Saat Kami Sama-Sama Ingin Menikah

Rabu, Januari 25, 2017 0 Comments A+ a-


 Seringkali, kita harus memutari labirin dulu hanya untuk dijodohkan dengan orang terdekat kita, entah sahabat, tetangga atau teman main kita.
Ah, sepertinya aku masih tidak percaya, bergumam sendiri menggabung-gabungkan kepingan momen hingga akhirnya menyadari bahwa sekarang aku tidak sendirian lagi. Ada yang memerhatikan aku sedang apa dan memastikan baik-baik saja.

Kalau ditanya kesiapan, honestly sampai sekarang aku belum menemukan jawaban yang pasti. Namun, rasanya seperti mengalir seperti air bahwa memang menikah itu bukan semata-mata rencana kami saja, tetapi campur tangan Allah sangaaaaat andil, of course!

"Happy monthiversary sayang 😍"

Aku mengetikkannya dan mengirimkannya. Seketika pesan itu sudah bercentang biru, dia membalasnya dengan antusias juga.

"Main sini dong, Dik [pake emote cium]", rasanya meleleh kalo dia udah bilang gitu. Istrinya suruh (MAIIIIIIN). 

Kebetulan-Kebetulan yang Menyenangkan

7 bulan yang lalu, Mas pengen Bapak Ibunya dateng ke rumah. Iya, melamar. Tapi bahasanya gak sekeren "wanna marry me?", ekekek. Aku tahu konsekuensinya kalo Mas bawa Bapak Ibu ke rumah, pasti endingnya akan menjurus ke pernikahan.

Aku mengiyakan permintaannya. Mempersilakan masuk keluarganya untuk mengenal lebih dekat satu per satu keluargaku. Wajahnya sumringah dengan batik coklat yang kebetulan senada dengan gamis yang aku kenakan.

Hari itu waktu berjalan lambat sekali. Entah bagaimana aku deg-degan tak menentu. Siap? Entahlah. Sejak saat itu aku gampang sekali resah. Pertanyaan-pertanyaan liar seperti datang tanpa diundang. Setelah lamaran, pilihan hari pernikahan jatuh di tanganku.

DESEMBER. IYA, 25 DESEMBER.

Dan teranyata Desember seperti bertubi-tubi bahagia bergelimang. Bapak selesai pengobatan, dapat kabar Bapak-Ibu bisa berangkat haji tahun 2017, Banyak keluarga jauh yang menyempatkan pulang. Pernikahanku seperti reuni keluarga besar. Keluarga Bapak ngumpul, keluarga Ibu juga lengkap yang sebelumnya 10 tahun tidak pernah pulang.

Kami sama-sama berniat baik untuk membingkai cerita bersama dalam bingkai ketaatan. Iya, saat kami sama-sama ingin menikah untuk ibadah, semesta seperti menghilangkan rasa gundah yang sebelumnya sempat membelenggu. 

Hari ini adalah bulan pertama kami, meski jarak membentang, namun doa mengikat kami menjadi dekat 💓

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)