Featured Slider

Pengalaman Fimosis dan Mengapa Harus Dikhitan

Pagi itu, jam 9, setelah dhuha dan pamit sama eyang kakung dan putri Ray (bapak ibunya suami), kami bertiga menuju ke RSI untuk menjadwalkan khitan. Dalam perjalanan, saya sempat menelpon bapak ibu saya untuk mengabarkan tentang hal ini. Tapi masih maju mundur dan akhirnya urung saya lakukan. Mengingat kedekatan Bapak dengan Ray, dan beliau sedang tidak sehat. Saya takut beliau khawatir.

Sampai RSI, saya dipersilakan untuk ke loket 13 karena kami menggunakan BPJS. Setelah mendapatkan nomor antrian, kami lanjut ke loket 2 (ada loket 1, 2 dan 3 untuk pengurusan BPJS) untuk didata. Saya mendapatkan beberapa kertas berisi identitas Ray yang akan menggunakan BPJS-nya untuk khitan. Setelah itu saya ke Klinik 6 untuk menemui dokter bedah yang nantinya menangani Ray, dr. Berliani Hijriawati, Sp.BA. Beliau sedang melakukan operasi, jadi kami menunggu agak lama :(

Sekitar jam 12, akhirnya dokter Berliani memanggil nama Ray. Diskusi sebentar dan saya makin mantap untuk menjadwalkan sirkumsisi/khitan pada Ray. Tanggal 6 Februari jam 9 pagi. Tapi sorenya, Ray harus sudah dibawa ke RS untuk rawat inap. Sebelum dikhitan, dia harus puasa dulu 6 jam karena nanti akan dibius total.

Kami lalu mengurus kamar di loket 10. Petugasnya meminta nomor yang bisa dihubungi untuk memastikan kamar kosong untuk Ray. Dan yang terakhir adalah mengumpulkan berkas ke Kassa. Urusan selesai dan kami pulang.

Tanggal 5 Februari

Pas diskusi dengan dokter Berliani, saya ditanya kondisi Ray apakah demam, batuk pilek atau tidak. Dan saya menjawab Ray dalam kondisi sehat. Tapi ternyata setelah pulang dari RSI, badannya demam tinggi sampai 39 derajat, huhu.

Anaknya masih haha hihi dan aktif, jadi saya tidak terlalu worry. Lha kok paginya dia meler :(. Fix, Ray kena flu. Demamnya mulai turun di hari kedua, tinggal pilek sama batuknya. 

Sampai tanggal 5 Februari, pihak RSI telpon dan bilang kalau Ray bisa ke RSI untuk persiapan khitan. Di telepon saya bilang kalau Ray sedang batuk pilek tapi tidak demam, apakah tidak apa-apa kalau tetap khitan. Dan pihak RSI menyarankan untuk mereschedule saja sampai Ray sehat. Saya lega mendengarnya. 

Sorenya, saya kembali ke dokter Ani untuk memeriksakan batuk pileknya Ray. Sampai sana ternyata pasien anaknya penuh. Kebanyakan dari mereka juga sakit demam, batuk dan pilek. Saat diperiksa, dokter Ani meresepkan obat untuk Ray. Tidak lupa, saya menanyakan obat apa saja. Ada intrizin sama racikan untuk batuk pilek. Sebenarnya diresepkan antibiotik juga tapi saya tidak menebusnya karena ini batuk pilek karena virus, bukan bakteri. 

Mengapa harus dikhitan?

Ketika pemulihan Ray, saya mulai ragu untuk melakukan khitan :(. Saya nangis sama suami membayangkan nanti dia diinfus semalaman, puasa 6 jam dan dikhitan pagi harinya, huhuhu.

Banyak pertanyaan di kepala saya.

Apa harus rawat inap? Apa harus dibius total? Bisa langsung pulang nggak sih? Trus searching lagi tentang tempat khitan yang bisa khitan tanpa bius total dan bisa langsung pulang tanpa harus rawat inap di area Klaten. Saya mulai khawatir dan cemas :(.

Saya post di instagram dan banyak sekali yang komentar bahkan japri tentang kegelisahan saya. Ada beberapa yang belum tahu tentang fimosis dan mereka juga nanya-nanya. Dari obrolan dan diskusi, saya merasa memiliki energi untuk mempersiapkan khitan Ray dengan baik. Masih cemas tapi tidak secemas sebelumnya.

Ada salah satu sahabat saya kuliah, Ririn Gagarin :*, yang bekerja di rumah sakit di Tarakan. Dia nanyain dokter anak disana tentang keadaan Ray. Intinya, memang untuk khitan bayi sebaiknya dibius total untuk kenyamanan bayi. Saya juga berpikir demikian, apalagi Ray sedang aktif-aktifnya. Jadi beresiki kalo pas dikhitan, dia gerak-gerak.

Baca juga: Fimosis pada Ray

Nah, berbeda dengan kedua dokter saya disini yang merekomendasikan khitan, dokternya Ririn bilang kalau fimosis itu memang banyak dialami oleh anak kecil. Jadi ga perlu dikhitan. Coba bandingkan penis anak usia 8 bulan, pasti sama, katanya. Ya memang ga bisa ditarik kulupnya karena saking kecilnya.

Teman sesama bloger juga anaknya terkena fimosis. Jadi, sejak awal MPASI sampai sekarang, anaknya tidak pernah menghabiskan porso makanannya (secara teori 125 ml, coba cek lagi :D). Bahkan dari usia 7-10 bulan, BB nya up and down terus. Pernah ke dokter bedah, memang fimosis, tapi karena pipis masih lancar dan cek urin gak ada ISK makan khitan ditunda sampe usia 1 tahunan aja, meminimalisir resiko kalo di bius total kurang baik buat bayi, katanya. Akhirnya cuma dilakukan tindakan kecil untuk membuka kulup penis yg nempel jadi lubang penis bisa terbuka trus dikasih salep tiap habis mandi biar gak nempel lagi kulupnya. Ini seminggu lagi, anaknya mau 1 tahun dan dia masih bingung jadi khitan gak ya.

Membaca pernyataan dia tentang resiko penggunaan bius total pada bayi sudah dijawab sama dokternya Ririn dengan alasan kenyamanan untuk bayi dan pastinya dokter sudah memberikan sesuai takaran.

Ririn nanyain, "Jadi khitan, say?". Insya Allah jadi. Saya nggak mau berspekulasi, toh nantinya Ray bakalan disunat juga. Banyak yang kasihan mengapa sekecil itu dikhitan, kenapa nggak nanti pas SD saja. Ya karena saya lebih kasihan kalau Ray terkena infeksi. Fyi, fimosis bisa menyebabkan ISK dan ada lho yang nggak memiliki gejala. Jadi, si anak mengidap ISK tapi dia aktif, pipis lancar dan lahap makannya, TAPI berat badannya stagnan.

Beberapa teman juga sharing kalau anaknya fimosis, tapi tidak sampai dikhitan. Ya tidak apa-apa, toh ibunya sudah berkonsultasi sama DSA nya dan menyatakan tidak mempengaruhi tumbuh kembangnya. Untuk kasus Ray ini, dia masih aktif, nggak rewel, nggak merasa sakit kalo pipis, tapi nggak mau makan :(.

Makin pias ketika dokter Ani bilang kalau fimosis bisa menyebabkan gagal tumbuh (stunting). Dan dikuatkan lagi sama dokter Berlian, kalau tumpukan sisa sekresi di ujung penis bisa menyebabkan infeksi karena memang kotor. Dan infeksi itu bisa mempengaruhi sistem pencernaan anak, akhirnya GTM. Kalau dibiarkan GTM terus menerus bisa gagal tumbuh, huhu.

Infeksi dan GTM ini sangat berkaitan erat. Berdasarkan penjelasan dokter Meta Hanindita, kalau si anak terkena infeksi, bisa menyerang sistem pencernaan sehingga anak gak mau makan. Kalau udah gak mau makan, tubuh kekurangan nutrisi untuk melawan infeksi tadi, jadi yaa siklusnya muter terus kayak gitu sampai anak bisa stunting, naudzubillah.

Bismillah saja. Ihtiar. Seminggu terakhir saya menyugesti diri sendiri dan Ray. Biar dia nggak pilek, batuk dan demam. Biar dia berani buat khitan. Saya memeluk-meluk sambil mengepuk punggungnya, mengusap rambutnya. Kemarin pagi saya menelpon Rumah Sakit Islam Klaten menanyakan kamar dan menjadwalkan operasi, dan ternyata penuh semua.

Untuk beberapa hari ke depan, mungkin pihak RS akan menelpon. Semoga lancar.

1 komentar

  1. Anakku jg fimosis mba Aya makana sunat usia 6 bulan tp ga pake operasi bius total kok alhamdulilah semuanya lancar mba, aku malah baru tahu sunat bayi harus bius total mba, aku pernah tulis di blog pengalaman khitan bayi 6 bulan xixixi semoga lancar ya Ray

    BalasHapus

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)