Featured Slider

Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Penerimaan yang Baik

Menceritakan ini, seperti menilik lini masa yang saling bertautan. Tentang proses pemaknaan tentang penerimaan yang baik. Mengeja arti usaha yang sesungguhnya, dengan menerima hasil yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan (saya).

You are brave, Dear! :)

Waktu kecil, saya tidak diajari bagaimana ketika menghadapi kegagalan. Sistem perangkingan membuat saya ambisius untuk mengisi 3 besar di raport. Ketika saya gagal mendapatkannya, rasa bersalah itu menjelma menjadi badai yang sulit saya deskripsikan rasanya. 

Saya disuruh belajar, tapi tidak ditemani bagaimana cara belajar dan bagaimana harus mencintai pelajaran itu sendiri. Saya tidak boleh bermain keluar rumah lama-lama, tetapi saya tidak diajari saya harus melakukan apa di rumah. Dulu perasaan ini saya abaikan, tetapi ternyata saya mengingatnya jelas sekarang ini. Sehingga ketika memiliki anak, ternyata memang se-effort itu. Memikirkan A to Z.

Tentang Ujian

2 bulan terakhir saya ikut beberapa ujian. Ujian studi lanjut dan beberapa ujian ikut beasiswa. Perasaan saya weird ketika tidak lulus beasiswa tapi sekaligus lega, karena saya tahu sudah mempersiapkan semuanya dengan all out. Saya melupakan dan mencari beasiswa lainnya. Perasaannya campur aduk, tapi saya menerimanya.

Tadi pagi, setelah mengantar anak-anak sekolah, ujian sekaligus hadiah itu datang sebagai surprise pembuka usia baru saya. Tangan saya gemetar, kaki saya tremor, air mata saya bercucuran. Saya menunaikan dhuha agar hati saya lebih lega. Meletakkan dunia dan seisinya yang pada hakikatnya bukan milik saya. Wajah Bapak berkelebat berulang kali seperti hari-hari terakhir memeluk hangat saya. Memori dengan beliau, menjadi penyemangat saya menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang berkali-kali membuat saya ingin menyerah tapi tetap saya lakukan semampu dan sebaik yang saya bisa.

Pada akhirnya, saya memaafkan dan Belajar pelan-pelan mengeja tentang penerimaan yang baik dari hal yang begitu menghancurkan rasa percaya diri saya sedemikian rupa. Saya patuh, saya taat ya Allah. Semoga Engkau ridho.

Kamu berani, kamu hebat sekali, kamu sudah mencoba yang terbaik yang kamu bisa dari segala peran yang kamu punya. Menjadi Ibu, istri, anak, adik dan peran lainnya. Pelan-pelan ya, sayangku, kamu tidak sedang berlomba dengan siapapun, peluk diri sendiri, dan berjalan lagi. Ujian kali ini bisa kamu menangkan...Allah knows who you are, khusnudzon ya!*mantra yang saya ucapkan untuk menutup malam ini.

Malam ini, kami tidur berpelukan. Erat. Satu sama lain. 


Read More »

Post Partum Depression Warior

2022 seperti roll coaster buat saya. Fisik dan psikis saya ditempa. Rasanya tiap pagi isinya hanya keluh kesah *cry*.

Belajar menjadi Ibu sepanjang masa

Saya belum sempat menceritakan tentang persalinan Sea. Bahkan Sea juga sudah disunat pun belum sempat mendokumentasikannya seperti Ray dan Ben. Bukan karena tidak mau, tapi setelah melahirkan Sea, saya merasa ada yang berbeda. Sinyal seperti saat setelah melahirkan Ray. Tiap hari rasanya lelah tidak berkesudahan. Pagi, siang, sore rasanya gelisah dan cemas. Yang ujungnya adalah AMARAH. 

Saya tidak baik-baik saja

Dulu, ketika melahirkan Ray, saya merasa dipaksa bahagia. Disuruh bersyukur yang ternyata membuat makna blur. Padahal, bersyukur sambil merasakan capek itu tidak apa-apa. Tidak selalu menjadi perempuan yang kuat juga tidak mengapa. Sesekali menampilkan sisi rapuh, juga manusiawi. Sayangnya, saya tidak ada yang mengajari untuk memeluk emosi-emosi negatif itu. Cenderung disuruh mengabaikan dan diburu-buru diusir pergi. Sehingga ketika perasaan itu datang lagi, seperti membangunkan sisa emosi negatif lainnya yang membekas. 

Perasaan tidak nyaman yang mengendap

Sejak kecil, saya dilatih untuk sat set wat wet. Merasa bangga kalau bisa mengerjakan sesuatu dalam satu waktu. Istilah kerennya adalah multitasking. Tapi semakin kesini, saya justru belajar untuk pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa. Kelihatannya mudah, tapi praktiknya menguras tenaga. Karena kebiasaan yang sudah terbangun tadi. Jika tidak melakukan apa-apa, padahal memang waktunya istirahat, rasanya seperti tidak produktif, huhu. 

Setelah melahirkan Sea, memori masa kecil saya hadir. Hal yang dulu saya kira baik-baik saja, ternyata tidak. Saat ini seperti menggerus dan meremas nadi tanpa ampun. Hal ini membuat saya tidak bergairah dan menikmati obrolan dengan Ibu saya. Pola pengasuhan beliau membangunkan memori-memori lain yang membuat saya terluka. 

Saya benci dengan sikap Ibu (dulu) waktu saya masih kecil, tetapi saya merasa kasihan dalam waktu yang bersamaan. Ibu seperti mendikte saya harus bisa apa saja. Mengkritik apa yang saya lakukan. Padahal sebelumnya saya tidak apa-apa. Tapi ternyata saya hanya menahan diri dan memaklumi. Doktrin kalau dikasih tau orang tua tidak boleh membantah dan harus patuh, saya lakukan tanpa sungkan (waktu itu). Dan hari ini, saya seperti terlihat tidak penurut (lagi), karena tidak diberi ruang untuk diskusi. Tidak ditanya apakah saya suka atau tidak. Apakah sedang sedih. Atau perasaan tidak nyaman lain yang tidak mendapatkan validasi. Di sisi lain, saya merasa kasihan pada Ibu. Karena mungkin dulu Ibu tidak atau belum memiliki keterampilan untuk mengolah perasaan anak-anaknya. Bahkan mungkin belum bisa memvalidasi perasaan sendiri. Menganggap dirinya selalu baik-baik saja. Tidak mengizinkan badannya istirahat padahal sedang sakit dan terus mengurus rumah dan keempat anaknya. 

Selama ini kami berdua ternyata tidak terlalu bagus cara komunikasinya. Karena ada penengah Bapak. Saya sefrekuensi dengan Bapak yang sekaligus bisa mempengaruhi keputusan Ibu. Jadi selama menikah, apa yang diputuskan Bapak, maka Ibu akan makmum. Saya cukup ngobrol sama Bapak saja tentang apa-apa, karena pada akhirnya Ibu akan setuju kalau Bapak setuju.Setelah Bapak tidak ada, Ibu seperti hilang arah dan mulai belajar untuk memutuskan apa-apa sendiri. Emosinya pun kacau balau yang berpengaruh pada fisiknya. Yang biasanya check up 1 bulan sekali, jadi ada tambahan fisioterapi 2 minggu sekali bahkan pernah seminggu sekali. 

Menghadapi Ibu

Ada momen dimana Ibu sulit sekali diajak kompromi. Melanggar pantangan Dokter sampai mau menyerah untuk mati saja (karena merasa badannya sakit semua). Kami pernah mengobrol empat mata dan sesenggukan sama-sama, dan ini bisa beberapa kali saking Ibu merasa bingung terhadap perasaan dan badannya. 

Sikap tegas saya dianggap keliru. Ibu merasa sering dimarahi, sehingga hubungan tidak nyaman itu muncul lagi. Ibu butuh terapi tapi tidak mau berangkat. Tidak boleh angkat-angkat berat tapi mentah saja nasihat dokter. Badannya tidak bisa dibohongi, keesokan hari pasti kaku dan tidak bisa jalan. Diskusi dan bujukan-bujukan itu hampir setiap hari saya lakukan. Seperti membujuk Ray yang harus ke dokter untuk vaksin, tapi dengan cara yang elegan tanpa harus ada amarah. 

Kami berdua jatuh bangun mengelola emosi setelah ditinggal orang yang kami cintai. BAPAK. 

Baca juga: merawat orang tua wajib sehat lahir batin

Tidak mudah, tapi harus dijalani. Untuk menghadapi Ibu, saya harus memastikan kalau kondisi badan dan emosi saya harus oke. Karena ketika dalam posisi capek, saya justru akan terpancing marah. Ibu menyuruh saya lebih bersyukur karena punya ina inu. Harus kuat momong anak seperti beliau dulu. Menganjurkan punya anak perempuan yang diulang berkali-kali padahal saya tidak nyaman dan merasa kerepotan. 

"Sekalian repot", ungkapan yang membuat saya marah. Karena yang repot adalah saya, bukan mereka. 

Menghadapi Ibu, mengurus anak-anak, pekerjaan, menjadi istri membuat saya melupakan jadi diri sendiri. Hal-hal ini yang membangunkan inner child saya. Kabar baiknya, saya menyadari sedang tidak baik-baik saja dan tidak sungkan meminta bantuan. 

Post Partum Depresion

Setiap hari merasa kelelahan, malas makan padahal sehari tidak makan, emosi labil, menangis tergugu, napas pendek-pendek, cemas, dada rasanya sesak. Sebulan terakhir kondisi ini yang saya rasakan. 

Koneksi sebagai anak, ibu, istri bahkan diri sendiri seperti hilang. Saya sama Ibu obrolannya memilih topik yang aman, yang tidak menyebabkan kami berdebat panjang. Saya cerita kondisi dan perasaan saya pada suami. Semula kami baik-baik saja dan lebih merasa tenang. Tapi pada akhirnya saya lebih defensif ketika suami tidak bisa memberikan arahan seperti yang saya mau atau butuhkan. 

Sepanjang jalan nangis, rasanya kepala banyak kunang-kunangnya

"Kalau aku capek, aku harus ngapain ya?", saya ingat betul isakan tangis di mobil dan bertanya demikian. Suami menjawab " Istirahat". Jawaban sederhana yang membuat saya marah. Bagaimana bisa istirahat kalau anak-anak nempel terus. Rutinitas yang rasanya membosankan dan melelahkan dari pagi ke pagi lagi. Isi kepala penuh sekali dan saya bingung harus menguraikannya darimana. 

Hingga akhirnya saya menjadwalkan ke psikolog. Btw, suami mungkin juga bingung menghadapi saya. Dan lebih memilih diam karena takut reaksinya membuat saya lebih marah. Padahal saya menganggap diamnya adalah bentuk tidak peduli. Koneksi ini yang membuat kami kaku. Sama-sama merasa serba salah. 

I need help


Selain suami, setiap hari, jika sensasi rasa cemas dan ketidaknyamanan itu mulai hadir, saya whatsapp sahabat saya. Texting segala hal. Dia juga menanyakan hal-hal yang kelihatannya sepele. Ayaa sehat? Sudah makan? Semoga hari ini menyenangkan yaa. Hal-hal seperti itu. 

Ketika bertemu psikolog, belum mulai sesi saja saya sudah bercucuran air mata. Beliau tidak menjeda dan memberikan tisu. 1,5 jam saya menceritakan kondisi saya. Ada beberapa hal yang disarankan yang membuat saya lebih baik (saat ini) 

1. Penerimaan 

Menerima segala perasaan yang ada. Ketika cemas dan emosi hadir, tidak buru-buru diusir. Kalau selama ini selalu mengusir rasa tidak nyaman, dilatih pelan-pelan. 

Saat Dokter menyampaikan hal itu, untuk tahap ini saya sudah menerima kalau sedang tidak baik-baik saja. Berlatih untuk pelan-pelan padahal sebelumnya saya ga tau ilmunya. Dan ternyata saya benar, tinggal melatih dan mengasahnya saja. Plis, jangan denial kalau misal kalian sedang tidak baik-baik saja dan justru pura-pura kuat atau bahagia. Karena menurut saya itu sangat menyakitkan dan menyedihkan :(

2. Memeluk diri sendiri setiap bangun tidur atau mau tidur

Saya diajari memeluk seperti posisi kupu-kupu. Belajar berterimakasih dan minta maaf sama diri sendiri. Untuk hal ini, sebenarnya saya juga pernah dan sempat melakukan, tetapi tidak menjadikannya kebiasaan secara konsisten. 

Selama ini, mungkin kita tanpa sadar terlalu keras pada diri sendiri, sehingga lupa mengapresiasi. Kalau pikiran saya lagi beneran ruwet dan bundet, selain memeluk diri sendiri, saya memanjangkan napas. Teknik yang pernah diajarkan bidan kita saaaaangat bermanfaat untuk pemulihan PPD ini. Sadar napas kalau kita berharga :) 

Baca juga: belajar napas di bidan kita

3. Reframming dan memunculkan memori baik

Kalau kondisi saya saat ini, memori masa kecil berkelindan dan merangsek tanpa permisi. Membuat dada saya sesak. Menjadi Ibu itu seperti ditodong rasa bersalah dari segala arah. Sudah merasa memberikan yang terbaik, tapi ada ruang yang menuntut dengan pertanyaan yang menyerap emosi; apakah keputusanku benar? Apakah sudah menjadi Ibu yang baik? Hingga pada satu titik mengulang mantra "Anak-anakku tidak butuh Ibu sempurna, tapi Ibu yang tenang", sambil menerapkan poin 2.

Jika kenangan buruk pola asuh Ibu yang dulu saya anggap keliru hadir, saya disarankan menghadirkan momen-momen manis dan terbaik dari Ibu. Mencari dan mengingatnya pelan dan berulang *menuliskan ini saja saya bisa menangis*. Saya yakin, Ibu dulu sudah memberikan versi terbaiknya tanpa bermaksud mengabaikan saya. Saya memaafkan dan menghadirkan ingatan baik bersama Beliau. 

4. Beri batasan dan ruang

Kita tidak berteman tidak apa-apa. 5 tahun terakhir sejak menjadi Ibu, circle saya mengerucut. Merasa tidak harus berkewajiban untuk memiliki teman yang banyak. Percaya diri melakukan apa-apa sendiri yang bagi sebagian banyak orang terasa aneh. Ternyata makan atau nonton sendiri memberikan ruang untuk mengenal lebih jauh apa mau kita tanpa harus pura-pura. 

Memberikan batasan apa yang perlu dipikirkan atau apa yang perlu diabaikan. Jangan sampai kita justru terbalik melakukan keduanya. Caranya bagaimana? Ada di poin 5.

5. Journalling

Menuliskan hal-hal yang membuat kita harus atau tidak harus dilakukan. Menuliskan apapun yang kita rasakan ternyata bisa lebih membuat lega. Untuk hal-hal yang lebih privasi, saya menulis dengan tangan di buku. Tulisan di blog ini saya publish untuk mengenang, bahwa nanti ketika saya insya allah lulus dari PPD, saya bisa membacanya sambil tersenyum :) 

Untuk yang merasa tidak baik-baik saja, pelan-pelan pulih ya. Rasakan sensasinya. Khususnya yang sedang mengalami PPD. Jangankan mengurus bayi, memeluk diri sendiri rasanya butuh energi. Tidak apa-apa. Rasamu valid. Tidak perlu membandingkan dengan yang lain prosesnya. Karena semua memiliki path masing-masing. 

Tidak melulu lekas pulih demi bayimu, tapi untukmu terlebih dulu. Himpun seluruh hal baik untuk mendukungmu. Siapapun yang membuat nyaman, genggam erat-erat dan peluk mereka agar bisa tersalur energi positifnya. 


Tertawa itu hanya chasingnya.  Tapi Rasa tenang itu ada dalam hati yang tahun ini aku usahakan setengah mati

Ketika kamu merasakan hal sama di atas dan mengganggu aktifitas sehari-hari, cari bantuan profesional. Curhat pada teman, keluarga bahkan suami belum tentu menjadi jalan keluar karena memang mereka mungkin tidak paham harus apa dan bagaimana. Ke psikolog atau psikiater bukan berarti kamu gila, justru kalau kamu tidak diobati akan mengarah kesana. Ke Dokter tidak melulu diresepkan obat, diagnosis yang tepat akan membantumu pelan-pelan pulih. 

Mari songsong 2023 dengan berani dan berenergi! :) 


Read More »

Kangen Bapak

Kemarin adalah hari ayah. Banyak sekali post tentang ayah yang semakin kubaca, dadaku semakin terasa diremas. Aku berusaha menahan sekuat tenaga, tetapi malam-malam, sebelum tidur, nyatanya tumpah juga. Aku menangis, padahal seharian sudah tidak membaca postingan tentang hari ayah. Iya, aku kangen Bapak. Kangen sekali.

Bapak, i miss you!


Ada yang pincang, mencoba mengisinya dengan hal yang lain, ternyata tidak ada gantinya. Jujur, sampai detik ini aku belum ke makam beliau lagi. Meskipun Mas Joko atau Mas Agus pulang dan menyempatkan ke makam, aku masih belum mampu ikut kesana (lagi). 

Bapak manis sekali memahatkan momen yang membuatku hangat. Ketika aku merasa kesulitan, Beliau bisa menjadi teman diskusi yang seimbang. Justru pemikiran Beliau terlalu jauh yang membuatku bisa memiliki insight lebih luas. Duluuuuuuu, aku benci ketika Beliau overthinking terhadap suatu hal, nanti kalau A, B atau C. Nanti kalau begini atau begitu. Beliau menebak berdasarkan pola-pola. Dan itu menurun padaku.

Setiap kali aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan atas suatu hal, aku otomatis ingat Bapak. Memberikan jeda, napas panjang dan membaca al fatihah, biasanya membaik. Tapi pernah juga gagal. Aku malah tersedu-sedu. Seperti malam ini. Hingga aku menuliskannya.


Read More »

Sabtu Bersama Bapak

Engkau menciptakannya dengan cinta dan Engkau juga yang memanggilnya karena rindu...

Menuliskan penggalan kalimat yang sempat ditulis Mas Bedul di whatsapp story, lagi-lagi membuat genangan di mataku. Sudah hampir 2 Minggu kepergian Bapak, semakin kuat rasa ikhlas itu menguji. Ah iya, sabar juga yang menantang menuntut pembuktian. Ikhlas dan sabar katanya menjadi kunci. Teorinya begitu, tapi saat ini aku disuruh praktik.

Memori Bersama Bapak

Sabtu bersama Bapak adalah zargon  me time kami. Karena hampir setiap Sabtu, aku mengagendakan makan bersama atau mengantarkan beliaucheck up rutin bareng Ibu. Makanya, aku pikir Sabtu ini aku sudah bisa memulai pekerjaan yang tertinggal. Ternyata tidak. Setelah google photo milikku menarik mundur momen satu tahun lalu. Iya, memori bersama Bapak.

Hari ini, satu tahun yang lalu, bahkan aku masih ingat percakapannya.


Akhirnya, aku ingin mengurai pelan-pelan melalui tulisan ini. Agar lebih lega dan siapa tahu aku bisa menang menaklukkan bab sabar dan ikhlas.

Bapak,

Setelah flash back lagi, ternyata tanpa sadar aku selalu menyelipkan Bapak di setiap keputusanku. Saat aku galau-galaunya lulus kuliah, mau kuliah lagi atau lanjut kerja, Bapak cuma bilang "Kerja dulu saja, Ndhuk, cari pengalaman". Tanpa babibu, aku menyimpan formulir pendaftaran S-2 dan mengemas baju ke dalam koper untuk ikut ke Jakarta. Untuk mencari kerja. Waktu itu aku sudah menjalani hari pertama ujian TPA di pasca UNS, dan Minggu depannya ujian di UGM. Dua-duanya aku tinggalkan tanpa kuteruskan. Kalau dipikir-pikir sekarang, kenapa dulu ga nyobain dulu sampai selesai? Nego sama Bapak buat kuliah lagi?

Saat aku menyadari mimpi buat kuliah lagi, aku memutuskan buat pulang, padahal saat itu aku jatuh cinta setengah mati sama Jakarta dan ingin berkarir disana. Aku memilih Solo biar bisa dekat sama kamu, Pak.

Memilih pekerjaan, scope wilayahnya sudah aku sortir jadi Solo-Klaten-Jogja kayak bis Mira. Padahal Bapak tahu, mimpiku dulu pengen jadi diplomat keliling dunia.

Membeli rumah, aku dan suami survey HANYA sekali dan langsung jatuh hati. Hanya karena di ujung jalan dibangun mushola yang bisa Bapak dan ibu pakai untuk jamaah saat ikut dengan kami tinggal di Solo *cryyyyyyyyyyyy*.

Dan saat aku memutuskan beli mobil, trus pengin belajar nyetir sendiri, itu juga karena pengen bisa nganterin Bapak sama Ibu kemana-mana. Nganter check up leluasa, nganter makan keluar kalau lagi nggak selera makan. Sesederhana itu, Pak. Padahal sebelumnya aku gagal berkali-kali belajar nyetir dan lebih nyaman naik kereta atau naik motor. Dan saat ini, aku mati-matian menata hati kalau mau belajar nyetir mobil. Karena pasti aku inget lagi sama Bapak.

Ibu sesekali tergugu, karena setiap saat inget Bapak. Saat selera makan Ibu hilang, kemarin aku memutuskan untuk beli sop iga yang menurutmu lezatnya tiada dua. Kami datang rombongan saat sepi. Saat semua makanan tersaji, Ibu tergugu lagi. Aku menghela napas panjang lagi, menghampiri Ibu dan memeluknya tanpa bicara. Kami menangis bersama-sama sampai lega. Bukan karena kami tidak ikhlas, tapi dadaku benar-benar sesak sekali, Pak. 

Mas Bedul bilang, kalau meskipun Bapak sudah pergi, tapi tetap selalu ada di hati kami. Mataku sembab sekali. Hatiku remuk entah tidak terperi. Banyak orang memintaku kuat dan semangat. Semakin menyugesti kuat dan semangat, rasanya semakin jatuh lagi dan lagi.


Rasa Itu Ada

Handphone-ku update. Tanpa babibu, beberapa aplikasi meminta pasword, tidak terkecuali mbanking. Sebelumnya, karena nggak mau ribet, aku pakai sidik jari buat membuka aplikasi beberapa m-banking. Duh ya, berasa jumawa banget bilang beberapa m-banking, padahal karena terpaksa punya, wkwkw.

Salah satunya terblokir, huhu. Udah telpon call center habis 100 ribu, endingnya tetap disuruh ke cabang buat membuka blokirannya. Ya Allah, bayangin aja udah capek banget :(((. Padahal udah merasa seneng karena sebelumnya berhasil mengurus taspen, bpjs sama perpanjang SIM. Kali ini harus ngurus blokiran m-banking.

Long short story, aku dapat antrian CS, nomor 31. Aku pikir momen sama Bapak udah bisa aku rasakan baik-baik saja. Tapi tiba-tiba rasa itu masih ada. Rasa kehilangan. Rasa sakit. Rasa sesak yang memaksa air mataku tidak mampu mengucur deras. Tidak hanya itu, badanku seperti limbung. Aku duduk di kursi. Mataku panas, hidungku kedat ingus. Kalau bukan karena masker yang aku kenakan, mungkin aku sudah lari ke kamar mandi buat nangis sepuasnya.

30 menit aku tidak menghindari perasaan itu. Perasaan de javu yang memaksaku inget soal Bapak. Sekali lagi. Tapi kali ini aku lapang sekali. Menikmati rasa sesaknya. 

Ada seorang bapak-bapak yang bertanya paxa security. Sederhana sekali sebenernya; ia menanyakan form buat mentrasfer uang buat anaknya yang kuliah di UNDIP. Pagi itu hilir mudik mahasiswa, orangtua yang sedang membayar SPP dan UKT. 

Mataku terpaku sejenak. Kakiku seakan melemah. Mungkin lima belas tahun lalu aku pernah diajak Bapak buat transfer Mas Joko. Dulu kami belum familiar dengan ATM. Jadi, kalau Mas Joko ga sempat pulang Klaten uang sakunya dikirim via transfer tunai. Aku menulis formnya, Bapak menyerahkan uang tunainya.

Splash! Memori itu membuatku ingat Bapak sekali lagi


40 Hari

Tiap hari, Ibu terasa gloomy sekali, Pak. Bohong kalau beliau sudah lupa. Justru tiap hari ingatannya tegas sekali tentang Bapak.  Meminta Iqbal, Lintang sama Khansa untuk menyebut nama Bapak di setiap salatnya. Ah iya, Lintang sekarang yang jadi imam salatnya Ibu, Pak. Dia bahkan sampai sekarang yang nemenin tidur di kamar. Karena tidak tega Ibu tidur sendirian. Ah, cucu Bapak satu itu sudah besar.

Hari ini genap 40 hari ya, Pak. Tidak ada tahlil. Tidak ada kumpul-kumpul. Kami memutuskan untuk memberi sembako atas nama Bapak. Dan mendoakan Bapak sama-sama. Kanan kiri banyak sekali yang positif, Pak. Kami takut banyak mudzaratnya kalau membuka pintu rumah dengan alasan doa bersama. Aku yakin, Bapak sepaham dengan ini. Insya Allah doa kami sampai dan menjadi penerang.

Sabar dan Ikhlas

Apakah aku lulus tentang sabar dan ikhlas? Aku sama sekali tidak tahu, Pak. Jujur, aku masih suka menangis kalau mengingat Bapak. Dadaku juga masih terasa sesak. Aku tidak menolak perasaan-perasaan itu. Membiarkannya hadir tanpa harus jumawa merasa kuat. Aku menulis ini, mengurai satu-satu. Kangen sekali sama Bapak.

Ah iya, Pak. Lintang lolos ke club idamannya. Tanggal 23 Agustus besok berangkat. Doa-doa Bapak kemarin dibayar tunai kan. Allah itu begitu baiknya. Hanya soal waktu, qun fa yakun.

Semoga Bapak husnul khotimah.


Putrimu yang mencintaimu segenap hati.


Read More »

Belanja Kebutuhan Rumah Tangga di Masa Pandemi

Masa pandemi ini membuat kami sekeluarga mengubah beberapa kebiasaan sehari-hari. Apalagi saya memiliki bayi dan orang tua yang notabene memiliki komorbid, tentunya lebih ekstra hati-hati lagi. Dulu, meskipun work from home, sesekali saya masih masuk kantor seharian untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Berangkat ke kantor dengan naik kereta sekaligus menjadi momen me time saya agar tidak bertaring saat momong Ray dan Ben. Tapi sekarang? Saya work full from home.


Sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan PPKM-pun, saya sudah patuh untuk di rumah saja. Memberikan puk-puk dan peluk pada diri sendiri kalau saat ini terlalu beresiko keluar rumah tanpa alasan yang sangat penting. Mengurangi jajan di luar dan memilih memasak sendiri. Menciptakan beberapa aktifitas kegiatan untuk anak-anak agar mereka tidak jenuh di rumah. 

Sebelumnya, belanja groceries dan toiletries sering ke supermarket langganan kami yang harganya lebih murah. Tapi saat ini, saya lebih memilih belanja kebutuhan rumah tangga secara online. Belanja sayur juga membuat list dan titip ke tetangga yang jualan keliling. 

Sabun cuci, sabun mandi, skincare, vitamin, baju anak-anak, diapers bahkan beli buah dan segala kebutuhan rumah tangga lainnya saya lakukan secara online. Momen flash sale atau diskon tiap bulan menjadi hal yang istimewa untuk saya nantikan. Selain mendapat potongan harga, saya juga dapat free ongkir

Belanja Rumah Tangga untuk Orang Tua dan Mertua

Saya menyadari, pandemi ini banyak teman-teman saya yang banting setir berdagang. Menjual apa saja yang menjadi trend atau kebutuhan sehari-hari. Menjual masker, hand sanitizer dan beberapa barang lainnya yang sebelum pandemi merupakan barang tersier, saat ini menjadi barang primer untuk kami sekeluarga.

Untuk membantu kegiatan UMKM, saya biasanya berbelanja di tempat teman saya. Tentunya tidak memaksakan diri kalap belanja. Hanya belanja hal-hal yang saya butuhkan saja. Misalnya: teman saya jualan masker, daripada membeli di e-commerce, saya prefer membeli di tempat teman saya yang harganya tidak jauh beda. Jadi, membeli dengan sadar diri :).

Oh iya, saya dan suami membelikan beberapa kebutuhan untuk orang tua saya dan orang tua suami. Minyak, sabun cuci, sabun mandi dan vitamin biasanya kami yang membelikan. Makanya, beberapa kurir sudah akrab dengan keluarga karena setahun terakhir ini kami memang memanfaatkan belanja online untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami. 

Memilih Jasa Pengiriman

Dari berbagai jenis jasa pengiriman, saya mau share tentang pengalaman kami menggunakan TIKI; salah satu jasa pengiriman andalan kami. Kebetulan suami saya juga jualan online jam tangan dan otomotif yang menjadi hobby-nya. Tiki menjadi pilihan ekspedisi yang memudahkannya dengan layanan jempol (jemput online)-nya.

Lalu, apa saja sih produk dan layanan Tiki yang membuat kami jatuh hati?

💝Cash On Delivery. Pilihan layanan bayar di tempat untuk pembelanjaan online di beberapa e-commerce tertentu. Pembayaran ini dilakukan saat kurir memberikan barang pesanan/barang saat diterima. Sebenarnya saya menyukai cash less, tapi waktu itu m-banking saya sedang terblokir, jadi saya memilih COD saja. 

💝E-signature, tanda tangannya secara digital pada saat terima paket. Ini saya lakukan sebelum pandemi, kalau saat pandemi begini biasanya kurir cukup memfoto barang saja.

💝Drive Thrue, gerai pengiriman barang yang memudahkan pelanggan melakukan pengiriman barang atau dokumen tanpa turun dari kendaraan dan buka selama 24 jam, lho. Tiki adalah pelopor dalam layanan ini. Kalau layanan ini baru ada di Jakarta, Duren Tiga, TB Simatupang dan di Pekanbaru. Kebetulan suami pernah menggunakan layanan ini untuk mengirimkan dokumen kantor di daerah TB Simatupang.

💝Email Notification, saya mendapatkan email pemberitahuan saat barang dikirimkan. Saya kira cuma saya saja yang mendapatkannya, ternyata yang menerima kiriman barang saya juga mendapatkan notifikasi di emailnya (kalau saya menuliskan di awal) saat barang tersebut diterima. Hal ini memudahkan tracking :). Selain ada email  notifikasi, sebenarnya saya juga bisa mengecek resi secara real time. Jadi nggak was-was karena bisa memantau posisi barang ada dimana.

💝Ada layanan asuransinya. Tiki juga memiliki layanan asuransi untuk tiap-tiap barang yang dikirimkan. Hal ini memberikan perlindungan untuk setiap paket saya dan sekaligus menambah keamanan saat pengiriman barang. 

💝Jempol gratis. Nah, layanan ini oke banget menurut saya. Karena berbasis aplikasi yang memudahkan penjemputan paket secara gratis tanpa pungutan biaya dari mana dan kemana saja tanpa minimum berat. Jadi, pembayaran ongkos kirim baru dilakukan kalau kurir menjemput barang ke rumah. Praktis kan? Apalagi di masa pandemi gini, kita nggak perlu keluar rumah buat kirim-kirim barang. Tinggal klik-klik dari rumah.

Buat yang di area Jakarta lebih mudah lagi, lho. Ada layanan PUTAR (Jemput Antar)! Layanan berbasis via whatsapp yang tentunya lebih mudah dalam mengirimkan paket dengan durasi pengantaran maksimal 3 jam. Bagaimana nggak jatuh cinta sama Jakarta kalau kayak gini coba? ehehehe.

Bertahan di Saat Pandemi

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, beberapa teman saya beralih berjualan online saat pandemi ini. Apa saja dilakukan untuk bisa bertahan di masa pandemi yang entah kapan selesainya. Apalagi kebijakan PPKM tambah panjang lagi. Memaksa kita di rumah, tapi dapur tetap mengepul :(.

Saling support satu sama lain agar setidaknya kita selalu waras melalui hari demi hari. Kemarin sempat ada yang tanya, "Goals kamu bulan ini apa aja, Ay?". Saya termenung dan tercekat sejenak. Karena saya sempat merasa bingung mengatur ekspektasi *cry*. Satu per satu sahabat terkonfirmasi covid. Rasanya campur aduk jadi satu. Jadi merasa takut untuk menentukan goals apa saja, karena bisa sehat dan waras sama anak-anak adalah hal yang luar biasa yang saya syukuri.

Pelan-pelan saya menguraikan perasaan. Tidak denial lagi. Kalau lagi sedih ya sedih, tidak pura-pura merasa harus kuat. Lalu mulai membantu teman-teman yang terkena dampak Covid dengan mengumpulkan dana bantuan melalui KEB (Komunitas Emak Blogger). Hal-hal seperti itu membuat saya lebih nyaman dan tenang.

Selain itu, saya juga mengirimi hampers atau bingkisan sebagai tanda cinta dan bentuk peduli. Isinya bisa macam-macam; kue, sembako atau kebutuhan lain yang dijual teman-teman circle saya. Lagi-lagi Tiki memudahkan saya untuk pengirimannya. Saya memilih #PakeTIKIAja karena memang layanannya benar-benar memuaskan. Saya #BeraniBerubah agar bisa melalui masa pandemi dengan baik. Salah satunya dengan membantu, menguatkan satu sama lain. Sekadar menanyakan kabar, memberikan virtual hug lewat whatsapp, ternyata itu bisa membuat hati meleleh.

#MakePeopleHappy dengan hal-hal sederhana yang ternyata bagi mereka saaaangat berharga.





Read More »

A letter to you

Mengenalmu, seperti bercermin tentang aku...


Kedekatan kita sekarang ini, bukan karena dibuat-buat, meski seringkali orang lain mengira kita janjian, entah dalam memilih sesuatu atau memutuskan sesuatu. Padahal itu lebih karena banyak kesamaan yang ada pada kita, terutama tentang nilai dan rasa.

Dulu, kita teman sebangku saat di kuliah tingkat satu. Aku masih ingat saat kamu menginap di kostku, bercerita ini itu. Sesekali mengantarmu naik bis Atmo. Memilih pekerjaan ini, aku juga tidak tahu kalau akan bertemu kamu seperti de javu. Mengulang hal-hal dulu. Apakah kamu tetap sama? Iya batinku. 

Akreditasi beli blezer bareng, mungkin baru kupake dua kali :D

Demi apa naik bis coba? Ahahah

Kalau mendapat teman yang baik adalah rejeki. Menjadi sahabatmu adalah rejeki terbaikku. Aku bisa menceritakan hal yang baik-baik maupun yang aku rasa tabu jika bercerita dengan yang lain. Tiga tahun terakhir aku mengingat, apakah kita berdua pernah berselisih paham? Dan aku tersenyum, terharu, karena jika pun ada, itu bukan prinsipil. Itu hal minor yang tidak menggoyahkan hubungan kita. Aku dan kamu tidak pandai berpura-pura, karena rasa yang bertaut andil bicara.

Diuji Waktu

Persahabatan akan diuji waktu. Mulai level ceceremes sampai yang pelik. Seberapa tangguh, seberapa kokoh, apakah kita akan lulus sampai akhir? Aku tidak akan pernah jumawa menjadi sahabat baikmu. Karena aku bisa saja terpleset, latah dan keliru. Tapi, aku harap kamu berani menegurku, memberikan puk-puk agar aku bisa ingat dan kembali.

Sampai sejauh ini, aku tidak akan pernah meragukan pilihanmu. Termasuk memilih nggak pake whatsapp dan kita hanya sms atau telpon saja, wkwkwk. Ketika orang lain menganggapmu weird memilih itu, aku tidak sama sekali. Bukankah itu mengingatkan kita sepuluh tahun lalu? Saat pesan sms begitu berharga dan justru lebih merekatkan kita?

Ujian pekerjaan tidak kalah menantangnya. Bagaimana kamu bisa memahami posisiku dan bisa mengambil alih peranku saat aku tidak mampu. Tidak sungkan menawarkan "Apa yang bisa dibantu, say?". Di detik-detik persalinan keduaku, kamu bahkan menanyakan apa yang bisa dilakukan untuk mengisi tangki oksitosinku agar gelombang cinta itu datang. Seakan tanla diaba-aba ketika pagi itu aku sedang badar melahirkan Ben. Kamu mengirimkan whatsapp dan pesan sms untuk menanyakan kabarku, memastikan aku baik-baik saja. Padahal aku tidak pernah sekalipun bercerita kalau aku sedang gulana mempersiapkan rasanya nyaman di tiap kontrasiku.


Di titik ini, aku sangat berterima kasih sekali. Karena aku memilikimu. Lagi-lagi kalau masih ada kuis who wants to be a millionaire, dan aku disuruh memilih opsi bantuan. Selain fifty-fifty, aku akan memilih phone a friend. Kamu yang aku tuju.

Kamu pernah bilang rusuh sekali tidak punya mbanking. Dan aku selalu lantang kalau kamu boleh tidak punya mbanking, tapi kamu msih punya aku yang punya beberapa, dan kamu bisa memakai aku sebagai tangan kananmu kapan saja sebagai mbankingmu. Kamu boleh rusuh dan berpeluh mengurus anak tiga. Berjibaku dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Jika kamu ingin *pause* sejenak dari hiruk pikuk itu dan ingin egois sebentar menjadi diri sendiri, kamu kapan saja bisa menelponku, menumpahkan rasa apa saja. Dan aku akan menyimak dan mendengarkan tanpa menjedamu.

Sering aku membatin sesuatu, dan kamu pandai mengutarakannya dengan bicara. Kamu seperti bisa membaca isi hatiku yang aku pendam dan abaikan. 2 momen manis yang mungkin sangat berkesan dan aku selalu mengingatnya. Satu, saat kita berdua ke Arjes muter-muter sambil tertawa gila karena nyasar pakai gmaps, padahal harusnya kamu bisa saja kesal karena aku sudah percaya diri tau jalannya. Dua, ketika kita berdua awalnya tidak ingin mengikuti parade busana, tapi di detik terakhir kita memutuskan menyewa baju. Kita tidak janjian pakai baju apa dan menyewa pun di tempat berbeda. Dan voilaaa, kita memilih baju dayak yang sederhana. Beberapa langsung nanya "Kalian berdua janjian?" *manis banget*.

Pas acara ini kenapa kita ga foto yang proper ya? Wkwkwk


Dear Yuni,

Masih banyak yang ingin kutuliskan dan ceritakan sebagai nostalgia, tapi mungkin tidak akan pernah cukup. Jalan kita masih panjang dan mungkin akan diuji waktu. Please, hold my hand.

Hari ini, aku ingin berterimakasih, karena kamu dilahirkan dan dipertemukan dengan aku. Tetaplah menjadi baik, Dear! (Ngetik ini aku mewek *cemen bener emang*). Baik dalam tutur dan lakumu. Kalaupun berubah, semoga tetap dalam kebaikan.

Ya Allah, sayangi dan cintai ia. Sahabat baik yang sering mengingatkanku untuk selalu berjalan di jalan-Mu. 

Semoga Allah memberikan penjagaan terbaik buat Yuni. Peluk! 

Love-Ayaaa.


Read More »

Ibu yang tenang

Beberapa hari ini, Ray terasa gloomy. Nangis tanpa sebab, teriak kencang-kencang untuk meluapkan kekesalan yang entah kesal kenapa. Dan memancing hal-hal yang membuat saya marah. Saat itu, saya ingin memeluk-meluk Ibu saya yang sedang menunggu Bapak di rumah sakit. 2 hari ditinggal Ibu, rasanya waktu berjalan aaaaamat lambat. 


Ray dan Ben menangis bergantian, dan Ray memaksa untuk minta gendong gantian. Dari awal memiliki Ben, saya berjanji untuk tidak akan memaksakan Ray tumbuh dewasa sebelum waktunya. Dia masih ingin dan butuh saya di sisinya. Jadi ketika dia ingin ditemani bermain, padahal saya sedang memegang adiknya, saya harus memasang rem pakem agar tidak marah dan tidak memaksa Ray untuk mengerti keadaan saya. Biasanya saya hanya bilang "Sebentar ya Mas, beri Ibu 5 menit biar adik Ben kenyang menyusu. Setelah itu, Ibu akan menemani bermain sepuasnya".

Saat hatinya sedang lega, Ray akan riang menerima dan dengan senang hati menunggu. Tapi kalau pas saya lagi apes, Ray tidak akan memberikan waktu saya. Endingnya bisa ditebak. Nangis!

Menjadi Ibu yang tenang

Saya remidi berkali-kali tentang ini. Tapi, saya tidak akan jera untuk mencoba lagi. Karena menjadi Ibu yang tenang saaaaangat berpengaruh di semua lini. Mengasuh jadi kalem, ngadepin tuntutan banyak orang tidak akan gentar. Tuntutan? Iya. Sadar atau tidak, beban seorang Ibu bisa 3x lipat dibanding bapaknya dalam pengasuhan anak. Kan kampret! *duh misuh kan*.

Kalau lahiran scesar, salah ibu. Anak minum sufor, salah ibu. Anak pilek, salah ibu *minum es terooooos*. Pokoknya seakan-akan tanggungjawab anak itu mengarah pada ibunya. Kan kampret ya! *tuh kan misuh lagi*.

Balik lagi saya mau curhat (perasaan daritadi kan curhat yhaa). Saya sempat kehilangan kendali karena semua bertumpu pada urusan anak-anak. 24 jam hanya gantian pegang Ray dan Ben.

Cari bantuan

Masih ingat kuis who wants to be a millionaire? Duh ketahuan angkatan lama ya, wkwk. Ada 3 pilihan bantuan yang bisa diambil. Fifty-fifty, ask the audiens dan phone a friend. Dalam posisi ini, saya memilih opsi phone a friend. Mencet nomer sahabat saya yang punya anak tiga. Pengen cari geng sambat biar nggak merasa sendirian.

Btw, kalau kalian mengalami hal yang sama, jangan sungkan cari bantuan. Capek itu manusiawi, apalagi momong bocah yang lagi aktif-aktifnya. Cari bantuanpun harus yang sefrekuensi. Jangan sampai kalian sambat tapi malah patah hati karena mendapat feedback yang bikin ambyar berkali-kali.

Don't judge, please!

Punya anak membuat saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah saya lebih open minded dan tidak langsung menjustifikasi orang lain, terutama ibu baru. Saya nggak masalah sesar vs normal, sufor vs asi atau hal-hal lain yang pada dasarnya sudah beda dan endingnya hanya akan saling menyakiti perempuan.

Mengurus anak-anak itu capek. Jadi, ketika ada yang mengeluhkan hal itu, cukup dengarkan dan tidak perlu menjustifikasinya ini itu. Begadang, rahimnya yang masih basah bekas jahitan, payudaranya pecah-pecah tapi tetap harus menyusui. Rasanya tidak fair harus dibebani dengan menolak rasa capeknya.

Ketika kalian sedang merasakan fase hal ini, peluk jauh ya. Pelan-pelan, nggak perlu buru-buru melakukan sesuatu. Beri ruang jeda sejenak agar lebih legaan. 

Ambil napas lebih panjang dan rasakan sensasi tenang dalam dirimu. 

Read More »

Mastitis yang bikin patah hati

Rasanya melahirkan 4.3 kilo itu berasa chill aja. Diajak begadang pun, hayuk sih. Ray seakan jadi ospek banget buat menjadi ibu yang tenang. TENANG ya, bukan BAHAGIA. Karena seabsurd itu makna bahagia.



Habis lahiran pun asi alhamdulillah juga langsung keluar. Ben nyusu kenceng dan tidur nyenyak. Jahitan dua agak perih, tapi tidak sesakit waktu pertama kali melahirkan.

Semua berjalan sampai suatu ketika saya harus menghadapi mastitis. Badan demam, payudara bengkak tapi ga bisa keluar. Mau berdiri rasanya kepala diputer sakit banget. Ya Allah :(

Dua minggu perasaan cuma mbatin aja kalau, kok ga ada hambatan berarti ya lahiran kali ini? Wkwkwk. Lalu dibayar tunai dengan dikasih mastitis.

Treatment

Karena saking sakitnya saya sampai nangis, huhu. Seharian bed rest. Sesekali Ben nyusu, itupun nyeri banget. Akhirnya saya minum pereda nyeri, bagian payudara dikompres pake air anget sama es bergantian sambil dipijat pelan. Saya search youtube bidan kita buat praktik tentang pijat ini. 

Lumayan enakan tapi nyerinya masih ada. Saya benar-benar pulih sekitar 3 harian. Udah ga mau mbatin neko-neko lagi ah. Nantangin pas dijabanin berasa nangis-nangis. Wkwkw

Buat Ibu menyusui, semangat ya! Lulus asi ekslusif dan terusin sampe anak bosen :p.


Read More »

Nostalgia Beternak Sapi

Di suatu siang, Yuni, sahabat karib saya nyeletuk kalau suaminya ingin beternak sapi di Boyolali. Entah kenapa, kami punya banyak kesamaan taste, sehingga obrolan kami selalu nyambung. Meskipun belum paham topiknya, salah satu diantara kami pasti menjelaskan sehingga kami sefrekuensi untuk membahas. Obrolannya pun random, dari mulai kerjaan kantor yang serius sampai hal random merk kiteks, ahaha.

Nah, kemarin sore kok ya Mas Jundi bilang kalau ada niatan mau ternak sapi lagi. Di tengah pandemi begini, apapun usaha memang perlu dicoba. Meski sekali, dua kali bahkan berkali-kali gagal karena terkendala beberapa hal. Seperti halnya keinginan beternak sapi lagi. Mau ditaruh dimana kandangnya? Pertanyaan yang paling mendasar dan membuat kami tertawa geli.

Kalau ternak kambing gimana, Mas? Mas Jundi memberikan jeda sejenak untuk menjawab. Tapi sepertinya dari gesturnya, beliau kurang minat. Sebenarnya di rumah kami, Mas Jundi sudah membudidayakan burung. Hampir sepuluh tahun beliau menekuni ternak jalak, lovebird dan muray.


Nostalgia beternak sapi

Bapak sangat memperhatikan pendidikan kami, sehingga kami berempat tuntas menyelesaikan S-1. Beliau tidak peduli dan tidak iri dengan teman-temannya yang memiliki rumah bagus, motor dan mobil yang pada masa itu masih termasuk barang mewah. Yang menjadi prioritas Bapak adalah menyekolahkan kami sampai perguruan tinggi. Ibu yang notabene Ibu Rumah Tangga juga mendukung penuh hal tersebut. Kalau dipikir-pikir, mana cukup gaji seorang guru untuk membiayai kuliah 3 anak. Waktu itu Mas Agus, Mas Jundi dan Mas Joko seperti berbarengan buat biaya pendidikan. Jadi, Bapak Ibu tidak hanya mengandalkan gaji, tapi mengolah sawah dan beternak sapi adalah jalan ninjanya, ahaha.

Keluarga kami pernah punya 4 sapi. Kandangnya pas di depan rumah lama, sebelum kami berpindah di rumah baru karena gempa di tahun 2006 lalu. Mencari rumput dan jerami dan menumpukan untuk cadangan makanan, rutin memberi minum pagi dan sore. Rasanya rutinitas itu sangat membekas buat saya. Karena setiap jadwal membayar SPP, sapi yang paling gemuk dijual. Lalu Bapak membeli sapi kecil untuk diternak lagi. Beternak sapi seperti investasi kala itu.

Hal yang paling tidak mengenakkan adalah saat kami sekeluarga merelakan salah satu sapi kesayangan mati karena sakit. Padahal sapi itu gemuk dan sudah ditawar dengan harga tinggi. Huhu.

Butuh Dokter Hewan Andal

Rumah kami belum familiar dengan dokter hewan yang andal. Hanya ada mantri yang kebetulan waktu itu sedang keluar kota. Jadi apesnya tidak bisa memberikan pertolongan pertama pas sapi hanya duduk diam saja *cry*. Trus sorenya udah mati, huhu. 

Coba kalau sekarang ya, dokter hewan setidaknya sudah tidak langka lagi. Bahkan memelihara kucing atau anjing sebagai hobby sudah marak dilakukan oleh orang di sekitar sini. Kalau kucingnya sakit, langsung bergegas ke dokter hewan terdekat. 

Musim pandemi begini, kalau mau konsultasi dokter hewan bisa secara online lewat aplikasi halodoc. Ada banyak dokter hewan andal yang praktik disana. Langsung berandai-andai kalau duluuuuuuu sudah kenal aplikasi ini, pasti  bisa langsung konsul langsung ke dokter sebagai pertolongan pertama pada sapi kesayangan kami.

Ah iya, buat daftar aplikasi halodoc juga mudah banget lho. Pakai no handphone, verifikasi, selesai deh. Bisa pilih dokter sesuai dengan kebutuhan. Buat yang suka memelihara hewan kesayangan atau ada yang beternak hewan, bisa mengandalkan aplikasi ini kalau ada keluhan sama hewan kesayangannya.

Read More »

Cerita Work From Officeku


"Bu, saya kangen kuliah di kelas", beberapa mahasiswa saya whatsapp demikian. 

Untuk pertanyaan-pertanyaan seperti itu, saya masih bisa memberikan balasan yang mungkin melegakan mereka. Tapi, ada satu hal yang tidak bisa jawab kalau mereka bertanya.... 

"Kuliah daringnya sampai kapan ya, Bu? Huhu". Korona benar-benar membuat patah hati banyak orang. Aturan work from home dan school from home memaksa para siswa, pendidik dan orangtua untuk mencari xona nyaman mereka sendiri. Honestly, saya belum menemukan metode kuliah daring yang pas banget. Masih harus custom sana sini biar materi yang ingin diberikan bisa sampai ke mahasiswa. Saya pun sering membuat kuesioner tentang metode mana yang paling nyaman untuk mereka. 

Cerita Work from Office-ku

Kampus memang masih membatasi kegiatan, tapi ada beberapa hal yang mau tidak mau harus diselesaikan langsung dan tidak cukup via whatsapp atau zoom saja. Kondisi ini membuat saya harus jeli sekali mempersiapkan segala hal. Pertama mengkondisikan Ray agar tetap memiliki mood yang bagus saat ditinggal kerja. Dan saya tetap bisa fokus menyelesaikan pekerjaan di kampus meskipun masa pandemi.

Selain mengurusi akreditasi, alhamdulillah ada penelitian hibah yang lolos. Saya juga punya PR untuk menyiapkan perkuliahan daring yanh insya Allah akan dimulai Agustus. Oh iya, sebenarnya kampus masih menerapkan pembatasan aktifitas, bahkan lockdown karena ada yang positif covid *cry*. Tapi yhaaa, kalau urusan administrasi bisa disulap jadi online semua, pasti saya happy banget. Makanya work from office ini saya lakukan jika memang benar-benar mengharuskan dikerjakan di kampus.

Ada 5 hal yang saya lakukan ketika harus work from office di masa pandemi gini. Saya melakukannya selain mematuhi protokol kesehatan, saya juga ga bolak balik kampus karena ada pekerjaan yang tercecer untuk ditunaikan. 

1. Menuliskan task

Kalau misal besok saya tahu disuruh berangkat ke kampus untuk menyelesaikan dokumen, malam sebelumnya saya menuliskan beberapa task yang pending. Sehingga di hari tersebut saya bisa menyelesaikan semuanya.

2. Menggunakan kendaraan pribadi

Sebelum pandemi, kereta api adalah transportasi andalan saya. Selain hemat waktu, saya juga menghemat tenaga karena bisa duduk nyaman tanpa khawatir mual dan muntah. Apalagi sekarang ada kereta bandara yang harganya sama dengan prameks, saya makin dimanjakan banget karena saya nggak perlu berebut tempat duduk dan fasilitas AC yang cukup dingin.

Tapi di masa pandemi ini saya belum pernah naik kereta atau bisa saat ke kampus. Pilihannya hanya 2; bawa motor sendiri, atau diantar suami membawa mobil. Kalau nggak banyak kerjaan, biasanya saya membawa Ray dan nginep di rumah Solo sekalian bersih-bersih rumah.

3. Mematuhi protokol

Memakai masker merupakan hal yang biasa saya lakukan. Bahkan sebelum pandemi, saya sering membeli masker warna warni dan memakainya saat bepergian agar terhindar dari sengatan matahari dan debu. Sejak Maret lalu, memakai masker bukan lagi menjadi pilihan, tapi kewajiban. Saya pun membiasakan Ray untuk memakai masker saat harus ikut ke area publik.

Mencuci tangan dan mengusapkan hand sanitizer juga menjadi kebiasaan yang kami terapkan. Saya yang sering latah mengusap wajah dengan tangan, nggak sengaja mengucek mata dan makan menggunakan tangan tanpa sendok membuat saya lebih aware untuk rajin mencuci tangan. Hal yang tidak kalah penting adalah melakukan social distancing. Saya tidak lagi melakukan salaman, pelukan atau cipika cipiki ketika bertemu rekan kerja. Kami sama-sama menjaga diri saat harus work from office.

4. Bawa perlengkapan sendiri

Membawa minum, alat salat dan barang-barang pribadi lainnya sendiri dari rumah yang sudah jelas kebersihannya. Poin ini bisa masuk menjadi salah satu upaya untuk mencegah penyebaran covid sih. Biar tidak tertular atau menularkan, huhu *sedih banget ngetik ini.

5. Memakai sepatu nyaman

Dari zaman kuliah, saya selalu jatuh cinta sama flatshoes. Enak dan nyaman aja buat melakukan aktifitas. Nah, kemarin pas work from office, saya pakai salah satu produk sepatunya the warna yang seri el grace black. Ada 5 hal yang selalu membuat saya jatuh cinta sama sepatu the warna.

💖Nyaman di kaki. 

Asli deh, saya secinta itu sama sepatu ini karena nyaman banget pas dipakai. Nggak lecet di ujung jempol maupun tungkai. Karena memang bahan sepatunya the warna menggunakan sol anti licin dan anti slip yang bisa ditekuk.

💖Unik dan etnik. 

Kalau teman-teman suka sesuatu hal yang unik, the warna menyajikan desain sepatu yang tidak hanya unik tapi sangat elegan karena etnik khas budaya Indonesia.

💖Produk lokal

Sssst, the warna itu produk lokal lho! Saya paling suka kalau ada produk lokal yang berkualitas bagus dan berinovasi menghasilkan produk-produk. 

💖Harga kompetitif

Nah, meskipun kualitasnya oke, tapi harga sepatu the warna masih ramah di kantong. Beberapa hari yang lalu sering flash sale di akun instagramnya dengan harga mulai dari 65 ribu. Teman-teman saya pun juga tergiur buat mantengin IG Live-nya, tapi sayang mereka belum rejeki dapat sepatu idamannya, karena tangan netizen pada gercep banget kalo ada flash sale.

💖Ukurannya variatif

Oh iya, buat yang punya ukuran kaki yang besar di atas 42, ukuran sepatu the warna variatif kok. Ada cara mengukur biar kita ga salah pilih sepatu. Misal teman-teman mau beli, prefer diukur dulu kakinya, lalu dicocokkan dengan model sepatu yang kita pilih.

Buat teman-teman yang tertarik dengan bisnis sepatu the warna, bisa cek langsung ke web resellerthewarna.com ya. Saya sih lagi nabung buat beli yang seri sneakernya. Bisa buat jalan-jalan sama Ray. Yuk cintai produk Indonesia dengan pakai the warna, juga :*.

Read More »

Puisi untuk diri sendiri


Rasanya, tidak ada yang bisa menengok masa depan. Meramal apa dan dengan siapa akan melepas tawa.  Tapi setidaknya, saat ini kamu bisa menilik kembali, bahwa yang lalu menjadikanmu lebih tabah berdiri kini.

Untukmu yang tetap tangguh, terimakasih. Kamu mampu belajar dalam sunyi. Merengkuh damai dalam ramai. Sebenci apapun kamu menerimanya, kamu tetap melaluinya dengan sepenuh hati. Iya, kamu yang berdiri tegak di cermin, terimakasih sekali lagi.

***

Sudah berterima kasih pada diri sendiri hari ini? Hebat ya yang mampu beradaptasi di tengah pandemi. Kalo mau ngeluh boleh , banget. Nangis juga ga apa-apa biar lega. Saya sudah tak terhingga melakukannya, ahaha. 

Abaikan orang-orang yang menyuruhmu berhenti mengeluh. Menghambat air matamu untuk menetes. Karena yang tahu pasti tentang hatimu adalah dirimu. 

Peluk! :) 
Read More »

Bahagia Tanpa Pura-Pura

Masuk usia kepala tiga, rasanya saya semakin menyadari bahwa kunci bahagia saya adalah dengan menjalani hidup apa adanya dan tanpa syarat ketentuan yang ribet. Tidak harus begini untuk tertawa, tidak harus begitu untuk menangis. Karena seringkali, alasan untuk tertawa dan menangis sangat beda tipis. Ketika sedang merasa apes, seapes-apesnya, saya bisa menertawakan diri sendiri. Dan di saat yang bersamaan, saya bisa menangis tersedu-sedu. Really, tertawa dan menangis alasannya se-absurd itu. 

Saat merasa hidup kok begitu-begitu saja, ingin bergerak tapi bingung mau memulai darimana, mau melakukan ini itu saking banyak sekali rencana yang berlari-lari dalam pikiran minta dieksekusi duluan. Tapi realitanya kok saya hanya diam di tempat tanpa melakukan apa-apa. Sehingga saya sempat hampir putus asa karena tidak mampu memvalidasi perasaan sendiri. 

Masa Transisi

Ada momen dimana kita berada di masa transisi. Memaksa kita mau tidak mau melewatinya. Untuk menemukan ritme yang pas, kita harus sabar menikmatinya. Kalau flashback, masa transisi saya yang paling kontras adalah saat lulus kuliah S-1.

Keinginan dulu dan sekarang, ternyata beda sekali. Dulu, setelah lulus kuliah S-1, saya mendaftar beberapa aplikasi beasiswa S-2. Ditolak semuanya. Kegagalan berkali-kali membuat nyali dan percaya diri saya terkikis pelan-pelan. Akhirnya, saya memutuskan hijrah ke Jakarta dan bekerja di korporasi. Saya pikir, mimpi saya kuliah lagi sudah pupus, ternyata semakin berapi-api. 

Mengikuti intuisi dan kata hati, saya resign dan kuliah lagi. Semula saya mendaftar kuliah di Jakarta dan Solo, sudah lulus administrasi dan tes keduanya. Bedanya, di Jakarta saya mendaftar beasiswa, sedangkan di Solo saya memakai biaya sendiri. Karena pertimbangan ingin menemani Bapak Ibu, saya memilih kuliah di Solo, tempat dimana sekarang saya bekerja dan insya Allah berkarya.

Saat masuk kuliah lagi, saya seperti menemukan apa yang saya mau. Bertemu dengan teman-teman baru. Membuka impian lama yang sempat tertunda. Saya mulai percaya diri lagi menyusun mimpi. Berani mencoba hal-hal baru. Menemukan wadah blogging sebagai healing. Lewat blog, saya memiliki banyak kesempatan untuk bekerja mobile. Sangat mengasyikkan 3 tahun menjadi freelancer—saya dibayar atas hobby yang saya tekuni. Menulis!

Saya mengacuhkan asumsi orang-orang yang mengira kalau bekerja dari rumah adalah pengangguran. Honestly, hidup apa adanya tanpa mempertimbangkan berisiknya omongan orang, ternyata sangat membahagiakan. Pelan-pelan memahami kalau bahagia itu tanpa syarat ketentuan

Bahagia Tanpa Pura-Pura, Simak ini nih Tipsnya!

Trus, caranya tetap bahagia tanpa pura-pura apa, sih? Berdasarkan pengalaman, 7 hal ini yang saya lakukan untuk lebih mengenal diri sendiri apa adanya. Sehingga saya benar-benar menyadari dan memvalidasi perasaan yang saya alami. Oh iya, saya sedang galau. Duh sebentar lagi PMS, nih *senggol bacok. Kok tiap ketemu dia yang auto nyebelin, energinya jadi nular jelek ya? Pokoknya beneran tahu kondisi diri sehingga mudah untuk on the track kalau merasa keliru.

Adaptasi dari masa transisi

Setiap orang mengalami masa transisi yang berbeda-beda. Ada yang hanya butuh waktu sebentar untuk mengatasinya, pun ada juga yang memerlukan waktu serta proses panjang untuk menemukan titik balik. Masa transisi itu bisa terjadi ketika kelulusan, menikah, melahirkan atau saat mengalami perubahan hidup yang krusial. 

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kalau masa transisi terhebat saya adalah ketika lulus S-1. Awalnya menolak kenyataan karena gagal berkali-kali dan tidak sesuai rencana yang saya impikan. Lama-lama saya beradaptasi dan menerima diri sendiri, kalau gagal itu tidak apa-apa. Dicoba lagi, lagi dan lagi. Akhirnya yang awalnya gagal trus nangis, setelah berkali-kali mengalami justru menertawakan diri sendiri. 

Merunut lagi, kegagalan-kegagalan di masa lalu tidak sepenuhnya gagal. Ternyata kepingan gagal itu sangat saya syukuri sekarang ini. Ah untung waktu itu saya gagal ya, kalau enggak, pasti saya nggak dapat ini/bisa seperti ini, batin saya.

Apa teman-teman juga pernah mengalami masa transisi dalam hidup? 

Belajar
Ray ikut belajar sama Ibu :)
Rasanya ini klise sekali, tapi mau gimana lagi? Kalau misal belum bisa, ya dipelajari sampai bisa. Dicoba dulu, trial error. Awalnya mungkin kesulitan, karena memang belajar hal baru butuh tekun. Musuh besarnya adalah malas. Prinsipnya adalah baca-coba-tanya (pada ahlinya). Entah kenapa saya suka banget kalau disuruh belajar, ahaha. Kadang suka iseng aja menawarkan diri “apa yang bisa dibantu?”. Padahal saya belum tau bisa membantu atau tidak. Yang saya yakin adalah semua hal bisa dipelajari kalau kita mau.

Kalau sudah belajar tekun terus tetap nggak bisa bagaimana? Ya gak apa-apa dong, ahaha. Saya berkali-kali latihan nyetir mobil sampai sekarang belum bisa-bisa *toyor diri sendiri, ahaha. Tapi saya nggak kapok nyobain lagi dan lagi. 

Process is a key
Nikmati prosesnya dan tidak melulu terpaku pada hasil

Saya bukan tipe orang yang percaya sepenuhnya pada pepatah “Tidak ada hasil yang menghianati usaha”, ahahaha. Ada lho fase dimana saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa, menerapkan teori-teorinya dengan seksama, tapi hasil akhirnya ternyata menghianati saya. 

Saya mengubah persepsi kalau “kegagalan adalah jawaban yang terbaik”. Ada kesempatan lain yang menunggu, atau ada hal yang harus saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Sejak itu, saya mulai menghargai proses. Kunci prosesnya adalah usaha dan doa dioptimalkan, lalu digenapkan dengan tawakal. Simpel!

Fokus kembangkan potensi

Di setiap sesi wawancara kerja, ada pertanyaan yang membuat saya termenung lama. Apa kelebihan dan kelemahanmu? Beneran saya bisa lamaaaaaa sekali menjawabnya. Seringkali kita terpaku dengan kelemahan-kelemahan kita dan mengabaikan hal lain yang bisa menjadi potensi untuk dikembangkan.

Again, saya mulai pelan-pelan untuk fokus dengan apa yang menjadi kemauan saya. Menentukan goal saya agar lebih terarah. Tapi kali ini saya mulai bisa mengendalikan dan tidak memaksakan diri seperti dulu. Kalau capek berhenti sejenak, tidak diforsir. Pas merasa sudah mulai ngegas karena capek, pikiran dan hatinya diajak kalem dengan meditasi. Ah, ternyata bahagia memang sesederhana ini tanpa tapi.

Mencari peluang dan kesempatan

Kalau saya mulai bosan dengan rutinitas dan ingin upgrade skill, biasanya saya mulai mencari peluang untuk bergabung dengan komunitas. Dengan bergabung dengan komunitas, kita akan memiliki banyak informasi tentang hal baru yang kita tekuni. Kalau dulu saya suka ngeblog hanya suka-suka, saat menekuninya, saya mulai bergabung dengan beberapa komunitas dan dari sanalah muncul beberapa peluang dan kesempatan. 

Kesempatan memang seringkali tidak datang dua kali. Tapi jika memang belum rejeki, saya yakin akan datang kesempatan yang lebih baik lagi. 

Be your self


Ada kalanya saya merasa minder, huhu. Terlalu menuntut diri sendiri untuk bisa ini itu. Nah,  pas selesai kelas daring kemarin saya isi paket data IM3 Ooredoo yang kebetulan lagi ada promo. Trus melihat cuplikan video terbaru IM3 Ooredoo hati saya meleleh



Bagaimana hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan membuat kita menjadi lebih ringan. Fokus pada diri sendiri membuat saya memahami, oh iya ternyata bahagia sesimpel ini. Just be yourself!

Bahagia ada di kamu

Bahagia itu kita yang punya! Mereka tidak berhak merenggutnya. Mau kerja di kantor atau rumah. Kamu bisa mengatur sendiri bagaimana cara bahagia dengan mengubah-ubah sedikit ekspektasi dan persepsi.

Dari pagi udah mengatur posisi “happy” tapi ambyar berkeping-keping karena sikap relasimu nyebelin? Yaaa, jangan dibawa sampai hati. Misal ada relasi yang whatsapp dengan isi yang super nyebelin, cukup sebelnya ‘sampai mata. Kalau nyebelinnya via telepon, cukup didengarkan sampai telinga. Sisanya buang ke tempat sampah, tidak perlu dibawa sampai hati. Kalau kepepet dan tidak mau diganggu, kamu berhak menutup akses sementara biar “rasa nyebelinnya” berlalu dulu tanpa mengganggu.

By the way, saya masih beradaptasi dengan masa transisi akibat korona. 2 minggu pertama membuat saya galau karena masa transisi dari work from office berubah menjadi work from home. Semua aktifitas dilakukan di rumah! Aktifitas belajar mengajar, koordinasi penelitian dan segala keperluan kantor dilakukan secara daring.

Dengan akses internet yang cepat, saya dapat menyelesaikan job desk saya dari rumah. Alhamdulillah ada IM3 Ooredoo yang mengerti kebutuhan saya. Ia menghadirkan lini produk telekomunikasi yang simple dan bebas syarat ketentuan seperti Freedom Internet yang setia saya gunakan sampai sekarang. Seratus persen kuota utama yang bisa digunakan 24 jam di semua jaringan tanpa pembagian waktu. Fitur pulsa save-nya juga membuat saya tetap nyaman internetan meski kuota habis terpakai. Bisa diaktifkan dengan telepon *123# dari handphone atau melalui aplikasi myIM3.







Read More »