Perempuan Digital dan Dunia Dapur

Rabu, September 07, 2016 39 Comments A+ a-

Perempuan Digital dan Dunia Dapur

Ibu saya termasuk wanita konvensional yang lebih menggunakan sense dan experience nya. Kalau memang gak bisa melakukan sesuatu, beliau mencoba-coba dahulu meskipun ada trial error.  Namun lama-lama dari kumpulan trial error tersebut, beliau menjadi master. Hal ini untuk kasus tertentu sih, gak bisa saya pukul rata. Misalnya : dulu ibu saya blas gak bisa masak, tetapi setelah menikah dengan Bapak, beliau mulai masuk dapur membantu simbah menyiapkan masakan untuk suaminya. Resepnya darimana? Dari mouth by mouth ditambah dengan sentuhan sense, katanya. Kalau sekarang kan tinggal googling di internet dan tadaaaaa, resep-resep yang kita butuhkan dapat menjadi referensi kita. Lah kalo emak jaman dulu mana ngerti tentang internetan? Jangankan internet, televisi saja masih langka. Honestly, sampai sekarang ibu saya cenderung mengurus dapurnya dengan pengalaman dan perasaan :). 

Perempuan harus bisa masak, Wuk!
Itu pesan Ibu saya berulang kali seperti kaset rusak. Kalau di dapur, secara refleks beliau mengatakan itu sampai kadang saya menghafal tone Ibu saat melafalkannya. Dan entah bagaimana tone itu bisa meninggi saat saya beralasan atau menyanggahnya, ahaha. "Kan bisa beli, Bu",  saya nyengir kuda padahal saya hanya bergurau dan menggoda Ibu. Oh iya, bisa memasak bukan berarti harus pandai lho ya. Yaaah, dari survey ecek-ecek yang saya lakukan kepada ketiga kakak ipar saya dan teman sebaya saya yang sudah menikah, rata-rata mereka bisa memasak setelah punya suami. Ini hanya kebetulan atau bagaimana? Ah saya gak tau, pokoknya mereka bilang "Kalo udah punya suami, kayaknya  gak perlu disuruh ke dapur aja, insting wanita untuk memasak sudah naluriah". Sesimple membuat telur dadar kombinasi dengan tumis kangkung. Atau goreng tempe dibalur tepung dengan sayur bayam pake sambel bawang. Dan kalo memang bener-bener kepepet, jurus terakhir masak indomie rasa soto pake sawi yang banyak, cabe rawit 2, brokoli, telur setengah matang (gue bangeeeet! :D). So, yang penting bisa masak aja, masalah expert atau rasa itu urusan belakangan,ahaha.

Memuaskan suami di ranjang dan memanjakan perutnya dengan masakan!
Kalo statement ini hanya sekadar obrolan dengan teman saya yang baru setahun menikah, jadi gak bisa digeneralkan. Saat saya nanya-nanya "enak gak nikah? perubahannya apa?". Jawabannya lugas, ada temen tidur sama lebih betah masak meskipun dia wanita karir. Lha cuma itu? Batin saya. Beruntungnya, dia sudah suka memasak sebelum menikah. Jadi, gak terlalu susah untuk menyesuaikan ritmenya untuk mengurus dunia dapurnya. Makanya gak heran kalau jargonnya sangat mulia sekali, memuaskan suaminya di ranjang dan memanjakan perut suaminya dengan racikan masakan (bumbu cinta) yang dibuatnya. Dan itu sama-sama bermuara pahala. Duh, kalo udah dikaitkan sama pahala, saya melipir. Jangankan urusan ranjang dan masak ya, kalo udah halal, menggandeng tangan istri saja bisa berguguran dosanya. Glek! Yang jomblo minggiiiiiiiiiiiiiir. 

Lha apa kabarnya saya yang jagonya masih dalam taraf bikin indomie rasa soto? ahaha. Indra penciuman saya itu tajam sekali, apalagi pengecapnya. Kalaupun indomie nya yang masak orang lain dan saya gak tahu sebelumnya, saya bisa tahu yang dimasak itu merek apa dan rasa apa. Tetapi jangan tanya saya tentang rasa sayur yang sudah matang dan disuruh menebak bumbunya apa, saya udah mundur teratur duluan. Saya masih dalam kasta berburu dan meramu (kayak fosil aja sih). Jadi di suruh ke pasar, ikut meracik sayur dan bumbu. Itupun diarahkan Ibu atau Mbak Endang (kakak ipar kedua saya). Saya bersyukur punya Mbak Endang, yang notabene bisa dan mahir masak setelah nikah sama Mas Jundi. Sebelum nikah, dia juga pernah masuk kasta berburu dan meramu seperti saya saat ini. Tapi semahir-mahir dia masak, kadang juga masih nanya ke Ibu masalah bumbu. Biasanya kalau masakan yang bukan tiap hari dimasak, misal srundeng, tongseng atau sejenis masakan rumit lainnya.

Ada suatu masa saat wanita harus masak sendiri
Pernah kejadian, saat saya di rumah dengan Bapak dan 3 krucil--Iqbal, Lintang dan Khansa. Waktu itu Bapak sedang awal-awal pengobatan TBC, jadi beliau agak rewel tentang makanan. Sejak TBC, beliau makan by request sesuai selera saja. Kabar  buruknya, Mas Jundi, Mbak Endang dan Ibu kondangan ke salah satu warga nan jauh disana (asli ini lebhay) yang minim jaringan, sehingga saya gik bisa sms atau telepon nanyain resep handal sama Ibu. Request Bapak Cap Jay yang ada kuahnya. Saya menghela nafas panjang. Kalau beli gak mungkin, karena cap jay godhog itu dijual kalau pas malam, itu lho bareng sama nasi goreng dan bakmi goreng. Dalam kondisi begini, mustahil menawarkan Bapak dengan menu lain. Tidak akan disentuh! Selain karena selera Bapak yang pamilih, hal ini juga berkaitan dengan kondisi lambungnya. Mau gak mau, harus menuruti permintaan beliau. Okeeeee, saya masak. 

Tahap-tahap kasta berburu dan meramu memasak olahannya :

  1. Absolutely, niat yang kuat dan diawali Bismillah
  2. Berselancar internet dan mengetikkan keyword  resep ciamik capjay godhog
  3. Pasti muncul buanyak tuh, jangan diikutin semua, pilih salah satu biar gak puyeng
  4. Lihat-lihat persediaan di kulkas. Mbak Endang selalu nyetok sayuran di kulkas
  5. Kalo gak ada, tahap berburu ke pasar di lakukan
  6. Udah komplit semua bahan, meramu semua bahan yang dianjurkan pakar masak dari internet
  7. Masak sesuai direction pakar dari internet
  8. Cicipin dulu sebelum dirasakan orang lain
  9. Kalo berhasil, jangan lupa ucap alhamdulillah (sujud syukur).
Dulu gak mikir difoto, karena bisa sukses memasak capjay aja udah alhamdulillah luar biasa. Gak apa-apa dapur kayak kapal pecah, asalkan perut Bapak kenyang dan gak mual. 
Masih mendamba kondisi dapur yang beginian setelah masak :D
"Sing masak sopo, Wuk?" tanya Bapak sambil nyruput kuah.

Lha kok ndadak takon, huhuhu. Satu-satunya perempuan yang akil baligh buat masak sejenis capjay kan cuma saya. Mbak Endang sama Ibu pergi jeng-jeng ke kondangan. Masa Khansa, Pak?

"Kulo Pak", saya menjawab singkat.

Bapak diem sih gak komentar apa-apa. Anak-anak juga sebagai pengicip masakan saya di depan tivi. Apakah rasanya enak? Mungkin. Apakah saya pandai memasak? Ah gak juga, saya cuma bisa karena kepepet. Cuma modal kemauan dan internet, saya bisa menyajikan capjay lho. Gak perlu nunggu punya suami dulu, ahaha. Dan saya percaya, bisa atau gak bisa masak, ada masanya seorang perempuan dihadapkan untuk terjun sendiri ke dapur dan meracik bumbu. Entah untuk suaminya, orang tuanya atau anak-anaknya kelak. Oh iya, untuk mertua juga, ahaha. Konon katanya, mertua adalah komentator hebat untuk masakan menantunya :D.

Jangan banyak teori, meski saya kadang masih siwer bedain ketumbar sama merica yang bentuknya bulet kecil-kecil (hampir sama), tetapi kalo udah praktek ternyata bisa. Meskipun sering lupa-lupa ingat apa fungsi tiap-tiap bumbu, tetapi kalo udah meracik-racik, ternyata 2 jam di dapur tidak terasa. Bukan masalah bisa atau enggak, tapi mau apa enggak, ahaha. Daaaaaaaan, yang perlu dimanjakan lidahnya, bukan hanya suami lho, apa kabarnya saya yang masih single trus diklaim udah masuk waktu menikah oleh kaum yang nyinyir. Bapak, Ibu, keponakan, teman atau bahkan diri kita sendiri juga butuh dimanjakan lidah dan perutnya.

Lha kalo gak tau resepnya gimana? Searching internet braaaaaaaaaay. Banyak blogger ketje yang nichenya tentang resep-resep juga kok. Nah, finally, teman-teman punya resep handal? atau ceria lucu tentang dunia dapur? Apalagi para perempuan di era digital, tentunya tidak sulit mengakses resep-resep yang bisa dieksekusi di dapur. Feel free for sharing.



Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

39 komentar

Write komentar
Kayuni
AUTHOR
7 September 2016 11.52 delete

"Sing masak sopo wuk? "
Disinilah rasa terharu..
Mungkin bapak mau menyampaikan : pinter temen anak wedokku.. ;-)

Reply
avatar
Inda Chakim
AUTHOR
7 September 2016 12.03 delete

hahaha, sm mbk, aku jg suka siwer sm si ketumbar dan merica, :D

Reply
avatar
7 September 2016 12.25 delete

aku enggak pinter masak, dan jarang masak
kudu belajar lagi nih, buat seneng suami
nyari resep nanya mbah google... hehe

enak ya, jadi emak zaman sekarang
nyari info tinggal ketak ketik ajah... hehe

Reply
avatar
7 September 2016 14.40 delete

Waduh, jangankan mbak yang masih single. Saya yang udah emak erte ini kalo ke pasar masih susah bedain mana daun bawang, loncang atau putut. Gak tahu semua. :D

Kalo beli bumbu saya cuman nuding, beli ini, buk. Hahaha.

Reply
avatar
Ratna Pras
AUTHOR
7 September 2016 15.38 delete

Sekarang mau masak apa aja gampang ya mbak, tinggal klik google. Kari nari bahanne duwe po ora hehe

Reply
avatar
7 September 2016 16.05 delete

Yap. Di internet apapun adaaaa. Aku kalo nanya resep ya sama ibu atau kakakku. Kalo lagi bosen dg resep mereka, ya nyari-nyari di internet :D

Reply
avatar
7 September 2016 21.57 delete

padahal bedain tumbar sama mrica masih siwer :D

Reply
avatar
7 September 2016 22.00 delete

Duh yang udah punya suamiii *mlipir*

Reply
avatar
7 September 2016 22.01 delete

Trus kenapa Mbak IS bawa2 kata single sih *ah*

Reply
avatar
7 September 2016 22.01 delete

Berbburu ke Pasar Mbaaa,hehe

Reply
avatar
7 September 2016 22.02 delete

Iya, internet ga ada matinye ya Mbaa

Reply
avatar
Tira Soekardi
AUTHOR
8 September 2016 02.45 delete

sampai sekarang aku gak pandai amsak, dan anak2ku juga gak gitu suka masakanku. Setelah anak2 gak ada di rumah, lebih suak beli di luar. Untungnya suamiku bukan tipe rewel soal makanan . aku nyenengin hati suami bukan dari masakan dari hal lain yang ajdi hobi suami

Reply
avatar
8 September 2016 05.26 delete

Aku dulu susah bedain jahe ama kunyit hahhaa
Skarang mah semua bumbu hapal bentuk dan baunya, mba. Hehehe. *sombong dikit* :))

Reply
avatar
8 September 2016 05.36 delete

Saya pun dulu pertama kali belajar masak itu, SMP tiap hari libur, dipaksa nenek. Yeps, perempuan itu hrs bisa masak, itu kalimat beliau yga ga bisa di-tawar2 :D Awalnya terpaksa ketimbang diomelin, tapi saat itu saya mikir, entah mungkin... ini (skill memasak) akan ada gunanya. Sejak itu saya jadi belajar beberapa masakan, bahkan iseng bikin2 resep :D Dan sekarang, pastinya saya suka banget karena walau baru 2x, resep masakan saya ada yg udah jadi duit, haha...

Reply
avatar
8 September 2016 09.45 delete

Banyak jalan menuju Roma ya Mak

Reply
avatar
8 September 2016 09.46 delete

Saluuuuuut udah lulus identifikasi bumbu

Reply
avatar
8 September 2016 09.48 delete

Bisa karena biasa ya Mbaaaaaa. Yay!

Reply
avatar
Alvina Vanila
AUTHOR
8 September 2016 14.43 delete

Betuul mbaa, aku dulu ngga bisa masaaak sebelum nikah. Setelah nikah tangannya mulai gatel buat masak. Ya meskipun cuna goreng tempe tahu atau dadar telur XD

Reply
avatar
Ranny
AUTHOR
8 September 2016 21.11 delete

Sebelum nikah sudah belajar masak secara diam-diam dari Mama. Jadi, saya perhatiin cara Mama masak serta bumbu-bumbunya. Beberapa kali saya praktekkan, ya as usual ada trial and eror hehehe tapi alm.Papa paling senang nasgor buatanku :D barangkali untuk nyenengin putri kecilnya ya ngomong enak :D heheheh
Setelah nikah, masak is a must for me karena kan gak kerja lagi :D di sini, saya mulai explore sana sini, tanya Mama. Dan so far, suami senang masakanku. Learning by doing dan practice makes perfect.
Setuju dengan komen Mama Ayaa yang bilang ditambah sense kalo masak, ini bener banget dan sulit ditakar soal sense hihihi :D

Sayangnya tiap mertua datang ke rumah, saya gantung wajan alias gak masak :D jadi cemana mertua mau rasain masakanku >.<

Reply
avatar
Nuniek KR
AUTHOR
10 September 2016 10.18 delete

Itu, saya lagi bayangin pas bapak lagi nyeruput kuah Cap Jay-nya, ekspresi mbaknya pasti meringis seakan nunggu komentarnya Chef Juna. Hihi

saya kebetulan belajar masak sejak SD sama mamah, katanya biar nanti suami betah di rumah, dan sekarang ceritanya sudah bisa lah masak oseng-oseng oang mah, tapi suami mana suami? kapan saya bisa pamer skill masak oseng-oseng sama suami *mendadak drama*

Reply
avatar
11 September 2016 06.12 delete

Mba semua berproses.Uti dulu lom kenal mbah google jd hrs mau jd asisten bunda di dapur yg seneng nyoba resep baru yg didapt dari majalah atau dari temannya

Reply
avatar
Ety Abdoel
AUTHOR
11 September 2016 06.18 delete

Hihihi, saya tuh semodel sama ibunya Mba Aya.
Kasih bumbu itu dengan perasaan. Makanya kalau ada yg muji masakannya saya,dan nanya resep, tinggal saya yg bingung.

Reply
avatar
damarojat
AUTHOR
11 September 2016 07.21 delete

iya haha.. kudu bisa masak! itulah kenyataannya.

duluuu...saya bedain jahe, kencur aja susah.

dan sekarang tinggal searching beres. asli gampil. atau nonton acara masak di tv. hihi

Reply
avatar
Kayuni
AUTHOR
11 September 2016 07.34 delete

Sama Mak Ety..sy kalau masak pake perasaan ,kalau ditnya resep ya gitu deh :)

Tapi kamus dapur saya ya tetep Ibu saya..setiap lupa bumbunya apa ,sms ibu deh..walau tanpa takaran.
Baru kalau resep kue..nah googling dah or pengen masak yang macem-macem

Reply
avatar
11 September 2016 07.58 delete

yg penting suami suka mbaaa :D

Reply
avatar
11 September 2016 07.59 delete

Aku wajib berguru padamu ttg satu ini Mbaaa :*

Reply
avatar
sari widiarti
AUTHOR
11 September 2016 10.25 delete

dulu masih belum bisa terbiasa di dapur, nggak bisa bedain mana merica mana ketumbar :v
tapi karena terbiasa, jadi ya enjoy aja masaknya :D

Reply
avatar
Handdriati
AUTHOR
11 September 2016 14.43 delete

Aq ga pinter masak jarang masak, masakan andalanku mung nasi goreng sm oseng2 yg praktis hahaha...

Reply
avatar
11 September 2016 15.28 delete

wanita dan dunia memasak ya mbak, senang ya mbak bisa menyiapkan menu makanan buat keluarga :)

Reply
avatar
13 September 2016 10.21 delete

Mayanlah Mbak punya masakan andalan :D

Reply
avatar
13 September 2016 10.23 delete

Yes lulus ya Mbaa identifikasi merica

Reply
avatar
13 September 2016 10.25 delete

Masak mari masak kalo udah bisa masak, ehehe

Reply
avatar
Rotun DF
AUTHOR
13 September 2016 10.49 delete

Tenang, Nduuuukk. Kamu hidup di jaman mudah. Semudah mau masak tinggal gugling resep. Terus nyadar bahwa proses masak itu panjaang bok: belanja, nyiapim bumbu, nyiangin yang mau di masak, dan endingnya perabot kotor semua. Muahahaha.
Tapi kebayaaar pas suami nambah dan anak2 komen "masakan bunda enaaaak". Aiiih..priceless!

Reply
avatar
13 September 2016 13.27 delete

Practice makes perfect ya Mbak Aya? Hehe..

Duuuh. Ada kata meramu dan berburunya..kayak zaman megalithicum..wahahaha

Oya..sekedar cerita. Dulu aku ngga bisa masak. Setelah nikah pun ngga langsung bisa masak krn ngga punya dapur..wkwkwk.. Padahal kompor ada.
Tapi iya, secara naluriah keinginan utk belajar masak muncul, setelah punya dapur. Mulai tanya sana sini, cari2 resep di internet, dan it works. Kalo dulu goreng tahu ngga ada rasanya, masak kangkung keasinan juga, sekarang di tangan kayak ada matanya. Jd bisa nakar sendiri butuh garam seberapa banyak. Hehe..itu semua karena udah terbiasa. :)

Reply
avatar
19 September 2016 18.12 delete

"Konon katanya, mertua adalah komentator hebat untuk masakan menantunya :D"
Ini yang paling saya takutin mbaaa, secara ibu suami saya itu jago masak, bahkan suka nerima ketring kalo ada acara di kampung. Sementara saya, ya bisanya masak ala nyonyamalas. Hihihi. Tapi bersyukurnya yang ditakutin ga kejadian, malah beliau jadi sumber resep terpercaya saya... Beberapa resep dari beliau yang mudah2 bahkan jadi acuan di artikel resep saya...

Reply
avatar
Helma Vania
AUTHOR
20 September 2016 23.02 delete

Mertua adalah komentator hebat..
Aaaaaak.. Mba Ayaaaa.. Ngeri baca nya.. Hahaha..
Aku masak ngga begitu seneng, kecuali kepepet aja mba. Tapi kalo bikin kue atau cemilan hobi banget. Hehe

Reply
avatar
Lidha Maul
AUTHOR
22 September 2016 03.30 delete

hmmm.
padahal perempuan yang pintar en suka masak sering gagal mengurusi suami
.
.
.
.
mengurusi = membuat kurus

:D

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)