Featured Slider

Jeda

Blog ini kembali ke kodratnya. Sebagai jeda. Ketika banyak kata yang membuncah, namun ada sekat yang membisu. Maka tulisan ini bisa menari dengan bebasnya. Seperti detik ini. Ringan.

Saat aku ingin menyerah, tawamu mengingatkan untuk berjuang. Meski di awal sadar kekurangan, kamu menunjukkan kelebihanku. Sebagai ibumu.

Oranglain boleh tidak menghiraukanku, tapi kamu selalu tahu dan membutuhkanku. Semarah apapun aku, rautmu selalu riang menyambutku. Hal yang membuatku menangis. Bersalah padamu.

Aku butuh jeda. Tapi kamu tak mengerti. Sama sekali. Ingin tetap bermain bola kesana kemari. Merangkak kencang tidak terhenti. Aku masih ingat 2 bulan lalu, mengajarimu bagaimana kedua kaki harus menekuk presisi. Jatuh. Bangun lagi. Jatuh. Bangun lagi, berkali-kali. 

Ketika akhirnya bisa merangkak sempurna, energiku sering tak bisa mengimbangi. Namun kamu belum mengerti. Karena lelahmu adalah ceriamu.

Ini ramadan kelima. Aku ikut puasa. Karenamu. Tiap malam aku meminta ijin. Karena siangnya kamu mengeluhkan rasa susumu. Mungkin tidak senikmat biasanya. Bola matamu berpadu denganku. Bibirmu tertawa jenaka. Tanda tak mengapa. Tangan mungilmu memukul pelan agar susunya seenak dulu. 

Hari ini, aku ingin jeda sebentar saja. Agar aku lebih waras memelukmu. Seketika, saat menyandang predikat ibu, PR ku banyak sekali. Sering menangis sendiri. Melenguh napas panjang. Seakan tidak ada yang mengerti. Bahwa aku juga butuh sendiri.

Jeda. Sebentar saja. Tidak akan lama.

Selamat tidur Ray. Anakku. Jeda tidak akan pernah menjadi jarak antara kita. Karena tidak perlu menunggu sahur untuk kamu bisa memelukku lebih erat. 

Aku sayang kamu, Nak.

Dari Ib

Tidak ada komentar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)