Featured Slider

Kemeriahan Festival & Launching OEMAH SINAU

A photo posted by ayaa (@cahayatheprinces) on



Di Bulan Desember, saya di-tag oleh Imam Adi yang merupakan salah seorang yang menginisiasi berdirinya "Oemah Sinau". Saya berpikir bahwa itu hanya komunitas biasa, tetapi ternyata saya salah. Semakin saya mengenalnya, semakin saya merasa memiliki dan ingin berbaur lebih jauh sekali. Membayangkan festival dan launchingnya pun saya tidak terbesit untuk meriah dan banyak yang antusias. Tetapi saya lagi-lagi saya salah. Dari pagi hingga malam, acaranya sangat meriah. Bahkan banyak yang menyumbang di acara tersebut. Mulai organ tunggal, atrakasi "Temon Kiss" dan masih banyak yang lainnya.


Banyak  yang mendukung acara ini, tetapi tidak sedikit yang under estimate. Hal tersebut membuat kami lebih bersemangat untuk membuktikan bahwa harapan itu benar-benar ada. Mengolah SDA & SDM desa dengan optimal yang dapat dirasakan masyarakat. Mengubah stereotip masyarakat bahwa pemuda mencari kerja tidak harus ke kota, karena di desa menyediakan banyak peluang untuk itu. Kebetulan waktu saya pulang, ada beberapa perantau yang pulang. Saat sharing, kami memiliki visi dan misi yang sama untuk Oemah Sinau. Memecahkan permasalahan-permasalahan yang muncul saat berdirinya komunitas itu. Entah mengapa, saya punya alasan untuk pulang selain sekolah dan mendampingi kesembuhan Bapak dari TBC.


Undangan telah disebar dan di sela rapat kami juga harap-harap cemas tentang acara tersebut. Apakah diterima masyarakat? Apakah meriah dan ada yang datang? Jangan-jangan nanti sepi dan masih banyak jangan-jangan yang lain sehingga membuat salah dua dari kami mengeluarkan joke yang konyol. Dan ternyata, animo masyarakat di luar ekspektasi kami. Mereka bertanya program-program yang akan kami lakukan setelah festival dan launching ini. Bahkan banyak wartawan yang datang untuk meliput acara tersebut.

  • Mengenalkan Kearifan Lokal. Kami mengenalkan permainan tradisional yang sempat berjaya di tahun 90-an dan perlahan tergerus oleh era digital
  • Budaya tradisional. Mengenalkan tarian-tarian tradisional dan wayang kulit kepada anak-anak.
  • Pendidikan. Kebanyakan dari anak-anak di desa kesulitan untuk mengerjakan PR dari sekolah dan mereka belum memiliki wadah untuk menyelesaikannya. Kalau yang mampu ikut les, mereka bisa saja menyewa guru privat. Tetapi di desa kami kebanyakan adalah keluarga menengah kebawah, sehingga untuk masalah pendidikan menjadi permasalahan yang dilematis.
Festival & Launching Oemah Sinau menjadi awal untuk kami memulai program-program yang tidak hanya sekadar wacana. Acara yang dilaksanakan pada 9 April 2016 dibuka oleh Bapak Kepala Desa. Berikut adalah rangakaian acara yang membuat kami berpeluh bahagia. Yes, it's beyond our expectation.


Pagi - Siang

Dari mulai jam 07.00, panitia sudah siap menyediakan stand-stand untuk jajajnan pasar, siap menyambut Tim Dokter dari RS Chakra Husada Klaten yang bekerjasama dengan kami untuk mengadakan pengobatan gratis. Pembukaan festival di pagi hari dibuka oleh Bapak Kades yang mendukung penuh acara ini. 
A photo posted by ayaa (@cahayatheprinces) on


Kami menampilkan tarian tradisional, pentas seni anak-anak PAUD dan beberapa kesenian lainnya yang memanjakan pengunjung. Kurang lebih pukul 8.30, pengunjung berdatangan untuk melihat dan membeli jajanan pasar. Anak-anak juga tak segan mencoba membuat batik dengan lilin dan canting. Stand tanaman organik juga tidak sepi pengunjung. Hal-hal tersebut membuat kami berkesimpulan bahwa kearifan lokal tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh masyarakat.

Pengobatan gratis menjadi tempat yang paling diminati para lansia untuk memeriksakan kesehatan mereka. Banyak dari mereka berkonsultasi dengan para Tim medis untuk menanyakan seputar kesehatannya. Setelah itu, mereka mendapatkan obat yang telah diresepkan dokter.

Siang - Sore

Beranjak siang, suasana semakin ramai dengan anak-anak yang ingin mengikuti lomba. Lomba macapat, lomba ngulukke merpati, lomba egrang dan aneka lomba lainnya yang digandrungi anak-anak. Di depan camp Oemah Sinau, panitia juga menggambar permainan engklek/jingjlong dimana permainan itu sangat familiar di jamannya. Tetapi Tim Oemah Sinau dengan telaten mengenalkan permainan tersebut kepada anak-anak.
A photo posted by ayaa (@cahayatheprinces) on




Lomba-lomba selesai sekitar pukul 15.30. Setelah Ishoma, panggung festival mulai ramai lagi dengan "Joget Bareng Temon Kiss". Fans Temon datang dari beberapa daerah seperti Wonogiri, Yogyakarta, Juwiring. Temon adalah salah satu pemuda Kadilanggon yang sekarang berkreasi dengan jogetnya. Berbeda dengan tarian lainnya, Temon memberikan komando kepada fans untuk tertib dan tidak berdesak-desakan. Sehingga joget sore itu berlangsung dengan kondusif. Masyarakat Kadilanggon juga antusias untuk melihat atraksi Temon. Setelah Temon, panggung festival diisi dengan band-band lokal.

Malam

Di malam harinya, festival dibuka oleh Bapak Camat. Kesenian wayang kulit yang dibawakan oleh dalang cilik membuat beberapa sisi penuh dengan pengunjung. Dalang yang datang dari PKBM Oemah Wayang membius anak-anak karena penasaran. Pada acara malam harinya, dosen-dosen dari Fakultas Ilmu Ekonomi datang untuk menyaksikan program-program dari Oemah Sinau. Inisiasi dari Oemah Sinau ini adalah kerjasama dari pemuda Kadilanggon dan mahasiswa FIE UII yang memiliki visi dan misi yang sama.

Tim Oemah Sinau memberikan jajanan pasar gratis untuk para pengunjung seperti gethuk, cenil, pisang, kacang dan minuman jahe. Sehingga suasanan pada malam itu benar-benar terasa sekali keakrabannya dari satu pengunjung lain yang menikmati makanan dalam satu tampah.

PR kami masih banyak untuk mewujudkan program kerja Oemah Sinau. Banyak yang ingin membantu dengan cara-cara mereka seperti donasi buku, donasi uang dan urun pemikiran. Dan kami mengucapkan terima kasih untuk semua itu. 

46 komentar

  1. Uwuwuwu aku baru tau istilah oemah sinau Mbak :D hihihi pas liat fotonya, kok ada logo UII, Eh, ternyata FIE UII ya?

    Salam kenal dari FTSP UII ya Mbak :D

    BalasHapus
  2. Mau ngasih masukan boleh? Kayaknya untuk gambar dari IG nya bisa coba embed aja, biar gambarnya gak pecah kayak sekarang. hehe #piss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tengkyu Mbak Andria masukannyaa. Sambil jalan diaplikasikan yaaa

      Hapus
  3. Woww keren banget acaranya Kak. Anak sekarang sudah jarang banget yg main permainan tradisional gt. Aku jadi pengen ikutan main engklek. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Engklek payung, kotak sama pesawat ya,ehehe

      Hapus
  4. Oemah Sinau bacanya gimana😂 omah atau umah?
    Acaranya keren. Banyak kegiatan. Dan alhamdulillah masyarakatnya juga antusias ya.
    Acara dari pagi sampe malem itu gak gampang. Tenaga fikiran terkuras habisbisbis hehehe

    BalasHapus
  5. Oemah Sinau bacanya gimana😂 omah atau umah?
    Acaranya keren. Banyak kegiatan. Dan alhamdulillah masyarakatnya juga antusias ya.
    Acara dari pagi sampe malem itu gak gampang. Tenaga fikiran terkuras habisbisbis hehehe

    BalasHapus
  6. Wuih, eank ya. Dapat makanan gratis, dapat ilmu juga. Udah jarang nih anak muda yang suka berbagi seperti ini. Semangat terus ya!! :)

    BalasHapus
  7. Waah.. Pas baca judulnya Oemah Sinau aku kira itu di Padang, tapi rupanya di Klaten ya mba? Aku penasaran sama artinya ;D

    BalasHapus
  8. Wah seru banget pastinya ada permainan tradisional juga

    BalasHapus
  9. kak. lomba macapat itu apa ya? hehehe blom tahu itu apaan. Seru acaranya. memperkenalkan permainan dan budaya lokal. Anak-anak pasti suka. terus berjuang kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi lomba nyanyi macapat gitu Mas. Kayak Maskumambang, Pocung, Pangkur, Dhandanggula

      Hapus
  10. Wooow, semoga sukses dengan program-program selanjutnya ya, Kak! :D

    BalasHapus
  11. woaaaa acaranya seharian gitu. keren yaaaa

    memang klo acara baru byk sekali yg krg percaya bahwa yg dilakukan itu berhasil. smoga bs buka wawasan byk org

    BalasHapus
  12. Ih keren, gini nih kalau tinggal di daerah. Masih banyak pemuda pemudinya yang semangat membuat perubahan.. selamat ya mba.. semoga wacana-wacana selalu lancar

    BalasHapus
  13. Wah, itu pilar mengembalikan permainan tradisional yang oernah berjaya di tahun 90-an keren mbk.

    Bahkan ada anak zaman sekarang yg ndak kenal permainan itu karena sudah terlalu dini dikenalkan oleh game dll :".

    Sukses terus oemah sinau :))

    BalasHapus
  14. Aku pernah tau program komunitas yang mungkin sama seperti ini, namanya Pondok Pijar basisnya di Surabaya. Semoga visi dan misinya tercapai ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sukses juga buat Pondok Pijar ya Mbaa

      Hapus
  15. Meriah dan rame acaranya ya,,btw Oemah Sinau itu ada arti khusus ga??

    BalasHapus
  16. Acaranya menarik sekali nih. Kalau ada lagi ajak, ya!

    BalasHapus
  17. Duh senengnya dapet kesempatan mengabdi membangun desa. Sy juga dari desa sampai sekarang memimpikan bisa berbuat sesuatu yg besar utk desa yg sudah membesarkan dan mendidik sy.

    BalasHapus
  18. Acara semacam ini bisa menumbuhkan kebersamaan warganya. Tak perlu mewah-mewah... yang sederhana tapi mengena. DI Jepara juga ramai acara semacam ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa ngobrol lain waktu ttg komunitas di Jepara ya Mbaak

      Hapus
  19. Wahh Festival keren banget Mbak Ayaaa
    Kapan yah di daerah aku ada acara kaya gini.

    BalasHapus
  20. Engklek. Permainan kesukaan saya semasa kecil....

    BalasHapus
  21. Oemah itu rumah ?? Kalau sinah??

    Mengenalkan Kearifan Lokal. Kami mengenalkan permainan tradisional yang sempat berjaya di tahun 90-an dan perlahan tergerus oleh era digital

    Ini penting bangett ihhhhhh.... Bermain sambil belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sinau itu belajar, jadi artinya rumah buat belajar

      Hapus
  22. Wah Klaten ya? Deket dong nih harusnya.

    BalasHapus
  23. Waaahh, mudah mudahan bisa menginspirasi daerah lainnya untuk ikut melestarikan budaya tradisional :'Db

    BalasHapus

Hai, terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Let's drop your comments ya. Insya Allah akan berkunjung balik :)