Featured Slider

Tampilkan postingan dengan label #WeddingDress. Tampilkan semua postingan

Post Partum Depression Warior

2022 seperti roll coaster buat saya. Fisik dan psikis saya ditempa. Rasanya tiap pagi isinya hanya keluh kesah *cry*.

Belajar menjadi Ibu sepanjang masa

Saya belum sempat menceritakan tentang persalinan Sea. Bahkan Sea juga sudah disunat pun belum sempat mendokumentasikannya seperti Ray dan Ben. Bukan karena tidak mau, tapi setelah melahirkan Sea, saya merasa ada yang berbeda. Sinyal seperti saat setelah melahirkan Ray. Tiap hari rasanya lelah tidak berkesudahan. Pagi, siang, sore rasanya gelisah dan cemas. Yang ujungnya adalah AMARAH. 

Saya tidak baik-baik saja

Dulu, ketika melahirkan Ray, saya merasa dipaksa bahagia. Disuruh bersyukur yang ternyata membuat makna blur. Padahal, bersyukur sambil merasakan capek itu tidak apa-apa. Tidak selalu menjadi perempuan yang kuat juga tidak mengapa. Sesekali menampilkan sisi rapuh, juga manusiawi. Sayangnya, saya tidak ada yang mengajari untuk memeluk emosi-emosi negatif itu. Cenderung disuruh mengabaikan dan diburu-buru diusir pergi. Sehingga ketika perasaan itu datang lagi, seperti membangunkan sisa emosi negatif lainnya yang membekas. 

Perasaan tidak nyaman yang mengendap

Sejak kecil, saya dilatih untuk sat set wat wet. Merasa bangga kalau bisa mengerjakan sesuatu dalam satu waktu. Istilah kerennya adalah multitasking. Tapi semakin kesini, saya justru belajar untuk pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa. Kelihatannya mudah, tapi praktiknya menguras tenaga. Karena kebiasaan yang sudah terbangun tadi. Jika tidak melakukan apa-apa, padahal memang waktunya istirahat, rasanya seperti tidak produktif, huhu. 

Setelah melahirkan Sea, memori masa kecil saya hadir. Hal yang dulu saya kira baik-baik saja, ternyata tidak. Saat ini seperti menggerus dan meremas nadi tanpa ampun. Hal ini membuat saya tidak bergairah dan menikmati obrolan dengan Ibu saya. Pola pengasuhan beliau membangunkan memori-memori lain yang membuat saya terluka. 

Saya benci dengan sikap Ibu (dulu) waktu saya masih kecil, tetapi saya merasa kasihan dalam waktu yang bersamaan. Ibu seperti mendikte saya harus bisa apa saja. Mengkritik apa yang saya lakukan. Padahal sebelumnya saya tidak apa-apa. Tapi ternyata saya hanya menahan diri dan memaklumi. Doktrin kalau dikasih tau orang tua tidak boleh membantah dan harus patuh, saya lakukan tanpa sungkan (waktu itu). Dan hari ini, saya seperti terlihat tidak penurut (lagi), karena tidak diberi ruang untuk diskusi. Tidak ditanya apakah saya suka atau tidak. Apakah sedang sedih. Atau perasaan tidak nyaman lain yang tidak mendapatkan validasi. Di sisi lain, saya merasa kasihan pada Ibu. Karena mungkin dulu Ibu tidak atau belum memiliki keterampilan untuk mengolah perasaan anak-anaknya. Bahkan mungkin belum bisa memvalidasi perasaan sendiri. Menganggap dirinya selalu baik-baik saja. Tidak mengizinkan badannya istirahat padahal sedang sakit dan terus mengurus rumah dan keempat anaknya. 

Selama ini kami berdua ternyata tidak terlalu bagus cara komunikasinya. Karena ada penengah Bapak. Saya sefrekuensi dengan Bapak yang sekaligus bisa mempengaruhi keputusan Ibu. Jadi selama menikah, apa yang diputuskan Bapak, maka Ibu akan makmum. Saya cukup ngobrol sama Bapak saja tentang apa-apa, karena pada akhirnya Ibu akan setuju kalau Bapak setuju.Setelah Bapak tidak ada, Ibu seperti hilang arah dan mulai belajar untuk memutuskan apa-apa sendiri. Emosinya pun kacau balau yang berpengaruh pada fisiknya. Yang biasanya check up 1 bulan sekali, jadi ada tambahan fisioterapi 2 minggu sekali bahkan pernah seminggu sekali. 

Menghadapi Ibu

Ada momen dimana Ibu sulit sekali diajak kompromi. Melanggar pantangan Dokter sampai mau menyerah untuk mati saja (karena merasa badannya sakit semua). Kami pernah mengobrol empat mata dan sesenggukan sama-sama, dan ini bisa beberapa kali saking Ibu merasa bingung terhadap perasaan dan badannya. 

Sikap tegas saya dianggap keliru. Ibu merasa sering dimarahi, sehingga hubungan tidak nyaman itu muncul lagi. Ibu butuh terapi tapi tidak mau berangkat. Tidak boleh angkat-angkat berat tapi mentah saja nasihat dokter. Badannya tidak bisa dibohongi, keesokan hari pasti kaku dan tidak bisa jalan. Diskusi dan bujukan-bujukan itu hampir setiap hari saya lakukan. Seperti membujuk Ray yang harus ke dokter untuk vaksin, tapi dengan cara yang elegan tanpa harus ada amarah. 

Kami berdua jatuh bangun mengelola emosi setelah ditinggal orang yang kami cintai. BAPAK. 

Baca juga: merawat orang tua wajib sehat lahir batin

Tidak mudah, tapi harus dijalani. Untuk menghadapi Ibu, saya harus memastikan kalau kondisi badan dan emosi saya harus oke. Karena ketika dalam posisi capek, saya justru akan terpancing marah. Ibu menyuruh saya lebih bersyukur karena punya ina inu. Harus kuat momong anak seperti beliau dulu. Menganjurkan punya anak perempuan yang diulang berkali-kali padahal saya tidak nyaman dan merasa kerepotan. 

"Sekalian repot", ungkapan yang membuat saya marah. Karena yang repot adalah saya, bukan mereka. 

Menghadapi Ibu, mengurus anak-anak, pekerjaan, menjadi istri membuat saya melupakan jadi diri sendiri. Hal-hal ini yang membangunkan inner child saya. Kabar baiknya, saya menyadari sedang tidak baik-baik saja dan tidak sungkan meminta bantuan. 

Post Partum Depresion

Setiap hari merasa kelelahan, malas makan padahal sehari tidak makan, emosi labil, menangis tergugu, napas pendek-pendek, cemas, dada rasanya sesak. Sebulan terakhir kondisi ini yang saya rasakan. 

Koneksi sebagai anak, ibu, istri bahkan diri sendiri seperti hilang. Saya sama Ibu obrolannya memilih topik yang aman, yang tidak menyebabkan kami berdebat panjang. Saya cerita kondisi dan perasaan saya pada suami. Semula kami baik-baik saja dan lebih merasa tenang. Tapi pada akhirnya saya lebih defensif ketika suami tidak bisa memberikan arahan seperti yang saya mau atau butuhkan. 

Sepanjang jalan nangis, rasanya kepala banyak kunang-kunangnya

"Kalau aku capek, aku harus ngapain ya?", saya ingat betul isakan tangis di mobil dan bertanya demikian. Suami menjawab " Istirahat". Jawaban sederhana yang membuat saya marah. Bagaimana bisa istirahat kalau anak-anak nempel terus. Rutinitas yang rasanya membosankan dan melelahkan dari pagi ke pagi lagi. Isi kepala penuh sekali dan saya bingung harus menguraikannya darimana. 

Hingga akhirnya saya menjadwalkan ke psikolog. Btw, suami mungkin juga bingung menghadapi saya. Dan lebih memilih diam karena takut reaksinya membuat saya lebih marah. Padahal saya menganggap diamnya adalah bentuk tidak peduli. Koneksi ini yang membuat kami kaku. Sama-sama merasa serba salah. 

I need help


Selain suami, setiap hari, jika sensasi rasa cemas dan ketidaknyamanan itu mulai hadir, saya whatsapp sahabat saya. Texting segala hal. Dia juga menanyakan hal-hal yang kelihatannya sepele. Ayaa sehat? Sudah makan? Semoga hari ini menyenangkan yaa. Hal-hal seperti itu. 

Ketika bertemu psikolog, belum mulai sesi saja saya sudah bercucuran air mata. Beliau tidak menjeda dan memberikan tisu. 1,5 jam saya menceritakan kondisi saya. Ada beberapa hal yang disarankan yang membuat saya lebih baik (saat ini) 

1. Penerimaan 

Menerima segala perasaan yang ada. Ketika cemas dan emosi hadir, tidak buru-buru diusir. Kalau selama ini selalu mengusir rasa tidak nyaman, dilatih pelan-pelan. 

Saat Dokter menyampaikan hal itu, untuk tahap ini saya sudah menerima kalau sedang tidak baik-baik saja. Berlatih untuk pelan-pelan padahal sebelumnya saya ga tau ilmunya. Dan ternyata saya benar, tinggal melatih dan mengasahnya saja. Plis, jangan denial kalau misal kalian sedang tidak baik-baik saja dan justru pura-pura kuat atau bahagia. Karena menurut saya itu sangat menyakitkan dan menyedihkan :(

2. Memeluk diri sendiri setiap bangun tidur atau mau tidur

Saya diajari memeluk seperti posisi kupu-kupu. Belajar berterimakasih dan minta maaf sama diri sendiri. Untuk hal ini, sebenarnya saya juga pernah dan sempat melakukan, tetapi tidak menjadikannya kebiasaan secara konsisten. 

Selama ini, mungkin kita tanpa sadar terlalu keras pada diri sendiri, sehingga lupa mengapresiasi. Kalau pikiran saya lagi beneran ruwet dan bundet, selain memeluk diri sendiri, saya memanjangkan napas. Teknik yang pernah diajarkan bidan kita saaaaangat bermanfaat untuk pemulihan PPD ini. Sadar napas kalau kita berharga :) 

Baca juga: belajar napas di bidan kita

3. Reframming dan memunculkan memori baik

Kalau kondisi saya saat ini, memori masa kecil berkelindan dan merangsek tanpa permisi. Membuat dada saya sesak. Menjadi Ibu itu seperti ditodong rasa bersalah dari segala arah. Sudah merasa memberikan yang terbaik, tapi ada ruang yang menuntut dengan pertanyaan yang menyerap emosi; apakah keputusanku benar? Apakah sudah menjadi Ibu yang baik? Hingga pada satu titik mengulang mantra "Anak-anakku tidak butuh Ibu sempurna, tapi Ibu yang tenang", sambil menerapkan poin 2.

Jika kenangan buruk pola asuh Ibu yang dulu saya anggap keliru hadir, saya disarankan menghadirkan momen-momen manis dan terbaik dari Ibu. Mencari dan mengingatnya pelan dan berulang *menuliskan ini saja saya bisa menangis*. Saya yakin, Ibu dulu sudah memberikan versi terbaiknya tanpa bermaksud mengabaikan saya. Saya memaafkan dan menghadirkan ingatan baik bersama Beliau. 

4. Beri batasan dan ruang

Kita tidak berteman tidak apa-apa. 5 tahun terakhir sejak menjadi Ibu, circle saya mengerucut. Merasa tidak harus berkewajiban untuk memiliki teman yang banyak. Percaya diri melakukan apa-apa sendiri yang bagi sebagian banyak orang terasa aneh. Ternyata makan atau nonton sendiri memberikan ruang untuk mengenal lebih jauh apa mau kita tanpa harus pura-pura. 

Memberikan batasan apa yang perlu dipikirkan atau apa yang perlu diabaikan. Jangan sampai kita justru terbalik melakukan keduanya. Caranya bagaimana? Ada di poin 5.

5. Journalling

Menuliskan hal-hal yang membuat kita harus atau tidak harus dilakukan. Menuliskan apapun yang kita rasakan ternyata bisa lebih membuat lega. Untuk hal-hal yang lebih privasi, saya menulis dengan tangan di buku. Tulisan di blog ini saya publish untuk mengenang, bahwa nanti ketika saya insya allah lulus dari PPD, saya bisa membacanya sambil tersenyum :) 

Untuk yang merasa tidak baik-baik saja, pelan-pelan pulih ya. Rasakan sensasinya. Khususnya yang sedang mengalami PPD. Jangankan mengurus bayi, memeluk diri sendiri rasanya butuh energi. Tidak apa-apa. Rasamu valid. Tidak perlu membandingkan dengan yang lain prosesnya. Karena semua memiliki path masing-masing. 

Tidak melulu lekas pulih demi bayimu, tapi untukmu terlebih dulu. Himpun seluruh hal baik untuk mendukungmu. Siapapun yang membuat nyaman, genggam erat-erat dan peluk mereka agar bisa tersalur energi positifnya. 


Tertawa itu hanya chasingnya.  Tapi Rasa tenang itu ada dalam hati yang tahun ini aku usahakan setengah mati

Ketika kamu merasakan hal sama di atas dan mengganggu aktifitas sehari-hari, cari bantuan profesional. Curhat pada teman, keluarga bahkan suami belum tentu menjadi jalan keluar karena memang mereka mungkin tidak paham harus apa dan bagaimana. Ke psikolog atau psikiater bukan berarti kamu gila, justru kalau kamu tidak diobati akan mengarah kesana. Ke Dokter tidak melulu diresepkan obat, diagnosis yang tepat akan membantumu pelan-pelan pulih. 

Mari songsong 2023 dengan berani dan berenergi! :) 


Read More »

Kamu



Kamu, yang selalu bisa mengeja keras kepalaku

Ada hal yang setidaknya dalam perkawinan itu tidak diajarkan sebelumnya. Kita dipaksa otodidak harus paham, padahal kalau dipikir lagi, kita sedang melakukan akad panjang, yang kalau bosan harus tau bagaimana cara menyiasati. Jika marah harus bisa memberikan puk-puk pada hati.

Kamu, yang sama-sama mau belajar mengarungi labirin ini. Menertawakan banyak hal. Aku selalu bersyukur, karena meski aku ingin menyerah berkali-kali, kamu tetap menggenggam erat jemarin. Menelangkupkan ke ruasnya. Memastikan bahwa biduk ini akan berlayar. Pelan.

Read More »

Cukup

 Ada waktu dimana kita berdua saling beradu ego. Hampir menyerah satu sama lain. Menahan diri sekuat tenaga agar tidak saling menyakiti. 



Ada jeda ketika kita berdua sama-sama saling lelah. Mengisi diri membasuh emosi. Malam ini, ada percakapan yang menghilangkan rasa kaku. Momen yang membuat kita saling gagu mencari jalan keluar untuk menyaksikan kalau kita berdua saling peduli. 


Untuk kamu. Terima kasih. Karena mau sama-sama saling belajar. Tidak harus sama seketika. Tapi menghargai apa-apa yang beda.

Read More »

Sabtu Bersama Bapak

Engkau menciptakannya dengan cinta dan Engkau juga yang memanggilnya karena rindu...

Menuliskan penggalan kalimat yang sempat ditulis Mas Bedul di whatsapp story, lagi-lagi membuat genangan di mataku. Sudah hampir 2 Minggu kepergian Bapak, semakin kuat rasa ikhlas itu menguji. Ah iya, sabar juga yang menantang menuntut pembuktian. Ikhlas dan sabar katanya menjadi kunci. Teorinya begitu, tapi saat ini aku disuruh praktik.

Memori Bersama Bapak

Sabtu bersama Bapak adalah zargon  me time kami. Karena hampir setiap Sabtu, aku mengagendakan makan bersama atau mengantarkan beliaucheck up rutin bareng Ibu. Makanya, aku pikir Sabtu ini aku sudah bisa memulai pekerjaan yang tertinggal. Ternyata tidak. Setelah google photo milikku menarik mundur momen satu tahun lalu. Iya, memori bersama Bapak.

Hari ini, satu tahun yang lalu, bahkan aku masih ingat percakapannya.


Akhirnya, aku ingin mengurai pelan-pelan melalui tulisan ini. Agar lebih lega dan siapa tahu aku bisa menang menaklukkan bab sabar dan ikhlas.

Bapak,

Setelah flash back lagi, ternyata tanpa sadar aku selalu menyelipkan Bapak di setiap keputusanku. Saat aku galau-galaunya lulus kuliah, mau kuliah lagi atau lanjut kerja, Bapak cuma bilang "Kerja dulu saja, Ndhuk, cari pengalaman". Tanpa babibu, aku menyimpan formulir pendaftaran S-2 dan mengemas baju ke dalam koper untuk ikut ke Jakarta. Untuk mencari kerja. Waktu itu aku sudah menjalani hari pertama ujian TPA di pasca UNS, dan Minggu depannya ujian di UGM. Dua-duanya aku tinggalkan tanpa kuteruskan. Kalau dipikir-pikir sekarang, kenapa dulu ga nyobain dulu sampai selesai? Nego sama Bapak buat kuliah lagi?

Saat aku menyadari mimpi buat kuliah lagi, aku memutuskan buat pulang, padahal saat itu aku jatuh cinta setengah mati sama Jakarta dan ingin berkarir disana. Aku memilih Solo biar bisa dekat sama kamu, Pak.

Memilih pekerjaan, scope wilayahnya sudah aku sortir jadi Solo-Klaten-Jogja kayak bis Mira. Padahal Bapak tahu, mimpiku dulu pengen jadi diplomat keliling dunia.

Membeli rumah, aku dan suami survey HANYA sekali dan langsung jatuh hati. Hanya karena di ujung jalan dibangun mushola yang bisa Bapak dan ibu pakai untuk jamaah saat ikut dengan kami tinggal di Solo *cryyyyyyyyyyyy*.

Dan saat aku memutuskan beli mobil, trus pengin belajar nyetir sendiri, itu juga karena pengen bisa nganterin Bapak sama Ibu kemana-mana. Nganter check up leluasa, nganter makan keluar kalau lagi nggak selera makan. Sesederhana itu, Pak. Padahal sebelumnya aku gagal berkali-kali belajar nyetir dan lebih nyaman naik kereta atau naik motor. Dan saat ini, aku mati-matian menata hati kalau mau belajar nyetir mobil. Karena pasti aku inget lagi sama Bapak.

Ibu sesekali tergugu, karena setiap saat inget Bapak. Saat selera makan Ibu hilang, kemarin aku memutuskan untuk beli sop iga yang menurutmu lezatnya tiada dua. Kami datang rombongan saat sepi. Saat semua makanan tersaji, Ibu tergugu lagi. Aku menghela napas panjang lagi, menghampiri Ibu dan memeluknya tanpa bicara. Kami menangis bersama-sama sampai lega. Bukan karena kami tidak ikhlas, tapi dadaku benar-benar sesak sekali, Pak. 

Mas Bedul bilang, kalau meskipun Bapak sudah pergi, tapi tetap selalu ada di hati kami. Mataku sembab sekali. Hatiku remuk entah tidak terperi. Banyak orang memintaku kuat dan semangat. Semakin menyugesti kuat dan semangat, rasanya semakin jatuh lagi dan lagi.


Rasa Itu Ada

Handphone-ku update. Tanpa babibu, beberapa aplikasi meminta pasword, tidak terkecuali mbanking. Sebelumnya, karena nggak mau ribet, aku pakai sidik jari buat membuka aplikasi beberapa m-banking. Duh ya, berasa jumawa banget bilang beberapa m-banking, padahal karena terpaksa punya, wkwkw.

Salah satunya terblokir, huhu. Udah telpon call center habis 100 ribu, endingnya tetap disuruh ke cabang buat membuka blokirannya. Ya Allah, bayangin aja udah capek banget :(((. Padahal udah merasa seneng karena sebelumnya berhasil mengurus taspen, bpjs sama perpanjang SIM. Kali ini harus ngurus blokiran m-banking.

Long short story, aku dapat antrian CS, nomor 31. Aku pikir momen sama Bapak udah bisa aku rasakan baik-baik saja. Tapi tiba-tiba rasa itu masih ada. Rasa kehilangan. Rasa sakit. Rasa sesak yang memaksa air mataku tidak mampu mengucur deras. Tidak hanya itu, badanku seperti limbung. Aku duduk di kursi. Mataku panas, hidungku kedat ingus. Kalau bukan karena masker yang aku kenakan, mungkin aku sudah lari ke kamar mandi buat nangis sepuasnya.

30 menit aku tidak menghindari perasaan itu. Perasaan de javu yang memaksaku inget soal Bapak. Sekali lagi. Tapi kali ini aku lapang sekali. Menikmati rasa sesaknya. 

Ada seorang bapak-bapak yang bertanya paxa security. Sederhana sekali sebenernya; ia menanyakan form buat mentrasfer uang buat anaknya yang kuliah di UNDIP. Pagi itu hilir mudik mahasiswa, orangtua yang sedang membayar SPP dan UKT. 

Mataku terpaku sejenak. Kakiku seakan melemah. Mungkin lima belas tahun lalu aku pernah diajak Bapak buat transfer Mas Joko. Dulu kami belum familiar dengan ATM. Jadi, kalau Mas Joko ga sempat pulang Klaten uang sakunya dikirim via transfer tunai. Aku menulis formnya, Bapak menyerahkan uang tunainya.

Splash! Memori itu membuatku ingat Bapak sekali lagi


40 Hari

Tiap hari, Ibu terasa gloomy sekali, Pak. Bohong kalau beliau sudah lupa. Justru tiap hari ingatannya tegas sekali tentang Bapak.  Meminta Iqbal, Lintang sama Khansa untuk menyebut nama Bapak di setiap salatnya. Ah iya, Lintang sekarang yang jadi imam salatnya Ibu, Pak. Dia bahkan sampai sekarang yang nemenin tidur di kamar. Karena tidak tega Ibu tidur sendirian. Ah, cucu Bapak satu itu sudah besar.

Hari ini genap 40 hari ya, Pak. Tidak ada tahlil. Tidak ada kumpul-kumpul. Kami memutuskan untuk memberi sembako atas nama Bapak. Dan mendoakan Bapak sama-sama. Kanan kiri banyak sekali yang positif, Pak. Kami takut banyak mudzaratnya kalau membuka pintu rumah dengan alasan doa bersama. Aku yakin, Bapak sepaham dengan ini. Insya Allah doa kami sampai dan menjadi penerang.

Sabar dan Ikhlas

Apakah aku lulus tentang sabar dan ikhlas? Aku sama sekali tidak tahu, Pak. Jujur, aku masih suka menangis kalau mengingat Bapak. Dadaku juga masih terasa sesak. Aku tidak menolak perasaan-perasaan itu. Membiarkannya hadir tanpa harus jumawa merasa kuat. Aku menulis ini, mengurai satu-satu. Kangen sekali sama Bapak.

Ah iya, Pak. Lintang lolos ke club idamannya. Tanggal 23 Agustus besok berangkat. Doa-doa Bapak kemarin dibayar tunai kan. Allah itu begitu baiknya. Hanya soal waktu, qun fa yakun.

Semoga Bapak husnul khotimah.


Putrimu yang mencintaimu segenap hati.


Read More »

Mastitis yang bikin patah hati

Rasanya melahirkan 4.3 kilo itu berasa chill aja. Diajak begadang pun, hayuk sih. Ray seakan jadi ospek banget buat menjadi ibu yang tenang. TENANG ya, bukan BAHAGIA. Karena seabsurd itu makna bahagia.



Habis lahiran pun asi alhamdulillah juga langsung keluar. Ben nyusu kenceng dan tidur nyenyak. Jahitan dua agak perih, tapi tidak sesakit waktu pertama kali melahirkan.

Semua berjalan sampai suatu ketika saya harus menghadapi mastitis. Badan demam, payudara bengkak tapi ga bisa keluar. Mau berdiri rasanya kepala diputer sakit banget. Ya Allah :(

Dua minggu perasaan cuma mbatin aja kalau, kok ga ada hambatan berarti ya lahiran kali ini? Wkwkwk. Lalu dibayar tunai dengan dikasih mastitis.

Treatment

Karena saking sakitnya saya sampai nangis, huhu. Seharian bed rest. Sesekali Ben nyusu, itupun nyeri banget. Akhirnya saya minum pereda nyeri, bagian payudara dikompres pake air anget sama es bergantian sambil dipijat pelan. Saya search youtube bidan kita buat praktik tentang pijat ini. 

Lumayan enakan tapi nyerinya masih ada. Saya benar-benar pulih sekitar 3 harian. Udah ga mau mbatin neko-neko lagi ah. Nantangin pas dijabanin berasa nangis-nangis. Wkwkw

Buat Ibu menyusui, semangat ya! Lulus asi ekslusif dan terusin sampe anak bosen :p.


Read More »

Pernikahan Tahun Kedua

Ujian yang disambut sukacita adalah pernikahan


Sebenernya nggak mau menuliskan tentang ini, tapi kok ya sayang banget melewatkannya. Saya inget banget (meskipun tidak berusaha mengingatnya), tapi memang auto-remember kalo tanggal 25 Desember saya pernah melakukan akad nikah 👰. Entah kenapa, saya bisa saaaaangat detail tentang sesuatu, mulai dari tanggalnya, momennya dan segala pernak perniknya, salah satunya adalah momen nikah. 

2 tahun nikah ngapain aja? Kalo bisa dibilang, saya kayak ospek masuk perguruan tinggi. Kenalan sama kampusnya yang bernama keluarga, kenal dekan dan civitas akademikanya (keluarga suami). Ini kenapa analoginya begini ya? Tapi memang benar. Saat memutuskan menikah dengan seseorang, kita juga harus siap menikahi keluarganya.

Di tahun pertama, kami berdua jauh-jauhan, Jakarta-Klaten-Solo, di tahun kedua, kami ngumpul di Klaten. Di tahun kedua ini, kami sudah bertiga dengan Ray. Hadiah dari Allah yang membuatku naik level karena belajar hal-hal baru sebagai ibu.

Baca juga: Pernikahan tahun pertama

Komunikasi tanpa kode

Komunikasi menjadi kunci penting kami, terutama saya yang sukanya main kode. Ada 2 hal mendasar yang menjadi perbedaan saya dan suami. Perasaan saya lebih peka dan lebih tanggap harus ngapain dalam situasi tertentu. Saya bisa tahu seseorang sedang marah dan menganalisis sebab marahnya karena apa. Sifat ini ada plus minusnya, plusnya saya bisa lebih berempati, minusnya saya sering pusing sendiri karena sering menebak nebak karakter seseorang. Fix, kebiasaan ini turunan dari Bapak saya.

Kalau tipe suami, dia lebih logis. Kalau mau sesuatu, ya bilang, jangan dipendam. Huhu. Saya ngarepnya kalau dia itu paham apa mau saya karena itu hal-hal yang umum. Misalnya, saat Ray nempel seharian sama saya, pengennya dia inisiatif megang. Tapi dia punya pandangan kalau Ray ini beneran nggak mau dipegang orang lain, termasuk papinya. Jadi dia nggak nawarin untuk menggantikan.

Baca juga: Anak bau tangan ibunya. Trus kenapa?

Saya menggugu di kamar karena saking capeknya nggendong Ray, capek hati kenapa suami nggak nawarin nggendong. Huhu. Dan setelah kami bicarakan, ternyata maksud kami berbeda. Akhirnya, saya nggendong Ray, suami memijat tengkuk saya sambil bilang (((SABAAAAR))). Trus, ada kelanjutannya "Kalo Adik butuh sesuatu, lagi sebel, mendingan diomongin, jangan dikodein, biar Mas tahu". Atau kalau beneran saya kadung marah, hampir selalu "Mas salah lagi ya? Di bagian mana? Coba bilang". Yakali, marah dan sebel harus bilang :((

Ternyata saya sering capek sendiri kalo main kode, atau mengendap keinginan. Saya belum bisa lepas dari kebiasaan "mengkode" ini. Tapi pelan-pelan saya belajar berkomunikasi dengan baik. Saya sering sebal karena harus menerjemahkan keinginan Bapak yang suka mengkode, mungkin suami juga sebal kalau dia harus menjelma jadi cenayang meraba keinginan saya. Dan saya memposisikan menjadi dia. Oke, kuharus belajar komunikasi tanpa kode. Katakan saja sejujurnya *NYANYI*.

Kompromi tingkat tinggi

Tidak apple to apple membandingkan jobdesk suami dan istri. Mendingan dilakukan sebisanya siapa (suami atau istri) dan tidak menghitung lebih capek siapa. Kalau salah satu tidak bisa melakukan suatu hal, ganti dengan hal lain.

Awal punya Ray, waktu saya tersita untuk mengurusnya. Nyuci, nyetrika, nyapu berasa borongan. Adanya komunikasi yang clear, semula merasa kerjaan bertumpu di saya, setelah dibagi, kami berdua sama-sama enak.

Memegang Ray itu sudah 1 pekerjaan sendiri. Mandiin, nyusuin, nidurin, dan segala kebutuhannya hampir selalu sama saya. Apalagi 4 bulan pertama, saya mati-matian adaptasi karena Ray hobby begadang siang malam dan nyusunya saaaaangat kuat. Tiap 1-2 jam menyusu. Kalau habis magrib tidur sebentar (buat ngecharge energi), jam 10 malam sampai shubuh ngajak main begadang.

Dan pernah, paginya hanya tidur setengah jam trus bangun sepanjang hari. Kalau tidur harus dipangku, kalau ditaruh di bed langsung bangun. Ini anak kenapa nggak ada capeknya, huhuhu. Karena siklus Ray yang begitu, saya sempat mengalami baby blues bahkan hampir Postpartum Deepression. Huhuhu.

Karena mengurus Ray, nyuci, nyetrika diambil alih suami. Emosi saya labil tingkat tinggi. Sering minta diantar pulang ke rumah ibu. Dan yang paling absurd minta naik kereta. Kalau bukan kompromi dari suami, mungkin di usia Ray 2.5 bulan nggak diijinkan naik kereta meskipun cuma ke Jogja, ahaha.

Sebelum 40 hari, saya juga udah pergi-pergi ke alun-alun. Hanya di dalam mobil saja beli batagor trus pulang. Saat saya tiba-tiba nangis sendiri, dia memeluk dan memijit tengkuk. Saya sadar sedang baby blues bahkan hampir kena PPD. Makanya saya mencari informasi tentang itu dan sharing sama suami. Makanya, dia menjadi support system saya untuk "tetap waras" ngurus anak.

Alhamdulillah, usia 5 bulan Ray tidurnya sudah kondusif. Saya juga sudah terbiasa dengan begadang (ditemenin suami). Saya menikmati perkembangannya dan "menerima" emosi yang kadang bergejolak. Nangis ya nangis, kalau kesel ya ngomong agar tersalurkan.

Buat bapak-bapak, baby blues dan PPD itu bukan hoax. Jadi kalau istri kalian sedang mengalaminya (semoga saja tidak), please temani dia, peluk erat dia. Jangan menganggapnya manja dan mengada-ada. Percayalah, istri kalian juga sedang melakukan win-win solution terhadap dirinya sendiri. Mengalaminya sendiri, saya sempat kehilangan makna kebahagiaan menjadi istri dan ibu. Huhuhu

Melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda

Tahun 2018, kami berdua jadi freelancer. Bagi tetangga kami, kami berdua nggak punya kerjaan, ahaha. Makanya, tiap ditanya kerja apa yang notabene basa basi, saya bilang "di Rumah momong Ray". Case closed, ga ada pertanyaan lain. Lha kalau saya cerita, mereka juga nggak mudheng, kesannya nanti saya cerita apa yang saya kerjain kok bisa dapat duit padahal di rumah.

Saya juga nggak mencoba meluruskan kalau mereka memiliki kesan seakan-akan kami pengangguran. Trus gimana perlengkapan buat anak? Jangankan ke tetangga, awalnya orangtua saya sendiri sering menanyakan "Kamu butuh apa, wuk?" (pertanyaan halus pengganti "kamu punya uang nggak? Ini lho, bapak ibu punya, dipake aja).

Padahal kami berdua merasa cukup, makan enak, keperluan Ray juga cukup. Bekerja di rumah, nggak pake seragam dan nggak punya kantor bukan berarti PENGANGGURAN lho ya, ahaha. Untungnya, orangtua memahami pilihan kami saat ini.

Apakah akan selamanya freelancer? Enggaaaaak. Karena jujur, saya butuh penghasilan tetap. Sebenarnya suami sempat ditawari untuk bekerja kantoran lagi, cuma sayangnya belum pas. Nggak pas lokasi kerja atau nggak pas di hati dia (passion). Nah, kalo saya lagi nunggu pengumuman akhir cpns. Keluarga besar seneng banget karena lokasi kerjanya di Solo, dekat keluarga. Rasanya mereka yang paling greget menyambut cpns an tahun ini.

Setahun ini, kami berdua belajar melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Beberapa penolakan yang sempat membuat saya merasa down, suami selalu mengusap-usap kepala saya dan bilang "Nggak apa-apa, coba lagi".

Setahun pernikahan ini, saya banyak mendapatkan insight baru dari suami. Dan di bawah ini beberapa contohnya.

Birul walidain nggak setengah-setengah

Saya sempat merasa worry karena kami berdua menjadi freelancer. Konsekuensinya adalah pendapatan tidak menentu. Jadi saya harus pandai-pandai dalam mengatur keuangan. Berbeda dengan suami. Dia woles banget dan tidak menyesal resign dari pekerjaannya. Untuk beberapa orang, pikiran tersebut sangat nyeleneh. Istri hamil kok malah resign, ahahaha.

Baca juga: Hal yang Membuat Bapak Ibu Bahagia

Ibroh pertama adalah kami berdua benar-benar birul walidain sama orangtua. Baik orangtua saya maupun dari suami. Kapan lagi coba, bisa nemenin kemana saja? Kata suami. Kami berdua menemani bapak ibu entah cek ke rumah sakit atau makan bersama.

Kami selalu meyakinkan mereka bahwa tidak ada kamus merepotkan dalam keluarga. Karena kadang-kadang mereka sungkan bilang kalau butuh sesuatu. Takut merepotkan kami, huhu.


Menyamakan visi dan misi pernikahan (lagi)

Menikah itu juga berarti kita belajar seumur hidup. Kita dibuat takjub dengan hal baru yang harus kita pahami agar rumah tangga tetap melaju dan tidak karam di tengah jalan. Contoh saja suami yang ingin resign dari pekerjaan. Sebagai istri bagaimana harus menyikapi? Bagaimana ke depannya?

Dalam perjalanan, kami sepakat mengurangi riba. Salah satunya tidak mengambil KPR. Hal yang semula membuat saya worry, "Masa iya beli rumah ga bisa pake KPR? Kan mahal?", huhu. Tapi lama-lama saya paham dan ikut mendalami tentang ini. Kami baru menerapkan hal ini di keluarga kami tanpa nyinyirin yang lain.

Lha emang awalnya nggak sama visi misinya? Untuk hal-hal yang bersifat prinsip, alhamdulillah sejalan. Tapi seiring berjalannya waktu, ada perbedaan diantara kami. Saya pribadi bersyukur perbedaan itu masih bisa selaras. Apakah mengganggu? Awalnya iya, tapi dengan kompromi, semuanya menjadi luwes.

Menemani masa emas perkembangan dan pertumbuhan Ray

Yang tidak kalah penting ketika kami berdua menjadi freelancer adalah kami berdua bisa menemani Ray di usia golden age nya. Sampai saat ini, Ray hampir 24 jam sama saya. Dia juga tidak kekurangan kasih sayang Papinya karena memang kapan pun waktu mau bermain, Papinya bisa.

HP kami berdua banyak foto dan video mengenai tumbuh kembang Ray. Dan hal ini saaaangat kami syukuri.

Komitmen pernikahan

Dari awal pernikahan, meskipun banyak kompromi tingkat tinggi, ada hal-hal prinsip yang tidak bisa diganggu satu sama lain. Salah satunya, saya menganut prinsip monogami. Saya tidak memaksakan suami untuk mengikuti saya, tapi kalau itu diingkari, berarti hubungan selesai, na'udzubillah.

Kelihatan adem ayem bukan berarti bebas dari masalah. Kami berdua saling belajar. Dalam berjalannya waktu, saya tidak percaya penuh tentang pernikahan. Mungkin rasionya adalah 90% percaya, dan 10% nya merasa abu-abu (tidak percaya kalau pernikahan itu membahagiakan).

Saya pernah merasa takut, benar-benar takut, kalau prosentase 10% itu mengikis. Makanya, saya selalu belajar tentang komunikasi dan respek (yang berkali-kali masih remidi). Saya selalu bilang tentang perasaan saya, pemikiran saya, apa mau saya, kemudian menyelaraskan dengan suami.

Apakah selalu sama? Tidak. Dan kalau ada satu hal yang belum ketemu ujungnya saling setuju, biasanya kami membiarkannya dulu dan tidak memaksakannya.

Kami tidak mau terlihat baik-baik saja namun dalam hati menyimpan bara yang membara.

Jadi, semoga kami bisa saling belajar untuk senantiasa bertumbuh sama-sama. 



Read More »

Pernikahan Tahun Pertama

"Menikah adalah menggenapkan separuh dien. Karena satu sama lain saling belajar seumur hidup"...

Ps; ini full curhat dan panjang, feel free to skip~~~

Kenapa menggenapkan, memangnya sebelumnya ganjil? Hish, sebelumnya aku acuh tak acuh dengan frase itu. Tetapi setelah merasakannya sendiri, ternyata menikah menuntut kami berdua untuk saling belajar tanpa batasan. Bisa jadi paginya tertawa sama-sama, untuk kemudian salah satu atau bahkan kami berdua dihadapkan dengan hal yang membuat "badmood" terhadap satu sama lain.

Seringkali yang menyulut api bukan karena hal-hal yang besar, melainkan ceceremesh yang bikin gemash! Kayak handuk basah ditaruh di atas sprai, atau gak sengaja fokus main game trus kalah, eh moodnya tiba-tiba ikut runtuh, ahaha. Dan yang sering, pas aku watsapp tapi balasnya lamanya minta ampun, heuheu. Pokoknya yang begituan bisa membuat kami (kebanyakan aku sih) jadi cerewet. Kalo udah cerewetnya keluar, suami cuma diem sambil klecam-klecem, kalo udah mereda biasanya beliau minta maaf.

Nasihat Pra Nikah

Throwback sebelum nikah, aku dipanggil petugas desa untuk verifikasi dokumen ke KUA. Yaudah, aku sama Bapak kesana ditemenin Mas Nur nama petugas desanya. Aku sih santai aja sebelum ngadep pak naib (penghulu). Sebelum masuk, karena ada calon manten yang tanggal nikahnya sama dan sedang ditanya-tanya juga perihal dokumen pernikahannya, Mas Nur mengajari kunci jawaban kalo misal ditanyain Pak naib, ahaha. Aku cuma manggut-manggut doang.

  • Niat nikahmu apa?
  • Tujuan nikah apa?
  • Udah mantep kan? Nikahnya tanpa paksaan?
Trus Mas Nur ngasih tahu jawabannya, semacam kayak lagi ikut bimbel masuk UMPTN. Nggak lama kemudian namaku dipanggil. Bapak menyalami pak naib yang ternyata sohib ikrib pengajian. Dunia emang sempit ya. Setelah basa-basi nanyain kabar, pak naib menanyakan beberapa hal tentang identitasku dan (calon) suami.

Beres. Dokumen lengkap.

Yang belum beres itu, ya tentang pertanyaan pak naib. Plek ketiplek kayak yang dikasih tahu Mas Nur sebelum menghadap pak naib. Memang sih redaksinya berbeda, cuma intinya sama. Sudah dikasih tahu kisi-kisinya kok ya bibirku kelu dan membeku.huhuhu

Aku cuma klecam-klecem memandangi pak naib sama Mas Nur yang senyum-senyum seperti mengkode biar aku menjawab sesuai yang diarahkannya tadi. Tapi kok ya aku tetep saja berat menjawab.

"Mbak Nur, kalo boleh tahu, niat menikah dengan Masnya itu karena apa?" Of course karena cintaaaaaaaa. Becanda! Aku nggak menjawab itu. Aku menjawab nawaitu menikah sama suami adalah karena ibadah. Entah itu kalimat darimana, cuma memang meluncur begitu saja. 

Sebelum memutuskan menikah, aku dan Mas sudah bicara 4 mata ditambah beberapa mata (keluarga). 6 bulan aku menyiapkan lahir batin, menanyakan siapa tahu Mas berubah pikiran. Tapi ya tak clurit sik-lah kalau sampai benar-benar berani mbatalin, ahaha *kidding*. Intinya, setelah lamaran, aku memberikan waktu 6 bulan buat kami berdua sama-sama memantapkan diri. Mas jauh di Jakarta bekerja buat memenuhi mas kawin seperangkat alat salat plus-plus, sedangkan aku di Solo menyelesaikan kuliah sambil membuat list mau seserahan apa.

Pertanyaan kedua pak naib. "Tujuan menikah Mbak Nur apa sih? Apa dipaksa bapak ibu? Atau kemauan sendiri?" Nah, pertanyaannya dirapel kan. Setelah lancar menjawab pertanyaan pertama, aku tidak perlu diberi aba-aba untuk menjawab pertanyaan kedua ataupun seterusnya. 

Aku menikah karena mau, bukan karena orang lain. Apalagi cuma dipaksa sama bapak ibu, ah bukan. Rasanya mereka ga berani maksa-maksa, tapi kalau nanya-nanya IYAAAA. Nanya temenku si fulan atau fulanah udah nikah apa belum, padahal beliau tahu teman-teman sebayaku udah nikah semua dan malah udah punya anak sampe 2 atau 3. Cuma mereka kayak ngasih kode aja kapan mau dikenalin sama calon mantu, ekeke.

Awalnya aku risih ditanya-tanya, tapi lama-lama aku menyadari karena mereka pasti juga pengin aku segera menikah, pengin momong cucu seperti ketiga kakak lelakiku. Aku belum pernah menjadi orangtua, jadi aku mencoba memahami keinginan mereka. Makany, 5 tahun tanpa adanya hilal mau nikah kapan, di usia ke-27 aku bawa Mas ke rumah serombongan sama keluarganya.

Tujuan membangun pernikahan dengan Mas karena ingin membangun keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Pak naib trus menjelaskan dong arti dari tujuan tersebut. Setelah itu praktik akad nikah. Kebetulan Mas nggak bisa datang karena nggak mengagendakan ada verifikasi ini sehingga tidak bisa cuti mendadak. Pak naib menjabat tangan bapak dan melatih bapak untuk melafazkan akad nikah.

1 jam di KUA berasa ujian mau dapet SIM, ahaha. Entah kenapa yang nikahan pas natal itu banyak juga. Aku yang request jam 9 pagi dimajukan jadi jam 7. Oh my god, trus aku dandan jam berapa cobak, ahaha *pikirku waktu itu*. Tapi ternyata bisa juga cantik pada waktunya.

Alhamdulillah Sah!

Pak naib datang tepat waktu. Akupun sudah siap. Mas siap. Bapak siap. Saksi siap. Dan para penonton juga siap. Bapak mengikrarkan ijab dengan pelan-pelan. Akhirnya beliau mempraktikkan langsung setelah latihan beberapa kali. Aku deg-degan takut bapak salah ucap, maklum beliau baru saja sembuh dari TBC. Alhamdulillah beliau lancar.

Giliran Mas yang berikrar qobul-nya. Ah, aku nggak akan panik dan takut kalau dia salah sebut. Dan benar dugaanku, dia melafazkan qobul sekali napas. Cium (tangan) seketika, trus cium pipi kanan kirinya pas malamnya, ahahaha.

Aku menyalami seluruh keluarga dan entah kenapa aku meleleh. Tiba-tiba ada yang sontak mengingatkan "Gausah nangis, bedakmu luntur lho". Aku menahaaaaaaaan biar bedakku tetap awet tanpa basah air mata. Tapi mustahil, akh mewek, huhuhu. Alhamdulillah bedaknya nggak luntur. Bapak ibu memeluk erat. Kayaknya seneng sudah sah punya mantu per hari itu. 

Dan prosesi resepsi yang membuat kaki, pinggang encok pun membuat kami berjanji "UDAH CUKUP SEKALI AJA NIKAHNYA. IYA, SAMA KAMU DOANG". Sepanjang acara senyum manis, kamera sama video ada dimana-mana, kan nggak enak kalo pas difoto hasilnya kusam atau bahkan merem. Oh No!

Setelah resepsi, tamu masih hilir mudik. Fix, encoknya paripurna. Habis magrib-isya kami masih menemui, mulai jam 9 aku sudah nggak sanggup, akhirnya pamit bapak ibu ganti daster. Ibu senyum-senyum meledek, padahal tumitku udah nggak karuan. Hari itu adalah hari terlama aku memakai high heels, huhu.

Aku sama Mas salat isya jamaah. Aku salim dibalas cium kening *blushing*. "Capek ya?" Pertanyaan macam apa sih Mas, huhu. Tentu capeeeeek. Trus aku masuk kamar mengoleskan minyak ke tumit, pinggang sama tengkuk. Mas minum teh hangat sama tolak angin. Setelah itu bobo pules sampe shubuh buat dirias lagi. Acara ngunduh mantu!

Tahun Pertama Pernikahan

Awal menikah, kami mengalami LDM. Aku ke Jakarta atau Mas yang pulang pas weekend. Kami berdua menikmatinya. Menunggu di peron stasiun sambil ngobrol kapan mau ketemu lagi adalah hal yang lumrah. Dan kami jarang berantem karena intensitas ketemu membuat kami sama-sama bisa mengontrol diri. Beneran, dulunya aku yang dikit-dikit ngambek jadi merasa sayang banget kalau waktu ketemuan yang cuma seminggu sekali harua dipake buat berantem.

Paling pol kami berdebat saat mau lebaran. Aku maunya lebaran pertama di rumah bapak ibu, sedangkan Mas maunya di rumahnya. Logis sih, beliau anak lelaki satu-satunya dan aku juga kasihan kalau bapak ibu mertua lebaran sendirian. Jadi, lebaran tahun 2017 adalah awal aku lebaran tanpa keluarga besar. Tapi itu semua sudah clear dengan damai di atas ranjang.

Baca juga: Lebaran Pertama

Menikah adalah kompromi-kompromi. Aku sangat setuju! Kita bisa up and down dibuatnya. Tidak lagi bicara aku dan kamu melainkan kita sama-sama. Mas bukan tipikal romantis, tapi perbuatannya sering membuat aku meleleh. Hal-hal kecil yang semakin membuatku bersyukur menjadi bagian dari hidupnya. Saling menggenggam tangan, memeluk dan memberikan puk-puk. 

Terima kasih menjadi teman mengarungi tahun 2017. Semoga bisa berjalan bersisian di tahun selanjutnya dengan kompromi yang saling kita sepakati. Meskipun honeymoon dan babymoon hanya sekadar wacana, cuma aku selalu terharu saat aku merasa bosan, kamu menawarkan "Mau ditemenin kemana? Mau dibelikan makan apa?" 

I love you to the moon and back.

Love,

Adik.

Read More »

Lebaran Pertama

Assalamu'alaykum.


Ramadan berlalu semoga semangat ibadahnya tetap terjaga ya untuk menghidupkan syawal dan bulan-bulan setelahnya. Ah iya, lebaran pertama dimana? Bagi yang mudik ke kampung halaman pasti senang ya berkumpul dengan keluarga. Nah, kali ini aku mau bercerita tentang lebaran pertamaku. Benar-benar yang pertama, karena merupakan pengalaman pertama dan sekaligus lebaran di hari pertama dalam arti yang sebenarnya.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini aku menghabiskan lebaran di rumah mertua bersama suami. Dulu saya sempat meremehkan seorang kolega kantor yang ngotot dengan suaminya cuma perkara lebaran pertama akan dihabiskan di tempat siapa. Ternyata, setelah mengalaminya sendiri, ada rasa yang tidak biasa karena harus menghabiskan lebaran tidak bersama Bapak Ibu, seperti yang sudah-sudah. Terdengarnya sepele, tetapi realitanya bisa membuat bad mood kalau tidak dihandle dengan baik.

Tidak semenakutkan yang aku bayangkan, ternyata lebaran di tempat suami tidak kalah mengasyikkan ✌. Hanya mengubah-ubah suasana hati saja biar nuansa rumah bisa tercipta dimana saja. Toh ada yang sampai 13 lebaran menghabiskan lebaran pertamanya di keluarga suaminya juga gapapa. Gausah jauh-jauh, Mbak Endang almost 15tahun malahan selalu menemani suaminya di rumah saya . Saat saya menanyakan kepada beliau, "Gak pengen sekali-kali lebaran di tempat bapak ibumu Mbak?". Dan dia tersenyum tulus sekali seakan saya tahu kalau rumah suaminya adalah rumahnya juga. Duh, saya merasa ditampar berkali-kali.

Sore sebelum takbiran, suasana hati saya mendadak sendu. Rindu rumah tepatnya, cuma di ruang hati saya yang lain mencoba untuk beradaptasi dengan suasana baru. Suami tidak memaksakan sebenarnya, tetapi secara logis, justru saya sendiri yang menginginkan menemani mertua untuk lebaran bersama. Suami hanya 2 bersaudara, dan kakaknya ikut suaminya. Jadi kalau melihat mertua harus lebaran sendiri kok rasanya juga kasihan. Apalagi, di rumah saya sudah ramai, Bapak Ibu tidak merasa kesepian. Meskipun sebelumnya ibu sempat bertanya "Lebaran mau dimana wuk?". Ada desiran halus di hati saua yang seakan-akan membuat bibir kelu untuk menjawabnya.

Suami menangkap sinyal yang tidak enak sehingga saat magrib dia menanyakan apakah saya sedang marah atau tidak. Saya hanya menggeleng dan berusaha untuk menolak perasaan yang entah apa rasanya. Apalagi kemarin dikirimin suasanan takbir di rumah yang asoy geboy meriah banget yang dikirimkan Bapak sama Mamanya Dio membuat saya sekilas memiliki perasaan "Seharusnya saya juga disana". Sampai tidur dibtengah takbir, mata saya bisa mengembun. Suami menggenggam jemari saya dan saya tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan kalau saya rindu rumah. Saya tidak meminta pulang tetapi saya belajar beradaptasi dengan hal yang kali ini baru. Suami mengecup kening saya, memberikan "puk-puk" hingga saya sedikit tenang. Saya berjanji hal tersebut hanya kali itu saja dan tidak akan membiarkannya berlarut-larut.
Saya yang mengatasi lebaran pertama saja bisa se sentimentil kayak gitu apalagi merek yang gak bisa mudik ketemu orang tua? *plaaak*. Tamparan keras untuk saya yang kurang bersyukur. Huhu.

Bukan takut ditanya ina inu sih di lebaran tahun ini, tapi menyiapkan "lebaran pertama" yang sebelumnya sudah membayangkan yg bukan2 :(((. Bayangan memang jahat sekali kadang2, huhuhu. Karena tahun-tahun sebelumnya lebaran sama bapak ibu dan tetiba harus berubah skuadnya itu ternyata kayak gimana gitu.

Maaf lahir batin teman2, hadirkan nuansa ramadan di bulan syawal ya. Jangan sampai drop jiwa raganya ❤❤❤.

Then, yang dapet pertanyaan2 tengil "kapan, apa, mana dan kenapa" mending dihempas saja biar aura cantiknya tidak ternoda 
.
.
NB: Aku bersyukur memiliki keluarga baru yang mengajariku banyak hal. Tidak memaksakan apalagi menggurui, tetapi lebih kepada membiarkanku berpikir bagaimana harus bersikap dan memposisikan diri. Laaaaf banget.
Read More »

Tentang Poligami


Assalamu'alaykum 💓

Ketemu dengan hari Rabu lagi ya teman-teman, artinya saya nguprek tentang #WeddingDress lagi,ekeke. Pengennya membahas short honeymoon  kami kemarin yang barengan sama anniversary Bapak-Mamanya Dio Dea.

Tapi kok rasanya pengen mbahas yang lagi ngehits. Yang beritanya ngalahin Selmadena *teteup aja dibahas ya*. Poligami memang selalu ter blow up kalau ada yang memantiknya. Kebetulan yang memantik salah satu ustadz kenamaan Indonesia.

Masih ingat dong gimana Aa' Gym yang sempat dihujat ibuk-ibuk, eh bukan dihujat sih, tapi lebih ke banyak ibu-ibu jamaahnya yang kecewa karena keputusannya berpoligami. Saat itu saya sama sekali tidak kecewa denga keputusan beliau, toh istri pertamanya juga mengizinkan, trus masalah kita apa coba? Saya malah sedih, banyaknya judge dan hujatan yang dilontarkan padanya atas keputusannya berpoligami.

Dan yang lebih kecewa lagi, waktu itu berbarengan sama salah satu artis yang mengaku sebagai ayah biologis seorang artis juga. Padahal dia statusnya masih punya pacar. Atas pengakuan itu, media tidak berimbang memberitakannya. Ketahuan banget kalau doyan gosip kan, heuheu. 

Jadi, saat berita Aa' Gym tayang, animo masyarakat cenderung menghujat beliau sedangkan saat penayangan si artis (sebut saja Mas A ya) malah diapresiasi karena telah jujur mengakui. Ini gimana sih? Yang jelas-jelas sesuai alur dan prosedur dibenci habis-habisan, yang mbuntingin orang malah terkesan kayak pemakluman. Bad news is a good new. Huft!

Bahkan yang lebih sadis lagi, ada pemboikotan buku-buku beliau, huhu. Bencinya nggak ketulungan guys. Ceramah beliau yang dulu dihadiri jamaah, berangsur berkurang safnya. Apalagi kalau bukan karena poligaminya Aa'? 

Saya pernah bertemu sekali dengan Teh Ninih di acara walimahan seorang teman. Waktu itu beliau yang mengisi acara di walimahan tersebut setelah Ust. Salim A Fillah. Saya yang duduk  di belakangnya sempat bengong karena aura wajahnya teduh sekali. Tutur kata beliau juga enak didengar. Satu hal yang menjadi isi nasihat beliau kepada mempelai adalah "menikah itu adalah ladang ibadah". Nyes rasanya. 

Waktu beliau pamit pulang, saya sempat menyalami, dan meskipun belum saling kenal, beliau menyapa ramah dengan senyum yang tulus. Iya, saya dapat merasakan ketulusan beliau. 

Beberapa waktu kemudian, saya mendengar berita kalau Teh Ninih menggugat cerai suaminya. Asumsi-asumsi masyarakat sudah tahu dong alasannya karena apa. "Yaiyalah, siapa sih yang tahan dipoligami" "Tuh kan, Teh Ninih aja gak kuat", komentar-komentar seperti itulah yang saya dengarkan pasca gugatan Teh Ninih dikabulkan pengadilan.

Apakah setelah poligaminya Aa Gym hingga perceraiannya dengan Teh Ninih, saya tetap mendengarkan ceramahnya? Of course. Saya masih setia mendengarkan ceramah-ceramah beliau. Bahkan tetap membeli buku-bukunya. Karena memang tidak ada salah dan benar dalam keputusannya. Saya bukan fans berat beliau, pun juga bukan haters yang membabi buta saat beliau melakukan hal yang dianggap mengecewakan jamaahnya, terutama kaum wanita.

Oh iya, kabar baiknya, setelah bercerai, Teh Ninih dan Aa' Gym menikah lagi. Dan sampai sekarang bahtera rumah tangganya "baik-baik saja". Ya kan nggak tahu faktanya seperti apa, karena memang kehidupan poligami itu hanya personal yang menjalaninya yang benar-benar tahu nikmat ikhlasnya. Aa' Gym belajar banyak, beliau mengakui sendiri kalau dulu diangkat oleh media dan merasa hidup untuk orang lain. 

Ekspektasi Aa Gym waktu itu saat tampil di layar kaca kan seperti tanpa cela. Dai' kondang, punya istri sholihah yang merintis dari nol. Anak-anaknya sholeh sholihah. Di tengah kesibukannya masih bisa mengelola pondoknya dengan santri-santrinya. Menulis buku-buku inspiratif dengan jadwal on air di radio-radio. Saya ingat sekali nungguin jadwal beliau on air pas puasa ramadhan yang jadwalnya selang-seling sama alm. Zainudin.

Tuh kan ngelantur kemana-mana ceritanya.

Back to the topic. Lain Aa' Gym, lain halnya ustadz yang baru saja digugat cerai istrinya. Dalil gugatan yang disampaikan Elsa Syarif katanya ada orang ketiga. Dengan kata lain, istri pertama tidak mau dimadu alias poligami. 

Gak Mau Poligami = Menentang Syari'at Agama?

Kali ini saya nggak mau membahas gugatannya pak ustadz lagi, tetapi lebih tertarik menyoroti tentang poligami. Kebetulan sebelum menikah saya sempat membicarakannya dengan suami. Eh, beberapa minggu setelah menikah, kami juga membicarakannya lagi, yang ending nya kami mencapai kesepakatan untuk menanggapi itu. SAMA-SAMA ENAK.

"Kamu mau dipoligami gak?"

Pertanyaan itu seperti pertanyaan retoris. Hampir semua wanita (meski ada juga wanita yang benar-benar mau dipoligami, bahkan nawarin suaminya) kalau ditanya mau dipoligami atau gak, kebanyakan menjawab "NGGAK MAU".

Istri mana yang mau berbagi hati, perhatian dan cinta suami dengan wanita lain 😏. Dan payahnya, yang bilang nggak mau, dicap sebagai wanita yang nggak patuh sama sunnah rasul. Oh em ji. Bisa salah kaprah begini.

Karena saya pernah digituin. Pas saya jawab NGGAK MAU, ada ikhwan-ikhwan yang mengeluarkan dalilnya. Dalil Al Qur'an gayyyys. Dia njembrengin isi-isi beserta azab yang menentang poligami *elap keringet*. Ada sedikit debat di FB waktu itu, tapi saya ogah melanjutkan, karena dari awal dasar kami sudah beda yang sepertinya kok nggak bakal nemu simpulnya. Jadi meninggalkan perdebatan yang sia-sia kan katanya juga pahala. eheheh

Hei, kenapa harus memaksakan dalil? Poligami memang sunah Rasulullah, tapi jangan terkesan kalau hal itu wajib. Saya sama sekali tidak menentang, buktinya saya menghormati keputusan Aa Gym dengan tetap respect ke beliau saat memutuskan poligami. Tanpa menanyakan apa alasan beliau melakukan itu. Karena itu urusan dapur orang.

Sunah Rasulullah kan ada banyak, makan sambil duduk dengan tangan kanan, baca al kahfi pas Jumat dan masih banyak sunah-sunag yang lainnya. Kalau saya nggak mengerjakan hal itu kan juga nggak dosa? Lha trus saat ditanya poligami dan jawaban saya Nggak mau kok rasanya dibilang kurang syari', parahnya dikira nggak mau ngikutin junjungan Nabi.

Hal ini memang sangat sensitif. Kalau dasar pegangannya sudah beda, hal yang paling arif adalah saling mengerti dan menghormati. Bukan malah menghujat mencari benar salahnya. Yang setuju dipoligami silakan, kita doakan. Sebaliknya yang nggak mau dipoligami jangan dijustifikasi macem-macem.

Kang Abik pernah menyelipkan poligami saat pembuatan film Ketika Cinta Bertasbih. Kala itu, syarat Anna mau dinikahi adalah tidak mau dipoligami. Bukan berarti dia mengharamkan lho ya. Anna mengajukan syarat nikah kepada Furqon bahwa dia tidak ingin dimadu.

Menurut saya, salah satu film yang tegas dan gamblang menjelaskan tentang poligami. Bahwa poligami itu sunah dan bukan suatu keharusan untuk dilakukan. 

Pandangan Saya dan Suami tentang Poligami


Sebelum menikah, saya mengajukan pertanyaan kepada calon suami mengenai poligami.

"Mas punya rencana poligami?" Masnya diam seribu bahasa. Pertanyaan saya sepertinya keliru, tapi sebenarnya dia tahu arah pembicaraan saya, Saya memancingnya lagi dengan merevisi pertanyaan saya.

"Pandangan Mas tentang poligami seperti apa ya?" Huft kan saya memang payah membuat kata-kata. Pokoknya inti pertanyaan saya mengarah ke please atuhlah Mas, kalau mau nikah sama aku, nggak usah mendua, mentiga segala.

Beberapa kali saya menyinggung itu, dia cuma diam saja bahkan lebih memilih mengalihkan pembicaraan. Dia tahu kalau saya ngebet banget muaranya ke "GAUSAH POLIGAMI" titik. Jadi baru di obrolan yang keberapa saya lupa, dia angkat bicara.

"Aku nggak bisa janjiin apapun Dik, karena takut sekali takabur. Tapi kalau boleh berdoa dan memilih sama Allah, semoga Mas cuma sama Adik saja. Sama sekali nggak ada niat untuk mengarah ke poligami. Karena Mas sadar gak mampu untuk adil. Nggak adil untuk adik, dan nggak adil untuk keluarga kita. Kita berdoa bareng ya". Ini jawaban suami waktu kami sudah menikah 1 bulanan kalau nggak salah.

Memang laki-laki kalau ditanya-tanya susah, tetapi sekalinya menjawab bisa panjang lebar bikin diem ya. Mendengar jawabannya itu saya mengerti 1 hal, bahwa dia memandang bijak tentang poligami. Dan tidak sekalipun terlontar, semoga nggak akan pernah, joke-joke murahan tentang itu. Saya yakin itu bentuk penghormatannya terhadap sunah Rasulullah tersebut.

Kadang ada laki-laki yang suka joke nggak mutu, "golek meneh lho ya. siji ra cukup" dalam bahasa Indonesia, laki-laki itu pengen cari istri lagi karena 1 saja belum cukup. Ada juga joke yang paling brengsuek tentang poligami yang mungkin dianggap lelucon padahal itu sama sekali nggak lucu.

Kalau tadi pandangan suami, sekarang giliran saya ya menjawab response suami. Saya sama sekali tidak mengharamkan poligami, tetapi kalau boleh meminta dan berdoa, biarkan saya menjadi satu-satunya. Tidak ada yang lain sampai jannahNya. Dan, jika hal itu memang qadarullah harus terjadi, maka saya mempersilakan suami untuk menikah lagi dengan arti lain tidak ada saya diantara mereka (berat buat nulis ini, huhu).

Pintu surga bisa ditempuh darimana saja bukan? Jadi ya please, jangan gampang menghujat kalau misal jawaban kita nggak satu selera.

Tabik.


Read More »

Karena Wanita Ingin [Selalu] Dimengerti



Assalamu'alaykum 💓

2 hari ini timeline facebook saya berseliweran berita tentang pernikahan SELMADENA dengan lelaki bermarga R*IS. Selma yang sempat galau memilih dua pilihan, pilih sang pacar atau lelaki yang baru beberapa kali ditemuinya. Akhirnya Selma memilih yang kedua.

Masalah jodoh memang selalu asyik untuk dibahas, apalagi kalau ada yang patah hati 😅. Akan banyak cerita tentang luka-luka dan alasan kenapa memutuskannya. Dalam hal ini, Selma berani memutuskan untuk mencintai sosok baru yang mantap meminangnya, dibandingkan dengan "menunggu" pacarnya. 

Life is a choice...

Buanyak Selma-Selma lain di luaran sana yang memutuskan untuk memilih move on daripada harus menunggu tanpa kepastian. Saya ngarep banget sih kalau setelah ini akan ada versi dari si mantan pacar yang ditinggalkan *laughtdevil*. Ya kan dari kemarin baru punya Selma doang yang viral. Ceritanya banyak diaminkan ibuk-ibuk yang merasa "ah gue bangeeet". Atau setidaknya mendukung keputusan Selma.

Tetapi banyak juga yang mencibir pilihannya, "Punya pacar kok gandeng sama yang lain?" atau "Ya pantes demen sama yang ono,  lha wong dari Marga R*AIS". Komentar-komentar miring lainnya juga menjadi faktor viralnya tulisan yang mengisahkan tentang Selma.

***

Menikah itu perjalanan panjang. Gak cuma setahun dua tahun. SEUMUR HIDUP. Jangankan memilih jodoh, seringkali hal remeh temeh memilih baju buat ke pesta aja bisa berbalik di detik terakhir kok. Niat awalnya pengen baju berenda warna salem, eh tapi kok kayaknya polkadot lebih oke. Pas masuk kamar, ternyata malah milih baju sifon polos warna hijau. Kyaaaaaaaaa.

Contoh lainnya saat memilih sepatu, pengennya merek A warna cream ukuran 37 tapi galau pengen pilih merek B yang ukuran pas di kaki 38. Lha kalau beli sepatu bisa saja kita bisa beli dua-duanya, tapi tetep dipakenya hanya sepasang kan. Duh jadi ngelantur analoginya. Untuk sekadar sepatu saja beda merek bisa beda ukuran yang bisa mengubah selera kita di detik-detik terakhir untuk membelinya. Apalagi untuk hal-hal yang sekrusial JODOH!

Saya kok gak percaya kalau ada wanita gak memasang kriteria untuk mendapatkan suami. "Kalau aku yang penting sih klik, Ay" statement salah satu teman saya saat membahas tentang jodoh. Lha iya "yang KLIK" itu termasuk kriteria bukan?

Kalaupun kriteria lelaki idaman bagi seorang wanita tidak diutarakan secara gamblang, tetapi pasti dalam hatinya pasti selalu bisa memilih dan menyortir mana yang nyaman untuknya. Tidak hanya nyaman namun juga berpotensial untuk menjadi kepala keluarga. 

Dalam beberapa hal, tumpuan selalu dijatuhkan pada wanita. Kalau belum kunjung menikah, wanita yang sepertinya lebih gencar dinyinyirin. Belum punya anak, wanita juga yang dibombardir pertanyaan "udah isi?" "kok lama?" dan serentetan pertanyaan lain yang menurut saya gak etis sama sekali. Bahkan pertanyaan itu ditanyakan sesama wanita. DUH KEJAM!

Dalam kasus Selma, pihak wanita yang disalahkan (meski gak semuanya). Yaaaa, mau pacaran berabad-abad kalau memang gak jodoh, dikekepin juga gak bakalan jadi. Sebaliknya, kalau emang udah jodoh dari sononya, baru ketemu kemarin sore di jalan "Yuk neng besok kawin?" gak perlu nunggu-nunggu besoknya ke penghulu,

Wanita ingin [selalu] dimengerti. Setidaknya gak ditanya kapan kawin, udah isi belum atau ditanya kenapa putus sama ini pilih yang itu dengan kalimat yang sadis. 

Jodoh pasti bertemu, kalo belum ketemu yaudah sabar *DIKEPLAK*.

Wanita A bisa saja jodohnya cepet, sehingga di tiap tagar foto mantennya dikasih #NikahMuda. Wanita B melabeli dirinya #SingleBahagia dan emoh disebut jomblo, karena single sama jomblo itu beda katanya. Jadi jangan menyamakan wanita satu dengan wanita lain apalagi sampai membanding-bandingkannya.

Kenapa? Karena wanita ingin (selalu) dimengerti, setidaknya untuk tidak disalahkan akan pilihan yang konsekuensinya dia yang menanggung sendiri tanpa membebankan apa-apa ke kita. 

Demikian #WeddingDress pekan ini yang bertepatan dengan international women's day 💖

Lots of love,

Ayaa--




Read More »

Pertanyaan "Paling Weird" untuk Suami



Assalamu'alaykum,

Buk Ibuk, pada sering bertanya yang aneh-aneh gak sih sama suaminya? Kadang suami saya sering protes kalau saya mulai nyeleneh menanyakan suatu hal yang dianggapnya susah untuk dijawab. Beliau mau mencoba menjelaskan, tapi susah ngomongnya. 

Berkali-kali saya nanya, kadang cuma diem tanpa jawaban. Saking gemesnya, dia mencubit pipi saya sampai saya kesal sendiri. Kenapa jawab kayak gitu aja gak bisa! Sebenarnya saya berekspektasi kalau suami bakalan jawab pertanyaan sesuai dengan yang ada di kepala saya. Tapi ternyata tidak. Eh tepatnya belum. 

Suami saya cukup sabar menghadapi rewel istrinya. Atuhlah masih pengantin baru masa iya udah dijudesin, ahaha. Komentar orang lain paling juga sama kalau melihat pasutri baru, aaah masih anget-angetnya, coba diliat setahun dua tahun lagi paling juga bla bla bla...

Iya sih, wanita memang kadang sulit dimengerti, apalagi saat PMS. Hmmm, senggol dikit aja pengen ngamuk. Treatment suami ampuh kalau ngadepin saya pas lagi weird se weird-weirdnya. DIDIEMIN. Termasuk saat saya bertanya aneh-aneh yang kemungkinan bahasan lanjutannya tidak mengenakkan, suami cenderung untuk meng-cut di awal dengan diamnya. Yaaah sambil senyum tipis lah yang menandakan kalau dia enggan meneruskan percakapan. 

Sampai suatu waktu, suami saya menyerah dengan pertanyaan yang dianggapnya paling weird. He answered my question and i hug him after that.

"Why do you love me?"

Pertanyaan itu membuat suami diam dan bahkan gak mau jawab. Dia makin gak mau menjawab saat saya menaikkan sedikit level pertanyaannya menjadi:

"Why do you marry me?"

Apa susahnya coba jawab pertanyaan gituan. (((GITUAN))). Tinggal dijawab karena kamu cantik, baik, mau nerima aku apa adanya. Atau karena Bapak Ibu nanyain kamu terus. Enggg, atau alasan lainlah yang bikin saya gak rewel nanya, apalagi tiap PMS. Bawaannya pengen berantem kalo nanya gak dijawab. 


Dia memang tidak memiliki alasan spesifik dengan penjelasan-penjelasan akan pertanyaan saya, tetapi i believe in him kalau dia sudah membuktikannya dengan perbuatan. He wants to love me and marry mewithout explanation.

"Emang harus ada alasan kenapa ya, Dik?",tiba-tiba saya bingung sendiri saat dia menimpali pertanyaan saya.

"I just want to love you and marry you. IT'S ENOUGH. Gak perlu alasan apa-apa lagi, karena KAMU adalah alasan utama untuk dicintai dan dinikahi, Dik"

Saya trus mingkem.  lelaki sependiam itu bisa membuat saya cep klakep dan langsung memeluknya erat-erat. Enggak akan nanya lagi. Eh gak tau besok-besok ya. Soalnya seringkali kan wanita lemah kalau pas PMS. Kok wanita sih, saya aja mungkin ya?

He knows me so well. Saat saya bertanya-tanya seperti itu, dia bukannya tidak mau menjawab. Tapi ternyata dia takut kalau nanggepin bakalan salah. Analogi-analogi dan penjelasannya logis. Tetapi butuh proses dan waktu untuk menjelaskannya. Biar saya mikir juga. Ahaha.

Beberapa waktu yang lalu saya kopdar sama seorang sahabat yang lamaaaaa gak ketemu. Dan tiba-tiba dia menanyakan hal yang serupa. "Why do you love him, Ay?"

Since he deserved to be loved..... jawab saya lirih.

Kalo gak cinta ngapain kawin sama kamu sih Neng. Ah sudahlah, saya akhiri postingan #WeddigDress ini. Saling mendoakan semoga keluarga kita sama-sama sakinah, mawadah warahmah ya buk ibuk 💓💓💓

The last, pertanyaan ibuk-ibuk yang bikin bapak-bapak speechless biasanya nanyain tentang apa? hihi. 

💖💖💖 Ayaa 💖💖💖 


Read More »

Saat Kami Sama-Sama Ingin Menikah


 Seringkali, kita harus memutari labirin dulu hanya untuk dijodohkan dengan orang terdekat kita, entah sahabat, tetangga atau teman main kita.
Ah, sepertinya aku masih tidak percaya, bergumam sendiri menggabung-gabungkan kepingan momen hingga akhirnya menyadari bahwa sekarang aku tidak sendirian lagi. Ada yang memerhatikan aku sedang apa dan memastikan baik-baik saja.

Kalau ditanya kesiapan, honestly sampai sekarang aku belum menemukan jawaban yang pasti. Namun, rasanya seperti mengalir seperti air bahwa memang menikah itu bukan semata-mata rencana kami saja, tetapi campur tangan Allah sangaaaaat andil, of course!

"Happy monthiversary sayang 😍"

Aku mengetikkannya dan mengirimkannya. Seketika pesan itu sudah bercentang biru, dia membalasnya dengan antusias juga.

"Main sini dong, Dik [pake emote cium]", rasanya meleleh kalo dia udah bilang gitu. Istrinya suruh (MAIIIIIIN). 

Kebetulan-Kebetulan yang Menyenangkan

7 bulan yang lalu, Mas pengen Bapak Ibunya dateng ke rumah. Iya, melamar. Tapi bahasanya gak sekeren "wanna marry me?", ekekek. Aku tahu konsekuensinya kalo Mas bawa Bapak Ibu ke rumah, pasti endingnya akan menjurus ke pernikahan.

Aku mengiyakan permintaannya. Mempersilakan masuk keluarganya untuk mengenal lebih dekat satu per satu keluargaku. Wajahnya sumringah dengan batik coklat yang kebetulan senada dengan gamis yang aku kenakan.

Hari itu waktu berjalan lambat sekali. Entah bagaimana aku deg-degan tak menentu. Siap? Entahlah. Sejak saat itu aku gampang sekali resah. Pertanyaan-pertanyaan liar seperti datang tanpa diundang. Setelah lamaran, pilihan hari pernikahan jatuh di tanganku.

DESEMBER. IYA, 25 DESEMBER.

Dan teranyata Desember seperti bertubi-tubi bahagia bergelimang. Bapak selesai pengobatan, dapat kabar Bapak-Ibu bisa berangkat haji tahun 2017, Banyak keluarga jauh yang menyempatkan pulang. Pernikahanku seperti reuni keluarga besar. Keluarga Bapak ngumpul, keluarga Ibu juga lengkap yang sebelumnya 10 tahun tidak pernah pulang.

Kami sama-sama berniat baik untuk membingkai cerita bersama dalam bingkai ketaatan. Iya, saat kami sama-sama ingin menikah untuk ibadah, semesta seperti menghilangkan rasa gundah yang sebelumnya sempat membelenggu. 

Hari ini adalah bulan pertama kami, meski jarak membentang, namun doa mengikat kami menjadi dekat 💓
Read More »