Mendadak Dangdut : Rekayasa Cinta

Sebelumnya masih ragu mau ikut giveaway ini apa gak. Yang nguer di kepala cuma ada dua kata -ikut,enggak,ikut,enggak, ikuuuuuut-. Akhirnya ikut juga meskipun pas bilang sama temen-temen, sebagian dari mereka banyak yang klecam-klecem dan sebagian lain tertawa setelah mendengar kalau lagu yang dinyanyikan adalah dangdut.

"Aku mau ikut lomba nyanyi, guys!"

"Waaah, nyanyi apa Mbak Ay?"

*Rekayasa Cinta*

Tiba-tiba hening.

"Itu dangdut?"

"Iyaaa, yang nyanyi Camelia Malik"

Hening lagi, lagi dan lagi.

Mmmm, selain ingin escape dari comfort zone, alasan lain ikut giveaway ini adalah tidak lain karena ulang tahun Pakdhe Cholik di bulan yang sama dengan ulang tahun Iqbal, saya dan Ibu. Pokoknya Agustusan mania. Berharap bisa menghibur, hihi. Oh iya, semoga sehat selalu Pakdhe Cholik! Amin.

Ah iya, sebelumnya mau ngucapin terima kasih buat Vina, Wanda sama Mbak Fine atas supportnya yang warbiasah dari mulai make up sampai minjemin hape buat nyanyi di smule VIP. Padahal ikut nyanyi ini seru-seruan :D. Sebenarnya saya udah daftar smule VIP di hape saya, tapi setelah pulsa kepotong 60rb ternyata gak bisa digunain, huks (nanti saya cerita di postingan terpisah).




Inovasi Balitbang PUPR dalam Perbaikan Infrastruktur untuk Mewujudkan Desa yang Berswasembada

Ilustrasi. Credit from Google
Ekonomi yang tinggi menuntut suatu daerah untuk dapat menyediakan infrastruktur memadai yang mampu mendukung kelancaran aktivitas atau dapat pula berlaku sebaliknya, dimana ketersediaan infrastruktur yang memadai mampu memicu perkembangan ekonomi. Pada intinya adalah infrastruktur memegang peranan vital dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Maka, tidak heran jika di era kepemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla, pembangunan infrastruktur menjadi prioritas utama.

Dalam makalahnya yang berjudul Dukungan Infrastruktur PUPR dalam Percepatan Pengembangan Industri,  Dr. Ir. A. Hermanto Dardak, MSc. Menyampaian bahwa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) fokus pada pembangunan infrastruktur berbasis pengembangan wilayah atau lebih dikenal sebagai WPS. Hal tersebut dilakukan untuk mendongkrak pertumbuhan dan percepatan ekonomi.

Menurut beliau, beberapa hal yang melatarbelakangi untuk dilakukan percepatan pembangunan infrastruktur berbasis WPS adalah sebagai berikut [1]
  1. Disparitas antar wilayah relatif masih tinggi terutama antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI)
  2. Urbanisasi yang tinggi (meningkat 6 kali dalam 4 dekade) diikuti persoalan perkotaan seperti urban sprawl dan penurunan kualitas lingkungan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan kawasan perdesaan sebagai hinterlan belum maksimal dalam memasok produk primer
  3. Belum mantapnya konektivitas antara infrastruktur di darat dan laut, serta pengembangan kota maritim/pantai
  4. Pemanfaatan sumber daya yang belum optimal dalam mendukung kedaulatan pangan & kemandirian energy

Dari keempat latar belakang tersebut di atas, saya tertarik untuk mengulas latar belakang pada poin 2, yaitu tingkat urbanisasi yang tinggi. Untuk penyelesaian tersebut, faktor infrastruktur yang ada di pedesaan juga menjadi pengaruh yang sangat besar. Hal yang sederhana saja, fasilitas jalan yang rusak, ketersediaan air bersih yang belum memadai.

Inovasi Balitbang PUPR

Pelaksanaan pembangunan nasional dapat terwujud apabila didukung oleh situasi dan kondisi yang tertib dalam menyelenggarakan pemerintahan baik dipusat maupun di daerah termasuk di tingkat desa dan kelurahan. Penyelenggaraan pemerintahan desa dan kelurahan menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 diarahkan agar mampu melayani dan mengayomi masyarakat, mampu menggerakan prakarsa dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Dalam hal ini pemerintah harus mampu mengkoordinasikan sebagai unit dalam pemerintahan agar dapat mendayagunakan fungsi mereka dengan baik dan memberikan kontribusi yang nyata bagi proses pembangunan. 

Di tahun 2012 Dinas Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum telah pernah menargetkan ada 5000 desa yang menjadi sasaran program PPIP-PNPM Mandiri. Program PPIP-PNPM Mandiri ini mencakup pembangunan berbagai infrastruktur pedesaan mulai dari jalan perdesaan, irigasi pedesaan, air minum pedesaan, serta infrastruktur sanitasi pedesaan. Program ini bukan sekedar program fisik saja tetapi benar-benar dirancang untuk membangun desa dan masyarakatnya. Atas dasar tersebut dalam penyelenggaraannya program ini dilaksanakan berdasarkan pada tujuh 6 pendekatan, yakni pemberdayaan masyarakat, keberpihakan kepada yang miskin, otonomi dan desentralisasi, partisipatif, keswadayaan, keterpaduan program pembangunan, dan penguatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat.

Desa Kadilanggon, tempat saya tinggal sekarang, menjadi salah satu penerima program PPIP-PNPM Mandiri yang didanai sebesar Rp. 250.000.000. Desa Kadilanggon merealisasikan program tersebut dalam bentuk perbaikan jalan dan pembangunan PAUD. Setelah Kementrian Pekerjaan Umum digabung dengan Kementrian Perumahan Rakyat (PUPR), banyak sekali inovasi yang dihasilkan sebagai bentuk solusi untuk menjawab permasalahan yang berkaitan dengan percepatan pembangunan infrastruktur.
Program PPIP di Desa Kadilanggon

PAUD Ananda sebagai realisasi program PNPM
Demi mendukung kinerja Kementerian PUPR, Balitbang dituntut siap siaga menyediakan solusi dalam mengatasi berbagai masalah yang muncul terkait proses pembangunan infrastruktur, sesuai dengan jargonnya “Hadirkan Solusi Seiring Inovasi”. Berbagai produk teknologi dan inovasi telah dihasilkan oleh Balitbang PUPR, mulai dari produk teknologi dalam skala besar hingga teknologi skala kecil yang dapat digunakan di lingkungan rumah tangga [2].

Sejumlah produk inovatif yang dihasilkan Balitbang Kementerian PUPR antara lain teknologi Modular untuk Perumahan dan pengelolaan sumber daya air, flood early warning system, sumur resapan, Ruang Henti Khusus (RHK) untuk membantu mengurai kemacetan, Sindila (alat pengukur volume dan kecepatan lalu lintas) produk Litbang Kementerian PUPR, tambalan cepat, material timbunan ringan, berbagai variasi aspal beton, berbagai tipe peredam energi untuk bendungan sesuai karakteristik sungai, peta potensi gempa untuk perencanaan infrastruktur dan peta Isohyet [3].  

Sedangkan untuk produk berupa standarisasi dan norma, Balitbang Kementerian PUPR setidaknya sudah menghasilkan Standar Nasional Indonesia (SNI) sebanyak 753 dokumen, pedoman teknis 252 dokumen, dan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) sebanyak 64 dokumen. Total keseluruhan yaitu sebanyak 1.069 dokumen. 

Permasalahannya, inovasi yang dihasilkan litbang dan kemanfaatnya tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Padahal jika inovasi-inovasi tersebut dapat direalisasikan dan diterapkan, maka akan banyak masyarakat yang merasakan dampak dari keberadaan teknologi yang dari tahun ke tahun selalu dikembangkan oleh pihak balitbang. Lalu bagaimana solusi agar inovasi tersebut juga dapat tersampaikan di tingkat pedesaan?

Mewujudkan Desa yang Berswasembada dengan Perbaikan Infrastruktur 

Seperti yang saya sampaikan di atas bahwa untuk menekan laju urbanisasi, langkah yang dapat diambil adalah mewujudkan desa yang berswasembada dengan perbaikan infrastruktur yang ada. Pembangunan yang dilaksanakan di desa atau tingkat kelurahan merupakan realisasi pembangunan nasional. Untuk menunjang pembangunan di desa atau tingkat kelurahan peran serta pemerintah serta partisipasi seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan. Dalam merealisasikan tujuan pembangunan maka segenap potensi alam harus di gali, dikembangkan, dan dimanfaatkan sebaik-baiknya, demikian pula halnya sumber daya manusia harus lebih ditingkatkan sehingga dapat mengembangkan potensi alam secara maksimal agar tujuan pembangunan dapat tercapai.

Jumlah desa di Indonesia yang mendapatkan alokasi dana desa tahun 2016 berjumlah 74.754 desa. Berdasarkan Peraturan Kementrian Desa Nomor 21 Tahun 2015, prioritas pertama penggunaan dana desa yaitu untuk membangun infrastruktur berupa jalan, irigasi, jembatan sederhana dan talud. Lalu apa korelasi pembangunan infrastruktur dengan desa swasembada? Sebelum lebih jauh mengulas, saya akan menjelaskan konsep desa swasembada yaitu desa desa yang masyarakatnya telah mampu memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya alam dan potensinya sesuai dengan kegiatan pembangunan regional.

Ada beberapa syarat dalam pembangunan infrastruktur, antara lain: peningkatan ekonomi, menekan angka kemiskinan, menyerap lapangan kerja dan memperhatikan dampak lingkungan setempat. Jadi, dalam pembangunan infrastruktur di pedesaan, keempat syarat tersebut wajib dipenuhi. Oleh karena itu, beberapa desa yang memiliki potensi baik dari segi ekonomi, wisata maupun kearifan lokal, harus diperbaiki infrastrukturnya demi mewujudkan desa swasembada.

Pembangunan infrastruktur yang umumnya menjadi permasalahan masyarakat desa adalah jalan yang menghubungkan daerah satu dengan yang lainnya rusak parah. Saya memberikan gambaran untuk 2 desa yang berpotensi berswasembada melalui objek wisata di daerahnya :

Di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara. 90% jalannya rusak dan belum beraspal. Untuk objek wisata menuju kawah Candradimuka, warga setempat menuturkan bahwa jalan tersebut telah beberapa kali diaspal, namun selalu rusak [4].

Contoh lain adalah akses jalan menuju wisata Citumang desa Bojong kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran yang rusak parah. Hal tersebut berdampak pada menurunnya jumlah pengunjung yang datang ke objek wisata tersebut. Pengelolaan dan perbaikan jalan dilakukan oleh pemerintah desa setempat. Sehingga, jika dikelola secara optimal dapat meningkatkan penghasilan masyarakat di sekitarnya. Jika pengelolaan infrastruktur baik, maka akan membuat pengunjung banyak yang datang dan terciptalah masyarakat yang berswasembada [5].

Masih banyak contoh lain dengan permasalahan serupa yaitu jalan penghubung ke objek wisata rusak. Dalam kasus ini, inovasi dari balitbang berupa aspal Porus dapat digunakan dalam perbaikan jalan menuju objek wisata. Aspal Porus merupakan hasil inovasi Puslitbang bidang jalan dan jembatan. Aspal ini merupakan salah satu jenis campuran beraspal panas yang dapat digunakan sebagai lapis permukaan. Hasil dari campuran aspal porus memiliki gradasi agregat yang hampir seragam. Manfaat dari aspal porus adalah meningkatkan keselamatan pengendara karena menghilangkan hydroplanning dan meningkatkan kekesatan, ramah lingkungan karena meredam kebisingan dan tahan terhadap deformasi.

Inovasi dari Balitbang sudah teruji kualitasnya di lapangan sebelum dirilis. Produk yang dihasilkan juga mengikuti perkembangan teknologi terkini dan dapat dimanfaatkan di masing-masing lokasi, khususnya di daerah pedesaan. Oleh karena itu, inovasi yang dihasilkan dapat diterapkan untuk daerah-daerah desa yang berpotensi demi mewujudkan desa yang berswasembada. Aspal porus hanya salah satu diantara inovasi yang ditemukan Balitbang yang telah saya paparkan sebelumnya. Lalu bagaimana solusi agar inovasi tersebut juga dapat tersampaikan di tingkat pedesaan? Untuk menginformasikan dan mempublikasikan inovasi-inovasi tersebut, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain:

1.    Koordinasi yang solid antara PUPR khususnya Balitbang dengan instansi terkait lainnya dalam hal pengembangan infrastruktur desa misalnya dengan Kementrian Desa yang sebagian besar dananya juga dialokasikan untuk pembangungan infrastruktur, sehingga inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh Balitbang dapat diterapkan di desa-desa dengan sumber pendanaan dari dana desa.
2.  Pemberian informasi yang massif mengenai produk–produk yang dihasilkan Balitbang PUPR kepada para stakeholder (Bupati, Camat, Kepala Desa). Realitanya, masih banyak kepala desa yang tidak mengetahui inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh Balitbang PUPR, sehingga saat ada permasalahan infrastruktur di tingkat desa, mereka tidak menerapkan inovasi tersebut.

Dengan inovasi yang diciptakan Balitbang PUPR yang diterapkan di desa-desa khusunya dalam perbaikan infrastruktur, maka untuk mewujudkan swasembada desa bukanlah hal yang mustahil. Angka urbanisasi dapat ditekan, dan pertumbuhan ekonomi juga dapat berkembang secara merata di setiap desa. Tentunya implementasi dari hal tersebut dibutuhkan koordinasi yang solid antara Kementrian PUPR dengan instansi-instansi dan para stakeholder serta peran aktif masyarakatnya.

Referensi :
[1] Hermanto Dardak, MSc, Dukungan Infrastruktur PUPR dalam Percepatan Pengembangan Industri, makalah disampaikan pada 18 Agustus 2015

[2] Arie Setiadi Moerwanto, Inovasi Rancang Bangun Infrastruktur Yang Efisien, http://koran-sindo.com/news.php?r=1&n=3&date=2016-06-24, diunduh pada 6 Agustus 2016










Mudahnya Memperpanjang SIM C di Polres Klaten

Memperpanjang SIM C

Bulan ini saya mengecek dokumen-dokumen apa saja yang membutuhkan proses renewal. Dan saya menemukan SIM C pertengahan bulan ini akan habis masa daluarsanya. Sebelumnya saya Tanya-tanya dulu sama teman yang kemarin sempat mengurus dokumen serupa. Testimoninya bikin lega—cepat dan murah kok! Katanya. Dia hanya habis 110rb untuk pengurusan perpanjangan SIM C.

Pagi ini, saya datang ke Polres Klaten bersama Ibu. Sekalian Ibu refreshing :D, padahal di Polres Cuma nunggu doang, tapi itu udah bikin seneng. Maklum, sejak Bapak sakit, Ibu jarang bepergian. Saya memutuskan parker di luar Polres untuk menghindari calo. Fyi, di parkiran Polres banyak banget calo yang berkeliaran. Awalnya nyapa manis banget, nanyain keperluannya apa, ujungnya marketing servis buat bantuin entah pembuatan atau hanya sekadar perpanjangan SIM bahkan jasa pembuatan SKCK yang notabene terbilang mudah dalam pengurusan.

Jujur saya rishi, karena sebagian dari mereka (gak semuanya-red) setengah memaksa untuk membantu. Makanya saya memutuskan untuk parker di luar saja. Saat saya mengunci motor, ada seorang bapak paruh baya nyamperin dan nanyain keperluan saya apa. Saya piker itu tukang parkir, ternyata bukan karena saat menghampiri saya, dia tidak membantu memarkir atau memberikan nomor parkir untuk saya. Saya menjawab lugas “Mau ketemu orang, Pak”. Pria tersebut ber-oh panjang dan meninggalkan saya dan menghampiri seseorang yang mau parkir juga. Saya menjawab demikian biar tidak mendapat pertanyaan lanjutan lagi, toh saya memang benar mau bertemu orang kan untuk mengurus perpanjangan SIM C :p.

Foto Copy
Tahap pertama, saya langsung ke foto copyan yang ada di area Polres. Dokumen yang difoto copy adalah SIM dan KTP. Disana kita akan dikasih paket komplit—map biru plus hasil foto copy tadi. Biayanya 2 ribu.

Periksa Dokter
Tahap kedua, saya disuruh periksa dokter untuk tes buta warna dan sidik jari telunjuk saya. Bayar 40rb.
Asuransi Bhayangkara
Nah, saya tidak tahu kalau untuk ikut asuransi ini hukumnya tidak wajib. Tapi karena saya udah kadung ngumpulin berkas di mejanya, yaudah saya manut. Untuk asuransi bhayangkara bayar 38ribu. Masa berlakunya 5 tahun sama seperti SIM. Sebenarnya di tulisan asuransi hanya tertulis 30rb. Ternyata yang 5rb untuk laminating SIM dan 3rb saya gak tahu untuk apa? Etapi saya lagi males buat nanya-nanya :D.

Ke Provos
Ini ada di bagian depan pintu masuk parkir Polres. Setiap pengunjung meninggalkan KTP untuk mengambil kartu tamu. Tapia da juga sih pengunjung yang langsung masuk aja tanpa mau repot nukerin ID Card :D. Saya tadi ngikutin alur dari tim dokter sebelumnya plek ketiplek.

Loket I bagian pendaftaran
Selanjutnya, saya ke loket I untuk meminta formulir pendaftaran yang harus diisi. Ada nama, alamat, status, dsb… Oh iya, saya ditarik uang 2rb untuk PMI. 

Loket BRI
Setelah mengisi formulir, saya mengantri untuk pembayaran di loket BRI. Untuk SIM C biayanya 75rb. Lengkap membayar biaya administrasi, saya kembali ke loket I untuk menyerahkan berkas formulir, surat dokter, SIM asli dan bukti bayar. Lalu dipanggil oleh petugas loket III untuk mengambil antrian foto.

Sessi foto
Jujur saya paling gak hoki kalo foto resmi, entah untuk ijazah, raport atau ID Card. Pokoknya yang sifatnya resmi deh. Seringkali ada yang gak sreg—senyum gak simetris lah, kepala agak miring lah, yang paling parah, mata saya merem :D. Kalo SIM atau KTP kan sekali jepret dan gak diulang lagi, jadi wajib bismillah biar hasilnya bagus. Macam pemilihan presiden, kalo gak sreg, nunggu 5 tahun buat ganti lagi,ahahaha.
Tetapi Alhamdulillah, tadi hasil foto SIM saya, kepalanya agak miring ke kanan, ahahaha. Teman-teman suka gitu gak sih? Tapi saya gak sebel, karena tadi polisi yang motret easy going. Jadi pas sessi foto, beliau ramah dan ngajak ngobrol hangat. Itu udah jadi alas an pemaaf,ahaha. Tahap-tahapnya udah selesai, tinggal nunggu aja hasil SIMnya. Teorinya Cuma 20menit, tapi prakteknya bisa 1,5jam tergantung antrian. Sabar bro-sist, polisi juga manusia :D. Oh iya, karena wara-wiri, saya menyuruh Ibu duduk di peron tempat pemeriksaan dokter. 

Mudah kan? Iya mudah, kalo tahu cara dan alurnya :p. Cepet kan? Iya, cepet dari kacamata saya. Tapi kalo dari kacamata ibu saya yang nunggu di depan ruang tunggu dokter, 2 jam itu lamaaaaa. Jadi, mudah dan cepat itu tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya,ahaha.


Kalo perpanjang melebihi daluarsa, bisa gak?
Secara aturan, kalau telat renewal SIM, kita diwajibkan untuk membuat baru. Tetapi, ketentuan itu berlaku di beberapa daerah dan di Polres Klaten masih memberikan toleransi 3 bulan dari masa daluarsa. Jadi missal SIM saya habis 15 Agustus 2016 nih, jadi saya diberikan masa tenggang untuk melakukan renewal sampai bulan 15 November 2016. Itu ketentuan sekarang lho ya! Ketentuan bisa sewaktu-waktu berubah. Karena setiap Polres memiliki kebijakan masing-masing.

Total Biaya
Untuk Perpanjang SIM plus parkir habis 156rb belum termasuk konsumsi :p.


Momen Ceria di Lebaran Tahun Ini

Hallo semua, bagaimana syawalnya? Udah mau habis nih sebentar lagi. Ah iya, ada yang lain di lebaran  tahun ini. Kali ini pengen banget cerita momen-momen ceria dari mulai mempersiapkan lebaran, pas lebaran sama setelah lebarannya. Jadi, tahun ini saya tidak melaksanakan mudik seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak begadang tiket kereta 90 hari sebelum lebaran. Hal itu karena saya sudah pindah ke Klaten sejak Maret lalu.
A photo posted by ayaa (@cahayatheprinces) on

Momen Ceria Persiapan Lebaran

Ceria Berbagi

Biasanya setiap lebaran, Bapak membuat list kaum dhuafa, janda dan yatim piatu untuk dapat jatah zakat Mal. Kami memilih mengantarkannya satu per satu karena  simple dan memang lebih sreg dibandingkan mengundang mereka ke rumah untuk pembagiannya. Nah, saya kebagian mengumpulkan dana dari Mas-Mas saya dijumlah dan dimasukkan ke amplop sesuai dengan nama penerima yang dibuat Bapak. Selain melihat keceriaan mereka, saya juga sempat berkaca-kaca saat memberikan setiap amplop itu. Banyak doa yang terlantun dari mereka. 

Di desa juga banyak yang melakukan hal yang serupa. salah satunya program perdana "Pekan Ramadhan Oemah Sinau yang membagikan infak, sodaqoh dari donatur kepada kaum dhuafa. Ah, cerianya berbagi menjelang hari nan fitri.

Menyiapkan Uang Baru

Sebelum lebaran kemarin, saya menukarkan uang baru ke bank. Teman-teman juga? Biasanya Mbak Era juga membawa uang pecahan 5ribuan dari kantornya, sehingga saat kerabat ngumpul, mereka akan kebagian beberapa lembar. Dan itu membuat wajah mereka sumringah dan ceria. Karena wajah saya masih kelihatan SMA (*eh), kadang-kadang saya juga kebagian jatah mendapat angpau dari Mbah-Mbah lho. Mereka beranggapan kalau lelaki/perempuan yang belum menikah itu masih mendapat jatah uang fitrah. Kyaaaaa.

Menyiapkan Baju Baru untuk Anak-Anak

Sebenarnya, saya tidak berniat untuk membeli baju baru untuk lebaran. Saya berpikir baju yang lama masih bagus untuk dipakai untuk sholat Id. Tetapi, saat Iqbal, Ihsan dan Khansa meminta Bapak Ibunya untuk membelikan baju baru, saya pun diajak serta. Dari awalnya yang gak mau ikut karena menyadari pasti toko baju bakalan ramai, tetapi akhirnya ikut juga dengan syarat memilih Ramadhan  yang tidak ganjil dan sepulangnya membeli baju lebaran, harus tarawih jamaah di rumah sebagai ganti absen tarawih di masjid. Anak-anakpun setuju. Mereka ceria saat memilih baju dengan setelan celana lebaran mereka. Saya memberi masukan untuk beli kemeja saja bukan baju koko, karena kalau kemeja bisa dipakai pas acara  resmi di sekolah atau pesta. Pengalaman membelikan mereka baju koko, ending-nya hanya dipakai sekali dan pas Jum'atan saja. heuheu.

Menyiapkan Hidangan Lebaran

Teman-teman membuat hidangan lebaran apa membuatnya sendiri? Kami lebih memilih membeli dengan alasan praktis. Nastar dan putri salju menduduki peringkat teratas karena keduanya sangat digemari oleh anggota keluarga maupun tamu. Astor, wafer, aneka permen dan coklat. Pokoknya, meja ruang tamu penuh dengan hidangan untuk anak-anak maupun orang tua. Mulai yang tekstur empuk sampai yang keras. Dari rasa gurih, asam, pedas, pokoknya komplit. Untuk minuman, kami menyediakan air mineral. Beberapa tamu yang menginginkan teh atau kopi juga bisa berbahagia, karena di rumah stoknya gak pernah habis. Memuliakan dan memanjakan tamu termasuk sunah kan? :)

Menyiapkan Parcel Ba'dan

Kalau ditempat saya namanya ba'dan. Jadi, Ibu membungkusnya seperti parcel yang isinya gula, roti, teh atau lauk seperti ayam ingkung. Ba'dan tersebut diantar ke beberapa kerabat yang secara silsilah keluarga dianggap dituakan, misalnya : simbah, pakdhe. Dulu waktu saya kecil, hal seperti ini adalah salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu, karena biasanya kalau mengantarkan ba'dan, saya akan sekalian dikasih uang fitrah. Kalau sekarang udah malu,hihi. Setiap usia punya masa kan ya :).

Khataman

Hayo, siapa kemarin yang sebelum Ramadhan memiliki target khatam sebelum lebaran? Kemarin saya juga ikut menyiapkan acara khataman untuk anak-anak yang dibarengi dengan pembagian   hadiah lomba sholat, baca qur'an dan adzan. Padahal hadianya hanya 2 buku dan pensil, tetapi mereka excited banget. Apalagi saat acara inti khataman yang membaca juz 30 bersama-sama, suara mereka nyaring bunyinya. Helllow, semoga khatamannya gak pas Ramadhan aja ya, tapi after lebaran juga. Amin.

Momen Ceria Pas Lebaran

Sholat Idul Fitri di Masjid 

Masih inget sunah-sunah sholat idul fitri? Itu lho, yang kalau pagi disunahkan makan atau minum hanya sedikit, trus disunahkan juga kalau berangkat ke masjid rutenya dianjurkan berbeda dengan rute saat pulang ke rumah. Kayaknya apal banget deh, tapi jangan salah lho, untuk yang poin pertama tentang makan dan minum itu kadang saya luput, karena masih terbawa seperti puasa. Seringkali udah  minum seteguk aja masih sempat membatin "Eh ini udah gak puasa kan ya?". Wajah-wajah ceria anak-anak pas mau berangkat sholat Id ke masjid adalah saat mereka menceritakan puasa mereka. Kebetulan Khansa bolong 3 hari karena sakit, Iqbal 1 hari dan Ihsan alhamdulillah lulus. Kami sekeluarga berjalan kaki menuju masjid, sesekali takbir, berkali-kali ngeliatin anka-anak yang lari kesana kemari. Tahun ini, kakak pertama saya, Mas Agus, tidak sholat Idul Fitri di rumah karena harus jaga lalu lintas. Aaaaa, polisi di hari besar, jarang bisa ngumpul.

Sungkeman

Setelah sholat Id, kami berkumpul di ruang tamu. Biasanya menunggu Bapak Ibu untuk bergiliran sungkeman. Meski setiap tahun sungkeman, entah mengapa saya selalu deg-degan dan bercucuran air mata. Saya mengucapkan dengan bahasa Jawa halus. Karena saya anak bungsu, saya kebagian di sesi sungkeman paling akhir. Yang bikin tambah sesenggukan, setelah sungkeman, biasanya langsung memeluk dan mencium Bapak Ibu. Lha, Bapak juga pake embel-embel puk-puk punggung sama ngusap-usap kepala saya. 2 hal yang paling saya suka sejak kecil. Keceriaan di sela keharuan? Ah, bahkan saat menangispun terselip kebahagiaan kan.

Jaga Rumah, Nemenin Bapak Ibuk

H+2 lebaran, rumah sepi karena Mas-Mas saya giliran ke rumah mertua mereka. Saya? Karena belum punya mertua, saya jaga rumah sambil menemani Bapak Ibuk. Karena Mas Jundi (yang no.2) jadi kepala desa, biasanya ada warganya yang datang berkunjung entah untuk silaturahmi atau minta surat pengantar. Surat pengantar nikah yang lagi ngehits kalau pas lebaran tiba. Ah, balik ke topik yang gak bikin baper. Saya ngobrol sama Bapak Ibu banyak hal. Tentang kesehatan, Mas-Mas yang sedang di rumah mertua dan masa depan saya. Ujung-ujungnya sudah bisa ketebak kalau Bapak itu mau nanyain tentang "nikah nikah nikah" :D. Jawaban saya pun diplomatis tanpa menyakiti perasaan beliau. Biar sama-sama ceria gitu lho.

Halal bi Halal
A photo posted by ayaa (@cahayatheprinces) on


Tahun ini saya kebagian jadi sie Acara untuk halal bi halal Desa. Menarik sih, karena acara tersebut melibatkan anak-anak, remaja dan orang tua. Ada ikrar maaf-maafan, games dan musikal. Dan yang membuat saya lebih bahagia adalah momen kebersamaannya. Bayangkan saya, anak-anak rantau juga datang bertukar cerita setahun kemarin ngapain aja di Jakarta, dan sebaliknya sejak ada Oemah Sinau, remaja yang ada di rumah tidak kehabisan cerita. Bahkan para perantau envy untuk pulang dan mencari kerja disini. Ah iya, acara ini diadakan di dekat mushola pas H+3 lebaran. Di tempat teman-teman juga ada acara halal bi halal? let me know your story about this.

Silaturahmi Keliling

Sampai H+3, rumah masih ramai silih berganti tamu-tamu yang mau silaturahmi. Selain rame warga Mas Jundi yang datang berkunjung, juga saudara dari Bapak Ibu. Nah, di H+4 lebaran, giliran kami yang keliling untuk mendatangi kerabat yang dituakan. Ada istilah kumpul trah dimana keluarga dari buyut berkumpul jadi satu tiap tahun entah mengadakan arisan atau halal bi halal. Hal itu bertujuan agar silaturahmi tetap terjaga. Kalau kemarin, kami memilih naik motor untuk mengunjungi salah satu simbah dari keluarga Ibu. Karena jalan untuk menuju ke rumahnya sulit untuk dilalui mobil. Anak-anak cerianya bukan kepalang. Sepanjang perjalanan, mereka bersenandung dan bertanya ini-itu. Apalagi saat melihat area menuju rumah kerabat yang ingin dikunjungi menanjak.
Pasar Malam

Di Klaten, banyak spot untuk memanjakan anak-anak. Biasanya di alun-alun Klaten ada pasar malam, di Wedi juga ada ding. Yang ramai tiap tahun adalah pasar malam Jimbungan. Kemarin saya dan anak-anak juga sempat ke pasar malam untuk mencoba beberapa permainan. Ada der-molen, ombak banyu, kemidi putar, dan masih banyak yang lain.Eh iya, meskipun setiap tahun ada pasar malam, saya juga merasa ringan kalau diajak kesana. Padahal cuma itu-itu saja. Pengalaman konyol kemarin saat saya, Laras, Mayang dan Yayuk pergi ke pasar malam Jimbungan. Saya juga mengajak Iqbal dan Ihsan ikut. Sesampainya disana, mereka langsung pengen naik kora-kora. Saya yang ditawari untuk naik langsung menolak karena tahu kalau naik itu, pasti endingnya bakalan mabuk dan muntah :D. Saat meraka turun dari kora-kora, Laras sih masih aman meskipun masih gemetar, Iqbal-Ihsan jempol banget bisa menikmati. Tetapi Yayuk sama Laras wajahnya pucat pasi. Mereka berdua muntah-muntah. Alhasil, kami memutuskan mencari tempat makan yang panas-panas biar mereka rileks. 
A photo posted by ayaa (@cahayatheprinces) on


Keceriaan Lebaran juga Butuh Diperjuangkan

Mengapa keceriaan di momen lebaran juga butuh perjuangan? Karena akan ada saja pertanyaan-pertanyaan, kejadian-kejadian yang di luar ekspektasi kita. Pengennya lebaran adem ayem, eh ternyata gara-gara segelintir orang jadi ambyar. Itu kalau kita tidak memperjuangkan lho ya. Misalnya, di sela-sela  silaturahmi atau pas halal bi halal, ada saja yang menanyakan "Kapan nikahnya?" "Kok belum isi juga sih?" atau pertanyaan lain yang untuk sebagian orang bisa membuat mood terjun bebas. Itulah kenapa kalau keceriaan itu juga membutuhkan perjuangan. Tidak membiarkan orang lain mengintervensi kita untuk bahagia. Itu sudah cukup. Tetap ceria saat lebaran tiba :)

Trus, harus diperjuangkan juga agar lebaran bukan menjadi antiklimaks ramadhan. Saat ramadhan, shalat tahajud gak pernah bolong, tilawah dan tadabur quran juga gak pernah absen, tapi pas lebaran malah memble. Ah pokoknya jangan! Kita wajib memperjuangkan untuk itu. Karena pengalaman dari tahun kemarin dan tahun ini, saat memegang ODOJ (One Day One Juz), kelihatan sekali seminggu setelah lebaran seperti lesu untuk tilawahnya. Padahal pas ramadhan berasa ringan banget buat nyelesein 2-3 juz sehari. Dalam 1 grup, saat ada yang lesu begitu, cepat sekali menular ke yang lain. Saya juga sempat tergopoh-gopoh untuk menemukan ritmenya kembali di tengah tour halal bi halal, silaturahmi dan piknik keluarga. Kalau sudah begitu, istighfar adalah cara paling ampuh dan memanfaatkan syawalan untuk meningkatkan kembali "keceriaan" ibadah kita agar Syawalan rasa Ramadhan. 

Teori obat hati memang mujarab sekali. Di grup ODOJ yang saya pegang, tidak berlama-lama untuk menemukan ritme tilawah mereka. Membaca quran dan maknanya bisa menjadi ketenangan tersendiri. Jadi, meskipun banyak kegiatan saat lebaran, tetapi kita tetap enjoy untuk beribadah agar batin tidak gersang. Salah dua dari obat hati lainnya adalah berkumpul dengan orang sholeh/sholehah. Nah biar bisa kumpul sama orang sholeh/sholehah, kebetulan banget Diaryhijaber mengadakan acara dalam rangka Hari Hijaber Nasional lho. Check it out acaranya :

Tanggal: 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
Tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat

Acaranya keren kan? Yuk ah dateng.

Ini cerita momen ceria lebaranku tahun ini. Kalau kalian gimana ceritanya guys? :)

Berbagi Pengalaman Mendaki Gunung Bersama Jiah

Kalau ditanya hal apa yang pengen dilakukan saat weekend, jawaban saya adalah mendaki gunung. Daridulu pengen banget, tetapi belum kesampaian. Udah booking teman yang hobby naik gunung dan milih-milih gunung mana yang cocok untuk pemula, tapi tetap saja masih sekadar "pengen". Tiap melihat foto-foto gunung, kaki rasanya pengen lari merasakan aroma debu yang berkelebat, nikmatnya peluh saat tracking. Tapi sayangnya masih berupa bayangan, belum jadi kenyataan.

Saya juga sering melipir ke eiger atau toko-toko perlengkapan buat mendaki gunung. Melihat-lihat krail, sepatu dan perkap lainnya yang harganya duileeeeh, sempat mau membeli tetapi teman saya bilang jangan beli dulu. Dia mungkin tahu kalau saya cuma anget-anget tahi ayam, pengeeeeeen banget tetapi ada aja alasan untuk melakukannya. 

Kemarin di group rumpi Arisan BP, salah satu PIC kami bernama Jiah juga pernah menceritakan pengalaman pertamanya naik gunung. Jiah pernah menceritakan pengalaman persiapannya mendaki ke Gunung Andong. Membaca postingannya saja saya sudah bisa membayangkan betapa excitednya dia saat mau mendaki. 

Pemilik blog www.jiah.my.id ini secara terpisah juga menceritakan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan saat mendaki. Kalian juga mau mendaki gunung? Nah, simak baik-baik perlengkapan yang harus dibawa berikut ini ya:

1. Carrier
Itu lho, tas yang guedeee memanjang. Kalo di postingan Jiah sih, untuk pemula mending beli yang kapasitasnya 60 liter. Awalnya sih saya belum ngerti kapasitas 60 liter. Tetapi menurut saya tergantung kebutuhan teman-teman, misal mau bawa apa, trus berapa hari. Kalau cuma 2-3 hari, pakai yang kapasitas 30-50 liter aja sudah cukup. Ah iya, disesuaikan dengan bentuk tubuh juga ya, biar gak terlalu jomplang pas mendaki :D.
Sssst, Jiah masih single lho :) on


2. Celana panjang dan atasan yang tebal
Setuju banget yang dituliskan Jiah pada blognya untuk menghindari memakai celana jeans yang ketat untuk kenyamanan. Mending celana training atau sejenis kaos yang agak longgar biar nyaman pas mendaki. Untuk atasan, pilih yang agak tebal dan berbahan katun agar mudah menyerap keringat.

3. Sleeping Bag
Aaaa, ini yang kemarin pengen dibeli cuma ada teman yang berbaik hati minjemin, etapi sampai sekarang malah belum mendaki, huks. Sleeping bag ini berfungsi untuk tidur saat di gunung agar tidak dingin.

4. Sepatu Tracking
Untuk sepatu juga perlu teman-teman perhatikan, usahakan memilih yang tidak licin dan tidak selip karena kadang kita gak tahu kan kondisi cuaca. Saat hujan, areanya bisa jadi licin banget. 

5. Tenda
Tenda bisa dibawa bareng tim. Jadi, keuntungan mendaki gunung rombongan itu salah satunya bisa spare barang bawaan.

6. Jaket dan Kaos Tangan
Item ini jangan sampai lupa, karena hawa gunung itu "katanya" duingin banget. Jadi jangan jumawa gak bawa jaket atau kaos tangan :p

7. Kantong Sampah
Go green dong ah, mendaki karena niatnya menyayangi dan ingin lebih mendekat dengan alam, maka pas pulangnya please jangan meninggalkan sampah.

Itu tips yang dishare Jiah, teman blogger saya yang udah pecah telur mendaki :D. Oh iya, yang mau belajar flash fiction, boleh lho intip-intip blognya Jiah, diksinya bikin baper :p.