Memaknai Hidup Agar Lebih Hidup di Usia Cantik

Rabu, November 23, 2016 14 Comments A+ a-

Mbak Endang saat memasuki Usia Cantik

“Mbak, dulu waktu kamu seusiaku, kamu udah ngapain aja?” pertanyaan saya waktu ngobrol dengan Mbak Endang di teras.

“Aku habis melahirkan Ihsan kali ya. Eh, sekarang kamu udah 27 tahun kan Dik? Iya, aku udah punya anak 2, hihihi” Jawabanya sambil terkekeh. Kakak ipar kedua saya memang nyantai banget, enak diajak ngobrol tentang apapun. 

Di usianya 37 tahun, dimana sebagian orang menyebutnya dengan #usiacantik, Mbak Endang menyadari bahwa ia semakin dewasa memaknai hidup, lebih legowo dalam menyikapi sesatu hal. Obrolan senja itu benar-benar membuat kami berdua tersenyum simpul. Mungkin dia sedang bernostalgia masa lalu dan merayakan perjalanan hidupnya yang semakin komplit. Menjadi ibu dan istri dari keluarga yang 13 tahun sudah dibinanya.

Kali ini, saya ingin menggambarkan peran Mbak Endang yang membuat saya kagum dan belajar banyak tentang pengalamannya hingga sekarang mencapai usia cantik.

Menjadi Anak

Mbak Endang merupakan anak sulung dari 2 bersaudara. Masa-masa sekolah, dia sangat rajin dan jarang sekali ijin kalau gak kepepet. Bahkan saat demam pun, dia memaksakan untuk masuk karena gak mau ketinggalan pelajaran. Ia berpedoman kalau ingin membanggakan orang tua, ya harus rajin belajar dan tidak membolos sekolah. Ya Allah lempeng banget niatnya. Hal itu juga diterapkan saat kuliah. 

Setelah kuliah, Mbak Endang sempat bekerja di Jakarta. Sebagai anak, dia ingin mandiri dan mencukupi kebutuhannya sendiri. Sesekali menyisihkan gajinya untuk kedua orangtuanya. 

Dalam benaknya, hidup itu adalah sekolah-kuliah-lulus-kerja-dan menikah. Meskipun proses yang dilalui demikian, ia merasakan ada yang kurang. Di usia cantiknya, ia baru menyadari bahwa hidup tidak melulu tentang diri sendiri, tetapi bagaimana bisa hidup bermanfaat dan melalui proses belajar tiada henti.

Mbak Endang resmi menjadi kakak ipar saya saaat usia 24 tahun. Sejak saat itulah, ia hijrah ke PIM (Pondok Mertua Indah). Rumah orang tuanya dengan rumah kami hanya berjarak 4 kilo, jadi selain menjadi istri, ia masih tetap bisa menjadi anak yang berbakti merawat kedua orangtuanya. Bahkan saat kemarin Bapaknya masuk Rumah Sakit, Mbak Endang yang menjaga saat malamnya. Dan paginya pulang ke rumah untuk mengurus keperluan sekolah ketiga anak dan suaminya.

Lha terus istirahatmua kapan, Mbak? Gumam saya. 

Menjadi Istri

“Kok dulu mau sih Mbak, nikah sama Mas Jundi” tidak jarang pertanyaan itu saya lontarkan saat ada Mas Jundi juga.

“Sudah mantap lahir batin, mau gimana lagi?” Jawabnya sambil tertawa jenaka. Saya juga yakin itu jawaban klisenya. Cuma, dalam beberapa kesempatan saat kami ngobrol berdua, dia bilang kalau restu orang tua itu sangat penting dan kedua orang tuanya sudah ridho kalau dirinya dipersunting Mas Jundi. Dia juga bilang kalau kemapanan bisa direngkuh berdua sama-sama. Pernyataan itu membuat saya termenung lama.

Mbak Endang mengaplikasikan nasihat  “Murahkan maharmu, Mahalkan Cintamu”. Saya yakin Mbak Endang tidak pernah tahu status yang ditulis Bang Arham di timeline facebook miliknya. Saat saya Tanya dulu maharnya apa, dia menjawab lupa. Hehehe.


Saya masih ingat sekali setelah menikah, Mas Jundi masih bekerja serabutan. Mengurus sawah, beternak sapi hingga beternak burung. Pernah melamar di beberapa perusahaan tetapi ditolak. Akhirnya Mas Jundi memutuskan untuk wiraswasta. Sebagai istri, saya bisa menjadi saksi bahwa Mbak Endang benar-benar menemani suaminya dari titik nol. 

Mbak Endang juga mendampingi Mas Jundi saat-saat masa kampanye Pilkades, door to door menawarkan program kepada warga. Satu tahun sebelum pemilihan, Mas Jundi sudah menyusun strategi politiknya, memilih kader terbaiknya. Itu berarti hampir tiap malam ada rapat dan kumpulan di rumah kami. Mbak Endang yang menyiapkan minuman dan makanan meski larut malam. 

Saat ada black campaign, biasanya wanita yang paling frontal menanggapinya. Tetapi Mbak Endang bijak sekali menyikapi isu-isu itu. Mbak Endang benar-benar melengkapi suaminya. Tidak hanya saat senang tetapi saat susah pun, ia menjalaninya bersama.

Menjadi Ibu

Sebagai Ibu dari ketiga anaknya—Iqbal (12 tahun), Ihsan (10 tahun) dan Khansa (6 tahun), ia tidak membanding-bandingkan potensi satu sama lain. Di usia 25 tahun dia sudah melahirkan anak pertamanya. Rasanya hidupnya sudah lengkap saat memiliki Iqbal. Setahun kemudian, dia hamil Ihsan yang membuatnya lebih bersyukur lagi. Dia menjadi ibu rumah tangga sejati.

Hal yang membuat saya salut, meskipun tidur larut malam, dia bisa bangun pas adzan shubuh. Ya Allah, kadang-kadang saya malu sendiri. Mbakyuku ora nduwe udel (ini istilah Jawa yang mendeskripsikan seseorang tidak pernah punya rasa capek). 

Pagi sudah berjibaku di dapur untuk memasak sarapan. Jam 7 pagi saat Iqbal dan Ihsan berangkat ke sekolah, dia mengantar Khansa ke sekolah TKIT. Setelah sampai rumah, dia siap-siap belanja di tukang sayur lalu memasaknya untuk seisi rumah. Rutinitas itu hampir setiap hari dilakukan. 

Untuk mengenal potensi anak-anaknya, dia termasuk ibu yang jeli dan telaten. Iqbal lebih condong ke akademisnya, jadi dia cenderung anak yang pemikir. Sangat memperhatikan sekali kebutuhan sekolahnya. Ada PR dari gurunya atau gak, besok ada ulangan apa gak. 

Sedangkan Ihsan lebih slow dari Iqbal dan lebih menyukai hal-hal bersifat verbal seperti olahraga. Saat ini, dia tergabung dalam salah satu club badminton di Klaten. Secapek apapun urusan sekolah, kalau jadwal badminton yang benar-benar menguras fisiknya, dia tetap semangat berangkat latihan. Tidak heran kalau 3 bulan terakhir ini, teknik bermainnya berkembang pesat. 

Anak balita memang dilarang diajarkan calistung (baca tulis hitung), tetapi kita tidak boleh membendung pengetahuannya. Sejak usia 3 tahun, rasa ingin tahu Khansa membuat Mbak Endang kewalahan. Khansa mulai mengeja huruf-huruf, belajar berhitung, menuliskan apapun yang diketahuinya. Kalau sudah ketemu kertas dan pulpen, dia bisa anteng sekali menuliskan apa saja yang ada di benaknya, entah nama orang, benda atau hewan yang familiar menurutnya. 

Gurunya sampai bertanya kepada Mbak Endang, apakah Khansa ikut les calistung atau tidak, karena di kelas, Khansa sudah fasih membaca, menulis dan berhitung. Mbak Endang menggeleng karena Khansa yang belajar sendiri dan rajin bertanya kepada ibunya. 

Mbak Endang memang sangat care kepada mereka bertiga. Bisa menjadi ibu sekaligus sahabat yang mendengarkan cerita dan keinginan anak-anaknya. Gak heran kalau anak-anak pada lengket semua sama ibunya.

Menjadi Ipar dan Menantu

Bulan Maret kemarin, saat pertama kali saya pindah dari Jakarta ke Klaten untuk merawat Bapak, saya sering ikut Mbak Endang belanja ke pasar. Ada tukang jamu langganannya yang melihat kami berdua tertawa sambil berpelukan. Mukanya kecut sekali habis mengomel tapi kami tidak tahu dia mengomel sama siapa.

“Itu siapa Mbak?” Sambil berbisik tukang jamunya bertanya kepada Mbak Endang.

“Oooh, adikku Mbak. Baru pulang dari Jakarta” Jawab Mbak Endang sambil melirik ke arah saya. Penjual jamunya heran karena adik kandung Mbak Endang postur tubuhnya tinggi dan gemuk. Seakan Mbak Endang tahu apa yang dipikirkan penjual jamu, Mbak Endang menjelaskan kalau saya adalah adik iparnya.

“Walah, adik ipar kok mesra banget…..” masih ada kalimat seterusnya tapi saya tidak mengerti pokok bahasannya.

Saya memang akrab dengan ketiga ipar saya, termasuk Mbak Endang. Saya tinggal bersama Mbak Endang saat saya masih duduk di bangku SMP Kelas 2. Jadi, kami berdua sudah tahu sifat satu sama lain. Bahkan kadang tanpa diucapkan pun, kami berdua sudah tanggap harus melakukan apa. Sehingga kami jarang sekali berselisih paham.

Terbuka adalah kuncinya. Jadi saat mengetahui salah atau khilaf, kami lebih baik menegur langsung daripada harus ngedumel di belakang. Kehangatan kami memang mengalir apa adanya dan bukan dibuat-buat. Saya perhatian dengan Mbak Endang dan anak-anaknya. Pun juga dia memperlakukan saya seperti adiknya sendiri. 

Salah satu bukti nyata perhatian Mbak Endang kepada saya adalah saat saya masuk rumah sakit beberapa waktu yang lalu karena tipes. Dia yang mengurus semua kebutuhan saya. mengajak anak-anak ke rumah sakit setiap sore sampai malam agar saya tidak merasa bosan, padahal saya tahu kalau dia sangat lelah karena ada beberapa program PKK yang waktu itu sedang dijalankan. 
Pict by Mbak Endang :)
Kebetulan saya kemarin belum dicover BPJS, sehingga biaya rumah sakit dan obat-obatan lumayan mahal. Saat mau melunasi administrasi dan saya menyodorkan ATM, dia bilang sudah dilunasi Mas Jundi. Dia sama sekali tidak perhitungan masalah uang dan saya merasa seperti adiknya sendiri. Selama pemulihan, Mbak Endang juga sangat memperhatikan asupan makanan saya, mengantarkan kontrol ke dokter. 

Sebagai menantu, hampir lebih dari 13 tahun, Mbak Endang bisa ngemong Bapak Ibu. Menurut saya, tidak ada 2 wanita yang menjadi ratu di dalam rumah kecuali salah satu dominan di antara yang lain. Seringkali orangtua masih ingin ikut mengatur urusan rumah tangga anaknya, apalagi yang tinggalnya seatap. 

Masalah kecil bisa menjadi besar saat salah satu (menantu atau mertua) salah dalam menyikapinya. Gesekan-gesekan kecil pasti ada, tetapi hal tersebut bisa diatasi karena kedewasaan Mbak Endang. Dia juga merawat Bapak Ibu seperti orang tuanya sendiri. Kalau saya atau Mas Jundi ada kegiatan yang bertepatan dengan jadwal kontrol Bapak atau Ibu, Mbak Endang lah yang mengurus semuanya. 

Menjadi Ibu Negara

Saat Mas Jundi terpilih menjadi Kepala Desa pada tahun 2013, Mbak Endang baru berusia 34 tahun. Menjadi Ibu Kepala Desa, sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya, dia harus mengurus PKK, Posyandu dan bertanggung jawab menyusun program untuk ibu-ibu. 
Mengkoordinir Posyandu
Sebagai Ibu Negara untuk warganya, Mbak Endang memulai langkahnya dengan menghidupkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dia mencari pengajar yang kompeten yang mau diajak untuk mengajar anak-anak disana. Tidak hanya memperhatikan PAUD, tetapi Mbak Endang juga diharuskan memperhatikan kesejahteraan gurunya. Dia belajar otodidak tentang hal itu dan tidak malu bertanya dengan orang lain.
Paling kiri Ibu Tris (Pengajar PAUD), Ibu Lestari (Kader), Mbak Endang
Saya mengajarinya tentang internet untuk memudahkannya mencari informasi-informasi yang dibutuhkan. Membuatkannya email dan menjelaskan kepadanya sampai bisa menggunakannya. Sehingga informasi dari pusat bisa langsung diterima lewat emailnya.

Menggandeng Bidan setempat, Mbak Endang membuat program untuk anak-anak dan ibu-ibu. Mulai dari mengaktifkan lagi Posyandu dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), mengadakan penyuluhan untuk ibu hamil dan lansia. Untuk program kesehatan dan kebugaran bagi Ibu-Ibu, Mbak Endang mengusulkan olahraga senam dipandu oleh instruktur.  Alhamdulillah, antusias ibu-ibu dan remaja perempuan sangat positif. Senam telah berjalan satu tahun terakhir

Saat ada informasi dari Puskesmas tentang pemasangan papsmer gratis, Mbak Endang menyebarluaskannya kepada ibu-ibu. Pertama tidak ada yang ikut mendaftar, padahal itu gratis dari pemeringah sehingga kuota diberikan kepada desa yang lain. Mbak Endang mencari tahu kenapa Ibu-Ibu tidak tertarik untuk papsmer padahal itu penting bagi wanita sebagai upaya mendeteksi kanker serviks sedini mungkin. Setelah adanya penyuluhan mengenai pentingnya papsmer, di kesempatan selanjutnya kuota untuk papsmer gratis di puskesmas terpenuhi.

Dalam menjalankan tugasnya, tentunya banyak kritikan dan masukan mengenai program yang dijalankan. Baik secara teknis maupun keuangan. Mbak Endang tidak sungkan meminta pendapat Ibu-Ibu bahkan mencari tahu informasi lainnya saat perkumpulan para Ibu Kades di Kabupaten. Mbak Endang mengelola masyarakat dengan segala konflik yang terjadi di dalamnya dengan bijak.

Politik tidak hanya terjadi di ibukota, namun desa sebagai lingkup sekumpulan masyarakat juga terjadi politik yang sering mengkritik pemerintahan desa. Rival-rival pendukung yang kalah dalam Pilkades seakan belum move on dan sering mengkritik kebijakan-kebijakan desa. Masukan yang membangun sih sah-sah saja, yang menjadi persoalan adalah ketika masukan tersebut lebih mengarah untuk menjatuhkan. Dalam hal ini, Mbak Endang sering mengingatkan suaminya untuk tidak frontal menghadapi kritik yang mencoba menjatuhkannya. Masyarakat yang dapat menilai kebijakan pemerintah desa dan merasakan secara nyata hasilnya. 

Mbak Endang sangat santai dan menikmati dalam menjalani peran-peran tersebut. Sejak memasuki usia cantik, dia seperti lebih berenergi dalam mengisi kesehariannya. Betapa tidak, selain menjadi anak, istri, ibu, kakak ipar dan menantu, dia harus menjadi ibu Negara untuk warganya. Dia harus menyeimbangkan kepentingan keluarganya dan masyarakat yang membutuhkannya.

Mengerti dan memahami orang lain bukan berarti mengabaikan diri sendiri. Ada waktu untuk menyenangkan diri sendiri, melakukan kegiatan yang disukai, tentunya dengan momen dan budget yang pas. Bahasa bekennya adalah Me Time.
Me Time di Usia Cantik

Dan inilah me time Mbak Endang di sela rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga dan ibu Negara yang menurut saya, kalau gak pandai memanage diri dan hati, akan rentan terserang stress dan dilanda kebosanan. 

Belanja. Aktifitas ini bisa menjadi pelarian saat kegiatan-kegiatan Mbak Endang padat merayap. Belanja tidak harus datang langsung lho, karena sekarang jaman canggih banyak online shop yang menawarkan diskon menarik. Ada tas, sepatu, sandal, kerudung dengan harga yang masih realistis. Mbak Endang jago menyisihkan uang belanja, sehingga saat belanja apa yang dia sukai tidak mengganggu pos keuangan yang lain. 

Kuliner dan Plesir. Me time untuk seorang ibu tidak harus dilakukan sendiri. Apalagi yang sudah memiliki anak. Kalau sedang bosan memasak atau ingin keluar makan malam, biasanya Mbak Endang mengajak dinner Mas Jundi dan anak-anak. Sering juga Bapak Ibu dan saya ikut serta. Menikmati bakmi Jogja langganan kami sambil ngobrol isu politik di desa sudah membuat Mbak Endang bahagia,hehe. Selain itu, sebulan sekali, Mbak Endang juga merencanakan plesir. Plesir gak harus jauh lho, karena di daerah Klaten juga banyak tempat-tempat yang kece untuk menghilangkan penat.

Ke Salon. Pergi ke salon untuk creambath dan facial dilakukan sekalian mengantar Khansa ke sekolah. Jadi, Mbak Endang lebih memilih week days daripada weekend untuk ke salon. Ada yang hobby ke salon juga? Sssst, saya kenal salon juga karena dikenalin sama Mbak Endang. Dan ternyata bisa bikin bahagia, hihihi. 

Merawat Diri. Untuk menjaga kesehatan badannya, Mbak Endang rajin olahraga dan minum air putih. Dia tidak merasa minder dengan tubuhnya yang sempat over weight. Dia pernah melakukan diet ketat namun sekarang lebih memilih menjaga pola makan demi kesehatan tubuhnya. 

Sedangkan untuk merawat kecantikannya, ia sering luluran sendiri dan memakai produk kecantikan. Bagi perempuan yang memasuki usia canti seperti Mbak Endang, konsekuensi logis yang harus dihadapi adalah tanda-tanda penuaan kulit yang semakin terlihat. Garis kerutan bertambah dan kekencangan kulit makin hilang.

“Dik, biar kulit wajah kenceng, pake produk apa ya enaknya” 

“Coba pake Revitalift Dermalift L’Oreal Paris Skin Expert, Mbak. Kata temenku produk itu bisa mencegah penuaan dini dan meremajakan kulit". Kami berdua browsing tentang produk yang direkomendasikan teman saya. Ada 3 produk Revitalift Dermalift L’Oreal Paris Skin Expert Day Cream, Night Cream dan Milky Face Foam. Ternyata produk terbaru L’Oreal Paris Revitalift Dermalift mengandung tanaman Centella asiatica, Pro retinol A dan Dermalift Technology yang dapat mengurangi kerutan serta meningkatkan kekencangan kulit.

Source : Lorealparisindonesia.com


"Coba ada demo produknya di kelurahan ya, Dik. Pasti diserbu ibu-ibu. Secara mereka kan juga pengen kulitnya kenceng" kami berdua tertawa dan saya manggut-manggut.

Dari perjalanan Mbak Endang, saya tidak merasa takut lagi untuk menua. Dia membuktikan bahwa di usia cantiknya bisa lebih memaknai hidupnya. Saya jadi pepatah yang menyebutkan bahwa Urip iku kudu urup. Falsafah Jawa itu benar adanya bahwa kita harus memaknai hidup agar lebih hidup dengan memberikan manfaat bagi orang lain. 


“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

14 komentar

Write komentar
23 November 2016 21.49 delete

Tak terbayangkan mbak jadi bu lurah itu sibuknya minta ampu. Tapi salut, mbak yu sampeyan masih kopen sama anak.

Reply
avatar
Een Endah
AUTHOR
24 November 2016 08.35 delete

Salam buat kakak iparnya. Sungguh kaka yang baik. Semangat Ayaa....urip iku kudu urup

Reply
avatar
Inna Riana
AUTHOR
24 November 2016 09.56 delete

wow kakak iparnya keren. moga mba endang makin sukses di usiacantiknya.
moga sukses juga buat aya yg lagi ikut lomba

Reply
avatar
24 November 2016 21.44 delete

Huaaa cerita yg penuh inspirasi mbak. Salut. Semoga sehat selalu ya mbak Endang n keluarga.

Reply
avatar
25 November 2016 06.45 delete

Murahkan maharmu, mahalkan cintamu ... keren eung filosofinya.

Reply
avatar
25 November 2016 10.18 delete

Urip iku kudu urup. Noted banget ini. Semoga mbak Endang semakin sehat dan cemerlang di usia cantiknya :)

Reply
avatar
Ratna Pras
AUTHOR
25 November 2016 21.59 delete

Saluut buat mba endang, saya yg cuma ngurus 1 anak aja kok rasanya dah caapeekk #malu

Reply
avatar
Ranny
AUTHOR
25 November 2016 22.59 delete

Jarang-jarang ada adik sama ipar akur heheheh proud both of u.. Salu juga sama Mbak Endang yang mau menemani Mas Jundi dari 0 hingga sekarang. Sosok yang baik sebagai menantu dan ipar ya ^^ Sehat selalu mbak Endang

Reply
avatar
Fubuki Aida
AUTHOR
27 November 2016 23.48 delete

Perempuan multitalent. So inspiratif kakaknya mbak

Reply
avatar
28 November 2016 06.47 delete

Senangnya lihat kerukunan kalian. Meskipun tinggal di desa, perempuan bisa tetap eksis berkontribusi buat lingkungan.
Paham sekarang kenapa Aya akrab dengan ibu-ibu di desa plus dengan caranya senam aerobik yg memunculkan diksi yg bikin terperangah. Qeqeqe.

Reply
avatar
Susindra
AUTHOR
30 November 2016 10.52 delete

Bahagia sekali memiliki saudara ipar seperti Mbak Endang ini. SOsok yang luar biasa. Nrimo, sabar dan panjang akal saat seharusnya panik. Iya,... siapa yg tak terpengaruh back campaign.
SUkses buat Mbak Endang dan Mas Jundi. Juga buatmu, adik ipar yang luar biasa!

Reply
avatar
Keke Naima
AUTHOR
30 November 2016 22.53 delete

di balik suami yang sukse, ada istri yang hebat. Dan itu benar-benar terbukti, ya ^_^

Reply
avatar
Lucky Caesar
AUTHOR
1 Desember 2016 00.45 delete

Wah menginspirasi banget mbak endang ya mbak, bisa bijak dalam mengurus dan menyikapi banyak hal :) inspiratif sekali, semoga mbak endang senantiasa sehat, bahagia dan semakin cantik. Aamiin

Reply
avatar
1 Desember 2016 11.31 delete

usia cantik semoga menang ya haha..banyak amat yang ikutan ini

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)