Featured Slider

Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Mahasiswi Baru, Semangat Kuliah Lagi Meski Usia Tak Muda Lagi

Ketika saya menerima SK Kerja beberapa waktu lalu, ada pernyataan yang harus saya tandatangani di atas materai perihal kesanggupan untuk kuliah lagi. Di berbagai kesempatan, Pak Rektor juga selalu berpesan "Sekolah, sekolah, sekolah" dengan suara yang tegas dan berwibawa. Makanya, pesan itu saya patri dalam hati agar saya selalu punya motivasi untuk kuliah lagi.
Nostalgia OSPEK Maru

Bagi sebagian orang, perempuan yang menempuh sekolah tinggi adalah hal yang tabu. Buat apa? Toh akhirnya nanti ke dapur juga? Saya cerita begini karena saya dulu pernah mengalaminya ketika akan menempuh S2. Sempat galau mau menikah dulu atau kuliah lagi. 

Kalau teman-teman berada di lingkungan kondusif yang mendukung untuk sekolah, berarti itu nilai plus. Tapi bagi yang tinggal di sekitar lingkungan yang memandang kuliah tidak begitu penting, butuh effort untuk menggigit kuat cita-cita untuk menempuh pendidikan tinggi. Karena kalau nggak kuat, bisa-bisa semangatnya menguap begitu saja. Jadi, kalau ada yang bilang kuliah itu nggak penting, atau sekolah tinggi mau jadi apa, sebaiknya diabaikan saja. Kalau masih ngeyel, minta Bu Susi untuk menenggelamkan di laut saja *mulai judes*.

Terinspirasi dari Film Mahasiswi Baru


Saat ini, usia saya sudah beranjak kepala 3 (anti aging, please!), ada Ray dan suami juga menjadi salah satu pertimbangan untuk mengambil S3. Mau ambil konsentrasi apa? Pakai uang pribadi atau beasiswa? Lalu, mau kuliah dimana? Pertimbangan ini penting saya pikirkan agar nantinya kuliah dan keluarga bisa balance. Alhamdulillahnya, pertimbangan ini tidak menjadi hambatan untuk saya kuliah lagi. Karena keluarga saaangat mensuport untuk melanjutkan kuliah dimana saja. Sehingga saya bisa bebas memilih. Tapi balik lagi, saya harus tahu kalau kodrat saya adalah sebagai istri dan ibu yang haus akan ilmu. Jangan sampai ke depannya timpang salah satu, naudzubillah.

Nah, ketika browsing twitter, saya melihat ada trailer film baru berjudul mahasiswi baru. Ketika saya menontonnya, saya menahan tawa karena cuplikannya lucu dan kocak.

Film besutan Monty Tiwa ini pas banget momennya ketika para lulusan SMA berlomba-lomba mencari kampus idamannya untuk melanjutkan kuliah. Ada Artis senior yang menjadi pemeran utama di film ini, yaitu Widyawati yang berperan sebagai Oma Lastri.

Kepiawaian aktingnya nggak perlu diragukan lagi, bahkan di beberapa scene dalam trailer, Widyawati berhasil mengimbangi aktingnya Morgan yang usianya terpaut cukup jauh.

Semangat Widyawati untuk kuliah di usianya yang tidak muda membuat saya kayak disentil kalau menuntut ilmu itu tidak memandang usia. Film ini cocok banget untuk ditonton bareng keluarga karena sarat akan pesan moral yang dikemas dalam bentuk komedi. Makanya saya nggak sabar nunggu tanggal 8 Agustus 2019 buat nonton film ini di bioskop :)

Yang belum nonton trailernya, nonton dulu gih. Nih saya kasih linknya:



Gimana? Kocak kan aktingnya Widyawati :D. Ada Umay juga yang meramaikan film Mahasiswi Baru dan membuat saya yakin kalau film ini bakal menghibur. Logat-logat Oma Lastri yang spontan bilang "Yoaaaa Brai" pada geng kampusnya, membuat saya tidak bisa menahan tertawa. Asli lucu banget!

Yang kangen sama aktingnya Morgan sama Mikha Tambayong, nonton ini bisa terobati. Biasanya Mikha jadi tokoh protagonis, tapi kali ini dia berperan di film komedi yang menuntutnya untuk menghibur para penggemarnya.


Joke-joke dalam film ini menghibur dan memberikan pesan moral. Ketika Morgan memanggil Widyawati dengan sebutan "Lastriiiii", Karina Suwandi marah besar karena dianggap tidak sopan.

Ada Salamet Rahardjo jugak! Aktingnya yang matang membuat saya makin pengen nonton film ini. Ada yang mau nonton bareng film ini? Yuk tanggak 8 Agustus kita jejer nonton di bioskop :)


Ps: saya fans beratnya Widyawati. Di usianya yang tidak muda lagi, beliau bisa all out banget. Apalagi di film ini kayak ngepuk-puk saya kalau usia bukan penghalang untuk mengenyam pendidikan. Ya, i will do my best!
Read More »

[FILM KARTINI]: Sosok Kartini dan Impiannya


Tidak ada yang lebih berharga selain membebaskan pikiran

Itu sepenggal pernyataan Kartini yang diperankan secara apik oleh artis kawakan Indonesia, Dian Sastrowardoyo. Minggu, 16 April 2017, beberapa pemain Kartini seperti Dian Sastro, Ayushita, dan Denny Sumargo mengadakan meet and greet di The Park, Solo. Sayang saya terlambat datang. Jadi pas filmnya mau mulai, para artisnya sudah dadah-dadah mau pamitan. Mereka mau keluar bioskop, saya pas banget mau masuk. Yasudah kebagian dadahnya Dian Sastro aja udah seneng. Di saat yang lain ngejar-ngejar Dian Sastro untuk selfa-selfi, saya ngatur nafas karena tadi lari-lari dari parkir ke bioskop takut film sudah dimulai *intronya kepanjangan yak*

Tubuh boleh terpasung, tetapi jiwa harus tetap bebas sebebas-bebasnya

Ini lagi, pernyataan Kartini yang memiliki makna mendalam sekali *bagi saya*. Bagaimana Kartini dibesarkan di lingkungan dengan budaya yang ketat. Dimana perempuan haknya dipasung sedemikian rupa (duh, diksinya yang pas apa yak).

Untuk menjadi Raden Ayu, Kartini harus membayar mahal. Dia harus dipingit sejak mendapatkan haid pertamanya hingga ada seorang pria melamarnya. Imajinasi saya agak liar sih, membayangkan Kartini kecil hingga menjelma dewasa dipingit di sebuah kamar gelap dan dilarang kemana-mana. Sadis! Eh tapi bukankah itu konfliknya? Konflik yang membuat Kartini ingin mendobrak budaya lama yang kolot memasung hak-hak wanita.

Dalam film juga diceritakan bahwa perempuan yang masih belia sudah menikah dan memiliki anak. Bahkan sudah menyandang janda. Secara tersirat, ada scene dimana Kartini bertanya satu satu mengenai identitas perempuan-perempuan di sekitarnya dan umur mereka. Keprihatinannya terhadap realita perempuan yang ada, membuatnya tergerak untuk menuliskannya.

Belajar Sejarah...

Tentu saja saya menyukai film-film yang mengangkat biografi seseorang, terutama tentang Kartini. Saya telah menunggu lama launchingnya film ini. Sebelumnya selalu gagal menuntaskan buku yang mengisahkan tentangnya dan sekarang jadi paham tentang sejarah mengenai Kartini. Pemikiran-pemikiran kritisnya, hobbinya hingga perjalanan cintanya. Dan daya menemukan itu semua dalam film ini.

Kisah cintanya tidak banyak diulas, dalam film ini lebih menonjolkan tentang ide-ide Kartini untuk memajukan perempuan. Dengan membaca, menulis essay, korespondensi dengan teman-teman di luar negeri bahkan sekolah sampai perguruan tinggi. Argumen-argumennya saat berdiskusi juga digambarkan dalam film ini. Sehingga, banyak mener-mener dari Belanda yang mengagumi gagasan Kartini yang dituangkan dalam tulisan.

Totalitas artis dan aktornya

Dalam film itu, artis dan aktornya total banget. Biasanya kalau nonton film sejarah, ada saja yang kurang baik dari setting, aksen bicara, penokohannya. Tapi disini artis senior dan yunio memainkan perannya masing-masing dengan apik. Mulai dari Ayushita sebagai Kartinah, Acha Septriasa sebagai Rukmini. Hingga ibu kandung Kartini pun membuat saya memesona karena aktingnya. Nova Eliza dan Christine Hakim menjadi ibu kandung Kartini (Nova masa muda-Christine masa tua). Kok ya pas keduanya punya tahi lalat ya *asli ini nggak penting*. Pokoknya peran mereka berdua TOP banget, bisa membuat saya nangis bombay *rapuh*. Oh iya, ada Djenar juga yang perannya sukses bikin geregetan. Entah dalam film itu, dia termasuk baik atau jahat :(.

3 cowok tampan juga nggak kalah mencuri perhatian saya. Reza Rahardian yang menjadi Kangmasnya Kartini menjadi jalan Kartini untuk berpikiran open minded meskipun sedang dipingit. Denny Sumargo dan Dwi Sasono juga nggak kalah bikin meleleh. Ketiganya berperan sebagai cameo, namun perannya sangat penting dalam film.

Apa yang kamu miliki saat ini, tidak ada artinya jika hanya menjadi milikmu sendiri. Berbagilah! Perubahan tidak bisa dilakukan hanya sendiri.

Saya belum pernah ke Jepara, tapi dengan melihat film ini, saya bisa membayangkan bahwa Jepara memang terkenal dengan ukirannya. Budaya mengukir dan memahat sudah membudaya di Jepara sejak dulu, mungkin hingga sekarang. Oh iya, ada scene yang menampilkan tentang permainan dakon. Ada yang pernah main atau maah belum pernah sama sekali? Hehe. Intinya, selain mengangkat sejarah, film Kartini ini mencoba menceritakan tentang budaya yang ada di Jepara.

Dialog-dialog dalam film juga kental dengan bahasa dan adat Jawa. Meskipun ada beberapa aksen yang agak meleset, misal "da" dibaca "dha". Dan yang paling menyegarkan, percakapan humornya yang membuat penonton kompak tertawa. Hihihi. Jadi tidak sepaneng nonton sejarah, apalagi sampai ngantuk. Ahahah.

Original Soundtrack

Soundtrack film Kartini digarap oleh Melly Goeslaw. Gita Gutawa yang menjadi singer-nya. Awalnya saya mengira akan booming dan menjadi hits, tapi ternyata biasa saja. Di sepanjang film, nyanyiannya hampir nggak ada. Atau saya yang nggak ngeh? Ekekeke. Tapi hal itu tidak mengurangi kesukaan saya pada film Kartini. Karena, to be honest, setelah menontonnya, saya paham dan mengerti sejarah Kartini, mulai dari keluarganya, mimpinya, dan perjuangannya. Yaaah, dunia visual mengemasnya dengan sederhana.

Rate: 7,5/10
Kalian udah nonton? Yuk buruan nonton :)
Read More »

[FILM] : Dangal, tentang Mimpi yang Patut Diperjuangkan

Poster diambil dari Wikipedia
Assalamu'alaykum

Warning, yang mau nonton film ini siapkan tisu ya, karena di beberapa scene bisa jadi membuatmu sesenggukan. Bukan Aamir Khan namanya kalau aktiknya cuma biasa-biasa saja. Masih lekat film 3 Idiots yang booming karena pesan moral untuk penontonnya sangat mengena, kali ini giliran Film yang diangkat dari kisah nyata yang tidak kalah kerennya, DANGAL.

Mahavir Singh Phogat (Aamir Khan) yang piawai gulat dan memenangkan medali nasional harus menghentikan langkahnya untuk menekuni olahraga tersebut. Ayahnya berpendapat kalau dirinya tidak akan memiliki masa depan yang cerah jika terus menerus menggeluti olahraga itu. Phogat menuruti permintaan ayahnya dan mencari pekerjaan tetap.

Mimpinya tidak pernah padam, Phogat bercita-cita menjadikan anaknya menjadi atlet gulat yang dapat merebut emas di kancah internasional dan dapat mengharumkan nama India. Ia sempat putus asa karena anak yang diharapkan lahir laki-laki, ternyata keempat anaknya adalah perempuan semua.

Mendobrak Tradisi

Mimpinya mulai tumbuh subur kembali saat mengetahui kedua putrinya, Geeta Phogat dan Babita Kumari memiliki bakat gulat. Phogat melatih Geeta dan Babita teknik-teknik gulat. Banyak cemoohan dari lingkungan sekitarnya bahkan penolakan-penolakan terhadap kedua putrinya, namun Phogat tetap teguh pada impiannya.

Setiap hari, Geeta dan Babita disiplin dilatih fisik dan dilarang untuk makan-makanan yang mempengaruhi staminanya. Kalau di Indonesia dilarang makan gorengan dan yang berbau pedas 😅. Istrinya sempat ragu dengan mimpi Phogat, tetapi dia mendukug penuh keputusan suaminya, setidaknya untuk 1 tahun ke depan. 

Waktu itu, gulat hanya diikuti oleh laki-laki saja. Keberadaan Geeta dan Babita pun seperti mendobrak tradisi yang ada. Perempuan hanya dipandang sebagai penghuni dapur dan melayani suaminya. Geeta dan Babita menjadi tokoh yang mengkritisi keadaan tersebut. Bahwa keberadaan perempuan sejajar dengan laki-laki. Phogat memberikan mimpi-mimpi dan bekal untuk putrinya.

Hal lain yang disuguhkan film ini sebagai bentuk dobrakan suatu tradisi adalah saat Geeta dan Babita memotong pendek rambutnya. Semula rambutnya panjang dan dikepang dua. Phogat memotong pendek rambut keduanya ala ala polisi.

Saat beranjak dewasa dan sukses menapaki karir masing-masing, ada sedikit perubahan karakter diantara keduanya. Nah disitulah konflik antara anak dan ayah yang membuat saya trenyuh sekali. 

Eeeng, ga nyesel nonton deh!





Read More »

[FILM] Dear Zindagi, Belajar Berdamai dengan Masa Lalu

Poster diambil dari Indicine[.]com

"Kalau kamu sudah mengetahui dirimu sendiri, kamu tidak memerlukan penilaian dari orang lain"

Kalimat itu sepenggal nasihat dari Dr. Jehangir Khan (Shah Rukh Khan) kepada Kaira (Alia Bhatt). 40 menit pertama nonton terasa membosankan dan belum ngeh inti sari dari film ini.Tetapi setelah peran Jug, panggilan Dr Jehangir Khan, film ini terasa hidup dan mulai mengerti alur ceritanya. 

Film yang berdurasi kurang lebih 2,5 jam ini membuat saya merenung dan belajar banyak hal. Pesan moral yang ingin disampaikan sangat mengena, baik untuk anak, orang tua maupun orang-orang yang ingin berdamai dengan diri sendiri.

Kaira, seorang gadis yang memiliki profesi sinematografi memiliki sifat yang sangat perfeksionis. Ia digambarkan sebagai sosok yang mandiri dan tidak membutuhkan orang lain. Padahal jiwanya sangat rapuh dan membutuhkan perhatian. Ternyata ia menyimpan kekecewaan yang mendalam saat masa kecilnya, sehingga ia membangun benteng agar tidak tersakiti oleh orang lain. Sehingga dia memilih jalannya sendiri, termasuk menjadi sinematografi.

Dia memutuskan hubungan dengan Sid pacarnya karena lebih memilih Raghuvendra yang menjadi partner kerjanya. Dengan Raghu, Kaira tidak berterus terang kalau dia mencintainya karena merasa takut untuk tersakiti. 
Kaira malu-malu tapi mau. Diajak komitmen gak mau, tapi  mewek juga pas Rhagu tunangan sama cewek lain.. Ah wanita!

Pokoknya intro film ini membosankan sebelum Jug muncul. Bukan berarti akting Kaira jelek, tetapi saya belum bisa nangkep maksud cerita film. Awalnya teman saya bilang kalau dia nonton film ini gak sampai selesai karena membosankan. Tapi saya bertahan sampai akhir. 

Jug muncul sebagai terapis Kaira yang sedang patah hati karena ditinggal Raghu bertunangan di New York. Ceritanya Kaira sok jual mahal sama Raghu tapi pas ditinggal tunangan sama orang lain malah kelabakan gak karuan. 

Kaira galau mau meneruskan kerjasama dengan Raghu dalam pembuatan film yang merupakan impian terbesarnya atau tidak. Kalau "iya", berarti dia harus siap 1 lokasi dengan Raghu yang notabene mantan pacar yang meninggalkannya. Tetapi kalau "resign", berarti dia membuang kesempatan untuk menggarap film di New York.
Gagal fokus sama buku yang ada di belakan Jug
"Terkadang kita memilih jalan yang sulit hanya karena merasa meraih hal-hal yang penting. Dan kita harus mengambil jalan yang sulit itu. Terkadang kita merasa menghukum diri kita. Trus kenapa? Kenapa kita tidak memilih jalan yang mudah?Apa salahnya? Apalagi kita belum siap menempuh jalan yang sulit?
Sesi Pertama Terapis
Pokoknya jangan bosan dulu! Karena sesi-sesi terapis seperti ini kayak berasa penonton juga sedang ngobrol sama Jug. Iya, untuk beberapa hal, kita bisa jadi mengalami apa yang sedang dialami Kaira. Memilih sesuatu yang jalannya sulit tanpa persiapan apapun.

Analogi-analogi yang disampaikan Jug membuat Kaira memahami bahwa hidup itu sesederhana pemikiran kita. Selama ini, Kaira banyak berasumsi tentang hal-hal dari sudut pandang negatif. Seperti halnya ia enggan mengangkat telpon ibunya karena dia tahu apa yang akan ditanyakan ibunya. Atau ia malas pulang ke rumah karena tidak menemukan kebahagiaan yang ia "inginkan".

Di sesi pertemuan kedua dengan Jug, Kaira memiliki PR untuk menelpon Ayah Ibunya minimal 10 menit. Ia sudah mencoba menelpon dan ternyata percakapan dengan orang tuanya hanya bertahan 4menit saja. Adakah yang demikian juga dengan orang tuanya? Ini yang saya tuliskan tadi kalau kadang-kadang, sosok Kaira itu bisa menjelma kita dalam kehidupan sehari-hari.

Terapi sesi ketiganya di pantai
Sesi ketiga, Jug menanyakan memori Kaira saat masa kanak-kanak. Kaira menjawab hampir tidak memiliki momen manis saat masih kecil. Tetapi ada satu hal yang membuatnya bahagia yaitu saat mendongeng untuk adiknya yang bernama Kiddo.

Ternyata Kaira menyimpan luka yang mendalam kepada kedua orangtuanya. Saat masih kecil, Kaira dititipkan kepada kakek neneknya. Ia merasa dibuang karena ayah ibunya lebih memilih ekspansi bisnis ke luar negeri daripada mengurusnya. Masa lalu itulah yang membuatnya sedikit introvert untuk bisa dekat dengan pria.

Klimaks cerita adalah saat Kaira dibandingkan dengan Kiddo. Orang tuanya menyepelekan pekerjaannya
Rangkaian konflik-konfliknya apik banget disampaikan. Kaira sebagai tokoh utamanya tidak timpang banget aktingnya dengan Jug yang diperankan oleh aktor sekaliber Shah Rukh Khan.

Ada masalah dan solusi yang ditawarkan hingga tuntas dan tidak menggantung. Konflik klimaks yang terjadi antara Kaira dan orangtuanya bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk penonton. Mau tahu bagaimana Kaira bisa memaafkan orang tuanya dan berdamai dengan masa lalunya? Tonton filmnya, dijamin gak nyesel. Ada rekomendasi film India gak? Kalo ipar saya lagi gandrung-gandrungnya sama sinetron India yang di Anteve 😏

Happy Sunday everyone! Ah iya, Dear Zindagi itu artinya Hai Kehidupan. Mari kita sapa senin dengan ceria agar hidup lebih bahagia bisa move on dari weekend.

💗💗💗💗💗
Read More »

[Review Film] Surga yang Tak Dirindukan



Desember lalu, sebenarnya saya menunggu-nunggu sekuel keduanya, tapi pihak MD memutuskan untuk mengundur jadwal launching film tersebut. Ah, sebelum nonton yang kedua, saya mau cerita dulu film yang pertama, yang membuat saya magep-magep, ahaha.

Isu poligami memang sangat menarik. Dalam Surga yang Tak Dirindukan, Arini (Laudya Cintya Bella) sebagai istri yang sangat mencintai keluarganya harus menelan pil pahit mengetahui suaminya Pras (Fedy Nuril) menikah lagi dengan Mei Rose (Raline Shah). Arini juga baru mengetahui bahwa ibunya juga dimadu setelah Bapaknya meninggal dunia. 

Kemarahan demi kemarahan membuatnya berniat untuk bercerai dengan suaminya. Namun, ibunya yang digambarkan sebagai sosok protagonis memberikan wejangan kepada Arini bahwa dirinya harus ikhlas (klise banget yak nasihatnya).

Fedy Nuril (yang baru punya anak in the weal world,ahaha) mampu membawakan peran Pras dengan apik. Meski ada beberapa scene yang terkesan dipaksakan. Ketemu Mei Rose di jalan, membawanya ke rumah sakit, trus si Mei berusaha bunuh diri, si Pras deh yang nolongin. Tetapi, karena lagi-lagi jiwa melankolis saya mendominasi, scene-scene yang gak masuk akal bisa tertutupi 😀.

Disamping itu, ada percakapan Arini dengan Bapaknya yang membuat saya meleleh.

"Kamu yakin dia bisa menjadi imam yang baik buat kamu?" tanya Bapaknya

"Siapa sih yang bisa menjamin orang itu baik atau gak, Pak? Kalo bukan kita yang mempercayainya" jawab Arini dengan tersenyum kepada Bapaknya.

Ada juga dialog-dialog Arini yang semakin membuat saya melankolis,

"Surga yang Mas Amran gambarkan begitu indah. Tapi maaf, bukan surga itu yang aku rindukan"

Pernyataan Arini itu mewakili perasaan ibuk-ibuk lho. Surga yang dijanjikan saat ia ikhlas dipoligami bukan surga yang didambakannya. Jadi jangan melemparkan pertanyaan retoris kepada wanita yes kalo gak mau disambit. "Eh, kamu setuju gak sama poligami?", karena jawaban dan penjelasannya panjaaaaaaaaang.

Original Soundtrack

Krisdayanti didapuk sebagai pengisi suara dalam Surga yang tidak dirindukan 1. Syairnya pas banget sama filmnya. Aaaah, entah bagaimana saya kok bisa magep-magep nonton film ini. Soundtrack-nya pun sempat menjadi teman begadang ngerjain makalah. Easy listening kok!

Ending

"Kamu sudah berhasil menghancurkan dongeng saya, hanya untuk menghidupkan dongeng kamu", Arini begitu terpukul menghadapi kenyataan bahwa dirinya telah dimadu. Endingnya sih, Mei Rose mundur teratur dari kehidupan Pras dan Arini. Mei Rose juga menitipkan anaknya kepada Arini. 

Eh jangan sedih, kepergian Mei Rose itu belum jadi akhir segala cerita, ahaha. Film serial keduanya lebih seru karena Reza Rahardian ikut nimbrung. Waaaaaah, cannot wait to watch it! 
Read More »

[Review Film] Train to Busan


Film ini hampir saja luput dari wishlist saya karena film ini masuk genre horror. Memang agak horror sih, tapi bukan kayak hantu atau roh yang gentayangan melainkan zombie yang diakibatkan karena sebuah virus.

Kamu tidak akan mengerti pengorbanan seorang ayah karena ia pandai sekali menyembunyikan sesuatu kepada anaknya; cintanya dan kepeduliannya yang begitu besar.

Ps: Saya gak begitu hafal semua nama-nama dalam filmnya—hanya Soo An, tetapi tidak mengurangi kecintaan saya terhadap film ini.

Seorang gadis kecil merengek ingin bertemu ibunya saat ulang tahunnya. Dia tinggal bersama nenek dan ayahnya karena kedua orangtuanya telah bercerai. Dalam benaknya, ia menyalahkan ayahnya yang menyebabkan ibunya pergi karena kesibukannya. Ayahnya sering berjanji akan mengantarkan Soo An ke Busan menemui ibunya, tetapi karena kesibukannya di kantor, ia sering mengingkarinya.

Hingga pada akhirnya, ayahnya mengantarkan Soo An bertemu ibunya ke Busan menggunakan kereta. Di televisi disiarkan ada keributan, sekelompok orang saling membunuh karena terserang virus zombie. Sebelum kereta api berangkat menuju Busan, ternyata ada wanita yang terinfeksi zombie dan berhasil masuk ke gerbong.

Kereta inilah yang menjadi inti cerita dalam film ini. Sifat dan karakter tiap tokohnya sangat tegas diperankan. Soo An yang sangat pengasih dan penolong digambarkan dengan hal-hal kecil; memberikan tempat duduknya kepada seorang nenek. Ayahnya sedikit geram melihat kepedulian putrinya yang menolong orang lain padahal dirinya sendiri sedang membutuhkan.

Ada juga penokohan seorang suami yang sangat perhatian terhadap istrinya yang sedang hamil. Hingga seorang pria paruh baya yang sangat egois dan bossy. Saya juga tertarik dengan penokohan segerombolan anak-anak SMA yang mencerminkan kesetiakawanan mereka saat menghadapi zombie. Kesetiawakanan dihadapkan saat beberapa dari remaja tersebut berubah menjadi zombie dan penumpang di gerbong kereta. Antara tega dan gak tega, ia harus menghabisi zombie jelmaan temannya itu agar tidak menularkan virusnya ke penumpang lain.

Bawa Anak Boleh?
Film ini didominasi dengan action melawan zombie. Meskipun tidak ada adegan sexual yang belum pantas dilihat oleh ana-anak, tetapi adegan kekerasan sepertinya membuat anak tidak nyaman. 

Ratting
7 of 10 stars

Yang hobby banget sama action, film ini bisa menjadi rekomendasi menarik untuk ditonton di akhir pekan. Yang gak demen horror, jangan khawatir, film ini horror antimainstrem. Bukan hantu, pocong atau roh yang bikin kaget. Tetapi zombie yang disebabkan oleh virus.

Oh iya, saya sempat bertanya-tanya juga kok tiba-tiba ada virus zombie. Asal virusnya darimana, penularannya seperti apa dan obatnya apa. Tidak ada penjelasannya dalam film. Hanya disinggung kalau virus zombie timbul karena kegagalan project yang dijalankan oleh perusahaan ayah Soo An. 

Akhirnya penumpang yang selamat dan sampai tujuan hanya 2 orang, salah satunya Soo An. Entah Soo An akan bertemu dengan ibunya atau tidak, dalam film ini juga tidak dijelaskan. 

Read More »

Sekelumit Cerita Film Ada Apa Dengan Cinta 2

Di bioskop sedang rame-ramenya pengunjung untuk nonton film yang telah lama ditunggu release-nya. Kemarin saya sengaja ikut mengantre tiket AADC 2 di Plaza Ambarukmo Jogja. Ada beberapa studio tetapi film yang ditayangkan hanya AADC 2 dan Civil War. Fokus ke cerita ke AADC 2, sebenarnya dari saat pertama kali launching, saya ngebet banget pengen nonton. Karena waktu dan lokasi yang cukup jauh, saya menunggu waktu yang pas dan alhamdulillah memang benar-benar pas :D. 
Saya ditemani seorang teman baik yang sebenarnya dia tidak terlalu suka dengan film Indonesia tetapi demi saya, dia rela juga ikut antri tiket dan masuk ke studio. Pas filmnya mulai, dia terang-terangan bilang "Nanti kalo aku ketiduran, tolong bangunin ya" saya mengangguk sambil tertawa.

Sebelumnya saya sudah membaca spoiler yang berseliweran di FB tentang film yang dibintangi Rangga dan  Cinta ini. Makanya, saat masuk di studio, saya tidak memiliki ekspektasi banyak dan tidak akan membandingkan secara frontal dengan AADC 1. Saya hanya ingin menikmati tanpa nuntut ini-itu, ahaha. 

Nostalgia Rangga & Cinta

Berawal dari iklan Line yang super kreatif, Rangga dan Cinta jadi reuni lagi kan. Entah kalau gak ada iklan Line, apakah film AADC2 akan tayang dan bisa tembus lebih dari 3 juta penonton seperti sekarang ini? Ah, pokoknya saya seperti nostalgia Rangga yang demen bikin puisi dan si Cinta yang fasih banget mengeja huruf J (kamu sakit Jiwaaa trus sama "yang kamu lakukan sama saya itu jahaaat"). Apa ada scene lain yang membuat kalian nostalgia sama Rangga-Cinta? ehehehe.

Akting mereka yang totalitas banget. Yaaah, meskipun di film ini, Rangga sedikit agak agresif ngejar Cinta (ternyata saya benar2 gak bisa lepas membandingkan ya. Maafkan!). Padahal menurut saya, Rangga diem aja udah bikin cewek-cewek termasuk Cinta dan saya klepek-klepek,ahaha. Dari geng Cinta, yang paling awet muda memang si Cinta. Udah punya 2 anak tetap saja wajahnya masih kayak SMA.

Puisi-puisi Rangga juga tetap bikin baper kok. Apalagi setiap puisi-puisinya dibacain sama Rangga dengan suara yang agak berat. Cinta aja baper berhari-hari apalagi saya dan kamu? Soundtrack AADC 1 memang masih mendominasi meskipun ada sedikit arransemen sama Melly Goeslaw dan suaminya.

Konflik

Hmmm, untuk konfliknya memang agak kurang menggigit sih. Di awal kayak ritme konfliknya lambat banget sampai teman di samping saya menguap beberapa kali. Tetapi pas pertengahan film sudah mulai masuk tuh ke konflik yang lebih variatif sehingga saya penasaran sama scene selanjutnya apa. Mulai baper waktu Rangga ketemu Cinta dan seharian diajak ngubek-ubek Jogja. Hayo ngaku, siapa yang habis nonton film ini trus ngebet banget pengen ke Jogja menyusuri tempat syuting AADC? *saya ngacung pengen ke Punthuk Setumbu.

Alur

Alurnya menggunakan alur maju. Awalnya agak monoton, tetapi pas pertengahan sampai akhir, asli bikin saya baper dan sempat mewek pas scene Rangga ketemu sama ibunya. Untuk perpindahan setting antara Indonesia dan New York agak kurang lembut jadi saya sempat agak roaming tentang alurnya. Sesekali menggunakan alur mundur saat scene Cinta mengingat Rangga di masa lalu *beneran gak bisa move on kan, Ta?

Setting

Nah Loh, udah dibilang gara-gara AADC ini, saya ngebet banget pengen ke Punthuk Setumbu. Bahkan ada juga yang menjadikan ladang bisnis dengan membuka tour ke tempat-tempat syuting AADC. Saya fokus di Jogja aja ya, kalo New York kejauhan soalnya :p. Lekuk-lekuk Jogja ditampilkan dengan apik sehingga adegan Karmen sama Mili ngejar-ngejar Rangga di gang-gang sempit Jogja yang menurut saya agak mustahil jadi termaafkan,ahaha. Lha iya, secara Jogja jalannya super crowded dan sempit, etapi Karmen lihai banget mengemudikan mobilnya tanpa hambatan mengejar Rangga. Mungkin memang itu jalannya si Rangga buat ketemu jodohnya kali ya,ahaha *maksa banget.

Nah, setting yang di Jogja ada beberapa tempat : Pantai Parangtritis, Ratu Boko, Alun-Alun Selatan, Gereja Ayam Magelang, Punthuk Setumbu, Sate Klathak.

Sate Klathak yang udah terkenal sebelumnya gara-gara Mas Rangga sama Mbak Cinta, jadi makin populer. Dahsyat banget emang efek AADC. Makan sate Klathak 20rb berasa syuting AADC, aahaha.

Jawab jujur, setelah nonton AADC, kalian jadi pengen ke Jogja gak? please jujur!

Puisi & Soundtrack

Siapa bilang puisi AADC 2 gak se-booming dari yang sebelumnya? Itu Aan Mansyur bener-bener deh bikin meleleh. Apalagi puisinya dibacain sama Rangga dengan suara yang khas itu. Trus ditujukan buat si Cinta. Jodoh banget deh! "Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh", kayaknya udah pada apal banget puisi itu di luar kepala. Kalo di AADC 2 juga gak kalah nampolnya guys. Simak deh!

Resah di dadamu
dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini
dipisah kata-kata
begitu pula rindu
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi

Kembali ke selera masing-masing sih ya. Tetapi menurut saya, puisi-puisi di AADC2 juga ngehits. Tentang soundtrack harus saya akui tidak bisa move on dari AADC 1, makanya kebanyakan lagu diaransemen dari filmnya terdahulu. Saya apal banget itu satu kaset lagu di film yang pertama *gak ada yang nanya.

Penokohan

Cinta dengan gaya khasnya, sok jutek sama Rangga tapi sekaligus dengan sikap misterius Rangga. Di film ini, Rangga agak agresif. Mungkin karena digerus sama waktu 9 tahun gak ketemu sama Cinta. Karmen dengan tomboy dan sifat temperamennya. Dan Milly yang menjadi penyegar di setiap scene dengan banyolannya yang memang lucu. Lucunya natural dan tidak dibuat-buat.

Kalau saya jadi Cinta

Ini hanya pengandaian lho ya, karena memang AADC cuma ada di film. Karena apa? Karena sulit sekali diaplikasikan di dunia nyata. Tapi sekali lagi, pengandaian kan sah-sah saja. Kalau saya jadi Cinta apakah akan tetap memilih Rangga? Honestly, saya jawab iya. Satu karena Rangga juga masih single. Kedua karena udah dapet cemistry. Ketiga memiliki passion yang sama. Di film sangat kelihatan kalau Cinta itu pemaaf sekali kepada Rangga karena Rangga bisa membuatnya tidak bisa menolak. Istilahnya Rangga tahu sekali apa yang dimau oleh Cinta. Berbeda halnya dengan Tristan. Meskipun tajir sejak lahir, tapi karakter keduanya sangat berbeda. Jadi Tristan memang hanya sekadar figuran saja. Berbeda kalau porsi Tristan lebih dieksplore lagi dalam film tersebut. Mungkin saya akan memilihnya (*siapa gue? Aelah, ini cuma misal lho ya). Tapi kali ini Yes, i stand on the Rangga's side.

Pay Attention!

Please jangan bawa anak-anak di bawah umur untuk nonton film ini. Miris kalau ada yang nonton bawa anak-anak dan petugasnya mempersilakan saja. Ada adegan yang bikin saya baper dan tentunya gak layak ditonton untuk anak-anak di bawah umur. Ah iya, saya nonton film ini sudah seminggu yang lalu, dan ini postingan very latepost banget, tapi bapernya masih berasa sampai sekarang.

A photo posted by ayaa (@cahayatheprinces) on

Read More »