Merawat Orang Tua yang Sakit, Wajib Strong Lahir Batin

Sabtu, Desember 03, 2016 0 Comments A+ a-


Hellooow teman-teman yang budiman, selamat malam Minggu bagi yang merayakan *kedip-kedip*. Semoga sehat selalu ya. Ah iya, kali ini saya pengen sharing tentang bagaimana menjaga kesehatan kita saat harus dituntut ekstra dalam merawat salah satu atau dua sanak saudara kita yang sedang sakit. 

Karena apa? Seringkali kalau kita gak menjaga kesehatan lahir batin kita, bisa jadi malah kita tertular sakit. Yang sakit udah sembuh, eh malah kita giliran yang sakit. Pernah gak sih ngalamin sakit bergiliran dalam keluarga. Bapak sembuh, eh gantian Ibu, Ibu sembuh, eh gantian kakak pertama yang giliran sakit, trus kakak kedua, terus aja begitu. Kayak rantai makanan aja, fyuh.

Itu bukan mitos lho guys, di keluarga saya beneran pernah ngalamin itu. Kayak sakitnya muter bergilir. 

Curhatan Pertama

Nah, sebelumnya, saya pernah mendapat curhatan dari seorang teman yang rela PP Jogja-Solo untuk kuliah dan menjaga ibunya yang sedang sakit ginjal. Singkat cerita, setahun terakhir ini dia udah mulai gak betah dengan ibunya yang mulai komplain ini-itu, dari mulai teman saya gak lulus-lulus, sampai perkara belum kawin-kawin.

Sebagai teman (yang baik), saya mendengarkan ceritanya tanpa menyela. Dari mulai kegemasannya menghadapi ibunya yang semakin kesini makin tidak dimengerti. Dan pernah saat mengantarkannya cuci darah, teman saya dan ibunya itu berantem hebat cuma gara-gara mbahas "kok kamu gak kawin-kawin?". Saking emosinya, teman saya meninggalkan ibunya di ruang UGD waktu itu. Saya yang mendengarkan cerita kok ikutan prihatin sambil ngepuk-puk teman saya.

Saya lebih banyak mendengarkan sih, dan paling banter komentar saya adalah "Sabar saaaay, semoga pahala tercurah deras untukmu". Dan saat kami berdua bercakap-cakap, handphone-nya berdering dengan nama "Ibuk" yang tertulis di layar hpnya. Sekali tidak diangkat, dua kali tidak diangkat. Kami masih bercakap-cakap. Saya menanyakan kenapa tidak diangkat, dan dia menjelaskan panjang lebar yang intinya kalau diangkat akan berujung "berantem". 

Saya kok jadi inget Bapak ya. Sesekali menyebalkan sih, tapi ya gak pake banget kalo dibandingkan dengan ibu teman saya tadi.

Curhatan Kedua

Ini dari salah satu member ODOJ saya yang sudah beberapa tahun terakhir ini merawat ibunya yang stroke. Awalnya, saya hanya menanyakan kenapa dia sering telat report kholas, ada kendala apa dalam menyelesaikan juz yang dibaca? Di grup, saya akrab dengan member-member yang saya pegang, jadi meskipun usia para member ODOJ beragam dari yang SMA, kuliah, emak-emak sampai pekerja kantoran, saya melakukan pendekatannya satu per satu, gak sama.

Dari sharingnya, dia merasa agak kelelahan merawat ibunya yang gak sembuh-sembuh, bandel minum obat dan hal-hal lain yang membuatnya moody

Saya hanya memberikan saran paling ampuh dan klise seperti teman saya yang pertama "Sabar ya Mbak, semoga pahala tercurah untuk Mbak". Dan memberikan solusi untuk report mandiri sama saya mengenai tilawah ODOJ nya. Beruntungnya, sekarang beliau sudah lumayan bisa mengelola waktu dan emosinya. "Ibu sudah sehat Mbak?" tanya saya beberapa waktu yang lalu. "Sedang ihtiar Mbak Aya, namanya juga sudah sepu, jadi saya harus pinter2 sabar" begitu jawabnya yang bikin saya sumringah. 

Kuncinya apa? SABAR.

Jadi, merawat orang tua yang sakit memang harus strong lahir batin kan ya. Jangan sampai, emosi kita justru membuat kita malah sakit. Lha trus siapa yang ngerawat dong?

Jangan percaya teori sebelum membuktikan sendiri

Sejak Maret, merawat Bapak-Ibuk, duet sama Mas Jundi dan Mbak Endang di rumah membuat saya belajar seperti cenayang, ahahaha. Iya, Bapak-Ibu saya itu tipikal orang yang gak mau merepotkan anak-anaknya, tapi di sisi lain secara tidak sadar, kami yang diposisikan harus tanggap. 

Kayak dulu waktu awal Bapak batuk berdarah, Ibu tidak boleh bilang ke kami karena takut membuat khawatir dan merepotkan. Padahal kami sama sekali gak repot. Hasilnya, di Bulan Maret, Bapak harus diopname untuk penyembuhan TBC-nya, dan sampai sekarang masih minum obat dan kontrol rutin.

Di 2 bulan pertama, Bapak harus disuntik setiap hari dan gak boleh bolong sekalipun. Dan Ibu juga masih terapi untuk stroke ringan yang sempat menyerangkan 3 tahun yang lalu. Hawa-hawa rumah sakit kan gak enak, jadi butuh stamina yang fit biar gak ikut-ikutan sakit.

Dan untuk menguatkan batin adalah dengan mengkonsumsi SABAR setiap saat. Tidak hanya menerima tekanan dari dalam, tetapi juga tekanan dari luar. Mulai tetangga yang mendadak bijak luar biasa dan menasehati A sampai Z untuk mengkonsumsi obat-obat dari segala ramuan. Sampai menghadapi emosi Bapak yang labil.

Emosi Bapak labil karena kombinasi ketakutannya dan rasa bosan karena mengkonsumsi obat setiap hari. Atau karena keterbatasannya berbaur dengan lingkungan. Ini cuma kemungkinan lho ya, sudah saya bilang, kadang saya bisa menjadi cenayang yang harus menafsirkan situasi hati Bapak.

Tempat makan yang dipisahkan, padahal dari dokter sudah menjelaskan panjang lebar dan Bapak manggut-manggut, eh sampai rumah praktiknya kan tidak demikian. Beliau agak tersinggung karena mungkin "agak sedikit dibedakan" dengan alasan kesehatan. Kan memang kudu strong luar dalam, braaaay. Yaaaa, setelah dijelaskan lagi-lagi dan lagi, akhirnya Bapak mengerti.

Belum lagi, menu makan. Kita sudah capek-capek masak makanan yang sudah dianjurkan dokter. Eh diicip aja enggak. Minta menu lain, sudah dibelikan, lha katanya udah gak selera. Selera makan orang sakit memang menurun, jadi balik lagi ke tagline kita kali ini, "kudu setroooong". Jangan menyamakan selera kita dengan orang sakit, nanti malah kita yang beneran sakit hati. Solusi saya sih, waktu itu sampai sekarang, saya selalu sedia pisang di kamar Bapak. 

Emosi yang naik-turun, membuat yang merawat kadang gemas sendiri. Saya jadi membayangkan bagaimana strong-nya teman-teman yang menjaga dan merawat Bapak Ibunya yang sedang sakit. 

Teori SABAR yang sebelumnya saya nasehatkan ke beberapa teman saya sebelumnya yang juga berjuang mengihtiarkan kesehatan orantuanya, saya pakai dan aplikasikan sendiri. Meskipun seringkali terseok-seok, tapi sejauh ini, saya menang,ahaha. Bapak dan Ibu masih bisa diajak kerjasama.

Oh iya, sebagai cenayang yang merawat Bapak-Ibu, ini ada beberapa tips yang mungkin bisa membuat strong lahir batin teman-teman yang merawat orang tua yang sedang sakit :
  1. Ajak ngobrol. Mungkin merasa bosan, orang sakit juga pengen diajak ngobrol. Ceritakan saja apapun sehingga mereka merasa tidak sendirian. Sesekali minta pendapat, meskipun sudah punya keputusan. Maksudnya, libatkan mereka dalam diskusi agar mereka juga merasa dibutuhkan.
  2. Jangan memaksa makan. Selera makan orang sakit itu unik, jadi kalau mereka susah makan, ya jangan marah-marah. keep calm and stay woles *ngomong sama kaca ah*
  3. Diemin dulu saat mood-nya jelek. Mood orang sakit tuh labil banget. Pagi bisa cerah ceria, agak siang dikit aja kalo kesenggol yang gak disenengin, bisa terjadi badai. Eh, mungkin gak cuma orang sakit kok ya? Tapi menurut saya, mood labil juga rentan dirasakan orang sakit.
  4. Tawarkan sesuatu. Kalau saya pergi-pergi, saya hampir selalu pamit, kecuali Bapak-Ibu sedang tidur lho ya. Dan menawarkan "Mau dibawakan apa?". Entah kenapa, kalo ditawari kayak begitu, wajahnya jadi cerah. Meskipun jawabannya "gak usah wuk, ati-ati"
  5. Siklusnya berubah. Saya menggigit baik-baik nasihatnya Mas Joko sih, kalau siklus Bapak Ibu sudah hampir berubah menjadi anak-anak, maksudnya nanya berulang-ulang, atau selalu pengen dimengerti (kayak slogan Ada Band). Pokoknya kadang banyak pertanyaan-pertanyaan retoris yang kalau batin kita gak strong, endingnya bakalan gak mau jawab. Makanya, jawab aja meskipun pertanyaannya sama dan ditanyakan berulang-ulang.
  6. Ah iya, menjaga dan merawat orang tua itu bukan sebuah pilihan, tetapi hal itu adalah kewajiban *note to my self*. "Lho, kamu milih di rumah njagain orangtuamu to? Trus gak nyari kerja lagi?" ada pertanyaan tengil begitu. Alhamdulillah saya bisa disambi. Kuliah jalan, nyari uang jajan jalan, jagain Bapak Ibu juga jalan. Saya yakin, yang kerja jauuuuuuuh, sebenernya juga pengen merawat Bapak-Ibunya dengan tangan sendiri, tapi mereka tidak punya pilihan lain. DAn untuk hal ini, kasuistis ya, kewajiban kita mendoakan dari jauh.
  7. Jaga kesehatan. Kalo 1-6 itu asupan untuk kekuatan batin,ahaha. Nah, yang poin 7 adalah untuk kekuatan lahir. Seperti yang saya bilang tadi, jangan sampai kita menjaga orang sakit malah ikut-ikutan sakit.

Teman-teman juga sedang merawat orang tua yang sedang sakit? Kalo iya, semoga segera sembuh dan pulih ya :). Apakah ada yang punya pengalaman lain saat mereka berdua? Sensasinya bagaimana atau malah mulus-mulus saja (alhamdulillah). Feel free for sharing yaaaaaa.

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)