Arti sebuah pelukan

Rabu, April 16, 2014 0 Comments A+ a-


Tidak seperti biasanya, malam itu mati lampu. Tidak mengapa asal jagoanku dan bidadariku tidak merajuk karena takut gelap. Atau aku yang takut dengan gelap itu sendiri.

Masih dalam suasana gelap, hanya terdengar suara enyutan dot susu yang hampir habis. Deandra yang memegang lenganku erat, instingnya sangat kuat, dalam kondisi tertidur pun seakan dia setengah terjaga. Saat aku tidak berada di sampingnya waktu tidur, dia akan meronta sebagai bentuk protesnya. Dongeng malam ini tentang Harimau, kancil dan buaya (kutuliskan lain kali). Mereka dapat diajak kerjasama.

“Bulik takut gelap ya?”, tiba-tiba Dio melepas botol susunya.

Belum sempat kujawab pertanyaannya, dia melontarkan statement yang membuatku merasa sangat dicintai.

“Sini aku peluk kalo takut”, ungkapnya polos.

Aku memeluknya erat. Deandra tanpa diinstruksikan merapatkan pelukannya juga. Sepertinya aku ingin menghentikan waktu sejenak, merasakan kehangatan itu. Tetiba buliran bening itu menetes, bukan karena takut atau sedih, lebih tepatnya, aku terharu, merasa diperhatikan.

Entah PLN menghidupkan lampu jam berapa, tetapi kami bertiga saling berpelukan. Erat sekali.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)