Featured Slider

Musuh Besar

Aku pikir, musuh terbesar adalah apa yang nyata kuhadapi. Tapi ternyata aku keliru. 

Aku pikir, aku terlalu fasih menilai oranglain sehingga merenggut bahagiaku. 

Aku bilang peduli, padahal nyatanya tidak sama sekali. Dan pada akhirnya aku merasa menjadi hipokrit sejati, karena aku bilang tidak apa-apa padahal banyak hal yang mengubah persepsi menjadi apa-apa.

Aku terlalu memaksakan diri. Karena sesekali menjadi cenayang yang merisak semuanya. Bahwa aku tidak ingin tahu apa-apa, tapi pada akhirnya aku menganyam satu per satu menjadi sebuah frame utuh.

Dan sekali lagi aku menyadari bahwa musuh terbesarku bukan oranglain. Melainkan diriku sendiri. Aku belajar mengubah sudut pandang agar lebih bisa merasa lega, tapi (belum) bisa.

Jika, oranglain berbuat jahat sekali, dua kali, aku bisa menjadi pemaaf dan merasa memaklumi. Tapi jika untuk ke sekian kali, rasanya aku ingin membalas berkali-kali. Agar dia jera, kataku. Agar dia merasa, bisikku. Tapi akhirnya aku tidak mendapat apa-apa dan tidak bahagia.

Aku tidak bisa mengubah oranglain menjadi apa. Aku tidak mampu menasihati oranglain sebagaimana mestinya. Tapi aku yakin bisa dan mampu mengubah cara pandangku untuk menghadapi sesuatu. Membujuk hatiku untuk tetap baik-baik saja meskipun oranglain luarbiasa jahatnya. Dan menasihati pikirku untuk selalu bahagia tanpa terdistraksi oranglain mau bertingkah apa.

Karena aku menyadari bahwa musuh besar kita bukanlah ketika menghadapi oranglain, tapi saat membujuk hati dan pikiran kita saat keduanya menguras energi dan emosi kita.

Love!

Ba'da magrib di peron Stasiun Purwosari.

Tidak ada komentar

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)