Rindu Bapak pada Baitullah


Tahun 2011, mata Bapak berkaca-kaca. Beliau bercerita keinginannya untuk pergi ke Baitullah, salah satu rukun Islam yang terakhir yang sangat ingin ia jalani bersama Ibu. Saya membantu pengurusan administrasi dan pembayarannya.

Waktu tunggu pada tahun itu belum seekstrim sekarang. Padahal, menurut Bapak, waktu tunggu 5 tahun itu rasanya lama sekali. Lha kok ternyata sekarang malah hitungan belasan bahkan puluhan tahun. Ya Allah.

Bisa dibayangkan, Bapak hampir seluruh hidupnya mengabdi menjadi guru. Gajinya disisihkan sedikit demi sedikit untuk pergi haji bersama ibu. Untuk urusan keuangan dan skala prioritas, saya tidak perlu mempertanyakan lagi. Bapak mampu menyekolahkan kami sampai perguruan tinggi. Ah iya, dulu pamor guru belum segemerlap sekarang yang ada tunjangan ini itu dan sertifikasi untuk pegawai negeri.

Bapak sangat yakin dan meniatkan dirinya dengan ibu untuk pergi kesana berdua. Meskipun waktu itu belum ada biayanya.

Kado Umroh

Kalau lancar, seharusnya Bapak dan Ibu bisa berangkat haji di tahun 2016. Bapak dan Ibu menguatkan diri baik secara lahir dan batinnya agar masa tunggu itu terasa tidak terlalu lama. 

Pandangan Bapak waktu itu sangat sederhana. Punya uang, bayar haji, dan berangkat. Kalaupun harus menunggu, masa tunggunya tidak sampai 2-3 tahun. Saya juga paham, bahwa mulai muncul kekhawatiran Bapak Ibu, dan pertanyaan-pertanyaan kuat gak ya kalau 5 tahun pergi haji. Mengingat Bapak Ibu sudah sepuh. 

Iman memang selalu begitu bukan? Kadang menggelitik dengan pertanyaan yang menguji keyakinan kepada Allah. Bahwa Allah yang Maha memampukan. Maka, Bapak memberikan pengertian kepada Ibu untuk sabar menunggu. Yang penting kita sudah niat, Bu. Ujarnya menenangkan.

Benar saja. Tahun 2012 Bapak dan Ibu mendapat kado istimewa. Umroh berdua. Jangan tanya ekspresinya, mereka berdua menangis! Tiketnya dibelikan Mas Joko dan Mbak Era. Berangkatnya bareng sama besan. Dalam perjalanan umroh itu, rasanya banyak sekali kemudahan, dari mengurus persiapannya hingga sampai disana. Padahal sebelum berangkat umroh, kesehatan Bapak dan Ibu agak menurun.

Sepulang dari umroh, wajah Bapak dan Ibu sangat sumringah. Banyak cerita dari Makkah dan sudut Madinah yang mencuri perhatiannya. Seakan kegelisahan mereka tentang masa tunggu haji, dijawab oleh Allah dengan umroh.

Oh iya, setelah mengumrohkan Bapak Ibu, Mas Joko juga pergi ke Mekkah dapat umroh gratis dari tempat kajian di kantornya. Dia saja gak percaya pas cerita, karena seumur-umur belum pernah menang undian, apalagi langsung umroh gratis tis tis.
Allah Maha Memampukan…

Saat Masa Tunggu Berlalu


Sejak tahun 2016, Bapak selalu meminta tolong saya untuk mengecek web Kemenag untuk keberangkatan hajinya. Saya disuruh mencatat nomor kursinya, sehingga bisa setiap saat ngecek sendiri.

Setiap obrolan di telpon kami, Bapak tidak luput dari pertanyaan “Di website belum ada kabar, wuk?”, jawaban saya masih sama. Belum. 

Sampai di penghujung November 2016, saya iseng-iseng ngecek website Kemenag lagi dan Alhamdulillah Bapak Ibu insya Allah masuk daftar pemberangkatan tahun 2017. Meski kesehatan Bapak dan Ibu sempat berangsur menurun—Bapak sempat TBC dan Ibu pernah  stroke ringan yang menyebabkan tangan kanannya tidak dapat digerakkan. Tetapi kabar ke Baitullah seperti oase penyemangat mereka berdua.

Awal tahun ini, mereka jadi lebih semangat menjaga pola makan, jalan-jalan pagi untuk melatih staminanya, membaca amalan-amalan dan doa untuk di Mekkah. 

Allah apikan banget ya, wuk” kata Bapak saat kami duduk berdua.

Saya hanya diam sambil senyum-senyum saja.

“Alhamdulillah Bapak wis mari, kowe wis rabi, lha iki trus dikon haji”, Bapak melanjutkan kalimatnya.

Hari ini, Bapak genap 69 tahun. Semoga berkah usianya ya, Pak. Semangat sehat karena rindu ke Baitullah akan segera terobati. 

Semoga Allah selalu mencurahkan cinta padamu dan Ibu ya, Pak. Bahagia selalu!


Berenang Seru di Green Lake View Waterpark Depok



"Bulik berenang yuk?" Pagi-pagi Dio udah ke lantai atas ngajakin renang.

"Iya Liiik. Ayoo!" Deandra gak mau ketinggalan heboh padahal dia habis demam 3 hari dan absen sekolahnya.

Depok cuacanya sedang galau. Beberapa hari terakhir, setiap shubuh sudah gerimis. 

"Dea kan belum sembuh bener, Dik?". Mereka berdua kompak pengen BERENANG. Gak peduli mau gerimis, cuaca galau, atau Buliknya yang galau, pokoknya berenang.

Kalo Dio ngebet, gak ketinggalan adiknya ikut di garda paling depan. Pokoknya renang. Titik.

Dio keluar ke balkon lantai atas. "Udah gak gerimis Lik. Tuh liat, kolam renangnya keliatan dari sini. Ayo ah!"

Saya pikir, Dio mau renang ke BCI, tempat renang yang biasanya dia datangi dengan nanny nya. Tapi ternyata bukan. Green Lake View Waterpark ini baru sebulan dibuka. Jarak dari rumah cukup dekat sih--1,5 kilo.

Saking semangatnya, anak-anak menyiapkan baju renang dan baju gantinya sendiri. 

"Tuh Lik, kata Mama, boleh renang kok. Nih bajunya" Dio kalo udah PENGEN, kayak pegawe marketing deh. Rayuannya bikin ampun.

Suami yang mager daritadi, tiba-tiba beranjak dan nawarin mau nganter. Akhirnya, kami naik motor berempat, Dio di depan, Dea di belakang. Sepanjang perjalanan, Dio menjadi pengarah jalan, karena memang cuma dia yang tahu tempatnya.

Welcome to Green Lake View Waterpark


"Dio, kok sepi? Belum buka kali, Mas" Tanya suami saya.

"Udah Om. Sana parkirnya" 

Di depan kolam renang ada bangunan tinggi. Sepertinya mau jadi apartemen. Benar saja, sampai di kolam renang baru beberapa pengunjung yang datang. Saya membeli tiket masuk di loket. Fyi, harga tiket masuknya kalo weekdays 25 ribu, weekend 40 ribu. Kalo punya KTP Depok dan lingkup Jabar, dapat diskon 10%. 

Pintu masuk dan keluar dibagi terpisah, jadi untuk yang mau masuk ke kolam renang belok kiri sedangkan pintu keluarnya dipusatkan di sayap kanan. Enak sih, karena gak akan bentrok dengan pengunjung yang mau keluar.

Cuacanya masih galau. Sebentar gerimis, deras, reda. Beberapa kali seperti itu. Tetapi semangat anak-anak tidak kalah hanya dengan gerimis. Mereka berteduh saat hujannya mulai deras. Itupun tidak bertahan lama.

Dio dan Dea mencoba semua wahana. Dio sudah berlari kesana kemari. Dea masih agak takut-takut mencoba satu per satu. 

"Om, temenin naik ituan Om" Dea meminta Omnya untuk nemenin mainan perosotan yang kanan kirinya ada kincir airnya. 

Di area kolam dewasa, ada 3 perosotan yang menantang adrenalin pengunjung. Perosotannya berwarna kuning, hijau dan biru. Untuk perosotan yang warna kuning, race nya agak pendek dan masih friendly lah untuk dicoba karena race nya lempeng. Yang berwarna hijau, race yang dicoba suami, agak berkelok-kelok dan lumayan membuat hati dag dig dug. Yang terakhir, perosotan berwarna biru, race nya sama dengan  perosotan warna hijau, tetapi untuk perosotan warna biru harus menyewa ban, karena memang penopangnya agak lebar dibanding yang lainnya.


Oh iya, tempatnya instagramable. Di beberapa spot kolam, angle nya bagus buat foto. Jangankan di kolamnya, di pintu masuk saja tangan saya udah gatel banget pengen ngambil foto anak-anak dan Omnya. Dan apesnya, saya gak ada yang motoin 😁.

Di pinggir-pinggir kolam renang ada tempat santai untuk keluarga dengan payung sponsor 😆. Saya prefer duduk di salah satunya karena memang hujan. Sebenarnya ada locker yang disediakan, tetapi saya kemana-mana bawa tas baju ganti mereka takut tiba-tiba minta pulang. Eh dugaan saya keliru, ternyata mereka betah banget sampe adzan dhuhur belum selesai.

Pas Adzan, Dio Dea berlari ke arah saya, "Liiiiiiik, bawa makanan gak?" ahahaha. Saya menggeleng. Saya jadi inget Mamanya Dio yang komplit banget alat perangnya kalo mau pergi ke suatu tempat. Pampers, susu, makanan, mainan, baju doble dan remeh temeh lainnya kebawa. Kalo saya? Tadi mau bawa plastik buat baju kotor aja LUPAAAAAAK!

Kurang lebih, berikut testimoni kami (karena anak-anak sama omnya ikutan ngasih testi juga ⚽😄)

Parkir luas. Buat suami, kenyamanan parkir adalah nomer 1. Parkirnya luas banget (apa gara2 masih baru ya?). Karena hujan, ada petugas yang berjaga buat ngasih mantel di tiap-tiap motornya. Pas mau keluar motor, petugasnya juga mbantuin. Selain itu, jarak parkir dengan kolam gak jauh. Kan ada tuh, parkirnya dimana, kolamnya dimana. Sebelum renang udah gempor duluan kakinya, huhu. 


Foodcourt. Bagi yang gak bawa makanan kayak saya, tenang ibuk-ibuk, disana ada foodcourt. Indomie, ketoprak, roti bakar, nasi ayam. Oh iya, untuk membeli di foodcourt, pengunjung harus to up dulu di kasir. Di pintu masuk tadi, selain membeli tiket, kita juga diberikan gelang yang berfungsi untuk alat membeli atau makanan di foodcourt. Top up nya juga di sekitar  food court kok, jadi gak harus bolak balik ke loket lagi.  

Mushola. Nah ini penting banget. Kalo udah berenang, waktu kayak berasa cepet banget. Seringkali anak-anak susah banget diajak pulang. Di Green Lake, ada mushola yang cukup luas dengan wudhu yang terpisah. Jadi cowok sama cewek gak berbaur. Ini testimoni jujur saya 💓. Makasih untuk musholanya yang bersih, Green Lake!


Loker. Ada fasilitas loker juga lho. Jadi yang gak mau ribet bawa-bawa tas, bisa banget ditaruh di loker. Lokernya pun terpisah antara boys and girls. Ah sukak! 

Wahana Permainan. Anak-anak suka banget sama wahana yang disediakan disana. Kombinasi tangga, air mancur, perosotan. Dio dan Dea nyobain dari ujung ke ujung.
Green Lake View Waterpark Depok



Kaporit. Alhamdulillah kaporitnya gak menyengat banget. Saya suka sebel kalo berenang, aroma kaporitnya pekat banget. Jadinya berenangnya gak khusuk! Lha emangnya mau salat? Hish.

Wanna Come Again? Kalo anak-anak sih sebelum saya pulang, Dio selain bilang makasih, dia juga bilang "Besok kalo Bulik ke Depok, kita beranang kesono lagi yak?". Dea juga demikian. Suami masih penasaran pengen nyobain perosotan yang warna biru. Kalo saya cuma manggut-manggut aja. Iya, besok kita ke Green Lake lagi.

Dio cerita ada salah satu spot seru di salah satu wahana kolam renang

Dio sedang membujuk Omnya buat ikutan berenang, dan akhirnya beneran ikut pas yang ngerayu Deandra :D

Yang deket Depok dan nyari alternatif kolam renang yang menyenangkan, Green Lake View bisa menjadi rekomendasi tempat renang di akhir pekan. 

Terima kasih telah membaca cerita #WeekendAsyik Saya, kalo teman-teman menghabiskan kemana weekend kemarin?





Taman Kaulinan, Tempat Bermain dan Belajar yang Mengasyikkan di Bogor

Bogor

Sabtu dan Minggu kemarin, saya main nginep di Depok. Rasanya kangen banget sama Dio dan Dea. Karena suami ada kerjaan, makanya saat izin buat main ke Depok langsung di acc. Malam Minggunya, tiba-tiba saya pengeeeeen banget senam atau jogging, karena memang rasanya 2 minggu terakhir ini belum olahraga. huhu

Kebetulan Asinan Blogger mau ngumpul di Lapangan Sempur, Bogor untuk menghadiri peresmian Taman Kaulinan. Aaaah, hidup seperti kebetulan yang menyenangkan. Bisa ketemu Asinan Blogger, olahraga sekalian ikut peresmian Taman Kaulinan. 

Minggu pagi habis shubuh, saya udah rapi. Mamanya Dio sempat kaget karena pagi-pagi saya udah manasin motor. Awalnya pengen ngajak Deandra sih, tapi melihat wajahnya yang pulas, saya gak tega membangunkannya.

Naik KRL, Sambung Gojek

Depok-Bogor itu didekatkan dengan KRL 👯. Jadi, 5 tahun saya tingga di Depok, kalau ada acara di Jabodetabek tidak merasa was-was karena ada KRL. Dulu sebelum ada ojek online, saya menghafal rute busway. KRL sambung busway, aman sampai tujuan. Sekarang mau kemana-mana lebih enak lagi sejak ada ojek online. Mau buta arah peta, asal bisa tahu stasiun mana paling dekat dengan tempat tujuan, tinggal nyambung dengan gojek. Udah deh sampai. 

Meskipun masih pagi, Stasiun Pondok Cina sudah banyak penumpang yang antri untuk membeli tiket. Saya ikut kereta yang jam 5.45 ke arah Bogor.

Sesampainya di Stasiun Bogor, saya langsung memesan Gojek biar lebih cepat sampainya. Dan ternyata, untuk keluar dari Stasiun Bogor menuju si abang Gojek, saya harus muter agak jauh. Niatnya kan emang jogging, ya? 😆. 

Beruntung saya dapet driver Gojek yang baik. Di luar ekspektasi saya, jalan menuju lapangan Sempur ramai sekali. Di jalan raya penuh dengan mobil, motor dan angkot, sedangkan di sayap kanan dan kiri jalan dipenuhi warga Bogor yang jalan sehat menuju Sempur.

Teman-teman sudah menunggu di area taman Kaulinan dekat sungai, tetapi pas saya mau turun lewat tangga, pak polisinya gak ngebolehin, huhu. Si abang gojeknya nawarin ngedrop di pintu masuk taman ekspresi. 
Suasana di Lapangan Sempur
Banyak banget warga Bogor yang antusias datang ke lapangan Sempur. Sepanjang jalan saya masuk dari taman Ekspresi hingga taman Kaulinan, saya mengamati banyak muda mudi bahkan keluarga yang jogging.

Taman Kaulinan, Tempat Bermain dan Belajar

Bertemu dengan Teman Blogger
Akhirnya setelah mencari-cari, saya menemukan taman Kaulinan. Ada adik-adik yang menari dengan alunan lagu tradisional. Mereka sedang berlatih untuk penyambutan Bapak walikota Bogor, Bima Arya, yang nanti akan meresmikan taman Kaulinan. Saya juga cipika-cipiki dengan Asinan teman-teman Blogger. Yes, finally we met.


Taman Kaulinan berasal dari bahasa Sunda yang berarti permainan. Bukan tanpa alasan, pemilihan nama ini dikarenakan kota Bogor memiliki latar belakang sejarah Sunda yang sangat kental. Taman ini dirancang secara modern, namun tetap memegang konsep kebudayaan daerah setempat. Dengan adanya taman Kaulinan, diharapkan anak-anak di sekitar Bogor dapat aktif di alam terbuka sehingga dapat melatih kemampuan motorik mereka. Di saat peresmiaannya, dibuka dengan tarian dengan alunan nyanyian tradisional yang apik.
Dibuka dengan tarian tradisional

Oh iya, taman ini dibuat khusus dan telah memenuhi standar keselamatan serta keamanan anak-anak untuk bermain. Sehingga para orang tua tidak perlu was was jika putra putrinya bermain di taman Kaulinan. Di taman Kaulinan juga dibangun gazebo dimana anak dan orang tua dapat bersosialisasi dan bercerita setelah bermain. Gak salah dong ya kalau Taman Kaulinan menjadi tempat bermainan dan belajar yang mengasyikkan?
Anak-anak asyik bermain



Berdasarkan informasi yang disampaikan Bapak Solihin selaku Corporate Affairs SAT, waktu pengerjaan taman Kaulinan ini bersamaan dengan revitalisasi lapangan Sempur per 25 Juli 2016. Taman seluas 600 meter persegi selesai dan dioperasikan lengkap dengan beragam permainan tradisionalnya per Januari 2017. Asyik banget kan? Permainan yang dapat dinikmati anak-anak sangat edukatif: engklek, enggrang, rumah pohon dan permainan ular tangga. Disana juga ada spot selfie juga lho, lengkap banget kan?



Dalam sambutannya, Bapak Bima Arya selaku walikota Bogor menyampaikan apresiasinya. Beliau mengatakan bahwa pembangunan taman-taman kota tidak hanya dipandang sebagai penambahan ruang terbuka hijau. Namun, hal tersebut juga bertujuan untuk membangun karakter warga. Taman adalah oksigen jiwa Jadi, dengan adanya taman-taman tersebut membuat kota Bogor sebagai kota untuk keluarga dimana saat Sabtu dan Minggu, warga berbondong-bondong ke taman karena ingin berinteraksi, bercengkrama dan menghabiskan waktu dengan keluarga.
Pak Bima Arya meresmikan Taman Kaulinan

Berdonasi dan Berbagi

Taman Kaulinan adalah bentuk nyata kepedulian bersama antara pemerintah, perusahaan, lembaga sosial dan masyarakat luas terhadap perkembangan kreatifitas anak. Pasalnya, taman ini dibangun dar hasil penggalangan dana masyarakat yang dikenal dengan program DonasiKu. DonasiKu dihimpun melalui kasir Alfamart Alfamidi bekerja sama dengan Yayasan Berani Bhakti Bangsa.

Uang kembalian teman-teman yang mungkin hanya 100 atau 200 rupiah dikumpulkan di seluruh toko Alfamart Alfamidi dan jadilah taman publik yang dapat dinikmati semua orang, Taman Kaulinan. Semoga tidak ada pertanyaan lagi saat kasir Alfamart Alfamidi menawarkan "uang kembaliannya mau disumbangkan  untuk donasi pak/buk?". 

Selain melalui uang kembalian, kita bisa juga lho berdonasi dengan nominal tertentu di kasir-kasir alfamart alfamidi terdekat. Jangan khawatir, pelaksanaan program sosial DonasiKu dilakukan yayasan mitra PT. SAT, Yayasan Berani Bhakti. Pelaksanaan DonasiKu juga dinaungi oleh Direktorat Pengelolaan Sumber Dana Banuan Sosial Kementrian Sosial. Penyebaran donasinya juga bersifat transparan. Masyarakat atau donatur dapat mengakses di web www.alfamartku.com

Tuh kan, selain berdonasi, kita bisa berbagi kebahagiaan dengan cara yang sederhana. Sesederhana mengikhlaskan uang kembalian saat berbelanja di alfamart alfamidi. Kembalian yang sering kita anggap "receh" namun sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.

Untuk info lebih lanjut, cek di website Yayasan Berani Bhakti
Twitter : @YayasanBerani
IG : @Yayasan Berani

***

Yuk, warga Bogor dan sekitarnya, kita main ke Taman Kaulinan. Saya aja pengen kesana lagi ngajak Dio Dea. Pengen nyobain rumah pohonnya ❤.

Fyi, saya joggingnya gak setengah-setengah lho. Pulang dari Kaulinan, saya, Mbak Nunu, Mbak Teti, Mbak Leyla jalan sehat ke stasiun 😁. Anak-anak mereka juga gak protes diajak jalan kaki yang lumayan bikin capek. Ah yang penting bahagia kan ya 💖💖. Semangat sehat semuanya!



[Review Film] Surga yang Tak Dirindukan



Desember lalu, sebenarnya saya menunggu-nunggu sekuel keduanya, tapi pihak MD memutuskan untuk mengundur jadwal launching film tersebut. Ah, sebelum nonton yang kedua, saya mau cerita dulu film yang pertama, yang membuat saya magep-magep, ahaha.

Isu poligami memang sangat menarik. Dalam Surga yang Tak Dirindukan, Arini (Laudya Cintya Bella) sebagai istri yang sangat mencintai keluarganya harus menelan pil pahit mengetahui suaminya Pras (Fedy Nuril) menikah lagi dengan Mei Rose (Raline Shah). Arini juga baru mengetahui bahwa ibunya juga dimadu setelah Bapaknya meninggal dunia. 

Kemarahan demi kemarahan membuatnya berniat untuk bercerai dengan suaminya. Namun, ibunya yang digambarkan sebagai sosok protagonis memberikan wejangan kepada Arini bahwa dirinya harus ikhlas (klise banget yak nasihatnya).

Fedy Nuril (yang baru punya anak in the weal world,ahaha) mampu membawakan peran Pras dengan apik. Meski ada beberapa scene yang terkesan dipaksakan. Ketemu Mei Rose di jalan, membawanya ke rumah sakit, trus si Mei berusaha bunuh diri, si Pras deh yang nolongin. Tetapi, karena lagi-lagi jiwa melankolis saya mendominasi, scene-scene yang gak masuk akal bisa tertutupi 😀.

Disamping itu, ada percakapan Arini dengan Bapaknya yang membuat saya meleleh.

"Kamu yakin dia bisa menjadi imam yang baik buat kamu?" tanya Bapaknya

"Siapa sih yang bisa menjamin orang itu baik atau gak, Pak? Kalo bukan kita yang mempercayainya" jawab Arini dengan tersenyum kepada Bapaknya.

Ada juga dialog-dialog Arini yang semakin membuat saya melankolis,

"Surga yang Mas Amran gambarkan begitu indah. Tapi maaf, bukan surga itu yang aku rindukan"

Pernyataan Arini itu mewakili perasaan ibuk-ibuk lho. Surga yang dijanjikan saat ia ikhlas dipoligami bukan surga yang didambakannya. Jadi jangan melemparkan pertanyaan retoris kepada wanita yes kalo gak mau disambit. "Eh, kamu setuju gak sama poligami?", karena jawaban dan penjelasannya panjaaaaaaaaang.

Original Soundtrack

Krisdayanti didapuk sebagai pengisi suara dalam Surga yang tidak dirindukan 1. Syairnya pas banget sama filmnya. Aaaah, entah bagaimana saya kok bisa magep-magep nonton film ini. Soundtrack-nya pun sempat menjadi teman begadang ngerjain makalah. Easy listening kok!

Ending

"Kamu sudah berhasil menghancurkan dongeng saya, hanya untuk menghidupkan dongeng kamu", Arini begitu terpukul menghadapi kenyataan bahwa dirinya telah dimadu. Endingnya sih, Mei Rose mundur teratur dari kehidupan Pras dan Arini. Mei Rose juga menitipkan anaknya kepada Arini. 

Eh jangan sedih, kepergian Mei Rose itu belum jadi akhir segala cerita, ahaha. Film serial keduanya lebih seru karena Reza Rahardian ikut nimbrung. Waaaaaah, cannot wait to watch it! 

Saat Kami Sama-Sama Ingin Menikah


 Seringkali, kita harus memutari labirin dulu hanya untuk dijodohkan dengan orang terdekat kita, entah sahabat, tetangga atau teman main kita.
Ah, sepertinya aku masih tidak percaya, bergumam sendiri menggabung-gabungkan kepingan momen hingga akhirnya menyadari bahwa sekarang aku tidak sendirian lagi. Ada yang memerhatikan aku sedang apa dan memastikan baik-baik saja.

Kalau ditanya kesiapan, honestly sampai sekarang aku belum menemukan jawaban yang pasti. Namun, rasanya seperti mengalir seperti air bahwa memang menikah itu bukan semata-mata rencana kami saja, tetapi campur tangan Allah sangaaaaat andil, of course!

"Happy monthiversary sayang 😍"

Aku mengetikkannya dan mengirimkannya. Seketika pesan itu sudah bercentang biru, dia membalasnya dengan antusias juga.

"Main sini dong, Dik [pake emote cium]", rasanya meleleh kalo dia udah bilang gitu. Istrinya suruh (MAIIIIIIN). 

Kebetulan-Kebetulan yang Menyenangkan

7 bulan yang lalu, Mas pengen Bapak Ibunya dateng ke rumah. Iya, melamar. Tapi bahasanya gak sekeren "wanna marry me?", ekekek. Aku tahu konsekuensinya kalo Mas bawa Bapak Ibu ke rumah, pasti endingnya akan menjurus ke pernikahan.

Aku mengiyakan permintaannya. Mempersilakan masuk keluarganya untuk mengenal lebih dekat satu per satu keluargaku. Wajahnya sumringah dengan batik coklat yang kebetulan senada dengan gamis yang aku kenakan.

Hari itu waktu berjalan lambat sekali. Entah bagaimana aku deg-degan tak menentu. Siap? Entahlah. Sejak saat itu aku gampang sekali resah. Pertanyaan-pertanyaan liar seperti datang tanpa diundang. Setelah lamaran, pilihan hari pernikahan jatuh di tanganku.

DESEMBER. IYA, 25 DESEMBER.

Dan teranyata Desember seperti bertubi-tubi bahagia bergelimang. Bapak selesai pengobatan, dapat kabar Bapak-Ibu bisa berangkat haji tahun 2017, Banyak keluarga jauh yang menyempatkan pulang. Pernikahanku seperti reuni keluarga besar. Keluarga Bapak ngumpul, keluarga Ibu juga lengkap yang sebelumnya 10 tahun tidak pernah pulang.

Kami sama-sama berniat baik untuk membingkai cerita bersama dalam bingkai ketaatan. Iya, saat kami sama-sama ingin menikah untuk ibadah, semesta seperti menghilangkan rasa gundah yang sebelumnya sempat membelenggu. 

Hari ini adalah bulan pertama kami, meski jarak membentang, namun doa mengikat kami menjadi dekat 💓