Featured Slider

Pernikahan Tahun Pertama

"Menikah adalah menggenapkan separuh dien. Karena satu sama lain saling belajar seumur hidup"...

Ps; ini full curhat dan panjang, feel free to skip~~~

Kenapa menggenapkan, memangnya sebelumnya ganjil? Hish, sebelumnya aku acuh tak acuh dengan frase itu. Tetapi setelah merasakannya sendiri, ternyata menikah menuntut kami berdua untuk saling belajar tanpa batasan. Bisa jadi paginya tertawa sama-sama, untuk kemudian salah satu atau bahkan kami berdua dihadapkan dengan hal yang membuat "badmood" terhadap satu sama lain.

Seringkali yang menyulut api bukan karena hal-hal yang besar, melainkan ceceremesh yang bikin gemash! Kayak handuk basah ditaruh di atas sprai, atau gak sengaja fokus main game trus kalah, eh moodnya tiba-tiba ikut runtuh, ahaha. Dan yang sering, pas aku watsapp tapi balasnya lamanya minta ampun, heuheu. Pokoknya yang begituan bisa membuat kami (kebanyakan aku sih) jadi cerewet. Kalo udah cerewetnya keluar, suami cuma diem sambil klecam-klecem, kalo udah mereda biasanya beliau minta maaf.

Nasihat Pra Nikah

Throwback sebelum nikah, aku dipanggil petugas desa untuk verifikasi dokumen ke KUA. Yaudah, aku sama Bapak kesana ditemenin Mas Nur nama petugas desanya. Aku sih santai aja sebelum ngadep pak naib (penghulu). Sebelum masuk, karena ada calon manten yang tanggal nikahnya sama dan sedang ditanya-tanya juga perihal dokumen pernikahannya, Mas Nur mengajari kunci jawaban kalo misal ditanyain Pak naib, ahaha. Aku cuma manggut-manggut doang.

  • Niat nikahmu apa?
  • Tujuan nikah apa?
  • Udah mantep kan? Nikahnya tanpa paksaan?
Trus Mas Nur ngasih tahu jawabannya, semacam kayak lagi ikut bimbel masuk UMPTN. Nggak lama kemudian namaku dipanggil. Bapak menyalami pak naib yang ternyata sohib ikrib pengajian. Dunia emang sempit ya. Setelah basa-basi nanyain kabar, pak naib menanyakan beberapa hal tentang identitasku dan (calon) suami.

Beres. Dokumen lengkap.

Yang belum beres itu, ya tentang pertanyaan pak naib. Plek ketiplek kayak yang dikasih tahu Mas Nur sebelum menghadap pak naib. Memang sih redaksinya berbeda, cuma intinya sama. Sudah dikasih tahu kisi-kisinya kok ya bibirku kelu dan membeku.huhuhu

Aku cuma klecam-klecem memandangi pak naib sama Mas Nur yang senyum-senyum seperti mengkode biar aku menjawab sesuai yang diarahkannya tadi. Tapi kok ya aku tetep saja berat menjawab.

"Mbak Nur, kalo boleh tahu, niat menikah dengan Masnya itu karena apa?" Of course karena cintaaaaaaaa. Becanda! Aku nggak menjawab itu. Aku menjawab nawaitu menikah sama suami adalah karena ibadah. Entah itu kalimat darimana, cuma memang meluncur begitu saja. 

Sebelum memutuskan menikah, aku dan Mas sudah bicara 4 mata ditambah beberapa mata (keluarga). 6 bulan aku menyiapkan lahir batin, menanyakan siapa tahu Mas berubah pikiran. Tapi ya tak clurit sik-lah kalau sampai benar-benar berani mbatalin, ahaha *kidding*. Intinya, setelah lamaran, aku memberikan waktu 6 bulan buat kami berdua sama-sama memantapkan diri. Mas jauh di Jakarta bekerja buat memenuhi mas kawin seperangkat alat salat plus-plus, sedangkan aku di Solo menyelesaikan kuliah sambil membuat list mau seserahan apa.

Pertanyaan kedua pak naib. "Tujuan menikah Mbak Nur apa sih? Apa dipaksa bapak ibu? Atau kemauan sendiri?" Nah, pertanyaannya dirapel kan. Setelah lancar menjawab pertanyaan pertama, aku tidak perlu diberi aba-aba untuk menjawab pertanyaan kedua ataupun seterusnya. 

Aku menikah karena mau, bukan karena orang lain. Apalagi cuma dipaksa sama bapak ibu, ah bukan. Rasanya mereka ga berani maksa-maksa, tapi kalau nanya-nanya IYAAAA. Nanya temenku si fulan atau fulanah udah nikah apa belum, padahal beliau tahu teman-teman sebayaku udah nikah semua dan malah udah punya anak sampe 2 atau 3. Cuma mereka kayak ngasih kode aja kapan mau dikenalin sama calon mantu, ekeke.

Awalnya aku risih ditanya-tanya, tapi lama-lama aku menyadari karena mereka pasti juga pengin aku segera menikah, pengin momong cucu seperti ketiga kakak lelakiku. Aku belum pernah menjadi orangtua, jadi aku mencoba memahami keinginan mereka. Makany, 5 tahun tanpa adanya hilal mau nikah kapan, di usia ke-27 aku bawa Mas ke rumah serombongan sama keluarganya.

Tujuan membangun pernikahan dengan Mas karena ingin membangun keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Pak naib trus menjelaskan dong arti dari tujuan tersebut. Setelah itu praktik akad nikah. Kebetulan Mas nggak bisa datang karena nggak mengagendakan ada verifikasi ini sehingga tidak bisa cuti mendadak. Pak naib menjabat tangan bapak dan melatih bapak untuk melafazkan akad nikah.

1 jam di KUA berasa ujian mau dapet SIM, ahaha. Entah kenapa yang nikahan pas natal itu banyak juga. Aku yang request jam 9 pagi dimajukan jadi jam 7. Oh my god, trus aku dandan jam berapa cobak, ahaha *pikirku waktu itu*. Tapi ternyata bisa juga cantik pada waktunya.

Alhamdulillah Sah!

Pak naib datang tepat waktu. Akupun sudah siap. Mas siap. Bapak siap. Saksi siap. Dan para penonton juga siap. Bapak mengikrarkan ijab dengan pelan-pelan. Akhirnya beliau mempraktikkan langsung setelah latihan beberapa kali. Aku deg-degan takut bapak salah ucap, maklum beliau baru saja sembuh dari TBC. Alhamdulillah beliau lancar.

Giliran Mas yang berikrar qobul-nya. Ah, aku nggak akan panik dan takut kalau dia salah sebut. Dan benar dugaanku, dia melafazkan qobul sekali napas. Cium (tangan) seketika, trus cium pipi kanan kirinya pas malamnya, ahahaha.

Aku menyalami seluruh keluarga dan entah kenapa aku meleleh. Tiba-tiba ada yang sontak mengingatkan "Gausah nangis, bedakmu luntur lho". Aku menahaaaaaaaan biar bedakku tetap awet tanpa basah air mata. Tapi mustahil, akh mewek, huhuhu. Alhamdulillah bedaknya nggak luntur. Bapak ibu memeluk erat. Kayaknya seneng sudah sah punya mantu per hari itu. 

Dan prosesi resepsi yang membuat kaki, pinggang encok pun membuat kami berjanji "UDAH CUKUP SEKALI AJA NIKAHNYA. IYA, SAMA KAMU DOANG". Sepanjang acara senyum manis, kamera sama video ada dimana-mana, kan nggak enak kalo pas difoto hasilnya kusam atau bahkan merem. Oh No!

Setelah resepsi, tamu masih hilir mudik. Fix, encoknya paripurna. Habis magrib-isya kami masih menemui, mulai jam 9 aku sudah nggak sanggup, akhirnya pamit bapak ibu ganti daster. Ibu senyum-senyum meledek, padahal tumitku udah nggak karuan. Hari itu adalah hari terlama aku memakai high heels, huhu.

Aku sama Mas salat isya jamaah. Aku salim dibalas cium kening *blushing*. "Capek ya?" Pertanyaan macam apa sih Mas, huhu. Tentu capeeeeek. Trus aku masuk kamar mengoleskan minyak ke tumit, pinggang sama tengkuk. Mas minum teh hangat sama tolak angin. Setelah itu bobo pules sampe shubuh buat dirias lagi. Acara ngunduh mantu!

Tahun Pertama Pernikahan

Awal menikah, kami mengalami LDM. Aku ke Jakarta atau Mas yang pulang pas weekend. Kami berdua menikmatinya. Menunggu di peron stasiun sambil ngobrol kapan mau ketemu lagi adalah hal yang lumrah. Dan kami jarang berantem karena intensitas ketemu membuat kami sama-sama bisa mengontrol diri. Beneran, dulunya aku yang dikit-dikit ngambek jadi merasa sayang banget kalau waktu ketemuan yang cuma seminggu sekali harua dipake buat berantem.

Paling pol kami berdebat saat mau lebaran. Aku maunya lebaran pertama di rumah bapak ibu, sedangkan Mas maunya di rumahnya. Logis sih, beliau anak lelaki satu-satunya dan aku juga kasihan kalau bapak ibu mertua lebaran sendirian. Jadi, lebaran tahun 2017 adalah awal aku lebaran tanpa keluarga besar. Tapi itu semua sudah clear dengan damai di atas ranjang.

Baca juga: Lebaran Pertama

Menikah adalah kompromi-kompromi. Aku sangat setuju! Kita bisa up and down dibuatnya. Tidak lagi bicara aku dan kamu melainkan kita sama-sama. Mas bukan tipikal romantis, tapi perbuatannya sering membuat aku meleleh. Hal-hal kecil yang semakin membuatku bersyukur menjadi bagian dari hidupnya. Saling menggenggam tangan, memeluk dan memberikan puk-puk. 

Terima kasih menjadi teman mengarungi tahun 2017. Semoga bisa berjalan bersisian di tahun selanjutnya dengan kompromi yang saling kita sepakati. Meskipun honeymoon dan babymoon hanya sekadar wacana, cuma aku selalu terharu saat aku merasa bosan, kamu menawarkan "Mau ditemenin kemana? Mau dibelikan makan apa?" 

I love you to the moon and back.

Love,

Adik.

12 komentar

  1. Tahun pertama nikah, zamannya up and down..tapi melewati itu jadi full happines..

    BalasHapus
  2. asik semuanya damai di atas ranjang wkwkwk ini yang aku BOLD tandai mba :p
    tahun pertama bagiku tahun penyesuaian dengan kebiasaan akang suami yang masyaAlloh bikin aku jambakin rambut sendiri wkwkwk

    semoga selalu sehat dan RT yang bahagia y mba

    BalasHapus
  3. *cantik pada waktunya
    *damai di atas ranjang
    Kamu deeeek...bikin ngakak. Hahaha..

    BalasHapus
  4. Happy wedding anniversary!
    Duh, yang baru setahun ini masih anget2nya suasana honeymoon lho. Apalagi LDR-an gitu. Jadi tambah mesra deh.

    Semoga selalu langgeng dan bahagia ya, Aya. Semoga punya banyak anak yg sholeh-sholehah dan hidup sejahtera. Aamiin.

    BalasHapus
  5. Nnati kalau sudah punya baby, akan ada ceritanya lagi ^_^

    BalasHapus
  6. wuaaa... setahunnn... hihihi
    iya ya mak, perkara handuk dn bad mood itu pengaruh banget, akupun... kalo di kantor ada temen rese, lahhh suami di rumah jadi sasaran...

    bdw itu bisa LDM, aku mah apa atuh... milih tiap hari berantem mulu gpp asal ketemu, ntar kalau bobok juga udah ggberantem lagi.. hahah LOL

    BalasHapus
  7. Duh, adik ini enak bener ya jatahnya "ngelist seserahan mau dikasih apa" hahaha.
    Jadi soal lebaran udh clear ya? Turut heppi..moga langgeng cintaa

    BalasHapus
  8. Wuaaaaa so sweet, bikin baper. Selamat telah melewati tahun pertama pernikahan mba Aya. Semoga langgeng terus sampai sama sama beruban dan lansia ya. Aamiin.

    BalasHapus
  9. Aih kamu lucu-lucu sweet gimana gitu, hihi. Selamat menikmati hidup rollercoaster yang seru ini ya. Masih ada tahun ke 2, 3, 10, 20, dan seterusnya hingga maut memisahkan.

    BalasHapus
  10. Langgeng sampai berjodoh di surga ya mbak :')

    BalasHapus
  11. aaaaak kuselalu suka bahas yang cinta-cintaan gini, hihihihi. jadi ikutan blushing :)
    selamat ya mbak untuk tahun pertamanya. Semoga tahun-tahun selanjutnya masih tetap saling menggenggam erat, apa pun yang terjadi. Bahagia selalu.

    BalasHapus
  12. Wah ada acara gladi bersihnya ya di KUA. Aq dulu nikah dadakan seminggu persiapan jadi gak ada acara gladi bersih di KUA nya. Seneng baca ceritanya.semoga langgeng ya mbak.

    BalasHapus

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)