Tentang Rasa

Rabu, April 19, 2017 1 Comments A+ a-

A post shared by ayaa (@cahayatheprinces) on

Adalah rasa yang seringkali membuat kami merasa berbunga2, namun di detik kemudian terpelanting nestapa. 
Seperti pelangi, yang warna warninya tidak hakiki.

Adalah iman yang oasenya memberikan rasa tentram meski kami sedang di tengah badai. 
Tidak peduli entah warna hitam, putih bahkan pelangi yang mewarnai di dalam hati. Karena dengan "iman", warna-warna itu terasa sangaaaaaat melegakan. Dan selalu percaya bahwa suka duka hanya bergilir adanya.

Adalah ikhlas yang dengan memilikinya, kami semakin merasa bukan siapa2 dan memiliki apa2. Karena sejatinya rasa yang kami ciptakan tidak semestinya mengganggu keyakinan bahwa Tuhan selalu ada. Tinggal bagaimana kita mendekatNya.

Wahai iman, tetaplah bersemayam di hati kami. Sekeruh apapun rasa ini bergejolak untuk bilang pergi, tetaplah tinggal menjadi pengendali diri. Dan engkau keihlasan, sehipokrit kami telah menyebut memilikimu, "iya kami ikhlas", biarkan saja! Karena itu adalah cara kami untuk merengkuhmu. Menyugesti agar kami memang benar2 memilikimu dalam hati kami. Menjadi sahabat, iman yang kami jaga sekuat tenaga.

Karena dengan memiliki kalian berdua, iman dan ikhlas. Kami tidak lagi takut untuk menggambar warna dalam hati seindah pelangi meski kabut tebal menghampiri.

***

Syair itu (eeeng, lebih tepatnya curhat itu), saya buat tengah malam saat Bapak sudah tidur pulas dengan bantuan oksigen yang terpasang  di hidungnya sedangkan tangannya menjuntai selang infus yang selama ini menakutkan baginya sekaligus menjadi temannya selama 6 hari.

April ini sepertinya saya sering terkekeh sendiri. Sesekali menangis haru untuk hal-hal yang remeh temeh, yang seringkali luput saya syukuri. Saya menyusun jadwal-jadwal secara rapi, satu dan dua terlampaui sesuai rencana. Eh tapi saya kadang lupa bilang "alhamdulillah" untuk itu. Lha kok pas rada belok sedikit dari rencana yang saya rancang sebelumnya, baru menyadari, kemana saja kemarin sih syukurnya, giliran sekarang agak berliku trus protes. Saya bergumam sendiri. Lebih tepatnya menertawakan diri sendiri.

Minggu ini, hati saya kayak di on:off kan. Paginya masij haha hihi, tapi tidak berselang lama seperti roll coaster terjun payung kaget dan nanya "Kok bisa sih?". Makanya iman dan sabar dijagain baik-baik biar akur terus.

***
Jadi ceritanya beberapa hari lalu, Bapak Ibu ke Solo antri foto buat keperluan haji. Entah gimana ceritanya, Bapak ga kuat sampai harus dirawat di rumah sakit. Saya yang di kampus langsun ke rumah sakit buat tahu keadaannya sekalian ngurus administrasinya. Semua hasil lab menunjukkan bagus. Makanya rencana awal mau opname semalam, Bapak rada kuat sedikit saya pindah ke RS Klaten biar gampil wara wirinya. Mas Jundi yang mau nyusul Solo saya cegah karena kasihan pasti cuapek di jalan. Udah ngerasain jalan Klaten-Solo sekarang yg lagi perbaikan? Ampun macet banget. Naik motor aja masih tersendat-sendat apalagi mobil?

Akhirnya saya, bapak dan ibu naik taksi. Mau pesen go car nggak ada, yaudah dipesenin kosti. Di tengah jalan, bapak pules banget dan ngerasa udah enakan. Makanya gak jadi dirujuk ke RS Klaten. Toh hasil labnya bagus. Paginya saya anter ke BKPM. Dokternya lihat hasil lab dan rontgen dari RS di Solo. Katanya ada sedikit infeksi di paru bapak. Deg! Kok dokter sana bilang baik-baik saja ya Dok? Si dokter langsung melingkari hasil yang dimaksud. Sebenernya bapak udah nurut kalau misal hari itu diopname. Tapi kata dokternya rawat jalan dulu karena gak terlalu serius. Yaudah, dikasih resep sama nebuliser buat sesak nafas bapak.
***

Saya masih bolak-balik Solo, mau nginep tapi rasanya nggak sreg. Makanya di jok motor selaluafa baju ganti kalau misal mang harus nginep. Seminggu berlalu, bapak dan ibu medical cek up di salah satu Rumah Sakit Bagas Waras Klaten. Kali ini untuk kepeluan haji lagi. Pagi-pagi udah rapi, saya nganterin bapak ibu bareng Mbak Endang. Saya mboncengin Bapak. Mbak Endang mboncengin ibu. Sampe sana niatnya mau ngedrop aja, soalnya banyak teman-teman bapak ibu, lagian administrasinya gak ribet. Dan saya memutuskan untuk nemenin sampai selesai. Mbak Endang yang pulang.

Singkat cerita, dari segala cek tersebut, dokter memanggil saya. Perasaan saya sudah nggak enak banget dan udah feeling sih kalau hasil cek salah satu orang tua kesayangan saya ada yang jelek. Dan saya nebak rapor kesehatan Bapak yang jelek. Pas banget, dokyer bilang kalau ibu lulus med-ceknya, hasilnya alhamdulillah bagus semua. Kalau Bapak gimana? Mulai dari gula yang biasanya normal bisa melonjak sampai 230. Seumur-umur Bapak itu tekanan darahna rendah kayak saya, bisa sampai 160. Saya masih kalem aja waktu itu, Bapak juga masih senyum-senyum meskipun sedikit kaget.

Dokter menjelaskan hasil pamungkas yang membuat kaki saya agak lemes buat berdiri. Dari hasil EKG, Bapak ada indikasi penyumbatan jantung. Bapak Ibu sontak langsung berpandangan. Jalan satu-satunya ya diopname. Dokternya baik banget untungnya, gak pelit penjelasan dan penyampaian bahasanya enak.

Then, Bapak dibawa ke UGD. Saya ngurus administrasi, nyari kamar sambil ngabarin ketiga kakak lelaki saya. Saya berpesan sama Bapak untuk rileks biar pengambilan infusnya sekali tusuk saja. Alhamdulillah gak perlu berkali-kali.

Kira-kira jam 4 sore baru dapat kamar VIP. Setelah sampai kamar, saya selonjoran sambil menenggak aqua sebotol. Mengingat hari itu, trus malamnya nulis syair itu, "tentang rasa". Kayak hati berasa salto-salto *asli yang ini lebay*

***
6 hari berjibaku di Rumah Sakit, akhirnya Bapak dibawa pulang juga. Udah sehat di hari pertama. Dan sore ini ngeluh dadanya sakit lagi. Semalam nggak bisa tidur nyenyak. Rencananya besok pagi mau ke dokter lagi. Doakan baik-baik saja ya hasilnya. Rasanya gimana? Nggak bisa tidur, ada yang nggak enak tapi masih under controlled. Ekeke

In the end, yang mengulak alik rasa dalam hati kita adalah kita sendiri. Mau sepahit apapun yang terjadi, kalau kita settle memilih "rasanya", hasilnya tidak akan sepahit itu. Yaaah, memang pahit sih, cuma setelah itu kita akan banyak cerita bahkan bisa terkekeh dibuatnya.
Dan, segetir apapun itu, bersahabat baiklah dengan iman dan sabar. Karena keduanya benar-benar menjadi oase menyegarkan. Pun saya begitu. Hasilnya? Saya bisa menulis ini dengan lapang hati sambil cengar-cengir meski kemarin mewek-mewek di pojokan sendiri gak jelas.

Jangan lupa memilih rasa bahagia dan syukur ya teman-teman 💓

Penyuka anak-anak, kereta dan hujan. Hobby membaca dan mendongeng untuk keponakannya. Blog ini berisi tentang daily life, lifestyle dan dokumentasi penulis. Enjoy reading :)

1 komentar:

Write komentar
Dewi Nuryanti
AUTHOR
1 Juni 2017 04.35 delete

Hidup memang tak selamanya indah dan selalu berjalan mulus lus. Pasti ada kerikil, belokan, tanjakan, turunan bahkan lubang. Satu2nya penolong ya Yg Diatas serta keikhlasan dan keyakinan bhw apapun yang terjadi semua atas ijinNYA dan pasti.ada hikmah dibalik semua peristiwa yg terjadi. Baik atau buruk.Sabar dan tawakal solusi hidup yg mumpuni.

Reply
avatar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)