Antara Prasangka dan Kehilangan

Jumat, April 04, 2014 2 Comments A+ a-


“Semoga gak ketinggalan di kereta”, batinku was-was menaikkan paketan buku yang lumayan berat ke atas bagasi kereta KRL.

Aku telah berprasangka bahwa buku itu akan ketinggalan di kereta.

Seperti biasanya, suasana KRL pada jam pulang kerja, penuh sesak dengan para pekerja kantoran. Aku sengaja ikut KRL ke arah Jakarta Kota supaya aku bisa mendapatkan tempat duduk sambil menyelesaikan jatah juz-ku.

Perjalanan tersendat, karena di beberapa titik stasiun, kereta tertahan. Gambir, Cikini dan Manggarai menjadi langganan tertahannya KRL. Gaduh, bisikan, bahkan emosi beberapa orang pun kadang-kadang tertantang. Aku paham.

Kehilangan selalu menyisakan ruang untuk belajar. IKHLAS

Korelasi prasangkaku tepat sekali. Tapi sayangnya, prasangkaku buruk padaMu. Buku-buku paketan online yang baru saja datang tadi pagi terbawa di kereta. Aku merasakan kehilangan.

Saat aku turun dari kereta, tap out di pintu keluar stasiun, aku langsung ke parkir mengambil motorku. Belum sempat masuk area parkir, ada perasaan ganjil yang entah mengapa sadar tentang sesuatu bahwa seharusnya aku menjinjing sesuatu. “Ah bukukuuuuuuuuuuuuuuuuu”, aku berlari ke stasiun lagi.

“Pak, saya ketinggalan barang di kereta”, aku mengatur nafasku.

“Silakan masuk Mbak”, security mempersilakanku masuk tanpa tap in lagi.

Aku diajak ke ruang informasi, tempat petugas dimana aku sangat terbantu memastikan posisi kereta ada dimana.

“Mas, saya ketinggalan barang di kereta”, aku menjelaskan.

“Di kereta mana, Mbak?”, Petugas itu bernama Rio. Aku memastikan dari tulisan yang ada di bajunya.

“Mmm… yang barusan kea rah Bogor, Mas”, aku agak berpikir keras untuk menjawabnya. Ingatanku terlalu buruk. Huks

“Barangnya berupa apa, Mbak?”

“Paketan buku, Mas”

“Maksudnya plastic atau tas warna apa gitu?”, petugas Rio mulai mencatat untuk mengidentifikasi.

“Naik di gerong berapa Mbak?”

“Gerbong wanita, Mas. Paling belakang. Di lajur kiri”

“Oooh, plastic warna merah, isinya paketan buku yang dibungkus warna coklat. Ada nama Nur Sulistiyaningsih”

“Tunggu sebentar ya, Mbak”, dia mulai menelepon petugas di tiap-tiap stasiun menanyakan tentang kehilangan barang tadi.

“Maaaas, saya naik kereta Bogor yang dari Jakarta Kota ya”, aku menambahkan informasi.

“Yah, katanya kereta barusan. Kalo yang itu udah 10 menit yang lalu mungkin udah sampai Cilebut”, petugas memencet-mencet tuts telepon sambil sesekali mengumumkan kedatangan dan keberangkatan kereta.

Prasangkaku untuk kehilangan ini tepat sekali. Mengapa aku tidak berprasangka kalau aku akan membacakan buku-buku itu untuk ponakanku saja? Bukankah sama-sama prasangka? Aku ber-Aaah dalam hati

Pukul 20.30 aku masih menunggu, selesai sholat aku memastikan kembali ke petugas Rio tentang progress kehilanganku.

“Mbak, katanya kereta baru masuk stasiun Bogor. Mungkin 30 menitan baru dapat kabar dari petugas sana. Atau kalau mau, Mbak tinggalkan aja nomer telepon, nanti saya hubungi”, petugas Rio menjelaskan lagi.

“Boleh Mas”, sambil mengeja nomerku, dia mencatat dan mencoba miss called.

“Oh iya, dengan Mbak siapa?”, dia tetap santun.

“Aya”, aku memasukkan handphone  ke dalam tas dan bersiap pulang.

“Oke, nanti kalo ada kabar dari petugas di stasiun Bogor, akan saya kabari”, dia mengumumkan kedatangan KRL melalui microfone.

“Baik Mas Rio, terima kasih”, aku hendak permisi.

“Eh, bukannya saya tadi Mbak belum menanyakan nama saya? Saya juga belum ngasih tau kayaknya”, dia agak heran.

Aku menunjuk nama yang menempel di bajunya. Bukan hanya kali ini kulakukan, aku selalu menghargai lawan bicaraku melalui namanya. Membaca inisial-inisial yang menunjukkan identitas seseorang tanpa harus berkenalan terlebih dahulu.

Sepanjang yang kutau, ingatanku belum terlalu baik untuk mengidentifikasi gerbong KRL. Aku hanya asal masuk gerbong mana saja yang bisa kumasuki.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat naik KRL, here we go :

1.     Pastikan kamu tau gerbong mana yang kamu naiki
2.     Trus di lajur mana kamu duduk (kanan/kiri)
3.     Catat juga kereta jurusan mana-kemana-nomer berapa (ada banyak banget tiap beberapa menit, kereta dating)
4.     Mendingan barang bawaan dipangku kalau memungkinkan
5.     Jangan berprasangka buruk
6.     Jaga emosi, jangan memancing atau terpancing emosi

Paketan buku itu masih rapi tertulis nama dan nomor teleponku, kalaupun itu menjadi rejeki dan jodohku pasti akan kembali. Pun ketika itu tidak kembali, aku berharap akan bermanfaat bagi yang menemukan.

Bye-bye : INFERNO, ALL YOU CAN EAT, GOOD FIGHT, ON, NEGERI 5 MENARA, SEBELAS PATRIOT, UDAH PUTUSIN AJA.

Allah itu berdasarkan prasangka hambanya, dan kali ini prasangkaku adalah kehilangan tentang kesukaanku. BUKU.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

2 komentar

Write komentar
14 Mei 2014 11.07 delete

weh, sejak kapan kamu tertarik Dan Brown? Inferno

Reply
avatar
16 Juni 2014 22.42 delete

Iyaa, rekomendasi temenku, nyoba genre baru Nik :D

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)