Apakah kita masih menatap rembulan yang sama?

Senin, Maret 31, 2014 0 Comments A+ a-



Aku hanya sempat melihat punggungmu dari kejauhan. SAMAR. Kita bersengketa dengan ego kita, menghapus satu dua kata padahal hanya untuk menanyakan “sedang apa?”, tidak mengapa ini semua, takdir baik tidak akan pernah sedikit pun keliru. TIDAK AKAN PERNAH.

Apakah kita masih menatap rembulan yang sama?, tanyaku.

Aku berharap jawaban itu “masih”. Entah dapat contekan dari angin maupun rembulan itu membisikkan padaku, bahwa kamu juga menatapnya sepertiku.

Bohong, jika aku telah melupakanmu. Bohong juga jika aku tidak pernah sedikitpun merindukanmu. Bahkan kamarku tercium aromamu. Hingga aku selalu mengganti kamper stella buah-buahan untuk menyembunyikan aromamu. Mengganti sprei setiap minggu sesukaku. 

Iya, ego kita sama-sama tinggi. Eh, bukan egoku terlalu tinggi untuk mengakui. Cukup. Malam ini aromamu mulai memekakkan hidungku. Saat aku menulis ini pun, aku yakin kamu bercengkrama asyik dengan si merah, atau malah bergumul dengan guling kesayanganmu.

Berulangkali kamu bilang, wanita itu makhluk aneh. Dan aku selalu menjawab, itu adalah kodrat alam, memang lelaki harus mengerti tanpa harus dijelaskan, memahami lewat bahasa tubuh, mendengarkan bisikan-bisikan yang tak sempat terkatakan. Kamu hampir gila dibuatnya. Itu sebabnya, aku tak membebankanmu untuk mengerti. Karena sejujurnya, kadang-kadang aku pun tak mengerti harus bagaimana menyikapimu.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)