Pendidikan Politik untuk Saling Mengingatkan

Senin, November 12, 2012 2 Comments A+ a-

Setiap jam 06.00 pagi aku sudah sibuk mondar-mandir ngurusin balita, biasanya dalam keadaan seperti itu, televise berfungsi sebagai radio, yaitu menyetelnya dengan volume agak besar untuk diperdengarkan tanpa harus melihatnya. Menyiapkan baju untuk Deandra, pampers, bedak dan perkap lainnya.

Yuni Shara sudah tidak tahan dengan Raffi, bla bla bla. Aku langsung mengambil remot dan memencet angka 18 atau 19, memilih berita headeline news. Akhir-akhir ini Jokowi, Dahlan Iskandan Mahfud MD yang sedang naik daun, hamper di setiap berita tidak absen. Jokowi tampil dengan program-program progresifnya (semoga-istiqomah), Dahlan Iskan yang heboh dengan DPR, lantang buka-bukaan terkait DPR yang selalu morotin uang BUMN. Dan yang terakhir Mahfud MD yang sedang mengkritisi tentang grasi yang diberikan pemerintah terhadap Bandar narkoba Meirika Franola.
"Saya menduga memang yang memberi pertimbangan pada presiden ini, mungkin ada mafianya juga yang melalui pintu-pintu tertentu sehingga bisa meyakinkan orang-orang presiden bahwa ini harus diberi grasi," kata Mahfud di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis, 8 November 2012.
Mendengar statement tersebut, pihak istana meradang, bahkan menurut opini saya, latah memeberikan komentar di TV.
"Namanya dugaan kenapa diumbar. Itu pantas tidak?. Seorang ahli hukum, profesor, masalah dugaan itu diumbar ke pers," ketus Sudi Silalahi di Istana Negara, Jakarta, Senin (12/11)--sumbernya disini. Saya berhenti memegang pampers ketika tanggapannya mulai tidak logis dan saya tercekat. “Bukankah MK juga pernah melanggar UU? Saat mereka melanggar UU saja, kami diam saja kok, sekarang mau buka-bukaan di depan publik”, ungkapan Sudi Silalahi membuat saya berdiri memandangi layar televisi.
Bukankah dalam pendidikan politik juga perlu “saling mengingatkan? Atau selama ini para politisi melakukan “pembiaran” jika salah satu institusi dianggap melanggar UU atau katakanlah bertindak melawan hukum. Sebagai wakil rakyat, bukankah seharusnya koreksi diri jika dikritisi? Bukan melakukan pembenaran-pembenaran yang membabi buta. Saya mulai bosan mendengarnya, lalu tombol merah saya tekan, presenter berita sudah tidak bersuara. Tetapi pertanyaan-pertanyaan di benak saya masih membayang-bayang. Banyak pertanyaan, seakan-akan untuk membedakan salah-benar itu terasa samar. Saling mengingatkan untuk kebaikan, bahkan itu merupakan salah satu pendidikan politik untuk mencari kebenaran, bukan pembenaran. Bye.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

2 komentar

Write komentar
13 November 2012 15.08 delete

aku paling suka berita RCTI
lebih menyenangkan disimak :D

Reply
avatar
13 November 2012 21.43 delete

esensi beritanya sama, tp ngepas aja, soalnya kl pagi sindo mulai jam stengah 6, habis itu rcti-sctv dominasi seleb.

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)