Featured Slider

Tampilkan postingan dengan label Healthy. Tampilkan semua postingan

Post Partum Depression Warior

2022 seperti roll coaster buat saya. Fisik dan psikis saya ditempa. Rasanya tiap pagi isinya hanya keluh kesah *cry*.

Belajar menjadi Ibu sepanjang masa

Saya belum sempat menceritakan tentang persalinan Sea. Bahkan Sea juga sudah disunat pun belum sempat mendokumentasikannya seperti Ray dan Ben. Bukan karena tidak mau, tapi setelah melahirkan Sea, saya merasa ada yang berbeda. Sinyal seperti saat setelah melahirkan Ray. Tiap hari rasanya lelah tidak berkesudahan. Pagi, siang, sore rasanya gelisah dan cemas. Yang ujungnya adalah AMARAH. 

Saya tidak baik-baik saja

Dulu, ketika melahirkan Ray, saya merasa dipaksa bahagia. Disuruh bersyukur yang ternyata membuat makna blur. Padahal, bersyukur sambil merasakan capek itu tidak apa-apa. Tidak selalu menjadi perempuan yang kuat juga tidak mengapa. Sesekali menampilkan sisi rapuh, juga manusiawi. Sayangnya, saya tidak ada yang mengajari untuk memeluk emosi-emosi negatif itu. Cenderung disuruh mengabaikan dan diburu-buru diusir pergi. Sehingga ketika perasaan itu datang lagi, seperti membangunkan sisa emosi negatif lainnya yang membekas. 

Perasaan tidak nyaman yang mengendap

Sejak kecil, saya dilatih untuk sat set wat wet. Merasa bangga kalau bisa mengerjakan sesuatu dalam satu waktu. Istilah kerennya adalah multitasking. Tapi semakin kesini, saya justru belajar untuk pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa. Kelihatannya mudah, tapi praktiknya menguras tenaga. Karena kebiasaan yang sudah terbangun tadi. Jika tidak melakukan apa-apa, padahal memang waktunya istirahat, rasanya seperti tidak produktif, huhu. 

Setelah melahirkan Sea, memori masa kecil saya hadir. Hal yang dulu saya kira baik-baik saja, ternyata tidak. Saat ini seperti menggerus dan meremas nadi tanpa ampun. Hal ini membuat saya tidak bergairah dan menikmati obrolan dengan Ibu saya. Pola pengasuhan beliau membangunkan memori-memori lain yang membuat saya terluka. 

Saya benci dengan sikap Ibu (dulu) waktu saya masih kecil, tetapi saya merasa kasihan dalam waktu yang bersamaan. Ibu seperti mendikte saya harus bisa apa saja. Mengkritik apa yang saya lakukan. Padahal sebelumnya saya tidak apa-apa. Tapi ternyata saya hanya menahan diri dan memaklumi. Doktrin kalau dikasih tau orang tua tidak boleh membantah dan harus patuh, saya lakukan tanpa sungkan (waktu itu). Dan hari ini, saya seperti terlihat tidak penurut (lagi), karena tidak diberi ruang untuk diskusi. Tidak ditanya apakah saya suka atau tidak. Apakah sedang sedih. Atau perasaan tidak nyaman lain yang tidak mendapatkan validasi. Di sisi lain, saya merasa kasihan pada Ibu. Karena mungkin dulu Ibu tidak atau belum memiliki keterampilan untuk mengolah perasaan anak-anaknya. Bahkan mungkin belum bisa memvalidasi perasaan sendiri. Menganggap dirinya selalu baik-baik saja. Tidak mengizinkan badannya istirahat padahal sedang sakit dan terus mengurus rumah dan keempat anaknya. 

Selama ini kami berdua ternyata tidak terlalu bagus cara komunikasinya. Karena ada penengah Bapak. Saya sefrekuensi dengan Bapak yang sekaligus bisa mempengaruhi keputusan Ibu. Jadi selama menikah, apa yang diputuskan Bapak, maka Ibu akan makmum. Saya cukup ngobrol sama Bapak saja tentang apa-apa, karena pada akhirnya Ibu akan setuju kalau Bapak setuju.Setelah Bapak tidak ada, Ibu seperti hilang arah dan mulai belajar untuk memutuskan apa-apa sendiri. Emosinya pun kacau balau yang berpengaruh pada fisiknya. Yang biasanya check up 1 bulan sekali, jadi ada tambahan fisioterapi 2 minggu sekali bahkan pernah seminggu sekali. 

Menghadapi Ibu

Ada momen dimana Ibu sulit sekali diajak kompromi. Melanggar pantangan Dokter sampai mau menyerah untuk mati saja (karena merasa badannya sakit semua). Kami pernah mengobrol empat mata dan sesenggukan sama-sama, dan ini bisa beberapa kali saking Ibu merasa bingung terhadap perasaan dan badannya. 

Sikap tegas saya dianggap keliru. Ibu merasa sering dimarahi, sehingga hubungan tidak nyaman itu muncul lagi. Ibu butuh terapi tapi tidak mau berangkat. Tidak boleh angkat-angkat berat tapi mentah saja nasihat dokter. Badannya tidak bisa dibohongi, keesokan hari pasti kaku dan tidak bisa jalan. Diskusi dan bujukan-bujukan itu hampir setiap hari saya lakukan. Seperti membujuk Ray yang harus ke dokter untuk vaksin, tapi dengan cara yang elegan tanpa harus ada amarah. 

Kami berdua jatuh bangun mengelola emosi setelah ditinggal orang yang kami cintai. BAPAK. 

Baca juga: merawat orang tua wajib sehat lahir batin

Tidak mudah, tapi harus dijalani. Untuk menghadapi Ibu, saya harus memastikan kalau kondisi badan dan emosi saya harus oke. Karena ketika dalam posisi capek, saya justru akan terpancing marah. Ibu menyuruh saya lebih bersyukur karena punya ina inu. Harus kuat momong anak seperti beliau dulu. Menganjurkan punya anak perempuan yang diulang berkali-kali padahal saya tidak nyaman dan merasa kerepotan. 

"Sekalian repot", ungkapan yang membuat saya marah. Karena yang repot adalah saya, bukan mereka. 

Menghadapi Ibu, mengurus anak-anak, pekerjaan, menjadi istri membuat saya melupakan jadi diri sendiri. Hal-hal ini yang membangunkan inner child saya. Kabar baiknya, saya menyadari sedang tidak baik-baik saja dan tidak sungkan meminta bantuan. 

Post Partum Depresion

Setiap hari merasa kelelahan, malas makan padahal sehari tidak makan, emosi labil, menangis tergugu, napas pendek-pendek, cemas, dada rasanya sesak. Sebulan terakhir kondisi ini yang saya rasakan. 

Koneksi sebagai anak, ibu, istri bahkan diri sendiri seperti hilang. Saya sama Ibu obrolannya memilih topik yang aman, yang tidak menyebabkan kami berdebat panjang. Saya cerita kondisi dan perasaan saya pada suami. Semula kami baik-baik saja dan lebih merasa tenang. Tapi pada akhirnya saya lebih defensif ketika suami tidak bisa memberikan arahan seperti yang saya mau atau butuhkan. 

Sepanjang jalan nangis, rasanya kepala banyak kunang-kunangnya

"Kalau aku capek, aku harus ngapain ya?", saya ingat betul isakan tangis di mobil dan bertanya demikian. Suami menjawab " Istirahat". Jawaban sederhana yang membuat saya marah. Bagaimana bisa istirahat kalau anak-anak nempel terus. Rutinitas yang rasanya membosankan dan melelahkan dari pagi ke pagi lagi. Isi kepala penuh sekali dan saya bingung harus menguraikannya darimana. 

Hingga akhirnya saya menjadwalkan ke psikolog. Btw, suami mungkin juga bingung menghadapi saya. Dan lebih memilih diam karena takut reaksinya membuat saya lebih marah. Padahal saya menganggap diamnya adalah bentuk tidak peduli. Koneksi ini yang membuat kami kaku. Sama-sama merasa serba salah. 

I need help


Selain suami, setiap hari, jika sensasi rasa cemas dan ketidaknyamanan itu mulai hadir, saya whatsapp sahabat saya. Texting segala hal. Dia juga menanyakan hal-hal yang kelihatannya sepele. Ayaa sehat? Sudah makan? Semoga hari ini menyenangkan yaa. Hal-hal seperti itu. 

Ketika bertemu psikolog, belum mulai sesi saja saya sudah bercucuran air mata. Beliau tidak menjeda dan memberikan tisu. 1,5 jam saya menceritakan kondisi saya. Ada beberapa hal yang disarankan yang membuat saya lebih baik (saat ini) 

1. Penerimaan 

Menerima segala perasaan yang ada. Ketika cemas dan emosi hadir, tidak buru-buru diusir. Kalau selama ini selalu mengusir rasa tidak nyaman, dilatih pelan-pelan. 

Saat Dokter menyampaikan hal itu, untuk tahap ini saya sudah menerima kalau sedang tidak baik-baik saja. Berlatih untuk pelan-pelan padahal sebelumnya saya ga tau ilmunya. Dan ternyata saya benar, tinggal melatih dan mengasahnya saja. Plis, jangan denial kalau misal kalian sedang tidak baik-baik saja dan justru pura-pura kuat atau bahagia. Karena menurut saya itu sangat menyakitkan dan menyedihkan :(

2. Memeluk diri sendiri setiap bangun tidur atau mau tidur

Saya diajari memeluk seperti posisi kupu-kupu. Belajar berterimakasih dan minta maaf sama diri sendiri. Untuk hal ini, sebenarnya saya juga pernah dan sempat melakukan, tetapi tidak menjadikannya kebiasaan secara konsisten. 

Selama ini, mungkin kita tanpa sadar terlalu keras pada diri sendiri, sehingga lupa mengapresiasi. Kalau pikiran saya lagi beneran ruwet dan bundet, selain memeluk diri sendiri, saya memanjangkan napas. Teknik yang pernah diajarkan bidan kita saaaaangat bermanfaat untuk pemulihan PPD ini. Sadar napas kalau kita berharga :) 

Baca juga: belajar napas di bidan kita

3. Reframming dan memunculkan memori baik

Kalau kondisi saya saat ini, memori masa kecil berkelindan dan merangsek tanpa permisi. Membuat dada saya sesak. Menjadi Ibu itu seperti ditodong rasa bersalah dari segala arah. Sudah merasa memberikan yang terbaik, tapi ada ruang yang menuntut dengan pertanyaan yang menyerap emosi; apakah keputusanku benar? Apakah sudah menjadi Ibu yang baik? Hingga pada satu titik mengulang mantra "Anak-anakku tidak butuh Ibu sempurna, tapi Ibu yang tenang", sambil menerapkan poin 2.

Jika kenangan buruk pola asuh Ibu yang dulu saya anggap keliru hadir, saya disarankan menghadirkan momen-momen manis dan terbaik dari Ibu. Mencari dan mengingatnya pelan dan berulang *menuliskan ini saja saya bisa menangis*. Saya yakin, Ibu dulu sudah memberikan versi terbaiknya tanpa bermaksud mengabaikan saya. Saya memaafkan dan menghadirkan ingatan baik bersama Beliau. 

4. Beri batasan dan ruang

Kita tidak berteman tidak apa-apa. 5 tahun terakhir sejak menjadi Ibu, circle saya mengerucut. Merasa tidak harus berkewajiban untuk memiliki teman yang banyak. Percaya diri melakukan apa-apa sendiri yang bagi sebagian banyak orang terasa aneh. Ternyata makan atau nonton sendiri memberikan ruang untuk mengenal lebih jauh apa mau kita tanpa harus pura-pura. 

Memberikan batasan apa yang perlu dipikirkan atau apa yang perlu diabaikan. Jangan sampai kita justru terbalik melakukan keduanya. Caranya bagaimana? Ada di poin 5.

5. Journalling

Menuliskan hal-hal yang membuat kita harus atau tidak harus dilakukan. Menuliskan apapun yang kita rasakan ternyata bisa lebih membuat lega. Untuk hal-hal yang lebih privasi, saya menulis dengan tangan di buku. Tulisan di blog ini saya publish untuk mengenang, bahwa nanti ketika saya insya allah lulus dari PPD, saya bisa membacanya sambil tersenyum :) 

Untuk yang merasa tidak baik-baik saja, pelan-pelan pulih ya. Rasakan sensasinya. Khususnya yang sedang mengalami PPD. Jangankan mengurus bayi, memeluk diri sendiri rasanya butuh energi. Tidak apa-apa. Rasamu valid. Tidak perlu membandingkan dengan yang lain prosesnya. Karena semua memiliki path masing-masing. 

Tidak melulu lekas pulih demi bayimu, tapi untukmu terlebih dulu. Himpun seluruh hal baik untuk mendukungmu. Siapapun yang membuat nyaman, genggam erat-erat dan peluk mereka agar bisa tersalur energi positifnya. 


Tertawa itu hanya chasingnya.  Tapi Rasa tenang itu ada dalam hati yang tahun ini aku usahakan setengah mati

Ketika kamu merasakan hal sama di atas dan mengganggu aktifitas sehari-hari, cari bantuan profesional. Curhat pada teman, keluarga bahkan suami belum tentu menjadi jalan keluar karena memang mereka mungkin tidak paham harus apa dan bagaimana. Ke psikolog atau psikiater bukan berarti kamu gila, justru kalau kamu tidak diobati akan mengarah kesana. Ke Dokter tidak melulu diresepkan obat, diagnosis yang tepat akan membantumu pelan-pelan pulih. 

Mari songsong 2023 dengan berani dan berenergi! :) 


Read More »

Mau Terhindar dari Beser? Beberapa Tips ini Patut Dicoba!


Selama masa kehamilan dan pasca melahirkan kemarin, ada hal yang membuat saya tidak nyaman sekali, huhu. BESER! Terdengarnya sepele, tapi ternyata berdampak serius kalau tidak segera diatasi. Sebenarnya saya juga pernah mengalami hal tersebut, dan parahnya saya mengabaikannya karena belum memiliki pemahaman kalau beser itu memiliki efek yang seserius itu. Dan ternyata saya tidak sendirian, karena berdasarkan penelitian, 40% pasien yang beser tidak berkonsultasi mengenai gejala yang mereka alami kepada dokter *sad*.

So, saya perlu banget sharing tentang ini biar teman-teman lebih aware. Beser atau overactive bladder (OAB) merupakan kondisi dimana sistem berkemih kita tidak bekerja secara semestinya. Buang air kecil lebih sering saat ada kontraksi kandung kemih. Kalau kata lagu sih, LOS DOLL! Wkwkw. 

Kenali Gejala Beser Yuk!

Saya sempat memiliki asumsi kalau saat hamil dan pasca melahirkan memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami beser. Ternyata asumsi saya keliru! Ternyata resiko beser bisa dialami oleh siapa saja. Usia muda maupun tua juga bisa banget mengalaminya, huhu. 

Fakta lainnya, beser ini tidak disebabkan karena terlalu banyak minum. Jadi, yang selama ini merasa ketakutan minum air putih karena takut beser, please stop pemikiran tersebut, karena ternyata tidak ada hubungannya. Justru kalau kekurangan air putih bisa membuat infeksi kandung kemih *cry*.

Untuk kesehatan tubuh, kita dianjurkan untuk mengonsumsi air sebanyak 6-8 gelas tiap hari. Sebaiknya dalam sekali minum, tidak sekaligus dalam jumlah banyak, seperti saat sedang makan. Demi menghindari nocturia (BAK di malam hari), sebaiknya minumnya lebih banyak di siang hari dibanding malam hari. Sssst, jumlahnya tetap 6-8 gelas, hanya manajemen waktu minumnya saja yang diatur. Please, jangan malah  mengurangi asupan air karena takut beser.

Saya mau sharing tentang gejalanya nih, biar teman-teman lebih aware dan tidak mengabaikannya kalau mengalami gejalanya. Apa saja? Yuk simak beberapa gejala beser yang pernah saya alami:

  1. Urgensi. Gejala ini terjadi saat ada hasrat berkemih yang sangat urgen dan suuuuulit diabaikan. Pengalaman saya dulu, saya biasanya menyilangkan kaki dan menangkupkan kedua tangan di kemih karena saking nggak bisa nahan pipis.
  2. Inkontinensia Urgensi. Kondisi ini lebih dari urgen, yaitu ketika kita sampai nggak bisa nahan pipis dan ngompol. Saya pernah memakai pembalut karena takut banget ngompol, huhu. Karena kalau ngompol, otomatis saya harus ganti celana dalam tiap mau salat. Jadi saya prefer ganti pembalut saja waktu kena beser.
  3. Frekuensi berkemih meningkat. Kalau sering buang kecil lebih dari 8 kali dalam sehari, berarti harus waspada. Karena salah satu gejala beser saya dulu juga karena sering bolak balik kamar mandi lebih dari 10 kali ☹.
  4. Nokturia. Kalau teman-teman terbangun untuk berkemih lebih dari sekali di malam hari, please be aware, ya. Karena itu juga salah satu gejala beser.

Dampak Beser yang Perlu Kita Ketahui

Biar teman-teman nggak mengabaikan dampak beser, sekalian saya ulas deh dampaknya yang wajib kita ketahui bersama:

  1. Nggak nyaman dan merasa tidak bebas. Ketika rapat, saya merasa tidak nyaman ketika mengalami beser. Ada perasaan tidak bebas dan was-was “jangan-jangan di tengah acara nanti saya beser”, batin saya.
  2. Rasa percaya diri berkurang. Setelah melahirkan, saya mengalami beser selama 2 hari, huhu. Percaya diri saya terjun bebas karena sering mengompol. Saya berkemih sebelum sampai ke kamar mandi, huhu. Untung bidannya baik banget. 
  3. Cenderung mampu terserang infeksi saluran kemih, infeksi kulit dan masalah tidur. Sehingga menyebabkan kualitas hidupnya rendah.
  4. Berdasarkan penelitian, penderita beser juga memiliki resiko terjatuh sebesar 26% dan 1/3-nya mengalami patah tulang, huhu.

Masih yakin mau abai terhadap beser?

Tips Terhindar dari Beser

Nah, setelah mengalami betapa tidak enaknya beser dan efeknya, saya sekalian mau sharing tipsnya biar kita bisa terhindar dari beser 

  1. Kegel. Setelah melahirkan kemarin, bidan menyarankan untuk senam kegel agar beser saya tidak semakin parah. It’s work! Senam ini melatih otot dasar panggul agar lebih kencang. Otot ini menopang organ di dalam panggul termasuk kandung kemih, sehingga bisa membantu mengendalikan pola berkemih kita pada 3-4 jam sekali.
  2. Menjaga pola makan. Yang demen makan pedas, minum kopi atau soft drink yang beralkohol, yuk dikurangi. Bagi yang mengalami obesitas bisa menurunkan berat badannya pelan-pelan, karena meningkatnya berat badan bisa menyebabkan tekanan kandung kemih, bahkan bisa mengompol. Pokoknya kuncinya di menjaga pola makan. 
  3. Hindari tertawa dan batuk berlebihan. Saya pernah mengalami kondisi keduanya. Tertawa sampai ngompol, wkwkw. Batuk juga pernah terpingkal-pingkal sampai ngompol. Hayo ngaku, kalian juga pernah kan? Ahaha. Jalan ninjanya cuma menghindari trigger biar nggak ketawa atau batuk berlebihan sih.
  4. Don’t smoking!
  5. Usahakan BAB lancar ya. Untuk poin ini, teman-teman bisa melakukan poin 2 dengan konsisten. Yok bisa yok!
  6. Konsumsi obat sesuai anjuran dokter. Kalau sudah tidak bisa menghindar, wajib ke dokter biar besernya nggak berlanjut. Kalau permasalahan ini, datangnya ke dokter spesialis urologi. Biasanya dokter akan meresepkan obat antikolinergik/antimuskarinik yang dapat merelaksasikan kandung kemih.

Buat teman-teman yang mau tahu tentang informasi mengenai pencegahan dan penyembuhan beser, bisa follow akun Instagram @beser_indonesia atau like fanspagenya Facebooknya Beser Indonesia. Selain itu bisa mengunjungi website www.beser.id juga, lho. Beberapa tipsnya bisa kita aplikasikan biar terhindar dari beser dan tentunya tahu lebih mendalam tentang mitos dan fakta mengenai beser 😊.

Referensi:

Pengalaman pribadi

https://www.beser.id/index.php/dampak 

https://www.beser.id/index.php/penanganan 

https://www.beser.id/index.php/kenali


Read More »

Bersiap Menghadapi New Normal


Covid-19 membuat saya membuat rencana baru. Bulan Maret lalu, ketika pemerintah mengumumkan ada yang positif covid dan akhirnya diberlakukan work from home, saya sudah berjaga dan bersiap untuk beradaptasi dengan keadaan baru. Istilah bekennya adalah new normal. 

Selama 2 bulan work from home, saya patuh buat di rumah saja karena takut tertular dan menularkan virus yang belum ada vaksinnya tersebut. Hello, yang dihadapi itu makhluk yang nggak nampak dan kalau kena belum ada obatnya, lho. Apalagi saya punya orangtua dan batita yang rentan tertular. Makanya, sebosan apapun di rumah, saya membuat zona nyaman sendiri.

Ketika lebaran, saya juga masih tetap di rumah. Tidak ada ritual kunjungan ke saudara-saudara seperti tahun sebelumnya. Saya juga menahan diri untuk tidak menengok kerabat yang sakit dan sahabat karib saya yang sedang melahirkan pun hanya mengabarkan lawat video saja, huhu. Saya benar-benar berdamai. Seriuh apapun kondisi di jalanan, saya tidak latah untuk ikut-ikutan.

New Normal begins....

Menyimak berita kalau mall-mall sudah mulai dibuka, sempat membuat saya tertegun. Kondisi new normal saya sudah dimulai dari bulan Maret lalu, jadi saat ini saya sudah terbiasa dengan protokol kesehatan yang didengungkan pemerintah. Sedih banget deh kalau new normal dipahami sebagai back to normal, huhu. Jalanan sudah ramai, pasar juga desak-desakan (katanya), trus bepergian pada enteng banget tanpa masker. Punya nyawa serep, heh? *emosi*.

Semalam saya habis nonton mini seri Ika Natassa yang disutradarai Reza Rahardian. Saya bisa nangis sesenggukan, lho. Bagaimana para tenaga kesehatan perang badar setiap hari. Rela nggak ketemu sanak family dan menahan makan minum demi menghemat APD *nangis beneran, huhu. Dan kita juga harus berjuang juga sesuai porsi kita; stay at home. Kalaupun harus keluar rumah, jangan merasa kayak power ranger atau superhero lainnya yang kebal dengan virus. Covid ini belum ada antivirusnyaaaaaa.

Trus, apa aja sih yang harus dilakukan untuk bersiap new normal. Yang mulai masuk kerja, bisa lebih aware terhadap diri mereka sendiri agar tidak tertular maupun menjadi carrier tanpa mereka sadari. Again, kondisi ini bukan berarti kembali ke rutinitas biasa seperti sebelumnya, lho ya. Nah, beberapa tips berikut sepertinya klise banget karena sering diimbau oleh televisi, tapi saya tuliskan kembali sekaligus pengingat diri.

1. Social & physical distancing

Bahasa sederhananya adalah tidak berkumpul di keramaian. Tidak mendebat kenapa nggak boleh ke masjid tapi mall-mall malah dibuka. Kenapa ga boleh ngaji, tapi mereka malah keluyuran. Kalau saya pribadi sih fokus pada apa yang bisa saya lakukan. Kalau memang dengan berdiam di rumah merupakan solusi untuk mengurangi dan mencegah penyebaran covid, kenapa tidak? Apalagi yang masih punya pilihan untuk itu. Karena masih banyak orang lain yang tidak bisa memilih, lho.

Saya juga menjaga Bapak, Ibu serta keluarga saya untuk tidak melakukan aktifitas di keramaian. Jamaah salat di rumah, melakukan video call kalau memang benar-benar kangen sama kakak saya, dan hal-hal sederhana lainnya. 

2. Jaga Imunitas

Bapak saya penderita diabetes, sedangkan ibu saya pemulihan stroke yang dideritanya sejak 6 tahun lalu. Setiap bulan harus cek up ke rumah sakit. Akhir tahun lalu, Bapak keluar masuk rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang drop. Pas pandemi ini saya nggak bosan untuk mengingatkan mereka berdua menjaga asupan makan.

Banyak sayur dan buah serta air minum yang cukup. Setiap pagi kami berjemur sambil mengobrol agar kegiatan tersebut tidak membosankan. Intinya, rutinitas apapun yang dilakukan di rumah, kami lakukan senyaman mungkin. Jadi nggak hanya raganya, tapi jiwanya pun juga terjaga.

3. Hobby cuci tangan

Sebenarnya tanpa ada pandemi ini, kami sekeluarga tertib mencuci tangan. Tapi hal tersebut kami lakukan hanya ketika akan melakukan sesuatu: misalnya berwudhu atau mau makan. Kali ini saya bilang sama anak-anak dan bapak ibu untuk sering rajin mencuci tangan dengan sabun. Apalagi yang tangannya suka refleks memegang area wajah dan mata, huhu. 

3. Wajib pakai masker

Hal inipun saya sudah melakukannya sejak dulu. Kalau bepergian memakai masker saat bepergian. Tapi masalahnya, anak-anak dan anggota keluarga lain masih belum terbiasa. Dengan memakai masker, kita bisa meminimalisir penularan virus covid. 

4. Olahraga

Stay at home membuat kita mager males ngapa-ngapin, ahaha. Agar fisik kita lebih fit, sebaiknya kita melakukan olahraga ringan di rumah. Saya biasanya badminton di depan rumah, atau jogging sama Ray di depan TV. 

5. Tes secara berkala

Waktu mengantar Bapak dan Ibu cek up ke Rumah Sakit, saya ketemu beberapa orang yang sedang mengantri untuk melakukan rapid tes. Buat teman-teman juga bisa melakukan rapid test terdekat dari rumah. Apalagi untuk mereka yang aktif bekerja di lapangan atau out door. Kemarin kakak saya sudah mulai masuk kantor, dan setiap beberapa hari sekali dilakukan rapid tes.

Untuk konsultasi kesehatan, kalau memang tidak mendesak seperti harus cek up Bapak Ibu, saya lebih memilih melakukannya secara online. Kayak kemarin Ray bruntusan di bagian pantat dan tidak sembuh-sembuh, saya worry sekali buat ke dokter, makanya saya konsul dokter via Halodoc. Layanan kesehatan terpercaya andalan keluarga saya. Waktu gigi saya bengkak pas pertengahan ramadan lalu, saya juga konsultasinya via online di Halodoc. Dokternya meresepkan obat yang saya butuhkan dan voillaaa gigi saya tidak nyeri lagi. Meskipun secara online, tapi kerahasiaan kita tetap terjaga lho.

Nah, itu tips saya untuk bersiap di masa new normal ini. Beberapa kali masuk kantor, saya mawas diri untuk strick menerapkannya agar tetap sehat dan terhindar dari virus covid-19. Buat teman-teman, jaga kesehatan dan kebersihan ya :)



Read More »

Bahagia Tanpa Pura-Pura

Masuk usia kepala tiga, rasanya saya semakin menyadari bahwa kunci bahagia saya adalah dengan menjalani hidup apa adanya dan tanpa syarat ketentuan yang ribet. Tidak harus begini untuk tertawa, tidak harus begitu untuk menangis. Karena seringkali, alasan untuk tertawa dan menangis sangat beda tipis. Ketika sedang merasa apes, seapes-apesnya, saya bisa menertawakan diri sendiri. Dan di saat yang bersamaan, saya bisa menangis tersedu-sedu. Really, tertawa dan menangis alasannya se-absurd itu. 

Saat merasa hidup kok begitu-begitu saja, ingin bergerak tapi bingung mau memulai darimana, mau melakukan ini itu saking banyak sekali rencana yang berlari-lari dalam pikiran minta dieksekusi duluan. Tapi realitanya kok saya hanya diam di tempat tanpa melakukan apa-apa. Sehingga saya sempat hampir putus asa karena tidak mampu memvalidasi perasaan sendiri. 

Masa Transisi

Ada momen dimana kita berada di masa transisi. Memaksa kita mau tidak mau melewatinya. Untuk menemukan ritme yang pas, kita harus sabar menikmatinya. Kalau flashback, masa transisi saya yang paling kontras adalah saat lulus kuliah S-1.

Keinginan dulu dan sekarang, ternyata beda sekali. Dulu, setelah lulus kuliah S-1, saya mendaftar beberapa aplikasi beasiswa S-2. Ditolak semuanya. Kegagalan berkali-kali membuat nyali dan percaya diri saya terkikis pelan-pelan. Akhirnya, saya memutuskan hijrah ke Jakarta dan bekerja di korporasi. Saya pikir, mimpi saya kuliah lagi sudah pupus, ternyata semakin berapi-api. 

Mengikuti intuisi dan kata hati, saya resign dan kuliah lagi. Semula saya mendaftar kuliah di Jakarta dan Solo, sudah lulus administrasi dan tes keduanya. Bedanya, di Jakarta saya mendaftar beasiswa, sedangkan di Solo saya memakai biaya sendiri. Karena pertimbangan ingin menemani Bapak Ibu, saya memilih kuliah di Solo, tempat dimana sekarang saya bekerja dan insya Allah berkarya.

Saat masuk kuliah lagi, saya seperti menemukan apa yang saya mau. Bertemu dengan teman-teman baru. Membuka impian lama yang sempat tertunda. Saya mulai percaya diri lagi menyusun mimpi. Berani mencoba hal-hal baru. Menemukan wadah blogging sebagai healing. Lewat blog, saya memiliki banyak kesempatan untuk bekerja mobile. Sangat mengasyikkan 3 tahun menjadi freelancer—saya dibayar atas hobby yang saya tekuni. Menulis!

Saya mengacuhkan asumsi orang-orang yang mengira kalau bekerja dari rumah adalah pengangguran. Honestly, hidup apa adanya tanpa mempertimbangkan berisiknya omongan orang, ternyata sangat membahagiakan. Pelan-pelan memahami kalau bahagia itu tanpa syarat ketentuan

Bahagia Tanpa Pura-Pura, Simak ini nih Tipsnya!

Trus, caranya tetap bahagia tanpa pura-pura apa, sih? Berdasarkan pengalaman, 7 hal ini yang saya lakukan untuk lebih mengenal diri sendiri apa adanya. Sehingga saya benar-benar menyadari dan memvalidasi perasaan yang saya alami. Oh iya, saya sedang galau. Duh sebentar lagi PMS, nih *senggol bacok. Kok tiap ketemu dia yang auto nyebelin, energinya jadi nular jelek ya? Pokoknya beneran tahu kondisi diri sehingga mudah untuk on the track kalau merasa keliru.

Adaptasi dari masa transisi

Setiap orang mengalami masa transisi yang berbeda-beda. Ada yang hanya butuh waktu sebentar untuk mengatasinya, pun ada juga yang memerlukan waktu serta proses panjang untuk menemukan titik balik. Masa transisi itu bisa terjadi ketika kelulusan, menikah, melahirkan atau saat mengalami perubahan hidup yang krusial. 

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kalau masa transisi terhebat saya adalah ketika lulus S-1. Awalnya menolak kenyataan karena gagal berkali-kali dan tidak sesuai rencana yang saya impikan. Lama-lama saya beradaptasi dan menerima diri sendiri, kalau gagal itu tidak apa-apa. Dicoba lagi, lagi dan lagi. Akhirnya yang awalnya gagal trus nangis, setelah berkali-kali mengalami justru menertawakan diri sendiri. 

Merunut lagi, kegagalan-kegagalan di masa lalu tidak sepenuhnya gagal. Ternyata kepingan gagal itu sangat saya syukuri sekarang ini. Ah untung waktu itu saya gagal ya, kalau enggak, pasti saya nggak dapat ini/bisa seperti ini, batin saya.

Apa teman-teman juga pernah mengalami masa transisi dalam hidup? 

Belajar
Ray ikut belajar sama Ibu :)
Rasanya ini klise sekali, tapi mau gimana lagi? Kalau misal belum bisa, ya dipelajari sampai bisa. Dicoba dulu, trial error. Awalnya mungkin kesulitan, karena memang belajar hal baru butuh tekun. Musuh besarnya adalah malas. Prinsipnya adalah baca-coba-tanya (pada ahlinya). Entah kenapa saya suka banget kalau disuruh belajar, ahaha. Kadang suka iseng aja menawarkan diri “apa yang bisa dibantu?”. Padahal saya belum tau bisa membantu atau tidak. Yang saya yakin adalah semua hal bisa dipelajari kalau kita mau.

Kalau sudah belajar tekun terus tetap nggak bisa bagaimana? Ya gak apa-apa dong, ahaha. Saya berkali-kali latihan nyetir mobil sampai sekarang belum bisa-bisa *toyor diri sendiri, ahaha. Tapi saya nggak kapok nyobain lagi dan lagi. 

Process is a key
Nikmati prosesnya dan tidak melulu terpaku pada hasil

Saya bukan tipe orang yang percaya sepenuhnya pada pepatah “Tidak ada hasil yang menghianati usaha”, ahahaha. Ada lho fase dimana saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa, menerapkan teori-teorinya dengan seksama, tapi hasil akhirnya ternyata menghianati saya. 

Saya mengubah persepsi kalau “kegagalan adalah jawaban yang terbaik”. Ada kesempatan lain yang menunggu, atau ada hal yang harus saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Sejak itu, saya mulai menghargai proses. Kunci prosesnya adalah usaha dan doa dioptimalkan, lalu digenapkan dengan tawakal. Simpel!

Fokus kembangkan potensi

Di setiap sesi wawancara kerja, ada pertanyaan yang membuat saya termenung lama. Apa kelebihan dan kelemahanmu? Beneran saya bisa lamaaaaaa sekali menjawabnya. Seringkali kita terpaku dengan kelemahan-kelemahan kita dan mengabaikan hal lain yang bisa menjadi potensi untuk dikembangkan.

Again, saya mulai pelan-pelan untuk fokus dengan apa yang menjadi kemauan saya. Menentukan goal saya agar lebih terarah. Tapi kali ini saya mulai bisa mengendalikan dan tidak memaksakan diri seperti dulu. Kalau capek berhenti sejenak, tidak diforsir. Pas merasa sudah mulai ngegas karena capek, pikiran dan hatinya diajak kalem dengan meditasi. Ah, ternyata bahagia memang sesederhana ini tanpa tapi.

Mencari peluang dan kesempatan

Kalau saya mulai bosan dengan rutinitas dan ingin upgrade skill, biasanya saya mulai mencari peluang untuk bergabung dengan komunitas. Dengan bergabung dengan komunitas, kita akan memiliki banyak informasi tentang hal baru yang kita tekuni. Kalau dulu saya suka ngeblog hanya suka-suka, saat menekuninya, saya mulai bergabung dengan beberapa komunitas dan dari sanalah muncul beberapa peluang dan kesempatan. 

Kesempatan memang seringkali tidak datang dua kali. Tapi jika memang belum rejeki, saya yakin akan datang kesempatan yang lebih baik lagi. 

Be your self


Ada kalanya saya merasa minder, huhu. Terlalu menuntut diri sendiri untuk bisa ini itu. Nah,  pas selesai kelas daring kemarin saya isi paket data IM3 Ooredoo yang kebetulan lagi ada promo. Trus melihat cuplikan video terbaru IM3 Ooredoo hati saya meleleh



Bagaimana hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan membuat kita menjadi lebih ringan. Fokus pada diri sendiri membuat saya memahami, oh iya ternyata bahagia sesimpel ini. Just be yourself!

Bahagia ada di kamu

Bahagia itu kita yang punya! Mereka tidak berhak merenggutnya. Mau kerja di kantor atau rumah. Kamu bisa mengatur sendiri bagaimana cara bahagia dengan mengubah-ubah sedikit ekspektasi dan persepsi.

Dari pagi udah mengatur posisi “happy” tapi ambyar berkeping-keping karena sikap relasimu nyebelin? Yaaa, jangan dibawa sampai hati. Misal ada relasi yang whatsapp dengan isi yang super nyebelin, cukup sebelnya ‘sampai mata. Kalau nyebelinnya via telepon, cukup didengarkan sampai telinga. Sisanya buang ke tempat sampah, tidak perlu dibawa sampai hati. Kalau kepepet dan tidak mau diganggu, kamu berhak menutup akses sementara biar “rasa nyebelinnya” berlalu dulu tanpa mengganggu.

By the way, saya masih beradaptasi dengan masa transisi akibat korona. 2 minggu pertama membuat saya galau karena masa transisi dari work from office berubah menjadi work from home. Semua aktifitas dilakukan di rumah! Aktifitas belajar mengajar, koordinasi penelitian dan segala keperluan kantor dilakukan secara daring.

Dengan akses internet yang cepat, saya dapat menyelesaikan job desk saya dari rumah. Alhamdulillah ada IM3 Ooredoo yang mengerti kebutuhan saya. Ia menghadirkan lini produk telekomunikasi yang simple dan bebas syarat ketentuan seperti Freedom Internet yang setia saya gunakan sampai sekarang. Seratus persen kuota utama yang bisa digunakan 24 jam di semua jaringan tanpa pembagian waktu. Fitur pulsa save-nya juga membuat saya tetap nyaman internetan meski kuota habis terpakai. Bisa diaktifkan dengan telepon *123# dari handphone atau melalui aplikasi myIM3.







Read More »

Gejala Demam Berdarah yang Wajib Anda Ketahui



Penyakit demam berdarah adalah infeksi virus yang menyakitkan dan melemahkan serta menyerang tubuh seseorang. Kondisi ini menyebabkan beberapa gejala indikatif termasuk demam tinggi. Penyakit ini termasuk menular yang bisa ditularkan melalui satu-satunya pembawa yaitu nyamuk aedes aegypti. 

Penyakit ini tidak bisa ditularkan dari orang ke orang, tetapi nyamuk yang memiliki virus dengue yang menularkan ke orang lain untuk menularkan darah yang terinfeksi. Demam berdarah sering didiagnosis dengan memeriksa semua gejala yang dialami pasien dan melakukan tes darah untuk memeriksa virus atau antibodinya. Demam berdarah bisa menyerang orang-orang dari segala usia, termasuk anak kecil.

Virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk akan menyebabkan demam berdarah. Kondisi ini berarti saat nyamuk menggigit orang yang terinfeksi, nyamuk tersebut akan menjadi pembawa yang dapat dengan mudah menularkan virus ke orang berikutnya yang digigit. Ada empat jenis virus dengue yang menyebabkan infeksi dengue, dan mereka berkaitan erat. 4 jenis virus tersebut juga berkaitan dengan virus yang menyebabkan infeksi dan demam kuning. Artinya, virus dengue paling umum terjadi di daerah tropis, seperti India, Asia Tenggara, Cina selatan, Taiwan, kepulauan Pasifik, kepulauan Karibia, Meksiko, Afrika, dan Amerika Selatan. Oleh karena itu, seseorang yang diduga menderita demam berdarah akan ditanya apakah dia baru saja bepergian ke daerah tropis.

Nama "demam berdarah" mungkin terkesan membingungkan. Karena seseorang yang menderita infeksi demam berdarah akan mengalami gejala lain yang tidak hanya demam, tetapi serangkaian gejala demam berdarah lain termasuk :

- Ruam kulit
- Nyeri hebat di kepala dan otot
- Nyeri di belakang mata
- Sakit kepala parah
- Nyeri sendi dan otot yang parah
- Menggigil kedinginan
- Diare
- Muntah
- Kelelahan ekstrim
- Pendarahan ringan, seperti gusi berdarah atau hidung berdarah

Gejala-gejala demam berdarah ini biasanya muncul empat hingga enam hari setelah seseorang terinfeksi dan bisa bertahan hingga 10 hari. Setelah gejala-gejala ini dialami, pasien harus mencari pengobatan segera karena ini adalah infeksi progresif. Artinya bahwa ia memiliki kecenderungan untuk menjadi serius dan bahkan bisa berakibat fatal jika tidak ditangani. Di sinilah demam berdarah menjadi cukup berbahaya.

Karena banyak gejala demam berdarah yang sangat umum, penyakitnya dapat dengan mudah dianggap sebagai flu atau infeksi virus lainnya. Banyak orang yang secara keliru menganggap bahwa penyakitnya tidak memerlukan perawatan, sampai akhirnya dirasa terlambat. Oleh karena itu, penting untuk mengamati gejalanya dengan cermat. Apabila lebih dari satu gejala di atas dirasakan secara bersama – sama dan tidak hilang, tindakan paling tepat adalah menemui dokter untuk diagnosis yang tepat.

Kasus infeksi dengue yang parah bisa menyebabkan gejala demam berdarah berikut :

- Berdarah di bawah kulit
- Bintik merah, terutama pada kaki
- Berdarah ke usus
- Penurunan tekanan darah yang signifikan, yang dapat menyebabkan syok

Pada kasus yang lebih parah, demam berdarah berkembang menjadi demam berdarah dengue dan sindrom syok dengue. Sementara sebagian besar kasus demam berdarah dengue atau sindrom syok disebabkan oleh virus dengue tipe 2, demam berdarah juga bisa berkembang dari virus yang sama dan menyebabkan gejala awal demam berdarah. Mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah atau mereka yang sebelumnya terinfeksi demam berdarah memiliki risiko lebih besar terkena demam berdarah dengue.

Demam berdarah memiliki efek berbahaya pada tubuh jika dibiarkan untuk bisa sembuh sendiri. Penyakit ini berpotensi untuk menyebabkan hati menjadi lebih besar atau merusak kelenjar getah bening dan pembuluh darah. Penyakit ini juga bisa menyebabkan kegagalan sistem sirkulasi dan risiko perdarahan masif. Komplikasi serius inilah yang menyebabkan demam berdarah berdampak hingga kematian.

Read More »

Berani Berhijrah Bersama Pasta Gigi Sasha yang Lebih dari Sekedar Halal

Ini sudah halal belum, ya? 

Tanya Mbak Era saat saya memposting salah satu snack impor yang habis dibeli di supermarket. Saya bilang sudah dengan mengirimkan bukti sertifikasi halalnya. Setelah berdiskusi, ternyata memang sertifikasi halalnya baru sja terbit beberapa bulan terakhir.

Halal memang hal yang wajib bagi keluarga kami sebagai muslim. Hal-hal yang sudah diajarkan sejak kecil, misalnya babi itu haram, minum khamr itu juga haram, dst. Dan itu berlaku untuk turunannya. Jadi, kalau ada snack yang mengandung babi, berarti itu juga haram untuk dimakan. Kue yang diolah dengan rum, juga haram untuk dibeli dan dimakan.

pasta gigi sasha halal

Karena sudah di-sounding sejak kecil, saya sudah terbiasa untuk menyortir hal-hal yang sifatnya haram. Salah satunya dengan mengidentifikasi dan hati-hati tentang kehalalaln suatu produk yang saya pakai dan konsumsi sehari-hari.

Kenapa ribet banget sih? Berarti harus ngecek satu-satu, dong?

Alhamdulillah nggak ribet, karena halal bukan sekedar pilihan, tapi merupakan gaya hidup yang wajib dijalani setiap muslim, termasuk saya dan keluarga. Nah, ramadan kali ini, saya mau cerita hijrah saya dalam menjaga kebersihan dan kesehatan gigi. Honestly, sebelumnya saya memakai pasta gigi biasa, tapi setelah tahu ada pasta gigi halal, saya memutuskan untuk berani berhijrah menggunakan pasta gigi sasha.

Pentingnya Kebersihan dan Kesehatan Gigi


Hal yang rutin saya dan keluarga lakukan setiap hari adalah sikat gigi. Yang mengenal saya sejak dulu, saya saaaangat concern dengan kesehatan dan kebersihan mulut dan gigi. Sikap ini menurun dari ibu saya.

Lagi-lagi saya flashback tentang masa kecil saya ketika ibu selalu menyuruh saya rajin menyikat gigi 3 kali sehari. Pagi, sore dan sebelum tidur. Selain itu, saya juga rajin diajak ke puskesmas setiap 6 bulan sekali untuk memeriksakan gigi. 
sasha halal

Kebiasaan merawat gigi berlangsung sampai sekarang: sikat gigi dan periksa ke dokter gigi. Saya patuh setiap rekomendasi dokter terkait dengan gigi saya. Membersihkan karangnya, menambalnya saat ada yang berlubang. Bahkan dengan pemeriksaan rutin tersebut, saya baru tahu ada karies yang hampir merusak gigi saya sehingga dokter melakukan treatment agar kerusakannya tidak melebar ke gigi-gigi sampingnya. P

Kerusakan gigi berawal dari adanya karies dan peradangan pada gigi. Hal tersebut terjadi karena sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi sehingga lama-kelamaan akan membusuk jika tidak dibersihkan. Lalu pembusukan itu menyebabkan kuman dan bakteri yang menimbulkan penyakit, huhu. Kerusakan gigi karena karies ini pernah dialami Dio. Giginya depannya gigis semua, huhu. Oh iya, kata dokter gigi yang pernah memeriksa gigi Dio, gigi yang rusak pada anak bisa menimbulkan infeksi dan bisa menyebabkan demam. Nah kan!

Baca juga: Pengalaman Dio ke dokter gigi

Saya menyadari bahwa gigi merupakan salah satu komponen tubuh yang vital, namun seringkali disepelekan. Beberapa referensi yang saya baca, kurangnya menjaga kebersihan dan kesehatan gigi, dapat menyebabkan penyakit yang serius seperti ginjal, sendi, sakit kepala yang berkepanjangan. Ibu saya selalu mengalami sakit kepala ketika giginya bengkak, huhu.

Karena pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan gigi, maka saya benar-benar merawatnya. Hal rutin yang saya lakukan adalah dengan gosok gigi dengan benar sebanyak 3 kali sehari. Selain itu,  hijrah dengan memilih produk halal yang mengandung siwak: pasta gigi sasha.
sasha mengandung siwak

Berani Berhijrah Bersama Pasta Gigi Sasha

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, ramadan ini saya mulai tahu ada pasta gigi yang mengandung siwak asli, yaitu: pasta gigi sasha. Fyi, siwak merupakan dahan atau akar pohon salvadora persica yang digunakan untuk membersihkan gigi, gusi dan mulut. Siwak juga mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri dan menghilangkan plak yang menempel pada gigi. Makanya, untuk mencegah gigi berlubang dan melindungi gusi dari infeksi, penting banget memilih pasta gigi yang terbuat dari siwak.
sasha halal

Oh iya, bersiwak itu sunnah yang disenangi dan sangat dianjurkan oleh Nabi untuk membersihkan mulut dan gigi. Ternyata pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan gigi sudah dianjurkan oleh Nabi sejak dulu. Wow! Saya merasa amazing, karena apa yang saya lakukan selama ini, nyatanya sudah dilakukan oleh Rasulullah bertahun-tahun yang lalu. Sebagaimana kutipan hadist yang saya baca di bawah ini:

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman RA: Rasulullah jika bangun dari malam dia mencuci dan menggosok mulutnya dengan siwak (Hadist Riwayat Bukhari)
Makanya sekarang saya juga aware banget sama kebersihan dan kesehatan gigi anak-anak. Semula memang susah sekali membiasakan mereka untuk sikat gigi. Alhamdulillah, sekarang mereka sudah terbiasa rajin  menggosok gigi setiap hari. 


Pasta Gigi Sasha

sasha mengandung siwak

Sebelumnya saya ditanya Ibu mengapa ganti pasta gigi baru. Beliau pun memegang wadah gold yang berisi pasta gigi sasha herbal natural antibacterial protection. Ada 2 hal yang membuat saya beralih menggunakan pasta gigi sasha. Mungkin hal ini juga bisa menjadi referensi teman-teman:
  1. Bahan bakunya tidak mengandung alkohol dan terbuat dari siwak yang disunnahkan Nabi. Sasha merupakan pasta gigi pertama di Indonesia yang mengandung siwak asli dan ekstrak daun sirih yang berfungsi merawat kesehatan gigi dan membuat nafas segar tahan lama.
  2. Lebih dari sekedar halal. Sasha tidak hanya halal dari segi bahan baku tetapi sasha juga telah memenuhi 11 aspek halal. Sejak tahun 2012 telah mendapatkan sertifikat dengan predikat excellent dari LPPOM MUI, sehingga memenuhi dan mengaplikasikan sistem jaminan halal.
Trus kok baru hijrah sekarang? Honestly, karena saya baru tahu informasi ini. Makanya saya juga pengen sharing biar masyarakat juga tahu kalau sudah ada pasta gigi yang bersertifikat halal dan terbuat dari siwak asli.

Varian dan Kemasan Sasha


Pasta gigi sasha memiliki 2 varian yang bisa teman-teman coba sesuai dengan kebutuhan.

💓 Sasha herbal natural antibacterial protection

Terbuat dari siwak asli dan ekstrak daun sirih untuk membunuh bakteri penyebab plak dan bau mulut, nafas segar tahan lama. Varian ini pas banget digunakan saat ramadan untuk mengurangi bau mulut. Oh iya, nenek saya dulu struktur giginya bagus dan bersih, padahal usianya sudah sepuh. Ternyata selain beliau rajin gosok gigi, beliau juga rajin mengunyah sirih.

Menurut penelitian, sirih memiliki sifat anti bakteri sehingga bagus untuk mencegah gigi berlubang. Makanya, nggak heran kalau kandungan sirih dalam sasha memang ampuh untuk membunuh bakteri akibat sisa makanan.

💓 Sasha whitening double repair protection

Varian ini terbuat dari siwak asli, lemon dan garam yang berfungsi untuk memberikan perlindungan ganda dengan membuat gigi tampak putih. Nggak percaya diri pas senyum tapi giginya kuning? Nah, sasha whitening ini bisa dicoba deh!

Pasta gigi sasha memiliki 2 kemasan dengan harga yang cukup terjangkau. Untuk kemasan 65 gram dibandrol dengan harga Rp. 6500 sedangkan kemasan 150 gram seharga Rp 15.000

Yuk berani berhijrah dengan menggunakan produk halal. Salah satunya bersama sasha yang setiap hari digunakan untuk gosok gigi keluarga. Untuk informasi lebih lengkapnya, teman-teman bisa follow akun sosial media Sasha, IG: @sashaindonesia dan FB: Sasha Pancaran Aura Islami


Read More »

Menyikat Gigi pada Bayi

PR menjadi Ibu banyaknya ya Allah. Belum lulus tentang MPASI, udah disuguhin berat badan anak. Keduanya remidi terus, eh adalagi yang lainnya. Yang paling gress yang saya lakoni adalah menyikat giginya Ray. Perjuangan Allahuakbar!

Saya menyikat gusi Ray pertama kali mungkin ketika dia usia 4 bulan. Sekalian mengelap mulutnya dengan kasa dibasahin air hangat. Meskipun belum punya gigi, saya rajin mengecek gusi dan mulutnya, memastikan bersih dari sisa air susu. Pernah lihat mulut bayi putih kan? Nah, itu katanya bekas asi dan sebaiknya dibersihkan.

Gigi pertama Ray

Ray tumbuh gigi pertamanya ketika usia 7 bulan. Gigi seri bagian atas dua biji. Trus nggak berapa lama, mungkin selang sebulan, tumbuh lagi di bagian atas. Jadi empat biji. Nah, ketika tumbuh yang kedua, dia demam 4 hari. Pas banget sebelum saya ujian esok harinya. Alhamdulillah pas mau berangkat ujian, dia udah ga demam, cuma agak ngeces aja. Mungkin karena gusinya ngilu.

Pernah baca kalau demam nggak ada hubungannya atau jangan dikaitkan dengan tumbuh gigi. Tapi nyatanya memang Ray beneran demam sampai 39 dan ga mau makan. Mungkin benar kalau jangan selalu mengaitkan demam dengan tumbuh gigi, tapi kebanyakan anak batuta (bawah dua tahun) masih masa-masa tumbuh gigi yang kadang menyebabkan demam. Saya juga pernah mengalami geraham mau tumbuh aja sampai demam dan nyeri, apalagi anak-anak kan?

Nah, sejak tumbuh gigi, saya beli sikat bayi, yang modelnya sedikit bergerigi dan  dimasukkan ke jari dan digosokkan ke giginya Ray setiap mandi. Sesekali mau, tapi kalau lagi nggak mau, dia beneran rapet banget mulutnya. Selain menggosok giginya, saya juga mengelap pakai kasa basah. Oh iya, untuk air kumurnya, saya memakai air matang karena pasti ditelan sama Ray :p.

Pakai Sikat dan Pasta Gigi

Udah pakai sikat bayi, rajin di lap pula. Eh, giginya Ray kuning dan agak grupis di bagian atas :(. Padahal Ray juga ga makan yang manis-manis, lho. Saya searching dokter gigi anak di Klaten belum nemu-nemu, dan alhamdulillah ada rekomendasi dari teman saya, namanya dokter Utami. Pengen konsultasi dan memeriksakan giginya Ray kok waktunya belum pas, huhu.

Akhirnya saya sharing sama Ririn. Dulu waktu Ray fimosis, dia nanyain ke dokter bedah di Rumah Sakit tempat dia bekerja. Kali ini saya juga ditanyain langsung ke dokter spesialis gigi. Aaaa, peluk Ririn! :*

Saya disuruh memfoto giginya Ray. Makanya pas tidur saya foto kondisi giginya dan mengirimkan ke Ririn. Trus Ririn nanyain ke dokter dan jawabannya diskrinsut ke saya. Jadi, beliau bilang kalau giginya Ray ada yang patah sedikit yang bagian atas. Mungkin karena benturan pas main atau pas menggigit kuat makanan yang teksturnya keras.

Selanjutnya, beliau menganjurkan untuk mentikat gigi Ray pakai sikat gigi anak. Kalau mau pakai pasta gigi, pilih yang komposisinya tidak berflouride. Karena seringnya bayi selalu menelan saat pasta gigi digosokkan ke giginya. Emang bener sih. Ray selama ini selalu menyesap sikat giginya.

Mengajari bayi sikat gigi

Tantangan banget mengenalkan sikat gigi sama Ray. Sejak dianjurkan dokter untuk menyikat giginya biar gak kuning dan grupis, saya membelikannya sikat gigi sendiri. 

Beberapa hal ini saya lakukan ketika mengajari Ray sikat gigi:

1. Menggosok gigi di depannya

Saya selalu menggosok gigi di depannya. Saya juga menyuruh Khansa menggosok gigi menggunakan pasta gigi. Awalnya acuh tak acuh tapi lama-lama Ray menirukan. Yang paling drama adalah ketika memintanya untuk membuka mulut. 

Meskipun sering disikat dan saya masih mengelapnya dengan kasa basah, giginya Ray bagian atas tetap kuning dan grupis :(. Apa dulu saya kurang mengonsumsi kalsium waktu hamil? Huhu. Jadi pengen ke dokter langsung buat ngecek dan konsultasi.

2. Pastikan in a good mood

Menyikat gigi bayi itu butuh sabar, ahaha. Kalau bayinya gak mau, kadang kitanya yang gemes banget. Ray gak selalu mau disikat. Dia pegang sikat gigi sendiri, tapi lebih suka menyesap bagian bulunya. Menyikat sekenanya karena meniru saya melakukannya. Tapi pas saya yang membantunya menyikat giginya? Hmmm, crancy! Nangis langsung.

Sekali saya memaksakan menyikat giginya. Dia nangis kejer. Karena giginya beneran kuning banget kalo gak disikat, huhu. Tapi setelah itu udah, saya gak memaksanya lagi. Saya nyari alternatif lain biar Ray sendiri yang sukarela disikat giginya. Makanya kalau pas mau mandi, saya memastikan diri saya in a good mood. Dalam kondisi yang moodnya beneran bagus biar gak gatel maksain anak sikat gigi.

Untuk masalah gigi, saya beneran concern banget. Dio, Dea, iqbal, Khansa sama Lintang yang tahu banget tentang hal ini.

3. Membelikan sikat gigi lucu

Kenapa harus disikat? Apakah dilap pakai kasa yang dibasahi air saja tidak cukup? Atau pakai sikat yang dimasukkan di jari telunjuk kurang nampol? Soalnya, kalau cuma di lap aja, kelihatannya memang sudah bersih, tapi sebenarnya mineral makanan yang tertinggal di gigi tidak terangkat sempurna. Jadi perlu disikat biar bersih. Itu penjelasan dokter. Apalagi giginya Ray gampang banget kuning, huhu.


Selain memilih sikat gigi yang khusus bayi dan bulunya lembut, saya juga membelikan sikat gigi karakter. Ada dinosaurus, buaya, robot dengan berbagai warna. Ray suka! Makanya pas momen gosok gigi, saya pegang sikat, Ray juga pegang sikat. Pas dia buka mulut, tangan saya gercep nyikat giginya.

Sebenarnya pas beli, tidak ada label sikat gigi bayi yang dibawah 2 tahun. Kebanyakan untuk 3 tahun ke atas. Kemarin saya memilih sikat gigi dee dee yang ujung sikatnya lembut dan kecil. Jangan ngasih sikat gigi dewasa buat bayi karena ga cocok buat rahangnya. Bisa-bisa nanti sariawan ketika menyikatnya. Kan malah kasihan.

Saya beli banyak sekalian. 1 pcs seharga 5 ribuan. Oh iya, tiap 3 bulan sekali jangan lupa sikat giginya diganti ya. Tempelin aja di gagang sikatnya biar inget :p

4. Memilih pasta gigi

Selain sikat gigi, yang harus diperhatikan adalah pasta giginya. Kalau kata dokter dan beberapa referensi yang saya baca, sebaiknya tidak mengandung flouride. Tapi ada juga yang menuliskan tidak apa-apa asalkan memakainya sedikit saja. Bayi seneng banget lho menelan pasta gigi :D. Makanya, saya lebih memilih aman aja untuk membelikannya yang tidak berflouride dan bebas deterjen.

Ada beberapa anak yang langsung mual hingga muntah saat disikat pakai pasta gigi. Kalau sudah demikian, sebaiknya disikat saja dulu tanpa pasta gigi. 

5. Kumur pakai air matang

Yaiyalah, bayi dikasih air pasti ditelan, ahaha. Itu Ray lho. Dia belum bisa kumur-kumur trus dilepeh. Makanya tiap sikat gigi, ada tupperware khusus buat tempat air. Secukupnya aja. Soalnya kalau penuh pasti dipakai mainan :D

6. Nonton video di youtube

Selain mencontohkan langsung, saya sama Ray nonton bareng batuta yang sedang sikat gigi. Dia memerhatikan dan tangannya nunjuk-nunjuk ke layar. Sambil nonton, saya bilang "Ini sikat gigi juga lho, Mas. Nanti Ray juga ya. Sikat gigi sendiri sama Ibu ya pas mandi?" Responsnya senyum, ahaha. Mungkin bilang iya Buuu. Padahal praktiknya juga sering nggak mau :p.

7. Menyugesti dalam percakapan 

Tentang gosok gigi, saya juga menyelipkannya dalam setiap percakapan kami. Mas Ray udah sikat gigi belum ya tadi? Lalu dia refleks memegang giginya. Di kamar, saya juga menyediakan sikat gigi. Jadi pas kami ngobrol berdua dan membahas sikat gigi, saya mengambil dan memberikannya pada Ray. 

8. Menyikat gigi ketika tidur

Kalau Ray beneran nggak mau disikat pas mandi. Malamnya, saya menyikat giginya ketika dia tidur? Apa nggak bangun? Enggak. Dia tidur pulas saat saya menggosok giginya. Sesekali terjaga, saya menghentikannya. Dan ketika dia tidur lagi, saya menyikat giginya lagi.

Sikat tetap saya basahi dengan air. Alhamdulillah lumayan bersih kok. 

9. Membawanya ke dokter gigi anak

Ini baru rencana dalam waktu dekat. Saya beneran worry masalah ini. Gigi dan mulut kelihatannya sepele, tapi sebenarnya puenting banget. Plak-plak gigi yang tidak dibersihkan bjsa menjadi kuman. Dan untuk anak, itu bisa fatal lho. Huhu.

Saya nggak tahu kapan sebaiknya membawa anak ke dokter gigi. Karena mungkin kesannya horor. Tapi buat Ray, sepertinya memang perlu, karena saya nggak tahu salahnya dimana atau butuh treatment apa untuk menjaga gigi dan mulutnya sehat. Saya termasuk rajin menggosok giginya tapi kenapa bisa kuning dan grupis? Ga konsumsi gula juga. Tanya kenapa? Makanya saya butuh penjelasan dari dokter sambil tahu kondisi gigi Ray secara langsung. Semoga segera ya.

Nah, teman-teman punya pengalaman menggosok gigi pada bayi? Sharing yuk...
Read More »

Belajar Pijat Bayi, Hangat Cinta Ibu untuk Buah Hati

Dear teman-teman, apa kabar puasanyaaaaaaa? Semoga masih semangat dan kuat sampai akhir ya. Jangan kasih kendor! 😉. 4 hari ini saya hampir kepayahan  menjalaninya karena Ray lagi aktif-aktifnya belajar jalan. Jadi mulai jam 9 pagi sampai siang, dia minta main kesana kemari. Selain stok tenaga yang full charge untuk mengimbanginya bermain, emosi saya juga harus tertata dengan baik *senyum kalem.


Kalau sejam, dua jam aja gak masalah, sist. Lha kemarin mainnya mulai dari jam 9 pagi sampai adzan ashar masih ON 😌. Ditambah lagi, dia agak rewel karena mungkin produksi asi saya tidak sederas biasanya. Padahal mulut ini tak berhenti mengunyah lho, Le. Masa iya kurang juga asinya.

Tiap malam sebelum tidur, saya selalu minta izin untuk ikut puasa keesokan harinya. Berkali-kali saya bilang sambil memijat tengkuk dan punggungnya. Mungkin Ray merasa badannya capek karena seharian main, makanya pas saya memijat bagian-bagian tubuhnya, dia pasrah saja.

Sejak bayi, saya memijat Ray sendiri. Bagian tangan, kaki, wajah dan punggungnya. Saya belajar memijat dari hasil browsing di youtube dan baca-baca panduan pas beli toiletries Ray. Saya baru memijatkan Ray ke Spa, setelah usianya 35 hari. Itupun sekalian saya pijat nifas. Untung di Klaten ada spa yang bisa datang ke rumah. Saya searching di instagram, ada nggak ya, pijat bayi dan nifas yang bisa datang ke rumah. Finally, i met @shabira_spa at the first time.


Pas sesi pijat, saya diajak ngobrol tentang perpijatan dan cara menggendong dengan benar. Semula saya hanya mengenal jarik, hingga akhirnya saya belajar tentang gendongan M-Shape. Posisi bayi yang benar seperti apa saat digendong.

Baca juga: menggendong dengan hugpapa

Dan ilmu lain yang kami obrolkan adalah tentang memijat bayi.

Belajar Pijat Bayi


Ssst, setiap ibu bisa memijat bayinya sendiri lho. Tidak harus ke dukun pijat yang biasanya membuat anak trauma karena seringkali nangis, huhu. Makanya, pas @shabira_spa membuka kelas untuk belajar pijat bayi, saya langsung mengamankan seat. Padahal 4 kali pertemuan dan waktunya pas sore hari, lho. Awalnya jiper pengen ikutan karena takut bentrok waktunya, tapi alhamdulillah bisa ikut semua sesi-nya *proud to my self!



Manfaat pijat bayi itu baaaanyak banget. Makanya kemarin bersyukur bisa ikutan kelasnya. Dan setelah itu, saya bisa memijat Ray sendiri dengan percaya diri (karena sudah tahu ilmunya). Sebelumnya cuma nonton youtube, tapi kemarin beneran praktik langsung. Beberapa hal di bawah ini yang saya rasakan sejak intens memijat Ray.

1. Bobok lebih nyenyak

Meskipun sering main, kalau pas tidur, dia nyenyak banget. Bangun kalau mau nyusu aja. Kalau diajak bepergian jauh juga nggak rewel. Biasanya kalau di mobil, saya juga memijat-mijat bagian tangan atau kakinya. Jadi sebenarnya memijat bayi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.


2. Pencernaan lancar

Pas usia 5 bulan, Ray kena diare. Bahkan sampai dirawat di RS. Saya kapok banget. Selain memberi interlac, ternyata pijat sun and moon dan ILU (silakan googling yak :p) juga bermanfaat untuk menstabilkan pencernaannya. Pijat sun and moon dan ILU (I love you) juga saya pelajari pas ikutan kelas pijat bayi :D.

Baca juga: Menjaga saluran cerna bayi

3. Meningkatkan rasa percaya diri saat merawat bayi

Menjadi ibu baru itu banyak sekali PR-nya ya Allah. Seringkali pengin ini itu buat bayinya tapi takut salah karena belum tahu ilmunya. Meski sebelumnya sudah memijat Ray sendiri, tapi tahu ilmunya, saya lebih PD lho ngurus Ray. Kalau diare nggak panik kayak sebelumnya. Pas Ray demam juga gak grasa grusu lagi, karena bisa mengusapnya. Satu lagi, saya jadi lebih aware merawat kulitnya Ray.

Ray badannya montok. Setiap lekukan sering berkeringat dan menimbulkan ruam atau biang keringat. Dengan rajin memijatnya, saya bisa sekalian menjaga dan merawat kulitnya agar tidak kena ruam.

Baca juga: Pentingnya merawat kulit sejak bayi

4. Memperkuat bonding antara ibu dan bayi

Saya percaya kalau bayi mengerti dan merasakan intuisi ibunya. Jadi kalau diajak ngobrol pun mereka sudah bisa merasakannya. Apalagi kita menyentuhnya dengan pijatan. Honestly, pijat bayi ini membuat saya dan Ray semakin lengket. Saya pun nggak peduli dengan anggapan kalau Ray bau tangan ibunya. Karena entah bagaimana, saya merasa sangat berharga dan dibutuhkan kalau dekat dengannya.


5. Release emosi si ibu

Dengan memijat bayi, saya bisa menyalurkan emosi saya. Semula capek, uring-uringan dan hal negatif lainnya bisa luruh ketika memijat sambil mengobrol sama Ray. Kok bisa? I dunno. Rasanya nyaman aja ketika menuangkan minyak ke punggung sambil ngajak ngobrol bayi.

Hmm, manfaatnya terasa banget buat saya dan sepertinya Ray juga menikmatinya.

Belajar pijat bareng @shabira_spa



Nah, buat ibu-ibu yang di area Klaten dan pengen belajar memijat bayi sendiri di rumah, bisa ikut belajar sama @shabira_spa yang sudah bersertifikat sebagai instruktur pijat bayi (CIMI/certified infant massage instructur). Bisa privat atau grup juga. Harganya terjangkau kok dan worth it sama yang didapat. Kemarin ada 4 sesi. Per sesi sekitar 1.5-2 jam. Di sesi terakhir ada  tanya jawab tentang tumbuh kembang sama ahlinya juga.

Kalau saya prefer ikutan kelas grup karena bisa sharing dengan ibu-ibu yang lain. Saya ikutnya ketika Ray usia 8 bulan. Selain Ray suka ada temannya, bayarnya juga lebih terjangkau :p. Fasilitasnya juga full servis: snack, praktik langsung, modul, dikasih buku cerita anak sebagai bonus, kutus-kutus kecil (sudah dikemas dan dioplos biar baunya kalem) sama tanya jawab sepuas kita :D.

Sampai Ray usia setahun, saya masih suka memijatnya. Random saja di bagian tubuhnya yang kira-kira terasa tidak nyaman. Dan voilaaaaa, Ray suka. Makanya, sudah tahu kenapa Ray lengket kayak perangko sama ibunya? Salah satunya karena momen pijat ini.

Hal baru yang didapat setelah ikut kelas pijat


Ask permission before giving a massage

Memijat juga butuh permisi ke bayi lho. Rasanya sepele kan? Tapi nyatanya itu perlu. Setidaknya karena kita memberi isyarat pada bayi kalo kita akan membuat nyaman dan tenang. Bukan menyakitinya.


Pernah melihat bayi nangis kejer karena dipijat? Salah satunya karena bayi dipaksa untuk mau dipijat padahal mereka merasa tidak nyaman dan sakit :(. Padahal menurut saya hal tersebut akan membuat rasa trauma pada bayi, huhu. Itu kenapa sebelumnya saya jarang membawa Ray ke dukun pijat. Karena nggak mau maksa dia untuk dipijat dan melihatnya sampai nangis.

Kapan waktu yang pas untuk pijat bayi?

Kalau teori yang saya dapat pas kelas memijat sih waktu yang baik untuk memijat bayi adalah ketika mereka terjaga. Jadi, saat bayi bisa merasakan keberadaan kita.


Dulu saya sering memijat Ray pas posisi dia sedang tidur. Saya pikir hal itu bisa membuat nyaman dan tidurnya lebih pulas. Tetapi, ternyata ketika tidur, hormon pertumbuhan bayi sedang bekerja. Memijat bayi saat dia tidur bisa menghambat kerja hormon pertumbuhan bayi. Sejak mengetahuinya, saya tidak lagi memijat melainkan mengusap saja. Misal mengusap bagian punggung atau memberikan puk-puk pada pantatnya.

Memijat merupakan sarana untuk meningkatkan bonding dan komunikasi. Jika bayi tertidur selagi pijat. Maka pijat sebaiknya berhenti, karena kita ga bisa berkomunikasi dua arah dengan bayi yang tertidur, pesan Mbak Dika, owner @shabira_spa saat memberikan kelas pijatbayi.

Lalu kapan memijat Ray? Saat sebelum atau setelah mandi, saat sebelum tidur (sebelum benar-benar lelap), ketika di mobil saat bepergian. Saya lakukan sambil ngobrol.

Kalau memijat pakai minyak apa?

Pas di kelas pijat, saya dikasih minyak kutus-kutus yang sudah di-mix sehingga baunya tidak menyengat. Sebenarnya dalam memijat bisa pakai minyak apa saja lho, termasuk minyak goreng :p. Asalkan kita memastikan bau minyaknya tidak menyengat dan kandungan mineralnya sedikit. Kulit bayi masih sensitif, jadi perlu memilihkan jenis minyak yang tepat agar tidak iritasi.

Sebelumnya saya memakai baby oil cussons. Pakai minyak kutus-kutus juga kalau Ray pas perjalanan jauh. Alhamdulillah Ray tidak terganggu dengan baunya yang menyengat. Kalau batuk pilek suka dipijat pakai minyak but-but dari HPAI, tapi saya nggak terlalu suka sama aromanya. Pokoknya tentang minyak pijat bisa disesuaikan saja asal bayi tidak mengalami keluhan di kulitnya.

Kalau demam jangan dipijat

Ibu saya selalu menawarkan pijat pada Ray ketika tahu Ray sedang demam. Beliau merasa dengan dipijat, badan Ray lebih rileks. Dulu saya juga berpikir sama. Ternyata ilmunya tidak begitu.

Saat demam, anak tidak boleh dipijat karena akan meningkatkan toksisitas. Pernah membaca bukunya Dokter Apin yang berteman dengan demam dan menemukan statement kalau demam itu sebenarnya baik untuk anak, karena tubuh sedang melawan virus atau bakteri. Jadi, demam merupakan gejalanya dan memang diperlukan untuk mengusir kuman dan infeksi dalam tubuh.

Nah, kalau dipijat, metabolisme tubuh akan meningkat sehingga menyebabkan aliran darah akan lancar. Jika darah lancar padahal banyak kuman, virus dan bakteri justru akan cepat menyebar dan menghambat tubuh melawannya.

Jadi plis, yang masih memijat saat anak demam,jangan dilakukan lagi. Sebaiknya dilakukan saat masa recovery saja. Itu malah membantunya lebih nyaman dan fresh.


Semoga Ray sehat selalu, ya Karena Ibu sayang Ray pake banget.

Buat teman-teman, ada cerita tentang memijat bayinya? Yuk sharing bareng :)
Read More »