Featured Slider

Tampilkan postingan dengan label tentang Ray. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Operasi Adenoid pada Ray

Menjadi Ibu mengajarkan saya banyak hal, salah satunya mengasah intuisi. Intuisi tentang anak-anak yang ketika orang lain bilang "itu ga apa-apa" "itu biasa aja", tapi ternyata tidak menerima begitu saja. Hatinya menekan dan memberi clue kalau ada yang tidak beres, tetapi di sisi lain juga mengharapkan bahwa anak-anaknya tidak kenapa-napa

Tentang Adenoid

Ray selalu memberikan saya ruang untuk belajar hal yang baru. Sekaligus memberikan kesempatan untuk "memutuskan" hal besar. Tidak hanya kali ini, bahkan saat masih bayi, saya memutuskan Ray untuk disunat karena ada fimosis. Saya pernah menuliskannya disini dan disini. Disaat sunat bayi masih dianggap hal yang masih tabu. Keberanian pertama yang diajarkan Ray saat itu, membuat saya lebih berani dan tidak ragu untuk memutuskan khitan pada Ben dan Sea saat bayi.

Kembali tentang adenoid. 3 tahun lalu, Ray sering batuk pilek berulang, tidur ngorok, dan sering bernapas memakai mulutnya daripada menggunakan hidunya. Ditambah lagi dia sering mengeluhkan sakit di telinganya. Saya sempat membawa ke 3 dokter THT yang berbeda hingga cocok dengan treatment dan penjelasan dr. Pramavita Nur Junieva yang berpraktik di Chakra Husada. 

Adenoid Ray stadium 3 dari 4, sehingga napasnya berat banget

Pemeriksaan THT tidak nyaman sekali, tapi Dokter Eva bisa membuat Ray mau pelan-pelan untuk dilakukan endoskopi di hidungnya. Meskipun berlinang air mata, Dokter Eva tidak pernah sama sekali menjudge apapun. Rekomendasi untuk operasi sebenarnya sudah sejak dari tahun lalu, tapi Ray menolak. Saya juga masih bimbang dan mencoba pengobatan dulu. Beberapa kali kembali periksa, Dokter Eva juga lebih menenangkan untuk menunggu kapan kami siap. Adenoid Ray sudah derajat 3 dari 4 sehingga oksigen tidak bisa masuk sempurna.

Keputusan tentang Operasi

Ray mengeluhkan sesak napas, hidungnya mampet tapi bukan karena pilek, sehingga napasnya dominan memakai mulutnya. Jadwalnya kayak kejar-kejaran. Sebelum berangkat riset ke Jakarta, saya menjadwalkan operasinya. Saya mendoakan semoga bisa dapat jadwal setelah pulang riset dan sebelum puasa dimulai. Akhirnya diputuskan hari Jumat, 13 Februari.

Selama saya di Jakarta, Ray meminta video call, menanyakan kapan operasi dan cerita betapa takutnya dia sama jarum suntik. Seperti biasa saya memberikan puk-puk dan pemahaman, kalau sakit nangis tidak apa-apa, ibu akan memeluk dan menemani. Yang membuat dia berani, sebelumnya dia sudah melihat kedua adiknya diinfus karena sakit DB dan tipes. Saya menawarkan boleh main game ketika di Rumah Sakit sambil menunggu operasi dimulai. 

Kamis, 12 Februari saya baru sampai di rumah, Ray masih sekolah seperti biasanya. Saya packing lagi untuk ke Rumah Sakit esok harinya. Saya sounding sama Ben dan Sea kalau besok Masnya akan disuntik di tangan seperti mereka kemarin. Mereka berdua pun patuh dan tidak ada yang protes untuk ikut. Yang tidak kalah tricky adalah sounding sama Ray. Memvalidasi rasa takutnya, meneguhkan kalau operasi ini insya allah akan berjalan lancar untuk kesehatannya.

*ngadepin anak-anak keluar masuk rumah sakit membuat saya lebih bisa menghargai tentang waktu kebersamaan. Saya menganggap, ini adalah intimate dengan masing-masing anak saya dan satu per satu, hal yang sebelumnya saya lakukan secara bersamaan kemana-mana.

The Day!

Saya membangunkan Ray untuk mandi dan shubuh karena kami harus sampai di Rumah Sakit jam 06.00. Saya pikir prosesnya akan cepat, ternyata yang antri operasi hari itu juga banyak. Sampai jam 08.00 kami belum dipanggil untuk pemeriksaan, akhirnya saya menyuapi Ray soto kering sebelum dia puasa. Jam 10.00 baru diperiksa oleh dokter sebelum masuk ke ruangan. Jam 11.00 ke ruangan bangsal untuk infus. 

Suami menandatangani persetujuan operasi
Pemeriksaan dokter umum sebelum masuk ke bangsal
Ray masih santai prosesnya, asyik main game dan apprecite karena diinfus dia bisa tenang
Pertama kali mengajari Ray salat duduk dan berbaring

Jam 12 Ray saya keloni buat tidur siang. Meski menolak berkali-kali dan bilang ga bisa tidur siang, saya terus membujuknya dan akhirnya dia pulas. Setelah bangun dan dhuhur, tidak lama perawat meminta Ray berganti baju dan diantarkan ke ruang operasi. Dokternya jempolan ramah semua. Saya diminta memakai baju, diberi masker dan pelindung kepala. Saya pikir saya hanya mengantar sampai depan ruangan saja, ternyata saya diperkenankan untuk masuk sampai Ray selesai dibius. 

Ray sudah ganti baju dan siap ke ruang operasi di Lantai 6

"Agar anaknya lebih tenang kalau ditungguin Ibunya", kata dokter.

Saya memeluk Ray, wajahnya berubah pias. Dokter dan saya menenangkan. Seluruh obat dan bius dimasukkan melalui infus. Ada salah satu suntikan yang mirip seperti susu disuntikkan terakhir dan tidak lama Ray pelan-pelan terlelap. Sebelum dipersilakan keluar oleh dokter. Saya memeluk Ray dan membisikkan al fatihah di telinganya.

1 jam rasanya lama sekali. Hati saya mulai gerimis, mata saya berair. i cry on. Mulut saya berkomat kamit. Mantra dan azimat paling tinggi adalah doa Ibu. Dan saya menggunakannya selalu untuk anak-anak. Menyebutkan satu per satu. Kali ini, Ray yang membuat hati dan mata saya hangat. Khawatir, berani dan pasrah beradu menjadi satu.

Dokter Eva menyerahkan amandel dan adenoid Ray, hal yang membuat kami takut setahun terakhir

Setelah Operasi

Ray berlinang air mata. Merasakan kesakitan. Biusnya perlahan hilang. Dokter Eva menyerahkan hasil operasinya, 2 amandel dan adenoid berhasil diangkat. Saya memeluk Ray, mengusap airmatanya dan mengepuk-puk badannya. Suara Ray sengau, mungkin ada 1 jam dia menangis. Sampai dipindah ke kamar bangsal pun dia masih kesakitan dan menangis. Saya dan papinya bergantian memeluk dan menenangkan.

Nangis gapapa, ibu peluk. erat.

Dokter berpesan untuk membelikan es krim rasa vanila, tidak boleh selain itu agar bisa membedakan mana darah atau bukan jika terjadi resiko muntah. Minum diperbolehkan kalau Ray benar-benar sadar dari bius agar terhindar dari tersedak. Setelah menangis, Ray tertidur lagi. Agak lama. Sampai Isya Ray masih terlelap. 

Setelah bangun, dia masih merasa kesakitan tapi sudah tidak menangis lagi. Saya memberinya air minum dingin dan es krim. Dari Rumah Sakit diberi air sirup rasa melon dengan es batu. Kalau tidak dalam kondisi sakit, mungkin Ray akan menghabiskannya. Tapi ternyata masih utuh sampai diambil perawat lagi.

Malamnya tidur pulas sekali, sampai infusnya lepas ga terasa

Ray menghabiskan es krim saja. Dan tidur lagi sampai pagi. Setelah subuh, dia minum es krim lagi dan mencoba menghabiskan menu bubur sumsum dari rumah sakit. Ah iya, semalam infusnya terlepas sendiri, akhirnya perawat melepas sekalian. Saya khawatir esoknya akan dipasang infus lagi tapi ternyata setelah visite Dokter Eva bilang boleh pulang. Antibiotik yang sebelumnya diberikan lewat infus, bisa diberikan lewat oral. Alhamdulillah.


Visit Dokter Eva, acc pulang
Breakfast bubur sumsum sama es sirup
Menunggu administrasi selesai, prosesnya sat set. Thank you Chakra Husada :)
Pulaaaaang :)

Allah menakar waktunya pas. Ben bisa les paginya. Sea diantar pakdhe ke Rumah Sakit sama Ibu yang saya yakin semalaman ga bisa tidur memikirkan cucunya. Saya sengaja tidak cerita sebelumnya tentang operasi Ray pada Ibu karena takut kepikiran. Saya langsung meminta doa sebelum berangkat operasinya. Administrasinya selesai, saya membayar di kasir, Ben juga selesai les dijemput papinya. Semuanya pas. Kami bisa pulang sama-sama.

Alhamdulillah

Setelah di Rumah

Ray diresepi sirup anti nyeri dan antibiotik. Saya concern untuk pemulihannya, apalagi minggu tersebut sudah masuk puasa ramadan. Tenggorokannya masih sakit, suaranya masih parau, tidurnya juga masih ngorok. Dan saat kontrol, hal tersebut tidak apa-apa dan wajar. Kabar baiknya, Ray masih mau makan dan minum. Bubur Bingah to the rescue. Bubur dengan paket telur ayam kampung setengah matang. Saya sengaja tidak meliburkan les Benterang, jadi pas Ben les, saya bisa menungguinya sambil we time sama Ray dan Sea.

Sea jadi kesetrum Masnya makan bubur
Makan siang di Serba Sambal, tapi take away bubur bingah dulu

Januari bukan trial,tapi kita sudah memulai berjuang. Ibu tidak tahu seberapa tangguh kekuatan Ibu, tapi untuk kalian, akan Ibu berikan segalanya yang Ibu punya. Ibu belajar banyak sekali. Ibu minta maaf berkali-kali dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Ray Ben Sea, kalian sumber keberanian Ibu untuk mencoba hal baru. Bahkan mencoba meneguk tentang rasa lelah, sedih bahkan kecewa. Sekaligus memberikan kekuatan untuk selalu berjuang meski berkali-kali merasa gagal.

Doa Ibu buat Ray, ya. Tentunya juga buat Ben dan Sea. 

I love you to the moon and back :*
Read More »

Prioritas

Aku tidak tahu, akhir-akhir ini kangen sekali dengan Bapak. Rasanya seperti sesak. Dalam sekali. Menyiapkan sekolah lagi ternyata memang tidak akan pernah siap, padahal sejak 2 tahun lalu, aku telah menyiapkan pondasinya, biar sekolah dan keluarga bisa seimbang. Tapi ternyata, aku masih terbata-bata juga menyesuaikan ritmenya.

Baca juga: Kangen Bapak

Tapi...

Ada perasaan berbeda. Aku tau tujuanku kemana. Sekolah lagi untuk apa. Dan antar jemput anak-anak ke sekolah, yang sebelumnya menguras tenaga dan emosiku, ternyata saat ini menjadi waktu intimate kami. Semacam pleasure untuk mood booster-ku sehari-hari. Aku dejavu beberapa tahun lalu, sebelum berangkat ke kantor, aku selalu muterin Dio dan Dea. Ternyata momen itu berulang kembali pas punya anak-anak. 

My Universe

Aku tahu prioritasku, meski seringkali aku lupa "ini buat apa?", mereka menjadi kompas pengingat bahwa mereka selalu menunggu dengan suka cita di rumah. Berebut pelukan dan ciuman. Nak, mungkin Ibu adalah duniamu. Dan bagi Ibu, kalian adalah adalah segala semesta yang Ibu punya. Semoga Allah seeelalu sayang pada kalian ya, Nak, ya.


Notes:
Hari ini pikiran rasanya penuh sekali, kerjaan tergesa-gesa. DAN PALING BENCI BANGET SAMA PERASAAN NANO-NANO BEGINI. BENGONG DIKIT MEWEK. PADAHAL GA ADA APA-APA. Menyesuaikan ritme LDM rasanya gengges banget. Padahal kalau dekat juga biasa aja, tapi kalau jauh ternyata dicariin. PAPI KAPAN PULANG, BU?* ping sewu. Ibunya njawab dengan nada lembut, padahal sering ambyar juga karena capeknya.

Again, mungkin kita punya banyak hal yang ingin digapai. Tapi aku memaknai tentang prioritas. Paham banget kalau keluarga adalah prioritas paling atas dan rumah ternyaman untuk selalu pulang.
Read More »

Menyapih Ray

Sebenarnya saya sudah diminta Ibu untuk menyapih Ray, tapi entah kenapa kok gagal melulu. Tepatnya, saya belum seniat itu buat menyapihnya. Bahkan pengennya, Ray ga mau sendiri buat nen.

Saya mengenal weaning with love dan berusaha melakukannya juga. Tapi apapun cara Ibu menyapih anaknya, pastilah dengan cinta. Meskipun dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin bedanya pada dramanya. Ada yang no drama, ada juga yang sampai berurai air mata. Yang nangis bukan cuma anaknya, tapi si Ibu juga, huhuhu.

Proses Menyapih Ray

Sounding...

Ga melulu sounding buat menyapih bisa bikin smooth proses penyapihan itu sendiri. Justru buat saya malah bikin Ray makin kenceng nen-nya. Sejak usia 18 bulan, saya sudah menyisipkan cerita soal menyapih ini sama Ray di sela-sela obrolan kami.

"Waaah, Ray sudah besar. Sebentar lagi gak nen Ibu ya. Bisa minum pakai gelas sendiri", nggak sekali, dua kali kalimat-kalimat yang nyrempet soal menyapih saya selipkan. Awalnya Ray belum merespon, tapi lama-lama pas dia mengetahui arti menyapih itu adalah stop nen Ibu, dia makin kenceng nen-nya. Bahkan sempat terlontar "Nggak mau, aku nen Ibu aja" atau "Nen Ibu aja ya, ya, ya?" ahahaha. Respon-respon seperti itulah yang membuat proses menyapih baru berhasil di usia Ray 27 bulan.

Sounding and acting...

Hayo, siapa yang sudah menaikkan levelnya di tingkat akting? Mengoles puting dengan warna, menempelnya dengan hansaplas atau hal-hal lainnya yang membuat anak nggak mau menyusui lagi. Selama hal itu tidak menyakiti Ray dan membohonginya, saya akan melakukannya.

Jadi, Ibu pernah menyarankan untuk mengoleskan brutowali yang pahitnya ampun ke puting. Biar pas Ray menyusui, dia menyadari kalau susunya gak enak. Opsi ini saya dengarkan saja, tidak saya lakukan tapi saya juga tidak mendebat Ibu. Prinsipnya, saya fokus pada apa yang saya lakukan pada Ray, dan tidak mau mengomentari cara orangtua lain. Ibu saya tertarik karena mendengar cerita tetangga yang berhasil menyapih anaknya dengan cara itu.

Yang saya lakukan masih sekadar menempel hansaplas di puting. Posisinya Ray bermain peran dokter dan saya pasiennya. Nah, pas pertengahan dia asyik mainan dan pengen menyusu, saya mulai akting dong.

"Duh Dok, ini nen-nya sakit, ga minum nen aja ya. Ganti air putih, es teh atau jus gitu, Dok", Ray agak lama mencernanya karena kaget kenapa nen Ibunya ditempel. Dia langsung mendekat dan memandang saya beberapa waktu. Saya pun menunggu reaksinya.

Dia mengusap-usap. Membuka plester pelan-pelan lalu meniup-niup puting seperti yang saya lakukan ketika dia jatuh dan luka. Dan dengan jenaka dia bilang "Daaaah sembuh!", trus nen dong tanpa meminta menunggu aba-aba.

Saya agak amazing aja kalau dia akan melakukan itu. Saya masih meneruskan aktingnya. Aduh Dok, kan nen-nya sakit, kok di-nen, huhu. Sambil nangis bombay.

"Udah diusap sama aku tiup, Bu. Sembuh!", Dia melepas nen dan membalas saya, ahahaha.

Tiap dia jatuh, terluka dan menangis. Dia merasa frustasi dan menyalahkan lantai atau benda apapun yang ada di dekatnya. Beberapa kali saya bilang kalau Ray kurang hati-hati, lantai dan sepedanya nggak ngapa-ngapain. Untuk memvalidasi emosinya saya mengusap-usap punggungnya, meniup-niup lukanya dan hal itu cukup menenangkannya. Ternyata dia copy paste buat menjawab akting saya, ahahaha.

Di waktu lain, saya menggantinya dengan memberi warna puting menjadi merah. Saya bilang kalau putingnya kok merah-merah "kayak" darah ya, huhuhu. Entah kenapa Ray hanya mengusapnya trus langsung nen.

Rutinitas sounding masih sering saya lakukan. Tapi yaaaa gitu, makin kenceng sounding, Ray makin kenceng nen-nya.

Kerelaan Ibu...

Sebenarnya yang tidak bisa disapih itu anaknya atau mungkin Ibunya yang belum rela? Saya hanya terdiam mendapat pertanyaan itu. Apa iya saya yang memang belum legowo menyapihnya, sehingga Ray pun juga berat untuk melepas.

2 tahun bonding time kami adalah ketika Ray menyusu. Tangannya bisa mengusap wajah saya. Memainkan hidung saya. Mengacak rambut saya. Dan yang paling mengena adalah saat kami ngobrol sambil bertatapan mata, lalu tiba-tiba dia tertawa saat menganggap obrolan saya lucu. Yakin rela melepas momen-momen emas itu? *ngetik ini saya terharu.

Yang paling tidak bisa dipungkiri adalah ketika dia demam, diare atau sakit yang membuat nafsu makannya drop, asi adalah andalan utama kami. Demam tidak lebih dari 2 hari, gempur asi, esoknya sudah mereda. Pas diare, merasa lemas, Ray punya andalan asi agar tidak dehidrasi. Bahkan pernah jumawa bilang "Ibu, aku ga suka makan. Nen aja ya, ya, ya?" *auto cium*.

Jadi, memang benar sih, untuk bisa sukses menyapih, kerelaan Ibu adalah kunci. Menyusui bukan hanya zona nyaman anak, tapi juga hal ternyaman Ibu untuk lebih dekat dengan anaknya.

Ray dan Ibu pasti bisa...

Siang setelah pulang dari dokter dan mendapatkan insight dari beberapa teman untuk menyapih Ray, saya memutuskan untuk menyapihnya di hari itu. Saya punya alasan kuat buat menyapih dan nggak bisa ditunda lagi. Belum mulai tahapnya, di mobil Ray merengek minta nen ya Allaaaaah, ahahah. Papinya mengalihkan perhatiannya dengan palang kereta, traktor, truk dan beberapa hal lain yang kami temui di jalan.

Saya juga sounding kalau Ray tidak nen lagi. Nanti Ibu buatkan susu, jus atau belikan susu kotak buat rekreasionalnya. Sampai rumah masih aman. Drama dimulai saat mau bobo, huhu. Nangis-nangis minta nen, tapi Ray tahu kalau kali ini saya nggak bakalan ngasih. Untuk mempermudah, saya tegas menolak dari awal. Kedua tangannya ditelungkupkan ke wajah dan menangis. Repeat aja begitu terus. Kalau ingat nen dan saya nggak ngasih, Ray nangis.

Saya membiarkannya beberapa waktu agar Ray lebih tenang, lalu menawarkan pelukan, gendongan atau minuman lainnya. Temen saya udah bilang sih kalau 2-3 malam bakalan nggak nyaman buat adaptasi, jadi saya dan suami udah siap kuda-kuda biar nggak konslet kesetrum Ray tantrum. Saya selalu ingat kalau kali ini Ray juga sedang beradaptasi dengan kondisi baru. Zona nyamannya sudah tidak bisa dilakukan lagi, tapi saya selalu menyampaikan kalau saya masih memeluk-meluk pas tidur, nemenin mainan sampai ngantuk dan tidak akan marah saat Ray nangis minta nen.

Hari pertama, Ray sampai jam 1 malam. Mainan seru sudah, cerita sudah, kayaknya sudah melakukan apapun tapi kok ga bisa tidur padahal dari jam 10, Ray sudah menguap terus. Saya menggendongnya keluar masuk rumah menemaninya yang mulai gelisah. Beberapa kali dia memegang nen dan merajuk minta nen, tapi saya menggeleng sambil memeluk. Gantian sama papinya buat nemenin main sama gendong. Pas bisa bobo, saya mengusap kepala dan mencium keningnya sambil bilang "Ibu very proud of you, Ray!"

Siapa bilang dramanya cuma pas mau bobo ih, ahaha. Pas bangun tidur pun juga mellow galaw. Ibuuuk, nen sebentar aja sambil bobo, katanya. Karena sudah niat, saya tetap konsisten dengan apa yang kami lakukan kemarin. Saya menggeleng dan mengulurkan tangan untuk menggendongnya. Nangis lagi dong, huhuhu. Sampai dia mau dipeluk trus pelan-pelan menemukan ritme buat main.

"Aku minum air putih aja. Gak nen ya, Bu", Aduh bahagianya. Ray bilang gitu saat dia main blocks. Wajahnya ceria seakan udah rela gak nen lagi. Tapi, kalimat itu hilang entah kemana saat mau bobo siang. Ray galau lagi, ingat zona nyamannya yang mengantarkannya pulas bobo siang. Kali ini hanya dengan gendongan, puk-puk sama pelukan Ibu.

Malam kedua, jadwal tidurnya maju setengah jam menjadi setengah satu, ahahaha. Kami makan malam bersama, nemenin main, nonton video dan tebak-tebakan. Pas mau bobo, nangis lagi minta nen. Saya lega akhirnya Ray bisa bobo juga, tapi kok ya malam harus bangun nangis kejer, huhu. Lagi-lagi saya nunggu emosinya mereda dulu baru menawarkan pertolongan buat digendong dan dipeluk. "Iyaaa, nangis gak apa-apa. Ibu temenin ya", lama-lama bobo lagi.

Kami menyapih dengan sehangat dan senyaman mungkin, tapi nyatanya juga tidak benar-benar nyaman. Dan nggak perlu merasa guilty, karena ini normal banget. Nah, 5 hal ini saya rangkum ya saat melakukan proses menyapih Ray. Gaya bener, baru 2 hari lho, wkwkw. Percayalah, saya menulis ini biar merasa lega aja.

1. Sounding. Apapun kegiatannya, bagi saya sounding berkali-kali adalah kunci. Meskipun masih kecil, anak bisa memahami bahasa kita ketika kita mengulang-ulangnya. Jadi jangan remehkan the power of sounding.

2. Konsisten. Kalau memang di hari pertama sudah sukses menyapih, dan di hari kedua dramanya lebih hebat. Please, konsisten! Jangan sampai kalah. Karena apa? Misal di hari kedua menyerah buat ngasih nen lagi, besok-besok level menyapihnya bakalan lebih tricky lagi.

3. Validasi emosi. Anak sedang adaptasi dan transisi dari zona nyamannya. Menangis, ngambek dan gulung-gulung di lantai adalah caranya meluapkan. Selama tidak menyakiti dirinya sendiri dan orang lain (memukul, mencakar, dll), biarkan saja dulu. Kalau sudah mereda, baru tawarkan pertolongan. Pelukan, gendongan, minuman atau makan. Dan ingat jangan kepancing tantrum, ahahah. Ngadepin anak ngambek, marah apalagi sambil gulung-gulung itu menyerap energi dan emosi lebih banyak. Jadi orangtua wajib sadar penuh kalau "proses menyapih" memang tidak nyaman buat anak.

4. Kenyangkan perutnya. Hari pertama Ray disapih, dia suka banget makan bebek goreng. Makan lahap dan banyak. Trus dibelikan martabak manis sama papinya. Apa kalo perut kenyang membuat anak nggak rewel? Siapa bilang? wkwkw. Setidaknya, si anak rewel bukan karena dia lapar, tapi memang karena kondisinya tidak nyaman. Hari kedua Ray mogok makan. Mungkin, ini cuma mungkin lho ya, dia gak makan karena gak nafsu makan beneran, atau karena biasanya kalau nggak makan, dia bisa nen sepuasnya. Seharian pola makannya beneran berantakan. Dan ketika dia tahan nggak makan, rewelnya makin tambah-tambah, huhu. Merasa nggak nyaman tapi nggak mau makan padahal lapar, yhaaaa gimana.

5. Serap energinya dengan permainan kesukaan. Nah ini PR banget! Apalagi Ray lagi hobby begadang. Rasanya malam kok berasa panjang banget, ahaha. Saya dan papinya bergantian nemenin dia main. Terutama yang banyak menyerap energi dan dia suka. Kalau capek dan suka harapannya bisa cepet bobo pules. Tapi nyatanya tetep malam juga, wkwkw. Andalan kami adalah main blocks kayu, corat-coret buku, cerita dan sesekali nonton video kalau energi kami low. Saya mengakalinya, jam 6-7 sama papi, 7-8 ibu, 8-9 papi, dst. Sesekali main bertiga, tapi durasinya pun nggak lama. Itu saya lakukan biar kami punya stok energi sampai malam tanpa emosi.




Sejauh ini saya nggak mellow, nggak ikutan emosi karena Ray sering nangis karena disapih. Tapi yhaaa tetep capek, wkwkw. Hari ini hari ketiga ya Raaaaabbbb. Semoga less drama. Buat Ibu-Ibu yang sedang atau mau menyapih buah hati, semangat! Kasih dopping 2 gelas mocca float atau freemilt green tea 😆.
Kalau udah mulai capek dan mau terpancing, serahkan Papi. Jeda dulu! Gantian. 

Read More »

Pahala yang mana?
















10 hari terakhir ramadan tahun ini entah kenapa energi Ray seperti tidak ada habisnya. Sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan nafsu makannya.

Hidup saya rasanya enak-enak saja, tapi sekalinya Ray ga mau makan seharian, kok jadi ambyar, ahahaha. Kata Ibu, sudahlah biarkan saja, yang penting Ray anteng dan sehat. Baik, saya mencoba woles, tapi kok kesetrum juga :((

3 hari lalu nimbang berat badan Ray, turun 4 ons dong. Hatiku terpotek-potek karena merasa kalau BB-nya aman. Makan dan minum mau kok, bulan ini amanlah, batin saya. Tapi realitanya zonk, wkwk. Halu banget kalau ga ditulis dan di-track beneran.

Belum sembuh shocknya, lha kok mengalami fase "ngemut" ya Allaaah. Jadi, mau makan tapi diemut lama. Sudah gonta ganti menu, tetap saja begitu. Ujung-ujungnya dilepeh, karena kalau sidah diemut, Ray ga akan menelan makanannya.

Tidak baik-baik saja

Kalau Ibu bilang biarkan ga makanyang penting sehat, saya sebaliknya. Saya mencari cara bagaimana caranya Ray mau makan. Menu apa yang dia sukai. Dan tentunya dengan menu seimbang agar BB-nya nggak turun lagi.

Kondisi ini tidak baik-baik saja buat saya maupun Ray. Apalagi seharian ini dia sama sekali ga mau makan. Sekalinya makan, diemut lama dan dilepeh, huft. Efeknya apa? Dia mengandalkan nenen, padahal saya lagi puasa. Kalau merasa nenennya ga enak, dia akan rewel dan tantrum. Akhirnya apa-apa jadi salah menurut dia, huhu. 

Pokoknya kalau Ray sudah skip makan, tumpuannya adalah saya. Makanya saya berkali-kali bilang, apalagi sekarang dia sudah 2 tahun, kalau dia akan mendapat nenen setelah makan. 

Trus hubungannya sama pahala apa? :(... Let me i tell you, biar saya enakan....

Seharian ini saya emosional sekali. Rasanya keluar masuk dapur buat nyiapin makan Ray, tapi nggak mempan semua. Akhirnya dia rewel, skip sarapan dan makan siang. Siangnya dia mau nenen dan merasa ngantuk, saya mencoba bujuk buat makan tapi sepertinya dia beneran mau tidur. Oke, saya tidak memaksanya.

Sore berharap dia mau makan, tapi lagi-lagi diemut dan dilepeh. Bye-bye makaaaaaan. Seharian ini beneran mengandalkan nenen, sesekali makan camilan karena  pengen Mbak Khansa. Energi saya tidak bisa mengimbangi Ray yang main keliling rumah dari ujung ke ujung.

Karena mungkin merasa lelah lari-larian, endingnya gendongan :D. Saya merasa capek banget karena 10 hari terakhir ramadan pengennya khusuk ibadah kok malah sibuk ngurusin MPASI Ray yang ga berhasil. Beneran nguplek masak dan nyuapin tapi ga berhasil. Merasa waktunya sia-sia aja *tampol diri sendiri.

Padahal..... Momong anak itu ibadah yang nyata. Apa kamu lupa? *cryyy. Selepas isya nangis buat released emosi. Pelan-pelan ditata lagi, menanyakan ulang pada diri sendiri tentang pahala mana yang sejatinya saya kejar? Melupakan kalau menemani Ray juga terhitung pahala kalau dari awal saya niatkan untuk ibadah. Memasak, menyuapi, menemaninya bermain dan sabar menghadapinya juga terhitung pahala, kan?

Tidak melulu mengaji berjuz-juz, menyelesaikan sampai akhir hanya karena sebentar lagi ramadan usai *cry lagi

Lalu pahala mana yang kamu cari? Kebaikan mana yang lebih tinggi? Ah, semoga tidak kehilangan esensi ramadan kali ini. 

Saya memeluk-meluk Ray yang baru saja tertidur jam 10.00. Saya ngobrol sebentar seharian ini ngapain saja, menanyakan kenapa tadi dia nangis, ga mau makan dan cerita hal lainnya. In the end, dia lelap sekali dalam pelukan saya.

Dia yang percaya kalau saya saaaangat mencintainya. Ya tidak apa-apa kalau dia mengandalkan saya. Ibuuu, mau nen... Karena dia begitu yakin, kalau saya akan selalu melindunginya.

Ray, ibu sayang sekali. Hari ini Ibu mungkin remidi, tapi Ibu janji akan belajar lagi... Tidur yang nyenyak sayang. 
Read More »

Quality Time Bersama Ray

Bulan ini saya diwajibkan ikut pembekalan bahasa inggris. Acara pembukaan yang semula akan dibuka oleh WR 1, ternyata berubah karena Pak Rektor sendiri yang membukanya. Saya yang turut hadir di barisan paling melihat beliau datang dan menyalami beberapa staff pengajar dan teman saya yang lain. 

Saya membatin, kalau yang membuka Pak Rektor sendiri, berarti kegiatan ini saaaangat urgen. Eh ternyata benar asumsi saya. Acara yang sebelumnya sudah didisposisikan kepada WR 1, tapi beliau ingin membukanya sendiri. Dalam sambutannya beliau menekankan kalau pembekalam bahasa ini untuk persiapan kuliah S-3.

Salah satu syarat masuk kuliah S-3 adalah nilai toefl atau ielts yang lumayan tinggi, sehingga butuh persiapan agar nantinya kami tidak direpotkan persyaratan administrasi, tapi lebih fokus ke substansi kuliahnya. Tidak lupa beliau pesan untuk sekolah, sekolah, sekolah! Dalam negri boleh, luar negri pun boleh. Instansi akan memfasilitasi termasuk dengan pembekalan ini. Gratis!

Saya pun tidak melewatkan kesempatan ini. Konsekuensinya, saya harus pulang lebih malam dan hari sabtu yang biasanya jadi hari gegoleran keluarga, harus masuk demi pembekalan ini. Saya sangat antusias karena bahasa inggris memang harus dibiasakan. Saya kemarin mencari waktu buat ikut les lagi biar "fresh" tapi belum pas karena jadwalnya bentrok terus. Eh, ada tawaran ini. Alhamdulillah. Memang kadang-kadang kita itu bisa karena dipaksa :D.

Kalau Senin-Sabtu full kegiatan, quality time bareng Ray gimana? Yang biasanya Sabtu-Minggu full bareng dia, tapi sekarang agak terbatas. Saya mengakalinya dengan benar-benar memanfaatkan waktu bareng.

Menciptakan Quality Time Bersama Ray

Masa galau saya ketika harus meninggalkan Ray berangkat kerja sudah lewat. Dulu awal-awal saya selalu mewek, huhu. Tapi sekarang sudah bisa luwes mengatasinya. Ray pun juga sudah beradaptasi kalau pagi hari, Ibunya harus berangkat kerja dan akan menemaninya bermain saat sore hari.

Nah, beberapa hal ini saya lakukan untuk menciptakan quality time bersama Ray. Meskipun tidak selalu menemaninya bermain, tapi saya menekankan kualitas waktu, sehingga Ray tidak merasa kehilangan sosok saya. Ibu-ibu bekerja mana suaranyaaaaa? Mari berpelukan!

1. No gadget

Kalau dulu saya masih suka "nyambi" gadget ketika main sama Ray, kalau sekarang No! Saya benar-benar mengusahakann kalau di dekat Ray, HP saya letakkan di atas meja dengan posisi silent. Meski sedang menyusui, saya lebih memilih bercerita seharian ngapain aja, menanyakan Ray makan apa, main apa, dst. Pokoknya tentang kami berdua.

30 menit-1 jam beneran buat kami berdua. Oh iya, kalau saya pulang kerja dan Ray masih terjaga, pasti dia langsung berlari ke arah saya. "Buk, Nen!" Sambil menunjuk agar saya ke tempat tidur untuk menyusuinya.

2. Screen time bersama

Saya tidak anti gadget sama sekali. Ray boleh kok main hp, ASAL ada saya atau papinya. Biasanya saya memilihkan tema tontonannya dan eksplore dengan bercerita. Misalnya tentang sikat gigi. Ray paham kalau sikat gigi itu menyikat bagian giginya, bukan hanya menyesap bagian sikatnya :D.

Sesekali bilang nggak mau dan menolak disikat, makanya saya memanfaatkan youtube untuk edukasi kali ini. Ray juga suka melihat nama-nama hewan. Dengan youtube, saya bisa leluasa menjelaskan nama-nama hewan dan meluruskan pemahaman Ray. Misal: ini kucing bukan pus atau meong. Oh iyaa, ini kucing yang bunyinya miaaaau. Kalau ini sapi yang suaranya hemmooooo dan ini kambing yang suaranya embeeeek.

3. Memeluk, mencium dan mengasihi

Ritual ini yang tidak pernah saya lewatkan setiap hari. Memeluk, mencium dan mengASIhinya. Kalau tidur papinya sering jelous karena merasa ga laku. Kalau ga ada saya, Ray lengket sekali dengan papinya. Tapi setelah saya ada di rumah, semuanya nggak laku, apa-apa Ibu. Mau ke kamar mandi aja, Ray pasti ikut.

Ketiga aktifitas ini saya lakukan secara natural dan refleks. Pulang kerja Ray menghambur dengan saya. Lalu dipeluk, dicium trus nenen. Main, dia menyelesaikan sesuatusaya peluk, cium dan kami tertawa sama-sama.

4. Mengajak Ray kerja

Saya pernah mengajak Ray mengajar di kelas. Itupun setelah saya mengkondisikan kalau Ray moodnya bagus dan nantinya tidak akan rewel di kelas. Dan terbukti, ketika saya membawa Ray ikut di kelas, dia nice sekali.

Saya menyimak dan menilai presentasi mahasiswa. Lalu menjelaskan beberapa hal penting yang berkenaan dengan presentasi mereka. Ray enjoy sekali ikut kerja.

5. Bermain ke taman bermain

Saya menyadari kalau Ray tertarik dengan mainan adalah pertengahan bulan September. Ketika saya belanja perkakas dapur ada wahana bermain kecil di area supermarket. Ray menarik tangan saya untuk bermain kesana. Karena waktu itu magrib, saya mau magrib dulu baru ke wahana tersebut. Ternyata Ray tidak sabar sehingga berlari ke arah papinya dan menarik tangannya. Sehingga kami memutuskan untuk magrib bergantian.

Dari awal belanja hingga saya selesai, Ray tidak mau beranjak. Dia happy sekali. Dan ini pertama kalinya dia main sampai nggak mau pulang. Biasanya main biasa, tapi kalau sudah waktunya pulang, dia dengan sukarela. Waktu itu saya harus membeli koin ekstra untuk bermain lagi dan supermarket hampir mau tutup baru Ray mau diajak pulang.

Karena Ray sudah paham dan tertarik dengan hal itu, makanya kali ini pengen nyobain kidzoona di Jogja City Mall. Pas banget ada diskon menarik melalui Traveloka Xperience.

Memanfaatkan Traveloka Xperience

Biasanya saya memanfaatkan car free day buat quality time sama Ray. Karena di CFD itu ada banyak banget yang membuat Ray berkali-kali merasa kegirangan. Ada hewan-hewan: kucing anggora, anjing, ular yang sengaja dibawa ke CFD untuk dipertontonkan. Lalu ada penjual jajanan yang beragam yang meskipun Ray nggak beli, sekadar nonton aja udah senang. 

Dan sekarang Ray sudah paham "bermain". Makanya weekend ini, agenda ke tempat eyangnya suami sekalian mau mampir ke wahana bermain. Nah, beberapa hari yang lalu saya dibisikkin teman agar memanfaatkan Traveloka Xperience agar lebih hemat. 

Setelah browsing di aplikasinya ternyata tahun ini Traveloka launching layanan terbaru yang melayani kebutuhan travel dan lifesyle! Ada Traveloka Xperience. Dan ternyata layanan tersebut lengkap sekali. Saya bisa menemukan atraksi, bioskop, event, hiburan, spa dan kecantikan, olahraga, transportasi lokal, tur, makan & minum, kursus dan taman bermain yang saya butuhkan untuk quality time dengan Ray.

Pas banget weekend besok ada acara ke Jogja, sekalian mau nyobain Kidzoona yang ada di Jogja City Mall. Melalui Travelola Xperience ternyata dapat diskon! Lumayan bisa hemat dari harga 90rb jadi 45rb.







Mengapa memilih Traveloka Xperience

Saya beneran baru tahu ada layanan ini. Karena biasanya pakai traveloka cuma buat pesan tiket kereta atau hotel aja. Dan ternyata fitur terbarunya sangat memanjakan kami yang notabene punya toodler yang sedang aktif mengeskplor sekitar. Sehingga taman bermain menjadi salah satu yang wajib dicoba karena banyak promonya.

Trus kenapa pakai Traveloka Xperience? Hmmm, karena selain Xperience Seru juga banyak alasan yang membuat saya jatuh hati. Yuk saya jembrengin alasannya.

1. Proses pemesanan cepat dan praktis. Saya pesan tiket kidzoona di Jogja City Mall sangat mudah dan praktis. Ga perlu antri karena tinggal klik-klik buat memilih, lalu bayar, trus udah. Selain itu banyak metode pembayaran yang bisa dipilih sehingga memudahkan untuk kita mau bayar pakai apa.

2. CS 24 jam. Nah, kalau bingung atau ada kendala teknis, bisa menghubungi CS dengan mudah. Pelayanan CS-nya 24/7 jam. Wow!

3. Pilihan layanannya beragam. Yuk silakan dipilih sesuai kebutuhan!

4. Pilihan bahasa banyak. Pelayanannya ga cuma di dalam negeri saja lho. Yang mau go abroad juga ada. Makanya pilihan bahasanya juga banyak.

Nah, teman-teman mau weekend kemana? Kalau merasa punya sedikit waktu buat anak-anak, kita tetap bisa lho menciptakan waktu yang berkualitas sama mereka. #XperienceSeru kemana kita weekend ini? :*
Read More »

Memilih Popok yang Nyaman dan Aman Buat Bayi

Hal yang menjadi diskusi panjang dengan Ibu, baik mertua maupun kandung adalah tentang pemakain pospak (popok sekali pakai). Beliau menyarankan agar saya tidak memakaikan popok buat Ray karena kulitnya masih sensitif. Tapi saya tetap memakaikan pospak karena setelah melahirkan, fisik dan psikis saya kepayahan. Bahkan saya baby blues berkali-kali. Dan kedua ibu saya tidak terlalu paham tentang baby blues. Komplit! :(

Waktu bayi, Ray hobby sekali begadang. Nggak nangis, tapi ngajak mainan sepanjang malam. Minumnya kuat, pipisnya banyak. 3 bulan pertama, tidak hanya pipisnya, intensitas pup-nya pun tergolong sering. Sehingga, jika saya memaksakan untuk tidak memakai pospak, konsekuensinya saya harus rajin mencuci popoknya. Dan itu berarti jatah istirahat saya juga berkurang.

Baca juga: Melahirkan anak pertama

Bukannya saya manja dan nggak mau nyuci, tapi pasca melahirkan itu capek sekali, sist! Untungnya, Ibu tidak memaksakan lagi. Mereka lambat laun memahami pilihan saya. Toh, saya sudah mencari tahu dulu tentang popok yang nyaman dan aman buat bayi itu kriterianya apa saja. Jadi, sekarang kalau popok buat si kecil mau habis, eyangnya bilang ke saya. Yang sebelumnya ibu nggak paham tentang dunia diapers, sekarang lebih mengetahui seluk beluknya. Mulai dari tipe, size, harga bahkan cara membuang popok setelah dipakai. Peluk ibu satu-satu.

Nah, buat teman-teman yang sedang mencari popok yang nyaman dan aman buat si kecil, mungkin hal-hal berikut bisa dijadikan pertimbangan, ya. Ray termasuk bayi kuat. Saya yang harus cermat meneliti kondisi tubuhnya. Pernah saya memakaikan salah satu produk diapers, ternyata kulit Ray kurang cocok. Sehingga dia kena ruam di sekitar lipatan pahanya. Akhirnya saya beralih ke popok Merries. Kali ini saya mau mereview popok yang sampai sekarang dipakai sama Ray. Here we go.

1. Perhatikan size sesuai berat badan bayi

Buat yang newborn, ada popok yang khusus kok. Jadi, sebelum melahirkan, saya sudah persiapan 2 bal pospak buat Ray. Seiring bertambahnya usia, size-nya pun berganti. S-M-L dan seterusnya. Saat ini Ray memakai ukuran M sesuai berat badannya. Tiap balita itu beda-beda berat badannya. Untuk size  diapers ini, acuannya dari berat badannya ya, bukan usianya.

2. Perhatikan jenis kulit pada bayi

Kulit bayi itu saaaaaangat sensitif. Makanya harus jeli sekali memeriksa tiap lipatan di bagian tubuhnya. Kalau anak rewel mungkin bisa dijadikan alarm kalau ada yang salah. Misal menggunakan diapers dan nggak cocok buat bayi, sebaiknya diganti dengan yang lain. Apalagi buat bayi yang memiliki kulit sensitif dengan bahan-bahan tertentu. Sebagai orangtua, wajib tahu.

Baca juga: pentingnya merawat kulit sejak bayi

3. Pilih yang daya serapnya baik

Semula saya berganti-ganti diapers, sehingga saya tahu diapers mana yang memiliki daya serap paling baik. Saya mencoba memeriksa diapers Ray tiap pagi untuk memastikan apakah diapersnya memiliki daya serap yang baik atau tidak. Jika sudah menemukan diapers yang cocok dan memiliki daya serap baik buat bayi, jangan lupa rajin mengganti maksimal 4 jam, ya.

4. Bahan popok yang lembut

Seperti yang saya ceritakan tadi kalau kulit bayi sangat sensitif. Makanya, salah satu pertimbangan yang penting dalam memilih popok adalah memperhatikan bahannya. Usahakan memilih popok yang didesain dari bahan yang lembut dan lapisannya menyerap air lebih banyak (balik lagi ke poin tigaaaa :D).

5. Telah teruji secara klinis

Teman-teman suka memperhatikan nggak sih kalau membeli makan atau barang tertentu, makanan atau barang tersebut sudah lolos uji atau belum? Dan dalam hal pemilihan popok ini, saya mencermati popok tersebut sudah teruji klinis atau belum. Jadi, selain mengecek masa expired-nya, saya membaca detail informasi pada bungkusnya.

Oh iya, kali ini saya mau sharing dan review tentang popok Merries good skin yang dipakai Ray. Saya memilih produk ini karena memang memenuhi beberapa pertimbangan yang telah saya sebutkan di atas.


Review Popok Merries Good Skin

Bagi ibu-ibu pecinta popok Merries, tahu nggak sih kalau kata Merries berasal dari bahasa Inggris "merry" yang berarti ceria dan senyuman. Saya juga membaca kalau kata itu juga terinspirasi dari melodi mainan bayi yang biasa digantung di atas boks bayi untuk membuat mereka tersenyum. Filosofinya membuat hati saya nyes, karena sebagai mantan pegawai yang bergelut dalam bidang trademark, penamaan ini sangat penting sekali. Dan benar saja, saya tersentuh dibuatnya.

Kalau mencermati logo pada popok Merries yang berbentuk seperti bentuk hati. Saya mengartikannya, hati seorang ibu yang mencintai anaknya. Jadi, first impression saya, popok ini berbentuk seperti sebuah hati yang melambangkan kasih sayang orangtua pada anak-anaknya. Yaaaa, kayak saya yang sayang banget sama Ray sejak pandangan pertama.

Itu baru dari segi penamaan lho. Hal yang membuat saya jatuh cinta pada produk ini, karena memang terbukti nyaman dan aman buat Ray. Makanya hingga Ray berusia 1,5 tahun, saya tetap menggunakan popok ini. Memangnya apa saja sih kelebihannya? Okay, saya share  untuk referensi teman-teman dalam memilih popok bayi yang tepat ya. Simak, yuk!

💝 Menyerap banyak dan cepat

Mengunci cairan dengan cepat dan dapat menampung hingga 5x pipis sehingga kulit bayi tetap kering. Dan selama ini, Ray nyaman memakai popok Merries ini. Tidak pernah bocor dan saat ganti popok, kondisi popoknya tidak basah. Karena memang daya serapnya banyak dan cepat. Love!

3 garis pada bagian dalam popok merupakan teknologi yang hanya ada di popok Merries yang berfungsi untuk menyebarkan cairan sehingga cairan tidak berkumpul di satu titik dan tidak menggembung di tengah.

💝 Karet pada popok elastis dan lembut

Bahan karet pada popok Merries pas di pinggang dan tidak meninggalkan bekas pada kulit Ray. Ssst, sekarang bahan permukaannya 40% lebih lembut, lho. Kelembutan serat kainnya ini yang lebih melindungi kulit bayi.

💝 Teruji klinis

Popok Merries good skin teruji secara klinis mencegah iritasi oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Riset & analisis kulit bayi dilakukan bersama dermatologis.

💝 Desain popok yang menarik dan aman

Popok Merries terbuat dari serat yang halus dan didesain agar sirkulasi udaranya bebas keluar masuk. Sehingga saat dipakai, kulit bayi bebas dan nyaman sepanjang hari. Lapisan tambahan di kedua sisi popok dapat mencegah bocor samping dan membuat tampilan Merries Good Skin lebih baik.

Merries juga didesain agar kulit bayi tetap kering dan nyaman melalui 3 lapisan sirkulasi udara yang dimilikinya. Tiga lapisan tersebut terdiri dari permukaan yang lembut bergelombang, lapisan penyerap yang dapat dilalui udara serta lapisan terluar yang mampu melepaskan kelembaban.


Btw, popok Merries memiliki 2 jenis yang bisa dipilih, lho: ada Merries premium (yang packaging-nya berwarna putih) dan Merries good skin yang sedang saya review dan dipakai Ray di kesehariannya. Kalau teman-teman sedang mencari popok buat si kecil yang aman dan nyaman, popok Merries bisa menjadi referensi dan rekomendasi. 

Read More »

Menyikat Gigi pada Bayi

PR menjadi Ibu banyaknya ya Allah. Belum lulus tentang MPASI, udah disuguhin berat badan anak. Keduanya remidi terus, eh adalagi yang lainnya. Yang paling gress yang saya lakoni adalah menyikat giginya Ray. Perjuangan Allahuakbar!

Saya menyikat gusi Ray pertama kali mungkin ketika dia usia 4 bulan. Sekalian mengelap mulutnya dengan kasa dibasahin air hangat. Meskipun belum punya gigi, saya rajin mengecek gusi dan mulutnya, memastikan bersih dari sisa air susu. Pernah lihat mulut bayi putih kan? Nah, itu katanya bekas asi dan sebaiknya dibersihkan.

Gigi pertama Ray

Ray tumbuh gigi pertamanya ketika usia 7 bulan. Gigi seri bagian atas dua biji. Trus nggak berapa lama, mungkin selang sebulan, tumbuh lagi di bagian atas. Jadi empat biji. Nah, ketika tumbuh yang kedua, dia demam 4 hari. Pas banget sebelum saya ujian esok harinya. Alhamdulillah pas mau berangkat ujian, dia udah ga demam, cuma agak ngeces aja. Mungkin karena gusinya ngilu.

Pernah baca kalau demam nggak ada hubungannya atau jangan dikaitkan dengan tumbuh gigi. Tapi nyatanya memang Ray beneran demam sampai 39 dan ga mau makan. Mungkin benar kalau jangan selalu mengaitkan demam dengan tumbuh gigi, tapi kebanyakan anak batuta (bawah dua tahun) masih masa-masa tumbuh gigi yang kadang menyebabkan demam. Saya juga pernah mengalami geraham mau tumbuh aja sampai demam dan nyeri, apalagi anak-anak kan?

Nah, sejak tumbuh gigi, saya beli sikat bayi, yang modelnya sedikit bergerigi dan  dimasukkan ke jari dan digosokkan ke giginya Ray setiap mandi. Sesekali mau, tapi kalau lagi nggak mau, dia beneran rapet banget mulutnya. Selain menggosok giginya, saya juga mengelap pakai kasa basah. Oh iya, untuk air kumurnya, saya memakai air matang karena pasti ditelan sama Ray :p.

Pakai Sikat dan Pasta Gigi

Udah pakai sikat bayi, rajin di lap pula. Eh, giginya Ray kuning dan agak grupis di bagian atas :(. Padahal Ray juga ga makan yang manis-manis, lho. Saya searching dokter gigi anak di Klaten belum nemu-nemu, dan alhamdulillah ada rekomendasi dari teman saya, namanya dokter Utami. Pengen konsultasi dan memeriksakan giginya Ray kok waktunya belum pas, huhu.

Akhirnya saya sharing sama Ririn. Dulu waktu Ray fimosis, dia nanyain ke dokter bedah di Rumah Sakit tempat dia bekerja. Kali ini saya juga ditanyain langsung ke dokter spesialis gigi. Aaaa, peluk Ririn! :*

Saya disuruh memfoto giginya Ray. Makanya pas tidur saya foto kondisi giginya dan mengirimkan ke Ririn. Trus Ririn nanyain ke dokter dan jawabannya diskrinsut ke saya. Jadi, beliau bilang kalau giginya Ray ada yang patah sedikit yang bagian atas. Mungkin karena benturan pas main atau pas menggigit kuat makanan yang teksturnya keras.

Selanjutnya, beliau menganjurkan untuk mentikat gigi Ray pakai sikat gigi anak. Kalau mau pakai pasta gigi, pilih yang komposisinya tidak berflouride. Karena seringnya bayi selalu menelan saat pasta gigi digosokkan ke giginya. Emang bener sih. Ray selama ini selalu menyesap sikat giginya.

Mengajari bayi sikat gigi

Tantangan banget mengenalkan sikat gigi sama Ray. Sejak dianjurkan dokter untuk menyikat giginya biar gak kuning dan grupis, saya membelikannya sikat gigi sendiri. 

Beberapa hal ini saya lakukan ketika mengajari Ray sikat gigi:

1. Menggosok gigi di depannya

Saya selalu menggosok gigi di depannya. Saya juga menyuruh Khansa menggosok gigi menggunakan pasta gigi. Awalnya acuh tak acuh tapi lama-lama Ray menirukan. Yang paling drama adalah ketika memintanya untuk membuka mulut. 

Meskipun sering disikat dan saya masih mengelapnya dengan kasa basah, giginya Ray bagian atas tetap kuning dan grupis :(. Apa dulu saya kurang mengonsumsi kalsium waktu hamil? Huhu. Jadi pengen ke dokter langsung buat ngecek dan konsultasi.

2. Pastikan in a good mood

Menyikat gigi bayi itu butuh sabar, ahaha. Kalau bayinya gak mau, kadang kitanya yang gemes banget. Ray gak selalu mau disikat. Dia pegang sikat gigi sendiri, tapi lebih suka menyesap bagian bulunya. Menyikat sekenanya karena meniru saya melakukannya. Tapi pas saya yang membantunya menyikat giginya? Hmmm, crancy! Nangis langsung.

Sekali saya memaksakan menyikat giginya. Dia nangis kejer. Karena giginya beneran kuning banget kalo gak disikat, huhu. Tapi setelah itu udah, saya gak memaksanya lagi. Saya nyari alternatif lain biar Ray sendiri yang sukarela disikat giginya. Makanya kalau pas mau mandi, saya memastikan diri saya in a good mood. Dalam kondisi yang moodnya beneran bagus biar gak gatel maksain anak sikat gigi.

Untuk masalah gigi, saya beneran concern banget. Dio, Dea, iqbal, Khansa sama Lintang yang tahu banget tentang hal ini.

3. Membelikan sikat gigi lucu

Kenapa harus disikat? Apakah dilap pakai kasa yang dibasahi air saja tidak cukup? Atau pakai sikat yang dimasukkan di jari telunjuk kurang nampol? Soalnya, kalau cuma di lap aja, kelihatannya memang sudah bersih, tapi sebenarnya mineral makanan yang tertinggal di gigi tidak terangkat sempurna. Jadi perlu disikat biar bersih. Itu penjelasan dokter. Apalagi giginya Ray gampang banget kuning, huhu.


Selain memilih sikat gigi yang khusus bayi dan bulunya lembut, saya juga membelikan sikat gigi karakter. Ada dinosaurus, buaya, robot dengan berbagai warna. Ray suka! Makanya pas momen gosok gigi, saya pegang sikat, Ray juga pegang sikat. Pas dia buka mulut, tangan saya gercep nyikat giginya.

Sebenarnya pas beli, tidak ada label sikat gigi bayi yang dibawah 2 tahun. Kebanyakan untuk 3 tahun ke atas. Kemarin saya memilih sikat gigi dee dee yang ujung sikatnya lembut dan kecil. Jangan ngasih sikat gigi dewasa buat bayi karena ga cocok buat rahangnya. Bisa-bisa nanti sariawan ketika menyikatnya. Kan malah kasihan.

Saya beli banyak sekalian. 1 pcs seharga 5 ribuan. Oh iya, tiap 3 bulan sekali jangan lupa sikat giginya diganti ya. Tempelin aja di gagang sikatnya biar inget :p

4. Memilih pasta gigi

Selain sikat gigi, yang harus diperhatikan adalah pasta giginya. Kalau kata dokter dan beberapa referensi yang saya baca, sebaiknya tidak mengandung flouride. Tapi ada juga yang menuliskan tidak apa-apa asalkan memakainya sedikit saja. Bayi seneng banget lho menelan pasta gigi :D. Makanya, saya lebih memilih aman aja untuk membelikannya yang tidak berflouride dan bebas deterjen.

Ada beberapa anak yang langsung mual hingga muntah saat disikat pakai pasta gigi. Kalau sudah demikian, sebaiknya disikat saja dulu tanpa pasta gigi. 

5. Kumur pakai air matang

Yaiyalah, bayi dikasih air pasti ditelan, ahaha. Itu Ray lho. Dia belum bisa kumur-kumur trus dilepeh. Makanya tiap sikat gigi, ada tupperware khusus buat tempat air. Secukupnya aja. Soalnya kalau penuh pasti dipakai mainan :D

6. Nonton video di youtube

Selain mencontohkan langsung, saya sama Ray nonton bareng batuta yang sedang sikat gigi. Dia memerhatikan dan tangannya nunjuk-nunjuk ke layar. Sambil nonton, saya bilang "Ini sikat gigi juga lho, Mas. Nanti Ray juga ya. Sikat gigi sendiri sama Ibu ya pas mandi?" Responsnya senyum, ahaha. Mungkin bilang iya Buuu. Padahal praktiknya juga sering nggak mau :p.

7. Menyugesti dalam percakapan 

Tentang gosok gigi, saya juga menyelipkannya dalam setiap percakapan kami. Mas Ray udah sikat gigi belum ya tadi? Lalu dia refleks memegang giginya. Di kamar, saya juga menyediakan sikat gigi. Jadi pas kami ngobrol berdua dan membahas sikat gigi, saya mengambil dan memberikannya pada Ray. 

8. Menyikat gigi ketika tidur

Kalau Ray beneran nggak mau disikat pas mandi. Malamnya, saya menyikat giginya ketika dia tidur? Apa nggak bangun? Enggak. Dia tidur pulas saat saya menggosok giginya. Sesekali terjaga, saya menghentikannya. Dan ketika dia tidur lagi, saya menyikat giginya lagi.

Sikat tetap saya basahi dengan air. Alhamdulillah lumayan bersih kok. 

9. Membawanya ke dokter gigi anak

Ini baru rencana dalam waktu dekat. Saya beneran worry masalah ini. Gigi dan mulut kelihatannya sepele, tapi sebenarnya puenting banget. Plak-plak gigi yang tidak dibersihkan bjsa menjadi kuman. Dan untuk anak, itu bisa fatal lho. Huhu.

Saya nggak tahu kapan sebaiknya membawa anak ke dokter gigi. Karena mungkin kesannya horor. Tapi buat Ray, sepertinya memang perlu, karena saya nggak tahu salahnya dimana atau butuh treatment apa untuk menjaga gigi dan mulutnya sehat. Saya termasuk rajin menggosok giginya tapi kenapa bisa kuning dan grupis? Ga konsumsi gula juga. Tanya kenapa? Makanya saya butuh penjelasan dari dokter sambil tahu kondisi gigi Ray secara langsung. Semoga segera ya.

Nah, teman-teman punya pengalaman menggosok gigi pada bayi? Sharing yuk...
Read More »