Ada yang Baru di Detikcom


Saat menunggu, misalnya cek up bapak atau ibu yang butuh waktu seharian di Rumah Sakit. Atau saat menanti kereta menuju Solo untuk mengajar. Hal yang biasanya saya lakukan adalah membaca. Entah membaca buku yang sengaja diselipkan di tas, atau membaca ebook di handphone.

Hal yang sudah lama saya tidak lakukan sejak 2 tahun tetakhir adalah membaca berita. Makanya sempat gagap saat ditanyain tentang berita alexis, saya beneran menggeleng nggak tahu. Hingga saya googling sendiri tentang informasi itu saking ketidaktahuan saya.

"Makanya, baca berita dong!" Ujar teman saya. Dan tanggapan saya cuma nyengir.

"Jangan-jangan kamu juga ketinggalan beritanya Setya Novanto yang masuk rumah sakit (lagi) gara-gara kecelakaan?" Imbuh rekan saya. Saya cuna klecam-klecem saja. Sebenarnya tahu berita tersebut karena status teman-teman di media sosial yang menulis tagar dan mengirimkan meme lucu, bukan karena membaca beritanya. Jadi informasi yang saya dapatkan hanya sepotong-sepotong.

Aplikasi Berita, #AdayangBaru di Detikcom

Beberapa hari yang lalu, teman saya merekimendasikan untuk menguduh aplikasi Detikcom. Tujuannya biar saya nggak ketinggalan banget isu-isu terbaru, khususnya bidang hukum. Jadi pas diajak diskusi nggal lola (loading lambreto, huhu).
Katanya ada yang baru, sehingga saya pun mengunduh aplikasi tersebut. Honestly, saya merasa terbantu karena ada pemberitahuan jika ada berita terbaru. Beritanya pun tidak melulu tentang politik sih, ada lifestyle dan beberapa berita dari berbagai daerah.

Ternyata Detikcom telah melakukan redesign aplikasinya, makanya nggak heran pas membuka aplikasinya kok ada beberapa fitur yang baru. Sehingga saya makin nyaman untuk membaca dan tentunya nggak merasa boring karena konten beritanya variatif.

Pembaharuan yang terasa adalah tampilan antar mukanya yang menjadi clean dan lebih terkini. Jadi, saat saya nyekrol-nyekrol, loadingnya gak lambat karena desain tampilan tersebut. Soalnya saya pernah pengalaman mengunduh aplikasi portal berita, tapi karena tampilan dan loadingnya lama, membuat handphone saya hang. Yaudah uninstal lagi, huhu. Makanya, awalnya sempat underestimate sama aplikasi ini, tapi ternyata saya nyaman untuk membaca :).

Selain itu, saat malam hari pun saya tetap nyaman untuk membaca berita di aplikasi Detikcom karena ada mode malam. Jadi, saat saya mengaktifkan mode malam, aplikasi tersebut bisa otomatis menyesuaikan warna tampilan ketika malam hari sehingga tetap nyaman dibaca waktu malam. Apalagi akhir-akhir ini saya sering insomnia, huhu. Sehingga butuh bacaan yang bermutu.

Sssst, ada kategori Video juga lho. Bener-bener keren perubahannya! Jadi sekarang di aplikasi detikcom ada video-video popular dari 20detik. Kemarin saya lihat video yang ada tema tentang ayah karena beberapa waktu lalu bertepatan dengan hari ayah nasional. Saya meleleh, huhu. Memang cengeng kalau menyimak cerita atau video tentang keluarga, apalagi tentang ayah.

Yang saya suka dari aplikasi ini, pembahasan beritanya fokus dan liputan mendalam lebih mudah ditemukan. Saya sudah mencoba membuka fitur berita daerah. Berita dari beberapa daerah di Indonesia lebih mudah ditemukan dan selalu terupdate. Saya menyadari betapa kaya Indonesia dengan keberagamannya fi berbagai daerah, sehingga adanya fitur ini sangat membantu netizen untuk mengetahui berita terupdate, bahkan dari pelosok daerah.


Selain itu ada juga Indonesia Happy. Semua berita yang membuat bangga, bahagia dan happy bisa dibaca di menu Indonesia Happy ini. Detikcom berkomitmen untuk lebih banyak membuat konten yang membahagiakan, membuat bangga dan positif. Nah, untuk fitur ini masih ada penyempurnaan sistem yang diperkirakan hingga Desember. Jadi, saya ikut mendoakan kalau fitur ini makin ciamik sehingga menyalurkan berita-berita positif untuk pembaca setianya.

Nah, teman-teman tertarik juga mencoba fitur terbaru dari detikcom? Langsung saja download aplikasinya di playstore atau app store untuk menambah wawasan kita, apalagi tentang berita terbaru yang setiap detiknya update.

Sepatu Etnik yang Nyentrik, The Warna Pilihannya!


Teman-teman suka nggak sih, sebelum bepergian matching-in warna baju, sepatu sampai aksesoris yang dipakai? Memadu padankan warna biar eye catching. Lebih suka warna yang senada atau warna yang nabrak? Hehe.

Maksudnya, misal kita pakai baju kuning, yang lainnya juga mengikuti warna tersebut. Atasan kuning, bawahan hitam, sepatu sama tas ada aksen yang nyrempet warna kuning. Pokoknya warna tertentu mendominasi ootd deh.

Atau malah lebih suka yang memakai atasan kuning, bawah biru, sepatu orange. Yah, intinya yang dipakai itu kayak warna pelangi. Itu masih mending nabrak warna. Saya pernah melihat ada orang yang datang ke pesta yang menggunakan atasan polkadot dan bawahannya bunga-bunga. Tapi pas dikenakan tetep manis dilihat.

Nah, kalau saya pribadi sih perpaduan antara keduanya. Kadang niat banget kalau ada acara tertentu, saya suka mix and match ootd dengan salah satu warna yang mendominasi. Tapi kalau pas lagi malas, atas nama kenyamanan, saya memakai warna atau corak yang nabrak.

Kalau memakai corak yang "nabrak" kadang ada bisikan atau komentar yang kurang sedap. Karena hal ini lebih ke selera fashion masing-masing. Jadi, ya PEDE dan senyaman kita saja.

Pilihan Sepatu

Yang tidak kalah selektif bagi saya selain pemilihan baju adalah saat memilih sepatu. Koleksi sepatu saya dari zaman SMA hingga sekarang masih sama, kebanyakan flat shoes. Kalau mau memakai yang agak tinggian, saya lebih suka memakai wedges daripada high heels.

Entah kenapa saya sangat jatuh cinta dengan sepatu model flat shoes. Mungkin karena faktor kenyamanan menjadi alasan utama, sehingga model tersebut masih menjadi pilihan hingga saat ini. Saya pernah memiliki pengalaman seharian beraktifitas di outdor yang mengharuskan saya mobile kesana-kemari. Dan pemilihan sepatu yang tepat membuat saya bisa bebas bergerak tanpa harus merasakan sakit di tumit. Di saat yang bersamaan, ada salah seorang teman yang mengaduh mengeluhkan tumitnya sakit karena tumitnya sakit. Saya berasumsi kalau sepatu yang ia kenakan yang membuatnya merasa tidak nyaman dan kesakitan.

Keseharian saya yang sekarang ini lebih sering menggunakan kereta atau bis saat harus mengajar ke Solo, membuat saya lebih aware untuk memilih sepatu. Apalagi kalau di kampus saat kegiatan belajar mengajar diwajibkan memakai sepatu. Ada sih yang memakai sepatu trus bawa cadangan sandal sehingga bisa dipakai saat mengajar selesai. Tapi kok saya merasa ketepotan. Maunya ya seharian aja pakai sepatunya biar nggak susah bawa sandal buat ganti.

Sepatu Etnik yang Nyentrik, The Warna Pilihannya

Awal bulan lalu, ada teman yang merekomendasikan sepatu etnik yang dijual secara online, The Warna. Sempat agak ragu karena saya belum pernah sama sekali membeli sepatu online. Selama ini saya prefer beli langsung dan mencobanya di tempat karena kalau beli online takut nggak pas di kaki ukurannya. Tapi kali ini karena saya kesengsem sama corak dan warnanya yang elegan, saya memutuskan untuk memesan online.

Pertama saya memilih dulu sepatunya di web The Warna. Dari beberapa koleksi sepatu etnik yang bikin mupeng, saya jatuh cinta pada sepatu the warna seri yellow toraja. Berbahan tenun ikat yang dipadukan dengan kulit sintetis berwarna kuning sehingga terlihat nyentrik saat saya pakai.

Kedua, saya mengukur kaki saya biar ukuran sepatunya pas dan nyaman. Yang saya takutkan membeli sepatu online adalah ukurannya tidak pas di kaki. Tapi alhamdulillah kemarin saat memesan online sepatu the warna yabg notabene merupakan pengalaman pertama kali, ukuran sepatunya pas di kaki saya. 

Sudah 2 minggu dipakai, dan beberapa teman kagum dengan desain etniknya yang menawan sehingga tertarik untuk membelinya juga. Kekhawatiran mereka hampir sama seperti saya yaitu tidak bisa memperkirakan ukuran kaki mereka. Tapi pesona the warna mengalahkan kekhawatiran mereka untuk memiliki koleksi sepatu the warna.

Oh iya, seri Toraja Yellow yang saya miliki saat ini nyaman sekali dipakai. Hal itu terbukti saat saya mengenakan untuk acara yang berlangsung seharian di kampus minggu lalu.

Bagian dalamnya dilapisi spon lembut sehingga nggak heran kok nyaman banget di kaki saya. Empuk dan di tumit tidak sakit. Selain itu, saat berjalan atau berlari pun enak. Maksudnya bukan lari maraton, tapi lari ngejar kereta *pengalaman*.

Sepatu ini memiliki bagian telapak berbahan fiber. Sol nya anti licin dan anti slip. Kan ada tuh sepatu yang dipakai di lantai tertentu bikin kita nggak seimbang saat berjalan karena merasa licin. Yang makin bikin jatuh cinta, sifatnya elastis dan mudah ditekuk.

Nah, kalau teman-teman juga kepengen memiliki sepatu cantik ini, kepoin aja instagramnya @thewarna. Dijamin nyentrik dan nyaman deh :)

Hal yang Harus Diperhatikan Saat Menjemput Jamaah yang Pulang Haji


Rasanya baru kemarin mengantarkan Bapak dan Ibu, tapi pagi ini hati kami terasa mengembun karena tidak sabar menjemput mereka berdua. Kakak lelaki saya yang di Jakarta menyempatkan cuti dan bersemangat menjemput juga. Anak-anak pun juga sudah sering menanyakan "Simbah jadi pulang besok kan Bulik?".

Selama di Makkah dan Madinah, sesekali bapak dan ibu menelepon kami. Entah Mas Joko, Mas Jundi, Mas Agus atau pun saya. Kami membawakan handphone tetapi sampai sana tidak bisa digunakan. Allah Maha Baik, roomate Bapak selalu meminjamkan hp-nya dan membantu meneleponkan kami. Saking terharunya, setiap bapak dan ibu telepon pasti menangis, heuehu. Saya hampir saja terpancing ikut menangis, tetapi ditahan biar mereka tenang menjalankan ibadahnya.

Oh iya, kembali ke topik penjemputan jamaah yang pulang haji, ada beberapa poin yang ingin saya ceritakan. Karena poin-poin ini membuat kami kelabakan bahkan saat hari H penjemputan. Kebetulan, om dan bulik juga sedang berhaji dan ada 1 kloter dengan bapak ibu, sehingga pas menjemput mereka, kami kencan dengan keluarga om dan bulik biar bisa bareng masuknya.

1. Perhatikan Jadwal Penjemputan

Ini poin penting banget! Soalnya kemarin kami sempat salah komunukasi sehingga Mas Joko yang dari Depok pulang lebih awal karena mengira keesokan harinya Bapak Ibu sudah pulang. Sebelumnya sudah nanya juga sih sama Bapak Ibu, dan beliau mantap bilang kalau pulangnya tanggal 1 Oktober jam 07.00. Tapi mendadak dapat informasi kalau kloter Bapak Ibu jadwal kepulangannya tanggal 2 Oktober jam 04.10.



Jadi, sebelum menjemput, pastikan dulu jadwal penjemputannya kapan. Tanggal dan jamnya sangat urgen. Soalnya kemarin kloter 81 (sebelum kloter bapak ibu) datang jam 02.45 ternyata salah satu jamaah belum ada yang menjemput. Karena sudah sepuh, mereka berdua diantar oleh mobil patroli polisi. Nah, jam 05.00 sehabis subuh, ada perempuan paruh baya yang mencari kedua orangtuanya. Dia menyebut nama dan kloter kepada petugas dan ternyata bapak ibu yang diantar tadi. Mis komunikasi jadwal bisa bikin riweh cyin.

2. Bawa Kartu Masuk

Saat pemberangkatan, setiap jamaah haji diberi kartu untuk masuk mengantar. Biasanya dapat 2 kartu sehingga yang memegang kartu tersebut bisa mengantar jamaah sampai masuk GOR. Saat pemberangkatan, hanya Mas Joko dan Mas Jundi yang berhasil masuk mengantar Bapak Ibu. Selebihnya menunggu di luar gerbang.

Nah, simpan kartu itu baik-baik. Jangan sampai hilang, rusak atau ketinggalan saat penjemputan. Kemarin petugasnya galak banget pas ada salah satu keluarga yang ngotot pengen masuk tapi gak bisa menunjukkan kartu tersebut.

3. Bawa Makanan

Ini krusial banget apalagi kalau jadwal penjemputannya pagi-pagi buta. Kemarin saya gak memperhitungkan faktor lapar, jadi ga bawa makanan apa-apa. Jam 03.00 pagi berangkat, sampai GOR Gelarsena masih agak lengang. Ternyata kloter Bapak Ibu mengalami delay.


Oh iya, kami bawa 2 mobil, anak-anak pun antusias ikut karena kangen sama simbahnya. Karena waktu itu belum dijaga ketat sama penjaga, kami tidak memerlukan kartu pass untuk masuk. Karena kami bisa masuk semua. Hehe.

Jam 04.00 lapar bukan main, tapi masih pada tutup. Yang jualan hanya tukang sosis, jagung kukus sama teh hangat dan itu antrinya masha Allah. Karena peminatnya banyak, harga jagung yang biasanya cuma 5 ribu jadi 10 ribu. Yah, kayak harga lebaran aja. Harga segitu aja semua rela antri.

Jadi jangan lupa bawa makanan ya dari rumah. Kalau perlu persipkan sejak sore *niat banget*.

4. Mukena

Ini barang wajib yang harus ada di tas. Soalnya di lokasi banyak orang, sehingga banyak banget yang mau salat dan mereka juga gak bawa. Kemarin sebenarnya bawa, cuma ketinggalan di mobil. Huhuhu

5. Jangan keluar masuk sembarangan

Karena semakin siang, penjagaan di lokasi ketat sekali. Ada rombongan keluarga yang semula sudah bisa asuk semua di lokasi, entah bagaimana mereka keluar. Dan endingnya mereka susah masuk karena dilarang petugas. Yang diperbolehkan masuk hanya 2 orang saja, yaitu yang memegang kartu masuk.


6. Cari tas dan jamaah


Kalau bis sudah datang, yang pertama kali dicari adalah tasnya dulu sesuai arahan petugas. Biasanya jamaah dilarang keluar bis sebelum semua tas keluar dari bagasi bis. Saking banyaknya tas, saya dan Mas Jundi membaca identitas satu persatu. Identitas tersebut ditempel di depan tas beserta foto jamaah. Cukup lama kami mencari tas bapak dan ibu tetapi akhirnya ketemu. Setelah itu, kami sekeluarga berkumpul di satu titik dekat bis untuk menyambut mereka berdua. Sekadar catatan yang membawa balita, karena suasananya riuh, jangan sampai terlepas begitu saja.

7. Hp full charge

Kalau lowbat gak bisa foto-foto, ahaha. Bukan itu sih. Hp berfungsi untuk koordinasi. Baik koordinasi dengan keluarga yang ikut menjemput atau dengan jamaah. Kemarin kami membawa 2 mobil yang parkirnya agak terpisah. Masuk ke lokasinya pun juga terpisah. Mas Joko yang HP nya lowbat agak menyesali karena harus benar-benar menghemat batreinya. Apalagi kemarin ada keterlambatan, sehingga tanpa HP bisa mati gaya, ahaha. Maklumlah, selain koordinasi, bagi para lelaki saya di rjmah juga bisa menjadi pelepas jenuh dengan main games.

8. Janjian di lokasi yang mudah

"Nanti ketemuan di seberang lalu lintas ya", ungkap Mas Jundi. Lha lalu lintas yang mana, kan ada dua. Sebaiknya kalau janjian meeting point, di lokasi yang mudah dan jelas. Sehingga tidak saling menunggu. Apalagi kalau membawa orang sepuh dan balita kan kasihan.

9. Parkir dekat lokasi

Nah, parkiran bakal penuh. Makanya cara mengakali ya dengan berangkat pagi. Keluarga kami termasuk yang on time. Di jadwal, jamaah datang jam 04.00 dan kami sekeluarga sudah ready berangkat jam 03.00. Anak-anak pun kooperatif untuk bangun karena sebelumnya sudah dikasih tahu ibunya. Kami mengantri dulu karena bergantian dengan para penjemput jamaah kloter sebelumnya. Sehingga pas mereka keluar, kami bisa mengisi parkir mereka. Tapi kok ya delay. Haha. Kami menunggu 4 jam. Alhamdulillah Bapak dan Ibu tidak perlu "thowaf" lagi, karena mobil kami parkir pas di seberang pintu gerbang keluar.

Nah, teman-teman punya pengalaman menjemput jamaah haji? Gimana kesan pesannya? Ah iya, semoga kita juga diberi kesempatan untuk berhaji ke Baitullah ya. Aamiin allahumma aamiin.

Cek Kandungan di dr. Nanik Nurhayati SPoG Klaten


Setelah mengetahui hasil test pack menunjukkan strip dua, saya dan suami berencana untuk periksa ke dokter kandungan (nanti saya cerita di pos terpisah ya). Sebelumnya, sepupu saya merekomendasikan dr. Zamzuri dan bahkan memberikan nomor hp beliau. Saya menanyakan jadwal praktik beliau via watsapp dan tidak beberapa lama beliau membalasnya. Entah itu nomor pribadi beliau atau suster ya, tetapi dari membaca balasannya yang sopan, saya langsung tahu kenapa sepupu saya memilih beliau menjadi dokter kandungan dan merekomendasikannya.

Karena belum sempat, kami baru memeriksakan kandungan seminggu kemudian. Ah iya, saya nggak jadi periksa ke dr. Zamzuri melainkan dr. Nanik Nurhayati, S.Pog. Saya googling dan akhirnya sms terlebih dulu untuk sekadar bertanya apakah bisa reservasi by sms atau harus langsung datang. Asistennya membalas kalau bisa daftar via sms.

7 Weeks

Tanggal 18 September saya datang ke kliniknya yang berlokasi di Mlinjon. Setengah 5 masih sepi tapi ternyata sudah banyak yang mendaftar juga. Saya mendapat antrian nomor 19 yang kira-kira diperiksa jam setengah 9, ahaha. Kami pulang dulu dan kembali lagi sebelum jam tersebut. Oh iya, ada 2 asisten yang membantu dr. Nanik dan keduanya sangat friendly sekali. Saya pun disuruh sms kapan pun waktu jika ada keluhan atau pertanyaan seputar kehamilan.

Kayaknya antrian dibatasi sampai 20, karena setelah saya masih ada 1 ibu hamil lagi yang periksa. Di ruangan periksa saya langsung menunjukkan test pack saya yang saya tes 2x, beliau juga menanyakan kapan Hari Terakhir Haid Pertama saya. Dr Nanik sangat keibuan, menyuruh saya rebahan untuk di usg. Saya melihat layar dengan berkaca-kaca. Beliau menunjukkan kantong bayi dan menjelaskan kalau usia kandungan saya kurang lebih sudah 7 weeks.

Setelah di usg, beliau juga bertanya-tanya apakah selama kehamilan ada keluhan seperti mual muntah. Saya pun mengiyakan, dan beliau meresepkan obat pereda mual. Saya bercerita masih mengkonsumsi asam folat dan folavit sehingga beliau tidak meresepkannya lagi. Dr Nanik hanya menambahkan dosis minumnya yang sebelumnya asam folat hanya sehari sekali (400mg), sekarang menjadi 2x sehari.

Biaya periksa yang semula saya perkirakan mahal, ternyata malah lebih murah untuk ukuran periksa kandungan. Administrasi 5rb, usg 40rb, obat mual 60rb dan jasa dokter 60rb. Totalnya 175rb. Obat mualnya saya minum kalau memang benar-benar mual, yaiyalah emang ada yang pura-pura? Ahaha. Maksudnya kalau saya udah give up tiap makan muntah, apa yang masuk jadi keluar. Dr Nanik juga menasihati kalau perut jangan sampai kosong. Mual dan muntah saya itu wajar karena penyesuaian hormon HCG. Kalau sudah melewati trimester pertama biasanya hilang sendiri.

Antri Banyak

Bagi yang rumahnya jauh, teman-teman bisa menunggu sambil nonton tivi di klinik, ehehe. Atau bisa keliling Klaten sambil kuliner (kalau ga teler, ahaha). Antrinya memang banyak, dan 1 pasien bisa lumayan lama tergantung case-nya sih kalau yang ini. Ruang tunggunya juga nyaman kok.

Fyi, selain buka praktik sendiri, dr Nanik juga praktik di RSI Klaten. Saya sih pengen waktu yang fleksibel biar bisa dianterin suami, jadi memilih ke klinik yang pendaftarannya bisa via sms. Cuma kalau bawa mobil, parkirnya agak susyah, heuheu.

Nah, insya Allah saya akan kembali lagi saat usia kandungan 10 atau 11 weeks buat periksa dan usg ke dr. Nanik. Daridulu saya tipikal gak suka gonta ganti dokter kecuali mendesak banget. Sepertinya saya akan periksa disini terus, hihi. Selain karena keramahannya, alasan dokter wanita menjadi alasan kuat lainnya. Karena lebih nyaman dan bisa konsultasi apa saja.

Nb: draft ini sudah selesai lamaaaaaa sekali, namun baru sempat diposting. Entah mengapa sampai sekarang saya masih takjun kalau dalam rahim saya ada benih yang saat mengetahuinya, mata saya deras sekali mengucur air mata haru.

Menikmati Resep Original Ingkung Jawa di Waroeng Ndesso mBantoel


Habis dhuhur tiba-tiba suami ganti baju dan memakai celana panjang. Tanpa bertanya pun saya sudah bisa menebak kalau beliau akan bepergian. Sekilas pandangan kami beradu dan saya sudah tahu pertanyaannya. Eh, lebih ke izin ke saya yang sebagian banyak ia dapatkan.

"Mas mau lihat-lihat sepeda sama Bapak. Adik mau ikut?", biasanya beliau kalau mau pergi-pergi selalu menawarkan mau ikut atau gak. Kalau misal gak ikut, pernyataan kedua yang terlontar adalah "Kalau gitu, Mas keluar sebentar boleh ya?". Saya cuma mengiyakan dengan syarat "Please jangan lama-lama". Meskipun entah realitanya gimana. Ahaha.

Akhirnya saya ikut. Bapak dan ibu mertua yang mau lihat-lihat sepeda sudah ready di dalam mobil. Keluarga kami memang sedang semangat untuk olahraga "bersepeda". Semoga pas punya sepedanya bisa istiqomah digunakan sebagaimana mestinya. Karena oh karena dulu di Depok saya hanya bertahan beberapa bulan saja. Awalnya memang semangat 45 tiap weekend bersepeda sama anak-anak di komplek atau di UI. Tapi setelah itu kok malas sekali, huhu.

Ini kapan cerita Ingkungnya sih?

Setelah survey sepeda dan harganya yang masha Allah, saya merayu suami untuk membelikan mie ayam yang ada di depan toko. Beliau menggeleng tegas. Saya tidak akan merajuk lagi karena akan tahu jawaban penolakan.

"Beli ingkung Le? Nyobain di Warung Ndeso?" Suara Bapak mertua. Suami hanya mengiyakan karena tidak mempunyai ide mau makan dimana.

Saya pikir lokasinya dekat, tapi ternyataaaaaaaa.... Tempat jualan sepeda di dekat jembatan layang Jogja, dan warung ndeso ada di dekat goa selarong, ahaha. Untung saja rasanya worth it. Jadi, nggak sia-sia kesana.

Benar-benar Ndeso

Kirain mertua sudah pernah datang kesana, ternyata belum. Ahaha. Beliau pengen kesana karena diceritain teman sekantor kalau Warung Ndeso itu menu ingkungnya lezat sekali. Suami menggunakan google map, sesekali berhenti untuk memastikan arah ke lokasinya tidak keliru.

Ini mah niat banget namanya. Mau makan saja harus muterin Bantul dulu, ahaha. Padahal kami dari Klaten.

Suasananya memang merepresentasikan Ndeso. Dari lokasinya saja terletak di pedesaan, karena kanan kirinya ada rumah warga (bukan perumahan ya). Benar-benar rumah yang ada di desa. Bentuk rumah makannya dari depan tampak seperti gubug. Saat masuk ada lesehan dan juga disediakan kursi dan meja bagi pengunjung yang malas lepas sepatu, ekekeke.

Jadi bentuknya kotak gitu, di bagian tengahnya bolong untuk kolam ikan dengan pancuran kecil. Yang ngajak balita pasti seneng banget nih. Karena bisa nyuapin sambil melihat ikan segar.


Sepanjang kami bersantap makan, alunan lagu Jawa mengalun merdu. Saya nggak ngerti lagunya tapi menikmatinya. Nah, awalnya pas kami datang itu masih sepi, jadi bisa memfoto leluasa. Tapi bakda magrib mulai penuh dengan pengunjung yang datang, parkir penuh dengan mobil-mobil. Bahkan sebelum Jam 7 malam, pramusajinya menolak beberapa pelanggan karena menunya habis.

Oh iya, bagi yang muslim, di samping parkir ada mushola kecil dengan tempat wudhu yang bersih. Makanya, kami senang saat datang di lokasi pas adzan magrib bisa melipir magrib setelah memesan menu.

Ingkung dengan Resep Khas

Suami menulis pesanan. Bapak langsung berseru "ingkung jumbo". Ternyata ada pilihan ingkung jawa jumbo dan ingkung jawa plus. Kami memilih ingkung jawa plus. Kayaknya bedanya di jeroannya. Kalau yang plus, yang ada ati ampela, eh ternyata benar. Ingkung ini harganya 140 ribu. Rasanya gimana? Endeus pisan. Worth it lah jauh-jauh dari Klaten buat makan sampai Bantul, ahaha.

Biasanya kalau ayam kampung agak alot dagingnya. Tetapi ini enggak. Rasanya gurih dan empuk. Kirain nggak habis dan harus dibungkus, ternyata kami berempat bisa menghabiskannya tanpa sisa termasuk dengan nasinya, hihi.

Kami juga memesan gudeg manggar yang dikombinasikan dengan bumbu krecek. Ini pertama kalinya saya menikmati kalau manggar bisa diolah jadi gudeg dengan rasa seenak ini. Oh iya, 1 porsi gudeg ini seharga 20 ribu. Ada juga olahan gudeg dari bunga pisang (tapi kata ibu saya lagi nggak boleh makan, heuheu).

Yang demen sayur mayur, bisa memesan tumis kangkung, tumis daun pepaya dan trancam yang harganya sangat terjangkau, 4 ribu. Kami nggak mau kalap mata, makanya memesan yang sekiranya bisa kami habiskan. Ingkung sama gudeg saja sudah membuat perut kami sangat kenyang, meskipun semula tergiur mau memesan ini-itu juga. Namanya saja yang Ndeso, tapi rasanya beneran khas lidah jawa!

Kami memesan nasi biasa 4 porsi yang dihidangkan dalam ceruk (bahasa jawanya cething, ahaha). Ada juga menu nasi uduk. Untuk minumnya kami memesan jeruk dan teh hangat yang disajikan dengan gula batu. Rasanya pas hangatnya dan manisnya. Karena biasanya pesan teh hangat tapi realitanya puanas banget sampai harus nunggu sampai agak dingin.
Hmm, yang pengen nyobain ayam kampung dengan bumbu khas, kalau luang bisa mampir disini. Cocok buat bersantai dengan keluarga