Like father like son

Rabu, September 02, 2015 3 Comments A+ a-


Mendiskripsikan kata “Bapak” tidak akan pernah ada habisnya. Aku termasuk salah satu fans berat dengan sosok tersebut. Ia yang menjadi cinta pertama bagi anak gadisnya dan hero bagi anak lelakinya.

 

Dio (4y, 11m) memiliki beberapa kesamaan dengan Bapaknya. Entah itu gen sejak lahir atau hasil dari pengamatan dari Bapaknya yang berulang-ulang. Keduanya lengket satu sama lain, kemarin waktu Bapak dan Mamanya pergi ke Bali selama 2 hari. Mamanya bercerita bahwa Bapaknya tidak melupakan Dio sedetikpun. Setiap ada ayunan atau kuda-kudaan, ia tanpa sadar mengucapkan “Coba kalo Dio ikut, pasti udah naik itu.” Mamanya hanya tersenyum.

 

Membahas tentang anak-anak juga tidak kalah serunya. Mereka meniru apa yang dilihat sehari-hari. Merekam detail dan seringkali melakukan hal-hal yang menjadi kebiasaan orang tuanya. Salah satunya adalah sholat.



Sholat adalah kebutuhan kami (bukan lagi sekadar kewajiban). Sebisa mungkin saat di rumah, kami usahakan untuk sholat berjama’ah. Karena itu dilakukan berulang-ulang dan mereka tanpa sadar meniru apa yang kami lakukan tanpa disuruh.

 

Aku melihat ada aura bangga saat Dio dengan terbata-bata menyelesaikan iqamahnya. Bapaknya langsung mengacung jempol sambil bilang “Anak sholeh”. Mamanya juga tersenyum ke arah mereka berdua.

 

Bagaimana saat Dio, melafadzkan Surat-Surat pendek yang dihafal di sekolahnya, Bapaknya lalu memeluk dengan hangat. Dio tertawa.

 

Kali ini tidak hanya Mamanya yang memerhatikan Bapak dan Dio, aku dan Deandra pun tidak luput dengan pemandangan yang beberapa detik tersebut. Iya, anak lelaki berkiblat kepada Bapaknya. Bagaimana Cakra dan Satya sangat mengagumi Bapaknya, dalam Buku Sabtu Bersama Bapak (Adhitya Mulya), saat Dam terbentuk oleh didikan Ayahnya, dalam Ayahku Bukan Pembohong (Tere Liye). Dio pun juga demikian, sangat mengidolakan Bapaknya.

 

“Pak, besok shubuh di Mushola aja yak. Bangunin aku pagi-pagi pas adzan.” Dio meminta polos dengan menatap Bapaknya. Aku hampir tersedak mendengarnya sendiri. Bapaknya mungkin juga tidak percaya. Anggukan dan pelukan sebagai jawaban untuk permintaan Dio.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

3 komentar

Write komentar
3 September 2015 09.06 delete

Rrrrrrrr... Baru tadi malem posting tentang Bapak juga. Makin kangennn.. :(

Dio pinter banget..

Reply
avatar
4 September 2015 15.38 delete

Endang juga ngidolain Bapaaak jugak? :3.. Tos /-\

Reply
avatar
mia fajarani
AUTHOR
7 September 2015 20.50 delete

segala sesuatu yang berkaitan tengtang orang tua pasti selalu mengharukan. ada terselip rindu, kekhawitran. dan segala rasa yang selalu berkecmuk dalam hati.
paragraf pertama bikin nangiiisss :''(

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)