Featured Slider

Pengalaman Melahirkan Normal di RSI Klaten

Kalau saat ini saya bisa memeluk Ray, itu karena Allah sangaaaat mengasihi kami. Dan tentunya, hal ini karena doa orang-orang yang mencintai kami.

Kayaknya masih inget banget deh rasa "nano-nano" sebelum bertemu Ray. Yang awalnya cengengesan dan haha-hihi sama suami di ruang bersalin. Hingga blingsatan miring kanan kiri sambil berdzikir minta kekuatan untuk saya dan Ray agar diberi kelancaran bertemu.



Ranjang bersalin yang nggak enak
Bismillah

Ranjang bersalin itu modelnya emang kayak gitu ya? Tengahnya bolong sampe-sampe hp saya jatuh beberapa kali. Trus ada patahan (agar ranjang bisa naik turun) yang bikin punggung kebas. Testimoni saya saat dokter visit ke ruangan adalah "Ini ranjangnya kok ga enak ya, Dok?", ahaha. Dan dokter Zam cuma senyum sambil bilang kalo desain ranjangnya memang demikian. Biar praktis untuk proses persalinan.

Ternyata memang benar jawaban dokter Zam. Saat bukaan lengkap, para bidan tinggal geser-geser dan saya disuruh agak turun posisinya. Saya juga baru tahu fungsi lubang di tengah-tengah ranjang, ahaha.

Normal atau SC
Pasrah saat melihat saya dipacu
Sudah lama menunggu, ternyata bukaan nggak nambah-nambah. Dokter Zam visit lagi dan memberikan pilihan mau dipacu lewat infus apa SC. Maha baik beliau yang super sabar dan sangaaaat informatif. Beliau memberikan plus minus pilihan tersebut. Saya minta pertimbangan suami, dia sepenuhnya memberikan kebebasan saya untuk memilih. Dan sesaat wajah ibu saya berkelebat memberikan semangat agar saya melahirkan normal. Akhirnya saya memilih opsi pertama, dipacu.

3 orang yang memilih dipacu akhirnya di cesar. Hati saya kebat kebit karena takut di cesar juga. Lha gimana? Udah sakiiit kontraksi karena dipacu, ternyata endingnya dibelek juga, huhu. Tapi saya tetap yakin bisa lahiran normal. Ibu sama Mbak Endang datang menjenguk. Wajah ibu mimblik-mimblik, tangannya memegang erat tangan saya menguatkan bahwa saya BISA LAHIRAN NORMAL.
Sebelum lahiran mintanya cuma satu: temenin berjuang sampai titik penghabisan :D

Sudah ada peningkatan bukaan menjadi 4. Saya menyuruh ibu untuk pulang meski beliau pengen nungguin. Mbak Endang senyum-senyum memandang saya. Duh Mbak, ternyata melahirkan memang sakit, ya. Kami terkekeh bersama. Akhirnya mereka berdua pulang. Tidak lupa saya meminta doa agar persalinan saya lancar.

Di kamar bersalin Ibu mertua mengusap punggung sambil menyangati saya. Yang nunggu hanya diperbolehkan 1 orang, tapi sesekali suami masuk diam-diam, hehe. Suster masuk mengecek denyut jantung bayi dan per 4 jam melakukan VT. Bakda magrib sudah bukaan 6 dan kontraksi sudah mulai teratur.

Melihat jam kok rasanya lamaaa sekali. Jam setengah 10 malam, saya merasa pengen poop. Bilang ke suster, katanya poop aja jangan ditahan. Awalnya agak sungkan, tapi karena nggak tahan akhirnya poop juga. Suster membersihkan poop saya dan bilang dikeluarkan aja nggak perlu sungkan. Beberapa waktu kemudian saya mengalami kontraksi.

Suara dokter Zam sangat familiar meskipun dari kejauhan. Suster melakukan VT dan ternyata sudah bukaan lengkap. Suster yang lain menyiapkan perlengkapan untuk persalinan. Dan PERJUANGAN DIMULAI.

Saya tahu Ray juga merasa kesakitan setiap kali kontraksi. Dia mencari jalan untuk bertemu saya dan papinya. Saya mengikuti aba-aba dokter untuk bernapas panjang dan mengejan saat kontraksi datang. 30 menit Ray belum juga keluar, kontraksi juga hilang timbul, huhu. Suster mengganti infus pacuan karena sudah habis.

Hati saya menciut karena dokter Zam bilang akan melakukan vakum kalau Ray nggak keluar juga. Saya mengafirmasi diri dan membujuk Ray untuk dipacu saja, tidak perlu vakum atau cesar. Suami yang mengusap kepala dan memegang tangan saya memberikan semangat yang luar biasa. Saya yakin dia juga ingin bertemu Ray. Maka, saat kontraksi datang lagi, saya mengucap bismillah, bernapas panjang dan mengejan sekuat tenaga.

Tangis Ray pecah. Suami mengecup kepala saya. Kami bahagia. Dokter Zam mengobras jalan lahir yang entah berapa jahitan. Kalau saya tidak nyaman, beliau menambah biusnya. Saya ngilu mendengar sepupu pas lahiran, ketika dijahit dia tidak dibius. Makanya saya nanya dulu sebelum lahiran, jahitnya dibius apa gak.

Upgrade kamar dengan BPJS.

Suami mengurus administrasi. Kebetulan saya terdaftar bpjs kelas 2 dan saya mau upgrade kamar vip. Prosesnya mudah kok, nggak berbelit-belit asalkan dokumen kita lengkap. Sebelumnya, saya berasumsi kalau pasien bpjs bakal dibedain penanganannya. Tapi pengalaman saya kemarin pas lahiran pake BPJS, enak dan nyaman kok.

Yang mau memakai fasilitas bpjs saat melahirkan di RSI, jangan lupa disiapkan dokumennya dari rumah: FC KTP, FC BPJS, FC buku nikah, FC KK, FC halaman depan buku KIA.

Oh iya, untuk pasien cesar juga ditanggung bpjs asalkan sesuai anjuran dokter. Maksudnya, kehamilan tersebut memang harus dilakukan cesar (misal: bayi sungsang atau melintang, ibu bayi punya resiko tinggi jika melahirkan normal). Ini informasi dari suster saat memeriksa tekanan darah saya.

Setelah selesai melengkapi administrasi dan mendapat kamar, saya dipindah ke kamar tersebut. Saya diantar suster menggunakan kursi roda dan Ray saya pangku. Ya Allah, nikmat mana yang hamba dustakan?

Kamar Nyaman dan Pelayanan Prima
Ruang Vip
Kamar VIP luas dan nyaman. Bapak dan ibu mertua menginap malam itu, kebetulan sudah malam sekali, jam 01.00. Fasilitas kamar ada TV, kamar mandi, AC, Kulkas, sofa kecil dan bed untuk 1 pasien. Pokoknya nyaman *yaiyalah VIP*.
Mbah Putri :*

Ray poop pertama warnanya hitam. Suster membantu menggantikan popok. Saya dianjurkan untuk tidak menghidupkan AC dulu sebelum suhu badan Ray stabil. Saya pun manggut-manggut meskipun badan gerahnya minta ampun. Sebelum tidur, saya mandi dulu. Rasanya merdeka bisa mainan air, ahaha.

Suami pamit ke mushola dan tidur di mobil biar Bapak Ibu saja yang tidur di sofa. Saya tidak bisa tidur karena jahitan mulai terasa perih. Saya mengecek handphone sudah buanyak pesan yang masuk di grup happy family. Bapak ibu saya di rumah juga belum tidur menunggu kabar tentang Ray. Mereka menjaga saya dan Ray lewat doa.

Saya membaca pesan terbaru, dari suami saya yang seharian menemani dan menyemangati. Hari ini aku bener2 bahagia, terimakasih istriku sayang. Pakai emote titik dua bintang. Saya membalasnya dengan tanda hati 2 biji. Milik saya dan Ray.

Dokter dan susternya ramah. Makanan dan snacknya enak. Baru kali ini menginap di RS menghabiskan snack dan makanan pasiennya. Soalnya biasanya makanan dari RS terkenal hambar dan tidak enak.
Menu makanannya enak dan saya selalu habis, ahaha *doyan*

Biaya

Dengan BPJS, waktu itu saya membayar 2.5 juta untuk kamar 3 hari 2 malam dan obat. Oh iya, waktu itu Ray di imunisasi juga dan saya membayar sendiri di apotek (tidak masuk tagihan). Oh iya, kalau nggak pakai BPJS  atau bayar mandiri, kurang lebih 6 jutaan.

Semoga bermanfaat ya. Bagi yang di sekitar Klaten, RSI Rekommended untuk tempat melahirkan :)

PS; sedih banget baca berita kalau melahirkan tidak dicover BPJS kesehatan lagi, huhu. Semoga ke depan ada pencerahan tentang peraturan tersebut.

6 komentar

  1. selamat mba Aya, pas anak2 pup pertama kalinya aku ga kebagian bersihin anak pertama suami dan itu pengalaman pertama dy sampe puyeng liat kotoran yang item wkwkwk akhirnya dibantu suster dan kemarin rayi juga sama pas sama suami rayi pup kali pertama dan lagi2 dibantu suster :D

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah yaaah, Ray lahir tanpa vakum ataupun alat2an, heheheh beda ama Faraz dan Fawwaz yang keduanya kompak dgn vakum karena Emaknya gak tau ngeden, hihihih

    sehat2 terus ya Ray :*

    BalasHapus
  3. Selamat ya mbak,,, semoga dedek Ray dan ibu sehat slalu,,,
    Oiya salam kenal mbak, nama saya rizki, rencana jg mau lahiran di rsi, kalau boleh mau tanya tentang fasilitas persalinan yg didpat di rsi apa saja ya? Sperti baju bayi, baju ibu pas perslinan gitu, dll

    BalasHapus
  4. Halliburton Mbak, kalo baju bawa dari rumah. Bayi dapet 1 step sama toiletries tapi ga tak pakein. Mending bawa dr rumah aja yg udah dicuci :)

    BalasHapus
  5. Selamat y mbk atas kelahiran dedeknya. Mbak mau nanya saya asli klaten tp ktp jakarta itu masih bisa pake bpjs g ya untuk melahirkan? Apakah bener klo mau lahiran di RSi harus sudah pernah periksa di rsi juga? Mohon coretanny terimakasih­čÖĆ­čÖĆ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo Mbak, maaf baru balas. Bpjs bisa dipake kok di RSI meski ktp Jakarta dan ga harus pernah periksa dl disana. Mg lancar ya persalinannya :)

      Hapus

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)