Featured Slider

Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan

Penerimaan yang Baik

Menceritakan ini, seperti menilik lini masa yang saling bertautan. Tentang proses pemaknaan tentang penerimaan yang baik. Mengeja arti usaha yang sesungguhnya, dengan menerima hasil yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan (saya).

You are brave, Dear! :)

Waktu kecil, saya tidak diajari bagaimana ketika menghadapi kegagalan. Sistem perangkingan membuat saya ambisius untuk mengisi 3 besar di raport. Ketika saya gagal mendapatkannya, rasa bersalah itu menjelma menjadi badai yang sulit saya deskripsikan rasanya. 

Saya disuruh belajar, tapi tidak ditemani bagaimana cara belajar dan bagaimana harus mencintai pelajaran itu sendiri. Saya tidak boleh bermain keluar rumah lama-lama, tetapi saya tidak diajari saya harus melakukan apa di rumah. Dulu perasaan ini saya abaikan, tetapi ternyata saya mengingatnya jelas sekarang ini. Sehingga ketika memiliki anak, ternyata memang se-effort itu. Memikirkan A to Z.

Tentang Ujian

2 bulan terakhir saya ikut beberapa ujian. Ujian studi lanjut dan beberapa ujian ikut beasiswa. Perasaan saya weird ketika tidak lulus beasiswa tapi sekaligus lega, karena saya tahu sudah mempersiapkan semuanya dengan all out. Saya melupakan dan mencari beasiswa lainnya. Perasaannya campur aduk, tapi saya menerimanya.

Tadi pagi, setelah mengantar anak-anak sekolah, ujian sekaligus hadiah itu datang sebagai surprise pembuka usia baru saya. Tangan saya gemetar, kaki saya tremor, air mata saya bercucuran. Saya menunaikan dhuha agar hati saya lebih lega. Meletakkan dunia dan seisinya yang pada hakikatnya bukan milik saya. Wajah Bapak berkelebat berulang kali seperti hari-hari terakhir memeluk hangat saya. Memori dengan beliau, menjadi penyemangat saya menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang berkali-kali membuat saya ingin menyerah tapi tetap saya lakukan semampu dan sebaik yang saya bisa.

Pada akhirnya, saya memaafkan dan Belajar pelan-pelan mengeja tentang penerimaan yang baik dari hal yang begitu menghancurkan rasa percaya diri saya sedemikian rupa. Saya patuh, saya taat ya Allah. Semoga Engkau ridho.

Kamu berani, kamu hebat sekali, kamu sudah mencoba yang terbaik yang kamu bisa dari segala peran yang kamu punya. Menjadi Ibu, istri, anak, adik dan peran lainnya. Pelan-pelan ya, sayangku, kamu tidak sedang berlomba dengan siapapun, peluk diri sendiri, dan berjalan lagi. Ujian kali ini bisa kamu menangkan...Allah knows who you are, khusnudzon ya!*mantra yang saya ucapkan untuk menutup malam ini.

Malam ini, kami tidur berpelukan. Erat. Satu sama lain. 


Read More »

Puisi untuk diri sendiri


Rasanya, tidak ada yang bisa menengok masa depan. Meramal apa dan dengan siapa akan melepas tawa.  Tapi setidaknya, saat ini kamu bisa menilik kembali, bahwa yang lalu menjadikanmu lebih tabah berdiri kini.

Untukmu yang tetap tangguh, terimakasih. Kamu mampu belajar dalam sunyi. Merengkuh damai dalam ramai. Sebenci apapun kamu menerimanya, kamu tetap melaluinya dengan sepenuh hati. Iya, kamu yang berdiri tegak di cermin, terimakasih sekali lagi.

***

Sudah berterima kasih pada diri sendiri hari ini? Hebat ya yang mampu beradaptasi di tengah pandemi. Kalo mau ngeluh boleh , banget. Nangis juga ga apa-apa biar lega. Saya sudah tak terhingga melakukannya, ahaha. 

Abaikan orang-orang yang menyuruhmu berhenti mengeluh. Menghambat air matamu untuk menetes. Karena yang tahu pasti tentang hatimu adalah dirimu. 

Peluk! :) 
Read More »

Morning Booster


Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru....

Uwuw sekali puisinya sampai membekas di benakku kalau kunci memenangkan hari adalah menemukan morning booster dulu :D. Buat ibu-ibu pasti merasakan banget deh kalau "semangat pagi"adalah sebuah kemewahan. Shubuh sudah masak, mandiin anak, nyiapin makan, atau nyiapin mereka sekolah. Setelah semua beres baru bisa napas, ahahah.

Kenapa harus buru-buru? Pertanyaanku. 

Dulu, saat di Jakarta, waktu terasa cepat sekali. Berangkat pagi sekali, pulang pun menjelang magrib. Dan itu tidak apa-apa. Tapi menghadapi situasi begitu, akhirnya aku ada di satu titik yang "masa iya hidup habis di jalan?". So, next i decided to move. 

Pindah ke Klaten hidupku rasanya woles banget. Menikmati pagi tidak rusuh dengan kejar-kejaran kereta, memikirkan deadline jawaban email buat klien, atau khawatir banjir saat musim hujan. Dulu pernah dengan situasi itu. Jatuh cinta banget pokoknya sama Jakarta padahal tiap pagi selalu rungsing. Meskipun begitu, suami selalu menyimak tiap saya punya keinginan buat kembali kesana. Tidak pernah menghakimi sedikitpun. Itu dulu. Saat ini aku baik-baik saja. Meletakkan Jakarta di memori sebagai tempat berkunjung, bukan berdiam dengan keluarga.

Baca juga: Kangen Jakarta

Seperti pagi ini, saya menemukan morning booster untuk mengawali pagi. Setelah semalam menemani Ray begadang lagi dan lagi. Ritme tidurnya yang berubah dengan energi yang menerutku seperti nggak habis-habis, menuntutku untuk mengubah jadwal dari biasanya. 

Booster pagiku hari ini ngapain? Ngobrol sama suami, membuatkannya teh, menyusui Ray dan kali ini berhasil menyinkronkan semua data akun dengan pasword yang sama *prestasi!, ahaha. Asli, aku senang sekali. 


Read More »

Untukmu, Hatiku.

Dia yang Maha Membolak-balikkan hati. Terima kasih bisa duduk sambil mengetikkan keypad dengan rasa yang saaaaangat ringan.

Padahal, masih ingat lekat, Minggu lalu aku tergugu. Hatiku berontak tak menentu melawan logikaku.

Untukmu, hatiku. Yang seringkali bringas menguras air mata, karena tidak sejalan dengan pikiranku. Tapi, setelah flashback, aku merasa saaaaangat beruntung. Betapa Allah begitu apik menyusun skenario, hingga seringkali aku takjub sendiri dan bergumam "Oooh, aku beruntung dulu gagal". Padahal dulu merutuk diri sendiri, merasa sial.

Tahun lalu, di hari ini, aku mendapat hadiah. Yudisium. Iya, tanggal yudisium di ijazah adalah hari ulang tahunku. Mungkin juga, benih Ray sudah ada di rahimku (yang belum kusadari kehadirannya).

Tentang Ambisi

Aku menertawakan diri sendiri setelah puas menangis tersedu. Banyak keinginan yang aku sebut dengan ambisi. Yang hampir saja menghabisi rasa syukurku dan menggerogoti bahagiaku.

Trus apa yang kamu cari sebenarnya?

Pertanyaan Adni yang menghujamku berkali-kali. Aku berpikir kembali tentang keinginanku tadi. Yang membuat aku senewen, menangis sendiri. Hingga aku sadar ada yang salah dan harus mengubahnya. Aku tenggelam dalam rutinitas yang kuanggap sepele, padahal banyak perempuan yang menginginkannya. Menjadi IBU.

Aku sempat merasa, kok aku cuma gini-gini aja...

Semula aku membiarkan perasaan itu. Perasaan yang menganggap bahwa apa yang kulakukan tidak ada gunanya dan cuma gitu-gitu aja. Itu kemarin. Sekarang aku lebih merasa lega. Aku tidak menuntut lebih lagi. Karena, SEMUA ADA MASANYA.

Lelaki itu mungkin terlalu sabar menghadapiku. Seakan dia tahu harus ngapain saat aku menangis, marah, merajuk dan ingin sendiri. Dia tidak memaksa bicara ketika aku ingin jeda dan selalu memberikan ruang sebebasnya. Dia bicara pada Ray siang tadi saat aku sibuk mengerjakan paper di depan layar laptopku.

"Nak, cium Ibu. Kasih selamat dan semangat buat Ibu yang lagi ulang tahun", Dia menggendong Ray dan menyorongkan tubuhnya sambil mengucap doa yang kuaminkan. Aku yang berjibaku di depan laptop. Dia paling tahu bagaimana memompa semangatku saat merasa kelelahan. 

Kamu dan Ray adalah hadiah, jadi aku nggak minta apa-apa lagi, bahkan tidak merasa keberatan kalau kamu tidak mengucapkan selamat ulang tahun, kataku pada lelaki yang menyunggingkan senyumnya sambil mengayun Ray di pelukannya.

Untukmu, hatiku, terima kasih. Karena tidak merasa terbebani dengan ambisi lagi. Lebih ringan dan tenang. Seperti sekarang saat menyusui Ray yang lelap di pelukan. Aku tidak akan gagap lagi saat ditanya "Apa yang kamu cari?" Karena sepertinya, hatiku mengiyakan pikiranku untuk berkata cukup. Ada masanya.

Aku menghela napas panjang, dan rasanya begitu menenangkan...

Terima kasih ya Allah. Titip hatiku agar selalu percaya pada-Mu. Jika, aku tidak mampu menjaganya, biarkan sabar dan ikhlas tetap bersahabat dengannya. Karena yang kutakutkan bukanlah menghadapi orang lain, melainkan menghadapi hatiku sendiri. Semoga aku selalu menang, berdamai dengannya. Dengan hati yang selama ini gagah meski sering kalah. Jika, hatiku merasa aku telah gagal, tak mengapa aku remidi lagi dan lagi.

Dariku, perempuan yang baru saja menjadi Ibu.

Selepas Isya', saat Ray merasa kenyang dan lelap dalam pelukan.
Read More »

Friendship Goals

2 tahun rasanya cepat sekali berlalu, tapi ingatan tentang kebersamaan sangat membekas. Bagaimana kita sama-sama saling mengisi, memahami, mengingatkan dan "menawarkan" saat salah satu diantara kita butuh bantuan. Aku pun tidak tahu, sejak kapan hubungan ini mulai rekat-melekat, tapi bagiku, kalian bertiga adalah rumah kedua untuk "saling" berbagi suka dan duka. 

Pertama.

Aku ingat betul, tahun 2015, saat aku galau setengah mati. Dimana aku nekat resign untuk menggenapkan impianku sekolah lagi dengan biaya sendiri, karena bertubi-tubi beasiswaku ditolak lagi dan lagi. Hal itu membuat rasa percaya diriku turun beberapa detajat, hingga takut untuk sekadar memulai. Termasuk resign yang kurasa merupakan jalan keluar, karena menginginkan hal baru dan tidak tenggelam dalam rutinitas yang sama.

Antara UI depok dan UNS Solo. Allah Maha Baik, meng-ACC pilihan kedua dengan konsekuensi membayar SPP sendiri. Dan ternyata, pilihan yang semula kupikir "hanya pilihan kedua", adalah cara-Nya agar aku bisa lebih intens menjaga Bapak yang waktu itu terkena TB Paru dan butuh perawatan rutin. Selain itu, aku bisa bertemu KALIAN, yang awalnya hanya sebatas teman, menjelma menjadi sahabat, hingga aku tidak sungkan menyebutnya menjadi keluarga.

2 pertemuan di hari pertama kuliah, aku tidak bisa masuk karena Bapak dirawat di Rumah Sakit. Aku bertanya-tanya, materi apa yang diajarkan, ada tugas atau tidak, bagaimana jadwal kuliah Minggu depan. Akhirnya aku bertanya melalui whatsapp, dan mungkin hal yang disesali WANDA, adalah tidak membalas whatsapp-ku padahal dia sedang online, ahaha. Aku ingat sekali, dan dia senyum-senyum saat aku berkelakar tentang hal itu.

"Udah ah, Mbak. Jangan dibahas lagi, to. Mbak Aya inget terus sih hal-hal yang begituan"

Pertama kali bertemu mereka bertiga, aku merasa asing. Karena mereka kayak se-geng, ngobrolnya asyik dan aku masih sungkan untuk membaur. Hingga akhirnya ada lelaki sedikit berisi yang memanggil "Dik", dan akhirnya aku tahu kalau usianya 4 tahun di bawahku, ahaha. Agung! Aku berasa muda sekaliiiiiii.

Di pertemuan berapa, kita sama-sama klop? Ngobrol kemana saja nyambung? Dan membahas hal-hal yang tabu bisa membuat kita beradu argumen tanpa saling membenci meski bertentangan dalam diskusi. Dan, yang membat kita betah semalaman adalah membahas tentang DRAMA KOREA yang berhasil membuat hari-hariku baper nggak jelas.

Tentang Wanda

Aku menuliskannya yang pertama karena buanyak hal tentang dia yang “amazing”. Kalau boleh jujur, dari mereka bertiga, Wanda banyak memenangkan predikat “ter”. Terpanik, terngaret, terpolos dan dari sifat-sifatnya itu, ada 2 hal yang membuatku sayangnya minta ampun sekaligus gemas, yaitu: terbaik dan terkhusnudzon.

Dia mudah sekali panik untuk hal-hal yang menurutku sederhana, sampai-sampai pengin bilang “Be calm, please!” Saat panik itu, dia bisa menjelma menjadi gadis yang sangat keras kepala yang punya segudang alasan A sampai Z. Makanya, pas aku bilang sama pustakawan perpustakaan kalau Wanda adalah sahabat kemana-mana, mereka kaget. Karena mereka melabeli Wanda sebagai orang “terngeyel”, ahaha. Tenang, tentang ini aku udah pernah kok ngobrolin sama dia.

Kalau dihitung-hitung janjian, nominasi terngaret jatuh sama dia, ekekek. Aku sama Mbak Fine suka senyum-senyum memperkirakan alasan dia datang terlambat karena apa, ahaha. Jadi, kalau mau janjian sama dia, mending dimajuin 2 jam dari kencan sebenarnya (ditabok Wanda).

Daripada diselepet sama Wanda, aku mau bilang kalau dari segala kekurangan dia, ada hal yang membuatku respek. Dia polos banget, baik banget dan khusnudzon banget. Dia khusnudzon sama orang keterlaluan, meskipun bagi kami bertiga, orang tersebut nyebelinnya minta ampun. Jadi kalau pas ada acara ghibah, marahku sudah diubun-ubun, dia masih bisa melihat sisi positif orang tersebut. Yaaaah, walaupun penarikan kesimpulannya sering dipaksakan dan membuatnya sungkan  buat bilang “enggak” kalau dimintain tolong sama SIAPAPUN.

Kurang baik apa coba, kalau dia sampai ikut mazhab “Menjaga hubungan baik dengan mantan itu penting, atas nama silaturahmi”. Pokoknya, meskipun demen ngomel sama Wanda karena sebel, nggak tau kenapa pas ketemu lagi, sebelnya ilang. Ending-nya pengin meluk-meluk. Aku juga dibikin meleleh karena dia juga ga sungkan buat minta maaf secara langsung, face to face. Dan pas hamil, dia bisa menjadi kepanjangan tangan suami hanya untuk mengingatkan “makan dan minum air putih jangan lupa. Esnya dikurangi”, dengan raut wajah serius.

Tentang Vina

Nah, aku banyak insight baru dari Vina lewat obrolan-obrolan ringan kami. Bisa jadi, Vina juga intensitasnya suka gemas sama Wanda sampai berdebat (nggak saling benci ya), karena beda taste. Kalau yang belum kenal sama Vina, pasti kesan pertama adalah judes dan egois, ahaha. Kayak wajah default-ku yang tanpa senyum bisa dijustifikasi “galak”.

Awalnya, Vina terkesan egois karena sifatnya yang realistis. Nggak demen basa-basi, bahkan mungkin nggak bisa. Jadi missal dia nggak suka, ya dia akan bilang nggak suka. Kayak misal mau makan dimana? Pasti rujukannya adalah Vina yang doyan pedes. Makanya Serba Sambal jadi lokasi favorit kami, karena mempersatukan selera kami, ahaha. Kalau memang dia ga sreg sama menunya, dia prefer pesen air minum atau pulang ke kost.

Vina juga sering sharing tentang papa mamanya yang merintis karir dari nol. Nah, kalau membahas tentang ini, kami bisa lupa waktu. Karena bisa melebar tema obrolannya. Tentang suami idaman, uang panai (yang sebelumnya aku nggak tau), resepsi pernikahan adat Gorontalo dan hal-hal lain yang sebelumnya sama sekali baru. Dalam poin ini, kelihatan banget kalau dia tipikal yang realistis. "Pokoknya aku kalo nikah, nggak mau dipoligami, Mbak. Aku udah bilang pacarku tentang ini. Dan prinsip ini adalah harga mati". Dia juga detail banget memerhatikan hal-hal yang mungkin aku abai sebelumnya.

Dia juga tempat referensi drama korea yang kami tuju. Pernah ngerjain tugas semalaman, ending-nya membahas dan nonton drama korea jamaah sampai pagi, ahaha. Nggak cuma drakornya, tapi sejarah Korea Utara sama Korea Selatan dia bisa njelasin dengan bahasa yang (((MEMBUMI))).

Semalam apapun begadang, Vina pantang telat datang kuliah, ahaha. Diantara kami berempat, dia yang menjadi reminder waktu biar nggak lelet. Misal ada janji jam 9 atau jadwal kuliah jam tersebut misalnya, biasanya setengah jam atau seperempat jam sebelumnya, dia udah duduk manis di kelas. Kalau pas lagi bareng-bareng, dia yang udah rapi sementara kami masih kusut, ahahah.

Meskipun terkesan cuek, tapi Vina care sekali lho, terutama sama Wanda dan aku yang sering nginep di kost-nya. FYI, kalau nginep di tempat Vina, malam sebelumnya Wanda selalu prepare alat perang berupa selimut, jaket dan kaos kaki karena AC-nya dingin sekali. Nah, pas aku nggak bawa selimut dan lupa pake karena ketiduran, Vina makein jaketku biar nggak kedinginan. Dia juga ngalah, ngecilin AC kalau Wanda udah kelihatan hampir menyerah kedinginan, ahaha.

Tentang masak juga. Dia tau selera kami. Wanda nggak bisa makan pedas, kalau aku levelnya masih sedang lah, kalau Mbak Fine kayaknya apa aja mau. Vina bisa masak 2 versi. Satu yang pedes banget buat dia sendiri, dan satu lagi yang pedesnya masih bisa ditoleransi. Sebagai anak rantau, Vina tipikal yang nggak mau merepotkan orang lain. Pas satu grup ngerjain tugas, udah dibagi-bagi job desknya ternyata dia lagi demam dan diare. Tapi dia teteup ngerjain jobdesknya sampe selesai. Padahal kan dia bisa aja bilang lagi sakit dan kita bisa menghandle-nya, heuheu.

Tentang Mbak Fine

Dari segi usia memang terpaut jauh, tapi face-nya kayak masih SMA, ahaha. Dia kayak ibu peri buat kami bertiga. Bisa ngemong. Mau diajak ngobrol dengan topik apapun selalu nyambung. Apa-apa yang terlihat enak, ternyata harus dimilikinya dengan perjuangan. Dari mulai jodoh, karir, bahkan anak keduanya yang bernama Keenan.

Kalau ngobrol sama Mbak Fine lebih banyak kesamaan frekuensi, bisa dibilang satu mazhab. Makanya pas Wanda mengeluarkan dalil menjaga hubungan baik dengan mantan atas nama silaturahmi, kami berdua saling pandang dan tertawa renyah, ahahaha.

Rumahnya kayak basecamp buat kami bertiga. Tidak melulu mengerjakan tugas, tapi aktifitas memasak, nonton drakor, jogging, senam bahkan saat aku ikut lomba nyanyi “smule”, mereka ikut andil memilihkan lagu. Oh iya, Mbak Fine sama Vina juga yang ngasih pulas di wajah biar nggak pucet. Pas Mbak Fine hamil kedua, kondisinya memang teller, tapi dia tidak abai sama tugas kuliahnya.

Makanya kami berdua misuh-misuh, pas ngerjain tugas sampai subuh, kami dinyatakan tidak lulus karena dianggap kerjaannya sama, huhu. Padahal kasus posisinya beda, referensi beda, analisis sama simpulannya juga beda. Dan kami berdua ikut remidiasi (dengan terpaksa). Dia bunting tapi semangatnya selalu on fire, jadi aku ikut kecipratan semangatnya juga.

Rumahnya selalu terbuka buat kami, dan mungkin tempat berteduhku saat mengerjakan tesis. Jadi, saat Mbak Fine hamil tua di Pati, aku dikasih kunci rumahnya satu, huhu. Sesekali Wanda apa Vina nemenin nginep. Eh tapi, waktu itu Vina pas pulang ke Gorontalo lumayan lama dan Wanda juga lagi sibuk sama event-nya, jadi setengah bulan izin nginep sendirian di rumah Mbak Fine buat ngerjain tesis.

Pas udah melahirkan, dia gas pol ngerjain tesis. Tiap 3 jam merah ASI-nya. Seminggu sekali ke Pati ngirim ASI. Aku pernah mbatin “apa orang ini nggak punya capek ya”, karena dia bener-bener menikmati setiap prosesnya. Belum lagi drama pengasuh yang minta resign. Sehingga membuatnya harus mencari pengasuh baru sementara untuk anak-anaknya.

Terima kasih untuk kalian bertiga yang sudah saling melengkapi, mengingatkan tanpa membenci. Mungkin kita  berjauhan, dan semoga lain waktu bisa bertemu dalam kesempatan yang lebih baik. Duduk satu meja sambil mencicipi pizza dan menceritakan 2 tahun terakhir ini dengan bahagia.

Buat Wanda, semoga sukses karirnya dan mendapatkan jodoh yang baik dan sholeh ya, Wuk. Yang terpenting itu bukan ia yang mengucapkan sayang dan cinta sampai berbusa, tapi ia yang berani ngajak nikah dan meminta izin di depan orang tua :p. Jadi, yang ngegombal lewat whatsapp atau HP, langsung di-delete aja, hihi.

Buat Vina, terima kasih untuk semuanya sayang. Semoga selalu jadi kebanggaan Mama-Papa. Lancar mengurus hajat nikahnya (atau mau S-3 dulu :p). Semoga ada rejeki biar bisa ngumpul berempat di Gorontalo pas nikahanmu. Eeeng, besok pas kita ketemu, insya Allah aku udah mahir pake pensil alis :*

Buat Mbak Fine, nuhun pisan udah dicipratin semangatnya. Sesederhana membuat pisang coklat yang nggulungnya nggak rapi, ahaha. Atau semudah bikin puding pulkadot. Pipi sama pinggul bisa tirus karena istiqomah yang warbiasak! Pengacara Kang Joe Oen lewat, ahaha. Semoga sukses karirnya di Berau ya, Mbakyu.

Aku menuliskan ini karena masing-masing dari kalian sangat berarti di lini masaku 2 tahun terakhir. Semoga lain waktu bisa bertemu lagi di kesempatan yang lebih baik.

Teman-teman punya friendship di sekolah juga? SMP, SMA atau kuliah? Yuk critain kisah kalian jugak di komen.

Read More »

Abjad Bernama Ibu

Siang ini, aku mendadak rindu. Membuka timeline media sosial banyak ungkapan bertema "ibu" yang bertebaran. Ada salah satunya yang berhasil membuat mataku panas sekali dan tiba-tiba membuatku tergugu di sudut kamar.

Aku menanyakan tentang hujan disana, jawabmu terang benderang. Padahal disini mendung, gerimis bahkan hujan menjelang Jum'atan.

"Bu, aku benar-benar mengerti perasaan cinta dan kasihmu itu saat aku merasakan juga saat ini..."

Bukan, bukan karena dulu tidak percaya, tapi sungguh aku seperti menghayati cintamu saat aku menjalaninya benar-benar. Aku menjaga dengan hati meskipun seringkali berkecamuk tak menentu. Memaksakan makan sesuap, dua suap walaupun lidah terasa pahit. Dan itu semata karena anak sangat membutuhkan kita.

Aku mengerti bagaimana saat Ibu makan paling akhir diantara kami. Tidur tak menentu saat kami sakit dan memastikan bahwa kami baik-baik saja.

Bu, semoga Allah selalu memberikan rasa bahagia dalam hatimu....

Aku mengeja abjad perlahan I-B-U dan tidak lama mataku meleleh lagi dan lagi. Aku lupa kalau ini hari ibu, tapi aku tidak mengerti mengapa menjadi semelankolis ini saat mengingatmu.

Semoga lusa kita bertemu ya, Bu. I really love and miss you....

In the end, happy mother's day :)
Read More »

Tentang Rasa

A post shared by ayaa (@cahayatheprinces) on

Adalah rasa yang seringkali membuat kami merasa berbunga2, namun di detik kemudian terpelanting nestapa. 
Seperti pelangi, yang warna warninya tidak hakiki.

Adalah iman yang oasenya memberikan rasa tentram meski kami sedang di tengah badai. 
Tidak peduli entah warna hitam, putih bahkan pelangi yang mewarnai di dalam hati. Karena dengan "iman", warna-warna itu terasa sangaaaaaat melegakan. Dan selalu percaya bahwa suka duka hanya bergilir adanya.

Adalah ikhlas yang dengan memilikinya, kami semakin merasa bukan siapa2 dan memiliki apa2. Karena sejatinya rasa yang kami ciptakan tidak semestinya mengganggu keyakinan bahwa Tuhan selalu ada. Tinggal bagaimana kita mendekatNya.

Wahai iman, tetaplah bersemayam di hati kami. Sekeruh apapun rasa ini bergejolak untuk bilang pergi, tetaplah tinggal menjadi pengendali diri. Dan engkau keihlasan, sehipokrit kami telah menyebut memilikimu, "iya kami ikhlas", biarkan saja! Karena itu adalah cara kami untuk merengkuhmu. Menyugesti agar kami memang benar2 memilikimu dalam hati kami. Menjadi sahabat, iman yang kami jaga sekuat tenaga.

Karena dengan memiliki kalian berdua, iman dan ikhlas. Kami tidak lagi takut untuk menggambar warna dalam hati seindah pelangi meski kabut tebal menghampiri.

***

Syair itu (eeeng, lebih tepatnya curhat itu), saya buat tengah malam saat Bapak sudah tidur pulas dengan bantuan oksigen yang terpasang  di hidungnya sedangkan tangannya menjuntai selang infus yang selama ini menakutkan baginya sekaligus menjadi temannya selama 6 hari.

April ini sepertinya saya sering terkekeh sendiri. Sesekali menangis haru untuk hal-hal yang remeh temeh, yang seringkali luput saya syukuri. Saya menyusun jadwal-jadwal secara rapi, satu dan dua terlampaui sesuai rencana. Eh tapi saya kadang lupa bilang "alhamdulillah" untuk itu. Lha kok pas rada belok sedikit dari rencana yang saya rancang sebelumnya, baru menyadari, kemana saja kemarin sih syukurnya, giliran sekarang agak berliku trus protes. Saya bergumam sendiri. Lebih tepatnya menertawakan diri sendiri.

Minggu ini, hati saya kayak di on:off kan. Paginya masij haha hihi, tapi tidak berselang lama seperti roll coaster terjun payung kaget dan nanya "Kok bisa sih?". Makanya iman dan sabar dijagain baik-baik biar akur terus.

***
Jadi ceritanya beberapa hari lalu, Bapak Ibu ke Solo antri foto buat keperluan haji. Entah gimana ceritanya, Bapak ga kuat sampai harus dirawat di rumah sakit. Saya yang di kampus langsun ke rumah sakit buat tahu keadaannya sekalian ngurus administrasinya. Semua hasil lab menunjukkan bagus. Makanya rencana awal mau opname semalam, Bapak rada kuat sedikit saya pindah ke RS Klaten biar gampil wara wirinya. Mas Jundi yang mau nyusul Solo saya cegah karena kasihan pasti cuapek di jalan. Udah ngerasain jalan Klaten-Solo sekarang yg lagi perbaikan? Ampun macet banget. Naik motor aja masih tersendat-sendat apalagi mobil?

Akhirnya saya, bapak dan ibu naik taksi. Mau pesen go car nggak ada, yaudah dipesenin kosti. Di tengah jalan, bapak pules banget dan ngerasa udah enakan. Makanya gak jadi dirujuk ke RS Klaten. Toh hasil labnya bagus. Paginya saya anter ke BKPM. Dokternya lihat hasil lab dan rontgen dari RS di Solo. Katanya ada sedikit infeksi di paru bapak. Deg! Kok dokter sana bilang baik-baik saja ya Dok? Si dokter langsung melingkari hasil yang dimaksud. Sebenernya bapak udah nurut kalau misal hari itu diopname. Tapi kata dokternya rawat jalan dulu karena gak terlalu serius. Yaudah, dikasih resep sama nebuliser buat sesak nafas bapak.
***

Saya masih bolak-balik Solo, mau nginep tapi rasanya nggak sreg. Makanya di jok motor selaluafa baju ganti kalau misal mang harus nginep. Seminggu berlalu, bapak dan ibu medical cek up di salah satu Rumah Sakit Bagas Waras Klaten. Kali ini untuk kepeluan haji lagi. Pagi-pagi udah rapi, saya nganterin bapak ibu bareng Mbak Endang. Saya mboncengin Bapak. Mbak Endang mboncengin ibu. Sampe sana niatnya mau ngedrop aja, soalnya banyak teman-teman bapak ibu, lagian administrasinya gak ribet. Dan saya memutuskan untuk nemenin sampai selesai. Mbak Endang yang pulang.

Singkat cerita, dari segala cek tersebut, dokter memanggil saya. Perasaan saya sudah nggak enak banget dan udah feeling sih kalau hasil cek salah satu orang tua kesayangan saya ada yang jelek. Dan saya nebak rapor kesehatan Bapak yang jelek. Pas banget, dokyer bilang kalau ibu lulus med-ceknya, hasilnya alhamdulillah bagus semua. Kalau Bapak gimana? Mulai dari gula yang biasanya normal bisa melonjak sampai 230. Seumur-umur Bapak itu tekanan darahna rendah kayak saya, bisa sampai 160. Saya masih kalem aja waktu itu, Bapak juga masih senyum-senyum meskipun sedikit kaget.

Dokter menjelaskan hasil pamungkas yang membuat kaki saya agak lemes buat berdiri. Dari hasil EKG, Bapak ada indikasi penyumbatan jantung. Bapak Ibu sontak langsung berpandangan. Jalan satu-satunya ya diopname. Dokternya baik banget untungnya, gak pelit penjelasan dan penyampaian bahasanya enak.

Then, Bapak dibawa ke UGD. Saya ngurus administrasi, nyari kamar sambil ngabarin ketiga kakak lelaki saya. Saya berpesan sama Bapak untuk rileks biar pengambilan infusnya sekali tusuk saja. Alhamdulillah gak perlu berkali-kali.

Kira-kira jam 4 sore baru dapat kamar VIP. Setelah sampai kamar, saya selonjoran sambil menenggak aqua sebotol. Mengingat hari itu, trus malamnya nulis syair itu, "tentang rasa". Kayak hati berasa salto-salto *asli yang ini lebay*

***
6 hari berjibaku di Rumah Sakit, akhirnya Bapak dibawa pulang juga. Udah sehat di hari pertama. Dan sore ini ngeluh dadanya sakit lagi. Semalam nggak bisa tidur nyenyak. Rencananya besok pagi mau ke dokter lagi. Doakan baik-baik saja ya hasilnya. Rasanya gimana? Nggak bisa tidur, ada yang nggak enak tapi masih under controlled. Ekeke

In the end, yang mengulak alik rasa dalam hati kita adalah kita sendiri. Mau sepahit apapun yang terjadi, kalau kita settle memilih "rasanya", hasilnya tidak akan sepahit itu. Yaaah, memang pahit sih, cuma setelah itu kita akan banyak cerita bahkan bisa terkekeh dibuatnya.
Dan, segetir apapun itu, bersahabat baiklah dengan iman dan sabar. Karena keduanya benar-benar menjadi oase menyegarkan. Pun saya begitu. Hasilnya? Saya bisa menulis ini dengan lapang hati sambil cengar-cengir meski kemarin mewek-mewek di pojokan sendiri gak jelas.

Jangan lupa memilih rasa bahagia dan syukur ya teman-teman 💓
Read More »

Menagih


Dari judulnya saja sudah kentara, arah tulisan ini akan bermuara kemana. Hari ini, aku berinisiatif untuk menagih outstanding para Klien yang nunggak. Ada sebaba musababnya sih, karena outstanding itu berhubungan dengan pengerjaan divisi Legal. Sempat terbesit bahwa ini akan membutuhkan manajemen emosi yang baik, nagih gitu lho.

 

Sempat dipesan agar nagihnya dengan sopan dan menawan. Mikir juga sih, debt collector ada yang tampan? Pasti gagah dan bermuka garang. Selain itu nagih nya make maksa—kebanyakan. Lha ini, disuruh nagih dengan sopan, menawan dan jangan terkesan nagih. Garuk-garuk kepala.

 

Jangan pernah berkomentar tentang apa yang dikerjakan seseorang, sebelum kamu menyelami dengan melakukannya. Dengan begitu, kita tidak akan memandang sebelah mata sebuah pekerjaan yang kita anggap remeh temeh. Dulu aku nyengir saat Mbak Fulan (nama samaran :D) Bagian accounting nangis gara-gara nagih ke Klien dan dimaki-maki. Ternyata memang benar, menagih apalagi masalah uang, butuh manajemen emosi yang baik, setrong poll.
Read More »

...Love and Hate You at the same time #NulisRandom2015

Pernahkah kamu mencintai seseorang sekaligus membencinya? Aku sedang mengalaminya. Aku berpikir itu hanya mitos, tapi ternyata itu benar adanya. Mencintai dan membenci seseorang dalam waktu yang bersamaan. Keduanya linier.

Sebesar aku mencintaimu, sebesar itu pula aku membencimu.
Read More »

Untold Love #NulisRandom2015


Bu, beberapa hari ini aku memikirkanmu. Ah, putra kesayanganmu itu mau ulang tahun. Ada titipan doa apa? Pertanyaan macam apa aku ini, pasti Ibu marah tiap aku bilang begini.

 

Semua anak adalah anak kesayangan. Karena darah daging dan melalui rahim yang sama, bernama Bu Sugi. Ibu selalu tersenyum saat aku memanggil namanya. Berkali-kali rindu itu hadir, berkali-kali aku mendoakan untuk kesehatanmu, Bu.

 

Bu, doamu sampai. Aku tidak kekurangan apapun. Mungkin Ibu lupa, besok anak kesayangannya ulang tahun. Tetapi ia tidak akan pernah lupa mendoakannya dan kami (karena masih ada 3 anak lagi-red).

 

Terima kasih telah memberikan Mas yang berhati berlian. Dia baik sekali, Bu. Sungguh. Banyak yang memanggilnya Joko. Tetapi kamu lebih suka memanggilnya, Le. Tanda sayangmu. Sesekali memanggil Tri, karena ia anak ketiga dan sekaligus Mas ketigaku setelah Mas bernama Agus dan Jundi.
Read More »

Wishes for You #NulisRandom2015


Seperti menghitung jemari sebelahku

Mengawal pergantian usiamu yang kutatap tetap sama seperti dulu

Wajah yang selalu berseri, menentramkan

Senyum yang teduh, menghangatkan

 

Aku pikir kamu akan berubah, sekalinya tidak

Tetap sama

Menahan amarah dengan balutan bijaksana

Membuatku bisa menerjemahkan diammu
Read More »

Du-du-du Random


Saat aku tidak percaya siapapun, please jangan hilangkan perasaan percaya yang sepenuhnya ini terhadap-MU ya Allah.

Saat semua terlihat abu-abu, aku yakin bahwa Kau akan berbeda. Pasti ada bedanya.

Kenapa semua orang begitu? Karena kamu sedang bermain dengan asumsimu.

Biarkan percayaku tertambat pada-Mu. Agar tidak ada lagi kegamangan dalam memilih pilihan.
Read More »

Feel Guilty


Tumpukan rindumu itu harus bermuara pada yang berhak. Pada siapa? Ah kembalikan saja pada pemberinya. Bulan ini semua surat-suratmu beronggok di folder tanpa kau berniat untuk mengirimkannya.
Apa maksudnya pergi dengan gundukan tanya yang seakan sengaja kau tinggalkan untuknya. Bagaimana bisa kau setega itu. Membiarkan luka menganga dan menaburkan garam dan cuka di atasnya. Kamu telalu hiperbola tentang ini.
Tidak juga. Aku biasa saja menanggapinya.
Apa begini treatment-nya? Saat kamu gundah. Kamu resah hanya kau biarkan membusuk di hatimu. Kenapa tidak menuliskan surat saja. Bercerita kepadaku. Kemarilah akan kupeluk. Dan kamu akan merasakan bahwa pelukan adalah penawar yang menghangatkan.
Yah, rasanya seperti “agak” lega. Perasaan bersalah itu berangsur memudar meskipun tidak bisa sepenuhnya hilang. Sekarang giliran kamu menunggu ya. Iya disitu, di kedai mocca yang sering kita datangi sebelumnya.
Tunggu aku. Please.
Continue....
Read More »

Pejabat Pembuat Surat Pengantar Nikah


Assalamu’alaykum Pak,

Bisa saya minta satu? Iya surat yang berbundel di lemari dekat meja TV. Bapak membuatkan untuk mereka, tetapi kenapa Bapak belum pernah menyiapkannya surat pengantar untuk saya? Padahal kan dalam tubuh saya ada darah bapak juga. Saya kecewa, Pak.

Saya membawakan nampan berisi teh hangat dengan komposisi gula sebagai pemanis. Ada seorang tamu yang meminta sesobek surat yang berisi bubuhan tanda tangan Bapak. Wajahku sumringah menyuguhkannya. Di samping lelaki yang mungkin masih sebayaku. Ada sosok lelaki yang aku kira adalah Bapaknya. Ah tetapi bukan, beliau adalah paman si lelaki, jelasmu.

Aku mendadak ingin membawa kembali nampanku. Ia tidak sopan. Itu menurutku. Tapi senyummu seakan-akan membuatku urung dan tanganku tetap menyorongkan 3 gelas teh manis yang sebelumnya aku buat dengan ketulusan dan akhirnya sedikit cedera akibat pemahamanku yang keliru.

Kalian mengobrol basa-basi, tanganmu masih asyik memainkan penamu di secarik kertas itu, sesekali meminta keterangan lelaki sebayaku untuk mencocokkan dengan isi di kertasmu.

“Bapak membuatkan surat itu untuk warga, tapi kapan membuatkan untuk adiknya”, kata-kata itu berkeliaran menjadi penyulut kesalahpahamanku. Dan kamu kenapa hanya tersenyum, Pak? Tidak membelaku? Menjawab apa gitu? Aku kecewa.

Kamu bilang tidak elok menjelaskan panjang lebar kepada mereka. Buat apa? Aduh, bagaimana mungkin kamu lebih memilih kekecewaanku dan bibirku yang seakan layu dari senyumanku daripada harus menjawab pertanyaan yang jauh lebih tidak elok.

“Tidak perlu menjelaskan kepada orang lain bagaimana keadaan kita bukan, wuk?”, kata-katamu seperti mendelete pernyataan tamumu. Kamu percaya sepenuhnya padaku. Aku menjadi terharu. Kamu akan membuatkan surat yang spesial sesuai permintaanku bukan karena komentar dan cemooh orang lain.

Kamu sudah menghabiskan berbendel surat pengantar itu. Dan aku menunggu giliranku. Semoga kamu segera memiliki “adik ipar laki-laki” ya Pak.

Terima kasih untuk pemahamanmu yang baik. Aku bangga padamu. Menjadi bagian darimu sungguh sesuatu yang menyenangkan, Pak.

Dariku : Dik Nur

For : Bapak Jundi Istnanto, PPSPN (Pejabat Pembuat Surat Pengantar Nikah)
Read More »

Untuk seseorang yang tak bernama


Kemarin aku bermimpi tentangmu. Kedua tanganmu memegang pipiku dan mengatakan sesuatu. Aku meminta untuk memperjelas suaramu agar aku mengerti maksudmu. Kamu berbicara lagi, sesungging senyum itu membuatku ikut menyeringai karena aku tetap tidak mengerti pesan yang ingin kau sampaikan.

Badanku berat sekali. Mataku tertutup rapat-rapat. Senyummu masih terngiang hanya saja aku ingin menolak sesuatu. Ada kesalahan. Aku paham, kamu memaksaku untuk menikmati senyummu dalam impian hanya untuk menyakitiku saat terbangun. Mimpi buruk!

Aku berusaha untuk sadar sempurna tapi belum bisa. Kamu mengoceh dan aku mendengarkan dengan seksama. Tapi hatiku memberikan sugesti untuk menolak membalas senyumannya.

Aku mengalah, tidak memberontak lagi. Mataku perlahan terbuka. Nafasku memburu. Wajahku nampak letih seperti habis kalah dalam medan peperangan. Aku terduduk dan mencoba mengingat. Ada senyummu yang semu. Aku membalasnya. Kamu mimpi buruk. Pasti!

Kamu hadir manis dalam mimpi, hanya untuk merajamku saat bangun. Silakan pergi.

*no mention. Seringkali kita menulis surat tanpa harus mengirimnya bukan? Ini salah satu surat yang hanya aku titipkan kepada pak pos tanpa membubuhkan nama dan alamat penerima. Karena aku berharap surat ini akan kembali padaku.

**Salam sipirilly

***Ditulis sebelum mabuk ngerjain korespondensi dari kolega yang menyebalkan :p
Read More »

Teman lama


Assalamu’alaykum Teman Lama,

Skripsinya sudah Bab berapa? Semoga pertanyaanku tidak menghilangkan nafsu makanmu. Aku yakin kamu hanya sulit untuk memulainya, setelah kamu melakukannya, percayalah padaku kamu akan ketagihan untuk menyelesaikannya.

Bagaimana kabar gadis yang kamu ceritakan terakhir kita bertemu? Masih manja gak karuan? Merajuk tak menentu? Atau semakin menjadi gadis yang sering ngambek waktu kamu tidak memberikan kabar barang sehari. Kalian sudah putus ya? Alhamdulillah kuucapkan. Semoga kamu lebih fokus untuk skripsi. Kalau memang jodoh pasti kamu akan menyandingnya dengan gagah.

Kenalkan padaku, biar aku bisa beradu galak dengannya. Aku penasaran dengan gadis itu, sampai sekarang. Yang memaksamu untuk ini dan itu. Kamu selalu mengomel bercerita tentang dia padaku. Tapi di sisi lain kamu tidak mau meninggalkannya. Cinta macam apa itu, huh? Untung aku tidak seribet itu (gak punya pacar maksudnya) :D

Mmm, aku ikut bahagia untuk status jomblo syariahmu, guys. Kamu berhak memiliki masa depan yang cerah. Atau kalau kamu tetap ngeyel  untuk mencintainya dalam diam, aku berikan resep? Ada beberapa langkah Sob, baca baik-baik ya.

  1. Nawaitu Bismillah
  2. Udah jangan dipikirin lagi gadis itu yang membuatmu cemburu
  3. Itu skripsinya diselesein, kasih deadline aja 3 bulan sebelum lebaran kelar, gampang kan?
  4. Kalo udah selesai, mungkin kamu sudah lupa apa itu cinta
  5. Jalan terakhir kalo gak manjur melakukannya, bawa itu ijazah, bikin CV sungguh-sungguh, lamar gadis itu dengan gagah berani.
  6. Kalo ditolak lagi? Culik aja. Ahahaa

Just kiddin, Bro! Aku mengirimkan surat ini untuk kamu hanya untuk mengucapkan selamat menempuh skripsi, semoga lancar.

Masih berhubungan dengan gadis yang membuat hatimu hancur berkeping-keping di tahun baru? Salam kenal dariku ya. Sesama galak harus saling menghormati :p. Semoga bisa datang saat pernikahanmu nanti, iyeee gue dateng. Insya Allah.

Salam senyum simpul

 

Dari aku—sahabat lamamu yang galak.

For : corse_one@yahoo.com
Read More »

Surat Buat Desy


5 hari berturut-turut aku tidak menulis surat, lebih memilih menulis hal lain yang membuatku nyaman. Beberapa hari yang lalu, banyak yang ingin kukirimi surat, termasuk kamu, entah mengapa menguap begitu saja niatku. Mataku menyipit ke arah layar, buku yang ada di tanganku tidak khatam sejak kemarin dan hanya terbaca 3 lembar hari ini.

Kali ini aku ingin mengirim surat untuk Desy Aditiana, sahabat SD dan SMP ku. Banyak hal yang mengingatkanku dengannya. Nasi goreng, Solo, Mie Ayam, Bakso dan cinta. Akhirnya surat ini kutulis, untuknya. Teman sebangku SMP-ku.


Assalamu’alaykum, Des.

Sehat selalu sayangku? Hebat sekali ya, sekarang sudah jadi Ibu untuk 2 putrimu, Hafsah dan Hanifah. Ah, tiba-tiba memoriku kembali pada 6 tahun yang lalu, waktu kita masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Aku sempat hadir dalam wisudamu, dan kamu mengenalkan dengan lelaki yang sekarang menjadi suamimu. Tolong jangan mengolokku tentang ini, ya. Kamu lari beberapa kilo sementara aku masih berjalan beberapa langkah. Namun, sesekali kamu menoleh untuk sekadar bertukar cerita tentang hidupmu sekarang.

Semoga pahala senantiasa mengucur untukmu yang senantiasa mengabdi sebagai ibu sekaligus istri. Mendoakan ini saja rongga dadaku lega sekian senti, lapang sekali. Aku rindu, saat tanganmu mengusap kepalaku. Kamu tau sekali bagaimana cara menenangkanku. Dan kamu tau siapa saja yang mampu melakukan treatment ini. Aku nyengir kuda menuliskannya.

Aku masih phobia tentang “itu”, bukan berarti aku takut menikah. Bukan sama sekali. Karena aku sudah menyusun untuk itu. Nanti aku ceritakan bab ini, kamu akan percaya aku tidak phobia lagi :p.

Hallo Hafsah dan Hanifah, salam kenal dari Bulik ya. Shalihah selalu. Ada kesempatan waktu untuk bertemu, entah kapan. Aku akan mendongengkan kalian juga cerita lucu, salah satunya tentang ibumu.

Des, dapat salam dari Ibuku. Minggu kemarin beliau telepon dan mengabarkan Ana mau menikah. Kabar baik, aku menyusun perjalanan pulang. Itu juga berarti bahwa aku harus menyiapkan ruangan yang luas untuk menerima masukan-masukan mereka. Hey, ibuku sudah menginginkan cucu. Kamu sudah memiliki 2, Widy punya 1, Ana segera memulai. Dan aku, insya Allah juga demikian. Aku mempertimbangkan syarat terakhirmu. Tidak akan lagi terpaku untuk menunggu. Terima kasih untuk ini. Allah knows our needs.

Masih begini tabiatku, menginginkan bulan, padahal bintang mengendus-endus meminta perhatianku. Ah kamu paling tau, dan kamu akan mengirimkan massage setelah membaca surat ini, menyuruhku untuk memilih, padahal aku bukan pemilih. Memberikan ketentraman pada ibuku, hanya jawaban “iya” akan membentuk rekahan di bibirnya. Iya, aku akan mencobanya, Des. Seharusnya aku mencobanya daridulu.

With love,

 

Dariku, sahabat yang masih phobia tentang “itu”—kamu tau.

*aku membaca beberapa surat-suratku dan kusimpulkan bahwa isi kebanyakan mengarah kepada “pernikahan”. Mendadak aku menghela nafas panjang.
Read More »

Atas Nama kehilangan


Assalamu’alaykum,

Maafkan aku saat kemarin harus meminta jeda untuk menulis surat. Bohong jika aku tidak memiliki waktu—karena aku punya luang yang melimpah. Dusta juga bila aku menjawab bingung mau memilih siapa yang akan kukirimi surat—karena aku banyak teman untuk membaca suratku, termasuk kamu? (emote kedip).

Atas nama kehilangan, yang sejujurnya suatu saat aku juga akan hilang. Raga yang sebenarnya aku tak berpunya. Jiwa yang sejujurnya bukan hakku sepenuhnya. Lalu mengapa bersedih saat hilang seonggok barang yang sebetulnya menjadi rongsokan pada akhirnya? Mengapa hatimu begitu sendu seperti itu seharian ini?

Dalam bulan ini, ada beberapa kesayanganmu yang hilang. Atas nama kehilangan, hatimu dibuat bingung bukan kepalang. Mood-mu seakan dibuat berkecamuk tidak menentu. Apa sih yang hilang? Hal yang sebenarnya bisa kau tebus kemudian. Hasratku untuk marah karena keteledoranku yang begitu akut. Kalau saja tadi tidak... Coba saja tadi aku harus... Andaikan aku tidak... Aish, pernyataan-pernyataan yang hanya membuat keruh rasamu.

Kamu kehilangan barang seakan-akan kehilangan duniamu. Ibarat lampu yang saklarnya putus, tetapi kamu marah-marah kebingungan karena gelap di sekitarmu. Padahal kamu bisa memilih menyalakan lilin atau menciptakan penerangan sendiri untuk ketenangan hatimu. Lalu apakah kehilangan membuatmu se-nelangsa itu?

Oke. Sekarang pertanyaannya diubah sedikit konsepnya, bagaimana level kehilangannya dinaikkan kadarnya beberapa tingkat. Bukan barang, tetapi seseorang. Kamu kehilangan barang kesayanganmu saja begitu semrawut. Bagaimana kalau kamu kehilangan seseorang yang kamu sayang? Aduh cukup, aku tidak mau dengar lagi.

Trus kalau kamu kehilangan barang, kamu bisa membeli lagi, mencari lagi. Tapi, kalau kamu kehilangan seseorang yang kamu sayangi mau menebus pake apa? Mencari dimana? Iya, udah cukup penjelasannya. Aku minta maaf untuk ini. Allah Maha Baik.

Kepada sopir taksi yang baik hati. Terima kasih pemahaman pagi ini. Atas nama kehilangan, aku tidak akan nelangsa sedemikian rupa. Tidak sama sekali. Kalau kamu mau barang itu, ambillah. Semoga berguna. Atau aku salah prasangka? Bukan kamu orangnya. Melainkan musafir yang menumpang setelahku?

Atas nama kehilangan, aku tidak benar-benar merasa kehilangan, karena sebenarnya nafasku bukan milikku.

Regards,

Ayaa yang selalu bahagia J
Read More »

Balita dengan Rok Berenda

Assalamu’alaykum sayangku,

Mungkin ini terlihat aneh, mengirim surat untukmu yang belum mampu mengeja aksara. Bulik yang sering mendongengkanmu, Nak. Bulik tidak mengapa menuliskan ini untukmu, mungkin kelak kau akan membacanya saat kau besar.

Sebenarnya, Bulik ingin mengirimkan surat untuk Bapakmu. Tapi Bulik tak sanggup untuk merangkainya. Ah, belum mampu, tapi lain waktu akan kutulis juga untuknya.

Saat menuliskan surat ini, kamu terlelap di pangkuanku, Nak. Sprei dan stella baru Bulik ganti tadi pagi. Kamu bisa merasakan bau khasnya bukan?

Kamu sudah 3 tahun ya sekarang. Badanmu sudah berisi. Pipimu gembil. Namun sampai sekarang, kamu masih belajar untuk mengunyah nasi. Bulik andil besar dalam hal itu. Seharusnya kamu sudah mampu mengunyah dengan baik, sayangku. Tidak melulu makanan dengan tekstur halus. Tapi tidak mengapa, Bulik tidak akan memaksamu. Bapak dan Mamamu pun tidak mempermasalahkan itu.

Saat kamu demam dan ingin digendong memakai kain olehku, aku bisa merasakannya kalau seakan-akan 3 tahun lalu aku telah menjadi Ibu. Merawatmu. Saat pulang dari kantor. Kamu menyambut dengan suka cita, memeluk dengan penuh asih, mencium dengan ketulusanmu. Iya, aku merasakan bahwa aku telah menjadi Ibu. Darimu.

Balitaku sayang,

Terima kasih untuk ini semua. Cukup. Semoga shalihah selalu ya.

Salam hangat dariku,

Bulik


For : Deandra Kalista Putri
Read More »

Untuk lelaki yang lembut hatinya,

Asslamu’alaykum Pak,

Aku menunggu hari ini. Semoga surat ini sampai padamu sebagai telepati rinduku. Tepat Sabtu ya, dan sampai saat surat ini kutulis, aku belum men-dial angka 1 selama 3 detik. Yang berarti akan bercengrkrama lama untuk menceritakan 5 hari terakhir seperti biasanya. 

Dari shubuh, aku dinas Pak—nyuci, nyetrika, ngepel dan pekerjaan lainnya. Bu Ani masih pemulihan, jadi bagi tugas rumah dibagi rata. Tapi nanti malam selepas Isya, aku akan men-dial angka 1—meneleponmu. Aku inginmengucapkan langsung, tapi seperti yang lalu, aku yakin kamu sendiri lupa hari ini hari apa.

Sepanjang sujudku, aku tidak luput menyelipkanmu Pak. Sungguh. Dan tidak lupa menambahkan bidadarimu di belakang namamu. Semoga kalian berdua sehat dan bahagia selalu (menulis ini aku meleleh—cengeng). Itu karena aku merindukanmu. Lebih pasnya, masih merasa menjadi tanggunganmu. Kamu bilang begitu kan, Pak? Mendengarnya aku sedih.

Pak, kita berdua saling memiliki intuisi yang sama. Yang membuat Ibu iri padaku karena aku yang selalu kau tanyakan setiap Sabtu. Sampai handphone selalu kau taruh di sakumu menungguku. Kata Ibu begitu. Mendengar ini, aku terharu Pak (tuh kan aku meleleh lagi). Kenapa saat membuat tulisan surat untukmu, aku selalu cengeng begini? Itu karena aku sangat menyayangimu, Pak.

Bidadarimu selalu bercerita tentangmu yang mengeluhkan diriku beberapa akhir ini. Kesehatanmu menurun. Dan Ibu mencurahkan keras kepalamu untuk tidak mau datang ke dokter. Kata Ibu, kau menanyakan apakah aku menyinggung pernikahan? Aduh, kenapa tidak menanyakan langsung padaku? Bapak lebih tau tentangku kan? Atau takut menyinggungku? (dalam kallimat ini aku butuh kekuatan untuk melanjutkan suratku ini).

Kamu selalu begitu, Pak. Menceritakan teman-teman sebayaku yang beranjak menikah. Bahkan sudah punya anak 2. Sedangkan aku belum sama sekali mengutarakannya. Malah memintamu untuk mendoakanku bisa sekolah di tahun ini. Jawabanmu klise sekali. Berulangkali aku bercerita padamu kan? Aku tidak akan pernah mengecewakanmu (lagi), tentang ini. Tetap selipkan aku pada doamu ya. Pasti kamu akan bilang, tanpa ku minta, dengan senang hati akan kau lakukan dengan bidadarimu (genangan ini membuncah).

Bapak 67 tahun, Ibu 60 tahun dan sekarang aku 25 tahun. Sabar ya Pak. Meski aku juga sedang belajar remidi tentang makna sabar (mati-matian), karena seberapapun aku gagal melakukannya dengan baik. Aku akan melakukannya berulang kali, semampuku.

Pagi ini ada beberapa yang menanyakanku valentine, seperti yang sudah-sudah—AKU TIDAK MERAYAKAN. Kecuali memelukmu dan mengucapkan doa-doa saat aku di dekatmu. Dan segera meneleponmu, bercerita panjang lebar untuk mengobati haus rindumu (riduku juga), jika aku jauh darimu.

Pak, cukup ya. Mataku sudah sembap. Dio pasti menanyaiku nanti. Deandra juga sudah menunggu. Aku akan meneleponmu nanti. Semoga surat ini sampai padamu. Ah iya, aku mencintaimu dan sangat menyayangimu Pak, begitu juga dengan bidadarimu yang satu itu. Semoga kalian sehat selalu. Amin.

With love : Dik Nur


For : Bapak yang hari genap 67 tahun *peluk                                                                                                    
Read More »