hal pertama yang saya lakukan saat tahun baru adalah mengevaluasi pos-pos mana saja yang membuat kami boros. Saya aja sampai kaget lho, ternyata 2018 ada pos yang nggak terasa keluar banyak banget kalau dikalkulasikan. Apa saja sih?

1. Jajan

Tahun 2018 kami sama sekali tidak jalan-jalan. Tapi, SERING JAJAN. Setelah melahirkan, saya tidak bahagia sepenuhnya karena harus melawan baby blues yang menggila. Moodnya gampang banget drop. Untuk menjaga kewarasan, saya sering jajan dan makan enak. Sekali makan bisa 100-150 ribu. Dan itu intensitasnya sering banget. 

Menyadari hal itu, saya pelan-pelan mengubahnya. Nggak jajanan! Dan voillaaa, ternyata pos jajan gak bisa ditabung, ahaha. Tapi bisa dialokasikan ke pos lain yang lebih manfaat. Apakah jajannya berhenti total? Tentu tidak. Tapi tidak seintens dulu.

2. Bensin

Karena Ray masih bayi, transportasi utama kami adalah mobil. Kemana-mana naik mobil ternyata berasa banget beli bensinnya. Nggak apple to apple kalo membandingkan dengan dengan ninja papinya. Dulu paling beli bensin 50 ribu buat seminggu. Sekarang 200 ribu sampai 300 ribu *pening*. Apalagi sering bolak balik Gempol-Kembang.

3. Parkir

Pos ini berasa banget ketika suami sering menukar 2 ribuan sama saya. Parkir mobil 3 ribu. Kalo sehari pergi ke 5 tempat, totalnya 15 ribu. Sekarang apa-apa diparkir euy :(. Mau ambil uang ke ATM aja yang cuma bentar, kena parkir juga. Pos parkir ini juga diam-diam membuat keuangan rumah tangga saya boros.

Sementara 3 pos itu yang sedang kami perbaiki, ahaha. Mengurangi jajan, memakai motor yang lebih efisien dari segi bensin dan parkir. Apalagi Ray sudah beranjak besar, jadi tidak melulu pakai mobil lagi. Tentunya pakai jaket komplit dengan sepatu biar nggak masuk angin. Saya juga mulai mencatat arus keuangan keluarga. Beneran tobat mau nabung, ahaha.

Mencatat keuangan keluarga

Memangnya penting? TENTU. Apalagi mencatatnya sampai ke yang printilan-printilan. Kita bisa tahu pemasukan dan pengeluaran paling besar itu di pos yang mana. Saya yang mencatatnya masih sederhana saja, mulai berasa banget manfaatnya karena tahu bisa ngerem di pos mana kalau kebablasan borosnya.

Awalnya saya mencatat di buku. Tapi karena saya nggak telaten dan sering pulang pergi ke rumah bapak ibu, saya jadi lupa mencatat keuangannya. Trus mencatat di notes HP, tapi lama-lama merasa ribet sendiri karena notesnya terbatas. Makanya sesrching aplikasi keuangan yang simple. Trus nemuin Akun.Biz deh :).

Mencatat Keuangan Keluarga dengan Akun.Biz

Akun.biz merupakan aplikasi keuangan sederhana yang fungsinya untuk mencatat pemasukan, pengeluaran dan utang piutang. Karena kami nggak punya utang piutang, aplikasi ini saaaangat membantu saya untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan rapi.

Untuk UMKM atau yang memiliki bisnis, aplikasi ini juga bisa dipakai lho. Contohnya saja kampung sayur organik di Mojosongo, Surakarta yang menggunakan Akun.Biz untuk mencatat keuangannya juga. Kampung ini sebagai objek penelitian dan memang memiliki potensi bisnis yang dapat dikembangkan.


Aplikasi ini free. Teman-teman bisa langsung download di google play store atau di apple playstore. Selain itu, bisa juga langsung ke webnya, www.akun.biz/apps. Sesudah itu, bisa langsung register via email.


Yang membuat saya nyaman menggunakannya karena pemakaiannya mudah dan nggak ribet. Jadi tinggal memasukkan pemasukan dan pengeluaran keluarga sesuai kategori yang sudah dibuat sebelumnya.

Alhamdulillah dengan aplikasi ini, keuangan harian dan bulanan keluarga saya jadi terpantau. Sehingga keuangan saya aman, nggak bocor kemana-mana seperti sebelumnya, ahaha. Oh iya, kalau suami pengen membaca arus uang masuk dan keluar, data keuangan yang saya buat dapat dicetak. Beliau bisa ikut meman

Fyi, akun.biz telah memenangi beberapa penghargaan lho:

1. pemenang pertama Digital Financial Technology Category, Wirausaha Muda Mandiri 2016

2. Penyelamat Puluhan Ribu UMKM, penghargaan alumni berprestasi UNS

3. Accelerated by FbStart from Facebook

Honestly, menyelamatkan pembukuan keuangan keuangan saya juga. Teman-teman mau tertib pembukuan keuangan keluarga? Catet di akun.biz deh. Selamat menabung :)



Read More »