Featured Slider

Musafir Guest House Solo, Nyaman Menginap Seperti Rumah Sendiri

Berita yang paling hits akhir-akhir ini adalah pindah ibukota. Gak tanggung-tanggung pindahnya, ke Kalimantan! Saya yang menyiapkan pindah ke Solo aja rasanya nano-nano. Padahal hanya dari Klaten, lho. Mungkin karena saya dan suami sebelumnya sudah memiliki kota idaman buat tinggal, jadi saat dipilihkan Solo, kami berdua harus sama-sama legowo untuk say good bye dengan Jakarta yang selalu membuat saya jatuh cinta dan Jogja yang memikat suami untuk selalu kembali.


Jadi, jangan pernah julid kalau ada yang galau dengan berita kepindahan ibukota, ya.

Siang itu kami ke Solo untuk bertemu developer rumah. Kami mengambil kuitansi pembayaran. Rumah sudah 95% jadi dan insya Allah September bisa ditempati. Rasanya seperti mimpi akan memiliki rumah secepat ini. Pengen nulis saking senengnya, tapi kalau belum bener-bener lunas, dan menjadi milik kami, saya belum berani.

Karena memiliki rumah itu kayak jodoh, kalau belum beneran akad dan nerima sertifikat tanda jadi, bisa saja batal di tengah jalan. Mbak Eni, yang mengenalkan developer rumahku, hampir 2 tahun mencari rumah yang sreg buat keluarganya. Sempat deal dan sudah mau dibayar, ternyata pemiliknya mangkir minta ini itu. Akhirnya batal.

Makanya saya alhamdulillah banget ga perlu muter-muter nyari rumah atau kontrakan. Awal Juli saya masuk kerja. Pertengahan Juli dapat tawaran rumah. Seminggu kemudian melihat rumahnya dan sorenya memutuskan untuk membeli. Yeng lebih membuat hati mengembun, saya membelinya tanpa KPR *sujud syukur*.

Karena ingin berkenalan lebih dekat sebelum pindahan, saya mengajak suami dan Ray untuk staycation di Solo. Sore itu, setelah selesai dengan developer, kami menuju musafir guest house yang lokasinya di dekat Alun-alun Kidul untuk bermalam.

Review Musafir Guest House Solo

Awalnya saya mengira bangunannya kecil, tapi setelah check in, eh ternyata ruangannya luas. Masuk ke dalam lagi, ada beberapa kamar dan ruangan lain: ruang makan dan dapur yang membuat saya seperti menginap di rumah sendiri.

Malam Minggu, Musafir Guest House full booked! Ketika mengejar Ray yang lagi demen banget jalan (setengah lari) ke arah ruang makan, saya bertemu ibu paruh baya yang mau keluar dengan keluarganya. Ada suami dan 3 anaknya, kalau tidak salah.

"Hallooooo adek...", sapanya ramah ke arah Ray. Anak perempuannya pun juga melambaikan tangan ke arah Ray. Kami ngobrol sebentar sekadar bertanya asal kami masing-masing. Beliau asli Cilacap. Ke Solo karena ingin kondangan ke tempat besannya. Asli deh, saya berasa kayak lagi tinggal di rumah dan ngobrol sama tetangga. Nggak berasa lagi nginep di guest house karena nuansanya memang seperti rumah sendiri dan begitu akrab dengan pengunjung lain. 

Makanya saya bilang sama suami kalau penginapannya mewah tapi kesan "rumah sendiri" dapet banget. Ray pun nyaman main kesana kemari.

Fasilitas yang saya dapatkan saat menginap di musafir dan mungkin bisa menjadi rekomendasi teman-teman saat memilih tempat menginap di Solo, ya.

1. Wifi

Wifi menjadi pertanyaan saat check ini di resepsionis. Setelah resepsionis memberikan paswordnya, saya langsung mengaktifkan wifinya. Malamnya, saat Ray tidur, saya menyalakan laptop dan menggunakan wifi untuk browsing dan menyelesaikan beberapa kerjaan. Dan, wifi di musafir lumayan kenceng aksesnya. Suami pun ga terganggu main game sebagai salah satu me time-nya.

Baca juga: mobile legend


2. Kamar luas

Ada 3 kamar yang disediakan di Musafir: 3 kamar standar, 10 kamar superior dan 4 kamar deluxe. Nah, kami menempati kamar deluxe yang ruangannya legaan buat main Ray. Yang mau menginap disini bareng keluarga, harganya bersahabat kok. Untuk kamar ukuran standard/rose ratenya 215 ribu pas weekdays dan 225 rb pas weekend.

Untuk kamar superior/lilac, ratenya 235 ribu di hari biasa dan 265 ribu saat weekend. Lalu, untuk kamar yang kami tempati kemarin, kalau weekdays 345 ribu, pas weekend 349 ribu. Rate ini bisa menjadi referensi teman-teman, kalau butuh staycation untuk family time dengan keluarga. Jadi bisa menginap nyaman, tapi nuansa "rumahnya" tetep dapet.



3. Kamar mandi luas dan air hangat always on



Ketika membawa liburan Ray, air hangat yang menjadi PR. Karena meskipun Ray sudah berani mandi pakai air dingin, ketika kondisi capek jalan-jalan, saya lebih memilih memandikannya dengan air hangat. Kadang air hangat di hotel nggak berfungsi dengan baik. Tapi di Musafir, ir hangatnya always ON.

Ray bahagia banget mainan di bath up dengan air hangat. Kamar mandinya cukup luas, tapi yang masih punya toddler harus hati-hati, karena kondisi lantai yang basah membuat mereka kadang hilang keseimbangan. Kemarin Ray hampir jatuh terpleset. Dia setengah berlari meraih shower dan lupa kalau lantainya agak licin.

Sorenya, dia minta dimandikan di wastafel. Air hangatnya juga berfungsi dengan baik. Dia nggak mau diangkat saking senang mainan air dan keran. Saya membiarkannya berendam lebih lama dari biasanya.

Oh iya, di kamar mandi ada sebotol sabun dan shampo. Menurut saya lebih praktis kemasan botol begini daripada yang batangan. Btw, bawa sikat dan pasta gigi sendiri ya, karena guest house hanya menyediakan sabun dan shampo saja. Kalau saya biasanya membawa toiletries lengkap meskipun di hotel disediakan.

4. Crew ramah

Selain fasilitas, saya selalu terkesan dengan pelayanannya. Crew-nya ramah dan sopan. Meskipun lama di Solo buat kuliah, tapi referensi kuliner dan wisata saya masih sedikit. Makanya pas ngobrol dengan crew Musafir, ternyata ada beberapa kuliner dan wisata yang bisa kami kunjungi dengan jalan kaki.

Kami tidak melewatkan kesempatan ini. Kami bertiga jalan kaki saat nyobain nasi liwet, soto gading dan alun-alun kidul yang ramai dengan pasar malamnya. Keesokan paginya, kami jalan kaki sepanjang slamet riyadi *niat banget!

5. Bisa masak sendiri

Suasana dapur yang seperti rumah sendiri

Ruang meeting yang bisa jadi tempat makan


Nuansa rumah juga tercermin dari dapur. Di dapur, pengunjung bisa masak sendiri. Peralatannya cukup lengkap. Kemarin saya hanya melihat pengunjung lain yang asyik memasak. Kalau saya hanya meminjam piring, gelas sama sendok saja. Selebihnya go food *LOL.

Ada ruang meeting yang bisa dijadikan tempat makan atau ngobrol bareng keluarga juga. Ah iya, kemarin kami tidak mendapat breakfast, tapi disuguhi snack yang enak. Ray suka menunya. Jajanan pasar yang familiar di lidah Ray. Makanya, pagi itu langsung tandas snacknya.

Delicious snack

6. Parkir memadai

Nampak depan mungkin guest house-nya kelihatan kecil. Saya sempat khawatir nggak dapat parkir karena waktu check in parkiran full. Tapi saya tetap bisa parkir di samping jalan raya yang masih masih merupakan area guest house.

Jadi, meskipun area parkir terlihat agak sempit, tapi tetap memadai kok buat parkir pengunjung. Sama halnya ketika melihat guest house yang nampak kecil dari depan, ternyata pas masuk, voilaaaa, ada 17 kamar pemirsa :D.

7. Akses mudah

Mudah gimana maksudnya? Akses ke guest house-nya mudah DAN ke beberapa tempat kuliner wisatanya pun juga mudah. Wisata saya yang di dalam Solo lho, ya. Karena niat awalnya kan memang mau PDKT sama Solo bareng keluarga. Jangan ada yang nanya kalau sama Ndoro Dongker berapa kilo, hahaha. Kalau mau ke Kraton, Pasar Klewer, PGS, aksesnya mudah kok.

Honestly, kami puas. Staycation ini seperti jeda tersendiri buat kami. Saya bisa mencharger energi untuk menghadapi September.
Bahagiaaaaaaa~

Yaaa, Kota Solo di Bulan September menawarkan banyak impian. Semoga tetap nyaman menjadi rumah kami "nanti".

Ada yang nervouse ga pas mau pindahan? Kasih tipsnya dong. Yang butuh tempat me time atau family time di Solo, bisa booking Musafir Guest House deh.

Tidak ada komentar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)