Featured Slider

Pengalaman Mengatasi Diare Saat Banyaknya Job Desk yang Harus Diselesaikan


Sebagai perempuan, seringkali kita dituntut multitasking untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam tenggat waktu yang bersamaan. Hmm, kalau sudah keasyikan kerja atau berusaha menyelesaikan to do list yang dibuat, bisa-bisa jadi lupa waktu. Entah itu waktu untuk istirahat atau waktu makan.

Nah, dulu waktu saya masih kerja kantoran malah bisa cenderung stres kalau sudah maksimal kerja mengorbankan waktu istirahat dan makan, tapi ternyata kerjaan nggak selesai-selesai. Kayak berasa adaaaaaa aja yang harus dikerjain. Malam harinya, yang harusnya dipakai buat istirahat, tapi kepala masih kebayang-bayang kerjaan. Badan capek pengin tidur tapi ternyata susah tidur. Eh gimana?

Terkena Diare

Kalau lagi capek dan nggak bisa tidur di malam harinya, biasanya saya membuat mie instan yang dikasih sawi sama cabe 2 biji. Entah kenapa ada guilty pleasure yang menyelinap. Dampak kerjaan numpuk salah satunya juga ke pola makan. Menyelesaikan pekerjaan jadi nggak merasa selera makan, atau lebih memilih makanan yang praktis semacam junk food atau mie instan.

Enak sih dari segi rasa, tapi tentu tidak meng-cover nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Apalagi kalau hectic, tubuh butuh asupan nutrisi yang memadai agar tidak ambruk karena diforsir tenaganya. Nah, di tengah menyelesaikan job desk akhir tahun, ternyata saya terkena diare. Karena nggak mau liburan natal dan tahun baru terganggu, makanya saya ngebut buat nyelesein dan mengabaikan alarm tubuh yang sudah protes.

Saya keliru menyepelekan diare, huhu. Buat teman-teman, please jangan anggap sepele masalah diare meskipun kerjaan menggunung. Kalau sudah ada gejala diare, segera atasi dan obati diare tersebut dengan tepat dan benar agar tidak fatal. Soalnya, gara-gara menyepelekan diare, saya terserang demam dan hampir dehidrasi. Ending-nya izin nggak masuk kantor selama 3 hari. Kerjaan nggak beres, malah badan ambruk karena diare.

Oh iya, gejala diare yang patut teman-teman waspadai agar tidak mengalami hal seperti saya, adalah sebagai berikut. 

1. Sakit perut
Ilustrasi: sumber gambar dsri dream.co.id
Pertama-tama, saya merasakan perut saya sakit dan melilit. Harusnya saya sudah waspada dengan warning ini, namun karena merasa job desk yang harus diselesaikan masih banyak, saya mengabaikan alarm tubuh ini.

2. BAB encer dan terus menerus

Nah, saya menyadari kalau lagi kena diare karena sering keluar masuk kamar mandi buat BAB. Hal ini merupakan gejala yang umum diketahui, karena sejak kecil, kalau mencret-mencret seperti ini, Ibu langsung tanggap kalau saya terkena diare dan membuatkan saya obat tradisional untuk meredakan diare tersebut. Kalau sedang di rumah, biasanya Ibu mencarikan daun jambu muda.

3. Lidah pahit dan tidak nafsu makan

Seharian keluar masuk kamar mandi membuat saya tidak fokus di kantor. Akhirnya saya izin pulang setengah hari. Lidah terasa pahit dan nafsu makan saya menurun. Sehingga, perut saya rasanya makin panas. Intensitas BAB lebih sering dari sebelumnya, meskipun perut belum diisi makanan. Bahkan, hasrat ingin kentut berubah menjadi BAB (cepirit). Huhu.

4. Lemas 

Tidak nafsu makan dan banyaknya cairan yang keluar membuat saya merasa lemas. Sesampai di rumah, saya minta tolong pembantu untuk membelikan Entrostop  di warung, karena apotek lumayan jauh dan pembantu saya tidak bisa naik motor.

Jangan obat warung ah, Neng. Bahaya. Nanti saya carikan daun jambu aja biar mampet diarenya”, kata pembantu saya waktu itu.

Saya hanya mengiyakan saja karena memang sudah nggak kuat. 

5. Demam
Ilustrasi: gambar diambil dari pixabay
Saya tertidur saat itu saking lemasnya. Saat bangun, badan saya berkeringat dan demam. Perut udah nggak karuan rasanya. Sebenarnya pembantu saya tadi sudah membawakan air daun jambu yang sudah ditumbuk, tapi karena kelamaan, saya ketiduran dan dia nggak berani membangunkan. Habis isya, saya diantar ke dokter dan diresepkan beberapa obat. Dokter juga menganjurkan saya untuk beristirahat di rumah dulu agar recovery-nya cepat. 

Ternyata saya tidak masuk sampai 3 hari karena badan masih lemas dan lidah terasa pahit. BAB masih encer, meskipun tidak sesering sebelumnya. Makanya, saya patuh sama anjuran dokter untuk istirahat di rumah dulu sampai benar-benar sembuh, apalagi beliau bilang kalau saya hampir dehidrasi karena banyak kekurangan cairan. Hal yang semula saya anggap sepele, ternyata sangat fatal saat saya mengabaikannya. 

Menyelesaikan pekerjaan memang tanggung jawab kita, tapi kita juga harus bertanggung jawab dengan tubuh dan kesehatan juga.

Belajar dari pengalaman

Pengalaman diare saya yang membuat saya tumbang tidak masuk kantor beberapa hari membuat saya lebih mawas diri. Makanya, di awal tahun 2017, ketika sibuk menyelesaikan tesis, saya lebih aware saat terkena diare.

3 bulan penuh dengan deadline untuk memenuhi syarat-syarat ujian dan menyelesaikan revisi tesis dari pembimbing. Selain itu, saya juga harus merawat Bapak yang sedang recovery sakitnya. Sering begadang karena memang mau mengejar jadwal wisuda Juli biar tidak membayar SPP semesteran lagi membuat saya tertantang untuk menyelesaikannya.

Baca juga: Merawat Orang tua yang sedang sakit harus strong

Jadwal tidur dan makan membuat badan sempat drop dan lagi-lagi warning berupa diare seperti tahun sebelumnya. Kali ini saya tidak mau mengabaikan dan menyepelekannya. Nah, beberapa hal ini yang saya lakukan untuk mengatasi diare yang tepat dan benar:

1. Istirahat yang cukup

Saya tidak memaksakan diri untuk ke kampus atau berlama-lama di depan laptop untyk menyelesaikan draft tesis.  Berkaca pada pengalaman sebelumnya,  saya lebih memilih untuk istirahat total baik fisik maupun pikiran.  Saya berusaha rileks dan tidak terbebani dengan job desk yang harus saya selesaikan. Lebih baik memukihkan badan dulu, agar bisa on fire lagi. Saya juga mulai mengurangi begadang,  hehe.

2. Minum air putih
Source: www.galenic.info
Meskipun terasa pahit di lidah,  saya memaksakan untuk minum air putih agar tidak dehidrasi.  Karena waktu itu,  saya BAB cukup sering (5-7 kali dalam sehari).  Oh iya,  bagi teman-teman yang terkena diare dan sering ke kamar mandi,  bisa juga membeli oralit ya biar nggak dehidrasi.  

3. Makan yang bernutrisi

Saat merasa terkena diare,  saya benar-benar menjaga pola makan saya, terutama memenuhi asupan nutrisi biar cepat pulih. Selain itu,  saya jugae menghindari makanan yang menjadi pemicu diare: Susu, makanan berminyak, kafein, makanan asam dan pedas (mie instan merupakan godaan yang luar biasaaaaa).

Oh iya,  saat telepon Ibu,  saya juga disuruh membeli salak.  Katanya bisa membantu biar diarenya mampet.

4. Mengompres air hangat

Karena perut saya melilit,  saya mencoba mengompresnya dengan air hangat.  And it's work.  Nyeri dan lilitannya agak mendingan.

5. Minum obat anti diare

Saya memutuskan untuk istirahat dan tidak pergi ke kampus. Selain itu, saya titip sahabat saya untuk membelikan Entrostop di apotek. Saya makan terlebih dahulu untuk memulihkan tenaga karena BAB cukup sering membuat badan agak lemas, lalu meminum 1 tablet entrostop dan istirahat lagi. 

Oh iya, waktu itu saya pernah meminta tolong pembantu saya untuk membelikan Entrostop di warung. Stereotip “obat warung”, membuat pembantu saya merasa worry untuk memberikannya kepada saya karena beliau pernah mengalami pengalaman hal yang buruk terhadap obat yang dijual di warung. Beliau pernah membeli obat sakit kepala di warung dan ternyata sudah expired. Setelah meminum obat itu, bukannya sembuh malah makin parah. Sejak saat itu, pembantu saya kapok membeli obat di warung. 

Entrostop memang mudah ditemukan di warung-warung, dan terus terang itu memudahkan saya saat terkena diare karena tidak harus membeli di apotek yang lumayan jauh dari rumah. Nah, kalau membeli di warung, saya biasanya mengecek masa daluarsa obat. Jadi, obat yang dijual di warung, tidak berarti lebih buruk kualitasnya dengan yang dijual di apotek.

Fyi,  entrostop tidak dianjurkan untuk dikonsumsi lebih dari 2 hari.  Jadi,  kalau teman-teman mengalami diare dan sudah mengatasinya seperti 5 langkah di atas atau mungkin langkah lain,  tapi tetap belum reda,  sebaiknya pergi ke dokter ya. 

Kalau pengalaman saya,  dengan 5 hal tersebut di atas saat terkena diare di tengah menyelesaikan job desk sebagai mahasiswa tingkat akhir, hehe. Alhamdulillah, tesis lancar dan diare pun bisa sembuh.
Menjadi #IbuBeraksi untuk Suami yang Terkena Diare

Pengalaman saya dalam mengatasi diare juga saya terapkan saat suami juga terkena diare. Sebagai istri dan calon ibu, saya mau keluarga saya bebas dari diare. 

Saat suami kulineran
Ceritanya, saat liburan, suami dan teman-temannya melakukan short trip ke Jogja. Selain terkenal dengan objek wisata, Jogja juga terkenal dengan kulinernya yang enak dan murah. Sepulang dari Jogja, beliau mengeluhkan perutnya tidak enak dan intensitas BAB-nya lumayan sering dari biasanya. Wajahnya sedikit pucat.

Saya menyuruhnya beristirahat. Sebelumnya, saya siapkan sup hangat dan segelas air putih.

“Masih mencret?”, tanya saya.

Dia menganggukkan kepala. Beberapa saat kemudian, saya pergi ke mini market untuk membeli entrostop dan beliau meminumnya 1 tablet. Bangun dari tidur, badannya sudah lebih segar, perutnya pun sudah berangsur membaik. Meskipun BAB-nya masih encer, tetapi intensitasnya sudah berkurang. Sorenya saya memintanya untuk meminum entrostop 1 tablet lagi setelah makan. dan Alhamdulillah keesokan harinya diarenya sudah berangsur sembuh.

Lesson Learned

Please, jangan menyepelekan diare, karena faktanya diare bisa mengakibatkan kematian. Diare bisa disebabkan karena pola makan yang tidak teratur, gangguan psikis atau stress karena pekerjaan yang juga pernah saya alami dan kurang istirahat.

Apapun pengobatannya, baik secara tradisional maupun pengobatan modern, sama-sama baik, karena setiap orang memiliki daya tahan tubuh yang berbeda-beda. Dalam hal ini,  saya dan keluarga merasa cocok mengonsumsi entrostop untuk mengatasi diare (obat anti diare). Nah, kalau sekiranya diare masih berlanjut, jangan berpikir dua kali untuk pergi ke dokter agar mendapat penanganan segera.

Teman-teman punya pengalaman mengatasi diare juga? Yuk sharing agar bisa atasi diare dengan tepat dan benar. Semangat sehat selalu.

5 komentar

  1. Kapan ya terakhir diare? *mikir. Udah lamaaa ih, alhamdulilah, ya sesuatu :D
    Dan semua berpangkal dari pola makan yang salah, kebersihan juga yes. :D
    Kalau aku sih, yang pasti minum obat, hindari makanan bertekstur keras, berminyak, banyak minum air putih biar nggak dehidrasi dan istirahat.

    BalasHapus
  2. Kalau diare sampai ada demamnya itu tandanya ada infeksi.

    BalasHapus
  3. Ini obat andalan suamiku. Dia selalu sedia dalam tas nya. Maklum banyak pergi keluar kota, makan jg kadang ga pilih2. Kalo ada entrostop bs jd penolong.

    BalasHapus
  4. kupernah mbak, sampe pingsan gegara diare
    sedih bnget waktu itu

    BalasHapus

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)