Featured Slider

Ben Khitan

Kalau saya bisa gentle birth, tentunya Ben juga bisa gentle khitan, dong ya (?) Batin saya, wkwkw. Sejak usia 7 hari, saya sudah searching tempat khitan yang sesuai mau saya; cepat pulih, nyaman buat anak dan ga bikin begadang ibunya kalo rewel *teteup.


Baca: Persalinan Gentle Birth Ben

Berkiblat dari khitan Ray yang masih lekat diingatan saya; harus melalui serangkaian medis, cek darah, infus, anestesi total dan rawat inap. Waktu itu saya belum punya referensi yang utuh tentang khitan, huhu. Yang saya pahami, waktu itu saya harus mengkhitan Ray sebagai solusi fimosisnya. Titik.

Baca juga: Ray Khitan!

Ngobrol sama suami udah sefrekuensi. Tinggal merayu keempat orangtua kami. Sebenarnya kami bisa saja langsung mengkhitan, baru memberitahu mereka. Tapi rasanya kok nggak sreg. Seperti yang sudah saya duga, orangtua kami kurang setuju karena kasihan. Masa iya masih bayi harus dikhitan. Tapi saya meyakinkan kalau pilihan kami sudah melalui riset :p. Ada beberapa pertanyaan kenapa masih bayi sudah dikhitan dan bikin jiper bapak ibunya buat melaksanakannya. Padahal menurut saya hanya soal budaya dan habbit saja, toh nanti juga bakal dikhitan juga kan (?)

Ini sih jawaban saya kalo misal ditanyain kenapanya

  • Kalau khitan sejak bayi, pemulihannya lebih cepat. Kulit bayi kan masih mudah, jadi kalau luka gampang pulihnya. Ini sih cocoklogi saya.
  • Menghindari fimosis. Cukup Ray aja ya yang dipaksa khitan karena fimosis
  • KENAPA ENGGAK? Ahahaa. Jawaban paling lugas kalo ditanyain.

Solo Khitan Center

Saya lalu mengirimkan massage ke Dokter Ahmad, owner Solo Khitan Center. Kami lalu berdiskusi intens via whatsapp. Beliau menjawab setiap pertanyaan saya dengan detail dan memberikan edukasi via youtube yang mengupas tuntas tentang khitan. Yang awalnya saya udah mantep, jadi makin mantep lagi buat mengkhitan Ben :).

Saya tinggal menunggu waktu longgar suami dan mempersiapkan jiwa raga saya sehat, ahaha. Karena saya sadar, tupoksi saya nanti hampir 90 persen untuk menemani Ben buat recovery-nya *napas panjang*.

Suami jerih sekali kalau harus menunggui anaknya imunisasi atau hal-hal beginian. Jadi beliau menawarkan diri untuk ngepuk-puk dan mijitin saya saja karena ga kuat melihat anaknya nangis kesakitan. 

Bersiap untuk Khitan

Saat tau kalau suami longgar sebelum lebaran, saya menjadwalkan ke dokter Ahmad untuk khitannya Ben. Sebelum lebaran kurang dua hari. Saya juga sudah menyugesti diri sendiri untuk lebih sabar dan lapang kalau-kalau nanti Ben rewel, wkwkw. 

"Semangat ya, Yang! Ini beneran mau sekarang khitannya?" Padahal kami tinggal gas aja ke Solo, tapi pertanyaan suami kayak ragu.

"Yuk! Bismillah", jawaban saya mantap.

"Tapi nanti adik yang megangin kan (?)", pertanyaannya melemah lagi.

"Iya sayangku. Ayo, nanti keburu sampe sana magrib" saya meyakinkan suami yang mulai jerih membayangkan anaknya mau dikhitan.

Seperti pesan dokter Ahmad, saya menyiapkan diapers yang sizenya lebih besar. Size normal Ben adalah s, tapi saya memakaikan diapers bekas Ray yang berukuran XL. Saran dokter sih yang tipe perekat, tapi saya pakai yang tipe celana dan alhamdulillah Ben nyaman memakainya.

Sampai lokasi, saya dikasih parasetamol untuk diminumkan kepada Ben. Setelah itu dipersilakan masuk ke ruangan. Rencananya hanya saya yang menemani Ben, tapi ternyata papinya juga ikut dipanggil buat megangin. Papinya memilih memegang kedua tangannya, saya bagian kaki.

Dokter Ahmad tidak menjelaskan panjang lebar karena saya sudah melihat ulasan video youtube tentang seluk beluk khitan. Toh sebelumnya kami juga sudah diskusi dengan beliau.

Saya memilih metode klamp untuk khitan Ben. Dokter memasang alat seperti kulup penutup di penis yang dikhitan. Lebih enak banget karena kalau dikasih diapers, penisnya nggak kesenggol-senggol. Ben nangis sebentar waktu disuntik bius di bagian atas dan bawah penisnya. Sementara Dokter Ahmad menandai bagian penis yang akan dikhitan dengan spidol. 

Saya denger ngguntingnya krak krek, tapi ga berani melihat langsung. Tangan saya hanya memegangi kedua kaki Ben. Papinya mengajak ngobrol Ben untuk mengalihkan perhatian. Prosesnya cepet, sekitar 10 menit. Nah, klamp ini nanti akan dicopot sekitar 5-7 hari setelah khitan.

Masuk buka puasa, wajah papinya udah pucet karena sebenernya beliau beneran takut nungguin Ben khitan. Dan ga punya opsi bilang enggak dong buat nemenin :D

Setelah buka puasa sebentar, kami pamit pulang. Belum 5 menit jalan, Ben mulai nangis. Mungkin sudah mulai nyeri. Saya memeluk sambil mengepuk-puk bilang nggak apa-apa nangis, Ibu sama Papi akan menemani sampai pulih. Sakit ya sayang? Ini kalo Ben udah bisa ngomong pasti jawab "Ya sakitlah, titit dipotong kok ga sakit", ahahah.

Pasti nyeri dong, dan itu wajar banget. Tangis bayi justru bisa memberikan signal kapan harus memberikan parasetamol. Kami memutuskan berhenti di tepi jalan. Saya memegang tangan papinya biar agak tenang, karena saya tau banget beliau daritadi menyembunyikan rasa gelisah dan piasnya melihat anaknya nangis nyeri. Saya meyakinkan kalo keputusan kami benar dan tidak ada rasa guilty.

Setelah minum parasetamol dan nenen, Ben tertidur. Sampai di rumah masih saya gendong dan peluk karena Ray gemes banget godain Ben. Sekitar jam 10 malam, Ben merasa kurang nyaman dan saya memberi parasetamol lagi. Setelah itu Ben baru mau ditaruh di kasur sambil becanda bertiga sama Ray. Ekspektasi saya kalau malamnya harus begadang patah, karena Ben lelap banget boboknya sampai sahur.

Eyang kakung sama eyang putrinya heran kok ga rewel, wkwkw. Yha kalo rewel, saya bisa digiles sama mereka berdua karena sudah mengkhitan cucu kesayangan mereka dan akan menguatkan dalil mereka kalau mengkhitan bayi itu kasihan kesakitan. Saya ga mau sambat sama mereka, ahahha.

Proses recovery

Paginya adalah ujian memandikan. Hamdallah ada klamp karena penisnya nggak kesenggol sana sini :p. Ternyata memandikan Ben juga nggak rewel. Sampai pada suatu ketika harus memberikan betadin di luka khitannya, huhu. Auto nangis dong. Saya kasih parasetamol lagi untuk meredakan nyerinya. Trus, dia tidur dengan nyaman.

Saya konsul ke dokter untuk skip obat-obatan dan salah satunya betadine. Karena tiap dikasih betadine, Ben nangis, huhu. Penggunaan parasetamol dianjurkan setiap 3-5 jam sekali, tergantung rasa nyerinya. Kalau saya, misal Ben merasa tidak nyaman dan nangis sambil menghentak-hentakkan kaki, itu signal kalau dia sedang nyeri.

Suami sempat kekeuh buat ngasih betadine biar recovery cepet, tapi saya bilang ga mau. Karena saya yang megang lho kalo rewel :(. Saya baru searching obat apa yang bikin kering luka tapi ga sakit.

Kadang pada suka gitu ya, teorinya cakep banget suruh ngasih ini itu. Tapi suruh praktik sendiri jerih. Papinya denger nangis anaknya bisa mendelegasikan ke ibunya. Lha ibunya jadi garda terdepan, wkwkw.

Biaya

Kami mengambil paket gold seharga, 1.1 juta. Itu harusnya tambah bonus satu lagi yang belum ditulis dokternya disitu: FREE PENDAMPINGAN DAN KONSUL SAAT PEMULIHAN. Saya sangat terbantu bisa bertanya interaktif saat pemulihan. Dokternya juga memantau menanyakan apakah rewel, bagaimana progresnya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang ujungnya jadi kalem karena merasa teredukasi. No panik-panik club, ahahah. 

Kalo dalam persalinan ada istilah gentle birth. Di Dokter Ahmad bisa dibilang gentle khitan, karena dari proses mulai mengkhitan sampai hari kedua pemulihan ini, saya apalagi suami yang merasa panik kalau anaknya nangis karena sakit, jadi lebih tenang. Suami yang awalnya takut menunggu proses khitannya, bisa cukup tenang mendampingi karena dokternya mengajak ngobrol sepanjang mengkhitan sampai selesai. 

Lho, ini udah, Dok? Pertanyaan saya karena memang prosesnya cepat. Wkwkw. Murah atau mahal itu relatif. Tapi buat saya, mendampingi Ben dengan sadar dan waras saat khitan adalah kuncinya. Ada pos uang senang-senang sebenarnya, tapi tidak terpakai kali ini karena memang saya melaluinya dengan nyaman sekali. Ben nangis iya, tapi tidak serewel yang saya bayangkan. Membuat saya gagal beli boba dan makanan enak buat mentreatment diri sendiri karena sebelumnya saya membayangkan bakalan cuapek banget. 

Mau khitan? Bisa tanya ke dokter Ahmad deh di 6282136707568 atau yang di area Solo bisa langsung ke kliniknya Solo Khitan Center dil Jl. Pamugaran Hijau Jamrud 5B, Kadipiro, Banjarsari, Surakartah Yang mahir membaca google maps bisa klik https://maps.app.goo.gl/NjtXZFs2UYP5Z3qZA ya. Kalo kemarin saya seperti thowaf dikerjain google maps. Muter nguplek beberapa kali dulu baru ketemu lokasinya, wkwkw. 

Hallo aunty, uncle, Ben udah khitan lho. Selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin ya :)


Update lepas klamp

Ah iya, saya mau update tentang lepas klamp ya. Kami melepas klamp di hari kelima. Paginya Ibu bikin mong-mong, eheheh. Nasi gudang yang di atasnya dikasih pupukan irisan telur dan dibagikan ke tetangga. Tidak ada perayaan, tidak ngundang jathilan, wkwk. 

Janjian sama dokter Ahmad lagi, jam 6 berangkat dari rumah. Sampai Solo setengah 8 pas. Ternyata ada kebakaran di rumah beliau yang menyebabkan mati lampu. Saya berasumsi tinggal melepas klamp aja, ternyata butuh effort yang membuat bayi agak tidak nyaman.

2-3 menit Ben nangis. Selepas itu ceria lagi. Lagi-lagi wajah papinya pias melihat bujangnya nangis kesakitan. Sesampai di rumah Ben mandi dan sampai tulisan ini saya update kembali, anaknya sudah haha hihi.


2 komentar

  1. Habis baca ini, sebentar membayangkan hal yang tak pernah terpikir sebelumny. Biasanya kalau baby dikhitan pasti rewelnya kebangetan, eeee ternyata salah total, Mbok!haha. Tidak dipungkiri itu juga keyakinan Ibuk untuk menenangkan si Ben. Good Job, Ben!

    BalasHapus
  2. Makasiiih, Ayaaa.. Komplit tulisannya.

    ttd
    Emak 2 anak cowok yang maju mundur mau khitanin anaknya.


    Tambahan: aku langsung bujuk Amay utk khitan libur kenaikan kelas nanti.

    BalasHapus

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)